Sabtu, 07 September 2013

I           : Varian Zebra
Hari ini kami diberikan kertas bergambar zebra. Kami ha­rus mewarnainya. Aku tidak mau zebraku jadi zebra bi­a­sa. Maka aku mewarnai belangnya dengan spidol me­rah. Ja­di zebraku bukan zebra cross, tapi zebra na­si­o­nal­is, se­perti buyutku waktu zaman penjajahan Belanda. Bu­yut­ku anggota KNIL. Keren kan? [1] Di sebelah kananku Ani­la le­bih ajaib lagi. Ia mewarnai belang di zebranya dengan ber­tu­rut-tu­rut warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu. Pelangi seperti mendarat di zebranya. Indah sekali. Di se­belah kiriku Karim malah tidur. Kepalanya miring mem­be­lakangiku. Tapi aku masih bisa mengintip hasil pe­ker­ja­annya di bawah kepalanya. Ia tidak mewarnai se­su­ai garis. Zebranya separuh hi­tam separuh putih, di­pi­sah­kan oleh garis lurus yang ia buat sendiri. Mungkin ze­branya peranakan tapir. Garis untuk warna belang ze­bra di bagian yang putih ia biarkan saja. Ma­lam­nya aku ber­mimpi menunggangi zebraku di padang ber­bu­kit-bu­kit hi­jau yang tetumbuhannya menyerupai per­men-per­men. Di samping kananku Anila dengan ze­bra­ pelanginya ber­ker­lap-kerlip. “Di rumah aku tam­bah­in glitter,” ka­­ta Ani­la ce­ria. Karim menyusul tidak lama ke­mu­dian. Ia me­­ngen­da­rai seekor kuda berwarna abu-abu di samping ki­ri­ku. “Ini bu­kan ku­da, ini zebra,” katanya seolah bisa men­de­ngar pi­­kir­an­ku. “Bukannya tadi zebra kamu warnanya hi­tam-pu­tih?” ujar­ku. Jawabnya, “Iya. Tapi kan aku ke­ti­dur­an. Te­rus kelunturan ilerku.”[]


II          : Asal-usul Nyamuk
Malam itu bising sekali. Banyak nyamuk ber­se­li­wer­an di se­kitarku. Memang aku buka jendela karena ha­wa gerah. Lam­pu juga kupadamkan karena aku tidak bi­sa tidur ka­lau silau. Kutepuk nyamuk yang hinggap di le­ngan kiriku. Da­lam keremangan cahaya bulan yang me­ne­robos lewat jen­dela, aku bisa melihat nyamuk itu ter­gu­ling ke sisiku. Be­kas tepukanku tidak meninggalkan da­rah sama sekali. Da­lam sekedip, sekonyong-konyong nya­muk tersebut men­jelma sosok serupa manusia tak berbaju. Ce­pat-ce­pat kulempar se­limut untuk menutupi tubuhnya. Un­tung ia ha­nya ping­san. Ketika ia siuman, teranglah mis­terinya. Be­gini ce­ri­ta­nya: “Dulu kami menjelma ke­le­la­war. Tapi ke­mudian ma­nu­sia menjadi semakin banyak. Ka­mi pun ber­alih ke wu­jud yang lebih efisien, walau ri­si­ko­nya lebih rentan. Jadi nya­muk, mampuslah engkau sekali te­puk.” La­lu aku ber­ta­nya, “Apa setiap makhluk yang Anda gigit akan jadi vam­pir ju­ga?” Dia menjawab, “Tentu tidak. Ma­af-maaf sa­ja ya. Kalau ingin regenerasi, kami juga pi­lih-pi­lih.” Lalu aku mem­biarkannya terbang kembali. Ma­lam be­rikutnya aku la­gi-lagi sulit tidur. Guling ke sana ke­ma­ri. Hei, Nya­muk, bo­leh-boleh saja kalian gigit aku, tapi mbok ya tidak usah ber­denging-denging begitu. Berisik ta­hu. Wa­lau mung­kin itu tanda kalian masih punya harga di­ri. Ka­lian be­ri kami si­nyal agar kami pun mengerahkan per­ta­hanan di­ri, de­ngan mengibas-ngibas, menepuk-ne­puk, atau me­nyem­­prot bau-bauan. Sehingga upaya ka­li­an men­cari ma­kan bu­kanlah ker­ja yang pengecut, seperti ku­­tu busuk yang meng­­isap di­am-diam dari dalam kasur, me­­lainkan su­atu per­­juangan. Un­tuk ke sekian kali aku ber­­guling, meng­ha­dap jen­dela. Ti­ba-tiba beberapa sosok ber­jubah tam­pak. “Ber­dasarkan penilaian yang te­lah kami la­kukan se­la­ma ini, kami rasa Anda adalah kan­didat yang te­pat,” ucap sosok yang di tengah. So­sok di sampingnya me­nim­pali, “Se­lamat, Anda ter­pi­lih...” Sosok mereka men­­dekat de­ngan cara seperti me­la­yang. “Hei, hei, ter­pi­lih apa…?” Aku tidak dengar jelas ta­di. Aku beringsut mun­­dur. Me­re­ka menerkamku di be­be­ra­pa bagian. Tapi me­reka ti­dak ta­hu kalau aku ve­ge­ta­ri­an. Maka ketika ma­lam-malam me­­reka menyambangi ka­sur demi kasur, aku ber­buru bu­ah ranum ber­sama para nya­muk kebun.[]


III         : Si Tampan Maut
Hiduplah seorang pemuda yang ketampanannya sung­guh terlalu. Gerak-geriknya mengguncangkan jiwa, hing­ga banyak pasien baru di panti rehabilitasi. Senyum-sa­pa­nya meluluhkan hati, hingga penyakit kuning mewabah ke seantero negeri. Ke mana ia berjalan, gadis-gadis meng­ikuti. “Tampan, bolehkah kami mengelusmu?” tanya se­orang gadis. “Boleh,” jawab Tampan. Begitu berhasil meng­elus si Tampan, melelehlah gadis-gadis itu di­bu­at­nya, hingga meninggalkan kubangan di jalanan. Warga ti­dak tahu bagaimana membereskannya. Mereka bi­ar­kan ku­bangan-kubangan itu diuapkan mentari dan me­ne­bar aro­ma bangkai ke seantero negeri. Populasi gadis me­ro­sot drastis. Para anggota dewan berkumpul untuk men­dis­kusikan masalah ini. Kehadiran pemuda itu di­ang­gap meng­ancam kelangsungan negeri. “Masa depan ne­ge­ri ini ada di rahim para gadis. Pemuda itu tidak boleh ber­a­da di negeri ini lebih lama lagi.” Tapi gadis-gadis te­lah ka­dung dimabuk berahi. Mereka mencakar-cakar diri sa­at pe­muda itu dikerangkeng tentara, dan dibawa ke hu­tan nun jauh terpencil. Selama perjalanan yang berputar-pu­tar, penglihatan pemuda itu diselubungi kain erat-erat su­pa­ya ia tidak tahu arah kembali. Ia lalu ditinggalkan di se­bu­ah gua, bersama penyesalannya karena menjadi ter­la­lu tampan.[]



[1] Sebetulnya KNIL bekerja untuk Belanda. Jadi ini salah kaprah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain