LAINNYA

Kamis, 23 Februari 2012

Dari Museum ke Museum (Bagian 1)

Selasa (21/02/12), sekitar pukul setengah sepuluh pagi, saya duduk di Jalan Marconi yang diapit komplek Nehru Memoriam International School dan Museum Mandala Wangsit Siliwangi (selanjutnya Museum MWS). Gedung sekolah internasional di seberang saya dilapisi keramik yang telah dilumuri noda di mana-mana. Murid-murid sekolah ini bermain di sebidang lahan yang mengingatkan saya akan masa SMP saya di SMP Istiqamah Bandung. Kemudian Fida datang bermotor. Menyusul tidak lama, pasangan Nuhe dan Pras. 

Kami semua belum pernah ke Museum MWS sebelumnya. Yang saya pernah dengar beberapa kali, museum tersebut memiliki kesan menyeramkan. Fida tertarik untuk mengunjungi museum tersebut sejak singgahnya komunitas Aleut sejenak di sana pada Minggu (19/02/12) di mana Fida mulai gabung dengan komunitas tersebut. Menurut keterangan seorang pria berpakaian loreng-loreng yang tengah berjaga saat itu, Museum MWS buka hanya pada waktu kerja—setidaknya itu waktu “aman” untuk mengunjungi apapun bukan?

Kami dipersilahkan memasuki museum dari belakang sebab bagian depan sedang direnovasi. Sebelum pintu masuk bagian belakang tersebut, terdapat kantin dan tempat parkir mobil. Salah satu mobil yang bertengger di situ adalah sebuah ambulan yang digunakan pada sekitar tahun 1950-an untuk menolong para pejuang. Ambulan tersebut dikenal juga dengan “Si Gajah” atau “Si Dukun”. Siliwangi sendiri tampaknya merupakan sebutan bagi pasukan loreng-loreng di daerah Jawa Barat pada masa itu—berdasarkan legenda Prabu Siliwangi yang dianggap sebagai leluhur orang Sunda.

Di ruang belakang, kami disambut oleh seorang bapak berpakaian training yang cukup ramah. Di buku tamu, cukup perwakilan saja yang mengisi identitas dan sebagainya. Barang bawaan harus ditinggalkan di ruangan itu kecuali ponsel dan dompet. Bapak tersebut juga menuturkan sejumlah ketentuan lain. Bagi yang muslim, ucapkan basmalah sebelum memasuki ruangan, ucapkan basmalah tiga kali lagi ketika hendak memotret, keluar melalui pintu yang sama karena pintu satunya terletak di bagian depan yang sedang direnovasi, serta meninggalkan uang ala kadarnya untuk biaya perawatan.

Setelah menaiki tangga, sampailah kami di ruangan pertama yang memamerkan benda-benda peninggalan prajurit Siliwangi. Ada sekitar belasan ruangan dalam museum tersebut. Atap kecokelatan karena rembesan air. Ada satu ruangan yang dibatasi garis kuning karena atap di atasnya berpotensi runtuh sewaktu-waktu.

Yang lihat foto ini harus mengucap basmalah tiga kali 

Setiap lukisan diberi kertas di bawahnya dengan tulisan yang meminta pengunjung agar tidak memotret lukisan tersebut. Saya mewanti-wanti Fida agar tidak lupa mengucap basmalah tiga kali saat hendak memotret sesuatu—dia hanya mengucap sekali. 

Tiap daerah ada benderanya masing-masing

Kami terkesima dengan kesuraman atmosfer museum dan menggapai-gapai kesan angker yang konon katanya. Foto-foto yang memudar, diorama nan berdebu, serta berbagai perkakas perang tampak menjadi bagian dari kekusaman tersebut. Beberapa jenis koleksi dipajang dalam kotak kaca dengan ditemani bola(-bola) kamper yang kalau di rumah saya digeletakkan begitu saja dalam kamar mandi.

Eh ada Inspektur Vijay! Aca... Aca...

Berbagai pangkat dalam ketentaraan—baik dalam batalyon Siliwangi maupun DI/TII, bendera-bendera (tiap daerah beda), meja-kursi yang digunakan dalam peristiwa di Rengasdengklok, peta pergerakan tentara Siliwangi, sampai potret Jenderal Sudirman pun ada di sini. Liputan peristiwa G30SPKI juga tersedia. Dalam bangunan rapuh ini, setidaknya berbagai pajangan yang mengepung masih bisa melayangkan imajinasi pengunjung ke suasana saat itu.

Senjata-senjata hasil rampasan

Hal menarik juga melihat-lihat berbagai rupa senjata yang berhasil dirampas dari penjajah. Ada yang bentuknya seperti samurai, ada berbagai model pistol, dan lain-lain. Tidak ketinggalan dipamerkan juga senjata khas Indonesia berupa pedang-pedangan yang sayang sekali saya tidak ingat dan sengaja hapalkan namanya. Saya kira bambu runcing itu hanya sekadar bambu dipotong dari rumpunnya, dihaluskan, lalu diruncingkan ujungnya. Ternyata ada juga bambu yang memang diraut sampai bentuknya menyerupai pedang. Bakal lebih mengerikan lagi kalau ujungnya masih berlumuran darah. Salah satu kotak kaca memamerkan pedang yang digunakan seorang pejuang wanita bernama Susilowati untuk memenggal kepala musuh, luar biasa.


Pedang yang digunakan Susilowati ada di urutan pertama atau kedua (#lupa)

Pada ruangan yang bertemakan penumpasan DI/TII, foto-foto jasad dalam kondisi mengenaskan disajikan. Ada mayat gosong, hilang kepala, atau masih utuh tapi beberapa bagian tubuhnya kena gorok. Kesan superior yang hendak ditampilkan pihak di balik museum ini kuat terasa. Oknum DI/TII digambarkan begitu keji. Selain itu, ditampilkan juga tabel yang menunjukkan untung-rugi antara pihak “kita” dengan pihak DI/TII.

Sebagai orang yang sebetulnya tidak begitu meminati sejarah, saya bisa merasa miris juga melihat bagaimana sejarah diperlakukan. Demikian pun teman-teman saya. Fida tak ingat apa itu Perjanjian Renville (begitupun kami semua). Pras yang ayahnya tentara malah tidak berdaya saat kami menodongnya untuk jadi pemandu. Latar pembubuhan “Irianto” sebagai nama belakangnya adalah karena ayahnya pernah bertugas di Irian. “Zamannya udah beda,” kata Pras. Seharusnya kami ke museum ini dengan membawa buku pelajaran Sejarah.

Toh museum pun tidak menyediakan leaflet/booklet/apapun untuk kami bawa. Kalaupun ada biaya untuk itu, seyogyanya digunakan dulu untuk perbaikan fisik museum. Ketika saya berkunjung ke museum serupa di Kota Jogja beberapa bulan lalu, tepatnya Museum Dharma Wiratama milik TNI AD yang letaknya di Jalan Sudirman, kertas-kertas semacam juga tidak disediakan. Namun keadaan bangunan di sana lebih baik, tanpa kesan kumuh, bahkan ada ruangan ber-AC. Namun pengunjung hanya dapat menikmati museum tersebut sampai jam dua siang. Pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali untuk memasukinya, bahkan sukarela sekalipun. Namun kami tetap harus mengisi identitas dan menitipkan tas.

Sang Museum Dharma Wiratama

Ah saya jadi teringat museum-museum lainnya yang juga saya kunjungi belakangan ini.

Museum Konperensi Asia Afrika (KAA)

Museum yang saya kunjungi Minggu (19/02/12) ini sangat terawat, nyaman, luas, ber-AC, serta memiliki perpustakaan, sahabat (maksudnya relawan yang mau bantu mengurusnya), juga suka menghelat acara lain. Ketika tahun lalu (bertepatan dengan festival budaya MInang di jalan di sebelahnya), saya ke sana dengan beberapa teman SMA, kami bisa menonton film-film, ketemu cowok ganteng yang ingat solat, dan saya sendiri dapat majalah gratis. Sedang ketika kemarin saya datang ke sana lagi dengan teman-teman SMP, Pameran 50 Tahun Gerakan Non Blok (GNB) sedang diselenggarakan.

Pameran tersebut berlangsung dari tanggal 14 Desember 2011 – 24 April 2012. Pintu masuk pameran ini berupa uang di mana kita bisa menonton sekilas tentang GNB sambil tidur-tiduran. Penjaganya seorang bapak-bapak yang sangat ramah. Keluar dari ruangan tersebut, kita memasuki lorong yang pada dindingnya terdapat kronologi mengenai gerakan ini disertai berbagai propaganda perang dingin, profil para presiden negara-negara non blok, hingga situasi di negara-negara tersebut saat ini.

Kita juga bisa berpose di sebuah panggung kecil dengan perabot zaman dulu. Silahkan duduk di kursi, mengangkat telepon klasik di atas meja, dan mendengarkan rekaman pembicaraan tokoh dunia. Di samping panggung ada wastafel dengan keran yang dapat mengucurkan air—lengkap dengan handuk dan sabun! Di sudut luar panggung, sebuah gantungan pakaian berdiri. Kita boleh mencoba mantel dan topi yang tersangkut di sana.

Tidak hanya itu, kita bisa berlagak bak jurnalis pada masa itu dengan mesin tik kuno yang boleh dicoba. Mesin fotokopi klasik berada di samping kanan meja namun sayangnya tidak berfungsi dengan baik.

Di ruangan dekat pintu keluar, ada sebuah TV besar dan beberapa deret bangku empuk di hadapannya di mana kami mengaso dan mengobrol dengan Sahabat Museum dan ibu pengelola pameran tersebut.

Pada ruangan itu pula terdapat peta dunia. Sahabat Museum memberi kami sticky note untuk ditempelkan pada negara-negara yang telah ditandai, yaitu negara-negara yang bergabung dalam GNB. Pilih salah satu negara yang ingin kita kunjungi dan tulis bagaimana kita terhadap negara itu. Saya pilih Arab Saudi karena saya ingin menunaikan ibadah haji apabila saya mampu. Seorang anak SD menulis begini di sticky note-nya: “Saya ingin Indonesia tidak ada. Penjajahan.”

Sahabat Museum yang kami tanya mengaku sebagai siswa SMK. Ia mengetahui ada lowongan untuk jadi relawan di Museum KAA dari koran. Ada juga pelajar dari berbagai instansi lain yang umumnya memang mengambil jurusan sosial. Tugas Sahabat Museum antara lain menemani pengunjung, barangkali ada yang perlu dijelaskan.

Selain TV besar dengan tempat duduk di hadapannya, ada juga beberapa TV lain dengan ukuran lebih kecil yang ditempel di dinding. Ketika kami minta dimainkan film yang ada di salah satunya, sayang sekali Sahabat Museum tidak tahu cara mengoperasikannya karena setekernya bermasalah atau apa.

Ini antara lain yang bisa diambil dari Pameran 50 Tahun GNB di Museum KAA hehehe

Kecuali di pameran, Museum KAA tidak menyediakan panduan baik dalam bentuk cetak maupun wujud manusia. Kita tidak dipungut bayaran sama sekali. Namun tentu saja kita harus mengisi buku tamu dulu.
  
Kita diperbolehkan menengok ruangan yang biasa digunakan untuk acara-acara besar—perabotannya asli dari zaman dulu. Selain kami, ada beberapa kelompok lain yang memanfaatkan ruangan luas tersebut sebagai ruang mengaso. Tinggal dirikan kafe kcil saja di pojok ruangan, sempurna. Mendekati jam dua belas siang, kami diminta keluar ruangan karena museum akan tutup. Entah karena istirahat atau karena hari itu Minggu. Selama di sana, kami bertemu tiga rombongan dengan orang berbahasa asing di dalamnya—semua orang Asia.


…selanjutnya: Museum Pos Indonesia, Museum Batik Pekalongan, dan Sejarah itu bagai es krim Canary…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar