Jumat, 16 Desember 2011

Bandung 30 tahun lalu dengan sekarang: sama saja!


Bandung adalah sebuah kota besar. Ada yang menyebutnya sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia, setelah Jakarta, namun saya lupa siapa. Pada masa jaya-jayanya Chaseiro, empat belas pemuda menyenandungkan puisi tentang sang kota. Mereka adalah Yayat Hendrayana, Jeihan, Soetan Iwan Soekri Munaf, Eddy D. Iskandar, Diro Aritonang, Rachmat Dst, Anton De Sumartana, Aland Achmad Dachlan, Yessi Anwar, Beni Setia, Wilson Nadeak, Yuniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, dan Hamid Jabbar.

Sepertinya kita perlu termenung setelah membaca empat puluh delapan puisi mereka yang diterbitkan pada tahun 1981 oleh SWAWEDAR69, Bandung, dalam sebuah buku kecil nan tipis ini.

Simaklah penggalan puisi berikut.

Permadanimu adalah lima ribu kubik sampah/ yang terhampar sehari-hari/ Minyak wangimu adalah udara yang pengap/ oleh bau yang menusuk/
Ada pula yang tergolek di emper-emper/ atau menyuruk ke kolong-kolong jembatan/ mendirikan rumah kardus/

(Yayat Hendrayana – Dendang Bandung)

Realitas tersebut ternyata bukan hal baru. Tiga puluh tahun silam, di kota ini sawah telah tertindih dan bangunan berlomba ke angkasa, didera pameran harga (Eddy D. Iskandar – Bandung). Udaranya pun telah pengap penuh cemar (Yessi Anwar – Tanah Negriku).

Bahkan ketika kupandang kali cikapundung/ coklat warnanya bagaikan air bajigur/ aku merasa bingung/ begitu banyak orang membersihkan tubuh/ di air keruh/ (Eddy D. Iskandar – Tembang Cikapundung)

Padahal dalam puisinya yang ditulis pada 16-18 Mei 1981, Tentang Sebuah Kota, Wilson Nadeak mengungkapkan bahwa Antara cihampelas-taman sari, dua puluh lima tahun lalu… cikapundung yang bening air mengalir dari sawah.

Bukan semata permasalahan lingkungan, sejak dahulu kala orang kota pun sudah asing dengan sekitarnya, bahkan terhadap tuhan. Kalau boleh saya tampilkan sebagian puisi Diro Aritonang, Magrib di Alun-alun Bandung.

keramaian kota jadi asing
di antara orang-orang bertopeng
sementara azan menggema membentur
dinding-dinding kota
dan tak singgah maupun hinggap
dalam hati orang-orang bertopeng
karena mereka telah dibisutulikan
oleh keterasingannya sendiri?

Fenomena bunuh diri yang dipicu keterasingan diri baru saja diulas dalam KOMPAS, 15 Desember 2011 silam. Dalam artikel bertajuk Rasa Terasing dan Cari Jalan Pintas, lebih jauh diungkapkan bahwa para pelaku bunuh diri dari golongan menengah ke atas menghadapi persoalan eksistensi diri, seperti merasa teralienasi atau merasa hidup sia-sia karena kehadirannya tidak lagi dianggap berarti bagi orang lain. Muara dari perasaan ini adalah lemahnya kohesi sosial yang antara lain dikarenakan kian mengecilnya ruang untuk saling menyapa, saling berbagi, dan membuka diri dengan sesama. Ruang-ruang itu mengecil oleh persaingan dan pola kerja, prosedur resmi, hedonisme, sikap ortodoks, serta kian canggihnya alat telekomunikasi yang membuat manusia merasa jauh meski dekat

Maka melalui Doa Urbanis: Terjepit di Sela Kota Terhimpit Kesibukan Kota, Anton De Sumartana mengungkapkan,

Beri aku garis
kan kurakit dijadikan bidang
kan dibentuk jadi ruang
tempat dialog dan bergumul
mengisi hidup kehidupan

Yang kita butuhkan adalah ruang. Ruang publik. Ruang terbuka hijau. Bahkan ruang keluarga. Sebuah ruang yang dapat memanusiakan kita, menghidupi kehidupan, sebelum kota ini tenggelam oleh penduduk yang terus bertumpuk, tertimbun oleh sampah yang terus berlimpah, maupun berubah jadi penuh basil dan penyakit dengan dengung lalat yang tiap saat terus merubung—seperti dalam puisi lain Anton De Sumartana, Mungkinkah?

Semua itu bakal jadi mungkin/ bila dibiarkan renta/ tanpa partisipasi semuanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain