LAINNYA

Rabu, 13 Maret 2013

Bumerang


Kemarin saya mengalami suatu situasi. Kemudian saya sadari kalau saya pernah mengarang situasi yang persis sekitar dua setengah tahun lalu. Apa yang saya terapkan sama karakter saya ternyata berbalik mengenai diri saya sendiri. Asa sesuatu banget.

Situasi yang persis ini cuman sekadar penggalan sih, karena utuhnya menyeberupai novel.

***

Zia kira ia baru saja berlari sprint dari rumah ke sekolah. Ia tak bisa berhenti tersengal untuk beberapa lama, dengan mata terbuka lebar. Menatap pintu berwarna biru langit beberapa meter di hadapannya—bukan pintu kamarnya. Tirai berwarna senada beberapa meter di sampingnya—tidak ada yang seperti itu di kamarnya. Dan dengkur halus Tata mengisi ruangan. Mata Zia terpaku pada enam titik menuju angka empat. Ia meneguk ludahnya berkali-kali, terasa kering tenggorokannya. Ia menggoncang-goncang pelan tubuh Tata. “Ta! Tata! Bangun!”

Tata melenguh. Ia menggeliat sebelum bangkit dengan mata setengah terkatup. “Apa... Zia..?”

“Temenin aku wudhu dong, aku belum solat isya sama maghrib!”

Tata mengucek-ngucek mata. Ia mendahului Zia membuka pintu, menuruni tangga, mengantarnya hingga depan pintu kamar mandi. Zia menunaikan apa yang harus ia lakukan dengan cepat. Sudah tak sabar ia memasuki hawa hangat kamar Tata lagi, meminjam mukena Tata, dan menunaikan kewajiban yang tertinggalkan. Perasaannya jadi sedikit lebih tenang sesudah itu. Usai mengusap muka dengan kedua belah tangan—berdoa untuk ketenangan arwah Mama—ia lihat Tata sedang berguling pelan di atas kasur. Dasar kebo, batin Zia. Ia merasa tak ingin menyusul Tata ke alam mimpi lagi. Sudah cukup yang tadi itu. Baru sekali ia memimpikan Mama sejak Mama meninggal. Langsung ke adegan seram pula. Pikiran Zia resah lagi. Ia mencomot Quran dari atas rak di sampingnya.

Teringat pada suatu malamnya di rumah Kakek. Zia mendapati Mas Imin masih duduk di musola. Berbaju koko dan sarung, mengaji. Di bawah pendar lampu yang hanya menerangi sebidang persegi panjang kecil itu, Zia duduk di tepi. Mengamati sampai Mas Imin menghentikan bacaannya di waqaf.

“Mentang-mentang besok udah mau UN aja, jadi soleh.”

Mas Imin mendengus. Hendak melanjutkan lagi bacaannya, namun ngeh bahwa ia tidak bisa begitu saja mengacuhkan Zia. Ia mengangkat muka dan bertanya dalam mimik.

“Waktu aku bilang aku udah punya peta hidup, aku bukannya boong lo, Mas,” jawab Zia. “Aku bukannya nggak punya keinginan sama sekali buat jadi apa. Banyak yang kupinginin. Itu seperti punya peta, tapi nggak tau mau ke mana. Nggak guna deh petanya.”

“Makanya, belilah peta yang dilengkapi dengan legenda, kode pos, dan arah mata angin.”

Zia menjulurkan lidah. Mas Imin mendengus lagi. Ia kembali menatap Quran bersampul emas di tangannya, yang kemudian ia sodorkan pada Zia. “Mungkin yang kamu cari ada di sini.”

Itu tersimpan jauh di lubuk benak Zia sampai detik ini. Sampai detik di mana dorongan itu begitu kuat untuk membuatnya membuka buku yang paling jarang ia jamah—padahal hobinya membaca buku. Di mana ia menemukan rentetan kata-kata untuknya, dari Penciptanya, yang ia baca sepenggal-sepenggal, secara acak. Dari halaman satu ke halaman lainnya. Kembali ke halaman yang mula. Dari mulai tunjukanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat[1] hingga ...mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.[2]

“...kebenaran...” Zia menggumam pelan. Tercenung. Mendadak ia merasa ingin menulis sesuatu. Ia menggapai ransel, mengeluarkan notes dan pulpen, menggurat beberapa kalimat. Ia bubuhkan tanda silang besar di atasnya. Halaman lain notes ia buka. Ia torehkan lagi beberapa kalimat. Kali ini puting beliung yang menimpa. Halaman baru, kalimat, dan kalimat. Azan subuh menghiasi lanskap suara. “Al Falaq,” gumam Zia. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Kembali menulis dan berhenti lebih cepat dari sang muadzin. Masih ada wudhunya. Langsung ia menunaikan solat subuh. Dan bengong. Ia baru menyadari bahwa hari yang baru telah berganti, dan itu bukanlah Sabtu atau Minggu. Ia tidak sedang berada di rumahnya sendiri, dan ia tidak membawa seragam sekolah. Terpikir untuk bolos saja.

Ah, bolos sekolah, hanya untuk siswa labil! Padahal salah satu isi resolusi Zia adalah meminimalisir kelabilan. Zia baru ngeh bahwa ia telah menjadikan itu bagian dari resolusi. Dan ia tidak ingin mencoret poin dalam resolusinya lagi, ini kan baru awal bulan keempat.

Zia membangunkan Tata lagi, yang terkesiap karena azan subuh telah lewat. Padahal Tata yakin ia biasa bangun lebih pagi dari sang muadzin. Lebih kaget lagi ia karena tahu-tahu Zia ingin pulang.

“Udah, pinjem baju aku aja!”

“Eh, nggak ah...” sergah Zia. Tata kan berjilbab. Atasannya lengan panjang. Bawahannya rok panjang. Dan hari ini tidak ada mata pelajaran PAI. Dan Zia merasa aneh kalau ia berjilbab hanya untuk hari ini. Itu juga merupakan tindakan labil. Zia mengibas pikiran untuk berjilbab tidak hanya di hari ini saja, tapi juga memantapkan diri untuk seterusnya. Zia menemukan alasan lain yang lebih menguatkan, “Aku juga nggak bawa buku pelajaran, Tat. Masak aku mau pinjem punya kamu juga? Aku juga cuman pake sendal jepit ke sini.”

“Sarapan dulu, nggak?” tanya Tata untuk ke sekian kali saat mengantar Zia sampai pagar rumah, membelakangi keheranan orangtuanya. Sudah mendadak datang malam-malam hanya untuk menumpang tidur, sudah hendak pergi lagi padahal hari masih juga gelap. Orangtua Tata dipaksa maklum bahwa teman Tata yang satu itu adalah seorang Zia—dengan segala cerita Tata mengenai latar belakang dan polahnya.

Zia menolak. Setelah mengucapkan terima kasih, lekas ia berlalu. Angkot-angkot masih kosong pada jam segini. Zia berharap mereka tidak mengetem terlalu lama. Nanti hari keburu terang. Nanti ia tidak keburu sampai sekolah tepat waktu.

Sudah ada semburat oranye pada cakrawala kala Zia sampai di teras rumahnya. Rumahnya tak berpagar, jadi halangan fisik pertama yang ia temui untuk menuju kamarnya adalah pintu depan. Iseng ia putar knop pintu sebelum memencet bel, siapa tahu saja sudah terbuka. Asnah mestinya sudah bangun jam segini.

Terbuka.

Zia merasa panas dingin saat Papa menjadi sosok yang pertama kali ia temui di rumah hari ini. Duduk di salah satu sofa ruang tamu, menatapnya, menghampirinya. Tampangnya galak—tapi memang sudah dari dulu begitu. Zia berusaha tidak terlihat gentar.

“Dari mana kamu?”

“Kan semalem aku udah bilang, ke rumah Tata! Papa tuh nggak pernah dengerin aku.”

“Udah, nggak usah nginep-nginep lagi. Kayak yang nggak punya rumah aja.”

Zia bertekad akan menginap setidaknya sekali seminggu di rumah orang lain, entah rumah Kakek, rumah Tata, atau rumah teman-temannya yang lain. Justru karena Papa tidak pernah melarangnya merokok, Zia berprinsip untuk tidak pernah merokok seumur hidup.

 “...maaf...” ucap Zia, amat pelannya sampai ia tak yakin Papa akan dengar. Ia melanjutkan langkah-langkahnya menuju kamar. Rona gelap di kantung mata Papa, ceceran abu dan tumpukan puntung rokok di meja ruang tamu—Zia berusaha mengusir pemandangan itu dari dalam kepalanya.





[1] Q. S. Al-Fatihah: 6-7
[2] Q. S. Al-Asr: 3



***

Adapun ayat yang saya dapatkan adalah sebagai berikut.

"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan Kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya)." Q.S. Al-Anbiyaa: 18

Seakan relevan sih sama permasalahan saya. Tapi tetap butuh petunjuk dari-Nya agar dapat memahami. Quran itu seperti buku teka-teki, ayat-ayat di dalamnya mengandung misteri. *udah berdoa aja terus sana :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar