Jumat, 20 April 2012

Fajar Menyingsing di Gunung Prau

dok. Kurnia Latifiana

Mulanya hanya seutas cacing meliuk di dasar got. Putih bagai mi. Cah menyorot tepi. Buset. Rumbai-rumbai merah jambu itu rupanya sebangsa cacing pula! Terus kami melangkah, pun cahaya dari senter Cah. Rumbai-rumbai merah jambu melulu, bergoyang-goyang di balik muka air. Gelap dengan pendar rembulan adalah momen pesta pora bagi mereka. Tak terbayang apabila kaki kita tercelup ke sana, memburai kawanan. Sembari menggeliat, mereka telusuri bagian dalam celana. Saya bergidik.

Dinginnya Dieng pada sekitar pukul sebelas malam itu, Jumat (13/4/12), belum mengganggu. Perjalanan baru saja dimulai. Rombongan terdiri dari saya, Nurdin, Trubus, Bagus, Mbak Nia, Mas Aat, Cah, Mbak Ayu, dan Mas Ovip. Mas Ovip adalah pemuda Dieng yang aktif di Pokdarwis[1] sedangkan yang lain adalah mahasiswa serta mantan mahasiswa sebuah fakultas di UGM. Nurdin, selaku penggagas acara, meminta Mas Ovip untuk mengantarkan kami ke Gunung Prau.

Gunung Prau, sebagaimana Gunung Padang, sesungguhnya lebih tepat disebut bukit—bukit di atas plato berketinggian 2093 mdpl. Dilihat dari dataran, Gunung Prau terletak di selatan dan ditandai oleh sebuah menara pada perbukitan rimbun.

Kami bertolak dengan motor dari Jogja sekitar pukul empat sore dan tiba di Wonosobo sekitar dua setengah jam kemudian. Setelah makan nasi goreng di rumah Mbak Ayu, sekitar satu jam kami habiskan untuk mencapai Dieng.

Termos di rumah Mas Ovip: disumbat bohlam
Di dapur rumah Mas Ovip, kami meringkuk di seputar api-api sembari menyeruput teh panas. Sangat khas Dieng. Nurdin mengutarakan keinginannya untuk bermalam di padang rumput yang dinamakan Bukit Teletubbies. Kata Mas Ovip, “Kalau bermalam di sana, paginya kita enggak bakal bangun,” sebab tempat yang dimaksud berada di dekat kawah. Gunung Prau pun jadi alternatif.

Nurdin tampaknya sudah biasa bermalam di gunung, bukit, maupun hutan. Ia menyangka kawan-kawan seperjalanannya kali ini sesiap dirinya. Tapi, tidak semua dari kami membawa sleeping bag, senter, makanan, peralatan masak, dan pakaian ganti, bahkan Mbak Ayu baru pulih dari tipes. Tapi, kami tetap jalan.

Mas Ovip memimpin dengan senter saya yang membiaskan oranye, sedang yang lain putih. Formasi di belakangnya berubah-ubah.

Lepas dari jalan beraspal, kami mendaki tangga di belakang terminal. Setelah melintasi jalan di muka pemukiman para ahli kubur, langkah kami membelah hamparan kebun kentang, wortel, kubis, dan berbagai komoditas Dieng lain. Siluet pohon pinus yang bagai raksasa menjulang dalam kesendirian.

Rimba pun disusupi. Permukaan yang ditapaki kian menguras energi. Semula tersengal-sengal, namun setelah beberapa lama nafas terkontrol. Mendaki memang membutuhkan pengalaman, atau setidaknya olahraga teratur. Kalau kita tidak biasa, pernafasan kita bakal “kaget” seperti istilah Mbak Nia terhadap apa yang dialami Bagus. Bagus sering berhenti karena nafasnya tidak kunjung terkendali. Padahal, ketika kita berhenti terlalu sering atau lama sebelum melanjutkan perjalanan, pernafasan kita bakal membutuhkan penyesuaian lagi. Ngos-ngosan lagi.

Kaki pun mengalami penderitaannya sendiri. Sepatu lapangan yang berat bagai yang Nurdin pakai agaknya enak untuk perjalanan seperti ini. Tapi hujan sewaktu-sewaktu bisa datang sehingga saya tidak menjadikan itu sebagai pilihan, apalagi kalau tidak bawa alas kaki buat ganti (itulah Nurdin). Sandal lapangan amat fleksibel, meski licin juga ketika lumpur menerpa. Cah hanya memakai sandal jepit dan sepertinya ia tidak mengalami masalah. Tapi Bagus, sandalnya yang ala bapak-bapak itu ia copot sehingga kakinya telanjang.

Rintik membelai kulit, merembesi pakaian. Mas Ovip mengira itu kabut semata. Rintik tak berhenti, kendati ditunggu beberapa lama. Itu hujan ternyata. Ponco disibak.

Dengan mata yang rabun, pun tidak pegang senter sendiri, saya sangat mengandalkan sorotan dari orang yang pegang senter. Saya kasih senter saya ke Mas Ovip, Nurdin kasih senternya ke saya, saya kasih senter Nurdin ke Trubus, Trubus dan Mas Ovip berganti mengarahkan jalan bagi saya. Saya bagai buta. Sering kali saya jatuh, atau hampir jatuh, selain karena permukaan yang hendak dipijak tak terlihat dengan jelas, koordinasi tubuh saya juga kurang baik. Padahal saya merasa masih berenergi. Mas Ovip bilang itu karena lelah.

Dari belakang Mas Ovip menyorot jalan yang harus saya lalui. Ini lebih mudah ketimbang saya jalan di belakangnya lalu jatuh karena penerangan kurang, sementara Trubus belum sampai di dekat saya. Agaknya karena ini kami salah arah.

Puncak bukit, alias Gunung Prau, telah terlihat. Tapi kami menembus semak, bukannya meniti jalan setapak. Mas Ovip kembali menjadi ujung tombak. Ia pun bingung, tapi ia terus mencari jalan. Saya tidak kuasa menyusul dengan kecepatan yang sama. Ia kian jauh. Sempat dalam pandangan saya hanya siluet tetumbuhan dilatari kelam, sementara rintik terus menderu. Dalam hati saya berdoa agar Allah menunjukkan jalan, begini rasanya tak berpenglihatan, sembari terus berjalan dengan meraba daun dan dahan. Di belakang saya Trubus mendekat. Takut sedikit pudar, tapi kaki tetap siaga menginjak-injak sebelum melangkah. Tubuh condong pada dinding apapun di sisi kiri, sebab barangkali sisi kanan adalah jurang.

Ikon Gunung Prau: menara yang menjulang
di kala terang
Akhirnya jalan setapak kembali tampak. Dinding yang dilajurinya cukup curam. Semangat bikin tak peduli. Kami telah hampir. Jalan datar sudah terhampar. Menara yang menjulang itu seakan mengucapkan selamat datang. Di baliknya ada beberapa bangunan. Tiga jam terlampaui.

Identitas salah satu bangunan di Gunung Prau
Ponco ditanggalkan. Matras dibentangkan. Ransel diletakkan. Minyak kayu putih dioleskan. Kencang angin mendera, diduga bikin nyala api dari kompor gas tak jadi. Kami pindah ke sisi lain bangunan yang lebih tertutup. Jika bangunan itu berada di tepi jalan raya, dan saya hanya melewatinya saja untuk mencapai tujuan yang lebih nyaman, saya akan mengesankannya angker. Dalam keadaan darurat sebagai ini, bangunan itu jadi bersahabat.

Sementara sebagian dari kami merebus air, lainnya membuat shelter. Bagi cewek adalah tenda milik Nurdin cs sedangkan bagi cowok adalah matras beratapkan ponco. Semua cowok membawa sleeping bag, untung.

Dalam pakaian basah, diliputi angin yang mendesah, serta dingin yang bikin resah, kami menyeruput air hangat beraroma dan berasa jahe. Mi dibumbui buncis yang dipotong dengan tangan, diraup ramai-ramai. Kloter berikutnya, mi dibumbui susu cokelat. Rasanya gurih sekaligus manis, nikmat. Biskuit oranye setengah bulat dicelupkan. Lumayan. Lalu dimasukkan juga biskuit-serupa-*reo-tapi-bukan, saya tidak tega makanan dibegitukan.

Usai cukup makan dan minum, saya, Mbak Nia, dan Mbak Ayu memasuki tenda. Dome merek E*g*r, bukan bivak, tapi atapnya masih harus dilapisi ponco. Ukurannya pas untuk tiga orang, kami. Pakaian yang basah diganti dengan yang kering. Kaki dilumuri bedak. Hanya ada satu sleeping bag untuk bertiga, mbak-mbak menghamparkannya sebagai alas. Mas Ovip membawakan selimut bulu yang digunakan kedua mbak, sedangkan saya memakai selimut garis-garis ala rumah sakit plus sarung.

Sleeping bag tak cukup untuk menahan dingin yang menguar dari permukaan di bawah tenda. Dingin itu meresap ke tubuh kami. Sekali waktu lelap sampai, namun kesadaran timbul kembali dan menjadi derita. Neraka mungkin panas, tapi dingin tak kalah menyiksa. Tak terbayang apabila hasrat ingin buang air kecil muncul, seperti yang Mbak Ayu alami dua kali sepanjang sisa malam itu. Tak terbayang apabila kami berada di luar juga sebagaimana para cowok, apakah selembar matras dan sleeping bag cukup?

Justru di saat nyaman mulai sayup-sayup, suara yang memberitahukan bahwa langit telah merah terdengar. Mari mengerang. Langkah-langkah muncul, menjauh. Pujian pada terbitnya si bola api di ufuk berseliweran, diharapkan pelontarnya untuk bikin kabita[2]. Saya tidak terpengaruh. Saya keluar terakhir dari tenda, setelah mengganti pakaian kering dengan pakaian basah lagi karena beberapa pertimbangan. Saya baru menuju matahari ketika yang lain sudah jalan berlawanan arah dengan saya. Matahari pun sudah bertengger pada posisinya, sudah bukan sunrise melainkan sun saja.

Sang Fajar di ufuk seberang
Fajar menyingsing, lebih populer disebut sunrise, mengapa engkau biasa saja bagiku? Saya pernah menyaksikan naiknya mentari di Gunung Guntur dan Bukit Sikunir sebelumnya, dua puncak yang terkenal bagi pemburu sunrise, adakah saya tergugah sangat dalam pengalaman itu? Kala itu mentari naik dengan cepat dilatari semburat-semburat kapas yang bagai awan. Koin yang amat terang. Gunung-gunung menjalarkan kaki yang mencengkeram bumi dengan kokoh, disaput kabut, bagai lukisan. Mengapa kita harus berjuang semalaman dulu (dua malam untuk Gunung Guntur), payah dalam nafas, kaki, dan hujan, baru bisa mengagumi kebesaran Tuhan? Bisakah kita memuji Tuhan dengan hanya  bercokol di tengah hiruk-pikuk perkotaan saja?

Lukisan Tuhan
Sekiranya ini cuman perkara kesukaan. Toh yang mengaku “pecinta alam” belum tentu beriman. Toh yang anak kota tulen tak mesti menafikan solat.

Sapa mentari dengan pancaran sinarnya yang bikin mata terpicing, “Udah, nikmatin aja.“ Maka diiringi “Jika Nanti Kau Panggil Namaku” dari grup lawas bernama SAS, saya melakukan senam asal-asalan. Tubuh yang kaku-kaku berkat digempur semalaman ini perlu dilemaskan. Dingin harus digusah. Asmara yang mulai berpendar lagi diabaikan saja.

Kubis: selain jadi bumbu mi,
ia juga berfungsi sebagai spons untuk
membersihkan wadah serta serbet untuk
memegang benda yang panas 
Ketika saya kembali, Nurdin sedang menunaikan solat di atas matras. Ia bersujud menghadap matahari. Sejak kapan matahari terbit di arah kiblat, Bung? Dalam benaknya dunia mungkin telah kiamat, atau ia sekadar saking terpesona pada sumber binar. Kecele dua kali, ia juga melakukan tayamum padahal ada sumber air di samping bangunan sebelah.

Satu dari banyak bukit Dieng yang telah gundul.
Tapi kelihatannya malah seolah artistik lo.
Setelah sarapan, kami beres-beres. Saya makin kerap jatuh saat menuruni bukit—Trubus sangat menantikan momen-momen tersebut. Nurdin berdiskusi dengan Mas Ovip mengenai jenis pohon untuk penghijauan bukit-bukit Dieng. Mas Ovip mencari jenis yang tidak menarik untuk ditebang warga, namun cepat tumbuh serta dapat menyerap banyak air.

Ketika kami sampai di rumah Mas Ovip, tidak banyak jeda waktu hingga zuhur. Batal rencana untuk mengunjungi pesona alam lain di pelosok Dieng. Sementara Mas Ovip pergi, Bagus menemani Trubus mencari sarapan dan kembang setempat, sofa di ruang depan rumah Mas Ovip dikuasai enam orang yang larut dalam kantuk masing-masing.

Menjelang pukul setengah tiga sore, kami telah siap untuk meninggalkan dataran tinggi tempat para dewa bersemayam itu. Hujan mengiringi perjalanan kami menuju Wonosobo. Ujung ponco saya terbelit rantai motor yang saya naiki, tapi saya tidak merasakannya. Kamar mandi dan santap sore di rumah Mbak Ayu menjadi jeda nikmat sebelum perjalanan dilanjutkan.

Duduk di atas motor yang melaju selama berjam-jam juga sebuah penderitaan. Tubuh saya baru terasa seperti sedia kala, tidak lagi kaku-kaku, setelah renang pada Senin sore. Selama dua hari pula Diapet menjadi teman yang baik. Dengan demikian ingin saya kukuhkan Diapet dan Dieng jadi sejoli, lihat pengalaman saya sebelumnya.


[1] Kelompok Sadar Wisata
[2] Sunda: kepingin juga

3 komentar:

  1. Gunung prahu, pertama kali di puncaknya seakan-akan di dunia yg beda, pemandangannya yg khas dan unik,smoga tetap lestari

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain