LAINNYA

Minggu, 17 Maret 2013

Manusia yang Terasing Itu Seperti Hantu


Jean Rhys. Cantik ya? Entah kenapa dia
senang berpose seperti ini. 
Pertama kali saya menemukan cerpen I Used to Live Here Once karya Jean Rhys di The Heath Guide to Literature. Saya membacanya sekilas, tidak mengerti. Teks berbahasa Inggris pula. Walaupun ini cerpen amat pendek, sekitar satu halaman. Ketika saya melirik daftar pertanyaan di bawah cerpen, barulah saya tahu. Oh… ini teh cerita tentang hantu?

Saya mendapati cerpen ini lagi di The Harper Anthology of Fiction, lengkap dengan sekilas biografi pengarang, serta daftar pertanyaan yang menyoroti aspek berbeda dalam cerpen. Padahal belum lama saya menggarap cerpen tentang hantu, yakni A Haunted House (1921) dari Virginia Woolf. Kini saya dihadapkan lagi. Memang kadang saya berharap bisa melihat hantu, agar ada riak dalam kehidupan saya. Tapi ketemu hantu lewat cerpen saja tidak apa-apa deh, apalagi karena hantu tersebut tidak berbahaya.

Cerpen ini, bisa dibaca di sini, mengisahkan tentang seorang perempuan yang kembali ke tempat yang pernah ia tinggali, dulu. Beberapa perubahan terjadi pada tempat itu, beberapa masih sama. Lalu ia menemukan sepasang anak tengah bermain di bawah pohon mangga. Ia pun menyapa mereka. Eh, aku dulu pernah tinggal di sini loh, katanya. Tapi anak-anak tersebut tidak menanggapinya. Salah satu di antara mereka malah mendadak merasa dingin, lantas mengajak yang lain untuk pergi. Kedua anak itu pun berlari. Saat itulah perempuan tersebut menyadari sesuatu.

Sekilas cerita ini seperti cerita yang biasa ditemukan di Kekom. Pendek. Kejutan di akhir. Ternyata dia…!? O ya ampun, apa yang istimewa dari cerpen ini? Barangkali karena belum banyak yang menulis semacam itu pada saat cerpen ini terbit, yaitu tahun 1976?

Yang bikin istimewa dari cerpen ini adalah banyak review mengenainya (silahkan googling dengan kata kunci “jean rhys i used to live here once”—tahulah…), di mana interpretasi para pembacanya berkembang ke mana-mana hingga menemukan makna. Cerpen ini ternyata lebih dari sekadar memberi kejutan, tapi juga mengandung elemen biografis pengarangnya. Secara eksplisit disebutkan dalam cerpen ini bahwa latarnya adalah di West Indies, Dominika, di mana kaum kulit putih berkoloni dan menjadi minoritas. Jean Rhys (1890-1979) selaku pengarang cerpen ini lahir di sana, hingga melanjutkan pendidikan di Inggris. Cerpen ini konon mengungkapkan perasaan terasing pengarang saat berkunjung kembali ke tanah kelahirannya.

Maka saya tarik kesan “biasa saja” yang sempat hinggap, karena sekiranya ini bukan cerpen yang asal. Beberapa kalimat tertentu bisa mengembangkan interpretasi reviewer, hingga memberi petunjuk untuk mencapai kesimpulan. Yang lebih penting adalah bagaimana latar (yang membentuk situasi) mengandung elemen biografis pengarang. Oleh karena itu saya kira penting bagi pengarang untuk tidak hanya mengungkapkan laku dan perasaan karakter, melainkan juga bagaimana agar gambaran keadaan di sekitar karakter dapat menimbulkan makna (*ngomong sama siapa kamu day?).

Rasanya ingin menulis fiksi, yang tiap kalimatnya “berisi”, maupun membentuk elemen yang “berisi”.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar