LAINNYA

Jumat, 17 Februari 2012

Dari suatu petang bersama FLP Bandung: Antara Budi Darma, eksistensialisme, dan ...saya


Sepenggal suasana di Kamisan FLP Bandung, 16/02/12

                Ada suatu masa di mana saya mengoleksi fiksi islami terbitan DAR! Mizan. Saat itu, NORI alias Novel Remaja Islami merupakan lini baru dari penerbit tersebut. Tidak disangka setelahnya genre fiksi islami akan booming hingga saya tidak mungkin lagi mengoleksi semua terbitan. Namun sebelum nama Forum Lingkar Pena (FLP) kian besar karenanya, melalui terbitan-terbitan awal itulah saya mengenal organisasi kepenulisan ini.
                Saat itu saya masih SMP. Saya coba menelusuri kehadiran FLP di jagat maya, namun saya tidak menemukan hasil yang memuaskan. Setelah itu saya sempat melupakannya sampai kebangkitan kembali kepenulisan saya pada tahun pertama saya kuliah di Jogja.
Saat itu FLP wilayah Yogyakarta (selanjutnya FLP Jogja) membuka pendaftaran tiap satu semester dan saya tidak melewatkan kesempatan ini.  Berbekal esai bertema “Kontribusi Saya dan FLP dalam Dakwah Kepenulisan”, artikel yang pernah dimuat di suplemen belia Pikiran Rakyat, dan persyaratan administratif lainnya, selanjutnya saya resmi menjadi anggota FLP Jogja. Yang bikin bocah ini merasa “wah” adalah karena ada sekian puluh pendaftar lainnya yang tidak lolos. Wah.
                Syahdan, FLP pun mengiringi tahun-tahun perkuliahan saya di Jogja. Di FLP Jogja, saya adalah peserta berbagai forum dan kegiatan, panitia beragam acara, koordinator forum fiksi, dan pegiat Klub Rabu. Maka “Aku dan FLP” adalah sebuah kisah biasa mengenai seorang anak muda yang terlibat dalam suatu organisasi sekaligus komunitas.
                Musyawarah nasional (selanjutnya Munas) FLP di Solo pada tahun 2009 mempertemukan saya dengan perwakilan FLP dari berbagai wilayah lain. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung dan beberapa bulan sekali pulang ke sana, saya mencari perwakilan dari FLP Bandung. Saya bermaksud mengikuti forum mereka saat saya berada di Bandung. Forum FLP kan terbuka bagi umum. Saya sempat meminta kontak salah satu dari mereka. Namun ketika pada suatu kesempatan saya mengirim sms padanya untuk menanyakan tentang forum FLP Bandung yang mungkin saya bisa ikuti, nomor tersebut sudah tidak aktif.
                Saya pun mencari lantas bergabung dengan grup FLP Bandung di Facebook. Dari situ saya bisa mendapatkan informasi mengenai kegiatan FLP Bandung, terutama forum Kamisannya.
Belakangan ini saya sudah tidak aktif lagi di FLP Jogja dan lebih banyak berada di Bandung. Kehadiran komunitas sebagai penyemangat dan pelipur lara kembali saya rindukan, apalagi ketika para anggota Klub Rabu mulai berterbangan, sehingga menerbitkan keinginan saya untuk mengikuti kembali forum FLP di Bandung—sekalian studi banding. 
FLP Bandung biasa mengadakan Kamisan di Salman ITB jam 16. Ini adalah waktu yang sama dengan waktu untuk forum fiksi FLP Jogja yang biasa diadakan di Balairung selatan UGM. Sekali saya iseng datang ke Salman ITB sekitar jam itu, saya bingung karena di sana ternyata ada banyak orang mengelompok. Mana di antara kelompok-kelompok tersebut yang merupakan forum FLP? Maksud saya pun batal. Saya malah menemui teman-teman lama di ITB.
Semangat saya sempat surut sampai beberapa hari lalu saya buka lagi halaman grup FLP Bandung. Kamisan terdekat (16/02/12) bertema “Prosa Sastra Kontemporer” oleh Wildan Nugraha. Ada teman saya yang suatu ketika pernah memuji tulisan-tulisan Wildan Nugraha. Tidak ingin pengalaman sebelumnya terulang, di bawah kiriman tersebut saya tanyakan di sebelah mana Salman persisnya FLP Bandung ngariung. Seorang akang dari perpustakaan Salman membalas komentar saya dengan sangat jelas: di bawah tangga atau kalau masih ragu datang saja ke perpustakaan Salman terus tanya sama akang yang ada di sana.
Petunjuk itu pun sungguh saya terapkan setibanya saya di Salman. Kebetulan sekali, di sana saya bertemu dengan seorang teteh (kalau di Jogja ya “mbak” hehe) dengan pin FLP Bandung di jilbabnya. Kami pun berbarengan menuju tempat forum akan dilaksanakan. Saat itu sudah lebih dari jam 16.
Saya rada takjub mendapati kumpulan tersebut ternyata baru diisi perempuan. Ini hampir tidak ubahnya forum fiksi FLP Jogja yang biasa saya hadiri. Kendati baru pertama kali saya bersua mereka, saya sok nimbrung saja.
Setelah beberapa lama membicarakan apa saja, hadirlah pria-pria. Saya sudah pernah bertemu salah satunya di Munas. Beliau sudah menikah dan membawa istrinya juga sore itu. Akang-akang satu lagi pasti Kang Wildan sang pembicara.
Sebetulnya saya sangat tertarik membandingkan kultur forum antara FLP Bandung dengan FLP Jogja—meski saya sudah lama tidak menghadiri forum fiksi FLP Jogja. Dari alur kaderisasinya saja, konon FLP Jogja yang paling ketat. Demikian pun dari komposisi anggotanya. Ini jadi salah satu perhatian saya saat menjadi panitia-diperbantukan pada Munas. Setelah lama tidak melihat perempuan berjilbab tapi tidak pakai rok di lingkungan FLP Jogja, akhirnya saya melihatnya lagi di sini. Bahkan ada pula peserta perempuan yang tidak berjilbab.
Jarak antara kubu perempuan dengan kubu laki-laki tidak begitu renggang, mungkin hanya setengah meter atau kurang. Tapi ini karena ruang yang bisa dimanfaatkan memang terbatas. Kami bercampur dengan sekian kelompok lain di koridor tepi masjid ini. Jumlahnya mungkin belasan (atau bahkan puluhan?). Kelompok-kelompok tersebut umumnya berupa kelompok belajar yang terdiri dari seorang pengajar (sepertinya mahasiswa ITB juga) dan beberapa murid SMA—bahkan lebih muda. Kelompok-kelompok belajar ini dilengkapi lembaran papan putih serta meja rendah. Selain itu, suara yang berasal dari mereka juga cukup ramai. Belum lagi kalau ada pengumuman tertentu dari speaker masjid.
Kalau hujan tidak sedang menyambangi, forum ini mungkin memanfaatkan lahan berumput yang membentang di samping masjid. Eh tunggu. Di ITB kan sudah terbit peraturan dilarang menginjak rumput. Mahasiswa ITB yang melanggar bakal diskors 3 sks—entah kalau bukan.  Saya tidak tahu apakah peraturan yang sama berlaku juga untuk rumput di kawasan ini.
Beda dengan keadaan forum FLP Jogja yang memiliki ruang lebih leluasa di Balairung UGM—meski sesekali ada orang menembus kumpulan kami sambil bilang “permisi” atau semacamnya dalam bahasa Jawa. Kalaupun ada orang-orang lainnya berdiam di dekat kami, mereka tidak lebih riuh dari kami. Umumnya mereka kelompok PKM yang sedang merumuskan proposal (contoh saja) atau pengguna wi fi yang anteng dengan laptop masing-masing.
Ada yang unik pula di forum FLP Bandung. Setelah moderator menyampaikan pembukaan dilengkapi tilawah dari salah satu peserta laki-laki, salah seorang peserta perempuan yang saya kenali sebagai Nurul membacakan puisi Lian Kagura tanpa membaca teks sama sekali. Saya juga tidak begitu mengerti jika ada tradisi lainnya, tapi maklumlah, ini pertama kali saya mengikuti forum ini dan bukan anggota wilayah sini pula.
Saya bahkan memerhatikan apa saja yang tercantum dalam daftar hadir yaitu edisi tanggal, materi, pemateri, nama, buku yang sudah dibaca, tulisan yang dihasilkan (genre dan judul), serta nomor HP. Daftar hadirnya dikumpulkan dalam map plastik lo. O Day, kamu sudah bukan koordinator forum fiksi lagi. Ampun deh.
Mengenai sastra kontemporer sendiri, sehari sebelum hari itu saya sudah menanyakannya pada Teh Nanda—alumni Pendidikan Bahasa Indonesia UPI yang juga kakak teman saya. Berhubung ingatan saya pendek, saya hanya ingat kalau Teh Nanda menyebutkan Putu Wijaya sebagai contoh tokoh sastra kontemporer. Pada minggu lalu sebetulnya forum ini sudah membahas tentang sastra kontemporer. Maka pada forum minggu ini, Kang Wildan menyuguhkan pembahasan tentang “Olenka” dari Budi Darma sebagai contoh sastra kontemporer. Contoh lainnya adalah buku Seno Gumira Ajidarma berjudul "Insiden, Jazz, dan Parfum.” Baik dari penjelasan Teh Nanda maupun Kang Wildan yang kurang begitu saya tangkap itu, saya menyimpulkan bahwa sastra kontemporer adalah sastra yang “beda” dalam artian pengarangnya menawarkan sesuatu yang baru dari yang biasanya ada. Bentuk sastra jenis ini bisa jadi absurd, dan menurut saya, bisa pula eksperimental. Sepertinya saya harus mempelajari ini lebih jauh barangkali ada karya saya yang tergolong demikian hehe (#yangmanaya?).
                Dalam forum tersebut, ternyata hanya saya yang sudah menamatkan “Olenka” selain Kang Wildan. Saya bahkan sudah memajang ulasan sederhana tentang novel tersebut dan buku Budi Darma lainnya di blog. Saya juga sudah membaca “Rafilus” dan beberapa cerpen Budi Darma yang terserak di berbagai kumpulan.
                Kang Wildan pun menguraikan jalan cerita dalam “Olenka”, hal-hal menarik yang meliputinya, sekaligus menggali pengalaman saya dengan novel tersebut. Banyak hal unik yang bisa ditemukan di sana seperti tokoh-tokoh yang bicara dalam dialek Jawa Timur, pemuatan foto maupun artikel koran yang mendukung latar cerita, kutipan ayat Quran, maupun esai mengenai proses kreatif yang dialami Budi Darma dalam penggarapan novel tersebut. Jika bagi Kang Wildan hal ini meruntuhkan imajinasi yang sudah terbangun dalam kepalanya, bagi saya hal ini justru melengkapi karya.
Saya justru merasa lebih lekat dengan esai-esai Budi Darma, baik tentang proses kreatif maupun pandangannya mengenai kepengarangan, ketimbang fiksi-fiksinya. Atau mungkin juga karena esainya lebih lugas ketimbang fiksinya sehingga lebih bisa saya mengerti (:p). Ketika saya membaca esai-esai tersebut, saya merasa diberikan penjelasan mengenai kepengarangan saya sendiri. Apa yang dijabarkannya pas dengan apa yang saya alami meski ada juga yang bertentangan. Sebagaimana Budi Darma, saya merasa tokoh-tokoh saya sangat memengaruhi saya. Mereka bisa begitu mengganggu ketika sedang menginginkan perhatian saya.
Mentang-mentang sudah pernah baca “Olenka”, saya ditodong untuk ikut berbagi begitu Kang Wildan menyudahi materinya. Apalah yang bisa saya tambahi, Kang Wildan menyampaikannya lebih lengkap ketimbang ulasan saya sendiri mengenai novel tersebut. Setelahnya yang lain juga mulai menanggapi atau bertanya. Sesi tanya-jawab disusul dengan sesi pengumuman dan sesi perkenalan akan wajah-wajah baru—termasuk saya. Saya pun buka kedok.
Dari segi atmosfer, sebetulnya forum ini relatif sama dengan forum FLP Jogja yang biasa saya hadiri. Penganan untuk dijual juga sama-sama ada. Sepanjang forum, di tengah kami tersaji plastik dan wadah berisi roti dan cokelat, bahkan beberapa gelas Frutang lengkap dengan kardusnya.
Ketika hari mulai gelap, jumlah orang yang melingkar sudah mencapai 20 jiwa dengan komposisi 7 pria dan 13 wanita—kalau saya tidak salah hitung. Kalau di FLP Jogja forum biasa disudahi jam 17.30, di FLP Bandung forum diakhiri saat azan maghrib berkumandang—hal mana bikin saya terkejut karena maghrib di Bandung bisa sampai jam setengah tujuh petang. Itupun saya tidak bisa memastikan apakah forum sudah resmi ditutup apa belum karena prosesi doa tutup majelis dan salam belum diungkit moderator. Sebagian peserta sudah asyik mengobrol satu sama lain, bahkan ada yang pamit. Kang Wildan pun sempat menanyakan Desi alias Desi Puspitasari a.k.a. Mbak Desi pada saya. Dulu Mbak Desi juga pernah aktif di FLP Jogja. Ketika saya mengkonfirmasi soal resminya pembubaran forum pada moderator—kebetulan dia duduk di sebelah saya—ternyata dia lupa. Oke deh. 
Menurut moderator yang mengaku sebagai anggota baru, FLP Bandung akan mengadakan suatu acara pada April mendatang. Ketika forum sungguhan bubar bersamaan dengan kumandang azan pada sekitar jam enam seperempat (dalam artian tidak melalui prosesi resmi melainkan dengan sendirinya), kiranya sebagian peserta sekaligus panitia acara tersebut berkumpul untuk mengurus persiapan. Saya pun menyalami beberapa peserta perempuan yang tersisa di sekitar saya. Saya cukup senang. Saya merasa diterima di sini—o moga-moga sungguh demikian! Boleh ya kalau saya ingin mampir lagi kapan-kapan… Terima kasih FLP Bandung. :D
Apa yang Kang Wildan sampaikan di forum kurang lebih sama dengan apa yang ia tuliskan dalam esai sepanjang 10 halaman berjudul “Kebebasan dan Keterbatasan Manusia: obrolan singkat tentang Olenka” yang dibagikan pada peserta saat permulaan Kang Wildan bicara (difotokopinya bolak-balik lo). Melalui esai yang baru saya baca malamnya ini, saya bisa menangkap maksud Kang Wildan dengan lebih jelas. Gaya bahasanya yang seakan bercerita membuat esai ini nikmat dibaca. Seolah Budi Darma melalui Kang Wildan sekali lagi memberitahu saya mengenai esensi dari suatu karya yang bagi saya amat patut dijadikan pelajaran. Bukan sekadar “memanusiakan” tokoh, melainkan pemikiran apa yang melandasi tokoh tersebut dalam berbuat. Apa yang dialami para tokoh dalam “Olenka” merupakan manifestasi filsafat eksistensialisme ala Sartre. Dan ini bikin saya tersentil secara pribadi. 
Sekadar intermeso, saya mencari suatu novel di Palasari dulu sebelum lanjut ke Salman ITB. Alih-alih novel tersebut ketemu, saya malah menjumpai “Manifesto Khalifatullah”-nya Achdiat K. Mihardja. Setelah terkesan dengan “Atheis”, tidak begitu puas dengan “Debu Cinta Bertebaran”, akhirnya saya berjodoh juga dengan buku yang membangkitkan rasa penasaran saya sejak pertama kali mengetahui keberadaannya. Saya pun membelinya. Di angkot, saya membaca beberapa halaman pertama yang memberitahu saya bahwa menjelang ajalnya Sartre akhirnya mengakui keberadaan Tuhan. Ternyata Sartre adalah pengusung eksistensialisme sebagaimana yang menjadi dasar pemikiran dalam “Olenka”. Saya punya buku tentang filsafat eksistensialisme di rumah tapi itu tentang Kierkegaard—gaya bahasanya membuat saya tidak lanjut membacanya. Selain itu, beberapa hari lalu mama saya menyerahkan esai Budi Darma yang berjudul “Olenka dan Rafilus” pada saya. Mama mengira saya mencari tentang itu padahal saya tidak merasa. Esai kali ini masih sama menyentuhnya sebagaimana esai-esai Budi Darma lain yang saya pernah baca. Dan di forum FLP Bandung ini lagi-lagi saya dipertemukan dengan Budi Darma dan “Olenka”-nya. Penggalan-penggalan ini serasa berhubungan dan hendak memahamkan sesuatu pada saya.
Akhir-akhir ini memang saya lagi sangat galau sama kepengarangan dan kepenulisan saya. Biasanya saya galau saja, tidak pakai “sangat”, dan bagi saya mengarang dan menulis adalah dua hal yang berbeda meski saling mengisi. Mengarang adalah sesuatu yang tidak terhindarkan sedang menulis adalah kebiasaan sekaligus sarana untuk mewujudkan sesuatu yang tidak terhindarkan itu.  
Kegalauan saya antara lain disebabkan oleh tokoh-tokoh di dalam kepala saya yang lagi “menghilang” dan bahwa saya belum cukup merasa berarti dari aktivitas yang sudah saya tekuni selama belasan tahun ini. Beberapa media, baik yang berinsentif maupun yang tidak, memang sudah memuat beragam karya saya. Beberapa karya saya juga sudah diapresiasi oleh teman-teman dekat.  Tapi ada saja hal-hal yang bikin tidak puas. Tapi itu wajar. Itu hanya semacam sinyal yang menunjukkan bahwa saya perlu memperbaiki yang ada—kalau bukan karena saya belum beruntung.
Saya sudah terlanjur mencetak jejak cukup panjang di sini, meski masih lebih jauh lagi jarak yang belum saya tempuh. FLP sekadar penggalan dari proses menyenangkan sekaligus menjemukan yang barangkali akan berlangsung sepanjang hidup saya.
Saya pernah bilang pada orang-orang kalau saya ingin jadi pengarang, orang-orang pun menganggap saya penulis, tapi ternyata itu salah. Ternyata saya hanya ingin mengarang dan menulis. Dan saya tersiksa ketika sudah eneg melahap teks, yang belum tentu dapat dikunyah itu, tapi tidak bisa melepehkannya kembali.
Kalau saja Allah tidak mengilhamkan letupan-letupan yang berpotensi menjadi cerita ke dalam kepala saya; kalau saja beragam hasrat terpendam saya tidak terefleksikan menjadi tokoh-tokoh yang begitu mempengaruhi emosi saya; kalau saja orangtua saya tidak sudi membelikan saya ratusan buku dan sepupu saya tidak menghadiahi saya buku harian; kalau saja saya tidak tahu kalau tetangga dan teman sekelas saya menulis cerita; saya mungkin tidak sedang menapaki jalan ini. Saya hanya mengikuti sesuatu yang dimudahkan Allah buat saya—yang ternyata tidak selalu mudah juga. Saya sudah mencapai tingkat lanjut rupanya. Pelajaran di tingkat ini jelas lebih rumit dari pelajaran di tingkat sebelumnya. 
Maka sebagaimana Sartre menemukan Tuhan pada akhir hayatnya, serta beberapa ayat Quran yang dikutip Fanton Drummond dalam “Olenka”, eksistensialisme adalah perkara bertanya pada Yang Maha Menciptakan: Tuhan, Kau maunya aku ngapain sih di dunia ini?

1 komentar: