LAINNYA

Selasa, 14 Februari 2012

Tak Sekadar Makam – Menilik Makam Pandu bersama Aleut (Bag. 3 - tamat)

...sebelumnya ada Makam Freemason, Makam Schumaker, Ereveld, Makam Ursone, dan Makam pilot dan kopilot... 

Makam Raymond Kennedy

Di balik rimbun bunga ini tersimpan sesosok sahabat Indonesia yang salah dimengerti
Sekilas makam tersebut tampak bak batuan dari zaman megalithikum di tengah rimbunnya semak. Padahal di balik semak tersebut tersimpan informasi yang sudah aus mengenai orang yang suka disebut John padahal Raymond. Bekas plakat tercetak pada batu tersebut. Sekali lagi tukang martabak jadi tersangka. Tapi menurut Bang Ridwan, kali ini kerjaannya kolektor karena hasilnya rapi.

Raymond Kennedy merupakan pendukung kemerdekaan Indonesia. Dia seorang ilmuwan lagi humanis. Berdasarkan penelusuran Mang Asep, Kennedy lahir pada 6 Desember 1906. Setelah lulus dari Yale pada tahun 1928, dia bekerja di General Motor regional Asia Tenggara sebagai salesman. Dia mulai tertarik dengan kebudayaan dan orang Indonesia ketika bekerja di Indonesia. Dia pun mengambil keputusan untuk mempelajari teknologi dan antropologi di Yale. Dia merupakan pionir pusat studi Asia Tenggara di Yale, mengumpulkan semua terbitan mengenai Indonesia di sana, serta menjadi konsultan bagi AS mengenai pemerintahan Hindia Belanda.

Pada perjalanannya dari Bandung ke arah timur pada tahun 1950, dia disergap oleh gerombolan tak dikenal di Sumedang. Satu versi mengatakan bahwa gerombolan tersebut merupakan antek-antek Belanda yang menganggap Kennedy menjelek-jelekkan pemerintahan Hindia Belanda (saat itu sudah menjadi RIS alias Republik Indonesia Serikat kalau tidak salah). Versi lain mengatakan bahwa gerombolan tersebut adalah para pejuang Indonesia yang menganggap setiap bule adalah orang Belanda sehingga harus ditumpas, padahal Kennedy dari AS. Kennedy pun meninggal sekitar tanggal 27 atau 28 April pada tahun itu.

Makam keluarga Tan

Salah satu orang terkaya di Bandung
Marga Tan merupakan salah satu marga China paling terkenal di Indonesia. Tan yang dimaksud di sini adalah seorang pengusaha dari Semarang yang pindah ke Bandung. Istrinya membuka usaha batik lalu perusahaan keluarga ini menjadi besar dan terkenal. Dia membangun rumah megah dan termasuk orang pertama di Bandung yang memiliki mobil. Peninggalannya bisa ditemui di Jalan Kebonjati, yaitu Hotel Surabaya. Menurut Bang Ridwan, semua hotel ada di sisi selatan rel kereta api. Adalah biasa di semua kota besar di Pulau Jawa apabila kita menemukan hotel dinamai dengan nama kota di dekat stasiun utama. Misalnya jika orang Cirebon mampir ke Bandung, dia bakal menginap di Hotel Cirebon. Yang agak aneh adalah di Bandung ternyata ada Hotel Bandung juga.

Tan memiliki seorang anak gadis yang terlibat dalam percintaan yang tidak dikehendaki orangtuanya. Kasus itu menjadi aib dan omongan banyak orang, apalagi karena melibatkan keluarga terpandang. Saking sensasionalnya, kisah ini dibukukan dengan judul “Rahasia Bandung” (atau “Rasia Bandung”?).

Tan lahir di Amoy di China Selatan (?). Di pulau inilah seorang pejuang Indonesia, Tan Malaka, tinggal cukup lama. Di sana Tan Malaka mengajar bahasa Mandarin, Prancis, dan Jerman, serta menulis buku “Menuju Republik Indonesia Merdeka” dalam bahasa Belanda.

Penutup

Gunung Tangkuban Perahu, ikon Kota Bandung, membayang di kejauhan
Sebelum tahun 1917, warga Bandung bebas memakamkan siapapun di manapun. Di pinggiran kota—Cimenyan ke atas contohnya—masih banyak makam bayi yang baru lahir lalu meninggal dimakamkan di depan rumah. Bagi orang Belanda, ini mengganggu baik dari aspek kesehatan serta menyuburkan mistik. Tahun 1917, peraturan tentang pemakaman pun dibuat. Kompleks makam Astana Anyar dibangun untuk menampung makam-makam yang tadinya berada di halaman rumah. Astana Anyar juga menampung makam-makam yang dipindahkan dari GOR Pajajaran maupun UNISBA (Universitas Islam Bandung, pen.) sebelum keduanya jadi GOR maupun kampus.

Saya tidak tahu bagaimana menuliskannya, tapi secara lisan kita bisa menyebutnya “kerkof”. “Ker” artinya gereja sedang “kof” artinya lapangan atau taman. Di Eropa biasanya makam terletak di halaman belakang gereja. Kota-kota besar pada masa kolonial biasanya punya satu kompleks kerkof. Daya tarik wisata objek semacam ini dilihat dari bentuk makam, ornamen, hingga inskripsi.

Konon kerkof di Jalan Pajajaran luar biasa indahnya. Ketika pemerintah Kota Bandung hendak menjadikannya GOR, sebagian makam tersebut dipindahkan ke Makam Pandu. Namun ada sebagian yang marmernya diambili tukang martabak. Kata Bang Ridwan, martabak tahun 80-an menggunakan marmer—teman baru saya yang rada mirip shaolin menambahkan—untuk meratakan adonan martabak kayaknya. Kolektor juga suka mengambili hiasan-hiasan pada makam seperti plakat tertentu, simbol-simbol yang ditempel pada makam, dan semacamnya.

Kini kompleks Makam Pandu nyaris penuh dijejali makam dengan arah hadap, bentuk, dan ukuran beragam. Sering kami menginjak badan makam untuk mencapai satu tempat dari tempat lainnya. Ada yang merasa kurang nyaman dengan hal ini, tapi ada juga yang dengan enak meloncat-loncat di atasnya—ah itu anak salah satu peserta. Ada juga makam yang tertutup tetumbuhan sehingga bisa jadi kami tidak ngeh kalau ada makam di situ.

Tidak sedikit makam yang menyimpan lebih dari satu jenazah—paling tidak dua. Namun ada juga beberapa lahan kosong yang memang sudah disiapkan, lengkap dengan nisan pula. Biasanya lahan tersebut berdampingan dengan makam yang sudah ada sebelumnya dalam satu bangunan, misalnya milik suami-istri. Tulisan pada nisan tersebut berwarna merah—sementara yang sudah ‘isi’ dicat kuning—dan tinggal ditambahkan tanggal meninggal yang bersangkutan saja. Lahan yang sudah disiapkan tersebut diberi batas berupa pagar atau semacamnya.

Pagar yang disinyalir dipotong rata untuk dijual ke kiloan
Yang menjamin jenazah agar tetap pada makamnya adalah pajak. Setiap tahun pajak harus diperbarui pada Dinas Pemakaman dan Pertamanan. Kalau tidak, makam tersebut terancam dibongkar untuk diisi oleh pihak lain yang membutuhkan. Makam yang sudah dibayarkan pajaknya ditandai dengan plang (dulu) atau stiker (sekarang). 

Penanda pajak versi baru
Jika keluarga orang yang dimakamkan sudah tidak ingin bayar pajak atau pindah keluar negeri sehingga makam tersebut tidak ada yang mengurus, makam akan dibongkar. Isinya diambil lalu dibakar di Nana Rohana atau Bumi Baru. Makam tersebut lalu dikosongkan dan ditutup untuk diisi yang baru.

Vandalisme makam
Kalau ada makam baru sudah dibongkar, itu berarti penjarahan. Bisa terjadi, sekarang dimakamkan malamnya dijarah. Perubahan letak batu atau tanaman mengindikasikan itu. Kata Bang Ridwan, orang-orang sini tahu bahwa harga peti bisa mencapai 10 – 30 juta rupiah. Toko mau menerimanya seharga 5 jutaan—lebih murah daripada produksi sendiri—lalu menjualnya lagi seharga 15 jutaan. “Makanya sekarang enggak musim lagi memakamkan dengan perlengkapan yang mewah. Ada gantinya buatan yang murah. Mereka bukan takut dicuri tapi membayangkan anggota keluarganya bakal diobrak-abrik.”

Siapa saja boleh melintas
Pemakaman ini terbuka untuk umum tidak hanya berarti siapapun boleh dimakamkan di situ. Ada ruas-ruas jalan selebar kurang lebih satu sampai satu setengah meter untuk jalan umum. Warga bisa melintasinya dengan motor atau sekadar jalan-jalan. Saat sesi sharing, ada yang cerita kalau dulu Makam Pandu adalah tempat anak-anak bermain bola—bolanya tengkorak manusia.

Mari berbagi di samping tenda nasi kuning dan nasi uduk
Memang sudah ritual Aleut untuk sharing di akhir perjalanan. Pada sesi ini, siapapun wajib ngomong! Di sinilah kami merefleksikan pelajaran yang kami dapat sepanjang perjalanan, juga berbagi informasi yang belum sempat disertakan.

Sebagaimana yang diungkapkan peserta dari Ambarawa, di tempatnya juga terdapat pemakaman China yang disebut “ngepong” atau “bong”. Dari sini, pengetahuan melebar pada berbagai sebutan untuk pemakaman China. Peserta dari Surabaya juga membandingkan Makam Pandu dengan pemakaman serupa di Surabaya, salah satunya Peneleh. Karena peserta tersebut juga PNS di Surabaya, pembahasan merembet ke penerapan kebijakan deh.

Selain itu, sempat dibahas juga mengenai tradisi pemakaman di berbagai tempat. Orang Arab “membuang” mayat di gurun pasir. Orang Toraja menyimpan jasad sampai mereka punya uang untuk mengantarkannya ke tebing. Orang Bali meletakkan mayat begitu saja di bawah pohon. Orang Papua melipat mayat lalu menaruhnya di perbatasan kampung. Makam di Dieng dan Ciamis berukuran kecil. Membawa orang mati dalam pesawat membutuhkan biaya yang jauh lebih besar daripada membawa orang hidup. Dan legenda pocong serta kuntilanak tampaknya berasal dari tradisi pemakaman umat Islam. Keduanya kan berpakaian kafan. Orang yang dimakamkan dengan tradisi lain kan menggunakan pakaian biasa. Jadi ketika dia bangkit sebagai hantu, sepertinya agak ribet kalau dia harus mengganti pakaiannya dengan kafan dulu.

Kalau saya sendiri mengaitkan fungsi pemakaman sebagai ruang terbuka hijau. Sepanjang penjelajahan tadi, saya menemukan beberapa anakan pohon dengan label berlogo P*rt*min*. Dari sini saya jadi kepikiran soal makam ramah lingkungan dan makam yang kurang ramah lingkungan. Apa boleh buat. Lapar lahan tidak hanya menjangkiti masyarakat desa sekitar hutan tapi juga masyarakat perkotaan. Kondisi Makam Pandu yang relatif gersang kala perjalanan bikin kami mengerahkan berbagai cara supaya tak tersengat sinar mentari. Konon kondisi pemakaman di Cikadut lebih gersang dari ini. Tapi jika saja makam dirindangi pepohonan besar, suasananya mungkin bakal bikin kami lebih segan untuk berloncatan ke sana ke mari.

Salah satu bibit penghijauan
Namun sebagaimana yang sudah saya uraikan hingga sepanjang ini, fungsi pemakaman ternyata bukan sekadar ruang terbuka hijau. Pemakaman juga museum budaya dan sejarah hingga refleksi atas kondisi sosial masyarakat serta kepedulian pemerintah.

Masih banyak cerita menarik lainnya yang beredar di forum pada siang selepas zuhur itu, yang dinikmati sambil menyeruput cingcau dan bagi-bagi makanan, dan janganlah menuntut saya untuk membeberkan semua. Gabung saja sama ngaleut berikutnya.

Sebagaimana kata sang koordinator, “Ketika kita mengapresiasi suatu tempat untuk menghargai bersama-sama, terus sharing bersama, itu sangat menyenangkan...” Setuju?

Tulisan ini disusun hanya berdasarkan ingatan,  foto-foto, dan rekaman sepanjang 2 jam 35 menit 1 detik yang diambil secara terpotong-potong selama perjalanan dilakukan. Validitas informasi tidak dijamin. Kesalahan ejaan mohon dimaklumi. Pis ah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar