Rabu, 01 April 2026

Tersesat di Jalan yang Benar: Seribu Hari Mengelola Leuser 2005 - 2007

Gambar dari Grobmart.
Penulis : Wiratno dan para sahabat
Penerbit : Gadjah Mada University Press
ISBN : 978-602-386-380-3
Cetakan pertama 2013 oleh UNESCO Jakarta Office 
Cetakan kedua oleh Dir. Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial
Cetakan ketiga oleh KFW
Didigitalisasi Agustus 2023

Taman Nasional Gunung Leuser (selanjutnya TNGL) termasuk kawasan konservasi yang dirambah untuk kepentingan pembangunan. Biasanya pemerintah yang disalahkan atas persoalan efektivitas pengelolaan lahan, sekalipun ada juga faktor-faktor eksternal seperti meluasnya perkebunan ilegal, kebijakan pemerintah setempat yang tidak kondusif, dan sebagainya. Maka buku ini, yang ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi Kepala Balai TNGL selama hampir 1000 hari (2 tahun 8 bulan, 2005 - 2007), merupakan upaya autokritik.

Pembaca sekaligus diingatkan bahwa ada berbagai pihak dalam dunia konservasi. Mitosnya, satu pihak mewakili satu peran saja, misal pemerintah pasti salah, LSM pasti idealis, masyarakat pasti tidak tahu apa-apa, padahal kenyataannya kompleks. Tiap pihak itu merupakan sekelompok individu yang beragam kepentingannya, tidak bisa disamaratakan dan jangan menggeneralisasikan. Pihak pemerintah yang sering menjadi kambing hitam juga terdiri dari beragam individu, memang ada yang pragmatis tapi ada juga yang sungguh mengusahakan perbaikan. Negara-negara maju pun tidak selalu terpuji, banyak media hanya mencari sensasi dan menerapkan prinsip bad news is good news. Satu cara untuk mengatasi masalah intelektual cara berpikir generik ini adalah melihat secara mendetail dan berhati-hati, menghilangkan asumsi-asumsi, tidak bersikap apriori (= berpraanggapan sebelum mengetahui, melihat, menyelidiki, dan sebagainya keadaan yang sebenarnya), dan menyerahkan kepada ahli.
Bagaimana kita harus mencari strategi untuk menyeimbangkan usaha penyelamatan lingkungan untuk kepentingan jangka panjang dan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendesak ekonomi jangka pendek? (halaman xxxviii)

Sepintas, antara membaca-menulis-merenung dan kerja konservasi seperti dua aktivitas yang bertolak belakang. Membaca-menulis-merenung cenderung merupakan aktivitas soliter dalam ruang, walaupun bisa saja dilakukan bersama-sama di luar ruangan, misalnya berupa kegiatan silent reading atau menulis bareng dan berdiskusi (urun pikiran) di tempat terbuka. Sedangkan kerja konservasi identik dengan bergerak di lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, meskipun bisa juga duduk diam seorang diri mengamati satwa. Jadi pekerja konservasi yang juga senang membaca-menulis-merenung seperti memiliki keseimbangan antara aktivitas fisik, sosial, dan soliter. 

Pak Wiratno adalah contoh rimbawan yang menyeimbangkan antara konservasi dan literasi. Begini siklus kerjanya: berdiskusi bersama staf - pergi bersama ke hutan - melihat perbatasan kawasan - berkunjung ke desa-desa - mendapat perspektif berbeda dan informasi berharga dari LSM - berkoordinasi dengan pemerintah setempat - kembali bekerja di kantor - mencatat dan menuliskan pengalaman lapangan - membaca literatur, jurnal-jurnal, peraturan perundangan-undangan - menganalisis pengalaman tertulis bersama staf. 

Beliau mengimbau rekan-rekannya di dunia konservasi untuk banyak menulis juga dan menghimpun tulisan mereka dalam buku-buku yang salah satunya adalah buku Tersesat di Jalan yang Benar ini, dan banyak lagi yang bisa diakses di situs web beliau: https://iw-center.com/. Menurutnya, menulis itu mengasah modal intelektual (ingatan, buku yang pernah dibaca, intuisi, kemampuan analitik) yang dimiliki. Menulis berarti menganalisis, yang adalah usaha investasi pengayaan intelektual sumber daya manusia. Salah satu cara yang paling mudah untuk menumbuhkan karakter pembelajar adalah menuliskan kembali apa yang ditemukan dalam praktik pengelolaan konservasi sehari-hari (halaman 5).

Kontributor dalam buku ini berasal dari beragam latar belakang yang masih ada hubungannya dengan pengelolaan di kawasan Leuser. Mereka bukan hanya pegawai pemerintahan, melainkan ada juga yang aktivis wisata, jurnalis, polisi, wakil LSM, dan lain-lain, sehingga ada banyak perspektif, banyak cerita mengenai permasalahan-permasalahan di seputar kawasan. Ada cerita tentang rehabilitasi orangutan semi-liar, ada sejarah pembangunan kawasan wisata Bukit Lawang, ada gambaran kehidupan warga Tangkahan yang ekonominya bergantung pada perkebunan sawit dan karet serta pariwisata, dan lain-lain. Ada yang seru, dan ada yang haru. Ragam cerita ini menunjukkan kompleksnya permasalahan di lapangan.

Sebagai warga kota, pandangan saya masih sama. Hasil dari pengusahaan hutan di antaranya untuk didistribusikan ke kota-kota dan dikonsumsi oleh kita-kita, sehingga kita-kita yang di kota-kota secara tidak langsung turut memiskinkan orang lain yang hidup di sekitar hutan sekaligus membesarkan potensi bencana alam sebagai konsekuensi dari pembabatan hutan itu. Walau tanggung jawab sebetulnya lebih berat pada pengusaha-penguasa yang memungkinkan itu terjadi, saya kira konsumen sesungguhnya juga memiliki kekuatan untuk melawan, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu, mengonsumsi secukupnya (hidup sesederhana mungkin), serta mengembangkan sumber-sumber ekonomi alternatif untuk mengurangi kebergantungan pada berbagai hasil dari alih guna hutan. 

Gambar dari Facebook "Rosben untuk Kesehatan Rohani".

Buku ini sempat mengungkit nasib pejuang konservasi yang "sendirian, tanpa imbalan, bertahun-tahun, letih, dan sering kali dicemooh dan diabaikan" (halaman 225). Sementara itu, generasi baru yang militan, idealis, dan bersedia bekerja di bidang konservasi makin langka, kualitas staf yang ada pun lemah dan banyak yang enggan ke lapangan. Berbarengan dengan selesainya saya membaca buku ini, Mongabay mengeluarkan artikel tentang kesehatan mental pekerja konservasi, "Pekerja Konservasi: Profesi yang Dibangun di Atas Harapan, Tertekan oleh Kehilangan". Mereka tak ubahnya pekerja lain di mana pun dengan beban kerja yang melampaui kemampuan, bayaran tak seberapa, tak sempat merawat diri, sembari tak berdaya menyaksikan alam yang mereka perjuangkan malah bertambah rusak. Eco-grief is real. Tapi, sekalipun besok jadwalnya kiamat, kita tetap harus menanam. 

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain