Senin, 30 April 2012

PerNoWriMo: Bibi (1) -- 1 dari 4


Sukses dengan NaNoWriMo 2011, tahun 2012 saya sempet kepikiran buat bikin novel tiap bulan yang jumlah harinya 30. Tapi ini bukan NaNoWriMo, yang berarti National Novel Writing Month, yang berarti itu dilakukan bersama-sama secara nasional--meski sebenarnya nasional--di bulan November aja, maka saya namain proyek ini PerNoWriMo alias Personal Novel Writing Month karena dilakukan secara personal. Aturan mainnya sama kayak NaNoWrimo, yaitu dalam 30 hari saya harus menghasilkan novel sebanyak 50.000 kata alias sehari setidaknya 1.666 kata. Saya pun memulai proyek ini di bulan April. 

Selama 7 hari berturut-turut, saya berhasil memenuhi ketentuan tersebut sampai saya, bahasa Sundanya mah, stuck.  Biarpun saya udah punya konsep, awal- akhirnya gimana, tengahnya mau diisi apa aja, tapi pada akhirnya saya menyadari kalau saya belum siap buat garap cerita ini. Karakter-karakter dan plotnya cukup kompleks. Dan saya ga tahan buat nulis asal-asalan, apalagi sebetulnya saya punya kewajiban dan proyek utama yang seharusnya diseriusin. Daripada makin bikin ricuh pikiran, akhirnya saya berhenti deh. Kewalahan sendiri malahan hihihi.  

Yang udah tertulis itu mungkin bakal saya tulis ulang bertahun-tahun kemudian, ga tahu kapan. Jadi saya pikir lebih baik yang ga jadi ini saya bagikan aja biar bisa dinikmati khalayak, sekadar ngasih tahu kalau perkembangan menulis fiksi saya udah sampai sini. :D 

Yang saya bagikan ini adalah dua dari sembilan karakter yang membentuk cerita. Sebetulnya saya udah nulis sampai empat, tapi pas masuk ke yang keempat saya udah kehabisan kata-kata. Terus penggarapan karakter yang ketiga menurut saya belum tepat, masih butuh pengembangan lagi supaya bisa lebih wajar. Ceritanya sendiri sebetulnya menyangkut isu yang sensitif, yang akan terberitahukan kalau cerita ini udah jadi. :P 

Dari dua karakter itu, ada 23 halaman A5 yang ingin saya bagi. Saya akan mem-posting-nya selama empat hari berturut-turut. Selamat menikmati! :)







____________________


Bibi (1)
Bibi adalah wanita yang bekerja untuk suatu keluarga di sebuah rumah. Semburat putih tampak pada rambutnya yang selalu digelung. Selalu pula, peyot tubuhnya diselubungi kebaya lusuh dipadu jarik batik. Kini kulitnya sewarna karton, dulu pernah kuning. Tak satupun majikan Bibi memperbolehkan wanita itu mengunyah pinang atau tembakau.
          Sejak masih gadis, Bibi telah bekerja dari satu majikan ke majikan lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan ke negara lain. Semua majikannya sedarah. Ia sempat berhenti bekerja untuk keluarga itu selama beberapa belas tahun. Ia pulang ke kampung, menikah, lalu mengurus keturunannya sampai ia dimohon-mohon untuk kembali. Seolah ada kepercayaan tertanam dalam keluarga itu, Bibi adalah pengasuh anak terbaik yang mereka ketahui.
          Wanita yang menjadi majikan terakhir adalah anak keempat dari majikan pertama Bibi. Ia telah tumbuh dan berkembang, dari seorang gadis kecil yang gemar merengek menjadi pegawai BUMN yang jabatannya terus naik. Bibi mulai bekerja khusus untuknya sejak wanita itu hamil untuk pertama kali. Sementara sang suami melanjutkan studi di luar negeri, wanita tersebut dipindahkan dari satu kota ke kota lain. Di manapun wanita itu tinggal dalam waktu yang cukup lama, Bibi selalu serta. Bibi merawat anak demi anak wanita tersebut sejak mereka masih dalam kandungan. Bibi mengasuh ketiganya dengan telaten sebagaimana ia mengasuh ibu mereka dulu. Itulah pekerjaan utamanya. Meski pekerjaan rumah  lainnya diserahkan pada fisik yang lebih muda, kadang Bibi urun tenaga. Pembantu pendamping Bibi jarang berganti.
          Bibi paling menikmati saat di mana ia menggendong anak majikannya dalam jarik. Bibi akan membuai. Menimang-nimang. Menyanyikan tembang-tembang Jawa yang selalu fasih ia lantunkan sejak ia masih bocah. Jika langit diterangi matahari dengan bersahabat, Bibi membawa si kecil keluar rumah. Sering kali Bibi bertemu dengan ibu, ayah, atau simbok lain dengan batita dalam jarik yang terikat di pundak. Satu sama lain saling menyapa lalu berbincang sekadarnya namun hangat.
          Tapi momen yang paling Bibi senangi adalah menyapih batitanya di tepi hamparan rumput yang luas. Hamparan tersebut membentuk teras-teras. Setiap teras menyajikan daratan yang cukup lapang bagi penduduk kampung untuk menggembalakan kerbau. Ia menemukan tempat semacam itu ketika majikannya ditugaskan di Lawang. Dari daratan yang biasa dipijak, Bibi bisa mengedarkan pandang sejauh mungkin dan mendapati barisan pepohonan yang rimbun. Sesekali tegur-menegur yang ramah terjadi antara ia dan petani yang melewati jalan setapak di belakangnya. Setelah mengusap pipi si bungsu yang berlepotan bubur sumsum, ia mengarahkan bocah tersebut agar melihat pada kerbau-kerbau yang merumput. “Lembune lahap tho…” ucap Bibi dengan lembut. Satu sendok lagi dikecap oleh mulut mungil itu. Kedua belah pipinya berguncang-guncang.
          Momen itu selalu terasa seperti kemarin. Tahu-tahu si bungsu sekaligus satu-satunya putra itu telah mampu berlari. Tubuhnya tak kalah gembil dari pipinya. Sepasang matanya yang mungil seolah terbenam pada permukaan wajah yang kuning langsat. Bibi tak lagi kuat mengangkat, selain karena bobot tubuh bocah itu, juga karena perilakunya yang tak bisa diam.
Bibi pun tak mampu mengejar. Nyeri di dada ketika Bibi berusaha menyusul Raka yang langsung tancap begitu bersua teman-teman sepermainannya. Hampir tumpah piring berisi makanan Raka sore itu. Wajah Bibi kian keriput akibat kerut-kerut menahan nyut-nyut, namun tetap terarah pada si bocah. Ia mendesah, “…Gusti Rabbi…” ketika Raka menendangi temannya. Di lain kesempatan Raka tidak saja menendang, tapi juga memukul, menghantam, atau membanting. Kadang Bibi kehabisan kata untuk dilisankan dengan lirih. Ketika cengkeraman di dadanya mengendur, Bibi mendekat dengan langkah terseok-seok.
Di rumah, Bibi tetap sibuk mengubah tikai menjadi damai. Ratu tidak mau berhenti mendorong dada Raka—jika tempelengannya tak mengena. Raka juga tidak mau berhenti meludahi kakaknya. Di belakang Ratu, Rara cemberut saking jijik dengan lendir berbusa yang mengalir di sepanjang lengannya. Situasi akan lebih baik apabila ibunya anak-anak berada di rumah. Dalam dekapan wanita itu, si bungsu menjadi lebih dapat diarahkan. Kalau tidak, Ratu akan berang karena Bibi lebih memilih untuk tidur bersama Raka ketimbang menemaninya dan Rara seperti biasa.
Bibi menghadapi ini setiap hari.
          Ketika pada suatu malam Bibi tidak kelihatan menemani anak-anak, sang majikan langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Ratu mengatakan bahwa Bibi sakit. Bibi mendekam di kamar sepulang dari lapangan untuk memberi makan sore pada Raka. Wanita itu pun mendatangi Bibi. Setelahnya, tugas mendampingi Raka diserahkan pada pembantu satu lagi.
          Tapi Sari tidak seperti Bibi. Tabiat para majikan yang seenaknya dan selalu ingin dilayani memang masih bisa ia toleransi, tapi tidak dengan perilaku si bungsu yang suka menodai barang-barang—kalau bukan menghancurkannya. Entah dengan pulpen, lipstik ibunya, atau kecap dan sambal, ia akan menghiasi perabotan dengan ragam pewarna yang ia temukan. Sang nyonya tak sampai hati untuk memarahi bungsunya, jadi kekesalannya diluapkan pada orang yang ia suruh untuk membersihkan barang-barang itu. Sari tidak tahu bagaimana melenyapkan noda itu hingga benar-benar tak berbekas, jadi gerutu nyonya tetap mengiang-ngiang di telinga. Sembari memangku Raka, Bibi mengarahkan anak itu agar mewarnai kertas saja. Lalu pulpen di genggaman Raka meninggalkan noda yang tak pernah hilang di kebaya Bibi.  
Setelah beberapa kali badannya kena cakar dan gigitan Raka, Sari berusaha untuk menyelesaikan tugas sorenya dengan cepat. Setelah menjejali mulut badung itu dengan bersendok-sendok makanan dari piring, entah nanti akan dikunyah atau malah dilepeh, perempuan itu meninggalkan Raka di mana pun bocah itu ingin tinggal. Toh Raka tidak pernah jauh dari lapangan. Raka sudah semakin besar. Raka tahu ke mana harus pulang setelah menjelajah hingga ke berbagai titik di sekitar komplek perumahan.
Maka setiap menjelang senja Bibi memandang jam dalam resah, sembari tangannya membelai-belai rambut Ratu. Dokter berpesan agar aktivitas Bibi tidak terlalu melelahkan. Fisik Bibi sudah tak sekuat dulu, apalagi jantungnya. “Bibi mau cari Dek Raka dulu ya Mbak,” begitu kata Bibi di puncak kegelisahannya.
Ratu memegang erat lengan Bibi. “Enggak usah Bi. Paling entar lagi juga pulang!” seru gadis cilik yang tengah beranjak remaja itu. Meski bau Bibi aneh, tapi entah mengapa Ratu selalu merasa nyaman untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Bibi.
Kekhawatiran Bibi tidak pernah berarti. Pakaian dan tubuh Raka yang tak tertutup memang coreng-moreng dengan tanah dan darah, tapi bocah tambun itu selalu kembali ke rumah dalam keadaan utuh.
Sesekali Raka pulang diantar omelan dari tetangga yang tak terima anaknya dihajar. Baik Bibi maupun Sari sama-sama menunduk dan membiarkan telinga mereka menadahi muntahan komplain. Sehabis itu Sari tak tahan untuk tak menjewer Raka meski nyonyanya mungkin akan balas memarahinya kalau si bungsu sampai mengadu. Sebelum itu terjadi, Bibi mengambil alih Raka.
Dengan sayang ia menanggalkan helai demi helai pakaian dari tubuh anak itu. “Kalau berteman itu yang baik tho, Le,” ucap Bibi lembut. “Bukannya diantemi… Temennya entar pada takut…”
Entah anak itu mendengar atau tidak. “Aku kan jagoan!” serunya sementara Bibi mulai membasuh tubuhnya dengan air hangat. Satu tangannya berpegang pada pundak Bibi. “Enggak boleh ada yang ngalahin aku!” Raka terus berceloteh mengenai betapa hebat dirinya. Bibi tersenyum. Sesungguhnya ia rindu untuk melihat kehebatan anak itu lagi, yang larinya begitu kencang hingga wanita tua ini kewalahan, yang energinya seakan tak habis-habis, yang gembul pipinya begitu menggemaskan, yang suka mendekap dengan amat erat hingga Bibi kegelian…
“…eeh… Basah tho…”
Raka tak peduli. Ia membenamkan mukanya semakin dalam ke perut Bibi. Lingkaran tangannya pada pinggang Bibi mengencang. Dengan handuk besar dan tebal, Bibi menyelubungi tubuh anak itu dan rasanya ingin sekali memeluk keseluruhannya. Tapi anak itu semakin tinggi saja.
“Siapa yang jagoan, siapa?” Bibi menggoncang-goncangkan tubuh Raka dengan gemas. Anak itu tergelak-gelak. Seketika Bibi melupakan perkara yang telah anak itu timbulkan. Tidakkah orang-orang melihat kepolosan anak ini? Ia sama sekali tidak berbahaya. 


...bersambung ke besok: Bibi (2)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain