LAINNYA

Sabtu, 09 Juni 2012

Kota: Sarana Intrapersonal, dan Proses Kreatif?



Kota bagi saya adalah sebuah identitas. Saya baru menyadari ini ketika saya meninggalkan Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke kota lain. Di Jogja, saya berkenalan dan berbagi dengan teman-teman dari berbagai daerah—terutama dari DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di sinilah saya memahami kalau kehidupan terjadi tidak hanya di Bandung. Bersinggungan dengan mereka yang dengan enteng menyebut diri sebagai anak desa, atau anak kota—tapi kota kecil, yang tak sungkan mengawali ceritanya dengan, “di desaku sih…” membuat saya sadar akan perbedaan saya dengan mereka. Tak mungkin saya mengawali cerita sebagaimana mereka, karena saya mau tak mau harus mengakui, “di kotaku sih…”

Bandung adalah sebuah kota besar, sampai kapanpun saya tak bisa menyebutnya sebagai sebuah desa. “Bandungnya di sebelah mana?” sering saya ditanya. “Bandung kota.” Saking besarnya Bandung, wilayah administratifnya dibagi menjadi Kotamadya Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Bandung yang menjadi domisili saya adalah Kotamadya Bandung, yang selanjutnya akan saya sebut Bandung saja.

Tak tepat jika menyebut saya mudik ke kampung halaman, melainkan kota halaman. Letak rumah saya hanya lima belas menit jalan kaki dari mal (yang dulu pernah jadi) terbesar di Bandung. Toh ketika saya di Jogja pun, saya bisa dikatakan sudah mudik. Ke sinilah papa saya mengajak mama dan adik-adik saya bersilaturahmi tiap lebaran dan libur kenaikan kelas. Jogjanya pun bukan di desa, melainkan hanya sekitar 2 km dari kotamadya.

Saya lahir di Bandung, lalu mengenyam TK, SD, SMP, hingga SMA di kota itu pula. Enam belas setengah tahun lamanya, jika sepenggal masa batita saya di Cicurug tak dihitung. Lalu hampir lima tahun setelahnya saya menjadi mahasiswa Jogja,  sense of belonging saya terhadap Bandung tidak tersingkirkan rupanya. Kebanyakan dari puluhan cerpen yang saya karang selama itu berlatar di Bandung. Demikian pun kelima novel saya. Bahkan (calon) skripsi saya pun tentang hutan kota di Bandung. Dan sampai sekarang saya masih bicara dengan logat Sunda yang kentara.

Betapa sebuah kota dapat memengaruhi proses kreatif sastrawan. Hal ini saya simpulkan dari membaca beberapa buku, di antaranya “Tempat-tempat Imajiner, Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika” (Michael Pearson) dan “Istanbul—Kenangan Sebuah Kota” (Orhan Pamuk). Biarpun saya bukan sastrawan, tapi saya telah mengarang, dan bagaimanapun hasil karangan saya, proses kreatifnya ternyata tidak lepas dari pengaruh sebuah kota.

Maka secara otomatis buku bertajuk “Sastra KotaBunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta” (Dewan Kesenian Jakarta dan Bentang Budaya, 2003) pun menarik perhatian saya. Jika dua buku sebelumnya menampilkan sastrawan-sastrawan luar negeri, maka yang diberitahukan buku kali ini adalah sastrawan-sastrawan dalam negeri. Tidak seintens buku Pearson dan Pamuk memang, namun lumayan untuk menambah wawasan mengenai dunia sastra, khususnya di Jakarta.

Kota dalam “Sastra Kota” mengacu pada Jakarta. Sebagai sebuah ibukota, Jakarta mewakili keberagaman di Indonesia. Saya sendiri tidak familier dengan Jakarta. Saya ke Jakarta hanya untuk ke Dunia Fantasi dan semacamnya, atau ke Bandara Soekarno-Hatta, atau transit sebelum mencapai Taman Nasional Ujung Kulon. Toh tak perlu sampai Jakarta, peta yang dimiliki pakde saya bilang kalau Bandung pun sedang menuju metropolitan. Bandung pun memiliki segudang carut-marut bak yang diceritakan Toto Sudarto Bachtiar, Afrizal Malna, Mochtar Lubis, SM Ardan, hingga Teguh Esha dalam karya-karya mereka mengenai Jakarta. Tengoklah “Senandung Bandung”, sebagai contoh, di sana ada Eddy D. Iskandar, Beni Setia, Acep Zamzam Noor, sampai Wilson Nadeak yang mengabarkan permasalahan Bandung tiga puluh tahun lampau: keadaannya dengan sekarang ternyata sama saja!

“Sastra Kota” memuat sepuluh esai yang masing-masing ditulis oleh Agus R. Sarjono (Sastra (dan) Kota), Ahmadun Yosi Herfanda (Kapitalisasi Sistem Produksi), Eka Budianta (Komunitas Sastra dan Sosiologi Sastrawan: Sisi Lain Selembar Daun), F. Rahardi (Gaya Militeristik Pejabat Kesenian Kita (Pengelompokan Sastra Rural, Urban, dan Sub Urban)), Iwan Gunadi (Produk Ketertekanan tanpa Ideologi Bulat), Maman S. Mahayana (Sistem Penerbitan Sastra di Indonesia), Manneke Budiman (Konflik Sastra dan Sastra Konflik), Medy Loekito (Perempuan dan Sastra Seksual), Moh. Wan Anwar (Pendekar Akademis di Jalan Raya Sastra Kita), serta Zeffry J. Alkatiri dan JJ Rizal (60 Tahun Jakarta dalam Sastra Indonesia).

Melalui buku ini, kita bisa mengenal semakin banyak nama dan kiprah para sastrawan dan kritikus (saya penasaran sama “Piekirans van een straatslijper – Pikiran seorang tukang keluyuran”-nya Tjalie Robinson!), wadah apa saja yang tersedia bagi pengembangan mereka (misalnya Taman Ismail Marzuki, Teater Utan Kayu, Komunitas Sastra Indonesia, Forum Lingkar Pena, Horison, dan semacamnya), para pengamen puisi di bis, aspirasi para buruh yang tertuang melalui syair dan cerpen, sejarah penerbitan karya sastra di Indonesia, bagaimana konflik dalam karya dikemas secara unik (cek “Jakarta, Suatu Ketika”-nya Seno Gumira Ajidarma dan “SMS”-nya Djenar Maesa Ayu), jor-joran ekspresi seksual perempuan dalam “sastra wangi” yang justru menurunkan harkat perempuan itu sendiri, sampai lesunya sastra di dunia akademis.

Tapi apakah sebenarnya “sastra kota” itu sendiri? F. Rahardi mengatakan bawah pengkotak-kotakkan sastra menjadi rural, urban, dan suburban dalam pengertian hanya geografis (teritorial) itu sama bodohnya dengan pengkotak-kotakan sastra menjadi angkatan-angkatan seperti dalam dunia tentara. Biarpun sastrawannya tinggal di kampung halaman, dan menulis tentang hal-hal yang “ndeso”, seperti Ahmad Tohari dan D. Zawawi Imron, tapi yang mengonsumsi karya-karya mereka yang sarat nuansa rural itu justru masyarakat urban. Sastra modern sebagaimana yang kita kenal adalah bagian dari kultur urban. Sastra yang sungguhan rural biasanya bersifat fungsional, contohnya mantra untuk upacara adat atau semacamnya. Penciptanya pun tidak diketahui, sehingga karya sastra demikian dianggap komunal.

Menurut F. Rahardi, pengaruh domisili sastrawan yang di area rural, urban, atau suburban itu memang memengaruhi proses kreatif, tapi itu hanya salah satu faktor. Toh di manapun seseorang tinggal, entah di pelosok Kalimantan maupun di sudut Ngayogyakarto, ia tetap bisa menulis tentang Jakarta apabila rajin mengamati berita di TV maupun koran—setiap hari ada saja berita tentang Jakarta, bukan? Barangkali gaya hidup lebih berperan dalam memengaruhi proses kreatif seseorang.

Jadi agaknya tak mesti tinggal di “metropolitan” Jakarta atau “kota kreatif” Bandung untuk memicu proses kreatif. Gaya hidup urban, sekadar TV dan koran, bisa jadi sudah cukup sebagai pemantik ide-ide dalam membuat karangan. Dan saya kagum dengan mereka yang bisa seperti itu: menulis tentang hal-hal di luar diri mereka, namun tetap terasa realistis. Sedang bagi saya, diri sendiri dan apapun yang melingkupinya, termasuk kota yang telah membentuk identitas dan budayanya, masih menjadi sumber yang belum habis untuk dieksplorasi. Padahal Bandung sudah terkenal dengan oncom, peuyeum, mochi, Ma Icih, Amanda, sampai Kartika Sari, kayak tidak ada tempat lain yang perlu diekspos saja.

Saya pun tidak ingin menutup diri, insya Allah saya tidak akan menampik apabila ditawari kesempatan menjelajahi dunia lain. Hanya saja, yang saya yakin semua orang akan amini ialah: sepanjang hidup adalah upaya mengenali diri sendiri. Bahkan ketika kita sudah lanjut usia pun, entah karena pikun atau rabun, kita akan mengenali diri kita sebagai orang yang sudah susah mengenali orang lain. Toh saya pun baru menyadari ke”urang-Bandung”an saya setelah bertemu orang Pati, Tempel, Gombong, Wonosobo, Sragen, Malang…***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar