Sabtu, 09 Maret 2013

(sekadar ingin melantur dalam 250 kata)


Kopi lagi, kopi lagi. Entah sudah berapa kali aku mengisi cang­kir. Kopi memang nikmat, menenangkan. Se­ru­put. Seruput. Sayup-sayup dari kamar sebelah lagu meng­alun. Aku sudah familier benar… istriku pernah se­but… power… slave…? …kekuatan budak? Hm… Dia itu pe­candu musik, sama seperti aku mencandu kopi. 12.43 AM. Kenapa lagu itu diulang-ulang terus ya? Tiap ma­lam… Memang penggalan liriknya kalau tidak salah be­gi­ni… malam… ini… aku… apa begitu. Lagu rock. Tapi dia pencinta segala macam. Kali lain dia putar lagu In­dia. Sebentar lagi mungkin. Deretan lagu yang sama di­u­lang-ulang, setiap malam, ini sudah malam ke entah. Se­ru­put. Seruput. Kukocok lagi isi cangkirku, kuintip. Ting­ginya tinggal satu senti mungkin. Bikin lagi… tapi nan­ti saja setelah aku intip anakku di kamar sama ibu­nya yang wanti-wanti aku harus sikat gigi setelah mi­num kopi sebelum mendekati anakku. Teler. 12.48 AM. Ku­pikir seharusnya aku tidur sekarang. Habis subuh aku ingin bermotor sama anakku, berkelak-kelok me­nyu­­suri gang-gang yang mengelilingi rumah… mengitari Te­gallega. Aku selalu merasa wajib mengunjungi Te­gal­le­ga tiap kali membawa anakku jalan-jalan. Di sana aku dulu mengencani ibunya. Maka aku bangkit… matikan lap­top… dadah kerjaan… tapi kuintip dulu kamar se­be­lah ah… ada celah. Aku senyum lihat anakku terlelap de­ngan manyun. Ha­ha­ha, itu baru anak Papa… Tapi ke mana ibunya. Aku do­rong sedikit daun pintu dengan ja­ri. Kepalanya ter­ku­lai di meja, membelakangiku. “La­gu­nya jangan itu-itu aja,” tegurku. Dia menoleh. Matanya sem­bap. Di ta­ngan­nya segumpal tisu, kudorong lagi da­un pintu, ber­ge­limpangan lainnya di sekujur meja. Je­marinya me­ra­pi­kan helai-helai yang semrawut di mu­ka­nya. “Ko­pi?” usikku lagi. Seperti biasa ia menggeleng. 



...mumpung insomnia.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain