Selasa, 18 Januari 2011

One Day Trip Alone (featuring Ayunina ding!)


Mulanya saya berencana mengisi 14 Januari 2011 dengan riset proyek pribadi di perpustakaan Malioboro. Apa nyana, takdir lain berkata. Tiga tahun lebih tinggal di Jogja, jarang-jarang saya sungguh menikmatinya sebagai kota bersemarakkan seni dan budaya!

Berkat subuh kesiangan, ekstra tidur pasca subuh, hingga keharusan untuk piket dapur, menyikat lantai kamar mandi, cuci baju, maupun cuci sepatu, saya baru meninggalkan kos sekitar jam setengah sepuluh pagi. Setelah sarapan goceng di Santai dan melihat nilai di kampus, saya teruskan perjalanan ke selatan. Kalau ke barat adalah arah menuju kitab suci, ke selatan adalah arah menuju Kotabaru. Saya sampai pada keputusan bahwa sebaiknya saya memiliki helm sendiri ketimbang pinjam untuk survei KKN esok hari.

Angin kencang berhembus sepanjang jalan sementara kelembaban udara terasa begitu tinggi akhir-akhir ini. Namun mentari mendukung niat saya berjalan kaki sampai jauh dengan bersembunyi di balik awan. Sempat saya kepikiran untuk lanjut naik bis saja. Tapi mengingat tubuh saya terasa begitu berat, bulat, dan lembam akhir-akhir ini, akhirnya saya sampai juga deh di pusatnya helm murah Jogja! Karena ingat Papa, saya akhirnya membeli helm dengan cetakan SNI yang seharga 40.000 rupiah saja. Warnanya cukup mencolok tapi tiadapalah agar mudah dikenali.

Tiba saatnya menuju acara utama. Mentari agak tak konsisten karena memberi teriknya bagi saya. Saya nikmati menyusuri jalur pedestrian pada jembatan yang membelah Kali Code. Saya jadi bisa melihat gundukan pasir kiriman Mbah Merapi di tepi kali dengan alat pengeruk di atasnya. Bagian tengah kali tampak sembulan sedimen.

Saya kira tempat tujuan saya akan rehat sebentar kala Jumatan. Mungkin saya akan tunggu sambil baca gratis di Gramedia Mal Malioboro, lanjut solat di masjid depan Inna Garuda, lalu menyeberang lagi untuk menunaikan tujuan. Namun kemudian saya ketahui bahwa Jogja Library Center of Malioboro memiliki jadwal buka sebagai berikut (dalam WIB)

Senin – Kamis : 8-14
Jumat : 8-11
Sabtu : 8-12

Kendaraan nggak ramah pedestrian nih!
Terombang-ambing sejenak di lantai 1 Mal Malioboro, akhirnya saya menapaktilasi jalur yang kiranya masih hangat kena pijakan kaki saya. Karena melihat baliho Jogja Broadway, saya jadi tertarik lagi ingin menyaksikannya. Saya timbang-timbang lagi apakah 35.000 rupiah akan saya ikhlaskan untuk itu. Sms Ayunina menguatkan saya. Saya akan bertemu dengannya di perpustakaan kota. Namun sebelum itu, saya tandang dulu ke Bentara Budaya. Di perjalanan, saya melihat orang gila yang pakai celana bolong di bagian pantatnya. Mungkin supaya tidak usah buka celana kalau mau boker.


When ‘doing nothing’ means do something

Dari luar terlihat ruangan yang lengang. Sempat ragu, masuk nggak nih? Jangan-jangan nggak ada isinya? Melongok ke kiri, ada poster-poster menempel di dinding. Ada yang menggantung juga di tengah ruangan. Melangkah masuklah kaki saya. Seorang mbak-mbak menunggui di balik meja saya mengisi buku tamu.

Beberapa saat terpana melihat poster, saya sadari bahwa pengunjungnya hanya saya waktu itu. Seakan-akan memang takdir telah dirancang sedemikian rupa agar saya menyesapi pameran poster World Silent Day dalam silent.

Mari tidur sambil senyum...
World Silent Day itu apa sih maksudnya? Mengapa kita harus silent? Ada apa di balik silent? Supaya orang lain bisa tidur nyenyak (habis ikonnya seperti ekspresi tidur tersenyum)?

Poster pertama yang saya lihat kalau tak salah dibuat oleh orang India. Ada tulisan “UNPLUG” besar. Berjalan dari poster satu ke poster lainnya, saya temukan kesamaan demi kesamaan yang membentuk persepsi. Penggalan informasi acak terserap dalam kepada. Bumi. Pohon. Energi. Kendaraan bermotor. Stop kontak. Carbon footprint. Doing nothing for 4 hours on March 21st, 2011. 10 AM to 2 PM.

Doing nothing? Saya bayangkan kegiatan mendekam di kosan tanpa pekerjaan berarti. Tidur-tiduran. Membosankan. Mengapa poster ini mengajak untuk tak melakukan apapun tapi ada hubungannya dengan bumi? Sebagai manusia dengan semangat jiwa muda, nurani saya mencekal karena frasa ‘doing nothing’ tak mengesankan produktivitas.

SILENCE IS THE ALLY OF MELODIOUS SOUND...
Meski demikian persepsi yang sudah terbentuk dalam kepala saya menjelaskan bahwa energi itu menghasilkan kebisingan. Naik kendaraan bermotor itu bising. Menonton TV itu bising. Mendengarkan musik keras-keras dari mini compo itu bising. Coba deh itu stekernya dicabut dari stop kontak. Yang lagi di kendaraan bermotor, menepilah dulu dan matikan mesin. Yak, semua, ayo, lakukan! Dan mari bersama kita pasang telinga. Terdengarkah itu desau angin? Gemerisik dedaunan? Kicau burung? Dan ucapan terima kasih dari bumi karena telah membiarkannya istirahat sejenak dari kerukan tangan-tangan industri yang hendak memanfaatkannya—untuk kepentingan kita, para konsumen nan rakus?!

Oh, jadi, ‘doing nothing’-nya tuh, doing nothing yang itu ya?

Can I?
Saya hampir menyempurnakan satu putaran yang membentuk perspektif lain. Empat jam saja, hanya sehari dalam setahun, yang biasa ke mana-mana naik motor cobalah jalan kaki. Yang betah menonton TV berjam-jam, coba TV-nya diganti dulu sama buku ya… Apakah kamu dapatkan manfaat yang lebih besar?

Kampanye ini mungkin bermakna lebih dalam dari sekedar menyuruh orang jadi pendiam selama 4 jam. Apalah artinya 4 jam dalam sehari? Yang kita semua—para penghuni bumi—butuhkan adalah kesadaran akan penghematan energi setiap hari! Dan itu dimulai dari 4 jam sehari. Tidak usah menunggu sampai 21 Maret 2011 untuk memulainya kan?


Jalan-jalan ke TN Tanjung Puting via perpustakaan kota

Terkesan dengan pameran World Silent Day, saya bermaksud langsung menuliskan pengalaman batin saya tersebut di perpustakaan kota. Tak hanya itu, saya kepikiran juga untuk mengupayakan riset saya bisa dilangsungkan pula. Saya pun mengambil beberapa buku yang saya anggap terkait. Ada satu yang tidak. Yang malah langsung memikat saya untuk menamatkannya dalam waktu kurang lebih sejam sementara buku-buku lain tersingkir. “Gara-gara Si Munyuk!, Petualangan Buana dan Ema di TN Tanjung Puting” adalah judul buku tersebut.

Fiksi berwawasan lingkungan hidup, bukankah itu sesuatu yang amat keren? Setidaknya bagi saya yang berminat untuk menggeluti. Salah satu tujuan di balik pemarakkan fiksi macam demikian adalah mengajak pembacanya agar lebih peka pada lingkungan hidup tentu saja. Sebagai orang yang merasa berkepentingan dalam bidang ini (lacaklah di mana saya kuliah dan apa minat terbesar saya), novel yang ditujukan bagi kaum preteen ini sudah jadi incaran saya sejak lama.

Kehidupan Buana, tokoh utama, sangat imajinatif bagi saya. Apakah ia tinggal di rumah lolipop? Um, tidak. Apakah pelayannya adalah seorang peri? Bukan juga. Tapi memiliki seorang ayah yang kontributor tetap National Geographic lantas mendapat fasilitas keliling taman nasional-taman nasional di Indonesia dengan yacht selama setahun bersama keluarga adalah hal yang amat fantastis bagi saya. Wow, pingiiiiiin…!

Berkat pekerjaan sang ayah, Buana dan adik gembilnya, Ema, dapat bertamasya ke TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Banyak juga peneliti yang tinggal di sana karena kawasan tersebut merupakan pusat rehabilitasi orangutan. Sementara sang ayah—yang juga seorang doktor dalam bidang antropologi—meriset kehidupan suku Dayak bersama para peneliti, Buana dan Ema berkenalan dengan Buang. Di balik nama yang sepertinya asal kasih itu, memang konon Buang dibuang ibunya saat masih bayi sebelum kemudian diangkat anak oleh pamannya. Berkat si Buang inilah sebuah petualangan seru (berhadiah kehidupan di atas yacht selama setahun) bisa terjadi. Entah karena dikira anak orangutan atau memang layak jadi komoditas trafficking, Ema diculik. Upaya penyelamatannya dan peringkusan para penculik diisi oleh aksi kocak Bunda Alisha yang pengamat mode dan mantan peragawati, kekuatan mistis Awang yang menerbangkan satwa-satwa, hingga jampi-jampi ampuh peluruh lintah Pak Honai.

Memang tak semua anak dapat bernasib seberuntung Buana (hiks). Namun esensi petualangannya adalah petuah yang pasti berguna bagi siapa pun. Bahwa keberanian tak bisa dibeli. Keberanian hanya bisa didapat dengan mengalahkan ketakutan.

Novel ini berhasil semakin membuka cakrawala saya akan dunia konservasi. Meski saya sudah pernah mendapat materi terkait dalam ranah akademis, namun apa yang saya dapat itu jadi terasa lebih melekat dalam jiwa setelah saya (seolah-olah) mengalaminya—lewat sajian yang lebih soft dari poin-poin teori dalam slide. Ya fiksi ini. Feature bisa jadi berguna pula. Sebagaimana itu ada yang bilang bahwa the best way learning is by doing it (redaksi kalimatnya saya reka sendiri, jadi maaf saja kalau kurang tepat grammar-nya…). Sebagai mahasiswa jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan, saya akan amat bahagia apabila dosen menyampaikan materi kuliah dengan fiksi semacam ini (:p). Meski memang pemahaman lewat rasa ini mungkin hanya berperan dalam pengembangan minat. Mungkin akan jadi kesulitan dan makan lebih banyak waktu jika semua pernyataan ilmiah harus dikemas dalam bentuk soft, padahal mereka selalu dibutuhkan sebagai landasan untuk menghasilkan solusi. Tapi tanpa adanya minat yang besar, pikiran bisa jadi mampet.

Namun jika memosisikan diri sebagai kalangan awam, pra remaja yang sedang menentukan cita-cita misalnya, saya kira novel ini bakal berhasil meningkatkan kepedulian saya akan isu lingkungan hidup.

Saya curiga novel ini akan ada kelanjutannya. Mungkin selanjutnya akan ada judul “Gara-gara Erupsi!—Petualangan Buana dan Ema di TN Gunung Merapi” atau judul-judul lain yang mengambil latar tempat di TN Ujung Kulon, TN Alas Purwo, hingga TN Raja Ampat. Namun mengingat sekitar empat tahun berselang sejak novel ini diterbitkan (2006) sepertinya belum ada novel berjudul sebagaimana dugaan saya itu, saya jadinya ingin konfirmasi sama pengarangnya, Mbak Amarellia Permata Sari, atau mungkin juga ke penerbitnya, PT Gramedia Pustaka Utama.


Pertunjukan sudah dimulai sejak di pintu masuk

Pukul tiga menjelang petang, saya dan Ayunina bertolak dengan menaiki bis jalur dua. Kami langsung menuju Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk memastikan tiket bisa dibeli sebelum pertunjukan. Ternyata bisa! Kejutan bagi kami karena gedung yang dijadikan tempat pergelaran begitu meriah. Tak seperti pada Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) akhir Desember 2010 kemarin yang tampak begitu suram, kali ini ranah visual kami disambut warna-warni. Pelataran dipenuhi banyak anak kecil. Di luar pintu masuk, sayap kanan adalah ticket box dan display barang-barang untuk dijual sedang di sayap kiri ada band, kafe berkedok angkringan, dan beberapa tempat duduk. Kaget juga kami, karena layaknya hendak menonton di XXI, tempat duduk untuk menonton teater nanti juga dinomori! Bagian tengah sudah penuh dengan tanda silang. Kami memilih sisi kiri. J 4 dan J5. Selain tiket, masing-masing kami mendapat sebuah leaflet berisi penjelasan mengenai Jogja Broadway, sebuah angket terkait untuk diisi setelah menonton pertunjukan, dan dua buah stiker sederhana.

Jogja Broadway sendiri adalah pertunjukan teater yang dibawakan oleh Garasi Enterprise. Rencananya, acara ini akan dihelat setiap musim liburan sebagai bagian dari promosi wisata Jogja. Untuk musim pertama, judul yang ditampilkan adalah “Pangeran Bintang dan Putri Embun”. Acara ini sudah dimulai dari tanggal 6 dan akan berakhir tanggal 16. Dan setelah mengetahui betapa “wah”-nya pertunjukan ini kemudian, saya bertanya-tanya apakah para pemainnya tidak bosan dan capek harus seperti itu terus selama sepuluh hari berturut-turut? Salutlah. Ini baru namanya totalitas.

Setelah mendapat tiket, kami bergegas ke Taman Pintar. Sementara saya solat ashar di musolanya, Ayunina duduk di teras sambil makan bapao dua biji. Saya juga dibelikannya. Saya pilih rasa kacang hijau meski warnanya di dalam bapao, tak di Bandung tak di Jogja, sama hitam. Saya menemani Ayunina ke Shopping sebentar sebab ia hendak cari buku Farmasi. Sebelum jam empat kami telah kembali ke TBY. Di gedung yang paling besar terdapat pameran juga rupanya. “Paper & Ugo” atau “Kertas & Ugo” ya? Ugoran Prasad? Ugo yang penulis cerita horor dengan Ugo yang ini ternyata beda. Ugo yang karya-karyanya dipamerankan di sini adalah Ugo Untoro. Kalau tak salah ia pernah tampil dalam rubrik SOSOK di KOMPAS. Kalau tak salah ia seniman yang suka membuat karya tentang kuda. Hm, ini akan saya singgung lagi nanti.

Sembari menunggu pintu masuk ke ruang gelap dibuka, saya dan Ayunina bergabung dalam keramaian. Kami melihat-lihat para benda lucu bersemangat D. I. Y.. Biar D. I. Y. tapi dihargai tinggi. “Siapa yang mau beli ya?” celetuk Ayunina. Saya tertarik pada buku-buku tebal yang ditaruh di dalam tubuh kuda nil biru mangap. Sampulnya boleh penuh kreasi, meski kualitas cetakannya pas-pasan, tapi harganya bikin tak berminat untuk memasukkannya dalam ransel. Kalau gratis sih mau, hahaha. Sempat satu buku saya ambil. Untung dilapis plastik yang bisa dibuka. Saya intip isinya. Oh, komik. Saya jadi dijalari pikiran untuk melakukan hal yang sama terhadap karya-karya saya, apapun itu. Layout sendiri. Kreasikan sendiri. Cetak sendiri. Sebar lewat event-event macam begini. Gratis atau murah. Yang penting apresiasi dan manfaatnya sampai! Idealisme, oh, idealisme…

Pertunjukan harusnya dimulai pukul empat. Sampai tujuh menit lewat dari itu, saya masih santai menyantap bapao di luar. Sebelumnya berfoto ria. Lalu entah apa yang mendorong kami masuk. Beruntung kami ada di barisan terdepan karena orang-orang aneh mulai berkeliaran! Ya, mereka seperti makhluk dari dunia lain—didukung backsound yang diatur seorang mas-mas di depan sana. Pakaian mereka begitu semarak dan aneh. Ada yang pakai ember di depan mulut, sapu di kepala dan di bokong, rok biru, lalu meringkik seperti kuda. Ada sepasang mas-mbak dengan dandanan kakek-nenek yang menggendong meja-kursi dan kejar-kejaran dengan anjing-anjingan. Ada bencong dengan jemari ditempeli sendok, pundak dikitari piring, dan bajunya dari taplak meja. Holala… Merekakah para bintang yang akan kami saksikan nanti? Luar biasa… Para calon penonton kompak membentuk panggung agar para lakon itu dapat menciptakan dunia mereka. Mereka datang silih berganti. Saya sendiri dibuat bingung karena setiap mereka menampilkan lagak atraktif dengan ciri khas masing-masing. Wajan, ember, sapu, dan berbagai perangkat rumah tangga yang digantung di langit-langit—yang kalau Ayunina tak ngeh duluan saya juga tak akan ngeh—bergerak naik turun.

Rangkaian kursi-meja berhiaskan sendok-sendok plastik kecil—yang sempat kami pertanyakan apa maksud dari pajangan tersebut sebelum kehebohan ini terjadi—berjalan ditarik si kuda-kudaan dengan seorang wanita berkostum putih duduk di salah satu kursi. Bulan sabit besar di dahi wanita yang menyanyi tersebut. Ya, di luar pintu masuk inilah cerita berawal. Pangeran Bintang bertemu dengan Putri Embun. Mereka saling tertarik. Putri Embun berteman dengan si bencong sendok—tapi ini perkara lain. Muncul dua makhluk tinggi dengan rangka cangkir dan—saya lupa apa satunya lagi—setelah para makhluk ajaib itu berlalu. Mereka mempersilahkan kami masuk ke ruang gelap. Hore! Saatnya menyaksikan pertunjukan yang sesungguhnya.

Makhluk-makhluk ajaib itu ternyata telah menanti kami di ruang gelap. Mereka berkeliaran di antara bangku-bangku, menyambut para calon penonton yang mencari nomor bangku. Ada tambahan satu makhluk lagi. Sekujur tubuhnya di tempeli wajan dengan pinggiran berkerlap-kerlip. Dan ia suka berteriak. Dan saya ngeceng si Kakek Meja. Oh ya, ada satu makhluk baru lagi yang stay di panggung (dan ternyata masih ada beberapa tokoh baru lainnya), kali ini serba panci. Ampun deh.

Alkisah, Putri Embun hidup dengan penuh keceriaan bersama si bencong sendok, panci manusia aluminium, Kakek Meja, Nenek Kursi, dan tiang-jemuran-hidup di bawah nyanyian rembulan (iya, rembulannya nyanyi!). Pangeran Bintang sendiri tinggal dalam teko, sama tinggi dengan rembulan. Pangeran Bintang melihat Putri Embun di bawah. Ia turun lalu ikut menari bersama koloni Putri Embun. Sementara Pangeran Bintang kemudian mengajak Putri Embun menikmati indahnya pemandangan dari dalam teko, para teman Putri Embun membangun Negeri Cinta. “Kerja! Kerja! Mari kerja!” begitu nyanyi mereka. Para karakter membuat saya bingung dengan tingkah mereka yang begitu jumpalitan. Ah, coba tengok rembulan lagi apa. Kan tak mungkin ia begituan di atas sana, bisa rusak propertinya nanti. Oh, rupanya ia sedang makan apel. Baca buku. Bikin jus. Enak benar yang jadi rembulan itu.

Pangeran Bintang dan Putri Bulan turun kembali ke lantai panggung yang sudah jadi Negeri Cinta. Mereka main air. Ekspresi-ekspresi lebay penuh rasa jatuh cinta. Buat orang yang tak mengenal romansa macam saya lama-lama ini terasa memuakkan. Apalagi pada Putri Embun dengan ekspresinya yang seolah dunia berpusat pada dirinya saja. Oh, semoga di akhir ia tewas diuapkan matahari, diminum kucing, atau apa begitu.

Kedatangan monster wajan membuat saya bersyukur. Syukur ia menganggu Putri Embun. Ayo, takuti ia terus, buat ia lari ke luar panggung! Jempol buat jeritannya Putri Embun. Pangeran Bintang kebingungan jadinya. Monster wajan rupanya juga suka pada Putri Embun. Ia menculik cewek tersebut dan mengurungnya di suatu tempat di mana Putri Embun bisa asik mendengarkan musik. Sementara itu, kawan-kawan Putri Embun berusaha menyelamatkan Putri Embun. Panci manusia aluminiumlah akhirnya yang berhasil mengeluarkan Putri Embun dari tawanan, setelah sebelumnya menaklukan anak buah monster wajan. Pangeran Bintang muncul lagi. Saat memerhatikannya, saya jadi sadar bahwa ia memang mirip Aming. Pertarungan antara geng monster wajan dan Putri Embun cs kemudian tak terhindarkan. Gontok-gontokan, ye!

Akhir dari perseteruan ini dimudahkan oleh kehadiran seorang malaikat kecil yang punya remot ajaib. Dengan remotnya itu, ia me-rewind-forward-kan seenaknya pergerakan para karakter lain—kecuali rembulan yang sedang sama-sama menyaksikan. Singkat cerita, akhir cerita tak berakhir mengecewakan bagi saya. Pangeran Bintang dan Putri Embun akhirnya menemukan cinta sejatinya masing-masing. Seharusnya pertunjukan ini diberi judul “Putri Embun Bikin Panci Berkarat”.

Selain itu kehadiran sepasang ibu-anak di mana ibu itu selalu memarahi anaknya, anaknya menangis, mereka berkejaran dengan heboh (tapi saya suka adegan ini), dan lainnya, agak membingungkan juga. Entah apa maksudnya. Baru saya merasa bisa mengerti setelah baca leaflet. Ibu-anak ini diperankan oleh mereka yang berperan juga sebagai Nenek Kursi (tentu saja tanpa menggendong kursinya) dan si malaikat kecil (ya, tanpa celemek dan saringan menggantung terbalik di atas kepala). Begitulah dunia imajinasi.

Usai pertunjukan, Ayunina ingin berfoto bersama para pemain. Saya ikut saja. Kakek Meja dan Nenek Kursi amat terbuka ketika diminta berfoto bersama. Saya menyukai mereka! Si bencong sendok nampak lelah namun ia harus tetap heboh kala difoto dong. Kami juga berfoto bersama si malaikat kecil dan Mas Panci. Karena suasana terasa makin crowded saja, saya mengajak Ayunina lekas ke luar. Kurang minat rasanya hendak berfoto bersama lain pemain seperti Pangeran Bintang, rembulan, Putri Embun, orang-orang tinggi, dan lain-lain. Ah ya, si tiang jemuran yang di akhir penampilannya jadi vampir dan si kuda centil juga tak nampak. Saking ingin lekas ke luar bangunan, kami sampai lupa mengisi dan mengumpulkan angket.


Segalanya bermula dari kertas

Bangunan sebelah jauh lebih hening. Apalagi begitu masuk ke dalamnya. Kami dipamerkan berbagai coretan di atas berbagai macam kertas. Ada kertas bekas ketikan yang di-tipe-X, kertas notes, kertas buku gambar, kertas buku tulis, sampai kertas map. Yang tergurat di atas mereka bisa jadi bagai guratan seorang anak yang baru belajar menggunakan pensil maupun hasil tarian kuas yang tak semua orang menguasai. Kebanyakan sekedar sketsa. Ada yang sudah jadi komik. Sebagian saru. Beberapa merupakan karikatur satir. Diari grafis juga ada.

Seperti tak ada habisnya sisi demi sisi dinding yang belum saya telusuri. Kertas-kertas ini dideretkan menurut tahun penciptaannya, mulai dari tahun 80-an—kalau tak salah—hingga 2000-an. Lewat mereka, kita bisa menerka bagaimana proses kreatif yang telah dijalani oleh seorang seniman, Ugo Untoro. Setiap hari ia mencoret sesuatu di atas kertas—kertas apapun itu. Hasilnya ada yang bisa dinikmati, ada yang tidak, pokoknya torehkan sesuatu di atas kertas setiap hari! Tidak peduli bagaimana pun hasilnya nanti! Bermula dari kertas-kertas inilah, eksis seorang Ugo Untoro.

Pembelajaran ini bukan sesuatu yang baru bagi saya, saya kira. Namun cukup dapat mengingatkan saya akan makna sebuah proses kreatif. Bagi saya konteksnya mungkin ke dunia kepengarangan. Seperti Ugo, siapapun yang merasa pengarang seharusnya mengarang setiap hari—di mana saja, bagaimanapun hasilnya. Dan segalanya bermula dari kertas. Bahkan mungkin batu atau daun lontar.

Pada zaman sekarang mungkin ada yang tak bisa mengeluarkan kata kalau jemarinya tak menyentuh tuts kibor. Sungguh sayang jika proses kreatif harus tersendat hanya karena keterbatasan teknologi—seakan kita dikuasai olehnya: tanpa mereka, kita tak bisa menjadi. Memang ada apa dengan kertas bekas alas bapao? Bukankah J. K. Rowling, penulis tersohor itu, pernah menggurat kisah Harry Potter nan termahsyur di atas tisu gratisan dari kafe?

Satu hal yang saya sadari kala membaca “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang” (editor: Pamusuk Eneste, KPG, 2009), proses kreatif itu memakan waktu panjang. Diperlukan ketekunan dalam menitinya. Proses kreatif adalah latar belakang di balik kemunculan karya. Jika kita tak menghargainya, bagaimana bisa karya yang terhasil dari itu cukup berharga untuk dihargai? Proses kreatif harus terus dipacu. Tak ada jaminan jika terhenti akan mudah untuk meletupkannya lagi. Hargai, luapkan, dan keterbatasan media sesungguhnya bukan suatu yang pantas dianggap sebagai penghalang.


***
Solat magrib di masjid samping TBY. Terombang-ambing selama sekitar 2 jam dari depan Benteng Vrederburg hingga Kentungan dalam Trans Jogja. Makan malam dengan lumpia dan setengah potong mendoan—pemberian teman kos. Mengetik ini hingga waktu tersisa 3 jam saja untuk istirahat sebelum persiapan survei KKN.


sumber gambar buku
argh, mengapa sebagian foto setelah diunggah jadi pada gepeng?! 

2 komentar:

  1. Halo, thks for reading Petualangan Buana dan Ema ya...
    Iya, buku ini memang ada terusannya, yaitu "Raja Laut yg penakut", bhkn ada yg ketiga di TN Komodo tp tdk jadi diterbitkan oleh Gramedia :)

    BalasHapus
  2. terima kasih sudah mampir, mbak. :) ingin baca terusannya juga. sayang sekali yang di TN Komodo tidak diterbitkan padahal kita lagi gembar-gembor satwa khasnya, hehe...

    BalasHapus

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain