LAINNYA

Kamis, 14 Maret 2013

Ceracau Dini Hari




Sebenernya saya enggak merasa butuh gambar untuk ceracau ini, lagian di paling bawah udah ada video. Tapi saya suka kata "whorl" yang menyertai gambar ini, yang tampil di Anonymous Legacy baru-baru ini, yang sebetulnya diambil dari tumblr Black and White. Kata tersebut saya rasa tepat dengan apa yang ingin saya tumpahkan dalam ceracau ini, ya sekalian aja gambarnya juga hehe. 


Jadi aku ceritakan saja tentang Hayat. Time to Pretend dari MGMT, 22, Death of All the Romance dari The Dears, juga What’s My Age Again? dari Blink 182 adalah soundtrack hidupnya, jadi kamu bisa kira-kira umurnya berapa. Ia kena insomnia lagi malam ini, entah malam ke berapa, ia tidak tahu kenapa, mungkin ia memang meng­idap gangguan jiwa. Orangtuanya, ibunya, kalau ayah­nya sih tidak peduli, masih menerornya. Diteleponnya putranya. Oh, Sayang, TA kamu gimana, masa studi ka­mu tinggal semester ini!, udah ketemu dosen lagi belum? Euh, Mam, Hayat bilang, betapa perhatian dosennya, menyuruh para adik angkatan, karena rata-rata teman se­angkatan Hayat sudah lulus, mencarinya; mengintip ak­ti­vitasnya di media sosial dengan meninggalkan jejak; un­tuk kembali menurunkan lagi harga diri Hayat ketika Ha­yat akhirnya sudi menghadap. Tapi masih Mam cuman bilang, kurang dari satu semester lagi, Sayang, kurang da­ri satu semester lagi! Seperti dua tahun lalu saat Hayat bi­lang, Mam, aku putus sama Ayudh, aku depresi. Aduh Sayang, yang kuat dong… blablabla, tapi kamu jangan sampai lupa ngerjain TA kamu… temen-temen kamu udah pada lulus kan? Dan setahun lalu, Mam, aku lagi krisis eksistensial, aku depresi. Aduh Sayang, kena apa la­gi kamu? TA kamu gimana? Anaknya Bu Bachri udah wi­suda, kamu kapan? Dan beberapa bulan lalu, Mam, aku mau bunuh diri, aku depresi, tapi Hayat tidak tega bi­lang-bilang, jadi ia akan bunuh diri tanpa bilang-bilang, tapi kemudian ia menyadari kalau ia tidak bakal mati te­nang, karena dengan sengaja meninggalkan urusan yang be­lum di­se­lesaikan di dunia, sehingga ia akan digiring ke neraka, malaikat mendudukkannya di kursi, tiap per­ge­langan tangan dan kakinya diborgol ke meja. Berkas TA disodorkan ke hadapannya. Ia harus mengerjakannya atau malaikat akan me­me­cut­nya dengan cambuk berduri yang menjalarkan api. Dan ketika akhirnya ia berhasil menyelesaikannya, malaikat akan menyodorkan berkas TA lagi, seolah yang se­be­lum­nya tidak pernah ter­se­le­sai­kan. Bahkan tangannya tidak diberi kesempatan untuk beristirahat. Ia harus me­nger­jakannya terus dan terus, se­lalu ada lagi berkas TA yang baru. Mending mengerjakan TA sekali saja di dunia, Hayat pun mengurungkan ke­i­nginan untuk bunuh diri, tapi ia tidak pernah me­nger­ja­kannya. Kadang keinginan itu hinggap lagi, sampai Hayat bermimpi. Ma­lam-malam ia menyusuri sebuah gang, se­makin me­lang­kah semakin gelap. Perasaannya me­nga­ta­kan bahwa ada warung di ujung sana, ia lapar. Tapi yang kemudian ia dapati adalah sepasang gerbang dari semen. Terhampar sesuatu di baliknya yang bukan warung, Ha­yat tidak bisa memastikan karena keadaan nyaris tanpa cahaya, tapi seperti kuburan. Tuh kan. Kematian me­mang masih begitu gelap ba­gi­nya. Ia bahkan tidak dapat masuk ke sana, terhalang dinding kawat. Hayat berbalik dan bertemu bapak-bapak yang membawa anjing, se­ke­ti­ka siang, dan Hayat memutuskan untuk beli makanan di dekat kosan saja. Hayat terbangun dan memaki begitu mendapati hari belum pagi, bahkan belum berganti. Ke­camuk di benaknya lagi. Pikirannya memang baru damai sehabis subuh, sehingga ia bisa ter­le­lap sampai jelang asar. Tapi tidak enak tidur pada jam-jam orang-orang berkeliaran, dengan ada saja yang membukai pintu ka­mar, berseru, woy, Yat, yah tidur, dan Hayat pun ter­ba­ngun, pintu keburu di­tu­tup, dan ia hanya bisa me­ru­tuk, begitulah ru­tin­i­tas­nya belakangan ini, selalu lupa kunci pintu. Be­ngong beberapa lama, tidak tahu apa yang ingin di­la­ku­kan pada insomnia edisi malam ini, ia keluar kamar. Musim UTS. Adik angkatan di sebelah kamarnya mes­ti­nya masih terjaga. Tapi sementara orang itu terkapar tan­pa daya dengan mata terpejam rapat, Hayat mengobrak-abrik kardus ransum di kamar itu. Ia mengambil se­bungkus mi goreng instan rasa cabai hijau, dan se-sachet cappuccino instan dengan bu­tiran cokelat. Ia seduh ke­du­anya di dapur. Minya ternyata tidak hijau, kurang pandan mungkin. Cappuccino-nya tidak manis, Hayat menggunakan cangkir besar. Payah! Tapi Hayat ma­suk­kan juga ke dalam mulut, segulung demi segulung, se­te­guk demi seteguk, kurang asap doang, sembari ingin me­nyambi dengan suatu pekerjaan. Yang jelas bukan TA. Ketika TA, bahkan hidup, tidak lagi berarti, pekerjaan apa­pun sama saja, asal bukan TA, maka Hayat membuka laptop dan lanjut membaca karya Anais Nin. Dulu Hayat membaca apa saja, kemudian mengkhayal apa saja, tapi sejak kapan Hayat tidak ketiban khayalan lagi, selain yang cabul, yang mulai Hayat syukuri karena akhirnya ia bisa punya cita-cita lagi, walau sederhana tapi moga menjadikannya orang bermanfaat. Hayat ingin menulis novel yang dapat menyenangkan tante-tante kesepian, dari su­dut pandang berondong tentu saja. Muhahahah. Tapi untuk membaca pun konsentrasinya ogah kom­pro­mi. Maka Hayat membuka situs yang menyediakan ba­nyak video XXX gratisan, tapi ia bosan, adegannya be­gi­tu me­lulu, sejak lama ia melihat aktivitas seperti itu se­ba­gai se­suatu yang sifatnya teknis saja, tidak lagi me­rang­sang. Ta­pi ia tetap mengeklik dengan sembarang, sempat terbaca sedikit judulnya... “…whoriental...”, ia teringat Cecilia, yang tidak jelas agamanya apa, tapi bisa-bisanya me­nga­takan, “O Hayat, kembalilah kepada tuhanmu… se­taaan…!”…Hayat tidak ingat apa lagi tingkahnya yang bi­kin gadis, sepertinya masih gadis, itu sensi, atau me­mang begitulah tabiat si amoy, entahlah. Bukan cuman Cecilia yang coba-coba mengajukan solusi bagi ke-sok-ke­melut-an Hayat, yang pada umumnya berupa anjuran untuk mendekatkan diri pada tuhan, atau kemaksiatan, hei, pornografi bukan kemaksiatan, tapi panduan untuk membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, jadi walau Hayat merasa tidak mendekati kemaksiatan, tapi ia juga tidak mendekati tuhan, karena dipikirnya ia sudah tenggelam di dalam tuhan, karena tuhan begitu besar, mau diingat atau dilupakan, mau dipuji atau dihujat, ya begitulah adanya tuhan… Tuhan itu membingungkan. Cappuccino habis disesap. Mi pun tandas, tinggal mi­nyaknya pada permukaan piring. Perutnya kini yang isi. Apakah perut Awan juga sudah isi malam ini? Orang itu tidur di mana malam ini? Tidak punya kosan hingga me­numpang tidur sekalian menyimpan barang di sana-sini, harus menanam umbi-umbian di hutan belakang kampus supaya tetap berenergi, orang itu bikin masalah Hayat ja­di tidak berarti, sialan. Desisan. Tiara Citra is now online. Nga­pain ini cewek ikutan insomnia? Plop. Hayat… se­ma­ngat… Cih. Cewek ini kayak tidak tahu saja kalau kata-kata sudah tidak ada artinya bagi Hayat. Tidur bego, en­tar bangun2 pusing lu. Tiara Citra is now offline. Goblok. Be­neran lagi. This is the day… your life will surely change… kalimat itu terlantun dari laptop Hayat, This is the Day dari The The. …aamiin…? batin Hayat dengan skeptis. Hayat menyesali mereka yang berpikir bisa me­nge­lu­ar­kannya dari situasi ini hanya dengan kata-kata. Sahut-sa­hutan azan pertanda malam tinggal sepertiga. Fn, F10, volume laptopnya dalam keadaan mute.




karena ditulisnya malam-malam. jadi dipasin 1001 kata deh.
pernah nulis pake Hayat sebelumnya di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar