Rabu, 04 Maret 2026

Sepintas tentang Beberapa Cerita Samsoedi

Saya pertama kali mengenal Samsoedi karena bukunya akan dibahas di klub yang saya ikuti, dan tersedia di iPusnas. Buku Samsoedi pertama yang saya baca itu adalah Kisah Si Emed, terjemahan Ajip Rosidi. Aslinya dalam bahasa Sunda, buku ini berjudul Babalik Pikir. Samsoedi (1899-1987) adalah pengarang Sunda yang mengkhususkan pada cerita anak.

Ada minat untuk lanjut belajar bahasa Sunda. Saya kira cara yang paling mudah adalah dengan menyimak. Kalau sering mendengarkan kata-kata tertentu, mungkin lama-lama kita dapat memahami artinya dari konteks, atau untuk lebih memastikan, bertanya ke orang yang paham atau googling atau mencari di kamus. Apalagi sekarang sudah ada SundaDigi, kamus online bahasa Sunda yang bisa dibilang lumayan lengkap. Sebenarnya ada kata-kata Sunda yang saya belum temukan artinya di SundaDigi, tapi secara umum, kamus ini sangat bisa diandalkan daripada buku-buku fisik kamus bahasa Sunda yang tersedia di rumah saya, hehe.

Setelah mencoba berbagai konten bahasa Sunda di YouTube, akhirnya saya menemukan kanal Mang Cecep Gorbachev. Saya merasa cocok dengan kanal ini karena isinya membacakan buku-buku karya sastra Sunda. Memang ada maksud untuk belajar bahasa Sunda dengan menerjemahkan buku-buku ceritanya, apalagi di iPusnas ternyata koleksi bacaan Sundanya banyak, termasuk yang dibacakan dalam kanal Mang Cecep Gorbachev itu. Tapi, selain iPusnas kerap bermasalah, cara membaca-sekalian-menerjemahkan ini teramat sangat lambat. Lebih praktis menyimak yang sudah dibacakan saja, bisa disambi mengerjakan yang lain-lain.

Dua buku Samsoedi, Surat Wasiat dan Budak Minggat, termasuk cerita yang paling awal dibacakan di kanal Mang Cecep Gorbachev. Bagi yang pemahaman bahasa Sundanya ala kadarnya seperti saya, kedua cerita ini relatif mudah dimengerti. Mungkin karena keduanya termasuk bacaan anak, maka bahasanya relatif sederhana meskipun ditulis pada zaman Belanda sehingga ada sejumlah konteks dan istilah yang khas.


Setelah menyimak kedua cerita ini sampai tamat, ternyata ada kemiripan dengan buku Samsoedi yang pertama-tama saya baca, yaitu Kisah Si Emed. Kemiripan yang utama adalah tokoh utamanya remaja laki-laki belasan tahun yang karena berbagai sebab terpaksa meninggalkan rumah. Dalam Kisah Si Emed, tokoh utama diusir ibunya karena selalu menyusahkan sampai terdampar di penjara anak-anak di Semarang. Dalam Surat Wasiat, tokoh utama dikelabui oleh saudara ayah angkatnya hingga merantau ke Yogyakarta. Dalam Budak Minggat, tokoh utama disuruh mencari uang milik ayah tirinya dan malah terjebak menjadi kuli di Deli.

Selama kepergiannya dari rumah itu, tokoh utama menghadapi berbagai kesulitan. Ia harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, bertemu dengan orang-orang jahat, dan tentunya ada pula orang-orang baik yang membantu si tokoh mengangkat dirinya. Orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan itu pun memiliki ceritanya sendiri-sendiri, yang mengajarkan sebab-akibat dari berbagai perbuatan. 

Bisa dibilang, plot dalam cerita-cerita Samsoedi ini bertipe coming of age, cerita pendewasaan berisi serangkaian pengalaman dan petualangan jauh dari rumah, yang idealnya dialami seorang remaja laki-laki untuk mematangkan pribadinya, agar mengenal kerasnya dunia, sanggup menjalani kesukaran, sekaligus belajar menjadi orang baik yang dapat mengambil tanggung jawab untuk mengurus orang lain. 

Kiranya perlu ada cara khusus dalam mendidik anak laki-laki. Dalam Kisah Si Emed, tersirat bahwa ibu sebaiknya tidak memanjakan. Ketiga cerita Samsoedi menunjukkan bahwa mesti ada sesuatu yang memaksa remaja laki-laki untuk keluar dari rumah dan mencari sendiri jalannya, kalau bukan karena situasi hidup, atau tradisi (sebagaimana di Sumatra Barat, konon remaja laki-laki tidak lagi tidur di rumah tapi di surau, dan setelah lebih besar lagi, merantau), ya atas inisiatif orang tuanya sendiri seperti yang dilakukan Pak Jaya Setiabudi. Beliau sengaja menitipkan anak lelakinya di pondok-pondok pesantren dan meminta orang lain yang menggembleng.


Melihat di iPusnas, masih ada banyak karya lainnya dari Samsoedi. Entah apakah ceritanya masih semacam ketiga cerita ini. Untuk sementara, dari ketiga cerita ini, yang paling rame menurut saya adalah Budak Minggat, karena latarnya sampai ke luar Pulau Jawa, yaitu beberapa tempat di Sumatra, bahkan cerita mengenai tokoh lain sempat menjangkau sampai ke luar negeri. Penokohannya tidak hanya melibatkan sesama orang Sunda dan sesekali orang Belanda, tetapi ada juga ras Cina, bahkan bangsa hewan pun mendapat peran. Jadi cerita ini lebih panjang, lebih berlika-liku, dan lebih kosmopolitan daripada yang lain-lain. Bukunya pun tidak hanya terdapat di iPusnas (yang pada waktu saya membuat catatan ini masih belum dapat diakses), tetapi ada juga di iJogja.

Minggu, 04 Januari 2026

Tempo Nomor 27/XXXI/2-8 September 2002

ISSN : 0126-4273
Rp 14.700

Biasanya saya gagal paham bila membaca rubrik "Ekonomi & Bisnis". Tapi di Tempo edisi ini ada dua cerita menarik terkait bisnis narkoba dan pertanian. 

Cerita pertama bait-nya terpampang di kover depan: "Tommy Winata di Belakang Bandar Ekstasi Tangerang?" Sebetulnya cerita ini masuk rubrik "KRIMINALITAS". Ada dua judul artikel yang terkait: "Tommy Winata: 'Saya Tak Bersekutu dengan Pembuat Narkoba'" (menampilkan foto yang bersangkutan sedang berkacak pinggang dengan ekspresi menantang) dan "Yang Dikejar Bukti Anyar". Artikel yang pertama itu berisi wawancara dengan Tommy Winata, pengusaha yang dituduh terlibat dalam bisnis ilegal, di antaranya narkoba. Di sini jelas ia menyangkal tuduhan itu serta menyatakan dukungannya dalam mengatasi masalah narkoba. Baru-baru ini saja saya ada ketertarikan pada pelaku bisnis ilegal di Indonesia, sejak menemukan video tentang Freddy Budiman di YouTube (dan katanya ada Freddy lainnya yang belum tertangkap?). Freddy Budiman sudah terlibat dalam bisnis narkoba sejak SMA, kemudian menjadi pengusaha skala internasional, hingga akhirnya dihukum mati, tapi masih sempat bertobat. Omong-omong soal Freddy, The Panas Dalam punya lagu judulnya "Freddy Preman Karbitan". 


Cerita kedua mengenai kasus investasi agrobisnis PT QSAR yang berujung tekor sehingga dirutnya ditahan. Kasus ini sebetulnya sudah diangkat sedari Tempo edisi sebelumnya. Dalam artikel-artikel ini terdapat edukasi mengenai investasi. Saya merasa investasi itu seperti berjudi: mengeluarkan uang untuk mendapatkan lebih banyak uang. Hanya saja: 1) uang yang dikeluarkan itu untuk membiayai usaha orang lain, 2) yang diharapkan hanya keuntungan sedangkan risiko kerugian kurang diperhitungkan, padahal usaha bisa mengalami naik turun. Barangkali dalam Islam, investasi semestinya diniatkan lebih untuk membantu sesama ketimbang untuk meraih keuntungan pribadi (paling-paling, pahala dari Allah); kalaupun mendapatkan keuntungan dari bagi hasil usaha, itu bonus. 

Untuk mendapatkan kepercayaan calon investor, PT QSAR punya trik menggaet pejabat (halaman 105). Sekarang istilahnya endorsement kali ya, yaitu menggaet tokoh/pesohor/orang ternama supaya orang lainnya yang bukan siapa-siapa tertarik untuk melirik produk yang ditawarkan. Khususnya dengan pejabat, keuntungan yang diperoleh pengusaha, selain untuk mendongkrak popularitas yang notabene jalan pintas meyakinkan calon investor, adalah mencari "pengamanan".

Sebenarnya PT QSAR bukan perusahaan bodong. Usahanya riil, dan masih ada orang-orang yang memandangnya secara positif, layak diteruskan. Permasalahannya adalah: dirutnya suka mengibul, dana disalahgunakan untuk investasi lain, dan investor tidak siap menanggung kerugian.

Layanan Rumah Sakit Sint Carolus (halaman 8)

Ini surat dari pembaca yang memuji pelayanan RS St. Carolus. Kiranya sedari dahulu pelayanan rumah sakit ini sudah memberikan kesan positif, simak saja lagu lawas yang judulnya "Berpisah di St. Carolus".


Menurut hasil googling, RS St. Carolus didirikan awal abad 20 oleh biarawati-biarawati Katolik Kongregasi St. Carolus Borromeus. Borromeus itu nama rumah sakit Katolik di Bandung. Ada teman yang juga pernah memuji pelayanan rumah sakit tersebut ketika ayahnya sedang dalam momen kritis. Padahal ayahnya tidak mau meninggal di rumah sakit nonmuslim, tapi setelah mendatangi beberapa rumah sakit, mau tidak mau, di sanalah beliau mengembuskan napas terakhir dikelilingi anak-anaknya yang membimbing untuk mengucapkan syahadat. 

St. Carolus punya cabang juga di Yogyakarta yang kemudian bernama Panti Rapih.

Tentang Seorang (Anak) Lelaki (halaman 125)

Ini ulasan film About A Boy oleh Leila S. Chudori. Film ini berdasarkan novel karya Nick Hornby, dibintangi oleh Hugh Grant, Rachel Weisz, Nicholas Hoult, dan Toni Collette. Lagu soundtrack-nya, "Silent Sigh" oleh Badly Drawn Boy, dulu sering tayang di MTV. Lagu-lagu lainnya dari Badly Drawn Boy enak juga loh.


Beberapa artikel menyangkut sejarah (klik judul untuk membaca salinan artikel): 

"Wangsit", kolom Onghokham mengomentari peristiwa pembongkaran batu tulis oleh Menag.

"Kanguru dalam Permesta", resensi buku Keterlibatan Australia dalam Pemberontakan PRRI/Permesta.


Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain