LAINNYA

Jumat, 29 Maret 2013

Robot Anjing dan Putri Peri

http://www.searchamateur.com/pictures/robot-dog-2.jpg


He's a suicidal dishevelled househusband with a robot buddy named Sparkey. She's a transdimensional foul-mouthed fairy princess descended from a line of powerful witches. They fight crime! Apa yang mungkin terjadi? Ya cerita ngaco ini... :P


Om Dede kira dirinya mulai gila.

Dimulai ketika ia melihat Aar membuat semacam robot, atau anjing, dari lempengan besi, kabel, dan pernak-pernik lain, untuk tugas prakarya, tapi tidak jadi. Akhirnya anak ketiga Om Dede tersebut membuat miniatur lapangan sepak bola. Si robot anjing terakit dengan sendirinya, dan menggentayangi si ayah. Om Dede menamakan hewan jadi-jadian itu Sparkey.

Sparkey menjadi kawan mengobrol Om Dede ketika para penghuni yang lain (istri dan empat anak) di rumah itu berada di kantor, kampus, maupun sekolah, sembari lelaki paruh baya itu menyeret vacuum cleaner ke setiap ruangan, memasukkan berpotong-potong pakaian ke mesin cuci, membilas tumpukan perabot di bak. 

Juga. Saat memotong wortel untuk sup, Om Dede bayangkan menusuk dirinya. Saat menjemur di loteng, Om Dede bayangkan menjatuhkan dirinya. Saat mengikat tumpukan koran, Om Dede bayangkan menggantung dirinya.

“Aku tidak tahan menyembunyikan ini,” keluh Om Dede.

Bohlam-bohlam kerdil di sekujur tubuh Sparkey berkedip-kedip bak lampu disko. “Istrimu yang selingkuh, kau yang repot?”

“Aku tidak tahan menyembunyikan darinya kalau aku tahu,” pungkas Om Dede.

“Kalau kau bunuh diri, siapa yang jemput Mamin nanti,besok, lusa, minggu depan…” Dengan bola matanya yang dari kaca, Sparkey menerawang benak Om Dede.

Sembari mengganti celana yang pendek dengan yang panjang, Om Dede mengamati sosoknya di cermin. Kusut ikal rambutnya, lecek sorot matanya, kumal kaos gombrohnya, dibandingkan dengan potretnya dua puluhan tahun silam, gemilang ikal rambutnya, bersinar sorot matanya, menawan setelan flamboyannya, yang diproyeksikan dari mata Sparkey ke dinding.

Siang itu Om Dede menjemput bungsunya yang duduk di kelas satu SD. Ia tersentak begitu mendapati Mamin masuk ke mobil tidak sendiri, melainkan beserta se… ia ragu apakah perempuan itu adalah… orang. Rambutnya keriting panjang, wajahnya sangat rupawan, tubuhnya tinggi semampai, dan kulitnya bening menerawang! Om Dede mengalihkan pandangan dari spion, demi konsentrasi mengendara. Di lampu merah diintipnya lagi spion. Tidak ada. Memang aku mulai gila, pikir Om Dede, terlintas pikiran untuk menemui psikolog, mungkin nanti, besok, lusa, minggu depan… Lampu merah lagi, intip spion lagi, tertegun lagi. Perempuan di jok tengah itu tersenyum ke arah Mamin, Om Dede menengok Mamin, Mamin menoleh ke belakang. Desir baling-baling di punggung Sparkey. “Perempuan itu teman khayalan Mamin. Tanyakan saja.”

“Mamin, di belakang itu teman Mamin?”

Cengiran Mamin memudar.

“Enggak apa-apa. Ayah tahu,” nada yang tenang dari mulut Om Dede. “…Ayah juga ada.” Tatapannya beralih lagi ke depan, heran dengan yang dikatakan. Ia lirik Mamin, yang tengah mengamati Sparkey yang mengambang di samping kepala si ayah, si ayah yang merasa situasi ini mulai mengerikan.

Sampai di garasi. Mamin turun duluan. Perempuan itu mengekor, dengan kaki, jadi memang ia bukan kunti. Sepasang sayap bening terkulai di punggungnya.

Om Dede dan Mamin makan siang bersama. Baru mereka berdua saja yang di rumah, yang lain biasa pulang sore hingga malam sekalian.

“Teman Mamin enggak diajak makan?”

Mamin menggeleng, lalu melirik Sparkey yang sedang bermalasan-malasan di dekat lengan ayahnya.

“Noorie bisa sihir, Ayah,” yang disambut Om Dede seakan kagum, “dia mau sihir aku jadi cantik.” Gestur yang centil.

Om Dede tidak mau mengusik sisi kewanitaan Mamin yang semakin hari semakin nyata, bagus apabila gadis itu telah menyadari keistimewaan dirinya sejak kecil. Maka seperti biasa Om Dede membiarkan Mamin di kamar dengan kosmetik-kosmetikannya, para bonekanya, juga… Noorie?, sedang ia menonton pertandingan tenis di TV ditemani Sparkey.

“Mamin tergila-gila dengan peri, Sparkey,” ucap Om Dede setelah hening lama, “dulu dia selalu minta diceritakan tentang peri sebelum tidur… gara-gara majalah itu…” Om Dede teringat majalah anak-anak yang pernah ia belikan untuk Mamin, edisi Peri. Ia mendengus sedikit. “ Dulu aku pikir teman khayalan itu cuman untuk anak-anak yang kesepian…” Tepukan tangannya di kepala Sparkey melambat.

Malam itu Om Dede menyusup di balik selimut Mamin.

“Ayah mau bobo sama Mamin,” Om Dede menjawab keheranan bungsunya.

“Ayah udah jarang bobo sama Mamin,” tanggap Mamin.

Ayah juga sudah jarang bobo sama mama Mamin, batin Om Dede. Lagipula beberapa hari ini istrinya sedang dinas di luar kota, dan ia tidak mau tahu agenda wanita itu malam ini.

“Ceritain dong tentang Noorie,” kata Om Dede.

“Ayah yang cerita,” rajuk Mamin.

“Loh, kan Noorie teman Mamin?”

Putrinya tampak malu-malu.

“Nanti Ayah cerita tentang Sparkey, anjing Ayah.”

“Bener ya?”

“Bener…”

Berceritalah Mamin mengenai Noorie yang bisa mengadakan perjalanan lintas dimensi, dan keturunan penyihir sakti.

Mamin terlelap. Om Dede belum mengantuk. Ia ke dapur yang gelap untuk mengasap, yang mana tidak bisa ia lakukan apabila istrinya di rumah, sembari merenungkan episode demi episode dalam hidupnya. Para kakak Mamin yang mulai dewasa, semakin jarang di rumah. Mempertanyakan ini-itu dalam benaknya, sampai terdengar bunyi krak-kruk dari pojok dapur. Setelah memadamkan ujung puntung, Om Dede mendekat ke sumber suara yang berupa sosok putih di bawah juntai-juntai hitam. Sayap perempuan yang tengah jongkok membelakangi Om Dede itu bergerak-gerak.

“Noorie?” panggil Om Dede.

Perempuan itu menoleh, sekrup menancap di ujung bibirnya yang lebar. Om Dede tersengat. Kepala Sparkey teronggok, jauh dari badannya, kabel-kabel terurai.

”Kamu makan robot?” Perasaan Om Dede tak keruan, yang dijawab Noorie dengan tatapan dingin. “Apa kamu bisa memakanku juga?” …masih saja bayangan untuk bunuh diri mendatanginya.

“Tentu tidak. Kita berbeda.”

Lalu tidak ada lagi sosok yang rela mendengarkan ocehan Om Dede. Om Dede menyusuri ruangan demi ruangan dengan sapu dalam diam, membubuhkan detergen ke pakaian kotor dalam sunyi, menyabuni piring dalam bisu. Berhari-hati Om Dede berkabung, hingga memutuskan untuk mengkhayalkan teman baru. Tapi sepayah apapun Om Dede berimajinasi, tidak kunjung muncul sosok yang senyata Sparkey. Barangkali Om Dede harus menunggu sampai Aar mendapat tugas prakarya lagi, lalu minta dibikinkan robot anjing yang baru.

Tidak ada lagi yang menemani Om Dede menonton pertandingan tenis di TV, sementara Mamin mungkin tengah asyik didandani Noorie di kamar. Om Dede membayangkan dirinya menemukan sebuah video, yang begitu diputar menampilkan gambar sumur. Sesosok perempuan yang wajahnya ditutupi rambutnya merangkak keluar dari sumur, dari TV, lalu mencekik Om Dede sampai mati.

Sebuah tangan menyentuh pundak.

Om Dede teriak.

“Ayah! Kaget tau!” malah Mamin yang bersungut-sungut, terus cemberut, sampai meluncur cerita dari bibirnya yang mengerucut. Ia habis bertengkar dengan Noorie. Perempuan itu tidak kunjung menunjukkan kesaktiannya, sebagaimana yang pernah dijanjikan dulu. “Jangan-jangan dia peri bohongan. Terus dia ngata-ngatain Mamin, Ayah… Dia kalo ngomong suka kasar… Masak katanya bilang goblok itu baik, biar lega, itu kan jelek, Yah.”

Om Dede merengkuh kepala putrinya.

“Ya udah, main sama Ayah aja…”

“Emang Ayah mau main apa sama Mamin?”

“…mmm… apa ya…”

Di balik jendela Noorie dan Sparkey mengintip.

“Sebetulnya aku tidak yakin Dede bisa mendandani putrinya,” cetus Noorie.

“Biarkan mereka mencoba apa saja. Mari kita pulang, Tuan Putri.” Sparkey menggoyang-goyangkan ekornya yang berupa per.

Noorie memeluk robot anjing itu, lalu sayapnya mengepak-ngepak. Mereka membumbung ke angkasa. 


1K ++ coba ngerjain latihan dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar