Senin, 18 April 2011

Ceramah Eyang


Judul : Harmonium
Penulis : Budi Darma
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995

Saya melihat rumah Eyang. Sudah kusam, lecek, namun sangat menggoda untuk didekati. Saya sudah pernah memasuki rumah Eyang yang lain. Di sana Eyang menyuguhkan saya cerita yang membuat saya ingin terbahak-bahak. Ingin juga saya mengetahui cerita Eyang lainnya. Apakah dalam rumah ini saya akan menemukannya? Sembari terhanyut akan ikan-ikan ungu-hitam dalam akuarium, eh, saya malah diceramahi.

Budi Darma memang bukan eyang saya, tapi secara umur beliau adalah seorang eyang-eyang bagi saya meski para eyang saya sendiri umurnya lebih tua. Bagaimanapun seorang eyang berbicara, entah kita setuju atau tidak, kita harus memerhatikannya. Ini adalah suatu sikap patuh yang entah bagaimana muncul dengan sendirinya. Namun tentu saja sebagai intelektual muda (aih…), kita harus bisa mengolahnya lagi dan menyesuaikannya dengan keadaan kita—bagaimanapun kitalah kini yang menyandang peran melawan arus jaman.

Daripada saya makin menceracaukan hal-hal normatif, lebih baik saya langsung saja membagi hasil pertemuan saya dengan Eyang. Sebetulnya banyak yang Eyang bicarakan. Kritikus sastra, Nugroho Notosusanto, melodramatiknya sastra Indonesia, kebudayaan, puisi, dan lain-lain yang saya sudah lupa. Hanya tiga hal penting ini yang saya rangkum: pengarang, proses kreatif, dan karyanya.


Pengarang

Dalam pengantarnya, Eyang membuat saya ngeh kalau kunci menulis itu mungkin hanya berpikir dan mempertanyakan—karena Eyang sendiri begitu. Kata Eyang, itulah hakikat obsesi. Karena telah terobsesi, maka seseorang akan terus melakukan dialog dengan dirinya sendiri untuk terus mencari jawaban. Namun jawaban demi jawaban hanyalah terminal, bukan final. Karena itu, eseis, pengarang, dan penyair selalu mempunyai tema yang lebih-kurang sama (hal. x).

“Dalam proses kreativitas, tema mengalami metamorphose. Latar-belakang kehidupan pengarang, antara lain bakatnya, suasana lingkungannya, bacaannya, dan lain-lain sangat berpengaruh terhadap metamorphose tema. Bahkan suasana sesaat juga dapat mempengaruhi kreativitas. …

Meskipun banyak hal dapat mempengaruhi metamorphose tema, tema itu sendiri pasti ada. Entah sadar atau tidak, setiap pengarang dihantui oleh tema tersebut. …. Kafka selalu dihantui oleh keterasingan manusia, karena itu karya-karyanya juga mengenai kesendirian.” (hal. 47)

“Tema pokok seorang pengarang, yang selalu diulang-ulanginya karena obsesinya pada dasarnya juga sama, juga merupakan ciri orisinalitas pengarang tersebut. Seorang pengarang yang tidak mempunyai tema pokok pada umumnya juga kurang mempunyai kepribadian. …. Perkembangan seorang pengarang adalah perkembangan gaya dan ekspresinya.” (hal. 50)

Sastra yang baik tidak selalu berarti sastra yang membawakan suara jamannya. Jika selalu demikian, maka sastra yang baik ini adalah sastra yang latah dan tidak mempunyai kepribadian. Di halaman 37-38, “Seseorang yang berkepribadian tidak akan terjerat oleh mode dan kemudian menjadi latah, akan tetapi dapat melihat mode itu dari segi pandangannya sendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain. …. Seseorang yang berkepribadian dapat melepaskan diri dari dominasi mode yang dijadikan model oleh kebanyakan orang. Karena itu dia mengalami konflik.”

Jadi, sebagaimana yang sudah Jakob Sumardjo ungkapkan dalam “Dari Kasanah Dunia”, seorang pengarang patut kiranya memiliki kepribadian yang matang. Tapi rupanya Eyang menambahkan kriteria lain.

“Seniman yang baik pada hakikatnya adalah intelektual yang baik. Mereka selalu mencari, belajar, dan berkembang. Daya serap mereka tinggi, demikian pula daya seleksi dan daya susun mereka. Mereka selalu dalam keadaan menyerap. Begitu terlibat dalam proses kreatif, mereka menyeleksi apa yang telah mereka serap ke dalam komposisi yang hebat. Sebaliknya, seorang intelektual yang tidak mempunyai kemampuan komposisi bukanlah pengarang. Begitu persepsi dan seleksi yang ringgi memadu dalam komposisi yang hebat jadilah karya seni yang baik.” (hal. 60)


Proses kreatif

Kata Eyang di halaman 36, “Panorama sastra Indonesia rata-rata sampai saat ini adalah panorama dekade pengarang yang tidak mengalami konflik yang keras dengan masyarakat dan jamannya. Para pengarang ingin membangkitkan semangat sosial melalui karya-karya mereka, dengan jalan mengikuti apa yang dikehendaki oleh masyarakat. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak dapat mengharapkan adanya penokohan atau perwatakan yang baik dalam karya sastra. Penokohan atau perwatakan hanya dapat terjadi, apabila pengarangnya sendiri merasakan adanya konflik antara dirinya dengan lingkungannya. Apabila pengarang hanya mengikut, karena konfliknya terlalu lemah atau kurang hakiki, maka karya sastra tersebut bukanlah mengenai manusia, akan tetapi mengenai masyarakat sendiri.”

Perlu diingat sebelumnya, bahwa buku ini adalah terbitan tahun 1995. Satu setengah dekade setelah itu kiranya panorama sastra Indonesia telah mengalami perbaikan, he?

“Sekali lagi, tanpa mempunyai pandangan yang berbeda, seseorang tidak mengalami konflik yang hebat dengan dunia luar. Dan tanpa mengalami konflik seseorang sulit terlibat dalam proses kreatif.” (hal. 39) Eyang menyinggung Nh. Dini dengan “Namaku Hiroko”-nya di halaman 41. “Karena Nh. Dini sendiri tidak merasakan adanya konflik dalam menghadapi kehidupan macam Hiroko, Hiroko tidak mungkin mengalami konflik yang berarti.”

Eyang mencontohkan plot beberapa novel hiburan Barat di mana cara pengarangnya menggali persoalan mengagumkan. Pengarang mengungkapkan persoalan yang sangat sederhana, kemudian mengebor persoalan ini di seluruh halaman novel tebal. Apakah ada pengarang Indonesia yang sanggup menjabarkan peristiwa kecil ke dalam novel yang tidak tipis, itu adalah pertanyaan Eyang. “Orang pada umumnya lebih banyak tersandar pada apa yang akan terjadi dibanding dengan menciptakan kejadian.” (hal. 3)

Lalu Eyang juga mengungkap betapa isi novel-novel Indonesia banyak mengumbar hal-hal yang melodramatis. Satu yang saya cermati adalah perkara wishful thinking. Seperti yang pernah saya catat dari otobiografinya A. A. Navis dan saya lontarkan lagi dengan redaksi saya sendiri, hidup orang Indonesia itu sudah pedih. Maka mereka tidak suka disuguhi karya-karya yang mengingatkan kepedihan hidup mereka itu. Jadilah yang banyak tersaji adalah cerita-cerita yang dapat memenuhi khayalan mereka. Tidak pernah hidup mewah. Ingin tahu rasanya hidup mewah. Tontonlah sinetron. Tidak pernah punya pacar. Ingin tahu rasanya punya pacar. Bacalah teenlit pasaran.

Eyang mengemukakan tiga hal yang mungkin jadi pendorong pengarang untuk mendramatisir tokoh-tokohnya sampai ke luar batas. Tapi yang saya catat, sebab itu paling menarik bagi saya, adalah ini:

“2. Mungkin untuk menutupi kekosongan otak dan jiwa para tokohnya. Para tokoh ini adalah tipe orang yang banyak tertawa dan tersenyum dalam sebuah debat atau dalam desakan untuk mengambil keputusan, karena sebetulnya otak mereka kosong. Dan meskipun mobilitas mereka tinggi, jiwa mereka berlubang. Yang berpikir, berusaha merasakan persoalan, dan merasa gelisah bukanlah mereka sendiri, melainkan pengarang.” (hal. 93)

Nah, di sinilah proses kreatif memegang peranan penting. Seperti yang sudah pernah saya baca juga, tapi lupa di mana, kadang seseorang memiliki semangat meledak-ledak untuk segera menulis tanpa melakukan eksplorasi lebih luas dan mendalam akan apa yang hendak ditulisnya. Itulah mengapa Islam mengajarkan kita untuk sabar.

“…penghayatan adalah satu-satunya modal utama para pengarang yang dikagumi... Penghayatan tersebut tidak akan mencapai apabila pengarangnya tidak mempunyai kepekaan hebat, sikap hidup yang bukan sembarangan, dan keterampilan menulis yang tiada taranya,” begitu kata Eyang di halaman 16.

Kalau bagi saya sendiri, penulisan novel (terutama) membutuhkan pengendapan ide dan perencanaan yang relatif detail. Saya bisa saja sudah produktif berkarya pada usia yang lebih muda, namun pada saat itu saya sadar bahwa saya belum punya kapasitas untuk mewujudkan kualitas yang saya inginkan. Namun rupanya sikap saya ini kena sentilan Eyang juga.

“Pengarang boleh saja menentukan apa yang akan digarapnya, akan tetapi dalam proses penggarapannya sendiri, pengarang akhirnya akan sadar, bahwa yang ditulis ternyata bukan seperti yang direncanakannya semula. Dalam proses penulisan itulah imajinasi pengarang berkembang untuk mencari bentuk.” (hal. 44)

“Kecuali menciptakan dunia tersendiri yang tidak sama dengan dunia sehari-hari, kreativitas adalah penemuan sambil berjalan. Pengarang boleh merencanakan apa yang akan ditulis, membuat kerangka cerita, menyiapkan resep mengenai apa yang harus diucapkan oleh para tokohnya, dan lain-lain. Apabila pengarang hanya sekedar tukang, dan dengan demikian tidak terlibat dalam proses kreatif, maka dia dapat mengembangkan apa yang akan ditulisnya sesuai dengan rencananya. Tetapi pengarang yang benar-benar pengarang akan tertipu oleh rencananya sendiri. Rencana hanyalah mekanisme kerja, bukannya penemuan. Sementara itu, kreativitas adalah obsesi yang berkelejetan. Apa yang akan terjadi pada obsesi ini, pengarang sendiri tidak dapat meramalkannya.” (hal. 57)

Setelah ingat pengalaman saya sendiri dalam menulis novel, benar juga sih kata Eyang. Proses pra penulisan adalah sesuatu yang tak bisa saya elakkan, tapi saat penulisan, bisa lain lagi ceritanya.

Lebih lengkap lagi, ini potongan cerita Eyang di halaman 13, “…andaikata dia mempunyai bakat, tidak mungkin dia menulis novel dengan rancangan-rancangan demikian. Dari bacaan-bacaan yang bagus dia menyimpulkan, bahwa pengarang yang baik pasti akrab dengan objeknya dan cara menggarap objek tersebut. Bahkan, objek dengan pendekatannya sudah menjadi satu dengan nafas, persepsi, dan aspirasi pengarang sendiri. Dengan demikian, pengarang lebih banyak digerakkan oleh nalurinya dibanding dengan otaknya. Rambu-rambu penulisan tercipta dengan sendirinya pada waktu dia menulis, bukan sebelum dia menulis. Perwatakan juga akan datang dengan sendirinya tanpa dijadwalkan. Tapi Nirdawat bukan seorang pengarang, dan karena itu tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya dapat mencurigai, jangan-jangan Martinus tidak pernah merasa dikejar-kejar oleh suatu persoalan. Tapi biarlah, asal novel Martinus nanti tidak dangkal.”

Tapi Eyang, bagaimana dengan kutipan dari sang jenius penemu bohlam bahwa kesuksesan adalah 99% kerja keras dan 1% bakat? Perkataan Eyang seolah-olah pengarang itu adalah seseorang yang pasti mempunyai bakat. Mungkin benar pula demikian, namun kiranya bakat tidak akan berguna jika tidak diasah dengan kerja keras secara kontinyu.


Karya

Menurut Eyang di halaman 3, “…karya sastra yang baik itu bagaikan intan, berwajah banyak dan bertebing banyak, dan masing-masing wajah serta tebing itu membiaskan sekian ragam cahaya.” Dan kritikus yang baik mampu melihat bilik-bilik rahasia di balik kata-kata dalam karya sastra tersebut.

“Karya sastra yang baik dapat mengatakan sesuatu tanpa mengatakannya. Dalam karya sastra yang baik, tema, penokohan, alur, gaya bahasa, dan lain-lain berbaur menjadi kebulatan.” (hal. 62)

“Dalam karya sastra realistis, pada umumnya imajinasi yang baik tidak jauh dari kenyataan sehari-hari. …. Dalam karya sastra realistis kadang-kadang seolah tidak ada apa-apanya…. Akan tetapi dari yang nampaknya tidak ada apa-apanya ini ternyata ada sesuatu yang menyentuh pembaca, yaitu suasana subtil yang memancing kontemplasi pembaca. Rangsangan kontemplasi yang ditimbulkan oleh imajinasi inilah yang dipergunakan sebagai ukuran dalam logika sastra."

Sedangkan menurutnya tentang karya sastra yang buruk, “Rendahnya mutu cerita-cerita detektif, spionase, koboi, dan sebagainya menurut logika sastra terletak pada usaha para penulisnya untuk menggambarkan keadaan yang luar biasa, akan tetapi sebetulnya tidak ada apa-apanya kecuali sensasi. Tulisan-tulisan semacam itu tidak mengundang pembacanya untuk berkontemplasi, melainkan untuk terangsang jasmaninya.” (hal. 43-44)

“…menurut Freud, karya sastra pengarang semacam ini rata-rata buruk, sebab pengarang kurang mampu mengolah imajinasinya. Karena itulah Freud menganggap romance karya sastra yang buruk. …. Karya-karya di atas sekaligus memproyeksikan wishful thinking pembacanya. Dan memang di mana-mana dan di jaman apapun ada kaidah tidak tertulis, bahwa proyeksi wishful-thinking dicari oleh kebanyakan orang. Orang senang melihat dirinya dalam keadaan yang diinginkannya, terutama yang tidak tercapai olehnya. …. Dan bisa terpuasinya wishful-thinking terdapat dalam karya-karya yang cepat luntur.” (hal. 43)

Eyang mencontohkan karya-karya Ian Fleming (James Bond) dan karangan Ashadi Siregar sementara dalam “Dari Kasanah Sastra Dunia” Jakob Sumardjo mencontohkan karya-karya Agatha Christie dan Karl May.

 “…inilah yang menjadikan novel mereka hiburan, orientasi mereka hanyalah ketegangan, sensasi dan debar jasmani. Mereka tidak berorientasi pada kontemplasi, karena memang mereka tidak mempunyai visi. Karena itu novel mereka hanya sekedar menyenangkan. Sebaliknya, karya-karya sastra yang baik tidak selamanya menyenangkan, tapi penuh dengan ledakan yang menyebabkan dia resah terhadap dirinya sendiri, orang-orang sekitarnya, dan alam tempatnya bernafas. Karya sastra yang baik dapat membawanya ke dunia yang sublim, dan hanya dapat dirasakan tanpa dapat banyak dipikirkan.” (hal. 13)

Jadi apakah kegelisahan itu adalah suatu hal yang amat berarti?

Namun yang saya ketahui, karya-karya yang tadi disebut justru amat banyak penggemarnya, bahkan hingga saat ini. Karya-karya sastra yang baik, yang dianggap mengandung nilai-nilai universiil dan abadi, sebut saja milik Ernest Hemingway atau John Steinbeck, malah saya meragukan teman-teman saya yang awam dunia sastra akan mengenalnya. Pengstrataan karya sastra ini sepertinya hanya berlaku di kalangan tertentu saja. Mayoritas masyarakat tidak akan berpikir akan kualitas karya sastra tersebut karena orientasi mereka mungkin hanya hiburan—meski mereka tahu kalau karya tersebut mungkin tidak mutu. Mungkin hanya para kritikus dan mereka yang mau jadi pengarang saja yang benar-benar menilik bagaimana kualitas dari suatu karya.

Jadi, mau menulis karya yang seperti apa?

Minggu, 17 April 2011

Dosa Pembawa Berkah

Judul : Tidak Hilang Sebuah Nama
Pengarang : Galang Lufityanto
Penerbit : Era Intermedia, 2002

Kembali ke fiksi islami. Padahal dari sampulnya novel ini terlihat seperti novel thriller. Thriller islami? Atau mungkin thriller psikologis islami? Manalah. Memang novel ini memuat adegan pembunuhan, tapi ujung-ujungnya adalah soal hidayah.

Supaya tidak lupa kalau kelak ada yang tahu saya pernah baca novel ini dan bertanya ceritanya seperti apa, secara garis besar novel ini menceritakan tentang seseorang yang membunuh kembarannya—tidak spoiler lo, ini sudah terberitahukan di sampul belakang. Supaya tidak ketahuan, ia—sebut saja Odive—menyembunyikan mayat kembarannya itu—sebut saja Olive—di suatu tempat di flat mereka (di mana hayo?—semoga penasaran dan jadi penggugah keinginan untuk membaca novel ini). Supaya tak ada yang curiga, Odive pun menjalani kehidupan sebagai Olive yang telah menjadi muslimah. Sampai suatu ketika, mayat Olive dicuri! Dicuri siapa ya? Bryne? Charles? Pencurian mayat Olivelah yang kemudian membawa Odive pada balasan atas kesalahannya. Namun itu bukan perkara penting karena point-nya adalah: berkat membunuh, Odive jadi mendapatkan hidayah Allah SWT. Akhir yang bahagia. Seandainya tokoh Arif dibuat lebih ‘berkarakter’, cerita ini tak kan menjadi terlalu biasa.

Sebagaimana novel islami pada umumnya yang saya ketahui, saya rasakan karakter-karakter dalam novel ini juga lemah. Ini selalu membuat saya gemas. Saya rasakan karakter-karakter dalam novel islami begitu mudah diarahkan pada kebaikan. Okelah pada mulanya mereka semacam kufur, tidak ingat Tuhan, berperilaku bejat, berkeyakinan salah, dan sebagainya. Lalu tek tek tek, datang seseorang yang begitu menyejukkan hati dan membuka pintu hidayah. Entah konflik bagaimana yang kemudian terjadi, yang hitam begitu hitam dan yang putih begitu putih, yang hitam pelan-pelan menuju putih… Karakter-karakter pendukung hanya sekedar mendukung, namun tak menunjukkan kekuatan karakternya sendiri, kasihan. Siapakah mereka sebenarnya? Mungkin boneka. Novel selesai dibaca dan didapat kesimpulan bahwa secara keseluruhan, ah, begitu mudahnya ‘kesempurnaan’ itu diraih. Ah, jadi berislam itu mudah ya, berislam itu indah, gumam pembaca dalam hati.

Dan sebagai orang yang sudah beragama Islam dari sononya, saya tidak mendapatkan sesuatu yang baru tentang Islam. Apa kalau saya seorang non muslim saya akan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula?

Begitulah. Entahlah. Cara demikian mungkin masih berhasil pada kalangan tertentu. Jadi tidak perlu itu yang namanya ‘bahkan figuran pun harus berkarakter!’—karakter yang sungguh manusiawi, bukannya tipikal—baiklah, ini hanya keinginan ideal saya saja.

Ada begitu banyak jumlah manusia di dunia ini, yang berarti ada jauh lebih banyak karakter juga—jauh lebih banyak dari yang ada pada zaman Nabi Muhammad SAW, yang mana berarti harus ada jauh lebih banyak pula pendekatan yang dikerahkan untuk mengajak mereka pada Islam. Kita tidak bisa hanya menggunakan pola yang biasa digunakan dalam novel islami pada umumnya itu, dengan para karakter yang itu-itu saja seakan sudah satu paket.

Para pengusung dakwah kepenulisan—khususnya fiksi—sebaiknya tidak membatasi bacaannya hanya pada fiksi islami. Berbagai macam fiksi, apapun yang disampaikan, bagaimanapun cara mengemasnya, sekiranya patutlah juga dipelajari dengan diiringi penguatan ilmu Islam. Bagaimanapun, bukankah karya sastra yang baik itu bukanlah yang sekedar baik isinya tapi lebih lagi pada bentuk(/cara pengemasan)nya pula?

Dan dengan demikian, tinjauan melantur ini saya akhiri dengan pertanyaan-pertanyaan terkait novel ini: Apakah kisah Andrew, bapak Odive dan Olive, perlu dijabarkan sedemikian rupa? Kalau tidak dimunculkan apakah akan mempengaruhi kisah utamanya?; Mengapa Arif tidak mau berboncengan motor dengan Odive tapi tidak masalah jika kendaraan yang digunakan adalah mobil? Memang mereka bisa lebih menjaga jarak di dalamnya, tapi apapun bisa terjadi dalam mobil tanpa orang-orang di luarnya mengetahuinya, bukan?

Sabtu, 16 April 2011

Kejutan

“Eh, kamu anaknya Tante Ri, kan?”

Aku mengangkat sedikit kepala.

“Ari? Ya?” Cewek yang malam itu bersama si Pengganggu.

Aku menurunkan kepala lagi. Menarik sekali desain sampul buku ini.

“Hei… Halo?”

Jadi tidak menarik lagi. Aku menaruh buku tersebut. Sebaiknya aku menjauh.

Cewek itu mengikutiku. Coba mengiringi langkahku. Sekalian saja aku menuruni tangga. Hawa toko buku ini jadi menyesakkan.

“Kemarin kita belum kenalan.” Tubuhnya setengah menghadangku. Dia menyodorkan tangan. “Boleh kan kenalan?”

Aku meliriknya.

“Bibe.”

“Ari.”

Aku meneruskan langkah. Dia mengikutiku.

“Kok sendirian aja? Nggak sama adik kamu?”

Aku tidak menggubris. Tidak mendengarkan celotehannya juga.

Aku telah sampai di tepi jalan raya. Mungkin sebaiknya aku langsung pulang saja ke rumah Nenek.

Dia mengiringiku sampai ke seberang jalan. Menjengkelkan.

Sebuah angkot meluncur ke depanku. Aku merogoh saku.

Tidak ada duit.

Aku merogoh saku lainnya.

Tidak ada juga.

Tasku.

Kadal.

Mungkin aku naik taksi saja.

Aku ingat.

Kakek, Nenek, dan Vira katanya baru pulang malam. Mama? Ck, paling dia lagi kencan sama si Pengganggu. Masak aku minta duit sama pembantu atau satpam?

Argh!

Aku melihat wajahnya yang masih di dekatku. Minta duit sama Bik Ning atau Pak Supri mungkin bukan masalah.

“Eh! Ari! Main yuk!”

“Main apa?”

“Game Master aja.”

“Nggak punya duit.”

“Aku bayarin.”

“Nggak usah.”

“Ayo!”

“Mau pulang.” Tapi tidak ada duit.

“Yaah…” Ekspresi kekecewaannya tidak lama. “Tapi main dulu mau kan?”

Mungkin aku bisa pinjam duitnya.

Lupakan.

“Aku traktir Rotiboy, mau?”

Sebetulnya aku juga lapar.

“Kamu siapanya Om ***?” Sebetulnya aku tidak mau menyebut, mendengar, apalagi mengingat nama si Pengganggu.

“Dia temen mamaku.”

Pantas saja tidak mirip. Sudah kuduga. Hmh, dia hitam begitu. Tembem lagi. “Kenapa waktu itu bareng dia?”

“Eh? Yaa… Soalnya kita deket.”

“Seberapa deket?”

Dia terdiam. “Nggak deket-deket amat juga sih. Cuman kadang jalan-jalan bareng aja.”

“Kenapa?”

Dia tercenung. “Eh, jangan mikir macem-macem ya! Aku tuh cuman nemenin Om *** aja waktu itu… Kan mau ketemuan sama kalian…”

“Kamu pernah nemenin dia juga pas cuman ada mamaku doang?”

“Belum pernah.” Dia menggeleng.

Hah, benar kan. Dasar pengecut. Kalau sama mamaku saja orang itu berani sendirian.

“Jadi mau main nggak?”

Geraman di perutku mengiyakan.

“Rotiboy?”

“Iya!” Dia tersenyum.

Kami jalan beriringan memasuki pelataran Bandung Indah Plaza.

“Kamu kelas berapa sih?”

Hypermart.

“Sembilan.” Dia pasti jauh lebih tua.

“O. Mau nerusin ke SMA mana?”

“Delapan, paling.”

“Delapan Bandung?”

“Jakartalah!”

“Wah, udah mantep yah… Aku sih masih bingung mau kuliah di mana…”

Rotiboy. Hangat. Sedap. Aku langsung meraupnya besar-besar. Dia terperangah memerhatikanku. Peduli amat.

“Mau lagi?” Pandangannya perlahan beralih ke rotinya sendiri.

“Mau.”

“Aku beliin, tapi pake uang kamu sendiri ya?”

Aku memperkecil raupanku.

“Ke mana nih?”

“Game Master!” Dia menunjuk eskalator.

“Aku nggak bawa duit.”

“Aku bayarin!”

Kami menuju tempat itu. Dia membeli banyak koin. Dia menanyakanku mau main apa. “Terserah,” jawabku. Dan aku unggul sepuluh angka darinya dalam adu memasukkan basket ke ranjang. Tapi dia menghasilkan lebih banyak kupon saat adu memasukkan pingpong ke mulut bebek. Lalu kami bertanding memasukkan kepingan bundar ke dalam lubang. Tingkah lakunya sangat lebay. Selanjutnya kami bermain dayung bersama-sama. Ck, dia tidak cekatan. Tapi dia menyenangkan. Sialan.

“Bodoh!” seruku waktu kami game over.

“Biarin!”

“Ngapain lagi nih?”

“Kamu pasti kalah kalo main DDR.”

Aku tidak doyan mainan banci.

Aku lihat beberapa ruas rambutnya lengket ke pelipis. Nafasnya tersengal-sengal. Badanku sendiri sudah panas. “Istirahat dulu aja, Kak.”        

“Iya yah?” Matanya berbinar menatapku.

“Ke foodcourt, gitu.” Mungkin saja dia mau menraktirku lagi.

“Tapi koinnya masih sisa nih. Kamu mau main lagi?”

“Ya disimpen dulu aja.”

“Aku belum pernah loh ngerasain punya adik sebesar kamu,” katanya saat kami berjalan menuju foodcourt. Aku mengerutkan dahi. Dasar orang aneh. Dia sedang menghitung jumlah kupon yang dia hasilkan.

Kami mengambil tempat duduk untuk berempat. Matanya menyapu deretan penjual makanan dan minuman dengan hasrat kepingin. Aku curiga duitnya sudah habis untuk koin-koin tadi.

“Sayang banget yah, tadi, padahal kita baru main bentar, eh, udah game over aja…” Logat Sundanya terdengar kental.

“Ya elo juga sih mainnya ngaco.”

“Iiih… Susah tau…”

Aku mengambil ponselku dan men-dial nomor Vira. Baru kepikiran barusan.

“Lagi di mana lo, Ra? Masih lama? Suruh Kakek jemput gua dong… Di BIP. Ya secepatnya, gitu. Kalo udah mau cabut kasih tau gue ya, entar gue tunggu di depan Jesselyn…”

Dia juga sedang menempelkan ponsel di telinganya.

“…heuheu… Bodor pisan atuh si Papa, meni pake ketinggalan kunci rumah segala. Jadi sekarang pada di rumahnya Tante Zaha, Ma? Oh… Ya udah atuh, Ma, si Papa disuruh beli martabak Mas Edi… Ya, kan, entar buat perbandingan gitu enakan mana martabaknya sama buatan Mama, hahaha…”

Tawanya berderai dengan enak sekali.


“Itu yang jadi mempelai, bokap lo, ya?”

“Iya, bokap.”

Aku melihat mata temanku itu melihat sosok mamaku di dekat meja penerima tamu. Tertawa girang bersama sekompi ibu-ibu menor berkebaya.


Dia melirikku lalu buru-buru menyudahi sambungan telepon. Dia terlihat salah tingkah karena aku terus menatapnya. Padahal aku sedang melihat papaku menoleh dari balik kursi pengemudi.


“Jadi sekarang Mama kalian lagi deket sama siapa lagi?”

Ah, mana mungkin Papa tahu. Papa tidak serumah lagi dengan kami. Papa tahu dengan siapa Mama bertelepon atau chatting malam-malam selama ini?Dan untuk siapa Mama bolak-balik Jakarta-Bandung tiap beberapa minggu sekali? Itu dia orangnya, Pa. Si Pengganggu.

Papa kembali melihat jalan. Aku lihat di kaca spion matanya tersenyum. 

Papa sudah tahu dari dulu.


“Kalo mo ngomong sesuatu sekarang aja. Mumpung ketemu,” ujarku. “Gue tau lo pasti di pihak dia.”

“Ngomongin apa?”

“Alah, sok pake ngajak gue maen segala…” Aku menepis pandangan bingungnya.

Tampaknya dia sudah mencerna. Dia terpana. “Yee… Kalaupun harus mihak, harusnya aku di pihak anak dong…”

“Ah. Mana mungkin lo bisa ngerasain apa yang kami rasain kalo lo nggak ngalamin sendiri?”

Dia diam.

Aku sadar aku tidak bersikap layak pada malam di mana Mama akhirnya mempertemukan kami dengan si Pengganggu. Aku sengaja. Aku tidak menggubris setiap perkataan orang itu. Aku menampik uluran tangannya yang mengajakku salam. Vira hanya ikut-ikutan aku. Lalu kami pergi. Sikap yang pastinya masih melekat dalam ingatan anak-orang yang si Pengganggu bawa malam itu.

Setelah itu Mama mengejar kami.


“Aku cuman pingin Mama balik sama Papa!” kecam Vira untuk ke sekian kali dalam bertahun-tahun ini.

Mama balas menyentak, puncak kejemuannya mendengar rengekan kami yang itu-itu melulu, “Dari dulu Mama nggak pernah bisa ngelupain Om *** dan Papa kalian suka main sama wanita lain, PUAS?!”


Aku bahkan sempat berpikir Mama mulai sinting.


“Bersikap yang baik sama Om ***, ya? Bisa jadi Om *** ayah salah satu dari kalian?”


Itu tidak benar. Meski kami berdua tidak begitu mirip Papa, tapi itu pasti tidak benar! Ngaco semua!

“Ari.” Dia memanggilku hati-hati. “Ari sayang sama mama Ari?”

“Ya iyalah.” Sekilas aku memandang dia dengan tak acuh. Aku lipat tangan dan memperbaiki posisi duduk.

“Kalau mama Ari ternyata lebih bahagia sama Om ***, gimana?”

“Kalau ternyata kami lebih bahagia dengan kedua orangtua kami semula, gimana?”

Dia merengut. “Belum tentu…”

“Terus kenapa gue harus dengerin kata-kata lo juga, yang pastinya belum tentu juga?”

Dia diam lagi.

“Heran gue, kenapa emak gue nggak sama orang itu dari awal aja?” Aku merutuk.

Dia menarik tubuhnya. Kedua lengannya bersembunyi di balik meja. Katanya pelan, “Entar nggak jadi kamu dong?” Jeda. “Kalo gitu, sore ini aku main sama siapa?”

Heh?

“Mungkin karena satu papa aja nggak cukup buat kamu, makanya kamu dikasih dua papa. Enak kan?” Dia mencoba tersenyum. “Papaku aja cuman satu loh, dan kadang aku ngerasa nggak cukup punya satu papa, tapi ya harus aku terima apa adanya papaku yang satu-satunya itu, hehe…”

“Dua mama aja gue nggak butuh, apalagi dua papa.”

Aku membuang muka. Menanti-nanti panggilan dari Vira.

Aku tidak mendengarkan lagi kata-katanya kemudian. Aku berlagak Vira sudah meneleponku. Aku sudah dijemput.

Dia mengikutiku turun.

“Kapan-kapan kita main lagi yuk?”

Lama aku tidak menanggapinya.

Setelah dua eskalator, “Kak Bibe langsung pulang?”

“Eh? Iya, mungkin. Sebetulnya udah ditungguin juga sih.”

“Berdoa aja moga-moga orangtua Kakak nggak lagi nungguin Kakak karena mau ngasih kejutan.”

“Kejutan apa?”

“Ngasih tau Kakak kalo mereka mau cerai.”

Dan mereka mengatakannya dengan enteng. Betapa banyaknya hal tersembunyi tentang diri mereka.

“Ah, nggak mungkin.”

“Mungkin aja lagi.”

Aku juga tidak pernah mengira bahwa itu mungkin. Mama dan Papa tidak pernah berkonflik sebelumnya. Tidak ada yang salah pada keluarga kami.

“Tapi—”

Tapi pada akhirnya aku mengalami.

Aku melambaikan tangan padanya. Mungkin aku akan menunggu jemputan di Planet Dago saja. Aku melangkah dengan harapan semoga dia galau sepanjang perjalanan pulang! Hahaha!

 

Seminar “Tata Guna Lahan Berbasis Ekosistem”

Auditorium FKT UGM

Sabtu, 16 April 2011

sekitar Ashar

Selasa, 05 April 2011

Dari Para Pendahulu


Judul : Cerita Pendek Indonesia 3
Pengarang : (ramai-ramai)
Penerbit : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1979

Ini adalah sebuah album hijau. Menguning sudah lembaran-lembaran di dalamnya. Terdapat bercak-bercak yang memantik imajinasi pada beberapa halaman. Dalam nuansa zadul inilah termuat nama para maestro sastra Indonesia yang mestilah kita kenal: W. S. Rendra, Budi Darma, Taufiq Ismail, dan lain-lain yang keseluruhannya berjumlah 22 orang yang berarti ada 22 cerpen dalam kumpulan ini.

Tak efisien bagi saya untuk mengkaji satu per satu cerpen yang ada. Namun kiranya merupakan hal berguna untuk merangkum hal-hal penting yang kita dapatkan dari sesuatu.

Saya terkesan akan bagaimana latar belakang pengarang memengaruhi tema cerpen-cerpen yang ia hasilkan. Cerpen mereka yang ada dalam buku ini adalah yang temanya berhubungan dengan dunia mereka itu. Pengalaman Bur Rasuanto bekerja di Stanvac Palembang membuat cerpen-cerpen awalnya mengungkapkan kehidupan di daerah kilang minyak di Sumatera Selatan. SL. Supriyanto yang bekerja di PLN menggarap banyak cerpen tentang kehidupan orang-orang di dunia pelistrikan. Demikian  pun dengan S. N. Ratmana dan H. B. Soepijo yang berprofesi sebagai guru, cerpen mereka menceritakan tentang kehidupan seorang guru. Cerpen Titis Basino dan Ima Suwandi juga demikian. Tentu saja tema cerpen mereka lainnya tidak terbatas hanya di dunia profesi mereka saja.

Ada pula pengarang lain yang dapat menjabarkan deskripsi pekerjaan sebuah profesi sedemikian rupa meski kiranya latar belakang mereka tidak berhubungan. Sebut saja NH. Dini dengan “Penanggung Jawab Candi” maupun Ras Siregar dengan “Muntik No. 11”. Keluasan pengetahuan dan kedalaman penghayatan pengarang akan kehidupan yang ia sajikan membuat nuansa cerita menjadi hidup. Tidak hanya pada cerpen yang menyangkut suatu profesi saja sebetulnya. Cerpen-cerpen lain dalam buku ini pun memberikan nuansa yang demikian.

Ide cerpen bisa jadi adalah pengalaman pengarang sendiri, seperti yang terasa dalam sebagian besar cerpen, di antaranya adalah “Warisan” (Ayatrohaedi), “Telepon (Sori Siregar), dan “Kisah dalam Kereta Api” (M. Alwan Tafsiri”. Wallahu alam apakah sangkaan saya ini benar atau tidak, yang jelas saya jadi ingat saran Novakovich dalam bukunya, “Berguru kepada Sastrawan Dunia”, untuk menemukan ide dengan cara menggali masa silam—hal-hal paling berkesan dalam hidup kita. Sesungguhnya kita punya sumber ide yang begitu kaya!

Biasanya, makna yang hendak disampaikan pengarang baru menyentil di akhir cerita. Ini saya rasakan pada banyak cerpen dalam buku ini namun yang paling menohok adalah cerpen “Transaksi” karya Umar Nur Zain. Tak menyangka sebelumnya, ternyata saya sudah pernah membaca karya pengarang tersebut saat SMA, yaitu novelnya yang saya temukan di perpustakaan sekolah, “Picadilly”. Dalam cerpen “Transaksi”, pengarang kali ini menjadi seorang bapak pejabat kaya raya berumur 50 tahun yang menyelamatkan seorang anak yang hampir buta matanya dengan cara yang ehm. Sebenarnya ini sudah terbaca sepanjang berjalannya cerita, tapi pengarang menegaskannya di akhir. Ini menimbulkan efek menyentil yang bikin terperangah—setidaknya buat saya. Saya jadi paham bagaimana mereka yang sebetulnya jahat, tak peduli benar pada rakyat, menjadi tampak tak berdosa. Mereka punya kuasa untuk membeli pembenaran.

Cerpen lain yang berkesan adalah “Garong-garong” karya Taufiq Ismail. Cerpen ini adalah serentetan kejadian satir yang menjadi kocak karena kegamblangannya serta terkesan teatrikal karena keabsurdannya. Saya membayangkannya bagai sebuah pentas teater. Tapi unik juga kali ya kalau ada film macam begini, semacam “Banyu Biru” begitu mungkin. Alur yang seperti letupan petasan di malam-malam Ramadhan menggelitik saya agar kelak bisa menghasilkan karya-karya semacam—jelas saja dengan orisinalitas saya sendiri. Ah, pokoknya ini cerpen favorit saya dalam kumpulan ini meski amat panjang dan ada beberapa bagiannya yang saya tak paham!

Nuansa satir saya temukan juga pada “Biograpi Abangku” (Alex Leo), “M. S. Karachi” (Bur Rasuanto), dan “Bala” (Idrus Ismail). Saya jadi bertanya-tanya bagaimanakah situasi pemerintahan kita pada saat itu (sepertinya pasca runtuhnya Orde Lama dan munculnya Orde Baru), memang Indonesia itu tak bisa lepas dari budaya KKN ya?—kecuali pada cerpen “Bala” yang sebetulnya mengangkat soal klise: betapa manusia hanya ingat Tuhan kalau sudah tertimpa bala. Dari “Transaksi” dan “M. S. Karachi”, saya jadi ngeh bahwa salah satu trik menyampaikan satir adalah dengan menggunakan sudut pandang si oknum alias pelaku kemungkaran itu sendiri. Jadilah pembenaran-pembenaran yang menyentil. Silahkan tertawakan diri Anda sendiri. Keberhasilan satir tampaknya ada pada bagaimana kita membawakannya dengan gaya acuh tak acuh seakan itu bukan hal penting untuk dipersoalkan.

Cerpen lain yang bisa jadi penggelitik untuk berimajinasi ngaco adalah “Anak”, dari Budi Darma. Namun memang begitulah ciri khas bapak yang satu ini bukan? Sebagian cerpen saya rasa hanya sekedar bercerita saja, ada yang akhirannya sudah bisa ditebak dan apa pula yang memantik pikir. Cerpen “Warisan” karya Ayatrohaedi memang tidak terasa sebagai yang terakhir itu. Cerita berjalan layaknya pengalaman biasa saja namun di akhir cerita ada simpati yang mengisi hati saya pada si tokoh utama.

Begitulah karya sastra. Ia menyentuh pikir dan rasa. Kita bisa belajar banyak tentang kehidupan darinya. Namun betapapun ia suatu realita, ia tetap fiktif jua. Maka saya perlu memberi peringatan pada para pecandu fiksi agar tidak membiarkan diri tenggelam begitu dalam akan dunia ini. Sebaik-baiknya pelajaran adalah yang dapat diaplikasikan bukan? Percuma kita menghimpun banyak pelajaran namun tak dapat mengaplikasikannya di kehidupan nyata. Sehanyut-hanyutnya kita dalam dunia fiksi, kaki kita masih berpijak di dunia nyata, pada ubin yang kita rasakan langsung dinginnya. Semoga tak sia-sia kerja para pengarang ini dalam membangun kearifan pembacanya dalam berhubungan langsung dengan masyarakat.

Senin, 04 April 2011

Sastrawan dalam Ranah Lokal

Judul : Tempat-tempat Imajiner, Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika
Penulis : Michael Pearson
Penerjemah : Sori Siregar, Erwin Y. Salim, Ayu Utami
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1994

Bagaimana hubungan timbal balik antara sastrawan dengan lingkungan tempat tinggalnya—mungkin ini yang coba Pak Pearson selidiki dengan perlawatannya ke berbagai titik di Amerika, sebut saja: Vermont (Robert Frost), Mississippi (William Faulkner), Georgia (Flannery O’Connor), Key West (Ernest Hemingway), Kalifornia (John Steinbeck), dan Missouri (Mark Twain). Mereka mungkin tak tinggal selamanya pada tiap-tiap tempat tersebut—mungkin saja hanya bagian dari kenangan masa kecil, persinggahan beberapa lama, maupun pelabuhan yang terakhir—namun demikian, jejak mereka di sana masih dapat ditemukan hingga kini (—setidaknya hingga penulis melawat ke sana).

Ini seperti sebuah kumpulan feature sekaligus contoh deskripsi latar tempat yang amat baik untuk jadi bahan belajar. Meski ini karya terjemahan, tapi enak dibaca dan perlu (kok jadi kayak majalah?). Dibuka dengan deskripsi lanskap beserta ragam komposisinya, selanjutnya Pak Pearson membawa kita menemui bermacam karakter. Saya tak yakin apakah Pak Pearson, yang guru besar bahasa Inggris dan jurnalistik di Old Dominion University ini, sudah mengenal sebelumnya siapa-siapa yang ia ceritakan. Penggambarannya akan setiap orang yang ia temui dalam tiap perlawatan begitu mengesankan—menunjukkan perhatian mendalam penulis pada lawan bicaranya.

James Robert adalah “Si Bocah Besi”, julukan heroik seperti juga manusia terbang, atau penemu jalan, atau tukang jagal. Julukan itu memang menggambarkan orangnya. Tangannya seperti paron dan dadanya selebar sekat kapal. Setengah abad yang lalu, ia pasti bagaikan besi yang menempa banyak penantangnya. Seperti Shine, ia adalah jagoan di Angkatan Darat, di kelas ringan di Benteng Stuart, Georgia, selama Perang Dunia II. (hal. 244)

Masih banyak contoh lain.

Lewat hasil wawancara dengan orang-orang itulah pembaca bisa mengetahui seberapa besar pengaruh para sastrawan Amerika dalam buku ini terhadap (sampel) masyarakat di lokasi yang penulis lawat—meskipun para sastrawan itu sudah meninggal berpuluh tahun lampau. Kita akan bertemu orang-orang yang terinspirasi (contoh dalam bab tentang Frost), orang-orang yang tak terkesan (contoh dalam bab tentang O’Connor), orang-orang yang kiranya merepresentasikan tokoh rekaan sang sastrawan (contoh dalam bab tentang Hemingway atau Twain), hingga para kenalan maupun kerabat sang sastrawan sendiri.

Mark amat berhasrat untuk bicara, seakan-akan semangat publisitas yang begitu mudah ditembus telah menyemangati dia pula. Wajahnya berbintik-bintik sehingga mengingatkan kita pada wajah Tom Sawyer, …. …. …serta dua buah anting-anting di telinga kirinya bisa diibaratkan seorang Tom Sawyer di masa menjelang abad kedua puluh satu. (hal. 427)

Penulis memang tidak dapat menyinggung semua orang yang ia temui, namun apa yang termuat dalam buku yang diberi kata pengantar oleh Budi Darma ini sudah cukup merangsang saya untuk membuat catatan perjalanan saya sendiri.

Dalam salah satu suratnya, Frost menulis, “Aku pergi untuk menyelamatkan dan memperteguh pribadiku.” (hal. 32)

Mantap. Begitu mengundang untuk melakukan perjalanan demi penemuan dan harapan.

Selain pemaparan relatif terperinci mengenai tempat dan manusia-manusia yang mendiaminya (kadang menjemukan, tak terhindarkan), bagian yang paling saya tunggu adalah cerita mengenai sang sastrawan itu sendiri. Mungkin karena pada bagian ini saya jadi bisa mengidentifikasikan diri saya—bikin merenung sekaligus jadi sarana pemahaman diri,

Boris Paternak suatu ketika berkata bahwa manusia busuk tidak bakal dapat menjadi penyair yang baik. Menurut tebakanku, yang kita harapkan dari penyair itu justru nilai kebaikannya. Mereka bisa saja pemabuk atau sosok pemarah bermata jalang, tapi kita mengasumsikan bahwa semangat kebebasannyalah yang memicunya sampai meledak-ledak. Kemarahan mereka dibakar oleh kebenaran. Percikan kepribadiannya memberi ilham. Demikianlah kita berharap dapat mengguratkan keliaran dalam para penyair kita, dan bila kita tidak mampu begitu raihlah hal terbaik berikutnya: yakni kebijaksanaan. (hal. 25)

Steinbeck adalah seorang yang pemalu dan tertutup. Semua yang diinginkannya hanyalah menjadi penulis. (hal. 314)

sentilan,

Faulkner pernah menulis, “Antara kesedihan dan ketiadaan, aku memilih kesedihan.” (hal. 92)

Namun ia tidak pernah mengasihani dirinya sendiri, begitu pun ia tidak pernah dengan penuh perasaan merenungkan karakternya. (hal. 211, ihwal Flannery O’Connor)

Suatu ketika Flannery O’Connor berujar bahwa penulis pada mulanya tumbuh dari melahap literatur lebih banyak daripada melahap kehidupan… (hal. 220)

Menulis, dari sisi terbaiknya, adalah suatu kehidupan yang sendiri… [Penulis] tumbuh dalam ketinggian masyarakat sambil memancarkan kesepiannya. Dan kerap pekerjaannya merusuhkan.
Ernest Hemingway,
Pidato Hadiah Nobel.
 (hal. 223)

dan sumber inspirasi.

”Bahan-bahan untuk penulis fiksi,” katanya pada suatu ketika, “adalah hal-hal yang paling sederhana. Fiksi itu menyangkut segala sesuatunya yang amat manusiawi dan kita ingin menghapus debu, dan bila Anda mencaci-maki setelah mendapati diri Anda berdebu, Anda pun tidak akan bisa menulis fiksi. …” … “Orang-orang tanpa harapan tidak akan menulis novel.” (hal. 222, masih ihwal Flannery O’Connor)

Pada halaman 82, ada uraian tentang betapa Frost mengetahui secara detail alam yang jadi latar syair-syairnya. Ini perlu diperhatikan karena pengungkapan detil  penting fungsinya untuk menghidupkan suasana sehidup-hidupnya. Kata seorang wanita di halaman 40, “Frost menjadikan hal terkecil di alam ini tampak penting.” Sementara itu kata penulis, “Frost membaca alam ini ibarat membaca buku. Namun untuk dapat membaca alam seperti membaca buku, Anda harus lebih dulu membaca dengan baik sejumlah buku.” (hal. 82)

Saya paling suka bagian tentang Steinbeck—seluruhnya.  Mungkin karena saya merasa karakternya paling mirip dengan saya. Kalau pun ternyata tidak mirip benar, saya ingin jadi seperti itu. Di samping ingin mempelajari objektivitas Hemingway dan kekocakan Twain, keunggulan-keunggulan Steinbeck adalah yang paling ingin saya miliki juga. Sebetulnya memang baru tiga pengarang ini yang karyanya sudah saya baca, lainnya yang disebut dalam buku ini belum. Yang paling bikin saya terkesan dari Steinbeck adalah perhatiannya terhadap kaum akar rumput. Dalam satu-satunya karyanya yang sudah saya tamat baca, “The Grapes of Wrath” edisi bahasa Indonesia alias “Amarah” jilid 1 & 2 terbitan YOI, ia mengulas kehidupan kaum ini dengan sedemikian hidupnya. Terasa begitu riil dengan akhir yang ganjil.

Bagaimanapun berkualitasnya karya-karya yang mereka hasilkan, saya kira kebesaran para sastrawan juga disebabkan oleh persinggungan langsung mereka dengan masyarakat. Hemingway sering nongkrong di klub. Steinbeck ikut tinggal di perkampungan para buruh. Kemasyhuran yang mereka peroleh bukan hanya karena apresiasi dari para pembaca, tapi juga karena peran kaum yang mungkin dalam seumur hidupnya tidak pernah membaca karya mereka.

Bicara soal apresiasi, masyarakat Barat tampak mengapresiasi benar sastrawan-sastrawannya yang amat termasyhur. Di Duval Street, ada perayaan Hemingway selama tujuh hari di akhir bulan Juli. Sesuai gambaran penulis, perayaan ini tampak semarak dengan adanya lomba-lomba, beragam suvenir dan potret Hemingway, dan lain-lain. Mark Twain bahkan menjadi nama yang menjual di Hannibal. Itu di Amerika, di Eropa—Dublin, tepatnya—ada pula Bloomsday yang dihelat setiap 16 Juni oleh para penggemar James Joyce. Sebagaimana yang diceritakan Sigit Susanto dalam bukunya, “Menyusuri Lorong-lorong Dunia jilid 2, Kumpulan Catatan Perjalanan”, James Joyce telah menjadi ikon Dublin. Jelasnya, sastrawan yang satu ini telah berjasa memperkenalkan Dublin pada dunia melalui karyanya—mungkin seperti itu.

Saya bertanya-tanya, adakah di Indonesia bentuk penghargaan macam begini terhadap sastrawannya? A. A. Navis mungkin bisa menjadi nama yang menjual di tanah Minang, atau bisa pula ada perayaan oleh para penggemar Pramoedya Ananta Toer setiap tahun. Ah, tapi sebelum kocek dirogoh lebih dalam untuk mendanai kontes mirip Taufiq Ismail, receh yang ada mungkin sebaiknya disisihkan dulu untuk menyelamatkan, uhm, sebuah pusat dokumentasi sastra?

Minggu, 03 April 2011

karakter

adalah yang menjiwaiku kata-kata
dari segurat aksara kehidupanku bermula
oleh pengarang yang memendam gempita

emosiku merasuk ke dalamnya
menghendaki sirna kesadarannya
agar sejenak dia untukku saja

akulah yang direka
tugasku sampaikan gelisah pada pembaca

ini bukan sembarang permainan, jika kau pecinta kebijaksanaan

wates, 2 april 2011 malam

Jumat, 01 April 2011

KERTAS


Jauhkan kertas dariku. Pada kertas mesti tertera sesuatu. Akan kulahap habis dengan mataku. Jika tiada, biar tanganku yang mengguratkan sesuatu. Akan kubiarkan kau nikmati itu suatu kelak—jika tidak, aku saja.

Maklumlah. Sejak kecil hidupku bergelimang kertas. Alhamdulillah, orangtuaku punya cukup kertas bernominal untuk membelikanku berjubel kertas berbundel.

Kini ada pula rupanya kertas-kertasan. Tak bisa diremas. Tak bisa ditembus tinta. Tapi bisa merusak mata.

Kini orang pada beralih ke sana karena bahan baku kertas kian rawan. Tak tahukah kau, sumber daya alam kita yang melimpah itu tak hanya berbentuk kayu saja? Bahkan konon ada orang Korea yang berhasil mencipta kertas dari rumput laut! Belakangan hari pun aku dan kawan-kawanku memikirkan kemungkinan untuk mensubtitusi kayu dengan daun lontar. Belum lagi kalau kusebut bahan potensial lain: bambu, jerami, feses sapi—apapun yang berselulosa dan layak jadi pulp!

Hidup insan Teknologi Hasil Hutan!

Mana yang akan kau pilih,
kertas yang dapat merekam jejak kepribadianmu,
ataukah
kertas-kertasan yang hanya bisa ditimpa disain aksara tertentu?

Kalau aku, setelah aku mati boleh kau lihat bagaimana kepribadianku berubah-ubah di atas olahan selulosa yang melapuk—semoga nanti ada yang merawat. Namun sebagai bagian dari pemuda abad 21, aliran cipta dalam bola intelektual ini pun dapat memilih teknologi mana yang paling compatible untuk jadi wadah penampungnya. Dan masih hingga kini aku setia menoreh, meski di balik lembar LKJ.

Dan kemajuan teknologi akan terus mengganti tren zaman. Daun lontar diganti kertas. Kertas diganti Word. Sebagaimana: Pisau pengot diganti pena. Pena diganti kibor. Apa lagi yang akan mengganti Word dan kibor?


*sebagai sarana yang secara siginifikan berjasa sangat dalam memajukan peradaban, kenapa nggak ada HARI KERTAS SEDUNIA ya? (yeah, dan tunggu kemudian ada HARI BILL GATES SEDUNIA, ayeay!)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain