Ruang
Kamis, 25 Agustus 2011
menjelang keberangkatan KKN
Jumat, 29 Juli 2011
In Dieng
:)
Minggu, 03 Juli 2011
Rambut Cakrawala
Selepas SMA, Cakrawala memanjangkan rambutnya. Di tingkat keempat perkuliahannya, panjang rambutnya sudah hampir mencapai pinggang. Ia menjadi satu di antara beberapa mahasiswa berambut gondrong lain. Mereka mudah dikenali dan mengundang penasaran untuk didekati.
Cakrawala kadang menggerai rambutnya atau mengikatnya
begitu saja sehingga menjadi seperti ekor atau bulatan telur di belakang
kepala. Teman berambut gondrongnya yang lain malah mengikat rambutnya di atas
kepala sehingga membuatnya tampak seperti abdi raja dari Era Majapahit.
Rambut Cakrawala bergelombang dan tumbuh dengan lebat.
Para mahasiswi sering memandanginya dengan penuh kekaguman. “Kok rambutnya bisa
lebat gitu? Pakai sampo apa sih?” Cakrawala menggoyang-goyangkan mahkotanya dan
menunjukkan ekspresi sok heran pada para teman perempuannya itu.
Rambut yang menakjubkan itu melekatkan mata mereka
untuk mengamat-amati dari dekat. Meski kemudian mereka temukan ketombe, semut,
kutu, atau bahkan laba-laba mendekam di balik kerimbunan rambut tersebut, tetap
saja menimbulkan perasaan iri kala mengamatinya dari jauh.
Bahkan ibu Cakrawala pun memendam rasa yang sama. Dalam
suasana santai di rumah, kadang ia duduk di belakang putranya. Ia ambil
segenggam rambut megar tersebut, dibelainya, lalu ia ambil segenggam lagi,
segenggam, dan segenggam lagi. Kadang ia menyisirinya. Cakrawala hanya menoleh,
kaget sebentar, lantas melanjutkan lagi aktivitasnya menonton TV atau memainkan
kucing peliharaan mereka.
Dulu ibu Cakrawala juga memiliki rambut berombak tebal
yang membuatnya jadi primadona di kalangan lelaki. Namun harta kebanggaannya
itu kian lama kian menipis. Perjalanan usia menghiasinya dengan semburat putih.
Maka kini ia hanya bisa mengelus-elus milik putranya, sang pewaris, sembari
mengenang masa-masa kenikmatannya dulu.
Dulu ia suka mengepang rambutnya. Juga melumurinya
dengan urang-aring agar tampak berkilau. Cakrawala semakin kaget ketika ibunya
tahu-tahu menumpahkan cairan itu di atas kepalanya. Ia hendak lekas beranjak
namun Ibu memegangi rambutnya disertai omelan agar ia tidak ke mana-mana. Maka
selanjutnya Cakrawala diam saja menunggui ibunya selesai bermain-main dengan
rambutnya. Esok harinya di kampus ia dihujani decak terkesima dari
teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan.
“Bagus kan? Ibuku yang pingin,” begitu saja
penjelasannya ketika teman-temannya itu mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Lama-lama Cakrawala risih dengan perlakuan ibunya.
Ibunya bahkan melebihkan uang sakunya agar ia bisa memberi perawatan pada
rambutnya di salon. Kelebihan itu malah ia gunakan untuk keperluan lain.
Cakrawala jadi semakin malas pulang ke rumah. “Daripada rambutku
dipegang-pegang terus sama Ibu,” pikirnya.
Jadi Cakrawala pulang ke rumah hanya ketika ia butuh
uang. Kadang ia sekadar menumpang tidur, ganti baju, atau menukar barang. Lalu
ia akan pergi lagi dengan ransel lapangan, jaket, handuk, peralatan mandi,
notes kecil, dan tas selempang kecil. Ia akan menaruh barang-barangnya itu di
kosan teman—siapapun itu, selalu berganti-ganti—dan setelahnya pergi ke manapun
sekehendak hatinya. Handuk dan notes kecil merupakan barang yang wajib ia bawa
dalam tas selempangnya. Ia akan pulang ke rumah lagi ketika uangnya habis,
pakaian yang melekat di badannya butuh dicuci, atau membutuhkan sesuatu yang
harus ia bawa tapi ditaruhnya di rumah. Kadang Ibu melepas kepergiannya sampai
pintu depan. Ia berusaha untuk tidak menangkap pandangan sang ibu yang seakan
meratapi rambutnya yang tiada pernah dapat perawatan khusus. Ia keramas dan
menyisir rambutnya hanya kalau ingat.
Sampai suatu ketika Cakrawala harus praktek lapangan
ke provinsi lain. Cuaca di sana sangat gerah sampai-sampai mandi pun rasanya
percuma. Saat Cakrawala melewati sebuah rumah penduduk, anak-anak di pelataran
ramai-ramai meneriakinya, “Awas ada Sule, prikitiw!”
Teman perempuan yang memboncengnya (sewaktu mereka
harus mengambil data di kantor petugas yang berwenang) sesekali mengeluh, “Cak,
rambutmu masuk-masuk ke mulutku…” Terasa olehnya tangan gadis itu berusaha
membenahi rambutnya agar tidak menggelora ke mana-mana.
Hampir dua minggu telah berlalu. Suatu senja Cakrawala
pergi ke luar komplek tempat mereka menginap bersama seorang teman
laki-lakinya. Tidak ada teman-temannya yang lain mengira kalau mereka menuju ke
suatu tempat yang sebenarnya ingin Cakrawala kunjungi sejak mula mereka di sana.
Cakrawala ingat kalau sebaiknya ia membawa oleh-oleh untuk ibunya. Ia telah
sampai di tempat tujuannya dan duduk di kursi yang disediakan. Pria di
belakangnya berkata, “Wah, ini kayak motong rambut tiga orang!”
“Tapi bayarnya tetep seorang kan, Pak?” Cakrawala
menengadah. Tukang cukur di belakangnya mengukur panjang rambut Cakrawala
dengan jengkalnya. Dapat tiga. Tidak lupa Cakrawala bilang pada pria itu supaya
rambutnya jangan langsung disapu habis.
Dua hari kemudian Cakrawala pulang ke rumahnya dengan
menggendong carrier besar dan kumal. Sang Ibu menyambut putranya yang baru
pulang dari praktek di ujung barat Pulau Jawa itu. Ia sudah tidak sabar melihat
sang putra menggerai rambutnya yang selalu diikat bulat ke belakang.
Setelah menurunkan carrier-nya, Cakrawala mengeluarkan
sebuah bungkusan. “Oleh-oleh, Bu,” katanya. Ibu membuka bungkusan itu seiring Cakrawala
yang membuka ikatan rambutnya hingga mengembang rambut sepanjang bagian bawah
telinga. Ibu terbelalak lantas jatuh lemas.
3 Juli 2011, disadur dari kisah teman
Sabtu, 02 Juli 2011
(akhir kegalauan)
Kemarin
hari ulang tahunnya yang ke separuh abad. Aku sudah mengirimkan ucapan selamat
dan doa ke surelnya. Ia adalah seseorang yang pernah kuanggap sebagai ayahku
sendiri sebagaimana ia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Ia adik
kelas orangtuaku waktu SMA.
Pagi
ini aku membuka surel balasan darinya. Bibe
sayang, katanya. Sapaan hangatnya selalu mengukir senyum di wajahku. Aku senang sekali dengan kirimanmu kemarin.
Semoga Tuhan mengabulkan doamu untukku dan untukmu juga.
Cuaca masih terasa panas di sini.
Mungkin kedatangan musim gugur akan bergeser lagi. Namun kehadiran Jas selalu
dapat menyejukkanku. Ia seperti embun yang tahu-tahu menetes ke pucuk hidungmu
di terik siang. Senyumnya adalah kado pertama yang aku dapatkan di hari ulang
tahunku yang ke-50. 50 tahun, Bibe, bayangkan! Kamu tahu aku pernah mengalami
masa di mana sepertinya usia ini tidak akan pernah aku hampiri. Namun Tuhan
memberikanku energi kehidupan melalui bidadari kecilku yang setenang Situ
Patengan.
Bibe sayang,
Ketika aku membuka mata pada hari itu,
aku melihatnya dalam gaun putih berenda. Gaun cantik yang sudah aku belikan
sejak lama namun ia tidak pernah mau memakainya. Kamu tahu aku tidak pernah
bisa memaksanya. Dan kali ini ia mengenakannya atas kesadarannya sendiri! Aku bertanya
padanya sudah berapa lama ia duduk bersimpuh di tepi tempat tidurku. Ia hanya
menjawabku dengan senyumnya. Ia menyentuh lenganku dan memberiku kecupan
selamat pagi yang masih terasa manis hingga sekarang. Dan bahasa dari kalbunya
yang mengingatkanku bahwa aku kian tumbuh. Dia juga, gadis kecilku.
Mataku
meloncat dari paragraf satu ke paragraf lain seiring turunnya halaman. Surel ini
alamak panjangnya! Decak kagum meloncat dari mulutku. Padahal dulu ia tidak
bisa diharapkan menulis apapun sepanjang lebih dari enam kalimat. Untung aku
punya kesempatan untuk memaksanya belajar. Aku terkesan ia mau menurutiku.
Sejak kami tidak lagi tinggal di negara yang sama, ia mengirimiku surel
sesekali. Aku selalu membalas dengan jumlah paragraf yang lebih banyak untuk
memancingnya agar ia menulis lebih banyak di kali berikut. Aku berhasil kali
ini.
Dan,
tahu apa saja isi surelnya? Tidak pernah tidak soal putrinya itu. Pengalamannya
menjadi seorang ayah kandung—akhinya. Tentang mata Jas yang sebening embun.
Tentang rambut megar Jas yang bercahaya selayaknya mentari. Tentang
ketidakmampuan Jas dalam mempelajari sesuatu secara cepat selain piano. Tentang
betapa sensitif dan manjanya Jas. Tentang Jas yang selalu menghentak-hentakkan
jemarinya pada tuts-tuts piano kalau marah. Tentang ketakutan Jas pada dokter
gigi dan salon. Tentang bahasa isyarat Jas yang semakin lama semakin dapat ia pahami.
Tentang setiap harapan, kecemasan, impian, dan kekhawatiran seorang ayah pada
putrinya. Selama bertahun-tahun, tentang Jas yang tidak kunjung bicara.
Aku
masih ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan Jas. Seperti kejatuhan
bidadari dari langit saja. Waktu itu Jas masih berusia 10 tahun. Om Yan masih
kuat mengangkatnya tinggi-tinggi. Gadis kecil itu tergelak riang dengan aku dan
bibinya memandang penuh keharuan. Bibinya itulah yang nekat membawa Jas kabur
dari rumah kakek-neneknya untuk menemui sang ayah biologis—yang tidak pernah sebelumnya
memikirkan nasib benih yang telah ia sumbangkan pada bank sperma.
Masih
saja aku dibuat tercenung setiap kali teringat akan hal ini.
Mendiang
ibu Jas sebetulnya tidak ingin ada yang memberitahu Jas kenyataan tentang
ayahnya—entah bagaimana caranya. Maka Om Yan sangat mensyukuri kenekatan Judy.
Kalau saja Judy bukan penggemar berat Om Yan… Hahaha…
Tidak hanya memainkan simfoni
kesukaanku, dia juga berjanji akan menuruti setiap permintaanku khusus pada
hari itu saja.
Jariku
bergeser. Menuntunku pada paragraf-paragraf selanjutnya yang semakin jauh
semakin hanya mampu aku baca sepenggal-sepenggal.
Aku mengganti gaunnya dengan gaun yang
lebih indah dan berwarna pastel sebagaimana warna kesukaan ibuku. Dia juga
tidak boleh merengek ketika aku membawanya ke salon agar rambut keriting
memukaunya itu bisa dibuat mengikal halus seperti rambut ibuku. Aku suruh ia
tersenyum terus, yang lembut, tapi ia malah meringis—kamu harus melihatnya,
Bibe, ia menggemaskan sekali!
Kadang-kadang
jariku berhenti sampai aku ingat untuk menggerakkannya lagi.
Hari itu aku seperti berjalan-jalan
dengan versi muda ibuku. Seseorang yang sangat aku nantikan di masa remajaku.
Aku seolah tidak sadar kalau aku hanya seorang pria tua ringkih.
Di
luar kesadaranku, aku meloncati paragraf-paragraf setelahnya. Sebetulnya ingin
aku tekan tanda silang di pojok kanan atas namun kalah cepat dengan gerakan
mataku yang sudah terlanjur memaku perhatianku pada penghujung surel.
Aku masih membaca ucapan-ucapan selamat
yang masuk seharian itu ketika ia naik ke atas tempat tidurku. Tubuhnya bersandar
nyaman di atas tumpukan bantal. Posisi yang mengingatkanku bahwa sudah tiba
waktuku untuk mendongeng. Saat kudekati dia aku menyadari bahwa putriku telah
berusia 15 tahun. Mendiang ibuku dalam foto itu juga berusia sama. Aku sadari
juga kalau foto itu sudah berpuluh tahun tersimpan dalam dompetku—meski sudah
jutaan kali aku berganti dompet. Aku belum menyingkirkannya.
Sesaat aku berpikir demikian, aku ingat
untuk menunaikan permintaan putriku. Malam itu aku ceritakan ia dongeng tentang
seorang pemuda yang mencintai ibunya sendiri—Sangkuriang. Seperti biasa ia
mendengarkanku dengan penuh minat. Matanya menatapku dalam-dalam. Aku terbius
dan tidak bisa berhenti bercerita. Bahkan wajahnya saat tertidur pun tetap
memesonaku. Ia begitu mirip ibuku.
Ketika mengingatnya dadaku kembali
berdebar kencang. Rasanya seperti de javu. Aku ingat akan malam itu. Malam yang
mengubah hidupku. Malam ketika aku memandangi punggung ibuku dan aku tidak
dapat menahan keinginan itu...
Minimize.
Uh. Dadaku juga jadi ikut berdebar kencang. “Cuman perempuan itu yang paling
dia cinta,” kalimat Tante Ri yang terucap belasan tahun silam mampir lagi dalam
kepalaku. Ada lagi ingatan yang lain. Hari pemakaman ibunya. Hanya ia yang
memberi kecupan terakhir untuk ibunya di bibir. Dan aku ingat pula
penggalan-penggalan percakapan kami. Selalu ada ibunya, ibunya, ibunya… “Dia
selalu mencari sosok yang mirip dengan Ibu,” bahkan saudaranya sendiri pernah
mengatakan demikian padaku. Aku mendesah. Berpikir untuk meneruskan membaca
surel ini atau tidak.
Ah.
Kan nanti aku akan membacanya lagi… Tapi tanganku malah bergerak dan kutekan
tanda itu lagi.
Sejenak aku mengira aku akan melakukan
sesuatu di luar kesadaranku lagi, seperti yang terjadi pada malam aku melihat
punggung Ibu. Aku menunggu dengan perasaan tidak menentu.
Namun yang aku ingat, selanjutnya aku
hanya menyibak rambut yang menutupi dahinya. Kukecup pualam itu dan tidak bisa
lebih dari itu. Tidak ada keinginan sama sekali. Yang ada hanya perasaan kuat
untuk melindunginya selalu, bahkan kalau perlu melindunginya dari diriku
sendiri. Aku tidak ingin ia mengulangi dosa yang ayahnya lakukan dulu. Aku
ingin bisa terus mengawasinya hingga ia semakin dewasa hingga seseorang datang
menjemputnya—seperti apakah pria yang akan mendampinginya kelak?
Aku
menghembuskan nafas lega. Mataku terpejam. Punggungku merosot dari sandaran.
Langit-langit gelap saja kusenyumi. Inikah akhir dari kegundahanmu, Om? Segera
aku membaca kelanjutannya lagi.
Tadi pagi aku mengajaknya jalan-jalan
lagi. Kami berhenti di tengah jembatan. Ia suka mengamati itik-itik, aku sudah
pernah bilang padamu kan? Pada saat itulah aku ingat untuk memberikannya foto
ibuku. Ekspresinya polos sekali saat menyatakan kalau ia tidak ingat pernah
difoto seperti itu. Aku menantinya sampai ia mengamat-amati foto itu lagi dan
menyadari bahwa foto itu kelihatannya seperti foto lama. Ia bertanya, “Siapa
ini?” Aku coba menjawabnya dengan bahasa isyarat juga, “Kemarin malam aku
jalan-jalan ke dalam mimpimu, lalu aku memotretmu.” Balasnya, “Aku enggak ingat
mimpi apapun.” Aku bilang lagi, “Kamu terlihat sangat bahagia dalam mimpi itu
sampai-sampai ketika kamu bangun kamu enggak ingat apapun.”
Aku
tersenyum. Sepertinya doaku terkabul.
26 Juni-2 Juli 2011
Jumat, 24 Juni 2011
Menyongsong Ramalan Tahun 2012 dengan Potensi Diri
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Sudah lewat jauh dari masa SD-SMP, di mana saya cukup doyan baca buku macam begini. ketika Mas Ashif merekomendasikan buku ini dan saya jadi tergugah untuk meminjamnya dari perpustakaan kota (lagi!). Katanya, ini adalah cerita fantasi yang ada blognya (?).
Novel ini bukan sekadar cerita fantasi yang ada blognya, bagaimanapun juga. Ketimbang fantasi, saya lebih menganggapnya sebagai cerita petualangan ala Spy Kids atau FTV-FTV Disney. Tapi ternyata tidak juga...
Bermula dari berita meninggalnya sang ayah, Josh Garcia mulai menyelidiki misteri di balik peristiwa tersebut. Dia melacak email-email sang ayah, mendapat mimpi aneh, melakukan penelusuran di perpustakaan, mengalami perampokan, dan lain-lainnya... Namun berkat melaporkan pemikiran dan hasil penyelidikannya itu di bloglah sebuah petualangan seru akhirnya melanda. Wow. Makanya ngeblog! Coba kalau dia hanya menuliskannya di atas kertas dan menyimpannya untuk dirinya sendiri, dia mungkin enggak bakal ketemu sama orang-orang yang bakal membantunya kelak. Meski akibat dari publikasi melalui blog itu pulalah, dirinya jadi incaran.
Bersama teman capoeiranya, Tyler, dan seorang cewek kece yang baru dikenal, Ollie, ia pergi ke Meksiko--lokasi di mana ayahnya ditemukan tewas. Sampai bertemu dengan Camilla, saya masih merasa ini sebuah cerita petualangan biasa. Sampai adegan menyentuh antara kakak-adik-ketemu-gede, ketertarikan saya kian terpancing. Sampai sang kakak malah tewas juga padahal mereka belum banyak menciptakan momen bersama, wow, sepertinya ini enggak main-main.
Hati-hati, spoiler.
Pengarang--yang ternyata seorang perempuan--terus menggiring Josh ke dalam situasi-situasi berbahaya yang bikin saya berpikir, "Aduh... Setelah ini apa?" Jika saya yang berada dalam situasi demikian, mungkin saya akan lekas mencari penyelesaian yang paling aman meski sepertinya kepanikan besar bakal lebih menelan saya. Josh juga mengalami kepanikan, namun dia terus jalan. Dan secara tidak dinyana, ada saja yang akhirnya menyelamatkannya--dan membawanya ke situasi yang lebih rawan lagi!
Bayangkanlah rimba kala gulita di mana berbagai jenis satwa liar mematikan mungkin sedang mengintipmu di balik pepohonan. Bajumu basah kuyup, kotor, dan jiwamu masih shock akibat peristiwa sebelumnya yang memacu adrenalin. Belum beban mental karena kamu belum lama ditinggal orang-orang yang kamu sayang. Maka tanpa sadar matamu mengucurkan air meskipun kamu tidak ingin. Lalu pergelangan kakimu dipatuk ular berbisa atau kamu sudah terlalu lelah untuk bertahan di tengah gelombang sementara kemungkinan ada hiu sedang berputar-putar di bawah tubuhmu. Rasanya begitu dekat dengan kematian.
Enggak nanggung-nanggung.
Semula saya berprasangka kalau sang ayah dan Camilla mungkin sebenarnya masih hidup--ada saja yang menyelamatkan mereka sebagaimana ada saja yang menyelamatkan Josh. Namun sampai akhir novel, hm, sepertinya saya harus baca sekuelnya. Kehadiran Ollie juga sebenarnya masih merupakan misteri...
Seperti pakem cerita fantasi pada umumnya, sebut saja Star Wars, Harry Potter, Hunter X Hunter, sampai Naruto, ayah tokoh utama memegang peran penting yang kemudian menentukan nasib tokoh utama. Kalau dalam novel ini, sang ayah ternyata keturunan Bakab, semacam orang penting dalam kebudayaan Maya begitu, yang tidak berhasil menuntaskan misi sehingga misi itu diwariskan pada anaknya.
Dan sang anak tentu saja mewarisi potensi besar yang memungkinkannya untuk dapat mengatasi segala bahaya yang menghadang. Keberanian adalah prasyarat mutlak. Selebihnya adalah "sesuatu" yang membawa tokoh utama meniti jalan yang benar hingga menemukan apa yang ia cari. Meski pada akhirnya apa yang ia cari itu harus ia lepaskan lagi, namun suatu perubahan telah terjadi dalam dirinya. Ia menjadi seseorang yang lebih kuat, tentu saja.
Saya pernah terpikir untuk menganalogikan alur cerita semacam ini dengan sesuatu yang lebih realistis: pengembangan potensi diri. Setiap tokoh utama dalam cerita semacam ini dibekali oleh potensi khas yang membawanya pada nasib tertentu. Potensi yang seringkali tidak disadari pada mulanya atau malah diingkari dan butuh proses untuk dapat menerimanya. Berbagai rintangan menghadang dan seringkali justru dengan potensinya itulah ia bisa menghadapi bahaya terbesar dalam hidupnya. Alur cerita semacam ini adalah perjalanan menemukan jati diri dalam kemasan kreatif. Mungkin saja kita di dunia nyata ini sebetulnya mengalami alur semacam itu juga dalam pencarian jati diri kita?
Seperti kata Vigores dalam halaman 267, "Ingatlah apa yang dikatakan para penyair: setiap kehidupan dibentuk dari satu momen: momen ketika seseorang mengetahui, sekali dan untuk selamanya, siapa dirinya sesungguhnya. Kau beruntung sekali karena bisa mengetahui hal itu sejak dini."
Lanjutnya lagi yang mungkin bisa jadi motivasi, "Percayalah pada dirimu seperti kami percaya padamu, Josh. Rangkullah petualanganmu. Karena yang akan terjadi nanti, di atas segalanya, memang akan menjadi petualangan."
Saya kira setiap orang memiliki alur "cerita fantasi"nya masing-masing. Ular berbisa yang menjerat bisa diibaratkan tugas-tugas akademis yang mengikat. Kamu bisa berharap tahu-tahu ada pawang datang membawa penawar bisa atau kemurahan hati dosen untuk enggak membantaimu saat melakukan kesalahan.
Ayahmu mungkin bukan seorang hokage, hunter, penyihir yang bermasalah dengan tokoh antagonis dalam hidupmu kelak, maupun Darth Vader. Tapi tanpa dia, kamu pun enggak bakal ada di dunia. Dan ya, kamu enggak bisa memungkiri kalau kamu juga mewarisi sifat-sifatnya. Mungkin kamu dan ayahmu sama humoris, cerdas, tapi perhitungan dan tidak bisa lihat makanan mubazir.
Terlepas dari berbagai unsur cerita yang bisa saja dianalisis kelemahan-kelemahannya maupun maksud tersembunyi di baliknya namun saya enggak ingin memusingkannya, pengarang berhasil menyuguhkan suspensi dengan gaya bahasa yang lugas. Josh menceritakan apa yang ia alami dengan bahasa yang lempeng saja padahal kalau diresapi apalagi dialami betulan mungkin bakal bikin jantung enggak bisa berhenti deg-degan. Membuat saya terinspirasi bahwa sebetulnya saya bisa membikin cerita semacam berdasarkan latar belakang saya di kehutanan--misteri perburuan harta karun di Taman Nasional Ujung Kulon, mungkin?
Juga menyuntikkan ketakutan dalam benak saya akan bahaya badai matahari 2012 yang berpotensi menuai perang dunia ketiga di muka bumi... Naudzubillah. Ya, plot novel ini berangkat dari ramalan bangsa Maya akan berakhirnya kehidupan pada tahun 2012. Kiamat yang terjadi mungkin bukan semacam semua gunung mendadak meletus, semua samudra tahu-tahu mengamuk, hingga semua manusia bagai anai-anai yang bertebaran. Tidak. Bencana tersebut hanya akan menyebabkan matinya sistem komputerisasi yang telah sedemikian membangun peradaban kita. Dikatakan bahwa peradaban kita akan mundur dua abad dengan populasi tetap seperti sekarang, membeludak. Apa yang akan terjadi? Survival of the fittest mungkin ya. Oh, semoga ini semua hanya hoax belaka. Amin.
Kalau dalam cerita ini sih, Josh akhirnya berhasil mendapatkan codex yang konon berisi rahasia bagaimana menyelamatkan ingatan dunia saat bencana itu terjadi. Tentu saja kisah ini fiksi. Untuk solusi nyata, kita tetap harus memikirkannya sendiri. Novel ini menyampaikan pesan tersirat pada kita semua agar memikirkan apa yang bisa kita persiapkan dalam menyongsong ancaman badai matahari.
Apa yang akan terjadi setelah 20 Desember 2012 masih jadi misteri. Saya harap enggak bakal separah yang diungkapkan dalam novel ini dampak dari peristiwa itu bakal terjadi--suatu peristiwa yang di luar kekuasaan kita. Bagaimanapun juga, seburuk apapun jadinya nanti, hanya kepada Allah SWT-lah kita kembali.
Semoga cukup kuat jadi pengingat saya untuk enggak lagi terus-terusan subuh kesiangan, enggak memikirkan macam-macam pas solat, dan enggak melalaikan solat malam kalau kebetulan terbangun di dini hari... Hehe... :p
sumber gambar
Senin, 20 Juni 2011
Mengapa Perempuan dan Laki-laki Dibedakan
Penerbit : Bukupop, Jakarta, 2009
Setelah dua mingguan terdampar ke dunia lain (Ujung Kulon), tengah minggu kemarin saya merengkuh lagi dunia saya semula dengan meminjam buku ini dari perpustakaan kota. Ada 36 cerpen dalam buku ini yang terbagi jadi dua. Bagian pertama untuk cerpenis laki-laki (17 cerpen) sedang bagian kedua untuk cerpenis perempuan (19 cerpen). Sebenarnya saya agak kurang sreg dengan pembagian berdasar gender ini. Namun secara keseluruhan, memang ada perbedaan di antara keduanya.
Pada bagian cerpenis laki-laki, kebanyakan cerpen pernah dimuat di KOMPAS. Dibandingkan dengan cerpen-cerpen para cerpenis perempuan, eksplorasi tema para cerpenis laki-laki lebih luas. Tidak semata soal keluarga, tapi ada juga yang menyentuh etnis tertentu, banyak yang berupa kritik sosial, mengangkat kaum marginal (saya jadi kenal istilah baru terkait ini: cerpen naturalis!), fiksi ilmiah, mistik, pewayangan, sampai kaum berorientasi seksual menyimpang.
Lingkup tema cerpen para cerpenis perempuan yang ditampilkan dalam buku ini lebih sempit. Kebanyakan cerpen (yang kebanyakannya pula dimuat di majalah Sarinah) bertemakan keluarga. Meski demikian, sebagai seorang perempuan ini tidak menjadi masalah bagi saya. Justru beberapa cerpen saya rasakan amat menyentuh sisi keibuan yang mulai muncul dalam diri saya, ho ho ho...
Sebut saja "While There's Still Time", karya A. Rahartati Bambang. Tokoh utama dalam cerpen ini mengartikan judul tersebut dengan "senyampang ada waktu" sedang cerpen ini sendiri menceritakan tentang kasih seorang ibu pada anaknya.
Senyampang ada waktu akan kubuka lebar mataku untuk melihat pertumbuhannya... Senyampang ada waktu akan kudengarkan dan kunikmati "gangguan" pertanyaannya... Senyampang ada waktu akan kuhayati setiap detik masa kanak-kanaknya... Senyampang ada waktu akan kuresapi setiap detik keibuanku... (hal. 204)
Aduh... Rasanya sudah tidak sabar jadi seorang ibu... :')
Cerpen bertema serupa yang cukup menyentuh adalah "Anak" karya Nina Pane dan "Setelah Kelahiran" karya Ryke L. Cerpen pertama adalah tentang seorang perempuan yang menyesal telah menggugurkan kandungannya di masa lalu namun bakal anaknya itu ternyata tetap hidup dan terus tumbuh dalam jiwanya (weitz... spoiler!). Cerpen kedua menceritakan konflik batin yang dialami seorang perempuan pasca melahirkan anak untuk pertama kalinya.
Selain cerpen-cerpen bertema semacam ini, saya rasakan pada umumnya cerpen karya cerpenis perempuan memang lebih menyentuh perasaan ketimbang cerpen karya cerpenis laki-laki. Mungkin karena perempuan yang menjadi tokoh utamanya sedang saya sendiri seorang perempuan.
Beberapa cerpen meski disajikan dengan biasa saja, seperti "Thea Giman" oleh Rani Rachmani Moediarta, namun entah mengapa tetap menghadirkan kekuatannya sendiri yang dapat menyentuh. Cerpen ini menceritakan tentang seorang putri pengusaha yang menyelundup ke perusahaan ayahnya untuk meneliti konsumerisme di negara berkembang. Objek pengamatannya adalah kaum perempuan yang notabene para anak buah ayahnya sendiri. Sementara para perempuan tersebut saling pamer belanjaan impor, ia sendiri berani tampil apa adanya dengan blus katun dan rok batik atau sebaliknya, blus batik dan rok katun.
Perkataannya, yang tercantum dalam halaman 292 buku ini, "Aku ingin mengetahui, pada dasarnya, secara psikologis, apa sih yang mendorong orang-orang kita bangga pada merek dan produksi luar negeri. Setelah tiga bulan di sini, aku dapat masukan bahwa semua itu ada kaitannya dengan rendahnya apresiasi kita terhadap apa-apa yang sudah ada pada diri kita." (hal. 292)
Satu lagi yang inspiratif, beberapa di antara 19 cerpenis perempuan yang karyanya dimasukkan dalam buku ini adalah wartawati seperti Anna M. Massie, Apri Swan Awanti, Dorothea Rosa Herliany, Martha Hadimulyanto, Nani Mulyani, dan Yatie Asfan Lubis. Sebagian sisanya ada yang bekerja di majalah atau semacamnya tapi tidak disebutkan sebagai wartawati. Latar belakang cerpenis yang juga wartawati ini rupanya mempengaruhi karya yang dihasilkan. Sebut saja "Suatu Malam" karya Anna M. Massie dan "Kenangan Pesta" karya Martha Hadimulyanto yang menurut penyusun buku ini merupakan laporan pandangan mata alias fiksi jurnalistik.
Cerpen yang relatif unik dari deretan cerpen para cerpenis perempuan dalam buku ini adalah "Nasib Sanggul Bu Colon" karya Etik Minarti. Tidak seperti cerpen-cerpen lainnya yang relatif menyentuh perasaan keperempuanan, nuansa cerpen satu ini malah menjurus pada kekocakkan. Bayangkanlah orang-orang suatu perumahan mengejar sebuah sanggul besar yang bisa loncat-loncat sendiri. Agak absurd. Mengetahui cerpenisnya pernah juga membuat cerpen parodi berjudul "Aku, Olenka, Rafilus, dan Pengarangnya", ketertarikan saya jadi timbul.
Lho, kok saya malah menyoroti cerpen-cerpen para cerpenis perempuan saja? Bukannya tidak ada cerpen menarik dari bagian cerpenis laki-laki. Namun tidak seperti cerpen-cerpen dari bagian satunya, hanya satu cerpen dalam bagian ini yang menarik minat saya untuk memfotokopinya demi koleksi pribadi (hak cipta? hm...). Sebuah cerpen eksperimental karya Sony Karsono, "Insomnia". Ceritanya sendiri tidak jelas, namun saya suka pada gaya bahasanya yang sejak awal sudah begitu memikat.
Empat puluh tahun lalu dalam etalase butik kulihat boneka cantik dari plastik. Ia mengenakan gaun putih pengantin salju. Ia berseru, "Hei! Menikahlah denganku!" Kala itu aku sudah punya ijazah, kerja dan rumah. "Mungkin," pikirku, "aku perlu istri". Maka boneka itu kubeli dan kubawa pulang naik taksi. Kami menikah dan punya tiga anak. Karena istriku bijaksana, aku lupa bahwa ia hanya boneka dan bahwa anak-anak kami adalah makhluk separuh boneka separuh manusia. (hal. 143)
Namun sebenarnya, dengan pembagian berdasar gender yang awalnya saya pikir tidak penting ini, saya justru jadi merasakan kalau perempuan dan laki-laki memang tidak bisa begitu saja disamakan. Perempuan memiliki sensitivitasnya sendiri dan karena itulah potensi ini perlu juga diwadahi, diwakili, dalam sebentuk, katakanlah, cerpen. "Karena wanita hanya ingin dimengerti", waha.
Maka tidak menjadi masalah jika keluarga menjadi tema yang paling banyak dieksplorasi cerpenis perempuan. Ini tidak berarti kreativitas perempuan terbatas, saya kira. Justru perempuan harus kreatif dalam menyikapi ragam permasalahan keluarga. Sebagaimana saya kutip dari penghujung analisis penyusun terhadap cerpen "While There's Still Time" di halaman 206, "Bukankah kuatnya keluarga berarti kuatnya masyarakat? Dan, kuatnya masyarakat berarti kuatnya negara?!" Tapi mengapa hanya perempuan?
Sewaktu menarik buku ini dari rak, sebenarnya ada harapan untuk mendapatkan pengetahuan semacam yang saya dapatkan dari buku-bukunya Maman S. Mahayana, atau malah Budi Darma (ingat "Harmonium"). Setiap bagian dalam buku ini diberi pengantar. Setiap cerpen yang disajikan disertai analisis sesudahnya. Analisis cerpen dalam buku ini rupanya lebih pada pemaknaan akan cerpen bersangkutan, yang kerap bikin saya berpikir, "Eh, emang ini gitu yang tadi diomongin cerpennya?" Tidak ada kalimat-kalimat yang memancing minat saya untuk mengutip--kalimat-kalimat yang memberitahu saya bagaimana caranya menghasilkan suatu karya yang seperti apa.
Hitung-hitung membaca kompilasi cerpen lah ya... Haha...
Selain itu, kendati diterbitkan tahun 2009 dan ditambahi "mutakhir" pada judulnya, cerpen-cerpen yang ditampilkan dalam buku ini malah memberi pembaca wawasan kehidupan tahun 90-an. Betul, hampir semua cerpen yang ada dalam buku ini telah dimuat sebelumnya di media massa mulai awal hingga pertengahan tahun 90-an. Kedaluwarsa memang. Seharusnya buku ini dijuduli "Apresiasi Cerpen Indonesia Tahun 90-an". Namun jika mengingat bahwa masih ada nilai-nilai dari dalam cerpen-cerpen tersebut yang relevan dengan masa kini, ini menjadi masalah yang tidak lagi begitu berarti.
Sabtu, 18 Juni 2011
BERBEDA
Sudah
berapa menit yang aku lewatkan di depan cermin? Biusnya sudah habis. Kepalaku
tegak lagi. Sesaat. Aku kembali termangu akan pemandangan sama yang kulihat
setiap hari.
Warna
bajuku selalu membuat matahari merasa tiada berguna. Paduannya itu-itu saja.
Sepatuku tidak pernah ganti.
Tidak
bisakah aku tampil berbeda?
Beranikah
aku tampil berbeda?
Ini
adalah keputusan yang harus kuambil dalam waktu singkat—setengah jam lagi
kuliah dimulai dan aku masih berada di kamar yang jaraknya dua puluh menit
jalan kaki dari kampus!
Baiklah.
Aku menghembuskan nafas. Berpikir bahwa menjadi “berbeda” adalah sesuatu yang
positif. Setidaknya itu akan menggusah kebosanan dalam hidupku.
Beranikah
aku…?
Tidak
ada yang bisa kuharapkan dari lemari bajuku. Aku melaju ke kamar terdekat. Ku
buka pintunya. Sang pemilik tercengang mendengar pintaku.
Sepuluh
menit kemudian, aku telah menjadi seseorang dengan penampilan baru. Hari ini
aku akan tahu bagaimana rasanya menjadi berbeda dari biasanya, akhirnya… ha ha
ha…
Lihatlah,
teman-temanku terpana melihat aku. Selepas kuliah dua sks yang memuakkan, aku
berpuas diri melenggang di lobi gedung kampus.
“Wah…
Kamu keliatan beda deh..”
“Tumben…”
Berpasang
mata tertuju padaku. Jelas saja aku jadi pusat perhatian, aku berbeda!
Aku
tersenyum menikmati keterpukauan mereka. Beginikah rasanya menjadi berbeda?
“Weh,
penampilanmu…”
Pandang
sobatku menyapu penampilanku dari atas sampai bawah.
“Sekali-kali
boleh dong aku keliatan beda,” ujarku percaya diri.
“Iya
sih…” Matanya masih saja memerhatikanku. “Kamu beda dari biasanya.” Ia
menggeleng-geleng, seakan tak habis pikir, “Tapi kamu jadi keliatan sama kayak
orang lain.”
Aku
terdiam.
Rautku
menunjukkan ekspresi terganggu. Aku coba nafikan decakan yang disusul komentar
yang belum juga habis.
“Ke
mana sepatu pantofelmu? Rok megarmu yang warnanya selalu gelap itu? Atasan
suram yang nggak pernah rapih? Tasmu yang kayak mau naik gunung itu?”
Di
bangku terdekat aku duduk. Ganti mataku yang menyapu sekujur penampilan baruku.
Kardigan, kaos, kalung gede, tas cangklong, jins ketat… Bukankah ini paduan
yang biasa para perempuan seumuranku pakai?
Kamu tahu bagaimana rasanya menjadi berbeda setiap hari? Sekali-kali aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi serupa dengan orang lain.
Banyak Dibuka
-
Penulis : Gol A Gong Penerbit : Gong Publishing, Banten ISBN : 978-602-9117-24-0 (kover), 978-602-9117-25-7 (KDT) Cetakan pertama dan kedua,...
-
Gambar dari Goodreads . Buku ini bukan novel melainkan cerpen panjang. Sedari awal kita sudah diberitahukan ringkasan kisahnya dari awal sam...
-
Seorang orientalis dari Amerika bernama Gustave E. von Grunebaum mengatakan bahwa transformasi politik, sosial, dan kebudayaan yang digerakk...
-
Judul : Negeri 5 Menara Pengarang : Anwar Fuadi Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 Sejenis Laskar Pelangi, tapi...
-
“ Du ” (“ You ” dalam bahasa Inggris) adalah lagu yang dibawakan oleh Peter Maffay, seorang musisi Jerman. Lagu ini menjadi hit terbesar d...
-
Deraz membeli bola plastik di warung dekat rumah. Di halaman belakang ia melatih gerakan-gerakan yang diajarkan Pak Guru. Ia juga menirukan ...
-
Carilah gambar Vatica bantamensis di Google. Sampai tanggal 14 Mei 2011, gambar yang saya temukan untuk artikel tentang kokoleceran melalui...
-
Kapok menerjemahkan gegara “ Solid Object ” (Virginia Woolf), tapi satu dari empat hal untuk menjadi penulis hebat menurut Eka Kurniawan a...
-
biasanya kalau urusan masak, nyonya teladan yang tampil di hadapan. namun kali ini beliau berhalangan. jadi saya menggantikan. kali ini k...
-
Hikmat Darmawan, 2023 CV. Garuda Mas Sejahtera, Surabaya Buku Ipusnas setebal 67 halaman ini memuat 5 tulisan. "KETIKA SEKS JADI TEKS: ...

