Senin, 31 Maret 2014

Pembacaan Ernest Hemingway Sejauh(dekat—deng) Ini

Potret Hemingway yang pernah saya
Ernest Hemingway sepertinya salah satu penulis Amerika Serikat paling kesohor, termasuk di Indonesia. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah dua di antaranya yang saya sudah baca adalah kumpulan cerpen Salju Kilimanjaro serta novel Pertempuran Penghabisan. Keduanya diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, dan boleh dipinjam dari perpustakaan universitas asal kartu anggotanya masih valid. Jujur saja, secara umum pembacaan keduanya tidak membekas bagi saya. Padahal, Hemingway, lo. Pengarang termasyhur! Kurang hebat apa dia? Boleh jadi karena tiga faktor: (1) Gaya penulis; (2) Terjemahan; (3) Dan pastinya, rendahnya daya tangkap pembaca (ehm). Mengenai gaya penulis, Hemingway dikenal dengan gayanya yang objektif serta menerapkan prinsip “gunung es”, yakni: apa yang disuguhkan pada pembaca itu baru 1/8 bagian daripada maksud pengarang—selebihnya ditenggelamkan di bawah permukaan. Pembaca mesti berupaya lebih untuk dapat memahami makna cerita. Mengenai terjemahan, saya tidak hendak mempermasalahkannya sih lagipun dalam catatan saya memang tidak ada keluhan soal itu. Nah, mengenai rendahnya daya tangkap pembaca inilah yang bikin faktor pertama dan kedua jadi tiada artinya, ha-ha-ha. Karena itulah, catatan pembacaan ini ditulis untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. (?)

Sumber
Catatan pembacaan saya atas Salju Kilimanjaro bertanggal “181107”. Terutama saya menyalin ciri-ciri daripada gaya kepenulisan Hemingway (dalam pengantar yang ditulis oleh Melani Budianta) yang saya rasa menggugah. Adapun komentar saya terhadap cerpen-cerpen dalam kumpulan itu sendiri cuman begini:

Cerita-cerita yang di tengah itu kadang agak enggak jelas maksudnya apa, terutama Father and Son.
Salju Kilimanjaro (√)
Tempat yang Bersih dan Tenang (gitu deh)
Sehari Menunggu Maut (ini nih, lucu punya, paling kusuka)
Penjudi, Perawat, dan Radio (lumayan)
Ayah dan Anak (hh)
Di Negeri Asing (hm)
Pembunuh Bayaran (lumayan)
Goncangan Jiwa Seorang Berkas Sedadu (yang mana ya?)
Lima Puluh Ribu Dolar (ah, enggak begitu…)
Kebahagiaan Hidup Francis Macomber yang Singkat (butuh banyak lembar untuk membangun suasana, tapi akhirannya oke juga)

Mohon dimaklumi. Pada masa itu saya baru memulai kebiasaan menuliskan pembacaan. Peace.

Kover Pertempuran Penghabisan
(alias A Farewell to Arms edisi
Indonesia) ada beberapa versi.
Sepertinya saya baca yang kovernya
ini. Sumber.
Bagaimanapun dalam catatan pembacaan karya Hemingway berikutnya, Pertempuran Penghabisan, yang bertanggal “051208”, saya mengatakan kalau saya terkesan dengan Salju Kilimanjaro walau ada beberapa cerpen di dalamnya yang saya tidak mengerti, dan akibatnya saya “sempat menjadikan Hemingway sebagai penulis favorit…” (O_o). Tapi setelah Pertempuran Penghabisan, saya “enggak bisa lebih lama mempertahankan itu.” (ah, labil!) Saya menulis: “…ceritanya… kurang gimana gitu. … aku enggak menangkap esensi lain selain perdamaian itu. … bukan novel yang bisa aku rekomendasikan…” Salju Kilimanjaro masih mending.

Begitulah. Lima tahun berselang. Kali ini saya dihadapkan pada cerpen “Hills Like White Elephants” yang dirilis pada 1927. Teks dalam bahasa Inggris bisa diakses di sini. Terjemahan cerpen ini dalam bahasa Indonesia bisa ditemukan dalam buku Antologi Cerpen Nobel (ed. Wendoko) yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang—cetakan yang ada pada saya adalah yang pertama, Mei 2004—juga di Fiksi Lotus. Pertama-tama, saya membaca cerpen ini sekali dalam teks bahasa Inggris. Pembacaan pertama dalam bahasa Inggris biasanya tidak langsung mengena, buat saya. Khusus untuk “Hills Like White Elephants”, kendati bahasanya cukup simpel dan kesannya pun cair karena didominasi oleh percakapan, saya masih belum dapat menangkap seketika masalah apa yang dikemukakan.

Jadi ada sepasang laki-laki dan perempuan di sebuah bar di area stasiun. Mereka tengah menunggu kereta dari Barcelona yang menuju ke Madrid. Yang laki-laki berasal dari Amerika sedang yang perempuan tidak disebutkan dari mana, namun ia dipanggil “Jig” dan tidak mengerti bahasa setempat. Yang laki-laki tampaknya lebih tahu mengenai berbagai hal daripada yang perempuan. Mulai dari minuman, komunikasi dengan wanita setempat, sampai sesuatu mengenai operasi. Cuaca amat panas dan di sekeliling area tersebut terdapat pemandangan alam. Menurut yang perempuan, bukit-bukit di sekitar situ tampak seperti gajah-gajah putih. Namun yang laki-laki tidak begitu terkesan, malahan membujuk yang perempuan untuk mengikuti “operasi”. Yang perempuan merajuk, sementara yang laki-laki terus mengkhawatirkannya. Pada akhirnya yang perempuan mengatakan kalau ia baik-baik saja.

Source

Sampai mata saya menyoroti barisan pertanyaan di sesi TOPICS FOR DISCUSSION AND WRITING. Ada kata “abortion” di sana. Kalau ada istilah momen “AHA”, maka yang saya rasakan pada waktu itu adalah momen “OH”. Jadi ini cerita tentang aborsi. Yang dimaksud yang laki-laki dengan “operation” adalah “abortion”. Yang laki-laki membujuk yang perempuan untuk melakukan aborsi namun yang perempuan keberatan makanya ia seperti merajuk.

Saya kemudian membaca terjemahan versi Antologi Cerpen Nobel. Tentu saja tidak ada barisan pertanyaan sesudahnya. Kalau saya membaca cerpen ini begitu saja dalam buku tersebut tanpa membaca keterangan mengenainya, saya mungkin akan meninggalkannya begitu saja tanpa kesan apa-apa. Tidak ada kata “aborsi”—“abortion”—sama sekali dalam teks. Dan pembaca sebaiknya telah memiliki pengetahuan yang luas mengenai simbol karena petunjuk mengenai aborsi ternyata terpendam dalam kiasan “bukit-bukit bagai gajah putih”. Bahkan judul cerpen itu sendiri sudah mengindikasikan hal tersebut! Dari keterangan soal aborsi itu kita tahu kalau yang perempuan jangan-jangan hamil. Bukit-bukit yang tampak seperti gajah-gajah putih itu diibaratkan sebagai payudara dan atau perut yang membesar (seperti gajah) ketika seorang perempuan hamil. (Apalagi kalau perempuan tersebut adalah seorang kaukasoid—berkulit putih.)

Terjemahan versi Fiksi Lotus agaknya mencoba untuk memperjelas sedikit cara penyampaian dalam cerpen tersebut. (Walau pembubuhan judul yang tidak sesuai dengan pengertian daripada judul aslinya itu jadinya malah mengaburkan “simbol”/”petunjuk” yang padahal sudah diberikan sejak awal sekali.) Ditambah dengan adanya poin-poin diskusi dan beberapa tanggapan, makna cerpen ini pun menjadi lebih jelas lagi.

Yah, orang bisa menginterpretasikan apapun dari detail-detail yang dianggapnya simbol. Itu pulalah yang membantu kita dalam memahami makna cerita.

Hemingway dipuja-puji karena gayanya yang teramat (kalau bukan keterlaluan) efisien ini. Tapi bagi pembaca yang karakternya “malas berpikir” macam saya, hasilnya hampir-hampir tidak menempel. Kurang menyentuh perasaan. Boleh jadi gaya yang “objektif” itu pulalah yang menjadikannya terasa dingin, datar. Konon, Hemingway itu “…tidak suka membuat kalimat atau paragraf yang terlalu panjang karena khawatir pembacanya justru sulit menangkap/mengerti…” (sumber: sini). Selain itu, menurut kutipan dalam pengantar Salju Kilimanjaro, halaman xvii, “…karya Hemingway bisa digolongkan teks yang writersly, yang mengundang pembacanya untuk ikut menulis, mengisi makna dan interpretasi di antara/di balik baris-baris kalimat yang tersedia.” Tapi kok bagi saya kalimat atau paragraf yang panjang itu lebih baik, asal jelas dan bahasanya sederhana, tidak bertele-tele. Selain itu, masalah mengundang-untuk-ikut-menulis-atau-tidak itu relatif sekali dan agaknya saya tidak perlu memperpanjang corat-coretan ini dengan membahas soal itu. Bisa juga karena Hemingway mengusung tema-tema yang tidak dekat dengan kehidupan saya, semisal asmara dan petualangan, makanya saya tidak tergugah olehnya. (kering sekali hidupmu, day.)

Hemingway memenangkan penghargaan Nobel untuk kategori Sastra pada 1954. (Dan tidak semua pemenang Nobel Sastra seterkenal dia, ya toh?) Maka, katanya begitulah yang dinamakan “karya sastra”. Sebentuk tulisan yang digarap dengan “cantik” dan tidak cukup dibaca sekali melainkan harus diiringi dengan perenungan. Tidak hanya harus berpikir ekstra, pembaca kalau perlu juga mencari keterangan dari manapun—komentar, kritik, biografi penulis, dan sebagainya—supaya lebih mudah baginya memahami karya tersebut. Mencerdaskan, atau merepotkan? Kalau ingin cerdas mesti rela repot kali ya… hm…[] 

Kamis, 27 Maret 2014

“Kekukuhan” [Virginia Woolf, 1918]

Catatan: Ini lebih tepat disebut "menyederhanakan" ketimbang "menerjemahkan". Kalau pemahamanmu terhadap bahasa Inggris cukup baik, baik, baik sekali, atau sangat baik, saya sarankan untuk membaca teks ini saja. Saya pernah membicarakan cerpen ini sebelumnya di sini. Memang pada awalnya cara pengungkapan dalam cerpen ini terasa mengerikan, namun setelah meniliknya kata demi kata, terasa kepedihannya :-| Mudah-mudahan upaya penyederhanaan ini cukup enak dibaca. 

Tambahan: Atas saran Kang Andika, saya ganti judul cerpen ini, yang asalnya "Benda Pejal", dengan yang rasanya lebih tepat: "Kekukuhan".


Satu-satunya yang bergerak di lingkar pantai itu adalah sebuah titik hitam kecil. Titik itu mendekati rangka sampan yang terdampar. Dari kepekatannya yang merenggang, terlihat bahwa titik itu memiliki empat kaki. Sebentar kemudian, makin tak teragukan lagi bahwa titik itu terdiri dari dua orang pemuda. Bahkan pada bayangan yang melekat di pasir, tampak adanya semangat yang tak tergoyahkan dalam diri mereka. Daya hidup yang tak terperikan dalam ayunan tubuh mereka, walau sedikit, mengejawantah dalam perdebatan sengit yang keluar dari mulut di kepala-kepala bundar kecil itu. Terlihat dalam jarak yang lebih dekat, terjangan yang berulang-ulang dari sebatang tongkat di sisi kanan. ‘Maksudmu… Kamu benar-benar yakin…’ demikian tongkat di sisi kanan dekat ombak itu seolah menegaskan, seraya menyabet pasir hingga membentuk garis-garis lurus nan panjang.

‘Persetan dengan politik!’ keluar dengan jelas dari orang di sisi kiri. Seiring dengan diutarakannya kata-kata itu, mulut, hidung, dagu, tipisnya kumis, topi wol, sepatu bot, mantel berburu, dan kaos kaki dua orang yang bicara itu menjadi semakin jelas saja. Asap dari pipa mereka membumbung ke udara. Tidak ada yang begitu kukuh, begitu hidup, begitu solid, bergejolak dan kuat sebagaimana dua raga tersebut sepanjang mil demi mil lautan dan gunungan pasir.

Mereka mengempaskan diri di dekat sampan. Keduanya tampak menghentikan perdebatan, dan menginsafi suasana; siap membicarakan hal yang baru—apapun itu. Charles, empunya tongkat yang sedari tadi mengiris-iris pantai sepanjang kurang lebih setengah mil, mulai meluncurkan lempengan-lempengan batu ke atas air; dan John, yang tadi menyerukan ‘Persetan dengan politik!’ mulai menggali-gali dengan jemarinya hingga jauh ke dalam pasir. Seiring dengan tangannya yang semakin masuk sampai melewati pergelangan, sehingga ia harus mengangkat lengan bajunya sedikit ke atas, sorot matanya meredup. Pudar segala pikiran dan pengalaman yang membubuhkan nuansa pada mata seorang dewasa, menyisakan pandangan yang polos dan jernih, tak mengungkap suatu apa selain keingintahuan, bagai mata bocah. Tak disangsikan lagi penggalian pasir itu menghasilkan sesuatu. Diingatnya bahwa, setelah menggali sebentar, air memancar mengelilingi jemari; lubang itu kemudian menjadi semacam parit; sumur; mata air; lorong rahasia menuju laut. Selagi menerka-nerka apa yang tengah dibuatnya, masih meraba-raba di dalam air, jemarinya menggenggam sesuatu yang keras—segumpal benda pejal—dan sedikit demi sedikit menarik bongkahan tak beraturan yang besar itu, dan mengangkatnya ke permukaan. Setelah dibersihkan dari pasir yang menyelimutinya, warna hijau terlihat. Benda itu berupa bongkahan kaca, saking tebalnya sehingga hampir tidak tembus cahaya; antengnya lautan telah mengikis sepenuhnya bagian tepi atau bentuk benda itu, sehingga sulit dikatakan apakah dulunya itu botol, gelas atau kaca jendela; bukan apapun melainkan kaca; hampir menyerupai batu mulia. Tinggal direkatkan pada lempengan emas, atau dilubangi dengan kawat, jadilah perhiasan; bagian daripada kalung, atau cahaya hijau majal pada jari. Bagaimanapun juga boleh jadi ini benar-benar permata; dikenakan oleh seorang Putri yang misterius, yang menyeret jarinya di air selagi duduk di buritan sampan dan mendengarkan budak-budaknya menyanyi sembari mendayung melintasi Teluk. Atau ada peti harta karun, dari lambung kapal kayu era Elizabeth yang tenggelam, pecah, dan isinya yang berupa zamrud berguling terus, terus-menerus, sampai akhirnya terdampar di pantai. John memainkan benda itu di tangannya; ia mengarahkannya pada cahaya; ia menggerakkannya hingga agregat yang tak beraturan itu mengaburkan bayangan dan memperpanjang lengan kanan kawannya. Warna hijaunya menipis dan menebal sepintas-sepintas ketika diposisikan pada matahari. Rasanya menyenangkan sekaligus mengherankan; benda itu begitu keras, begitu padat, begitu nyata dibandingkan dengan lautan yang tampak samar maupun pantai yang berkabut.

source
Helaan napas mengusiknya—dalam, penghabisan, menyadarkannya bahwa kawannya Charles telah melemparkan semua batu ceper dalam jangkauannya, atau telah menyimpulkan bahwa membuang-buang waktu saja melemparkan semua  itu. Mereka memakan roti lapis mereka bersisian. Seusai makan, sembari menggerak-gerakkan tubuh dan bangkit, John mengambil bongkahan kaca itu dan memandangnya dalam bisu. Charles mengamatinya juga. Tapi lekas ia melihat bentuknya yang tidak ceper, lalu seraya mengisi pipanya ia berucap dengan semangat untuk mengendurkan tegangnya pikiran nan bebal.

‘Kembali pada yang kukatakan tadi—‘

Ia tidak melihat, atau kalaupun ia melihat ia hampir tidak akan memerhatikan, bahwa John setelah memandang bongkahan itu sesaat, seakan dalam keragu-raguan, menyelipkannya ke dalam saku. Dorongan itu agaknya seperti dorongan yang menggerakkan seorang anak untuk memungut batu kerikil yang bertebaran di jalan, menjanjikannya kehidupan yang hangat dan aman di atas rak perapian di kamar, menikmati kemesraan sekaligus kelembutan daripada perbuatan tersebut, dan memercayai bahwa batu tersebut memiliki hati yang melompat-lompat gembira kala mengetahui dirinyalah yang terpilih dari sejuta yang sepertinya, untuk menikmati kebahagiaan ini daripada kehidupan yang dingin dan basah di jalanan. ‘Dari sekian juta batu bisa saja yang lain yang diambil, tapi toh aku, aku, aku!”

Entahkah pikiran itu ada atau tidak dalam benak John, bongkahan kaca itu telah ditempatkan di atas rak perapian, memberati setumpuk tagihan dan surat, dan tidak saja menjadi pemberat yang baik untuk kertas-kertas, tapi juga sebagai tempat pemberhentian alami bagi mata pemuda itu ketika teralih dari bukunya. Menatapnya lagi dan lagi separuh sadar, sementara benak memikirkan hal lain, bercampur dengan isi pikirannya sehingga bentuk benda itu menjadi lain daripada sebenarnya. Benda itu mengubah sendiri bentuknya, sedikit saja bedanya dari semula, menjadi sempurna, dan menggentayangi otak tanpa sedikitpun diharapkan. Demikian John merasakan dirinya tertarik ke jendela toko barang antik ketika ia sedang keluar berjalan-jalan, semata karena ia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada bongkahan kaca tersebut. Apapun selama itu adalah benda yang serupa, lebih kurang bundar bentuknya, boleh jadi dengan nyala yang redup terpendam dalam kompositnya, apapun—porselen, kaca, ambar, batu, marmer—bahkan telur burung prasejarah yang jorong mulus. Ia juga memasang matanya di atas tanah, terutama di sekitar lahan pembuangan sampah rumah tangga. Benda semacam itu sering kali terdapat di sana—dibuang, tak berguna lagi bagi siapapun, tak berbentuk. Dalam beberapa bulan ia telah mengumpulkan empat atau lima spesimen yang ditempatkannya di atas rak perapian. Bagi seorang lelaki yang tengah memiliki kedudukan di Parlemen dan berada di ambang karier yang brilian, benda-benda itu berguna untuk menahan kertas-kertas agar tetap rapi—pidato untuk para pendukung, deklarasi kebijakan, permohonan untuk tanda tangan, undangan makan malam, dan seterusnya.

Satu hari, ketika dalam perjalanan mengejar kereta dari tempat tinggalnya di Temple untuk berpidato pada para pendukungnya, matanya berlabuh pada benda aneh yang setengah tersembul di salah satu pagar rumput yang membatasi halaman sederet bangunan luas. Ia hanya bisa menyentuh benda itu dengan ujung tongkatnya melalui susuran tangga; tapi ia bisa melihat bahwa benda itu berupa sepotong porselen dalam bentuk yang sangat mengagumkan, hampir menyerupai bintang laut—dibentuk, atau secara kebetulan, menjadi lima sudut yang tidak beraturan namun tegas. Warnanya sebagian besar biru, namun dilapisi semacam garis-garis atau titik-titik hijau, dan adanya garis-garis merah tua menambah kesempurnaan serta kilauan yang amat memikat. John tergerak untuk memilikinya; tapi semakin ia berusaha, semakin jauh benda itu mundur ke belakang. Pada akhirnya ia terpaksa kembali ke tempat tinggalnya dan membuat cincin kawat sekadarnya yang dikaitkan dengan ujung tongkat. Dengan amat terampil dan hati-hati, ia berhasil menarik potongan porselen itu ke dalam jangkauan tangannya. Begitu ia dapat meraihnya, ia berseru dalam kemenangan. Pada saat itulah jam berdentang. Tidak mungkin ia dapat memenuhi janjinya. Pertemuan dijalankan tanpa dirinya. Tapi bagaimana bisa sepotong porselen terpecah menjadi bentuk yang semenakjubkan ini? Setelah diamati dengan saksama, pastilah bintang ini terbentuk secara kebetulan, yang justru membuatnya makin unik. Tak mungkin ada yang lainnya dalam kehidupan ini. Ditempatkan di ujung yang berlawanan pada rak perapian dengan bongkahan kaca yang digali dari pasir, benda itu tampak seperti makhluk dari dunia lain—ganjil dan luar biasa warna-warninya. Berputar-putar di angkasa, cahayanya berkedip-kedip bak bintang gemerlap. Kontras antara porselen yang begitu mencolok dan tajam, dan kaca yang begitu hening serta membangkitkan perenungan, memesonakan dirinya. Terheran-heran sekaligus terkagum-kagum ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, bagaimana keduanya dapat berada di dunia yang sama, apalagi bersanding bersama bebatuan lainnya dalam satu bidang sempit di ruangan yang sama. Pertanyaan itu tak kunjung terjawab.

Kini ia mulai menyambangi tempat-tempat yang paling banyak menyimpan potongan porselen, seperti bagian-bagian daripada lahan pembuangan di antara rel kereta, tapak-tapak rumah yang telah dirobohkan, dan ruang-ruang publik di kawasan London. Namun jarang porselen yang dibuang dari ketinggian tertentu; perbuatan yang paling jarang dilakukan oleh manusia. Kemungkinannya bisa diperoleh apabila di sebuah rumah yang teramat tinggi terdapat wanita yang kelakuannya sembrono serta memiliki prasangka yang menggebu-gebu, menjatuhkan guci atau jambangannya dari jendela tanpa berpikir siapa yang sedang berada di bawah. Cukup banyak potongan porselen yang bisa dijumpai, tapinya pecah akibat kejadian rumah tangga biasa, tanpa maksud atau dasar tertentu. Meskipun begitu, ia sering heran, seiring dengan makin mendalam pertanyaan-pertanyaan yang dipikirkannya, akan banyaknya variasi bentuk yang dijumpai di London saja. Dan masih ada banyak lagi yang menjadi keheranan dan pemikirannya dalam hal kualitas dan pola. Spesimen yang paling baik akan dibawanya pulang dan ditempatkan di atas rak perapiannya, padahal, biarpun begitu, kegunaan mereka lebih seperti hiasan alami belaka, semenjak kertas-kertas yang perlu diberi pemberat telah berkurang jumlahnya dan semakin jarang.

Ia mengabaikan pekerjaannya, boleh jadi, atau menunaikannya dengan lalai. Para pendukungnya kala mengunjunginya tidak begitu terkesan dengan penampakan rak perapiannya. Bagaimanapun ia tidak terpilih menjadi wakil mereka di Parlemen. Kawannya Charles sangat iba dan lantas turut berduka dengannya, mendapatinya dalam kesedihan akibat musibah tersebut, hingga ia hanya bisa menduga bahwa persoalan ini amatlah serius untuk dapat dihadapinya secara mendadak.

Pada kenyataannya, hari itu John pergi ke Barnes Common, dan di bawah semak kekuningan ia menemukan sepotong besi yang sangat mengagumkan. Bentuknya hampir menyerupai kaca, padat dan bundar, namun dingin dan berat, hitam dan menyerupai logam, sehingga rasanya bukan berasal dari bumi melainkan dari salah satu bintang yang telah padam, atau dari kerak bulan. Benda itu memberati sakunya; memberati rak perapian; memancarkan dingin. Sekalipun begitu, meteorit tersebut menempati birai yang sama dengan bongkahan kaca dan porselen yang berbentuk bintang.

Seraya matanya menyorot dari satu ke yang lain, kebulatan tekad untuk memiliki lebih banyak lagi benda-benda tersebut menyengsarakan si lelaki muda. Ia semakin teguh mencurahkan dirinya pada pencarian. Seandainya saja ia tak termakan oleh ambisi dan keyakinan bahwa suatu hari akan ada ganjarannya dalam tumpukan rongsokan yang baru ditemukan, kekecewaan yang ia alami, belum lagi kepenatan dan cemooh, akan membuatnya menyerah dengan perburuan itu. Dilengkapi dengan kantong dan tongkat panjang yang dipasangi kait yang dapat disesuaikan, ia menggedor-gedor setiap lapisan bumi; menggaruk-garuk di bawah semak belukar yang kusut masai; menelusuri seluruh lorong dan celah-celah di antara dinding—berharap dapat menemukan benda-benda semacam itu dibuang di sana. Seiring dengan standarnya yang semakin meningkat dan seleranya yang semakin tinggi, tak terkira banyaknya kekecewaan yang ia dapatkan, namun selalu ada sekilas harapan, sepotong porselen atau kaca yang entahkah sengaja dibentuk atau terpecah, yang menggodanya. Hari demi hari berlalu. Ia tak lagi muda. Kariernya—karier politiknya—sudah lewat. Orang-orang berhenti mengunjunginya. Ia begitu pendiam hingga tak ada gunanya mengundang dirinya ke acara makan malam. Ia tak pernah membicarakan ambisi seriusnya ini pada siapapun; kurangnya pengertian tampak dari tindak-tanduk mereka.

Ia tengah bersandar di kursinya dan mengamati Charles mengangkat batu-batu di rak perapiannya sampai lusinan kali dan menaruh mereka lagi dengan sungguh-sungguh untuk menyatakan apa yang dikatakannya mengenai kepemimpinan di Pemerintahan, tanpa sedikitpun mengindahkan keberadaan mereka.

‘Ada apa sebenarnya, John?” ujar Charles tiba-tiba, berbalik dan menatapnya. ‘Apa yang membuatmu tahu-tahu menyerah seperti itu?’

‘Aku tak menyerah,’ ucap John.

‘Tapi sekarang kau tak punya kesempatan sedikitpun,’ sahut Charles dengan kasar.

‘Aku tak sependapat denganmu,’ kata John dengan yakin. Charles menatapnya dan merasa amat khawatir; kesangsian yang teramat sangat merasukinya; muncul perasaan ganjil bahwa mereka sedang membicarakan hal yang berbeda. Ia mengitarkan pandangan dan mendapati kemuraman yang menggentarkan, namun keadaan ruangan yang kacau malah membuatnya semakin sedih. Tongkat apa itu, juga kantong babut usang yang tergantung di dinding? Dan lalu batu-batu itu? Memandangi John, sesuatu yang kukuh dan asing dalam ekspresinya terasa menakutkan. Jelaslah, bahkan untuk sekadar hadir pada program partai baginya itu mustahil.

‘Batu-batu yang indah,’ ucapnya seringan mungkin; lalu menyampaikan bahwa ada janji yang harus ia tepati, ia tinggalkan John—untuk selamanya.[]

Senin, 24 Maret 2014

Yang Unik Menarik dari Sejarah

Baru-baru ini saya dikenalkan oleh adik saya dengan acara Horrible Histories di saluran Discovery Kids. Format acara ini semacam kumpulan sketsa komedi namun berlatar sejarah, khususnya sejarah Barat (Inggris, Amerika, Mesir, Yunani, dan sekitarnya). Kontennya pun disesuaikan untuk anak-anak. Ringan, lucu, dan berwawasan. Seringkali sketsa berupa parodi iklan atau acara terkenal seperti Master Chef. Ada juga yang berupa videoklip, namun sayang tidak ikut dialihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia kalau kita menontonnya di TV berlangganan. Memang akan lebih menyenangkan kalau bisa menonton acara ini dalam bahasa asli (kalau mengerti...). Salah satu videoklip yang saya suka tayang pada seri 2 episode 12. Sebuah lagu  tentang raja haus darah dari suku Inca bernama Pachacuti yang dibawakan dengan riang dan kocak (atau malah konyol....). Entah kenapa saking suka sama ini, saya sampai memutarnya berkali-kali dan selalu sambil keketawaan menontonnya. Pikiran serasa dilarikan sejenak. Padahal yang diceritakan dalam lagu itu sama sekali tidak lucu. Tapi perhatikan saja bagaimana ekspresi Matt Baynton, mas-mas berdaster yang memerankan Pachacuti dalam videoklip ini, dan dua ibu-ibu wanita pengiringnya.



Berikut saya sertakan liriknya dan cermati kenapa isinya sama sekali tidak lucu.

I'm Pachacuti, the Incan lord
All other tribes dreaded
My name means 'he who shakes the earth'
Not that I'm big-headed


When it comes to claiming nearby lands
I was the type to risk it
But it's how I treat dead enemies
That really took the biscuit


I drink from their skull
(Do the Pachacuti! )
Pull out their teeth whole
(Do the Pachacuti! )
Turn teeth into charms
(Do the Pachacuti! )
Make flutes out of their arms
(Pachacuti! )


Once on a hillside, my troops hid
To cause a rival strife
And when they jumped out, it looked like
The ground had come to life

The rocks they are my warriors
I then used to boast
And that little lie helped us win wars
But violence helped the most


I drink from their skull
(Do the Pachacuti! )
Pull out their teeth whole
(Do the Pachacuti! )
Turn teeth into charms
(Do the Pachacuti! )
Make flutes out of their arms
(Pachacuti! )


If you were a rival chief
We'd kill you fast and then
We'd stuff you like a scarecrow
But one for scaring men


Then we'd rest your bony fingers on
The stretched skin of your belly
And in the breeze, they'd tap that tum
Like a drummer, but more smelly! 


Drink from their skull
(Do the Pachacuti! )
Pull out their teeth whole
(Do the Pachacuti! )
Use their skin as a drum
(Do the Pachacuti! )
I've never had so much fun! 
(Pachacuti! )



Yep. Sejarah kadang berisi fakta-fakta unik entahkah menggelikan atau malah menyeramkan. Sisi-sisi inilah yang disuguhkan dalam Horrible Histories sehingga sejarah tampak menarik bagi pemirsanya. Contoh lain, tahukah kamu kalau wanita pada era Elizabethan di Inggris mewarnai rambut mereka dengan urin supaya tampak menyala seperti rambut ratu mereka? Tahukah kamu kalau rahib pada abad pertengahan memoles puncak kepala mereka dengan batu apung supaya tidak berambut? Tahukah kamu kalau orang-orang di Jerman pada masa Perang Dunia ke-2 menjarah kebun binatang demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sehingga yang tersaji di meja makan bisa saja daging badak, harimau, dan hewan liar lainnya?

Acara yang tiap episodenya berdurasi sekitar 30 menit ini mengingatkan saya pada acara serupa berjudul Histeria! yang pernah ditayangkan di RCTI tiap Minggu menjelang siang, kalau tidak salah saat saya masih SD (sekitar tahun 2000-an). Bedanya, Histeria! berupa kartun. Keduanya bisa diakses di Youtube. Selamat menikmati sejarah dengan jenaka![]

Selasa, 18 Maret 2014

LEMBAM

Terlalu banyak duduk itu tidak baik. Sesekali selingilah dengan berbaring.

Senin, 17 Maret 2014

Pengantar ke Dunia Sejarah

Buku Sejarah dan Sejarawan yang ditulis oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dan diterbitkan oleh PN Balai Pustaka ini tebalnya hanya 24 halaman. Di halaman paling akhir, terdapat titimangsa: “Jakarta, 28 Oktober 1963”. Pertama kali diterbitkan pada 1964 dan dicetak ulang pada 1984, buku ini tentunya telah mengalami perubahan ejaan dari ejaan lama alias Ejaan Republik (1947) menjadi Ejaan yang Disempurnakan (1972). Ibu saya memperolehnya pada 29 September 1987 dengan harga 675 rupiah saja. Ringan bobotnya, ringan pula penyampaiannya. Ukuran hurufnya pun cukup besar. Sepertinya pas bagi yang baru ingin mendekati sejarah, sebelum mencicipi sejarah itu sendiri.


Jadi apakah sejarah itu? Peristiwa atau kisah? Ilmu atau seni? Apa gunanya? Siapakah sejarawan itu dan mungkinkah ia objektif dalam menuliskan karyanya? Bagaimana peranan sejarawan dalam masyarakat? Penjelasan daripada pertanyaan-pertanyaan tersebut terhimpun dalam lima bab yang saya coba sarikan sebagai berikut.

I.                    Sejarah sebagai Peristiwa dan Sejarah sebagai Kisah

Sejarah bisa berarti kisah tentang masa lampau, dan bisa pula berarti masa lampau itu sendiri (peristiwa). Pada hakikatnya yang kita hadapi adalah sejarah sebagai kisah atau lebih tepatnya sebagai karya orang yang menuliskannya, yakni sejarawan. Sejarawan menyusun karyanya berdasarkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh sejarah sebagai peristiwa. Jejak-jejak tersebut dapat berupa benda (bangunan, senjata, patung, dan lain-lain), tulisan (surat, majalah, dokumen, dan lain-lain), dan keterangan lisan.

II.                  Sejarah: Ilmu atau Seni?

Cara menuliskan kisah sejarah sebetulnya tidak seberapa berbeda dengan kisah sastra yang merupakan karya seni. Sungguhpun begitu, kisah sejarah tergolong kisah nyata. Sejarawan menggunakan cara-cara ilmiah dalam menganalisis sumber-sumber yang akan digunakannya. Tiap sumber diteliti sungguh-sungguh sehingga dapat dipercaya lalu dijadikan bahan untuk penulisan sejarah. Namun sejarah barulah disebut sejarah apabila bahan-bahan tersebut telah diolah dan dirangkai secara selaras sehingga menjadi suatu kisah. Adapun apabila hanya berupa daftar tahun dengan keterangan peristiwa di belakangnya, itu bukanlah sejarah melainkan kronik. Walaupun bahan-bahan yang digunakan telah teruji secara imiah, namun penulisannya tidak lepas dari penafsiran sejarawan. Bahan boleh sama, tapi dua orang sejarawan akan menuliskan dua kisah yang berbeda berdasarkan penulisan dan penyimpulan masing-masing. Bisa disimpulkan bahwa dalam taraf penelitian sumber-sumber, sejarah bersifat ilmiah, sedang dalam taraf penyimpulan dan penulisannya, sejarah bersifat seni. Maka sejarawan harus menggabungkan sifat seorang sarjana dan seorang seniman.

III.                Sejarawan dan Subjektivitas Sejarah

Mengapa dua orang sejarawan dapat menuliskan dua kisah yang berbeda mengenai peristiwa yang sama dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti: sikap berat sebelah pribadi, semisal sejarawan bisa saja menyukai tokoh-tokoh tertentu dan membenci yang lain; prasangka kelompok, semisal sejarawan Islam akan mempunyai pandangan yang berbeda dengan sejarawan Kristen mengenai Perang Salib; interpretasi berlainan tentang faktor sejarah, semisal apakah faktor politik internasional, faktor militer, atau faktor ekonomi yang menjadi pengaruh terbesar terhadap terjadinya suatu peristiwa?; dan pandangan dunia yang berbeda-beda, semisal tafsiran sejarawan keagamaan akan berbeda dengan sejarawan Marxis. Oleh sebab itu, objektivitas mutlak di dalam sejarah itu tidak mungkin. Sejarah sebagai kisah pada pokoknya bersifat subjektif, sesuai dengan kepribadian dan pandangan sejarawannya. Sungguhpun begitu, setiap sejarawan tetap harus mengusahakan objektivitas dalam keterbatasannya.

IV.                Apa Guna Sejarah?

Sedikitnya ada tiga manfaat yang bisa kita peroleh dari sejarah, yaitu: memberi pelajaran, memberi inspirasi, dan memberi kesenangan. Dari Perang Kemerdekaan Amerika misalnya, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemenangan bisa dicapai oleh pihak yang lemah berkat mengombinasikan perang kerakyatan yang gigih dengan diplomasi yang ulung. Dari pelajaran tersebut, kita mungkin terinspirasi dan tergerak jiwanya untuk ikut serta dalam mencetuskan suatu peristiwa besar. Adapun kesenangan dapat kita peroleh dari sejarah apabila kisah tersebut dituliskan dengan bagus sebagaimana sebuah karya sastra. Kita pun merasa dibawa melintasi waktu dan tempat, seolah menyaksikan kejadian-kejadian dalam suasana yang berlainan dengan suasana kita sekarang.

V.                  Peranan Sejarah dalam Masyarakat

Sejarawan seyogianya dapat memenuhi tiga kegunaan sejarah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dalam konteks Indonesia, penulisan sejarah harus diarahkan pada upaya menggapai cita-cita sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Sejarah Indonesia harus menekankan persatuan mengingat rakyat negeri ini yang majemuk. Dalam konteks dunia, sejarah hendaknya dapat menjadi pelajaran untuk menghindarkan malapetaka sejagat. Sungguhpun begitu, bukan berarti sejarawan harus merekayasa kenyataan dengan hanya mengedepankan peristiwa-peristiwa menyenangkan dan menggelapkan peristiwa-peristiwa memalukan.

Masih lebih banyak buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang luar negeri ketimbang oleh orang Indonesia sendiri. Sebagaimana tertera dalam bab pertama buku ini, “Sudah tiba saatnya orang Indonesia menuliskan sendiri sejarahnya…” (halaman 9).  Terlepas dari masalah perbedaan kualitas penulisan antara “produk luar” dan “produk lokal”, sejarah Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia sendiri, dengan keunikan kepribadian dan pandangan yang mewakili bangsanya, sekiranya dapat menjadi sebuah refleksi. Dan refleksi adalah awal dari perubahan. Perubahan ke arah yang baik, mudah-mudahan.[]

Minggu, 16 Maret 2014

Giganto: Primata Purba Raksasa di Jantung Borneo – Koen Setyawan (Penerbit Edelweiss, Depok, cetakan kesatu, Agustus 2009)

sumber
Novel yang ingin kau bacakan untuk anakmu sebelum tidur. Satu bab per malam. (Kemudian kau tahu kalau penulisnya memang telah menghasilkan puluhan judul buku cerita anak.) Sampai kau mendapati adegan-adegan sadis di bab-bab belakang. Bagaimana orang-orang mati dengan kepala terinjak atau wajah robek akibat serangan kera berukuran tiga kali lipat tubuh mereka. Sehingga kau perlu mempertimbangkan apa dampaknya jika anakmu sekecil itu sudah kau kisahkan yang begitu. Bagaimanapun novel ini mengingatkanmu akan novel-novel tipis yang biasa kau pinjam dari perpustakaan sekolah saat kau SD, yang isinya petualangan seru di hutan. Menurut rasamu ini novel yang mudah penyampaiannya. Apalagi sesekali disertai ilustrasi. Bagaimana si kera raksasa yang menjadi teka-teki dalam novel ini berhadapan dengan beruang madu (halaman 92). Bagaimana penampakan binturong—hewan serupa musang yang mencari makan pada malam hari (halaman 110). Bagaimana perbedaan tampang antara simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan—semuanya jenis kera besar (halaman 217). Bagaimana cap-cap telapak tangan di dinding gua peninggalan manusia purba yang bagai penonton bersorak-sorak (halaman 266). Gambar-gambar yang walaupun cuma memakan sebagian halaman dan tidak berwarna rasa-rasanya akan menarik untuk ditunjukkan pada anakmu, kendati kalau ukurannya besar, berwarna-warni, dan dicetak di kertas glossy tentu akan jauh lebih menarik tapi kalau begitu sih beli saja sekalian ensiklopedia untuk anak-anak. Kau tidak sering membaca novel maupun film bergenre petualangan, sehingga bagaimana kau hendak membuat penilaian? Selain dari segi tata bahasa karena sesekali kau temukan imbuhan “di” yang terpisah dari kata yang mengikutinya, penggunaan kata “acuh” yang salah kaprah, dan sebagainya. Bagaimanapun kau cukup menikmatinya walaupun dengan hanya membaca bagian belakangnya kau sudah bisa mengetahui garis besar cerita dalam novel ini, seperti dalam cerita-cerita detektif, semuanya dijelaskan di akhir. Setidaknya novel ini menjadi contoh bagimu bagaimana fiksi ilmiah dengan latar kehidupan alam. Kau juga terkesan dengan pengorbanan Komara—salah satu tokoh dalam novel ini. Demi menyelamatkan satu spesies langka yang dinamai Gigantopithecus blacki dari sorotan publik, ilmuwan yang asalnya meneliti orangutan ini rela meninggalkan kehidupan mapannya dan memencilkan diri ke pelosok Kalimantan. Suatu bentuk konservasi yang tidak diajarkan di perkuliahan jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan.[]  

Rabu, 12 Maret 2014

Gerakan Indonesia Menulis: Motivasi dan Realita

Kamis, 6/3/14, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (selanjutnya Kemenparekraf) menyelenggarakan semacam seminar mengenai Gerakan Indonesia Menulis di Hotel Golden Flower, Jalan Asia-Afrika (dekat perempatan sekitar Pasar Baru), Bandung. Jumlah peserta hanya sekitar tiga puluhan orang. Publikasi acara ini memang tidak besar-besaran. Para peserta datang karena undangan. Acara serupa sebelumnya telah diadakan di beberapa kota lain. Mendengarkan keterangan dari penyelenggara acara, saya seakan baru ngeh kalau industri kepenulisan itu ternyata masuk juga ke dalam bidang ekonomi kreatif. Maka penulis juga bisa disebut sebagai pekerja kreatif. Wow. Pemerintah ternyata menaruh perhatian juga pada kalangan penulis. (Mudah-mudahan saya tidak terlampau naif.)

Dalam struktur organisasi Kemenparekraf, di ranting dasar terdapat Subdirektorat Pengembangan Tulisan Fiksi dan Nonfiksi, yang bercabang lagi menjadi Seksi Tulisan Fiksi dan Seksi Tulisan Nonfiksi. Bidang ini memang masih baru dan jumlah stafnya pun tidak banyak. Berbeda dari Diknas yang konsentrasinya pada anak-anak sekolah, Kemenparekraf hendak merangkul komunitas-komunitas dan harapannya dapat menjembatani penulis dengan penerbit. Sedikitnya yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan acara semacam Gerakan Indonesia Menulis ini, dan kompetisi menulis yang diadakan sejak 2012. (Katanya kompetisi ini akan diadakan lagi April mendatang—coba pantau www.indonesiakreatif.net.) Hasil daripada kompetisi yang berupa buku kumpulan karya kreatif (puisi, cerpen, dan novel) itu dibagi-bagikan dalam acara, namun sepertinya distribusinya terbatas. Kalau dicari di toko buku sepertinya tidak ada. Padahal bisa kerja sama dengan penerbit yang beken ya. Tapi katanya penerbit pun sedih karena hanya sedikit masyarakat yang gemar membeli buku. Tapi bagaimana mau membeli buku, untuk makan sehari-hari saja harus perhitungan. Yang sebenarnya mampu membeli buku, malah mengoleksi baju. Namanya juga ekonomi. Orang harus menentukan pilihan. Kenapa buku mesti lebih menarik ketimbang baju? Persoalannya lantas bukan hanya daya beli (atau kesejahteraan), tapi minat baca pun memprihatinkan.

Acara yang menurut rundown harusnya dibuka pada pukul sembilan pagi ini baru dimulai sekitar sejam kemudian. Terdapat dua sesi yang kalau boleh saya katakan sesi pertama adalah sesi motivasi sedangkan sesi kedua adalah sesi realita.

Sesi pertama dilangsungkan sebelum waktu zuhur alias istirahat-salat-makan, durasinya hampir 1,5 jam. Materi yang diungkapkan dalam sesi ini adalah mengenai manfaat menulis baik secara mental maupun finansial, pentingnya membaca, tips-tips menulis ala Ernest Hemingway dan Paulo Coelho, latihan-latihan yang bisa dikerjakan di rumah, sampai kebajikan dari tokoh samurai Jepang—Musashi. Manfaat menulis secara mental ditunjukkan dari hasil penelitian James W. Pennebaker dari Departemen Psikologi University of Texas, Austin, Amerika Serikat, bahwa kelompok pasien asma yang menulis selama dua puluh menit sehari lebih cepat sembuh ketimbang kelompok yang tidak menulis. (Lalu kenapa para penulis besar seperti Virgina Woolf, Ernest Hemingway, dan Akutagawa Ryunosuke tetap bisa kena depresi dan pada akhirnya bunuh diri?) Menulis pun bisa memberikan keuntungan finansial. Orang umumnya sudah mengetahui bagaimana kesuksesan para penulis kesohor macam JK Rowling, Andrea Hirata, Dewi Lestari, dan sebagainya. (Tapi jumlah mereka berapa persen sih dibandingkan para penulis yang hidupnya morat-marit?).

Namun untuk menggapai keuntungan daripada menulis itu tentunya dibutuhkan laku yang kontinyu atau latihan-latihan-latihan, dan banyak membaca. Membaca yang bukan asal membaca tentunya, yang bukan sekadar menyapu kata-kata dengan mata. Melainkan membaca sambil menganalisis. Ada proses dialog antara pembaca dan teks. Membaca kritis. Membaca membutuhkan keterampilan sendiri yang kiranya tidak diajarkan di semua sekolah di negeri kita, tapi untunglah ada buku-buku mengenai itu yang bisa dipelajari sendiri kalau kita mau blusukan ke rak koleksi luar negeri di perpustakaan universitas-universitas. Sebetulnya ada juga beberapa buku keterampilan membaca dalam bahasa Indonesia namun maaf saya tidak ingat judul-judulnya. Mudah-mudahan mudah pula menemukannya di toko buku.

Yang paling menempel adalah cerita pemateri tentang Musashi, Paulo Coelho, dan orang yang belajar memanah. Musashi yang samurai Jepang itu pada masa mudanya terkenal berangasan, namun setelah berguru pada Biksu Takuan dan dikeram dalam ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku, ia mampu mengendalikan dirinya dan berkembang secara spiritual (atau semacam itu). Sejak itu saya terngiang-ngiang akan buku karangan Eiji Yoshikawa tentang samurai kenamaan itu yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tebal sekali, tampak bersandar di tepi bawah salah satu rak di Bandung Book Centre Palasari bagian dalam—langsung mengadang begitu kita memasuki toko tersebut.

Adapun Paulo Coelho adalah pengarang favorit pemateri sehingga maklum kalau sering disebut-sebut. Begini kutipan dari sang pengarang.

The slightest gesture betrays us, so we must polish everything, think about details, learn the technique in such a way that it becomes intuitive. Intuition has nothing to do with routine, but with the state of mind that is beyond technique.

Terjemahan bebasnya: kalau kita lihat seorang pemanah berlatih, bidikannya tidak mesti tepat mengenai sasaran. Tapi dengan memanah terus-menerus walau tampaknya tidak terarah itu sebenarnya ia sedang melatih intuisi. Saya juga pernah terpikir menulis ibarat belajar berenang. Orang yang baru belajar berenang mulai dari mencipak-cipakkan tangan dan kaki di kolam dangkal, membiasakan tubuhnya dengan air hingga mencapai kelenturan, barulah kemudian ia berhasil mengambang dan meluncur di kolam dalam. Maka saya pikir sebelum orang bisa menghasilkan tulisan yang mendalam, ia mungkin perlu menulis (dan membaca) sebanyak-banyaknya biarpun hasilnya dangkal. Agaknya dengan begitu lama-lama ia berhasil mencapai kedalaman.

Setelah isama, acara memasuki sesi kedua yang durasinya hampir 2,5 jam. Pemateri kali ini aktif dalam dunia digital sehingga beliau bicara banyak mengenai fenomena media sosial. Banyak perkataan menohok yang dilontarkannya. Maklum. Realitanya begitu sih. Sekarang ini orang bisa mempublikasikan apapun tanpa perlu suntingan terlebih dulu. Lantas yang terpenting adalah apakah itu disukai atau tidak, sedang bagus atau jelek urusan belakangan! Dan, “disukai atau tidak” itu tidak mesti ditentukan oleh faktor karya itu sendiri, melainkan bisa jadi lebih karena faktor penulisnya yang memang populer. Maka menjadi penulis bukan semata persoalan menulis, tapi juga bagaimana membangun kepribadian.

Penulis yang berpengaruh belum tentu penulis yang paling banyak dibaca. Pemateri bertanya pada para peserta di dalam ruangan: “Siapa yang kenal Budi Darma?” Yang mengacung bisa dihitung jumlahnya dengan jemari sebelah tangan. Padahal banyak penulis yang mengaku terpengaruh oleh Budi Darma. Contohnya, Djenar Maesa Ayu. Kenyataannya, yang terpengaruhi justru lebih beken dari yang memengaruhi.

Agak ekstrim mungkin ketika dikatakan bahwa penerbitan buku-buku yang tidak bermutu itu secara tidak langsung sebenarnya mendukung perusakan lingkungan hidup. Pohon itu makin langka! Kertas itu mahal! Dengan adanya media digital sebagai alternatif semestinya ada keketatan dalam menyeleksi naskah mana yang benar-benar patut dicetak dan mana yang sepantasnya berdiam di blog saja. Pemateri dalam sesi pertama yang notabene bekerja di penerbitan mengungkapkan bahwa memang ada dilema dalam menentukan naskah yang hendak diterbitkan. Pernah ia diberi naskah fantasi terjemahan yang menurutnya tidak layak. Namun ketika naskah tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, hasilnya ternyata best seller.

Selain materi dari dua pembicara, peserta diberikan semacam pre test dan post test. Nomor terakhir dalam post test berisi pertanyaan yang isinya kira-kira begini: “Masalah apa yang dihadapi dalam menulis dan bagaimana solusinya?” Saya pun menjawab: “Masalah: malas dan pesimis. Solusi: Tetap berusaha belajar untuk menulis dengan sebaik-baiknya.” Kalau boleh pinjam istilah Prof. Yohanes Surya, Ph. D. dalam artikelnya tentang "mestakung" (suplemen MUDA, KOMPAS, 20/10/06), saat ini saya merasa berada di "titik point of no return". Ditambah pertanyaan Adele dalam lagu “Chasing Pavements”, “Should I give up or should I just keep chasing pavements, even if it leads nowhere?” Kalau give up, usaha selama ini akan sia-sia. Selama ini.[]

Selasa, 11 Maret 2014

Perempuan Hanya Ingin Bebas, Termasuk dalam Pernikahan

Seorang perempuan bersanggama dengan mantan kekasihnya di rumah, sementara suami dan anaknya terjebak di toko karena badai tengah mengamuk. Cerita yang dijuduli “The Storm” ini ditulis oleh Kate Chopin pada 1898. Konten yang dianggap kontroversial dan “terlalu maju untuk zamannya” itu mengakibatkan cerpen ini baru dipublikasikan pada 1969—berpuluh-puluh tahun setelah penulisnya meninggal. Seorang Norwegia menemukannya di gudang milik cucu sang penulis.

Pada masa cerpen ini ditulis, konon emansipasi perempuan masih menjadi isu yang tabu di Amerika Serikat. Khususnya di Lousiana—koloni Prancis dengan tradisi Katolik—yang katanya acap menjadi latar dalam karya-karya Kate Chopin. Perempuan belum memperoleh kebebasan di luar rumah, terbebani oleh berbagai urusan domestik, dan disia-siakan oleh lelaki. Maka melalui cerpen ini, penulisnya seolah hendak menyelipkan pemikiran bahwa perempuan juga bisa memperoleh kebebasan khususnya dalam perkara seksual.

Ada pandangan bahwa seolah-olah pada masa itu setiap lelaki suka menekan dan setiap istri merasa terkekang. Maka dalam cerpen ini ada dugaan bahwa sosok perempuan yang bernama Calixta tersebut sesungguhnya merasa tertekan dengan tugasnya mengurus rumah tangga. (Tampaknya ini diisyaratkan lewat adegan ia membuka kancing leher bajunya karena merasa gerah.) Saking tekunnya bekerja dengan mesin jahit sampai ia tidak langsung sadar ketika badai tengah menjelang. Lalu datanglah Alcée dengan kudanya. Mereka pernah menjalin hubungan asmara pada masa lalu namun tidak berlanjut karena Calixta menikah dengan Bobinôt sedang Alcée dengan Clarisse. Alcée pada mulanya hendak menumpang berteduh di teras, namun badai makin hebat dan Calixta mengajaknya masuk. Lalu seperti kata Bang Napi, kejahatan terjadi bukan saja karena adanya niat tapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Terjadilah! Calixta merasa terpuaskan oleh Alcée dan, setelah badai reda, melepaskan kepergiannya dengan riang. Padahal dalam cerpen ini tidak ada petunjuk bahwa Bobinôt adalah suami yang sewenang-wenang, malahan sebaliknya. Ia ahli dalam bercakap-cakap dengan putra mereka, Bibi. Ketika terpikir akan Calixta yang sendirian di rumah, mungkin khawatir akan badai serta suami dan anaknya yang tidak bisa segera pulang, ia pun membeli sekaleng udang—makanan favorit  Calixta—yang nantinya diberikan pada istrinya itu. Ketika badai sudah berlalu dan mereka dalam perjalanan pulang, ia menyempatkan diri untuk membersihkan Bibi yang kotor karena lumpur demi menghindari perhatian Calixta yang kadang terlalu cermat. Kurang baik apa coba sosok suami satu ini? Maka perzinaan yang dilakukan Calixta agaknya lebih karena gairah liar, alih-alih pelampiasan dendam karena sikap suami yang jahanam atau semacam itu. Sebenarnya ada cerpen lain yang mendahului cerpen ini. Dalam cerpen berjudul “At the ‘Cadian Ball” (yang saya baru membaca ringkasannya) itu dikisahkan percintaan antara Alcée dengan Calixta pada masa lalu, namun Clarisse berhasil menggaet Alcée menjadi suaminya, sehingga Calixta pun menerima pinangan Bobinôt yang padahal tidak begitu disukainya.

source

Berdasarkan hasil penelusuran saya mengenai pembacaan orang lain terhadap cerpen ini, sampai sekarang pun masih ada yang menganggap kontennya “mengganggu”. Apalagi penyelewengan tersebut seolah tidak berdampak apa-apa. Bobinôt dan Bibi sampai di rumah dengan selamat. Calixta menyambut mereka dengan semringah seolah sebelumnya tidak terjadi peristiwa yang dapat mengancam keutuhan keluarga itu. Alcée sudah pulang ke rumahnya sendiri dan menulis surat pada Clarisse yang sedang tinggal berjauhan agar tidak buru-buru kembali. Seolah menjadi pertanda bahwa kesempatan untuk berselingkuh mungkin saja terjadi lagi. Clarisse pun merasa senang dengan isi surat tersebut seolah sejak menikah baru kali itu ia mendapatkan kebebasannya dari suami.

And the first free breath since her marriage seemed to restore the pleasant liberty of her maiden days. Devoted as she was to her husband, their intimate conjugal life was something which she was more than willing to forego for a while.

Bagian ini seakan memberi kesan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang mengekang. Adapun penyelewengan yang dilakukan Calixta dan Alcée bukanlah hal yang patut diresahkan. Toh badai pasti berlalu dan pada akhirnya semua orang merasa senang-senang saja. So the storm passed and everyone was happy, begitulah kalimat yang menutup cerpen ini. Sayang kita tidak sampai tahu bagaimana reaksi Bobinôt dan Clarisse apabila terungkap kalau pasangan mereka masing-masing ternyata telah berkhianat.

source

Cerpen ini cukup sering digunakan sebagai bahan pengajaran Sastra Inggris di sekolah-sekolah. Penceritaannya tidak neko-neko namun sarat dengan isyarat tersembunyi. Judulnya saja sudah mengandung konflik: “The Storm”—Badai. Kita bisa mengaitkan antara badai sebagai peristiwa alam dengan badai dalam hubungan Bobinôt-Calixta yang diam-diam rentan pengkhianatan. Kedatangan badai sejak paragraf pertama seolah menjadi foreshadowing. Sesuatu yang mencekam tengah mendekat dan sesuatu itu bisa berarti peristiwa yang berpotensi meretakkan keutuhan keluarga. Badai kemudian menyeret para tokoh hingga menuju “klimaks”. Karena badai, Bobinôt dan Bibi tidak bisa segera pulang ke rumah. Karena badai, Alcée hendak berteduh di teras rumah Calixta. Karena badai, Calixta ketakutan sehingga Alcée tergugah untuk menenangkannya yang rupanya membangkitkan kembali hasrat di antara mereka.

Kepiawaian penulis dalam memanfaatkan elemen alam sebagai pendukung makna cerita juga hadir dalam sebentuk pohon chinaberry. Ketika sedang mengawasi amukan badai dari balik jendela, Calixta melihat kilat menghantam pohon chinaberry. Konon dulu kayu chinaberry digunakan sebagai bahan untuk membuat rosario, sebelum digantikan oleh plastik. Dengan begitu kita mungkin bisa melihat kaitan antara pohon chinaberry yang hancur, rosario sebagai atribut keagamaan, dan perzinaan antara Calixta dan Alcée kemudian yang tentunya dipandang amoral dari segi agama. Namun kontras dengan pandangan bahwa perzinaan adalah perbuatan kotor, ketika situasi di antara Calixta dan Alcée memanas, penulis justru mengulang-ulang penggunaan kata “white”—putih yang biasanya melambangkan kesucian. Entah apakah maksudnya cinta Calixta selama ini hanya murni untuk Alcée.

Petunjuk menarik lainnya buat saya adalah perbedaan bahasa yang digunakan oleh Bobinôt, Bibi, dan Calixta, dengan Alcée. Begini contoh kalimat yang dilontarkan masing-masing.

Bobinôt                : “My! Bibi, w’at will yo’ mama say!”
Bibi                        : “No; she ent got Sylvie. Sylvie was helpin’ her yistiday.”
Calixta                  : “Come ‘long in, M’sieur Alcée.”
Alcée                    : “May I come and wait on your gallery till the storm is over, Calixta?”

Bobinôt, Bibi, dan Calixta menggunakan bahasa Inggris yang ejaannya tidak baku, sebaliknya dengan Alcée. Kalimat-kalimat Alcée tertata. Maka saya menduga adanya perbedaan budaya antara Alcée dan Calixta yang menjadi salah satu faktor kenapa mereka tidak begitu saja dapat bersatu walaupun dulunya saling mencintai. Alcée memiliki kuda, sedangkan Bobinôt dan Bibi pulang dengan berjalan kaki. Namun saya belum menemukan pembahasan mengenai ini dalam ulasan-ulasan yang saya baca.

Mana yang baik dipelajari dan mana yang jangan diteladani, mudah-mudahan pembaca dapat menilainya sendiri.[]


teks :

untuk menambah pemahaman:

Senin, 10 Maret 2014

Pada Sebuah Kota


Membaca buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya kuncennya Bandung, (alm.) Haryoto Kunto (PT Granesia, Bandung, cetakan kesatu, April 1986), timbul rasa penasaran untuk menapaktilasi tempat-tempat yang disebutkan, membandingkan foto tempo doeloe yang terpajang di buku dengan keadaan pada zaman sekarang. Misalnya saja Penjara Banceuy yang menjadi tempat Presiden Soekarno menyusun pidato pembelaannya, “Indonesia Menggugat”. Dalam foto di halaman 878 bentuk penjara tersebut masih berupa bangunan panjang dengan pintu-pintu sel berderet di satu sisinya, sedang kini yang tersisa hanya satu sel saja yaitu sel nomor 5 yang dulu dihuni Soekarno, sedang sekelilingnya sudah berupa bangunan-bangunan pertokoan menjulang. Sebut juga monumen “pantat bugil” di Tjitaroem Plein alias Taman Citarum yang penampakannya hanya bisa dilihat di halaman 346, lokasi tersebut kini sudah berganti rupa menjadi Masjid Istiqamah.

Dengan gaya ilmiah-populer yang amat cair, malah seringkali terasa kedodoran karena pembahasan yang merembet ke mana-mana, buku ini sebenarnya cukup ringan untuk dibaca. Banyak pengetahuan menarik yang bisa menambah pemahaman kita akan suatu kota. Misalnya saja, istilah “alun-alun” menurut Prof. Ir. V. R. van Romondt, guru besar Sejarah Arsitektur Indonesia di ITB pada 1960-an, berasal dari kata “alun” yang berarti ombak lautan”. Apa hubungannya “ombak lautan” dengan lahan terbuka di tengah kota? Pada mulanya adalah tradisi “rampogan” di Alun-alun Mataram, di mana ribuan prajurit bertombak mengepung harimau lapar dan ditonton oleh masyarakat. Ketika harimau itu lepas, kocar-kacirlah para penonton hingga tampaknya seperti gerakan ombak di lautan…

Nah, siapa sangka kalau Daendels ternyata berperan dalam menentukan letak alun-alun yang notabene pusat Kota Bandung sekarang? Tahun 1810, Daendels sedang melaksanakan pembangunan Grote Postweg alias Jalan Raya Pos sepanjang 1000 km yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan raya ini melewati kota-kota yang antara satu sama lain berjarak 15-60 km. Pengaturan jarak tersebut berdasarkan sistem “kereta-pos” yang tiap jarak tertentu harus berhenti untuk mengganti kuda yang kecapekan, sehingga dibangun pula pos-pos pemberhentian sebagai tempat bermalam para penumpang kereta-pos. Ketika pembangunan mencapai kawasan Bandung, rupanya letak ibukota kelewat jauh dari patok rencana jalan. Daendels pun menitahkan agar bupati Bandung kala itu memindahkan ibukota dari Dayeuh Kolot ke lokasi yang akan dilewati jalan raya pos. Maka setelah hitung-hitungan teknis dan mistis, terpilihlah lokasi pusat kota yang sekarang ini.

Namun pada masa itu sebagian kawasan Bandung terutama bagian selatan masih berupa rawa-rawa yang jarang ditumbuhi pepohonan. Gundul, gersang, dan tidak sehat untuk dihuni. Bupati Bandung pada masa itu, R. A. A. Martanegara (yang kini namanya diabadikan menjadi nama jalan di dekat rumah saya) membangun saluran irigasi serta mengeringkan lahan untuk mengatasi buruknya lingkungan. Menyongsong abad 20, barulah Belanda melihat sisi Bandung yang potensial untuk dijadikan kota koloni. Konsep pembangunan Kota Bandung dipengaruhi oleh konsep “Garden City” dari Ebenezer Howard yang disesuaikan dengan iklim tropis. Maka jadilah Bandung pada masa itu hijau lestari karena ditata oleh orang-orang Eropa yang gandrung akan taman, dengan bangunan-bangunan yang berwajah Eropa sehingga dijuluki Parijs van Java. Tapi namanya juga kota koloni. Biarpun presentase pemukim Eropa di Bandung hanya 12 % (tertinggi di antara kota-kota lainnya di Nusantara), namun 52 % dari luas kota diperuntukkan bagi mereka saja.

Pendudukan Jepang pada 1940-an menyingkirkan koloni Belanda, disusul oleh kemerdekaan Indonesia, dan kota pun menjadi milik pribumi sepenuhnya (benarkah?). Bukan hanya Belanda yang minggat, taman-taman pun ikut “lewat”. Lahan-lahan hijau yang dulu dibikin Belanda untuk menyegarkan kota satu per satu dikorbankan demi pem”bangunan”—pendirian bangunan-bangunan apapun fungsinya hingga berjejal dan menjadikan kota terasa sesak. Masalah lingkungan pun bertambah-tambah. Dari banjir sampai polusi. Kesadaran lingkungan yang hinggap pada segelintir orang seolah tiada artinya dibandingkan ketidakpedulian kebanyakan warga. Wajah dan tubuh nan molek-rupawan melenggang di jalanan kota yang ditebari oleh sampah—alangkah kontrasnya! Tapi itulah pemandangan sehari-hari di Kota Bandung.

Maka buku ini mengandung pula kritikan bagi warga kota yang masih tidak acuh pada lingkungan di sekitarnya. Patutlah dibaca oleh siapapun pemangku kepentingan di Kota Bandung, mulai dari walikota, pegawai pemerintahan, sampai mahasiswa. Tebal buku yang mencapai 1.116 halaman memang bisa bikin keder. Daftar kepustakaannya saja sepanjang enam belas halaman dan meliputi judul-judul berbahasa Indonesia, Inggris, Belanda, serta sedikit Jerman dan Sunda. Saya pun membacanya dengan mencicil satu bab per hari. Setelah khatam, rasanya jadi ingin tumpengan.

Sayangnya buku ini terbilang langka sehingga tidak siapapun bisa mengaksesnya. Penulisnya pun sudah meninggal. Padahal saya berandai-andai buku ini dicetak ulang karena informasi-informasi di dalamnya masih menarik dan relevan kendati sudah tiga puluh tahun berlalu. Tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian semisal pada penjabaran mengenai rencana induk Kota Bandung yang pada masa itu baru sampai pada 2005.

Seumur hidup saya baru menemukan buku ini sebanyak tiga biji: di stan Lawang Buku kala Pesta Buku Bandung; di rumah seorang kawan; dan di lemari yang menyimpan koleksi buku Mama. Tapi agaknya lebih langka lagi buku pendahulunya yakni Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Selain di stan Lawang Buku pada Pesta Buku Bandung entah berapa tahun lalu, saya baru melihatnya sebagai properti Komunitas Aleut yang dibawa-bawa acap kali rute ngaleut mencakup kawasan kota. Maklum, yang pertama disebut diterbitkan pada 1986 sedangkan yang satunya pada 1984. Semerbak Bunga di Bandung Raya tampak jauh lebih tebal ketimbang buku sebelumnya. Saya tidak memiliki apalagi pernah membaca Wajah Bandoeng Tempo Doeloe sehingga tidak bisa membandingkan isi kedua buku tersebut. Namun buku yang pertama terbit sering kali disebut-sebut sebagai referensi dalam buku yang selanjutnya. Dengan begitu, bolehlah dikira bahwa buku yang kedua merupakan pemaparan yang lebih komprehensif mengenai sejarah Kota Bandung.

Dari judul, bahkan warna kover, dan tinjauan isi buku secara umum, bolehlah diduga kalau Semerbak Bunga di Bandung Raya mengulas sejarah Kota Bandung khusus dari aspek lingkungan hidup. Padahal tidak begitu juga. Dari dua puluh satu bab, saya menandai hanya sepuluh bab yang bahasannya mendekati bidang perhutanan kota yaitu bab V–bab X dan bab XIV–VII. Lainnya walaupun tidak menjurus langsung dengan perhutanan kota, namun masih berhubungan dengan alam yaitu bab IV dan bab XVIII yang membahas tentang air serta bab II mengenai aspek geologi dan prasejarah. Selebihnya meninjau sejarah kota dari aspek kultural seperti bab III yang mengeksplorasi khazanah legenda serupa Sangkuriang di berbagai daerah lainnya di dunia, serta bab XI–XII yang mengusut muasal alun-alun sejak zaman Mataram sampai pemerintahan Daendels. Bab XIII mengangkat secara khusus kekayaan kuliner di Kota Bandung yang pada “zaman normal” bisa dinikmati hingga larut malam. Adapun pada bab-bab terakhir dibicarakan masalah penataan kota yang sejak tiga puluh tahun lalu saat buku ini ditulis sampai sekarang masih saja semrawut!

Sungguhpun begitu, dengan pembenahan-pembenahan di seantero kota yang mulai tampak sejak terpilihnya walikota yang baru, didukung oleh komunitas-komunitas yang makin hidup geliatnya, mudah-mudahan Bandung menjadi makin nyaman untuk ditinggali dan sejahtera pula warganya.[]

Minggu, 09 Maret 2014

Bahasa Inggris Tidak Mudah Dipelajari

Tapi salah apabila menuliskan judul di atas dalam bahasa Inggris menjadi “English is not easy to be learnt”. Pola pasif tersebut merupakan terjemahan langsung dari bahasa Indonesia sedang dalam bahasa Inggris cara yang tepat untuk mengatakannya adalah “English is not easy to learn”—bentuk singkat daripada “English is not easy for us to learn”.

Itulah sekelumit pelajaran dalam buku Salah dan Benar dalam Bahasa Inggris oleh Drs. Murdibjono, MA dan Dra. Arwiyati Murdibjono (PT Hanindita, Yogyakarta, cetakan kedua, Januari 1987—harga 2.400 rupiah label Gramedia Bandung). Buku ini disusun oleh para penulisnya berdasarkan pengalaman mereka mengajarkan bahasa Inggris di beberapa lembaga pendidikan, di antaranya adalah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Malang dan English Language Center Malang.

Seperti yang diungkapkan dalam kata pengantar (dan demikianpun yang saya alami), banyak orang Indonesia yang sudah menerima pelajaran bahasa Inggris selama bertahun-tahun namun masih saja membuat kesalahan dalam pemakaiannya. Ini seakan menjadi bukti bahwa bahasa mestilah digunakan secara aktif. Vakum sebentar saja tampaknya akan membuat kemampuan untuk menggunakannya menjadi karatan.

Kesalahan-kesalahan yang acap ditemukan dalam pembelajaran bahasa Inggris itu digolongkan oleh para penyusun menjadi delapan bab. Bab I menyajikan kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan kata kerja, bab II mengenai adjectives dan adverbs, bab III kata benda, bab IV prepositions, bab V to be dan kata kerja bantu lainnya, bab VI kata penghubungan, bab VII susunan kata dalam kalimat, sedang bab terakhir mencakup hal lain-lain seperti cara menjawab yang benar untuk pertanyaan yes-no, serta penulisan angka, jam, dan apostrof. Tiap bab terdiri dari contoh-contoh kalimat yang salah, masing-masingnya diikuti oleh bentuk kalimat yang benar beserta keterangannya.

Sebagai contoh, saya tampilkan potongan halaman 79.

Salah  : Go ahead until the traffic light.
Benar : Go ahead as far as the traffic light.
Ket.    : Until hanya dipakai untuk waktu, sedang untuk jarak/tempat kita harus menggunakan as far as.

Buku ini lebih enak dibaca keras-keras bersama kawan yang juga masih perlu membenahi kemampuannya dalam berbahasa Inggris. Dengan adik yang akan menghadapi Ujian Nasional, misalnya. Saya membacakan tiap-tiap contoh yang berisi dua kalimat itu, memintanya menebak mana yang benar, dan membacakan juga keterangannya apabila dirasa perlu.[]

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain