Kamis, 06 Oktober 2011

Suatu Jalan-jalan Ali dan Zia (bagian 1 dari 4)

Posting-an hari ini istimewa karena sangat panjang. Jadi dalam hari yang sama akan ada empat posting-an sekaligus namun saling bersambung. Silahkan menikmati kalau enggak capek bacanya, huauahahahahahhahahahah… Perlu diketahui bahwa perjalanan dalam cerita ini dilakukan pada tanggal yang sama dengan hari posting.

*

dari ITB ke BIP

Gadis itu berdiri di bawah salah satu baliho. Ali mendekatkan motornya ke sana namun terhalang pagar rantai. Diteriakinya gadis itu hingga menoleh. Gadis itu ganti mendekat. “Udah lama?” tegur Ali.

Zia menggeleng. “Enggak. Aku baru aja mau masuk lagi ke dalem. Cuman mau beli kue cubit.” Zia menyodorkan wadah plastik berisi beberapa bongkah kue basah tersebut. Bentuknya agak bulat tapi tak karuan. Ada yang berbentuk seperti bunga. Warnanya putih atau hijau di bagian atas—sepertinya yang hijau karena pandan—sedang bagian bawahnya cokelat. Bagian atas kue yang putih berbubuh lelehan meses. “Aku heran kenapa yang ada mesesnya cuman yang putih, yang ijo enggak.”

Agak kecewa Ali. Ia kira Zia memang sudah menunggunya dari tadi.

“Terakhir kali aku beli yang ginian kayaknya waktu SD deh. Sekarang harganya jadi mahal banget. Tadi aku beli seplastik gini harganya enam ribu, isinya sepuluh, jadi masing-masing harganya enam ratus. Tapi kalau beli dua ribu cuman dapet tiga loh. Dulu pas jaman kita SD harganya berapa ya satu?”

“Seratus? Lima ratus?” Ali mencomot lagi satu. Sambil menikmati rasanya, perhatian Ali jadi terpaku pada kue tersebut. Tiba-tiba Zia menyodorkan wadah kue itu ke tangan Ali lalu merogoh-rogoh isi ranselnya sendiri.

“Eh, ini bukunya. Makasih ya.” Gadis itu mengambil wadah kuenya lagi begitu Ali menerima buku yang disodorkan. Ganti Ali yang membuka ransel, mengeluarkan buku, lalu memberikannya pada Zia.

“Sama-sama.” Sementara Zia memasukkan buku ke dalam tasnya, Ali berkata lagi. “Emang di ITB lagi ada acara apa sih?”

Zia mengangkat kepala lalu mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Mereka berada di depan gerbang kampus ITB yang berseberangan dengan Taman Ganesha. “Ini kan kampus kedua aku.”

“Oh ya?”

“Aku suka iseng aja sih ikut Mas Imin, eh, Kang Lutung ke kampusnya. Jangan cemburu ya?”

Ali berusaha tidak mengacuhkan itu. Masih saja Zia suka mengomporinya dengan mantan kakak kelas yang dikaguminya itu, yang adalah sepupu Zia—seolah-olah ia bukan lelaki normal saja. “Kalau enggak salah, adik kamu juga di FSRD ya?”

“Ah, enggak usah ngomongin dia.” Zia memalingkan kepala. Lalu, “Eh, habis ini kamu mau lewat mana?”

“Belum tahu.”

“Aku boleh ikut sampai ke BIP enggak?”

Ali melirik ke bagian bawah motornya. Sebetulnya bukan kebetulan ia membawa helm satu lagi.

“Boleh nebeng?”

Ali mengangguk. Tidak berapa lama kemudian ia sudah menjalankan motor lagi dengan tambahan beban di belakang punggungnya.

“Eh, lewat jalan di samping Salman yuk…”

“Kenapa?” tanyanya. Tapi ia menurut jua.

“Biar teduh aja. Lagian aku udah bosen lewat jalan raya terus.”

Sementara mengemudi, sesekali Ali memerhatikan kanan-kiri jalan. Tidak ada sesuatu yang benar-benar menarik. Ia melihat beberapa anak muda bermain kartu, lalu tulisan “SLOW DOWN” yang menunjukkan bahwa di kanan sana ada kantor PDAM, SMA Alfa Centauri yang bersatu dengan bimbel SSC, lalu…

“Eh, entar lewat Taman Flexi dong…”

“Hm? He eh.” Ali menurut. Didengarnya lagi suara Zia.

“Eh, liat di sebelah kanan lucu deh. Ada tanda kalau lewat sana cuman bisa satu arah dari jam 6 sampai 18, tapi semua mobil yang diparkir sana malah madep ke arah sebaliknya. Padahal mobilnya banyak loh, hampir di sepanjang jalan, aneh deh.”

Ali ingin lihat juga tapi motornya mesti sudah melaju jauh dari pemandangan yang dimaksud Zia.

Ali membelokkan motornya.

“Eh, lewat bagian dalam Ranggamalela dong… Belok, belok…”

Ali menurut lagi.

“Kamu inget Dean enggak?”

Ali tidak ingat persis. Sepertinya itu nama adik kelasnya. “Yang pacaran sama anak LEMPERs itu bukan?”

“Iya. Aku inget dulu pernah diceritain sama dia kalau tiap kali dia liat taman ini dia jadi suka mikir mesum.”

Ya ampun, ngapain yang kayak gitu diceritain?!

“Tapi aku juga pernah da, pas lewat trotoar deket sini liat ada kondom. Tapi masih utuh sia, bulet.”

“Kalau saya sih sukanya liat banci.”

“Wah, ternyata kamu pemerhati banci?”

Ali mengerjapkan mata. Bukan itu maksudnya. Ia telah membawa motornya mengitari taman tersebut. Zia masih mengarahkannya untuk melalui jalan yang gadis itu ingin lewati. Ali mendapati bangunan UNISBA di sebelah kiri sementara sebuah tempat makan bernama Kampung Ubi di sebelah kanan. Jus ubi?

“Ih, aku penasaran deh makan di situ. Kayaknya lucu deh makan yang ungu-ungu.”

Ia jadi ingin mengajak Zia makan di situ kapan-kapan.

“Katanya di sekitar sini ada bangunan peninggalan Belanda yang kembar loh,” sahut gadis itu lagi.

“Oh ya?”

Cukup lama tak terdengar suara Zia. Yang mendominasi pandangan Ali hanya hijau, hijau, dan hijau. Jalan ini dirindangi oleh pohon besar di kanan-kirinya.

“Eh, itu tempat apa sih, Li?”

“Mana?” Ali merasa kagok ketika harus menoleh.

“Itu, yang banyak mang-mang jualannya. Pasti itu tempat sesuatu deh. Tapi enggak ada apanya gitu euy, enggak jelas tempat apa.”

Ali juga merasa omongan Zia tidak jelas.

Ia mendengar Zia berceletuk lagi ketika dilihatnya juga beberapa pohon yang digantungi oleh boneka-boneka kecil. Ali sempat mendongak namun ia tak mengindahkan apa yang Zia katakan. Konsentrasinya lekas kembali ke jalan. Iseng banget ada yang gantungin boneka ke situ, dalam rangka apa sih? Ali mengingat-ingat. Gimana cara nyantolinnya ya?

Mereka sudah hampir mendekati Jalan Merdeka namun Zia memintanya untuk lurus saja. Ali tahu ia akan menemukan CCF, Gramedia, dan BEC di jalan itu.

“Ke BIP mau ngapain sih?” tanya Ali.

“Itu loh, ada pameran perangko…”

“Oh. Kamu sendirian ke sana apa janjian sama temen-temen kamu juga di sana?”

“Sendiri.”

Tentu saja. Ali baru ingat kalau untuk angkatan mereka, Zia termasuk lamban. Banyak kawan seangkatan mereka yang sudah lulus lalu berpencaran. Sedang Zia, Ali tidak tahu apa gadis itu sudah memikirkan skripsi apa belum.

“Ikut deh.” Ali memasukkan motornya ke jalur parkir Gramedia. “Ternyata kamu minat sama filateli juga ya, Zia.”

“Ah, enggak juga. Perangko kan punya seninya tersendiri. Aku cuman pingin jadi sedikit berbudaya.”

Setelah motor diparkir, mereka berjalan ke sisi lain Gramedia yang berseberangan dengan BIP. Zia sempat masuk kamar mandi sebentar. Sangat sebentar. Ali tidak mau membayangkan apa yang Zia lakukan di dalam sana. Mereka melanjutkan jalan sampai depan.

Sejenak mereka berdiri di tepi jalan yang cukup lengang pada siang itu. Biasanya Ali mendapati jalan lebar tersebut dirayapi kendaraan dari arah kiri sehingga jalan lebih mudah untuk diseberangi karena kendaraan berjalan lamban. Di sebelah kanan ada pasangan yang sedang menunggu kesempatan untuk menyeberang juga. Tahu-tahu Zia pindah ke samping kanan pasangan tersebut. Kontan Ali mengikuti. Ia perhatikan ada dua gadis lain yang hendak menyeberang juga. Dua gadis itu mengambil tempat di samping kanannya dan Zia. Ali mengernyitkan dahi. Kalau hanya menyeberang dalam situasi seperti ini sih, ia juga bisa memandu. Sepertinya satu sama lain bergantung pada orang di sisi kiri mereka.

Beberapa orang lelaki menyela formasi tersebut. Begitu mereka hendak menyeberang, orang-orang yang di belakang serentak mengikuti. Ali merasa geli sekaligus aneh mendapati kebersamaan yang mendadak tercipta di antara orang-orang yang tidak saling mengenal ini. Padahal ada jembatan penyeberangan puluhan meter di kanan sana. Dulu Ali pernah berpikir mengapa jembatan penyeberangan tersebut tidak dibangun tepat di depan Gramedia. Lebih banyak orang yang hendak menyeberang dari titik ini.

“Li, aku mau beli Rotiboy dulu ya.”

Ali diam saja mengikuti ke mana mau gadis itu. Harga Rotiboy sekarang sudah Rp 7.500,-. Dulu, pertama dan terakhir kali ia beli, harganya masih Rp 6.000,-. “Kamu enggak beli juga?” tanya Zia.

“Udah makan tadi di rumah.” Lebih enak masakan mamanya—selain karena ia tidak usah mengeluarkan uang untuk itu.

Ali memerhatikan Zia yang langsung memakan rotinya sambil jalan. Tampak renyah sekali lapisan mocca kering di atas tersebut. Lelehan mentega di dalamnya terasa gurih. Namun bukan itu yang Ali perhatikan. Serpih-serpih lapisan atas roti tersebut menjejakkan diri di sekitar mulut Zia saat digigit. Ali ingin berdecak karena kelakuan gadis tersebut, tapi ia tahan.

Rabu, 05 Oktober 2011

Monang Ngebolang


Edel menurunkannya tepat di depan pusat reservasi tiket.

“Aku baru tahu kalau di Bandung ada yang ginian juga,” kata Monang. Ia pernah ke pusat reservasi tiket di Stasiun Tugu, Jogja, waktu ia mau pulang ke Bandung dalam suatu liburan. Selama ini kalau ia mau beli tiket kereta sebelum hari keberangkatan, ia akan membelinya di loket stasiun yang halamannya menghadap ke loko-lokoan.

Edel mengangkat bahu. Kaca mobil naik hingga menutupi pemandangan Edel memonyongkan bibir. Monang memandang kepergian mobil perak itu sampai hilang di belokan.

Ia menuju bangunan yang didominasi warna oranye itu lalu tersenyum pada satpam yang membukakan pintu—seakan ia sudah biasa ke sana. Begitu menemukan meja dengan kertas pemesanan di atasnya, ia langsung duduk di bangku kuning meja tersebut. Lodaya pagi. Jumat, tanggal 7 Oktober 2011. Bisnis. Tiga orang. Ini yang pesen siapa, yang mau berangkat siapa... gerutu Monang.

Hanya ada satu orang wanita berjilbab di depan meja pemesanan. Sembari menunggu urusan wanita tersebut selesai, Monang mengamati informasi harga tiket. Lodaya pagi, bisnis, tanggal 7 Oktober, Rp 120.000,-? Seingatnya dulu harga tiket Lodaya bisnis hanya Rp 90.000,-. Naik terus!

Ke luar dari pusat reservasi tiket, terik matahari menjelang zuhur menyengat Monang. Namun udara terasa tidak begitu panas di badannya—setidaknya ia belum berkeringat.

Kawan-kawannya sudah berada di Taman Tegallega. Mereka pernah bilang kalau taman kota menyimpan harta karun. Mungkin mereka sedang mencarinya di sana. Mereka juga sudah pernah ke Taman Lansia, Taman Ganesha, dan berbagai taman lainnya di Kota Bandung namun Monang belum pernah lihat rupa harta karun itu seperti apa. Mungkin sebaiknya ia ke sana sekarang untuk membantu mereka. Barangkali mereka memang akan menemukannya di taman yang satu itu.

Monang merogoh-rogoh bagian dalam tas selempangnya, lalu saku celananya. Alamak. Jalan kaki saja ke sana biar sehat dan ramah lingkungan, pikirnya. Padahal ia tidak menemukan uang untuk ongkosnya naik angkot.

Monang berjalan menyusuri jalan di depan halaman utara Stasiun Bandung. Ketika belok ke kanan, ia menemukan jalan yang teduh karena sisi kanan dan sisi kirinya ditumbuhi oleh pepohonan rindang. Ia melihat bangunan Kereta Api Health Center di jalan itu. Ia baru tahu kalau ada PT. KAI punya pusat kesehatan juga.

Hampir sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan rel kereta yang melintang, ia menyeberang. Hampir sampai di ujung jalan lagi, ia kembali menyeberang. Sebuah taman kecil menyambutnya. Taman kecil itu mengingatkannya pada taman kecil-taman kecil lain yang ia lihat selama perjalanan menuju pusat reservasi tiket dengan menggunakan mobil Edel tadi.

Ia pernah baca kalau Kota Bandung memiliki 600 taman. Sepertinya tidak mungkin kalau ke-600 taman tersebut luasnya seperti Taman Lansia atau Taman Pramuka atau taman-taman yang cukup besar dan terkenal lainnya di Kota Bandung. Mungkin jumlah taman di Kota Bandung bisa mencapai 600 karena taman kecil seperti ini masuk hitungan, pikirnya.

Ia menapaki trotoar berlantai merah di tepi taman kecil itu namun kemudian tertarik untuk berjalan di dekat Sungai Cikapundung. Lagi, ia menyeberang.

Dibatasi pagar besi putih, air Sungai Cikapundung di bawah sana tampak keruh. Monang mengerutkan kening karena mengira warna air agak keabu-abuan. Banyak sampah di sana. Padahal ia pernah berkali-kali membaca atau mendengar aksi membersihkan Sungai Cikapundung, baik oleh pemerintah maupun anak SD. Mengapa sampah selalu ada?

Puncak kepala yang sedari tadi disinari matahari jadi terasa adem ketika ia melewati bagian bawah jembatan rel. Pantas saja enak bagi para gelandangan itu untuk tidur di bawah sini, pikir Monang.

Monang menyadari bahwa ia tidak tahu di mana letak Taman Tegallega. Namun ia yakin taman tersebut berada di dekat alun-alun. Di kejauhan, ia lihat dua menara kembar masjid agung. Ia jadikan itu sebagai patokan arah. Di dekat masjid agung ada kawasan Palaguna yang katanya akan dijadikan RTH. Ia ingin meninjau ke sana juga.

Ketika menyeberang jalan lagi, ia ingat pada sebuah novel yang kemarin ia tamat baca: “Fetussaga”, karangan Jamal. Dalam novel itu disebutkan bahwa membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan orang desa yang terbawa ke kota. Orang desa bisa membuang sampah di mana saja, termasuk di sungai, karena sampah mereka sedikit dan terbuat dari bahan alam. Lagipula penduduk desa tidak sebanyak penduduk kota. Monang jadi ingat tentang dampak urbanisasi yang pernah diajarkan di mata pelajaran IPS saat SD.  

Monang masih berjalan di seberang Sungai Cikapundung yang dipagari. Ia melihat Sungai Cikapundung yang kali ini dirimbuni oleh pepohonan di kanan-kirinya. Sepertinya asik kalau bisa melihat dari dekat, namun Monang enggan karena ruang di tepi pagar dipenuhi oleh PKL sampai sungai tidak terlihat lagi karena tertutup bangunan.

Ketika menyeberang, Monang bertemu dengan serombongan orang. Salah satu wanita berjilbab dalam rombongan tersebut mengatakan sesuatu tentang hutan lindung pada pria di sebelahnya. Monang jadi tertarik untuk mengetahui isi pembicaraan mereka selanjutnya namun bising pendengaran menutupi pendengarannya. 

Monang memasuki kawasan Braga. Ada seruas jalan di kawasan ini yang permukaannya seperti bukan dari aspal. Batu kali apa ya? pikir Monang. Ruas jalan ini biasa dijadikan tempat foto-foto dengan dekornya yang unik. Bangunan bernuansa kuno yang berupa toko-toko berjejer di sisi kanan dan sisi kiri ruas jalan ini.

Di sepanjang jalan itu, Monang bertemu dua buah toko buku yang mungkin akan ia kunjungi kapan-kapan bersama kawannya yang cukup intelektual. Ia menyadari bahwa sedikit-sedikit ia melewati pajangan lukisan-lukisan. Mestinya lukisan-lukisan ini dipajang untuk menarik minat calon pembeli yang melewati jalan ini, pikirnya. Lama-lama ia jadi menikmati kehadiran lukisan-lukisan tersebut. Seperti berjalan di lorong sebuah pameran lukisan—hanya saja ini pameran di ruangan terbuka.

Monang juga melewati bagian depan Braga City Walk alias Brawalk. Monang jadi membayangkan pakaian dalam wanita yang bisa berjalan. Ia pernah nonton film di 21 mal tersebut. Ada yang bilang harga tiket di situ paling murah. Tapi itu sudah lama sekali. Monang lupa, selain 21, ada apa saja di dalam area mal tersebut. Melihat Brawalk dari depan membuat Monang menerka kalau konsep mal ini serupa Ciwalk alias Cihampelas Walk. Mungkin juga Paris van Java—tapi Monang juga sudah lupa seperti apa bagian dalam Paris van Java.

Baik Brawalk, Ciwalk, maupun mal sejenisnya yang ada di Kota Bandung yang mungkin ada lagi tapi Monang tidak tahu, memiliki konsep memadukan mal dengan ruang terbuka. Bagus kalau ruang terbukanya hijau, hijau banget dan rimbun sampai jadi kayak hutan, pikir Monang. Ia pernah pulang malam dari Ciwalk dan melihat tajuk pohon besar di depan mal tersebut disorot oleh lampu dari bawahnya. Siluet dahan yang bergelombang-lombang disinari cahaya temaram memberikan kesan estetis yang menggetarkan hati Monang saat itu. Indah.

Selama ini ada kalangan masyarakat yang memprotes makin banyaknya bangunan komersil di Kota Bandung yang menggerus lahan yang padahal potensial untuk jadi ruang terbuka hijau (RTH). Kepentingan lingkungan hidup masih saja kalah oleh kepentingan lain yang lebih menghasilkan secara ekonomi. Monang membayangkan kesengitan perkara ini bisa dikurangi jika setiap bangunan dibuat dengan konsep ramah lingkungan—ya dengan mengadakan RTH di sekeliling atau sela-selanya.

Setelah melewati ruas jalan dengan permukaan yang khas itu, Monang mengambil jalan ke kanan. Hampir di ujung jalan, ia melihat ada beberapa penjaja majalah bekas di trotoar kiri jalan. Tadinya ia ingin melihat-lihat tapi tidak jadi karena terhalang banyaknya kendaraan parkir. Setelah melewati Bale Sumur Bandung, ia menyeberang ke kanan jalan sementara di seberang jalan yang lebih besar terdapat kawasan Palaguna.

Ia ingin melihat kawasan yang dipagari seng itu dari dekat. Menyeberang di jalan besar agak membuatnya malas. Lagipula ada jembatan penyeberangan di atasnya. Monang merasa, sebagai warga negara yang baik ia harus memanfaatkan fasilitas yang ada. Jembatan besar itu menuai penasaran.

Ia tapaki anak tangga jembatan tersebut. Setelah sampai di puncak tangga, ia terkesima karena jembatan itu ternyata terdiri dari dua tingkat! Tingkat pertama tampak suram. Ia lebih tertarik menaiki tangga satunya yang membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.

Sesampainya di puncak tangga, lagi-lagi ia terkesima karena ia menemukan sebuah ruang yang cukup luas. Ia sering membaca protes mengenai kurangnya ruang publik bagi masyarakat di Kota Bandung ini. Konteks ruang publik yang dimaksud sebetulnya lebih mengarah pada RTH—karena yang ia baca adalah artikel-artikel terkait itu. Namun bukan berarti ruang di tengah jembatan penyeberangan ini tidak bisa dimanfaatkan juga!

Yang ada dalam pandangan Monang sekarang adalah lantai yang kotor dan dinding kumuh penuh coretan. Ia membayangkan seandainya ruang yang cukup luas tersebut ditata dan dibersihkan. Lalu sekelompok anak muda dari suatu komunitas datang lalu mengisi salah salah satu sudut untuk duduk melingkar dan berdiskusi. Tidak hanya komunitas itu saja yang bertandang, tapi ada juga yang lainnya. Mungkin pojok satunya bisa diisi oleh stan penjualan minuman yang dijaga oleh mbak-mbak cantik. Mungkin pot-pot tanaman hias bisa mengisi beberapa sisi ruangan. Maka ruang yang cukup luas ini akan memiliki manfaat lebih, bukan hanya tempat tinggal bagi gelandangan saja.

Monang menempelkan tubuhnya ke pagar pembatas. Dari sana ia bisa melihat kawasan Palaguna secara keseluruhan. Kawasan itu terdiri dari bangunan tinggi yang sudah tidak terurus dengan kaca berlubang-lubang serta hamparan rumput tinggi di depannya. Ia ingat pernah menonton film Mr. Bean di bioskop di bangunan itu bersama sepupunya waktu ia masih kecil. Saking banyaknya yang menonton, mereka tidak kebagian bangku sehingga mereka duduk di karpet. Entah mengapa bangunan tersebut tidak berfungsi lagi sebagai kawasan komersil. Monang juga tidak terbayang bagaimana pihak yang berwenang akan mengubah lahan ini jadi RTH yang layak kunjung.

Dengan rumput sedemikian lebatnya, sebenarnya lahan tersebut sudah berfungsi sebagai RTH. Rumput pun bisa menghasilkan oksigen dan menyerap air. Namun tentu saja hanya sekadar rumput tidak membuat fungsi ekologis lahan tersebut optimal. Apabila memang tidak akan dimanfaatkan lagi, bangunan tersebut bisa diruntuhkan. Kalaupun tidak, lahan hijau di depannya tampaknya sudah cukup untuk dirombak menjadi sebuah taman. Tentu saja yang diharapkan adalah taman yang apik seperti taman-taman lainnya di Kota Bandung.

Sewaktu dalam perjalanan bersama mobil Edel tadi, Monang melewati sebuah lahan di samping Gasibu yang juga dipagari. Ada papan yang menginformasikan kalau lahan tersebut milik pemerintah. Ada sebuah kolam besar di tengah lahan tersebut. Itukah kolam yang katanya berkedalaman 10 m? pikir Monang saat melihatnya. Ia mengamati luas lahan yang tersisa di tepi kolam tersebut dan menimbang-nimbang apakah pohon besar muat tumbuh di situ. Ia pernah baca kalau ada area di dekat Gasibu yang hendak dijadikan RTH juga. Mungkin lahan itu yang dimaksud.

Bagus apabila RTH di Kota Bandung tambah banyak—apalagi kalau jadinya seperti taman-taman yang sudah ada, tinggal perawatannya saja. Masalahnya, kapan penataan ini akan diwujudkan?

Dari artikel-artikel yang ia baca juga ia tahu kalau pemerintah kekurangan anggaran dan SDM sehingga pengelolaan tidak bisa dijalankan dengan ideal. Ia ingat seorang kawannya yang beberapa bulan lalu praktek di Taman Nasional Ujung Kulon. Masalah yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan konservasi tersebut juga serupa: kurangnya anggaran dan SDM. Kalau tidak salah moratorium PNS pun karena masalah demikian pula. Padahal kalau salah satu masalahnya adalah kurang SDM, maka tentu saja jumlah SDM perlu ditambah. Masalahnya, anggaran untuk menggaji SDM itu yang tidak ada! Begitu bukan ya? Monang bertanya-tanya karena sesungguhnya ia tidak begitu suka baca koran. Apa yang ia baca selama ini ialah apa yang kawan-kawannya memang lagi gandrung baca.

Monang jadi terilhami untuk menulis sesuatu di media sosialnya. Ia mengambil ponsel lalu memencet-mencet dengan gemas.

“Wahai para koruptor, kembalikanlah uang yang telah kau korupsi agar badan pemerintah tidak lagi kurang anggaran dan SDM dalam melayani kebutuhan masyarakat!”

Seorang pria memegang gayung terpekur saja di dekat pagar pembatas tangga satunya. Monang cuek saja melewati pria tersebut ketika hendak menuruni anak tangga. Ia palingkan kepalanya ke hamparan hijau di tanah Palaguna itu. Ada beberapa gelandangan lagi ia temukan di sana. Juga beberapa tumpukan sampah. Kalau kawasan ini dibenahi, mereka akan tinggal di mana? Monang jadi bertanya-tanya lagi.

Saat menuruni anak tangga, Monang mencium sesuatu yang tidak sedap namun ia tidak acuhkan saja. Lepas dari sana, ia memasuki jalan di samping masjid agung. Ia menyeberang agar bisa berjalan lebih dekat dengan masjid. Namun ia tidak berniat solat zuhur di sana meski azan zuhur sudah berkumandang dari beberapa waktu lalu.

Sampai jalan itu habis, ia lihat di seberang masjid agung ada sebuah taman lagi. Kali ini tamannya cukup besar, ada pagar besar yang terbuka sedikit, serta dibatasi oleh tembok. Monang menyeberang agar bisa melihat area tersebut lebih dekat. Ia ingat pernah bermain dengan air mancur di suatu taman di dekat sini—inikah taman dalam kotak memorinya tersebut? Ia ragu area yang dijuduli “Pendopo” di tembok depannya itu dibuka untuk umum. Dalem Kaum 56, catat Monang dalam hati.

Sambil berjalan, ia mengintip apa yang ada di balik dinding tembok ini melalui lubang-lubang yang ada. Tidak semua lubang bisa diintip karena tertutup oleh entah apa. Sampai akhirnya tidak ada lagi lubang yang bisa diintip.

Sekarang yang ada di sekitar Monang hanyalah bangunan-bangunan toko. Sasaran perhatiannya beralih pada orang-orang yang dipapasnya. Bertemu dengan orang-orang yang dikiranya merupakan kalangan menengah ke bawah entah mengapa membuatnya merasa beruntung—lebih baik. Sebelumnya yang ada di kepalanya hanyalah kawan-kawannya, para mahasiswa di kampus ternama, yang seakan dinanti masa depan cerah. Ia sendiri tidak yakin akan bernasib sama dengan kawan-kawannya itu karena ia selalu merasa dirinya berbeda dari mereka. Ia berada di jalur informal. Namun kini ia merasa hal itu bukanlah masalah. Ada begitu banyak macam orang di dunia ini. Dunia tidak hanya diisi oleh orang macam kawan-kawan bergengsinya itu saja. Dunia bukan hanya untuk mereka. Dan setiap orang memiliki tempatnya masing-masing.

Ngebolang gini pikiran awak jadi ke mana-mana, batin Monang. Di sisi lain ia merasa tentram. Mungkin ngebolang-ria kayak gini bakal lebih manfaat kalau awak enggak sendiri tapi bersama orang-orang berpengetahuan. Ia penasaran akan sejarah Palaguna hingga sampai terlantar seperti itu, muasal konsep Bandung sebagai kota taman, hingga tempat apakah sebetulnya Dalem Kaum 56 itu.

Monang tahu ada sebuah komunitas di Kota Bandung yang suka mengadakan acara jalan bersama setiap minggu. Bukan sekadar jalan bersama, namun ada juga pertukaran pengetahuan dan informasi akan tempat-tempat yang dilewati. Monang merasa harus bergabung dengan komunitas tersebut supaya acara ngebolangnya lebih berarti. Awak ingin tahu lebih banyak tentang kota awak tinggal sekarang...

Monang jadi ingat kalau tujuannya semula adalah Taman Tegallega. Tapi ia tidak tahu ke mana arah menuju taman tersebut! Setiap kali ia lihat di kejauhan ada rimbun pepohonan, ia kira mungkin saja itu taman. Namun setelah dekat, ternyata itu hanya pohon pengisi jalan biasa.

Monang akhirnya sampai ke Jalan Pungkur. Ia mencari tempat di mana ia bisa duduk sejenak dan menyelonjorkan tungkai kakinya yang lelah. Setelah dapat, ia lepas sepatu agar kakinya lega kena udara. Tak disangka, ketika mencopot sepatu sebuah lipatan uang jatuh. Apa sebab awak taruh uang di sini? Monang sama sekali tidak ingat. Ia buka lipatan uang tersebut. Lima ribu rupiah, lumayan.

Ia jadi kepikiran untuk berkunjung ke kos temannya saja, Ganian. Katanya Ganian itu singkatan dari GAnteng NIAN. Yah, orangtua boleh kasih anaknya nama apa saja. Monang berencana untuk bertemu Ganian di kampusnya, ITB. Dari sana mereka bisa bareng ke kos Ganian di Kanayakan. Begitu angkot Dago-Kalapa tampak, Monang cepat-cepat memakai sepatu kembali lalu loncat ke jalan untuk menyetop angkot tersebut.

Ke Taman Tegalleganya besok sajalah, pikir Monang. Tidak usah ada harta karun betulan pun, taman sudah memberi harta karun berharga dalam bentuk lain yang tak kasat mata. Dengan sekian banyak kendaraan beserta emisinya menjejali kota seperti ini, dari mana lagi penduduk kota bisa menghirup udara bersih?

Sabtu, 01 Oktober 2011

Hutan Kota di Bandung bukan hanya Babakan Siliwangi

jalur hijau di sepanjang Babakan Siliwangi
Ada banyak definisi tentang hutan kota. 


Mulai dari yang rinci macam milik Society of American Forester (1974):

Hutan kota adalah sebidang lahan sekurang-kurangnya 0,4 hektar untuk vegetasi pepohonan dengan kerapatan minimal 10% (jarak antar pohon terjauh 10 meter) dalam suatu komunitas kompak.

Atau menurut Peraturan Pemerintah nomor 63 tahun 2002 tentang Hutan Kota:

Hutan kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang.

Lebih lanjut lagi menurut peraturan ini, luas hutan kota dalam satu hamparan yang kompak paling sedikit 0,25 (dua puluh lima per seratus) hektar. Persentase luas hutan kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari wilayah perkotaan dan atau disesuaikan dengan kondisi setempat.


Sedang menurut UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luas RTH alias ruang terbuka hijau dalam suatu wilayah setidaknya 30% dari keseluruhan wilayah tersebut.

Definisi paling efektif menurut saya adalah dari Fandeli (2001; 2004):

Hutan kota adalah sebidang lahan dalam kota atau sekitar kota yang ditandai atas asosiasi jenis tanaman pohon yang kehadirannya mampu menciptakan iklim mikro yang berbeda dengan yang ada di luarnya.

Dahlan (1992) menawarkan sudut pandang yang lebih menarik mengenai hutan kota. Kita bisa menganggap hutan kota sebagai sesuatu yang terbentuk di sebagian ruang tertentu dalam kota, atau, hampir seluruh kota merupakan hutan pada mulanya sehingga hutan kota yang ada di kota merupakan sisa dari hutan kota yang lama.

Mau definisi yang lebih sederhana? Ini kata Anas, mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan UGM angkatan 2009 sewaktu masih jadi mahasiswa baru, “Hutan kota adalah hutan yang ada di kota.”

Jika suatu lahan berpohon-banyak baru boleh disebut sebagai hutan kota apabila luasnya minimal 0,25 ha, kita ambil definisi menurut PP no. 63 tahun 2002, maka hutan kota di Kota Bandung bukan hanya Babakan Siliwangi—yang baru tanggal 27 September lalu diresmikan sebagai hutan kota. Menurut Pemerintah Daerah Kota Bandung nomor 25 tahun 2009 tentang Hutan Kota, sudah ada beberapa lokasi hutan kota yang jadi wewenang pemerintah kota untuk melindungi dan melestarikan mereka—sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Bandung, antara lain Taman Tegalega (19,0 ha), Taman Maluku (2,4 ha), Taman Cilaki (3,3 ha), Kebun Binatang (14 ha), Taman Lalu Lintas (3,2 ha), Eks TPA Pasir Impun (4,5 ha), Eks TPA Cicabe (4,2 ha), Taman Pramuka (1,3 ha), Kawasan Hutan Kota Pindad (37 ha), dan lain-lain yang dalam dokumen tersebut tidak disebut luasnya.

Saya kira selama ini deretan taman-taman yang telah saya sebut itu lebih dikenal sebagai taman kota. Padahal secara luas dan fungsi mereka ternyata layak juga disebut hutan kota! Namun sepertinya memang baru Babakan Siliwangi yang disebut sebagai “Hutan Kota Dunia”. Saat saya hendak mencari tahu di Google mengenai konsep “World City Forest” ideal, saya temukan setiap link dari halaman 1 hingga 26—halaman di mana Google meminta untuk melanjutkan pencarian dengan menggunakan kata kunci yang… bla-bla-bla—merujuk hanya pada Hutan Kota Babakan Siliwangi. Memang saya tidak mengecek satu per satu ke-26 halaman tersebut—hanya beberapa halaman awal lalu langsung loncat ke halaman akhir saja. Jadi mungkin tepat kalau dikatakan bahwa Babakan Siliwangi sebagai “the first world city forest in the world”. Sebab, istilah yang umum digunakan untuk hutan kota-hutan kota lain di seluruh dunia adalah: “urban forest”.

Entah penamaan ini suatu hal penting apa bukan—apalagi jika momentumnya pas dengan perhelatan Tunza International Children and Youth Conference on the Environment 2011, tentu butuh sesuatu yang membuat momen ini tambah “wah”.

Bagaimanapun, hutan kota di Kota Bandung ternyata bukan hanya Babakan Siliwangi. Babakan Siliwangi, dengan luas 3,8 ha yang konon akan menyusut jadi 2,5 ha apabila rencana pembangunan rumah makan Sunda di kawasan ini jadi dilaksanakan, hanyalah pendatang baru dalam daftar. Eh sebentar, kita harus tunggu sampai perda mengenai ini telah diperbarui.


Bagaimana sekumpulan pepohonan di atas sebidang lahan dapat mengatasi berbagai masalah

Apabila Babakan Siliwangi kelak ditata—misalnya diberi bangku dan jalur pedestrian, mungkin kawasan ini akan terlihat sama sebagaimana taman kota-taman kota lain di Kota Bandung. Apa perbedaan antara taman dengan hutan, dalam konteks ini, saya kira juga bukan hal penting selama kawasan tersebut dapat memenuhi berbagai fungsi dan manfaat yang diharapkan. Selengkapnya mengenai tujuan, fungsi, dan manfaat hutan kota lebih lengkap bisa dilacak dalam Perda Kota Bandung no. 25 tahun 2009 ini.

Dalam bahasa saya sendiri, keberadaan hutan kota adalah untuk menyingkirkan banyak hal tidak menyenangkan yang acap kita alami di perkotaan seperti,

Panas

Iklim mikro adalah iklim di dalam hutan atau permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya penutupan vegetasi (Grey dan Deneke, 1986). Ini menjelaskan mengapa kita merasa lebih sejuk dan nyaman ketika berada di bawah pohon ketimbang terik matahari. Menurut Sulistyantara (2005), iklim mikro sangat berpengaruh terhadap kinerja (produktivitas) penduduk kota. Kondisi iklim yang tidak nyaman bagi masyarakat dapat menimbulkan pengeluaran energi tambahan. Manakala persediaan energi tambahan tersebut tidak memadai, maka menyebabkan kemalasan dalam beraktivitas.

Menurut Dahlan (1992), salah satu manfaat hutan kota adalah menurunkan suhu udara dan menaikkan kelembaban sehingga lingkungan kota jadi lebih nyaman. Suatu lingkungan dikatakan nyaman apabila perbedaan antara suhu minimum dan suhu maksimum tidak berbeda jauh dan mempunyai tingkat kelembaban relatif tinggi.

Polutan

Secara fisiologis, tumbuhan—beserta tanah dan mikroorganisme di sekitarnya—memiliki kemampuan untuk menyerap dan menjerap berbagai benda tak kasat mata di udara. Mikroorganisme dan tanah pada lantai hutan berperan baik dalam menyerap karbon monoksida. Proses fotosintesis mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang selalu kita butuhkan. Partikel yang melayang-layang di udara seperti timbal dan debu sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun—khususnya yang kasar dan berbulu, sebagian lagi masuk ke stomata—maupun kulit pohon, cabang, dan ranting. 

Bising

Pohon dapat meredam suara dengan mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang, dan ranting. Jenis yang paling efektif untuk fungsi ini adalah yang memiliki tajuk tebal dengan daun yang rindang. Penanaman berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi dapat mengurangi kebisingan—khususnya kebisingan yang sumbernya berasal dari posisi di bawah tajuk pohon.

Bau

Hutan kota dapat bermanfaat sebagai penyekat dan penyerap bau.

Stres

Dengan beberapa manfaat yang telah disebutkan, bagaimana tidak sebuah hutan kota dapat menurunkan stres? Komposisi vegetasi dengan strata bervariasi, penataan tajuk, efek “menghaluskan” bangunan perkotaan yang cenderung bersifat kaku, bebungaan dan bebuahan yang berwarna-warni, hingga suara khas akibat gesekan daun,  menimbulkan kesan estetis tersendiri yang dapat menjadi hiburan bagi indra yang lelah.


Tiga hari setelah Babakan Siliwangi diresmikan sebagai Hutan Kota

Yang jelas, 3,8 ha itu jauh lebih luas dari arboretum fakultas saya yang konon hanya 1 ha. Saya kira Hutan Kota Babakan Siliwangi luas sekali hingga menembus Jalan Taman Sari atau Jalan Siliwangi atau jalan manalah itu yang mengeliling Sabuga—terus merambah utara Bandung. Ternyata, luas yang hanya 3,8 ha itu amat patut disyukuri.

pemagaran ini tidak membuat kita menabrak pohon
30 September 2011, perjalanan saya ke sana dimulai dari berjalan kaki menyusuri jalur pedestrian sepanjang tepi kompleks ITB yang bersebelahan dengan Kebun Binatang. Rindang sekali tajuk pepohonan sepanjang perjalanan saya. Mungkin mereka juga bisa disebut sebagai hutan kota berbentuk jalur, meski entah berapa luasnya. Pagar besi hijau membatasi jalur pedestrian dengan tanaman hias di tepi jalan. Bagusnya, ketika bertemu pohon besar, jalur itu membengkok pula sehingga pejalan kaki tidak harus “menabrak” pohon tersebut. Begitulah. Entah sejak kapan jalur ini dibuat, saya kok tidak ngeh ya. Sebelum melewati Sabuga, sembari jalan saya menikmati mural di sepanjang dinding Kebun Binatang. Beberapa menarik, sisanya biasa saja.

silahkan parkir sepeda anda di sini!
Dua kali saya menemukan penunjuk arah akan lokasi diselenggarakannya Konferensi Tunza. Itu membantu saya meyakini bahwa saya telah menapaki jalan yang benar. Cilukba. Saya bertemu tulisan “.bdg” besar dengan besi-besi yang saya kira tempat parkir sepeda membujur di depannya. Di sebelah kiri saya adalah dua orang lelaki, eh, jembatan kayu yang konon dibuat berdasarkan rancangan juara pertama sayembara desain Babakan Siliwangi yang diadakan Bandung Inisiatif beberapa bulan lampau.

masih pada bebersih
Kelihatan benar jembatan itu masih baru. Bukan, bukan karena masih bau kayu. Dari balik pagar jembatan, pemandangan yang terlihat di bawah adalah aliran air rada keruh—hijau—mengalir lancar. Di samping solokan itu adalah bekas aspal yang dikelupas untuk penanaman bibit pohon. Saya tidak tahu jenis apa yang ditanam, mungkin ki hujan (Engelhardia spicata)—seperti yang dilansir artikel yang saya baca di, lagi-lagi, laman tentang Bandung Inisiatif. Tampak para anakan pohon itu ditanam sebagaimana anak Paskibra sedang belajar baris-berbaris. Saya lihat anakan yang baru ditanam sebetulnya tidak hanya berada di dalam Babakan Siliwangi saja. Sebelum sampai sana, tepi jalur pedestrian juga ditanami oleh anakan-anakan.

Entah sampai mana aspal akan dikelupas. Saya tidak memerhatikan secara detail apa yang para petugas kebersihan berseragam kuning itu lakukan di bawah sana dengan gerobak mereka. Loh kok, ada yang berjilbab juga? Benar kata teman, kawasan ini masih sedang dibersihkan.

jembatannya oks deh!
Saya pun menyusuri jembatan yang kemiringannya terus menurun. Di beberapa tikungan terpampang informasi mulai tentang sejarah Bandung, sejarah Babakan Siliwangi, berbagai testimoni mengenai Hutan Kota Babakan Siliwangi, hingga manfaat hutan kota. Jembatan ini terus bercabang. Kita bisa melihat rimbunnya vegetasi yang mengepung jembatan ini. Namun saya lihat masih ada ruang yang tidak tertutup oleh tumbuhan bawah melainkan penuh dengan sersah kecokelatan. Ini menunjukkan penutupan tajuk yang rapat hingga tidak menyisakan celah bagi sinar matahari untuk menumbuhkan tumbuhan bawah.

kok sampahnya masih ada?
Satu hal yang patut disayangkan, ketika berbalik ke belakang, saya lihat masih banyak sampah di sela-sela tanah. Saya kira beberapa waktu lampau sudah dilaksanakan acara bersih-bersih Babakan Siliwangi yang melibatkan puluhan orang. Apa topografi bertanah ini sulit dijamah sehingga menjadi bagian yang dilewatkan? Sayangnya lagi, saya lupa. Jika topografi tersebut cukup landai, tampaknya pembersihan sampah perlu diupayakan lagi. Bidang bersampah itu potensial untuk ditutupi vegetasi yang dapat mencegah terjadinya longsor—apalagi mengingat topografinya yang miring. Mungkin setelah beberapa hari lagi saya ke sana, bagian tersebut sudah bersih dari sampah. Semoga.

Saat saya berada di jembatan tersebut, ada pasangan yang sedang berfoto di salah satu pojok jembatan. Ada juga seorang anak perempuan yang sedari tadi berjalan mondar-mandir menyusuri jembatan. Menyusul kemudian adalah seorang ibu dan seorang anak perempuannya dan entah ada lagi atau tidak dalam rombongan kecil ini. Lalu ada juga beberapa bocah SMP. Mungkin mereka sama penasarannya dengan saya mengenai tempat yang belum lama diberitakan besar-besaran di kalangan warga Kota Bandung ini.

bekas aspal yang dikelupas
Setelah cukup puas, saya meninggalkan jembatan tersebut. Saya masuk lagi ke kawasan Babakan Siliwangi melalui pintu satunya, yaitu yang berada di samping kantor kelurahan. Saya menapaki jalan beraspal yang di bagian atasnya telah dikelupas untuk ditanami. Jalan tersebut menurun. Di sebelah kiri saya adalah hutan Babakan Siliwangi yang bagian tepinya—dekat jalan—berupa lahan yang relatif kosong dari tumbuhan keras. Saya bayangkan lahan ini kelak akan ditanami tumbuhan keras juga namun mungkin saja lahan itu sengaja dikosongkan untuk aktivitas tertentu. Apalagi di seberangnya terdapat Sanggar Olah Seni.

di balik tetumbuhan pisang ini adalah puing-puing bangunan
Saya turun terus hingga menemukan gerbang masuk ke SORGA alias Sasana Olahraga Ganesha. Kali ini di sebelah kanan saya masihlah sebuah lahan terbuka dan cukup ternaungi vegetasi namun dengan sisa-sisa bangunan yang sudah tidak utuh lagi. Apakah ini merupakan bekas rumah makan Sunda legendaris yang konon dulu pernah ada? Saya merasa melihat puing-puing candi. Hendak dijadikan apakah lahan ini? Apakah hendak dibangun rumah makan Sunda lagi—seperti yang direncanakan pemerintah kota berdasarkan kerja sama yang telah dibuat dengan PT. EGI?

ada label pohon tapi yang dilabelin enggak ada...
Turun dari lahan bekas bangunan itu, saya menapaki aspal lahan parkir dan sampai lagi pada sebidang lahan kosong—hanya berumput—yang pantas dijadikan tempat parkir. Di bagian bawah lahan kosong tersebut saya kira bagus kalau dirimbuni pepohonan. Di sebelah kiri saya adalah area SORGA sedang beberapa meter jauhnya di sebelah kanan saya ada seorang bocah sedang kencing. Weks.

Aspal kembali saya tapaki. Saya mendekati hutan lagi. Rasa penasaran mengundang saya untuk menjamahnya. Maklum, empat tahun dididik jadi rimbawan—lihat hutan bawaannya ingin nelungsup saja. Berdasarkan pengamatan saya sewaktu masih di atas jembatan, hutan Babakan Siliwangi ini kurang rimbun. Ketika menjelajahinya langsung, ternyata hutan ini memang cukup “terbuka” bagi pejalan kaki. Ada jalan setapak dengan tumbuhan di kanan-kirinya relatif tidak menganggu menurut saya. Bagian bawahnya halus bertanah.

Belum lama berjalan, saya bertemu pohon besar dengan akar gantung yang menjuntai-juntai. Terdapat beberapa gerobak dan meja di bawahnya. Bau aneh menggapai indra penciuman saya. Sampah? Pembusukan sersah? Kalau tidak salah, saya melihat ada jalan setapak lain yang melingkari pohon besar ini. Saya tidak menelusuri lebih jauh ke dalam. Selain merasa kurang aman berjalan sendirian, saya merasa kurang nyaman kalau nanti ditegur para bapak-bapak yang sedang bersih-bersih di atas. Saya harap saya bisa menjelajahi hutan ini lebih dalam lain kali.

Dengan adanya jalan setapak, serta pertumbuhan vegetasi yang relatif tidak mengganggu pejalan kaki, saya kira hutan ini potensial untuk ditata sebagaimana umumnya taman-taman yang ada di Kota Bandung. Meski bisa-bisa kenampakannya nanti lebih tepat disebut Taman Kota Babakan Siliwangi.

Dalam perspektif saya sendiri, suatu lahan disebut taman apabila ada intervensi manusia yang cukup besar di dalamnya. Kita boleh menata taman sebagaimana keinginan kita. Hutan sendiri bukan berarti tidak dipengaruhi oleh intervensi manusia sama sekali. Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan bisa dibedakan sebagai hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi. Kategori tersebut masih bisa dipecah-pecah lagi dan itu menentukan seberapa besar intervensi manusia yang dimungkinkan di dalamnya. Butuh beberapa dokumen untuk menjelaskan tentang pembagian ini yang akan terlalu panjang jika dijabarkan di sini.

Sebetulnya dengan semakin besar intervensi manusia, semakin berkurang fungsi konservasi dari kawasan tersebut. Lebih lengkap mengenai ini bisa dibaca di buku “Biologi Konservasi” karya Jatna Supriatna. Namun menurut saya fungsi hutan kota lebih ditujukan pada fungsi perlindungan terhadap kelangsungan hidup penduduk kota seperti oksigen, air, edukasi, hingga kenyamanan. Dengan demikian pengelolaan hutan kota tidak harus seketat pengelolaan kawasan konservasi. Bagaimanapun hutan kota juga diharapkan dapat menjadi ruang publik yang dinikmati pengunjungnya sehingga perlu dilakukan intervensi untuk dapat memenuhi itu. Selama fungsi-fungsi yang diharapkan bisa dipenuhi, kita bisa melakukan penataan terhadap hutan kota.

Opsi lainnya adalah membiarkan hutan tersebut tumbuh secara alami. Kita bisa membuatnya tambah rimbun dengan menanami bidang yang masih kosong namun ternaung dengan jenis-jenis toleran (dapat tumbuh di bawah naungan—dyh). Kita tidak melakukan penataan apapun di sana. Kita biarkan pejalan kaki yang memasukinya kelak merasakan sensasi memasuki rimba dengan tumbuhan menggelitik tubuh dari berbagai arah. Kita akan merasakan iklim mikro yang lebih sejuk dan lembab. Lalu salju bau akan mulai menginvasi kawasan ini. Dan nasib Hutan Kota Babakan Siliwangi pun akan sama dengan arboretum fakultas saya di mana pohon-pohon bebas bertumbangan sewaktu-waktu serta ada bagian tertentu yang serba putih keabuan dan berbau amat pesingnya.

Mengingat kawasan ini sangat potensial untuk dimasuki siapapun dan kita tidak ingin mereka celaka, plus adanya jembatan yang harus dipertahankan, sebaiknya kita cegah ketidaknyamanan macam pohon tumbang dan salju bau tadi sebelum terjadi. Kita bisa rutin melakukan pemantauan dan pemeliharaan terhadap pohon-pohon agar tidak tumbang tahu-tahu. Kita juga bisa menghalau burung-burung nakal yang hendak mengecat warna dedaunan dengan bokong mereka. Namun sepertinya sudah lama kawasan ITB tidak lagi kehujanan tahi burung—plus dalam pengamatan kemarin saya tidak lihat ada salju di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi.

Lepas dari Hutan Kota Babakan Siliwangi, saya merenungkan permasalahan lingkungan hidup yang ada di Kota Bandung. Mulai dari manajemen sampah hingga kemacetan akibat membengkaknya pemakaian kendaraan pribadi—semuanya berpangkal dari kurangnya kesadaran akan gaya hidup ramah lingkungan. Pemanfaatan hutan kota sebagai ruang publik kiranya termasuk gaya hidup ramah lingkungan yang perlu ditingkatkan. Mulai dari mengenal alamlah, kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan hidup dipupuk.


Keberlanjutan pengelolaan hutan kota

Terkait pemanfaatan hutan kota sebagai ruang publik, Kota Bandung punya banyak komunitas yang berupaya mempersuasi masyarakat untuk itu. Sebut saja Komunitas Aleut dengan acara jalan-jalan di taman kota, Komunitas Taman Kota dengan Sekolah Taman, Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma ITB dengan rujaKota, dan lain-lain.

Saya kira upaya yang telah dilakukan berbagai komunitas ini merupakan salah satu bentuk pengelolaan hutan kota bersama masyarakat. Menurut Perda Kota Bandung no. 25 tahun 2009, salah satu peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan hutan kota ialah berbentuk menjaga, memelihara, dan meningkatkan fungsi hutan kota. Dengan menjadikan hutan kota sebagai tempat bagi eco-edukasi, kita telah berperan dalam optimalisasi fungsi hutan kota.

Lebih lanjut lagi mengenai peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan hutan kota bisa dilihat dalam perda tersebut. Ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat adalah perlu dan diharapkan. Tentu saja ini tidak akan terpenuhi apabila tidak ada yang memfasilitasi. Untuk itu, dapat secara rutin diselenggarakan forum terbuka antar berbagai stakeholder terkait mulai dari pemerintah kota, akademisi, komunitas, hingga masyarakat umum. Dalam forum ini, berbagai masukan, potensi, masalah, informasi, saran, pertimbangan, perumusan rencana, maupun pendapat dari berbagai pihak dapat disalurkan untuk kemudian disinergikan. Tidak hanya sekadar forum, lembaga-lembaga yang ada dapat menginisiasi aksi nyata dengan mengadakan lomba, pendidikan lingkungan, penanaman dan pelabelan pohon, dan berbagai bentuk acara lainnya yang dapat menarik minat masyarakat untuk mengunjungi hutan kota. Tak kenal maka tak sayang, bukan? Mari kenalkan hutan kota pada seluruh masyarakat kota!***


3009-011011
persiapan siaran di KLCBS

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain