LAINNYA

Selasa, 19 Maret 2013

Apa yang Kita Pernah Pelajari (Kemungkinan) Tidak Akan Sia-sia


Grace Paley. Sepertinya karya-karyanya yang lain menarik juga untuk dipelajari.
http://funny-learning.blogspot.com/2008/10/grace-paley.html

A Man Told Me the Story of His Life (1985) oleh Grace Paley adalah cerpen yang sangat pendek (tidak sampai satu halaman), yang dengan demikian sangat to the point. Penuturan dalam cerpen ini seperti berbingkai, seseorang menceritakan seseorang menceritakan ke­hi­dupannya (hlo?). Sehingga kita mendapat kesan bahwa cerita tersebut disampaikan secara tidak langsung—what’s the point huh? Entahlah. Ada yang jauh lebih menarik ketimbang persoalan point of view.

Man” yang dimaksud dalam judul adalah Vicente. Ia sangat ingin menjadi dokter, dengan sepenuh hatinya. Ia buktikan keinginannya itu dengan usaha, yaitu mem­pelajari ilmu kedokteran. Segala tulang, segala organ, ia cari tahu fungsi dan cara kerjanya. Tapi sekolahnya me­lihat prospek Vicente sebagai insinyur, maka tidak di­sa­rankan baginya untuk menjadi dokter. Menyadari usianya yang masih begitu muda, 17 tahun, Vicente pun menyerah. Tapi sekolahnya ternyata tidak sungguh-sungguh, karena pada akhirnya Vicente malah bekerja untuk militer sebagai juru masak. Lama berselang, agak­nya Vicente mensyukuri saja pekerjaannya. Ia sudah memiliki tiga orang anak, dan seorang istri yang ia se­la­matkan hidupnya. Istrinya pernah sakit, yang bahkan dokter pun tidak bisa mendiagnosisnya secara tepat. Di sinilah hasrat Vicente untuk menjadi dokter mencapai kegunaannya. Vicente yang telah mempelajari ilmu ke­dokteran, tahu apa yang harus dilakukan terhadap is­tri­nya. Bahkan dokter pun sampai heran, kok Vicente bisa tahu?

Heran ya. Padahal Vicente hanya mempelajari teori—buku. Ia tidak berpraktik sebagai dokter. Tapi yang dok­ter betulan, yang dengan demikian berpengalaman ke­timbang Vicente, malah tidak tahu…

Bagaimanapun juga, saya menangkap amanat yang ba­gus dari cerpen ini. Bahwa sekolah tidak bisa dipercaya, walaupun mungkin menentukan nasib kita. Dan bahwa apa yang kita pelajari untuk mencapai impian, walau ti­dak kesampaian, mungkin berguna suatu saat. Jadi te­ruslah berupaya demi cita-cita, walau institusi pen­di­dik­an hendak melencengkan nasibmu!

Cerpen ini bisa dibaca di sini.


dari The Harper Anthology of Fiction oleh Sylvan Barnet, 1991, HarperCollins Publishers Inc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar