Kamis, 01 Juli 2010

1

Gelombang dingin menggerayangi kuduk. Kedua belah ta­­ngan­ ganti me­re­mas. Den­tum pada jan­tung­ kian gahar. Sesekali kedua belah tangan yang saling geng­gam itu ia tautkan dengan bibir yang mengerucut. Setiap kata yang dikoarkan pemuda ramping berambut ke­riting be­be­ra­pa jauh di hadapnya menjelma ancam. Cemas menepis segala informasi yang hendak meng­hun­jam otak.

“Pb! CH! CO...!”

Takut! Resah! Gelisah! Kata-kata itu menggantikan setiap jenis emisi peng­hu­ni udara Ko­ta Bandung yang dimuncratkan Acil dari mulutnya.

“...jangan katakan udara Bandung masih sejuk, karena sesungguhnya udara Ban­­dung sudah busuk!”

Sebentar lagi gilirannya. Mungkin sehabis ini gilirannya. Pasti setelah ini gi­li­ran­nya! Pe­lu­angnya pada tiap kesempatan semakin besar. Seiring dengan satu per satu dari me­reka menaiki panggung rendah di depan kelas, lalu turun lagi de­ngan wajah puas sementara wajahnya kian pias. Seiring dengan semakin mende­kat­nya Acil pada ka­limat penutup.

"Mari kita galakkan semangat bersepeda!"

Kalimat itu dan tepuk tangan riuh menyentaknya. Belum lagi Pak Catur selesai mengomentari penampilan anak yang baru tu­run pang­gung itu, Zahra sudah tak tahan untuk tak mengacungkan tangan.

"...izin ke toilet, Pak..." cicitnya lirih sebelum menghamburtinggalkan ke­las. Naskah pi­datonya remuk dalam saku seragam.

Zahra tidak pernah benar-benar menyukai Tria. Anak Jakarta coret itu ba­nyak omong.

“Ih, Zahra, ketahuan banget tadi. Sengaja kabur ke toilet ya, biar nggak da­pat giliran pidato?”

Zahra berharap bisa menyumpal lubang besar di wajah itu dengan pengha­pus papan tulis. Zahra memang tidak bisa melakukannya. Namun ia bisa membayangkan rong­ga ranselnya sebagai mulut Tria. Dan kini ia sedang menjejalkan buku-buku dan alat tulis ke dalamnya.

Zahra merasa mukanya sudah semasam belimbing mentah. Bersikeras ia me­na­han­nya, kalau-kalau Tria dan kawanannya melihat. Setidaknya kalau Tria me­nyem­pat­kan diri untuk melihat reaksi Zahra sehabis diledek begitu, itu artinya Tri­a masih peduli pada Zahra. Tapi tidak. Tahu-tahu Tria telah mengganti sasaran le­dek ke lain siswa. Zahra tidak tahu harus bersyukur apa tidak.

Sembari menarik tali tasnya, Zahra membuang mata ke luar jendela kelas. Men­da­pat­i sepuncak kepala yang sudah familier benar baginya. Ah, Mas Ardi!

Tanpa ingat untuk melempar pamit, Zahra melesat ke dunia di balik pintu. Me­ning­gal­kan kawanan yang memang tak terlalu akrab dengannya. Yang tak akan per­nah mampu ia akrabi.

Lonjakan semangatnya agak surut setelah tahu bahwa Mas Ardi tidak sen­di­ri. Hampir selalu dengan cewek itu. Sampai ke rumah sekalipun! Seakan sudah ja­di rutinitas saja bagi cewek itu untuk menyambangi rumah mereka. Seakan ru­mah itu sudah jadi rumahnya sendiri. Dan itu sudah berlangsung sejak minggu per­ta­ma Zahra serumah dengan Mas Ardi lagi. Saat seluruh anggota keluarga me­re­ka kembali menetap dalam satu rumah—kecuali Papa yang masih harus bolak-ba­lik Bandung–Jakarta.

Zahra belum bisa menerima Teh Tata. Segala perhatian yang cewek itu be­ri pada Zahra, Zahra anggap upaya menjilat. Cewek itu hendak merebut se­lu­­ruh perhatian Mas Ardi. Padahal pake jilbab, tapi pacaran, heu.. Mencela-ce­la Teh Tata dalam hati jadi kebiasaan baru Zahra.

“Mas Ardi, mau pulang?” sembur Zahra begitu jaraknya hanya sejengkal da­ri ransel abang nomor duanya itu.

Mas Ardi menoleh. Teh Tata juga, tentu saja.  Katanya, “Eh, Zahra, pulang ba­reng yuk?”

Zahra menanggapi dengan kernyitan wajah. Entah Teh Tata sadar apa ti­dak, Zahra tak peduli.

“Bareng mah bareng aja…” Kepala Mas Ardi kembali melengos ke depan. Sok acuh tak acuh seperti biasa.

Sesampainya di muka gerbang sekolah, dengan lengkungan hijau besar ber­tu­lis­an “SMAN Selonongan Bandung” di atasnya, Zahra menarik-narik tali ran­sel Mas Ardi. Membuat cowok kurus dengan kumis tanggung itu menoleh ke be­la­kang lagi. Teh Tata juga, tentu saja. “Mau beli cilok dulu… Tungguin…” Tan­pa menoleh pada sepasang insan itu lagi, Zahra menembus keramaian berse­ma­rak­kan putih abu. Menuju gerobak tukang cilok untuk menghabiskan sisa uang ja­jannya. “Dua ribu, Mang…”

Dengan seplastik cilok berlumur sambal di tangan kiri, Zahra kembali me­nem­bus keramaian. Menuju tempat di mana ia kira masih akan ia dapati Mas Ardi di sana. Kepalanya celingukan. Dadanya mulai berdebar. Agak dingin di lehernya sam­pai ke kuping-kuping. Mereka benar-benar tidak ada. Ke mana? Kok nggak bilang-bilang? Mungkin mereka juga sedang jajan, dan akan kembali sebentar lagi. Atau jangan-jangan mereka telah meninggalkannya.

Kembali kepala Zahra tengok kanan dan kiri. Dan mendapati secuil titik bi­ru muda cerah terselip di sela tubuh-tubuh beratasan seragam putih yang ber­se­li­wer­an. Sepasang kaki terbungkus Warrior hitam itu berganti haluan. Mengekor si ti­tik biru muda cerah menuju arah ke rumah—yang tidak sampai dua puluh menit ja­lan kaki jaraknya dari tempat ini. Bagian bawah rok abu-abu panjang itu kem­ba­li dikepung debu jalanan.

Benar, titik biru muda cerah itu adalah ranselnya Teh Tata. Hampir ber­dem­pet titik itu dengan titik hitam pudar di sebelahnya—ransel Mas Ardi. Mereka me­ninggalkannya, lagi.

Dua pasang Warrior itu tersenyum jumawa menyambut kedatangannya di mu­ka pintu masuk rumah. Pada mulanya mereka kompak berjejer dalam sederet ba­ris­an rapi, hingga Zahra mengacak mereka dengan sebelah kakinya. Sebelah se­pa­tu Teh Tata meluncur masuk ke bawah rak alas kaki. Gemuruh dalam dada Zah­ra. Huh, biar tahu rasa! Puas ia kini.

Pelan, Zahra mengucap salam seraya menembus hawa sejuk yang berputar da­lam rumah besar itu. Ia tidak berharap akan ada yang membalas salamnya. Mes­ki nyatanya ada.

“Waalakum salam!” Satu tangan Kakek memegang spatula, sedang satu­nya lagi meletakkan sepiring kangkung berasap di atas meja makan. Pintu yang Zah­ra masuki memang langsung menghadapkannya pada ruang makan—yang se­be­tulnya jarang difungsikan demikian. Kakek menjawab salamnya. Kakek pasti se­dang soleh. Kulit Kakek yang agak terang kontras dengan pakaian hitam-hitam yang sudah jadi dresscode sehari-harinya. Kecuali celemek putih berendanya itu. Da­lam pandangan Zahra, Kakek seperti kaos kaki berjalan.

“Kalau mau ambil aja, Zahra!” sahut Kakek.

Zahra balas menyahut, “ya”, namun pelan. Salam lesunya tadi saja masih bi­sa tertangkap telinga Kakek. Zahra yakin pendengaran Kakek masih baik.

Satu per satu kaki terbalut kaos kaki itu meniti anak tangga demi anak tang­ga. Terpaku sebentar di puncak. Zahra bertemu puncak kepala itu lagi. Sudah ja­di kebiasaan pemiliknya untuk menatap layar PC selama berjam-jam dalam se­ha­ri. Sejak pulang sekolah, dijeda solat dan keperluan buang air, disambi makan, sam­­pai akhirnya disingkirkan oleh Mas Imin: sang pe­me­gang otoritas tertinggi di ba­wah orangtua, si penguasa lalim nan keji. Zahra ber­gidik.

Mas Ardi hampir selalu menanggapi dengan acuh tak acuh, setiap kali Zah­ra ajak berkonfrontasi. Entah dengan mengangkat bahu, mendengus, ber­ko­men­tar pendek, atau apapun yang bikin hasrat marah-marah Zahra me­nyu­rut. Atau men­ciut, kalau Mas Ardi sudah sampai menghasilkan bunyi keras—entah dengan mem­banting atau memukul sesuatu—saking cowok introver itu merasa terusik. Ma­ka Zahra hanya bisa mencemberuti tampak belakang Mas Ardi.

Yang menangkap energi negatif yang dipancarkan Zahra malah Teh Tata. Ce­­wek itu seakan punya radar untuk menangkap segala sinyal yang diarahkan pa­da kekasihnya.

Zahra melengos. Kembali ia menuruni tangga. Sebetulnya kamarnya ter­le­tak di bawah, di depan sepetak taman kecil di belakang rumah. 

“Zahra, sori... Tadi kita lupa, kamu mau bareng...” sayup-sayup a­las­an Teh Tata melayang ke dalam rongga telinga Zahra. Zahra me­no­lak percaya. Bilang aja kalau emang nggak mau bareng mah! Untuk ber­anjak dari sisi Mas Ardi dan meminta maaf sungguh-sungguh di hadapan Zah­ra saja Teh Tata tak rela.

Sebetulnya tidak banyak yang berubah dari Mas Ardi. Sejak dulu cowok i­tu memang cuek, tidak pedulian—agak autis, orang-orang sering mengatakan. Ha­nya saja, sewaktu mereka masih tinggal di Sumedang, tidak ada itu cewek aneh ma­­cam Teh Tata. Entah apa dilihatnya pada diri Mas Ardi. Belum pernah a­da yang selengket itu pada abang cupunya. Tidak juga Zahra!—yang su­dah sejak TK ka­kak beradik itu hampir selalu pergi pulang sekolah dan belajar ber­sama.

Lepas menunaikan solat zuhur dan makan siang, kembali Zahra menuju lan­tai dua. Masih ruangan yang sama dengan tadi. Di mana Mas Ardi dan Teh Ta­ta masih kuat memelototi layar PC. Bukannya solat dulu, terus makan… batin Zah­ra tidak senang. Bagaimanapun juga, ruang yang dituju adalah pusat hiburan pa­ra anak di rumah itu. Selain tidak lebih luas karena berbagi lahan dengan pa­vi­li­un Kakek dan ruang-ruang pribadi mendiang Nenek yang terkunci, lantai bawah a­dalah wilayah teritorial bagi mereka yang tua-tua: Kakek; Mama; Papa—kalau la­gi pulang ke Bandung. Siapapun orang muda yang tahan berlama-lama di sana, a­kan merosot drastis puluhan tahun seleranya akan sesuatu.

Di pojok ruangan yang berseberangan dengan tangga, terdapat satu set PC yang dimonopoli oleh Mas Ardi. Entah apa yang Mas Ardi lakukan dengan kom­puter itu. Belum lagi koleksi manga scan, mp3 anime, dan apalah-itu-produksi-Je­pang­-nya yang bikin berat memori. Kalau Zahra dan Mayong yang butuh saja, Mas Ardi bisa mengucap, “Entar, entar, dikit lagi, nanggung…” Tapi begitu Mas I­min mau pakai, tanpa banyak kata dan tunda, dengan patuh Mas Ardi me­nying­kir. Mas Imin juga yang menyuruh Mas Ardi menyimpan koleksi ma­ni­aknya itu dalam CD sehingga komputer mereka bisa kembali (agak) ce­pat loading-nya.

Karpet lebar membentang di tengah ruangan itu. Di sana bermacam ak­ti­vi­tas sosial biasa berpusat. Di mana teman-teman Mas Imin berkumpul dan bikin ga­duh. Di mana Zahra mengerjakan tugas bersama teman-teman sekelompoknya. Di mana Zia—sepupu mereka yang juga satu sekolah dan sering main ke sana—me­nelungkup sambil mencorat-coret sesuatu atau merumpi dengan teman-te­man­nya yang juga teman-teman Mas Ardi. Dan lain-lainnya.

Dipisahkan oleh lemari tua panjang besar yang dijejali tumpukan majalah la­ma dan pajangan-pajangan berdebu, pojok satunya adalah sebuah TV 21 inch di a­tas buffet rendah. Selain sambungan antena, juga ada kabel-kabel yang membuat TV ter­sebut bisa menampilkan visi dari CD PS 2 hingga DVD. Ada karpet juga di si­tu, dikepung beberapa kursi empuk.

Ke sana Zahra menuju. Atmosfer memuakkan dari pojok seberang tang­ga menyambar ketentraman yang sudah cabik. Ia berusaha untuk meng­abaikan.

Dinyalakannya TV dan PS 2. Bukannya ia jago main PS 2. Satu-satunya CD PS 2 yang diakrabinya adalah The Sims 2. Yang The Sims 3, ia sudah men­do­rong­-dorong Mayong untuk membujuk orangtua mereka membelikan tapi tidak kun­jung saja mereka disisihkan uang.

Baru saja Zahra hendak mengarahkan orang-orangannya untuk bertamasya ke downtown, bau matahari campur keringat menyapa sepasang rongga hi­dung. Zahra mendongak. Bayang Mayong menimpa. Bocah SMP itu masih dalam se­rag­am putih-biru dongker. Ranselnya menyentuh lantai, disusul tubuh pe­milik­nya.

“Gantian…”

“…baru juga main…”

“Aaah… Mbak Zahra mah taunya cuman main The Sims aja.” Mata Zahra me­nyipit. Ia benci nada seperti i­tu, nada melecehkan yang ia sudah kenyang menge­nyam padahal lapar saja tak per­nah.

“Biarin!” Zahra makin kuat mencengkeram joystick.

“Iiih… Punya siapa juga…” Memang Mayong yang merengek-rengek min­ta dibelikan PS 2, sejak yang lama—hasil jerih payah rengekan Mas Imin ma­sa-masa masih bocah—rusak. Waktu itu Mas Imin sudah bersekolah di Bandung dan mulai terbiasa tinggal di rumah-tanpa-PS 2, sehingga Mayong harus mem­per­ju­angkan sendiri kembalinya masa-masa indah bermain PS 2. Zahra hanya me­ne­beng hasilnya. Mas Ardi lebih tertarik pada game komputer.

Mayong berusaha merebut benda itu dari tangan Zahra. Tidak berhasil, Ma­yong mengambil tindakan subversif. Meloncat ke depan si kotak hitam dan me­nekan tombol open.

“Aargh!” Zahra membanting joystick ke lantai. “Biar di-save dulu kek!”

Zahra tersentak malu kala menangkap pandang kaget Teh Tata yang te­ngah memasukkan kembali mukenanya ke dalam tas mungil. Cewek itu ber­diri di be­lakang punggung Mas Ardi yang juga menyempatkan diri menengok, se­kilas.

Terhuyung-huyung Zahra kembali ke kamarnya. Seolah hanya di ruangan i­tu saja ia layak berada. Tidak, Zahra tidak akan mengucurkan air matanya hanya ka­rena persoalan sepele seperti ini. Ia menyimpannya untuk tekanan lebih besar yang mungkin saja akan diperolehnya nanti malam.

Sampul emas Sang KBBI menyilaukan mata Zahra. Benda itu meng­ha­sil­kan suara berdebum keras ketika dihempas ke atas meja ruang TV oleh Mama. Zah­ra menyentuh benda tersebut dengan paduan choir imajiner mengawang-a­wang di udara. Mengelus sampulnya yang sudah dilapisi plastik. Membuka setiap lem­bar kertas yang terjahit di baliknya. Membaca sekilas beberapa kata. Hasrat mem­pelajari kamus tersebut menjalar dalam sanubarinya. Memendam damba a­kan nilai tertinggi setiap kali ulangan Bahasa Indonesia.

“Beli di mana, Ma?” ucap Zahra, meski sudah dapat mengira jawabannya.

Mama tersenyum akan pertanyaan konyol tersebut. “Ya di Palasari[1] atuh.” Ba­ru kalau di Palasari benar-benar tidak ada, pinjaman tak dapat, dan kebutuhan a­kan buku tersebut tidak lagi bisa ditunda, toko buku besar di mal terdekat a­tau Jalan Merdeka yang jadi tujuan. Masih berseragam safari, Mama menyiapkan makan malam di atas meja. “Ma­kan dulu Zahra…”

“Iya, Ma, bentar…” Zahra masih belum puas mengamat-amati kamus tebal yang selama ini hanya bisa dibacanya di perpustakaan sekolah itu (kini ia me­mi­lik­inya sendiri!)—yang edisinya saja sudah cetakan lama (sementara yang ini e­di­si terbaru!). Aroma kertas yang menguar ke udara ia sesap dalam-dalam.

Sementara kedua tangannya sibuk membuka plastik lauk yang dibelinya da­lam perjalanan pulang, Mama mendongak. “Mayong, Ardi, makan…!” Dan me­no­leh lagi pada Zahra, “Imin udah pulang belum, Zahra?”

“Kayaknya udah.” Zahra tidak begitu peduli akan kehadiran Mas Imin di ru­mah ini. Padahal ia sudah bersyukur dua tahun kemarin telah ia jalani tanpa ha­rus melihat muka jahat itu tiap hari. Kini mereka harus serumah lagi. Zah­ra tak ber­harap banyak akan terjadi perubahan ta­bi­at pada cecunguk itu.

“Imiin… Mama udah beliin nih bukunya!”

“Mama beliin buku buat Mas Imin?” tukas Zahra pelan dengan nada tidak se­nang. Ketidakadilan masih membumi rupanya. Kalau Zahra minta dibelikan no­vel saja, jarang dikabulkan. Tapi begitu Mas Imin mempromosikan satu set en­sik­lo­pedi, orangtua mereka akan mengusahakan. Ensiklopedi kan harganya ja­uh le­bih mahal dari novel! Meski pada akhirnya ensiklopedi tersebut Zah­ra baca juga.

Mama menuding KBBI di atas pangkuan Zahra. Membuat Zahra ingat bah­wa baru kemarin malam Mas Imin meminta Mama membelikannya.

“Kebanyakan orang tuh pada jebloknya di Bahasa Indonesia, Ma. Ironis kan, Ma, ngaku nasionalis ternyata nggak menguasai bahasa sendiri?” begitu Mas I­min menjampi-jampi Mama malam itu. Dilanjutkannya dengan nada me­ya­kin­kan, “Imin kan mau UN ma USM, Ma. Jangan sampailah jeblok gara-gara Bahasa In­donesia doang. Beli KBBI dong, Ma.”

“Yah… Udah kepegang Zahra duluan!” Mas Imin tahu-tahu muncul, se­akan tiap barang yang dipegang Zahra akan turun pamor dan kualitasnya. Ges­tur Zahra malah membenarkan hal tersebut. Bagai abdi dalem yang tertangkap ba­sah mengusap-ngusap mahkota raja dengan penuh damba, ia meletakkan KBBI tersebut di atas meja. Mas Imin mengambil benda itu sembari duduk di sam­ping Zahra, yang beringsut-ingsut menjauh dan mulai mengerjakan kembali PR-nya. “Makasih, Ma!” sahut Mas Imin—agak janggal dalam indra pen­dengaran Zahra.

Mas Imin membuka-buka buku itu sekilas. Lalu menaikturunkannya de­ngan sebelah tangan seakan benda itu adalah barbel. Ia mengintip pekerjaan Zah­ra. Zahra semakin beringsut menjauh. “Eh, tahu nggak, Zah,” intonasi Mas Imin mem­buat Zahra merasa seperti seorang anak kecil polos, “orang kalau tulisannya mi­ring ke kanan itu katanya orangnya supel, pandai bersosialisasi. Tapi kalau tu­lis­annya miring ke kiri, sebaliknya, asosial. Terus, kalau ekor huruf g-nya mem­ben­tuk sudut tajam, itu artinya orang tersebut lagi ada masalah sama ke­lu­ar­ga­.”

Zahra berhenti menggurat sudut tajam pada huruf g-nya. Pandangnya ber­a­lih dari tulisannya-miring-ke-kirinya ke wajah sok inosen Mas Imin. Pandangan be­ngis. Dan suara Mas Imin cukup keras (kapan Mas Imin bisa bersuara pelan ka­lau bukan untuk mengerjai orang?) untuk dapat didengar Mama. Padahal ia sama se­kali tidak suka kalau kekurangan dirinya mulai diungkit, bahkan di depan o­rang­tuanya sekalipun. Bagaimana pula kalau ternyata Mas Ardi dan Mayong da­pat mendengarnya dari lantai atas?

Mas Imin menyorongkan KBBI pada Zahra, sama sekali tak menggubris ke­­sengitan yang dipancarkan adik perempuan satu-satunya itu. “Nih, kalau mau pa­­kai dulu, pakai aja.”

Zahra memandang benda tersebut dengan enggan. Cecarnya kemudian de­ngan suara bergetar, “Mama mah gitu ih. Zahra minta dari dulu nggak dibeliin. Ta­pi kalau Mas Imin langsung dibeliin…”

Bukan sekali ini saja Mama begitu. Dan alasannya selalu saja karena be­lum ada uang. Tapi lain halnya jika Mas Imin yang minta. Tampaknya alasan ke­ti­a­daan uang hanyalah suatu kebohongan. Tinggal tunggu waktu saja sampai tahu-ta­hu sang putra mahkota dibelikan laptop pribadi. Maka Zahra akan jadi semakin i­ri. Pinta Mas Imin selalu dianggap lebih penting dari apapun. Hanya Mas Imin ju­ga yang nama panggilannya di rumah diambil dari nama belakangnya.

“Emang Zahra minta dibeliin apa?”

CD The Sims 3. Kerudung yang berwarna senada dengan blus yang dibeli di King’s bulan lalu. Ransel yang beresleting, bukan yang bertali. Sepatu selop un­tuk jalan-jalan. MP4 player baru, karena yang sebelumnya sudah rusak dan Ma­yong tak mau sering-sering meminjamkan miliknya. Behel warna-warni seperti yang melekat di geligi Mas Imin. Dan masih banyak lagi. Zahra jadi bingung sen­di­ri mau menyebut yang mana dulu.

“Pokoknya selalu aja kayak gitu. Kalau Zahra yang minta, selalu dibilang, ‘nan­ti, nanti, nanti’…”

“Mas Imin kan mau kuliah. Mama beliin KBBI buat Mas Imin belajar.”

“Iya, Zahra. Entar kan Zahra bisa pake juga…” suara sok lembut Mas Imin ma­lah makin memanaskan mata Zahra.

“Selalu aja Zahra pake bekas mulu…”

Kalaupun yang Zahra minta belikan adalah kumpulan soal latihan ulangan, Ma­ma pasti menyuruhnya memanfaatkan yang bekas Mas Imin atau Mas Ardi du­lu. Yang sudah penuh dengan berbagai macam coretan pula—mulai dari kotretan ru­mus sampai komik bodoh tak beralur. Tapi sewaktu Mas Imin menginginkan kum­pulan soal ujian masuk PTN yang merekam jejak 50 tahun sejarah pendidikan In­do­ne­sia, tak pakai dalih “besok aja kita cari di Palasari”, langsung Papa mem­be­li­kan­. Padahal mereka saat itu sedang berada di toko buku besar yang kenal dis­kon hanya pada waktu-waktu tertentu

Mama berdecak. “Udah ah, jangan cerewet! Nggak tahu orangtua lagi su­sah duit. Tadi udah ngepel rumah belum?!”

Zahra tersentak. Memang ia senang saat para saudara laki-lakinya disuruh mem­bersihkan semua kamar mandi di rumah itu setiap Minggu—pekerjaan yang pa­ling tidak ia harapkan—tapi hanya ia yang disuruh mengepel rumah setiap hari!

Dan Mama mengatainya cerewet. Betapa menyakitkannya dikatai, apalagi o­leh orangtua sendiri. Bukannya ia tidak mengerti kalau perusahaan Papa tengah di ambang pailit dan Mama hanya PNS. Zahra hanya menginginkan keadilan di ke­luarga itu, yang tak pernah ia rasakan.

Zahra melangkah cepat ke belakang dapur. Biar tidak hanya matanya sen­di­ri yang basah, tapi juga anggota tubuh lainnya. Mengklamufasekan tangis dalam ke­riuhan mencuci perabotan masak. Zahra menyesal mengapa hanya tersisa se­di­kit perabotan yang bisa ia cuci. Menyesali Kakek yang tengah dirasuki roh bu­di­man tadi siang, lebih tepatnya.

“Mau dibantuin nggak?” Suara Mas Imin dari ambang pintu. Lunglai, Zah­ra menerobos celah di bawah lengan Mas Imin yang menempel pada kusen. Ia tak sa­bar untuk menghambur pada bantal-bantal di kamarnya. Mereka yang telah je­nuh merekam jejak tangisnya.



[1] Tempat penjualan buku murah di Bandung

Minggu, 06 Juni 2010

PALESTINA?

Sambil berjalan kembali menuju bangkunya, Dillo membuka gulungan kecil kertas di tangannya. Tepat ketika ia mendaratkan pantatnya, terbaca kata ‘PALESTINE’.

“Kamu dapet apa, Rin?” tanya Dillo pada teman sebangkunya.

“Indonesia.”

“Wah, gampang... Curang...”

“Tenang, tenang, aku pasti akan selalu mendukungmu, kok!” Rino menepuk-nepuk pundak Dillo.

“Kalau begitu, tukeran sama punyaku.”

“Wahaha, ogah ah.”

“Ah, kamu nggak mau merasakan penderitaanku.”

“Yah, kalau tukeran entar deritanya pindah ke aku dong...”

Okay, guys...” Dillo dan Rino sontak menghadap ke depan, memerhatikan ibu guru yang sudah menguasai kembali kelas mata pelajaran Bahasa Inggrisnya. “Now, youve got the country that you have to write an essay about it. What time is it...? Oh! Well, sorry, time is up! So, see you next week and don’t forget to bring your assignment. Good bye!”

Bye...” balas anak-anak kompak. Beberapa memandangi native speaker berambut pirang itu hingga menghilang ke balik pintu kelas.

Kembali Dillo berkeluh kesah pada Rino. “Aduh, aku nulis apa dong, Rin?”

“Emang kamu dapet apa sih, Dil?”

“Palestina.”

“Waa…” Dua cewek yang duduk di belakang Dillo dan Rino terkesiap mendengar nama itu disebut.

“Wah, punyanya Dillo, isunya kan masih hangat,” komentar Azizah.

“Emang Palestina kenapa sih?”

Sani mencibir. “Ini anak nggak pernah baca koran atau denger berita ya?” 

Muka Dillo berkerut. “Nggak rame ah. Ramean baca Doraemon. Koran tuh kebanyakan tulisannya, kecil-kecil pula, bingung mesti dibaca yang mana dulu.”

“Ya jangan dibaca semuanya! Baca yang penting-penting atau menarik aja!” seru Sani.

“Dil, kalau kamu emang males baca koran, entar pulang sekolah, langsung masuk kamar ya, bilang ama Doraemon, minta roti penghapal gitu. Jadi kalau pagi-pagi koran kamu dateng, langsung taplokin tuh roti ke koran trus rotinya kamu makan. Dijamin, nggak usah itu koran kamu baca, berita-berita udah otomatis nempel di kepala,” ucap Azizah. Rino dan Sani tertawa.

.

Dillo menutup tab berisi berita tentang video Luna Maya yang sedang menghebohkan seluruh negeri itu. Di tab yang lain, laman hasil pencarian mesin Google Indonesia, menunjukkan entri yang amat banyak dari kata ‘Palestina’. Dillo malas membacanya satu per satu. Nanti sajalah di rumah, biar nggak makan biaya warnet, pikirnya. Ia membuka semua entri dalam tab baru, terus begitu sampai beberapa halaman selanjutnya, lalu ia save page as semuanya dalam satu folder di flashdisk-nya. Setelah menuntaskan kegiatan yang melelahkan tersebut, ia membuka www.onemanga.com dan larut ke dalamnya selama beberapa puluh menit ke depan.

.

Merupakan kebiasaan Dillo dari kecil untuk mengerjakan PR di kamar kakak perempuannya, Alina. Dengan begitu ia bisa langsung tanya-tanya kalau ada yang tidak dimengertinya. Malam ini, Dillo hendak bertanya bagaimana caranya membuat esai, sekaligus minta diterjemahkan dalam bahasa Inggris nantinya.

Dillo sama sekali belum ada gambaran hendak menulis apa, kendati sudah membaca semua artikel tentang Palestina yang diunduhnya tadi. Palestina masih menjadi sesuatu yang asing dan jauh baginya. Ia tidak bisa serta merta menunjukkan sikap sok peduli. Alina lalu menyarankannya untuk menulis bebas terlebih dulu. “Tulis semua yang kamu pikirin tentang tema yang ingin kamu tulis. Jangan dulu mikirin tulisan itu nantinya bakal dibaca siapa. Pokoknya gali terus pikiran kamu mengenai tema itu.”

“Hoo…”

Tentang apa emang temanya, Dik?

Tentang Palestina.

Alina mengangguk-angguk. Ia beranjak dari kasur lalu memilah-milah sesuatu dari rak bukunya. Apa-apa yang dipilahnya itu ditumpuknya jadi satu lalu ditaruh di depan muka Dillo. Komposisi dalam tumpukan tersebut antara lain antologi cerpen Palestina, buku-buku tentang Yahudi, dan semacamnya. Satu per satu bacaan tersebut Dillo buka-buka sambil lalu.

“Tulis aja dulu semua apa yang Dillo tau tentang Palestina. Kayak nulis diari aja,” kata Alina lagi.

Dillo ingat sekalinya ia menulis diari, ia memang menuliskan segala yang ada dalam kepalanya, tanpa kecuali. Kalaupun tidak ada, ia gali-gali. Dengan bahasanya yang dangkal, Dillo pun menggali-gali ingatannya mengenai apa yang telah ia baca tentang Palestina dan menuliskannya. Tapi rasanya kok seperti hanya sekedar men-copy paste tulisan orang dengan komputer lelet yang kelebihan memori? Dikemukakannyalah pikiran itu pada kakaknya, yang menjawab, “Kalau esai itu boleh kok ditambahin pendapat Dillo sendiri.

Di sela-sela usaha Dillo menggali ide, Alina menyodorkan kamera digitalnya. “Coba nih Adek liat-liat…”

Dillo pun melihat foto-foto di kamera digital kakaknya itu. Ada sosok kakaknya terselip dalam sebuah aksi solidaritas untuk Palestina.

Dillo bertanya, “Ngapain kakak ikutan acara ini, Kak? Panas-panas, capek... Buat apa sih?

Alina tersenyum. “Itu sebagai bukti solidaritas kita buat saudara kita di sana. Sekaligus syiar supaya orang-orang makin tergugah dengan Palestina.”

Saudara? Emang kita pernah ngunjungin mereka pas Lebaran?

“Ya saudara seimanlah…”

Iya, Kak, aku becanda kok. Aku nggak sepolos itu.

Sesama muslim harus saling menolong, ibaratnya satu tubuh...

Lalu apa yang dapat aku lakukan untuk Palestina? Pikir Dillo sembari menuliskannya di kertas. Ia biarkan pula khayalannya mengembara. Khayalan yang serealistis-realistisnya.

.

Hal-hal apa saja yang mungkin aku lakukan untuk membantu Palestina

 

Pergi ke Palestina dan ikut berperang di sana

Mengikuti apa yang orang-orang Palestina lakukan jika melihat tentara Israel, melempari dengan batu, dan sebagainya, lalu lari apabila mereka mendekat. Lalu kesandung brangkal. Susah bangun lagi karena badan gendut L Kegiles truk deh.

Tentara Israel 1: Eh, kayaknya tank kita ngelindes sesuatu deh...

Tentara Israel 2: Ah, paling orang Palestina ini... Udahlah, biarin aja.

Aduh, aku jadi geram mikirin ini. Lagian aku kan orang Indonesia, bukan orang Palestina, meskipun saat itu aku mungkin lebih mirip sama daging giling. Dan udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi.

 

Ngumpulin donasi

Di pinggir jalan, pake sorban, pake kafiyeh, pokoknya merah putih ijo item, gayanya udah kayak pejuang Palestina beneran deh. Sesampainya di rumah aku hitung uang hasil donasi tersebut. Besok akan aku serahkan pada yang lebih mempunyai akses untuk menyampaikan uang umat ini ke sana... Eh taunya aku sendiri belum nyumbang :p Karena Mama lagi ngebatasin uang jajanku, akhirnya aku buka simpenan duit. Tung itung itung... wah, duitnya hampir bisa buat beli action figure-nya Gundam!!! (sejak kecil aku impi-impikan! XD) Tinggal kurang beberapa ribu lagi… Lalu aku melirik duit hasil pengumpulan donasi...

 

Ikutan aksi

Melewati jalanan berdebu, panas-panas, teriak-teriak, jadi tontonan orang, berdesak-desakan, kayak Kak Lina… Tapi kalau asmaku mendadak kambuh... X(

 

Membuat tulisan yang menggugah orang lain untuk menolong Palestina

Esainya aja lum jadi... Ah, kata Kak Lina kan yang penting tulis dulu apa yang ada dalam pikiran…

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! Ayo Dukung Palestina! 

Aduh… Capek ah, nulisnya…

 

Memboikot produk yang mendukung pendanaan serangan Israel ke Palestina

Wah, apa aja ya? (ternyata Kak Lina punya daftarnya! Liat dulu yaa…) Hmm... Nokia. Wah, hapeku dua-duanya Nokia. Ini aja yang satu tadinya mau ditukar sama Nokia lagi seri terbaru. Dillo udah pake merk ini dari jaman pertama kali punya hape. Susah nih, untuk pindah ke lain hati. Disney... Tapi spreiku gambar Kwak Kwik Kwek, boneka gede Mickey dan Minnie-ku juga sayang kalau harus disingkirkan... Trus gimana dengan foto-foto pas dulu liburan ke Disneyland? Itu kan foto keluarga penuh kenangan?? Bundelan majalah Donald Bebek juga... Dan aku hobi nonton kartun dan sitkom di Disney Channel terutama serial Lilo & Stitch, juga Hannah Montana... Bagaimana mengenyahkan channel tersebut dari TV berlangganan? Trus Kitkat... Wah... Dillo nggak bisa tidur kalau belum ngemil itu setiap malamnya (makanya gendut… :P). Johnson & Johnson? Itu sabun mandiku dari bayi... Maklum kulitku agak sensitif. Danone... Masih bisa sih itu diganti dengan merk lain. Kalau Nestle, wah... Dillo muntah kalau minum susu yang merknya bukan Dancow. Mc Donald pun selalu jadi santapan langgananku kalau aku lagi sendirian di rumah dan nggak ada yang masakin. Tinggal call 14045! Nggak ada nomor telpon penyaji fast food lain yang bisa dengan mudah diingat Dillo selain itu. Demikian juga Pizza Hut. Eh, tapi kalau Pizza Hut itu karena aku sudah terlalu sering pesan sampai-sampai hapal. Hm.. Trus apa lagi ya? *Tidak bisa membayangkan hidup tanpa semua merk itu...*

 

Belajar yang rajin dan mengembangkan senjata pemusnah massal di atap rumah yang targenya langsung mengarah ke Israel (jangan bilang sama siapa-siapa kalau itu senjata pemusnah massal! Bilang aja itu alat pembuat daging panggang instan!). Atau lebih baik senjata kimia atau senjata biologi aja? Nilai Fisika, Kimia, dan Biologiku tidak pernah lebih dari 6… Aku unggul hanya dalam pelajaran... nggak ada?

 

Belajar yang rajin untuk jadi diplomat dan menyelesaikan masalah ini secara diplomasi

*Udah males mikir*

.

Dillo meletakkan pulpen. Ditinggalkannya lembaran kertas penuh coret-coretannya dan Alina yang bertanya, “Mau ke mana, Dik?”

“Nelpon Rino,” sahut Dillo setelah gagang telpon menempel di sebelah telinganya. Rino, sobatnya itu, sudah seperti saudaranya sendiri. Kalau ada masalah apa-apa, biasanya Dillo akan mengajak Rino berdiskusi untuk sama-sama menemukan pemecahan dari masalah tersebut.

Setelah melalui serangkaian prosedur umum percakapan pengantar di telepon, sampailah Dillo pada apa yang ingin dibicarakannya dengan Rino, “Jika suatu saat bangku kamu direbut seorang anak yang sangat berkuasa di kelas, si Sultan misalnya, apakah kamu bakal berjuang supaya Sultan pindah sehingga aku bisa kembali sebangku sama kamu?”

“Tergantung keadaan,” bilang Rino. Kalau si Sultan ternyata rame, ya kenapa nggak? Si Sultan anaknya kan baik, suka ngasih pinjeman duit. Lagian kan kamu juga yang suka tau-tau sebangku sama Toni. Akhirnya aku duduk sama Sultan deh.”

Dillo memble. Padahal maksudnya itu adalah memosisikan Rino sebagai Palestina dan Sultan sebagai Israel. Ternyata ia telah mengambil perumpamaan yang salah. Persahabatan selama bertahun-tahun ternyata tidak serta merta membuat mereka dapat membaca pikiran satu sama lain.

“Kalau menurut kamu, sikap Israel ke Palestina itu gimana Rin?”

“Israel jahat.”

Dan Rino tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.

Setelah menyepakati janji bahwa mereka akan sebangku lagi pada esok hari, Dillo turun ke lantai bawah. Ikut menonton TV bersama Papa. Akhirnya disaksikanlah berita tentang Palestina yang selama ini ia buta terhadapnya. Rasanya sedikit-sedikit ia bisa mengerti kenapa Alina sampai tergugah untuk ikut-ikutan aksi. Dillo jadi teringat akan kemungkinan asmanya yang bakal kambuh seandainya saja ia menjadi satu dari mereka dalam TV itu. Mereka yang sedang menenteng-nenteng spanduk di pusat kota. Menyerukan ultimatum agar Palestina segera diselamatkan.

Dillo menghela nafas. Boro-boro melempar batu bersama para pejuang Palestina, untuk ikut diklatsar Pramuka saja mentalnya masih suka ciut.

Tapi setidaknya ia sudah membuat “hal-hal yang mungkin aku lakukan untuk membantu Palestina” dengan serealistis-realistisnya, yang menyadarkannya bahwa realita tentang dirinya ternyata sebegitu tidak memuaskannya. Jadi ia pikir yang perlu ia lakukan setelah ini adalah berusaha untuk mengubah realita tentang dirinya. Ia harap dengan begitu, realita di sekelilingnya akan turut berubah juga. Tinggal bagaimana caranya agar perubahan itu bisa dirasakan sampai Palestina. Tidak hanya Rino yang akan diajaknya untuk mulai memikirkan hal ini, tapi juga teman-temannya yang lain, janjinya dalam hati. Insya Allah.

Tapi yang paling penting, PR menulis esainya harus ia selesaikan dulu.

Uhh…

 

6 Juni 2010

Rabu, 02 Juni 2010

Pemuda Berpikiran Terbuka dan Kritis untuk Masyarakat Indonesia Madani

Dua puluh Mei merupakan tanggal lahir Boedi Oetomo. Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi pemuda pertama di nusantara yang tidak bersifat kedaerahan. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setelah itu, organisasi-organisasi pemuda lainnya pun bermunculan. Dari sekian banyak organisasi yang ada, ada satu tujuan besar mereka: kemerdekaan bangsa. Kesamaan tujuan inilah yang kemudian menyadarkan mereka bahwa tujuan tersebut hanya bisa diraih jika mereka tidak terus berjalan sendiri-sendiri. Mereka membuktikannya. Meski membutuhkan waktu sekitar tujuh belas tahun, sejak kongres pertama yang menjadi titik tolak persatuan mereka, kemerdekaan Indonesia akhirnya berhasil dikumandangkan.

Dalam lagunya, “Pemuda”, Chaseiro (grup band Indonesia akhir tahun 70-an) mengenang kejayaan tersebut dan menyayangkan keadaan pemuda pada jamannya. Fenomena tersebut ternyata masih berlangsung sampai kini, bahkan mungkin bertambah parah. Tapi masa lalu telah kabur. Yang ada hanyalah masa kini sehingga hal tersebut tidak perlu lagi dipersoalkan melainkan diambil saja sebagai pelajaran. Cermatilah lirik menggugah yang pernah terkenal karena dinyanyikan ulang oleh para bintang AFI ini:

“Pemuda, ke mana langkahmu menuju? Apa yang membuat engkau ragu? Tujuan sejati menunggumu sudah. Tetaplah pada pendirian semula. Di mana artinya berjuang, tanpa sesuatu pengorbanan? Ke mana arti rasa satu itu?

“Bersatulah semua, seperti dahulu. Lihatlah ke muka. Keinginan luhur kan terjangkau semua.

“Pemuda, kenapa tersirat dengan pena yang bertinta belang? Cerminan tindakan akan perpecahan. Bersihkanlah noda itu semua. Masa depan yang akan tiba menuntut bukanya nuansa. Yang slalu menabirimu pemuda.”

Alih-alih tujuan bersama, tujuan sendiri pun (misalnya dalam memilih jurusan di universitas) pemuda kita masih kerap ragu. Alih-alih mencapai tujuan, mereka masih dengan mudahnya tergoda untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga bangsa.

Gencarnya arus globalisasi bisa dibilang sebagai faktor penyebab terpecahnya persatuan di antara pemuda. Kemajuan teknologi, serta beragam pemikiran dan budaya yang dapat diresap lewat berbagai media, telah membentuk para pemuda Indonesia sedemikian rupa. Bagi mereka yang arif tentunya itu mereka manfaatkan untuk suatu kebaikan. Sementara mereka yang tak mau berpikir, bisa jadi malah terlenakan dan berapatis ria.

Tidak sedikit “dosa besar” pemuda yang disiarkan media akibat kegandrungan mereka pada hal-hal tak berfaedah. Mulai dari narkoba, geng motor, seks bebas, sampai pada demonstrasi anarkis—hampir semua kasus tersebut dilakoni pemuda sebagai tokoh utamanya.

Pemuda yang berpikiran terbuka dan kritis, tentu akan memiliki banyak pertimbangan sebelum melakukan hal-hal yang sebetulnya tak ada gunanya atau malah merugikan. Lain dengan pemuda yang berpikiran sempit dan tumpul, mereka tidak akan sempat pikir panjang ketika tawaran atau kesempatan untuk melakukan hal-hal tersebut datang.

Banyaknya “dosa besar” yang dilakukan oleh pemuda ditengarai merupakan hasil dari pola pikir sempit dan tumpul yang mendekam dalam kepala mereka. Apa lagi yang bertanggung jawab membentuk pola pikir kalau bukan pendidikan? Maka kita tanyakan kepada para orangtua dan guru, apakah mereka sudah menerapkan pendidikan yang membebaskan “generasi penerus bangsa” ini dari kungkungan pikiran yang sempit dan tumpul?

Dengan pikiran yang terbuka dan kritis, pemuda diharapkan dapat membaca dan mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi pada dirinya masyarakat secara objektif. Kepekaan ini lantas mendorongnya untuk merumuskan cara yang benar dalam meraih satu tujuan besar: membentuk masyarakat Indonesia madani.

Jumat, 28 Mei 2010

dendang tolak hujan

cerah sajalah langit, kenapa harus mendung?
aku merasa hidup kala jatuh sinarmu
muncul sajalah mentari, kenapa harus mengalah?
dengan gelayut awan tebal yang menggantung

janganlah kamu, wahai hujan, turun melulu
sampai jemuranku, biar kering dulu...

Rabu, 26 Mei 2010

Daur Ulang Sampah Tambakboyo, Bentuk Kemitraan Pemerintah dengan Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Sampah adalah anak-anak kehidupan. Sampah ada karena kita hidup.

Masyarakat Indonesia masih menganggap sungai sebagai tempat pembuangan. Ke mana air mengalir sampai jauh, di situlah mereka membuang limbahnya. Limbah adalah hasil perbuatan yang tidak pernah diakui. Ini adalah suatu hal yang tak akan mereka dapatkan di luar negeri, negara-negara maju khususnya. Pengelolaan sampah seharusnya kembali pada produsen sampah itu sendiri. Namun di lapangan, 70% produsen berlaku sesuai dengan seleranya masing-masing. Yang dapat dilakukan pemerintah adalah memberi stimulan kepada yang mandiri. Yang harus ada dalam diri masyarakat adalah kesadaran.

Anggaran untuk sosialisasi pengelolaan sampah secara mandiri sudah dibuat pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 1996. Pada tahun 2010, anggaran tersebut baru digunakan di 20 dari 92 lokasi yang menjadi target. Target yang diarah adalah masyarakat dan sekolah (untuk tingkat apapun). Sosialisasi yang dilakukan mendapat respon rata-rata 6 bulan setelah sosialisasi dan paling cepat 3 bulan. Sebagian besar masyarakat lebih memilih pelayanan kendati pemerintah berani memberi stimulan sebanyak 2 juta rupiah/RW jika masyarakat memilih mengelola sampahnya secara mandiri. Sukunan adalah contoh lokasi di DIY yang berhasil mengelola sampahnya secara mandiri hingga mendapat funding dari Australia.

Pelayanan pengambilan sampah merupakan salah satu pra sarana dasar perkotaan. Pemerintah Kabupaten Sleman memberikan dua macam pelayanan, yaitu pelayanan langsung dan pelayanan tidak langsung. Pelayanan langsung adalah mendatangi langsung pemukiman yang akan dilayani. Pelayanan tidak langsung adalah membuat kemitraan dengan swasta seperti yang terdapat di Daur Ulang Sampah (DUS) Tambakboyo.





DUS Tambakboyo berlokasi di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman dan merupakan hasil kerja sama Pemda DATI II Sleman Provinsi DIY dan DIT. TPLN, BPP. Teknologi. Sebelum dijadikan tempat daur ulang, lokasi ini berupa Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Jika TPA tersebut terus dipertahankan, maka air yang diminum oleh warga Kotamadya Yogyakarta adalah air yang sudah terkontaminasi sampah karena topografi Sleman yang berupa lereng. Kini satu-satunya TPA di DIY berada di Piyungan, Bantul. Kendati demikian, kehadiran tempat ini mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA Piyungan. Biaya yang dikeluarkan untuk itu pun menjadi lebih rendah. TPA Piyungan tidak hanya menampung sampah dari Sleman, tetapi juga dari Bantul sendiri dan kotamadya.

Pekerja DUS Tambakboyo adalah murni masyarakat di sekitar lokasi, bukan pekerja dinas. Hasil dari pendaurulangan sampah bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Secara finansial, hasil yang mereka dapatkan setiap bulannya sudah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR). Terjadi koordinasi yang saling menguntungkan antara masyarakat dan pekerja dinas. Masyarakat bertugas memilah sampah yang masuk sedangkan pekerja dinas yang membuangnya ke TPA Piyungan.

Kriteria dalam pemilihan lokasi TPA antara lain adalah keadaan tanah tidak boleh mudah merembeskan air, luas minimum lahan 10 hektar, dan merupakan zona bebas yang jauh dari pemukiman.

Keberadaan DUS Tambakboyo yang dekat dengan pemukiman bukan kesengajaan dari pihak pendiri. TPA yang kemudian menjadi tempat daur ulang ini sudah lebih dahulu ada, yaitu sejak tahun ’80-an. Pemukiman di sekitarnya baru berdiri sekitar tahun 2000-an. Untuk menuju TPA, dibutuhkan akses jalan yang baik. Akses jalan ini kemudian biasanya dimanfaatkan investor untuk mengembangkan pembangunan di sekitarnya, selain karena harga tanah di sekitar TPA yang murah.


Pengomposan di Daur Ulang Sampah Tambakboyo

Sampah di DUS Tambakboyo berasal dari wilayah Sleman dan dibawa menggunakan bermacam-macam kendaraan, mulai dari gerobak, motor bak, maupun mobil bak. Sampah yang dibawa dari DUS bisa mencapai 2-3 truk sehari atau 16-17 truk seminggu. Satu truk dapat memuat 10 m3 sampah. Pekerja di DUS memilah sampah sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Mereka bekerja dari Senin hingga Jumat.

Sampah organik dipisahkan. Di bawah bangunan terbuka beratap seng, hasil pemisahan tersebut dibagi menjadi beberapa gundukan. Gundukan ini masih bercampur dengan sampah plastik berukuran kecil. Gundukan disiram air secara kontinyu agar selalu lembap dan mempercepat proses pembusukan. Seminggu sekali gundukan dibalik. Jika terlihat kering, gundukan disiram air. Air tidak boleh dibiarkan mengalir sebab dalam air tersebut terkandung sari kompos. Proses pengomposan ini memakan waktu 2 bulan.






Untuk memisahkan kompos yang sudah jadi dari sampah plastik, dilakukan pengayakan. Pengayakan dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Pengayakan secara manual menggunakan ayakan bambu dengan target produksi 4 ton/bulan. Pengayakan dengan mesin menggunakan sarfas. Kompos yang masih bercampur dengan sampah plastik dimasukkan ke dalam sarfas. Mesin sarfas dinyalakan sehingga alat tersebut berputar. Partikel kompos akan ke luar melalui celah-celah sarfas sementara sampah plastik terkurung di dalam. Sarfas yang dimiliki DUS Tambakboyo masih baru sehingga belum ditentukan target produksinya. Selain sarfas untuk memisahkan kompos dari sampah plastik, DUS Tambakboyo juga memiliki sarfas untuk mencacah daun.

Sampah plastik dari hasil pengayakan dikirim ke TPA Piyungan. Tidak ada perlakuan lagi terhadap sampah plastik ini ketika sudah sampai tempat pembuangan akhir.

Kompos yang sudah jadi kemudian dikemas. Oleh pemerintah, kompos ini digunakan untuk memupuki taman kota. Pekerja DUS dapat pula memanfaatkan kompos tersebut jika mereka memerlukannya, misalnya untuk dijual.

Narasumber: Pak Puji (Pemkab Sleman), Pak Budi dan Pak Irwan (DUS Tambakboyo)

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain