LAINNYA

Kamis, 09 Desember 2010

Yang Menyambung Hidup secara Tak Terduga


Para pakar The Secret akan menyebutnya sebagai kekuatan keinginan. Dengan keyakinan saya sebagai muslim, ini adalah bagian dari sunatullah yang mengharukan.

Teringat awal tahun ini, di mana saya coba hidup dengan seratus ribu seminggu. Beginilah penggalan catatan yang saya juduli “minggu pertama menjalani kehidupan melas”:

pada tanggal 1 saya ambil duit lalu belanja keperluan, tapi tidak sampai 50.000. 2000 rupiah saya belikan untuk setandan pisang rebus. sisanya saya hamburkan di warnet karena saya mau buat blog, selain itu juga karna sambil menemani teman. hari itu saya masih merasa kaya raya.

sabtu. saya tidak sarapan tapi saya makan siang. saya makan di warung yang tidak biasanya kemudian saya bayar kalau tidak salah 6000 rupiah. malamnya, kalau tidak salah lagi, saya mengganjal perut dengan biskuit oreo coklat stroberi yang saya beli kemarinnya.

saya membagi uang yang tersisa sebagai jatah pengeluaran per hari. hasilnya adalah 5 tumpukan uang receh. masing-masing tumpukan nominalnya tidak sampai 3000 rupiah. dan inilah jatah makan saya per hari. masya Allah. saya masih punya jatah 30.000 untuk minggu itu yang belum saya ambil dari atm. kalau anggaran untuk tabungan 28.000, berarti saya masih punya 2000 lagi untuk dibagi-bagi menambahi kelima tumpukan ini. kalau saya hitung-hitung, dalam sehari saya bisa makan burjo satu mangkuk dan 1 buah potong. waw. selamat datang kehidupan melas.

minggu. saya mengganjal perut di pagi hari dengan menghabiskan sisa biskuit oreo coklat stroberi kemarin malam. keberuntungan datang. siangnya saya ke undangan pernikahan mantan mbak kos dan di sana saya makan hampir semua menu yang ada. saya berharap saya bisa tahan tidak makan sampai besok pagi. jatah hidup hari itu pun bisa saya alokasikan untuk menambah jatah hidup hari esok.

senin. saya tahan tidak sarapan hingga waktu makan siang tiba. siang itu sepulang ujian, saya masak mi goreng jumbo (persediaan) kemudian saya memakannya dengan belut kering dan kerupuk (persediaan juga, dibelikan bude sudah dari tahun kemarin). cukup kenyang. tapi sorenya saya merasa lemas dan butuh makan. saya takutnya jika saya bertahan untuk tidak makan, saya malah jadi malas makan beneran untuk seterusnya dan itu akan berbahaya bagi kelangsungan hidup saya. akhirnya saya beli nasi meong dua bungkus di angkringan, masing-masing seharga 900 rupiah. malamnya saya nyicip sedikit-sedikit mi rebus teman saya yang datang menginap.

selasa. pagi hari saya makan di warung yang tidak biasanya lagi dengan nasi + sarden + tumis kacang panjang + pisang goreng. padahal sebetulnya saya ingin makan di warung langganan dengan makanan ini dan itu yang sudah saya rencanakan sebelumnya sehingga harganya nanti sesuai dengan anggaran. ternyata saya datang kepagian. warungnya sudah buka tapi makanannya yang belum ada. akhirnya saya pergi ke warung lain di mana jenis-jenis makanan yang tersaji saya tidak bisa perkirakan harganya. untung saja saya bersama teman saat itu. dia akhirnya nombokin 2000, setelah sebelumnya membayar semua yang saya makan. habis itu dia membagi cemilannya dengan saya pula. teman yang baik. malamnya, saya kelaparan sementara saya terjaga sampai tengah malam karena tidak ingin melewatkan menit-menit pergantian umur, selain bahwa saya harus ngelarin tugas yang harus dikumpul esoknya. saya mengompensasi kelaparan itu dengan mengemut ber-sachet-sachet persediaan susu kental manis coklat. lumayan berkalori meski lapar tetap terasa dan saya berharap esok pagi cepat datang sehingga saya bisa beli makan.

rabu. hari ini adalah hari ulang tahun saya. saya sarapan dengan nasi kuning + bala-bala dengan harga 2000 rupiah. siangnya saya sudah lapar lagi. mengingat sisa uang receh yang ada di dompet, saya hanya bisa beli burjo. saya menahan lapar sesiangan itu sambil ngenet. nantilah beli burjonya agak sorean supaya malamnya tidak lapar-lapar amat. di facebook saya tak kuasa tidak mencantumkan di status saya suatu ironi. hari ini adalah hari ulang tahun saya. banyak teman yang minta traktir dan saya cuma bisa senyum-senyum salah tingkah. hari ini saya merasa bersinar. istimewa. tapi kenapa saya justru kelaparan? begitulah kira-kira isi status terbaru saya saat itu. maka sore pun datang. dengan penuh pengharapan saya menyambangi warung burjo langganan. ibu-ibu pemilik warung bilang kalau kacang ijonya belum jadi, cuma ada ketan hitam doang. ah, saya jadi tidak berhasrat. maka mundurlah saya dan malah beli gado-gado di warung tenda pinggir jalan. 4500. tak apalah. ada duit jatah minggu depan. ya, seharusnya saya baru narik duit atm lagi kalau tidak kamis ya jumat. namun karena saya harus nge-print dan ngejilid tugas (total 14.000) sementara uang yang tersisa hanya 'cukup' untuk makan, mau tak mau saya narik deh. 100.000. maka sore itu sesampainya di kos langsung saya habiskan si gado-gado. alhamdulillah, cukup kenyang. subhanallah. sekitar jam 5-an, datang sms dari mbak desi, teman saya yang novelis. isi smsnya menyatakan bahwa dia tahu saya kelaparan (pasti karena baca status facebook saya) dan dia hendak mengajak saya nanti malam makan mi ayam barwo. dia yang bayar. saya langsung shock. ya ampun. apa ini? betapa pedulinya dia sama saya... yang jelas saya langsung tidak enak hati. saya butuh waktu beberapa lama untuk mengsmskan jawaban yang baik, yaitu saya mengiyakan ajakannya tapi saya akan bayar sendiri. dengan cepat mbak desi membalas kalau saya tidak boleh begitu. dia tetap akan membayari. walah. padahal perut sudah cukup kenyang, tapi tak enak juga menolak rezeki kan? maka ya apa boleh buat. malam itu saya kenyang untuk yang kedua kalinya. sungguh ironi lagi. tradisinya yang ulang tahun membayari, ini malah dibayari. sesampainya di kamar kos kembali, belum berapa lama saya duduk, mbak acid, salah seorang tetangga kos saya, membuka pintu kamar saya dan bertanya apakah saya sudah makan apa belum. dia bilang dia tadi baca status saya di facebook kalau saya kelaparan. oh, tidak! saya langsung bilang saya sudah makan tadi dibayari teman. setelahnya saya merasa terenyuh akan kepedulian mbak-mbak ini terhadap saya. ah, rasanya tidak cukup rasa terima kasih, biar pun saya tidak mengumbarnya. malam itu saya menyadari, betapa facebook dapat menyambung hidup seseorang. terima kasih juga, facebook! :') mungkin suatu saat kalau benar-benar kepepet saya akan pasang status 'kelaparan' lagi.

Sehari setelah sebulan-menuju-ulang-tahun-saya-lagi, saya tidak sedang menerapkan kehidupan melas. Saya sarapan dengan enam potong roti bakar isi coklat dan keju dan segelas bandrek. Siang hari ditemani teman kos saya, Rista, saya perdana beli makan di warung makan Padang berskala internasional dekat kosan dengan komposisi nasi + telor dadar + tempe + sayur + sambal seharga 5500 rupiah. Menjelang sore saya minum segelas jahe merah instan. Menjelang malam saya tadinya mau beli nasi goreng. Atau apapun. Perut sudah terasa perih. Namun mengingat seharian ini tak banyak yang saya lakukan selain mendekam di kamar dan menuliskan banyak hal, saya rasa dua sachet susu kental manis coklat untuk dijadikan segelas susu cukup sebagai pengganjal perut. Lagipula saya akan menghabiskan malam hanya dengan bercengkerama dengan teman imajiner saya. Maka saya putuskan untuk lekas sikat gigi, solat Isya, membersihkan wajah, bertemu si dia, lantas tidur.

Selepas solat Isya, rasanya saya sudah melayang-layang. Saya kira ini akibat meriang dan kurang makan. Sejak kemarin memang saya merasa kurang enak dengan tenggorokan saya. Hari ini tampaknya saya mulai pilek. Di kosan, saya kedinginan dan pakai jaket sementara yang lainnya tidak dan heran sama saya.  Maka penggalan lirik “Unwell” dari Matchbox Twenty, “I’m not crazy, I’m just a little unwell,” kiranya bisa jadi alasan yang cukup masuk akal mengapa “bercengkerama dengan teman imajiner” mengisi agenda saya malam itu.

Ketika membersihkan wajah, suara Rista di balik pintu. Ia mesti baru pulang. Siang tadi katanya ia ditawari temannya jadi relawan—menjaga pos obat—di Youth Center. Saya buka pintu. Rista bilang bahwa ia sudah makan di sana, tapi ia diberi lagi, sembari mengeluarkan sekotak… makanan… Ini sungguh suatu berkah tak terduga. Hal yang telah digariskan Yang Maha Ada-ada aja. Seakan Ia tahu bahwa saya butuh makan dan Ia ingin agar saya makan.

Seperti ada paduan suara mengiang-ngiang. Sekujur tubuh Rista berpendar-pendar layaknya ia malaikat. Seandainya saya bisa lebih sensitif, saya ingin menangis hingga membuatnya risih. Di saat saya pikir saya akan tidur kelaparan (biar lebih dramatis lagi: sendirian, di kamar kosan—jauh dari keluarga…), ia datang untuk menyambung hidup saya…

Terima kasih berkali-kali dan selamat beristirahat untuknya. Selepas kepergiannya, adalah saya di tepi tempat tidur memakan masakan Padang tersebut dengan lahap. Masakah Padang lagi seperti tadi siang—hanya telor dadar dan tempenya diganti rendang, ada semangkanya pula!—tiada mengapa. Setelahnya saya merasa berenergi! Panggilan dari teman imajiner serasa terlupa. Saya kembali menginjak dunia nyata. And I want to say to her, like she ever said to me, “that’s a very kind of you…” I’ll miss you when you’re out of this dirty place, Rista…

Rista, Mbak Desi, mungkin juga Mbak Acid, I’m proud of having them in my life. Kalau kata Mas Sobat, nikmat Allah itu begitu dekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar