Kamis, 25 Agustus 2011

menjelang keberangkatan KKN

Ada saja hal-hal berkesan dalam hidup. Serentetan datang menjelang saya berangkat KKN (4 Juli 2011). 


Jumat, 1 Juli 2011

Pasca ujian susulan HHNK, saya, Adit, Ardan, dan Putri menanti keberadaan Pak Oka di depan lift lantai dua. Kertas jawaban kami bertumpuk di atas meja. Punya Adit paling atas.

“Tulisan kamu rapi banget ya, Dit, kayak diketik pakai komputer,” begitu kata saya kira-kira sembari meraih tumpukan kertas tersebut. Saya amat-amati kepunyaan yang lain. Memang punya Adit paling rapi. Bentuk font-nya stabil dan membentuk paduan aksara yang lurus tanpa kecenderungan untuk ke mana-mana. Adit menanggapi dengan kalimat merendah.

Punya saya paling bawah. “Yang punya saya aja udah kayak kolom koran nih,” saya mengomentari milik sendiri. Enggak seperti yang lain, yang menulis jawaban dari ujung kiri ke ujung kanan kertas, saya menulis jawaban saya dari ujung kiri ke tengah, balik ke ujung kiri lagi, begitu seterusnya sampai bawah, dan saya lanjutkan lagi ke atas, mulai dari tengah sampai ujung kanan—intinya membentuk dua kolomlah!

“Kan mau jadi kolumnis…” sambut Adit.

Saya terpana. Saya memang pernah bilang sama dia kalau saya ingin jadi jurnalis.

Entah apa kelak saya bisa meraih keinginan tersebut atau enggak. Ketika orang lain mengatakan seolah-olah saya ada harapan untuk mewujudkannya, rasanya jadi malu sendiri.

Sabtu, 2 Juli 2011

Rabu, 29 Juni 2011, papa saya pulang ke Bandung dengan sebagian barang dari kosan saya memberati bagian belakang mobilnya. Pagi itu juga saya tahu dari Bulik kalau sore pengumuman SNMPTN sudah bisa dilihat. Wah, kalau sampai si Ira lolos ke Biologi UGM bisa-bisa barang yang sudah dibawa ke Bandung bakal dibawa balik ke Jogja dong. Percuma! Tapi siapa yang tahu? Jadi saya sms ke adik saya itu semoga dia keterima di ITB saja.

Menjelang maghrib, saya dapat sms dari ibu saya kalau Ira lolos ke SITH ITB. ALHAMDULILLAH—segera balas saya yang segera disambut oleh sms adik saya itu, dengan huruf sama gedenya, yang mengabarkan serupa. Enggak jadi dibawa balik ke Jogja dong barang-barang saya, haha, kecuali kalau Inda dan atau Ito kelak kuliah di Jogja—tapi kan masih lama!

Hanyut oleh rasa bangga akan kegemilangannya, saya dengan adik saya bertukar sms cukup banyak dan hangat sampai saya sendiri heran kok tahu-tahu kami bisa begitu… Sebagai seorang kakak yang kerap dijadikan tempat bertanya dan diminta dukungan dan bantu ambil keputusan, saya berikan dia petuah-petuah dalam mengarungi fase kehidupan selanjutnya: kehidupan perkuliahan…  sampai dalam smsnya itu terselip rentetan kata yang bikin kening saya berkerut macam “pingin bikin ortu bangga”, “harus bisa balik modal”, “kan kasihan masih ada inda ito”… wew… Begitu janggal! Mula pasalnya adalah Papa ngebanding-bandingin dia dengan temannya yang lolos FTI sementara Mama ingin dia masuk Kedokteran UNDIP (“padahal uang masuknya 100 juta, mana bisa bayaaaar?” curhatnya). Namun tetap saja saya bertanya-tanya, ada apa dengan anak ini? Mengapa pikirannya jauh lebih dewasa daripada saya? Aaaaa… Smsan pun terhenti dengan balasan yang menyatakan ketidaktahuan saya sebab saya sendiri belum bisa balik modal.

Dalam kali smsan berikutnya, dia bilang kalau hidup itu terlalu banyak pilihan. Jadi bingung.

Ingin sebetulnya saya ungkapkan sama dia mengenai kasus saya. Sewaktu berada di fasenya, pilihan saya hanya jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan UGM. Saya enggak ikut jalur masuk PTN apapun selain UMUGM. Begitu tegasnya pilihan saya itu sampai Papa akhirnya menerima sedang Mama salut dengan keyakinan saya. Dan sekarang saya kira saya kian menyadari passion saya dan ingin terus melaju di lajur tersebut. Maka saya bilang sama dia, “Kalau udah punya minat yang pasti, pilihan bakal menyempit kok.”

Saya harap dia bisa terus bertahan di ITB dan menggagalkan tes masuk Kedokteran UNDIP-nya, ha. Mending kursinya dikasih buat orang lain saja, kan sudah dapat kursi di ITB, jangan rakus, betul kan?

Hari ini, awalnya saya cuman tanya apa barang saya yang dibawa dari Jogja ke Bandung kemarin itu sudah dibereskan apa belum, tahu-tahu dalam smsnya terselip kalimat ganjil lagi, “Di ITB bisa nyicil enggak sih?”

Nyicil apa?! Jangan-jangan dia berpikir untuk membiayai kuliahnya secara mandiri? Wow! Katanya lagi, “Nyicil BPPM (uang pangkal)” Wawawa. Saya sudah berprasangka saja Papa kasih dia kalimat macam-macam yang bikin dia merasa telah begitu membebani orangtua. Sedang saya?! Siang ini saja saya sudah ambil tiga ratus ribu lagi yang lebih dari setengahnya langsung saya habiskan untuk beli buku-buku referensi, deodoran (mereknya agak mahal sih—karena cuman beli di Indomaret pilihan jadi terbatas!), odol—semua untuk KKN! Sebelum dapat kata-kata begini saja dari Ira saya sudah merasa amat bersalah sama Papa. O. Untuk keperluan saya sendiri saja selama empat tahun kuliah di Jogja ini, sudah berapa puluh juta uang Papa yang saya sedot—hanya untuk saya sendiri saja!? Sekarang adik saya (dan adik-adik saya lainnya bakalan) yang kena getahnya. O. Jangan-jangan di rumah lagi hangat-hangatnya suatu konflik?

Sementara adik saya yang baru mau jadi mahasiswa sudah memikirkan soal balik modal la-la-la, saya yang sudah hampir tamat jadi mahasiswa saja malah melupakan itu dan lagi semangat-semangatnya meniti impian yang tidak menjamin kemapanan: mempelajari sastra dan menulis novel!

Kata Ira lagi, “Pengen nyicil aja hehe abis pengajuan subsidi belum tentu diterima, doain dapet subsidi ya huehe T-T” Masih saja saya penasaran. Saya bertanya-tanya jadinya. Memang ada apa sih? Berapa uang pangkalnya? Apakah Papa sedang kesulitan?

“55 juta. Ira ngajuin subsidi 50%... Sekarang ITB mahaaal.”

Gubrak. Mendadak saya jadi maklum dan jadi lebih tenang karena pemakluman itu. Wajarlah, ini konsekuensi kalau mau masuk PTN bergengsi, bukan? Uang pangkal saya saja dulu hanya lima juta—yaaa, Kehutanan UGM kok dibandingkan sama SITH ITB? Harga empat tahun lalu pula! Saking wajarnya hal ini sampai enggak berhasrat saya memprotes: kesempatan mengecap pendidikan teknik yang konon terbaik se-Indonesia ini kok hanya untuk mereka yang kebanyakan uang saja?!

“Orang miskin dilarang sekolah”, siapapun yang menciptakan kalimat ini, dia enggak salah, dia sungguh bijaksana.

Pa, ayo pindah ke rumah yang lebih sederhana supaya adik-adik saya lancar sekolahnya.

Minggu, 3 Juli 2011

Saya bilang sama Bude, “Pingin cepet-cepet selesai KKN.”

Respons Bude, “Pingin cepet-cepet selesai apa pingin cepet-cepet berangkat?”

“Pingin cepet-cepet berangkat terus pingin cepet-cepet selesai,” jawab saya.

“Dijalanin saja belum,” kata Bude lagi.

Makanya itu Bude, selama belum dijalani begini rasanya resah saja. Hal yang sama mungkin saya alami sebelum saya berangkat ke Getas (25 hari) maupun ke Ujung Kulon (sekitar dua minggu)—yang setelah terlalui rasanya malah overall menyenangkan…

Inginnya santai, menjalankan semuanya dengan lancar, tapi tidak bisa dipungkiri kalau diam-diam terpendam kecemasan. Bagaimana nanti kalau program-program saya sukar jalan. Bagaimana nanti saya bertarung dengan rasa tidak percaya diri saya. Bagaimana nanti teman-teman baru saya menanggapi karakter asli saya. Bagaimana nanti saya bisa mengatasi kalau sekiranya terjadi konflik di antara mereka. Bagaimana … oh, bagaimana…

Lalu Bude saya cerita mengenai KKN papa saya dulu. Papa saya alumni UGM juga, Teknik Sipil. KKN-nya mungkin sudah sekitar tiga puluh tahun lalu. Hal yang saya ketahui dari KKN-nya selama ini hanya ia pernah difoto dengan hanya menggunakan kolor dan sarung dan caping dan suling di atas punggung kerbau—ceritanya logo KOMPAS begitu. Ada juga yang hanya berkolor doang dengan pose tiduran di atas lumpur sawah. Weh.

KKN papa saya dulu di Purworejo. Jaman itu KKN UGM hanya berkisar di Jawa Tengah. Paling jauh ke barat sampai Kebumen sedangkan ke timur saya lupa. Kata Bude, Papa membuatkan sumur dengan pompa tangan untuk warga. Saat itu warga sana belum tahu bagaimana mendapatkan air tawar. Kebutuhan air mereka terpenuhi dari air asin—mungkin lokasi KKN-nya dekat pantai. Papa sempat pulang ke Jogja. Kebetulan Pakde punya pompa tangan yang tidak dipakai. Papa lalu membawanya beserta si sepeda motor zadul hijau (dulu sempat jadi sarana saya belajar mengendarai motor). Warga sangat senang dibuatkan yang demikian. Mereka jadi punya sumber air tawar. Pak lurahnya sampai datang ke rumah Mbah Untung (mendiang kakek saya) untuk mengucapkan terima kasih.

Padahal saya acap mencela-cela Papa, tapi ada saja hal-hal yang bikin bangga. Dan ada kekuatan pada rasa bangga. :)

Jumat, 29 Juli 2011

In Dieng

Hai, saya sedang di Dieng. KKN. Enggak kayak pas di Ujung Kulon, situasi di sini kurang memungkinkan saya untuk posting kabar setiap hari. Jadi...

:)

Minggu, 03 Juli 2011

Rambut Cakrawala

Selepas SMA, Cakrawala memanjangkan rambutnya. Di tingkat keempat perkuliahannya, panjang rambutnya sudah hampir mencapai pinggang. Ia menjadi satu di antara beberapa mahasiswa berambut gondrong lain. Mereka mudah dikenali dan mengundang penasaran untuk didekati.

Cakrawala kadang menggerai rambutnya atau mengikatnya begitu saja sehingga menjadi seperti ekor atau bulatan telur di belakang kepala. Teman berambut gondrongnya yang lain malah mengikat rambutnya di atas kepala sehingga membuatnya tampak seperti abdi raja dari Era Majapahit.

Rambut Cakrawala bergelombang dan tumbuh dengan lebat. Para mahasiswi sering memandanginya dengan penuh kekaguman. “Kok rambutnya bisa lebat gitu? Pakai sampo apa sih?” Cakrawala menggoyang-goyangkan mahkotanya dan menunjukkan ekspresi sok heran pada para teman perempuannya itu.

Rambut yang menakjubkan itu melekatkan mata mereka untuk mengamat-amati dari dekat. Meski kemudian mereka temukan ketombe, semut, kutu, atau bahkan laba-laba mendekam di balik kerimbunan rambut tersebut, tetap saja menimbulkan perasaan iri kala mengamatinya dari jauh.

Bahkan ibu Cakrawala pun memendam rasa yang sama. Dalam suasana santai di rumah, kadang ia duduk di belakang putranya. Ia ambil segenggam rambut megar tersebut, dibelainya, lalu ia ambil segenggam lagi, segenggam, dan segenggam lagi. Kadang ia menyisirinya. Cakrawala hanya menoleh, kaget sebentar, lantas melanjutkan lagi aktivitasnya menonton TV atau memainkan kucing peliharaan mereka.

Dulu ibu Cakrawala juga memiliki rambut berombak tebal yang membuatnya jadi primadona di kalangan lelaki. Namun harta kebanggaannya itu kian lama kian menipis. Perjalanan usia menghiasinya dengan semburat putih. Maka kini ia hanya bisa mengelus-elus milik putranya, sang pewaris, sembari mengenang masa-masa kenikmatannya dulu.

Dulu ia suka mengepang rambutnya. Juga melumurinya dengan urang-aring agar tampak berkilau. Cakrawala semakin kaget ketika ibunya tahu-tahu menumpahkan cairan itu di atas kepalanya. Ia hendak lekas beranjak namun Ibu memegangi rambutnya disertai omelan agar ia tidak ke mana-mana. Maka selanjutnya Cakrawala diam saja menunggui ibunya selesai bermain-main dengan rambutnya. Esok harinya di kampus ia dihujani decak terkesima dari teman-temannya, baik laki-laki maupun perempuan.

“Bagus kan? Ibuku yang pingin,” begitu saja penjelasannya ketika teman-temannya itu mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Lama-lama Cakrawala risih dengan perlakuan ibunya. Ibunya bahkan melebihkan uang sakunya agar ia bisa memberi perawatan pada rambutnya di salon. Kelebihan itu malah ia gunakan untuk keperluan lain. Cakrawala jadi semakin malas pulang ke rumah. “Daripada rambutku dipegang-pegang terus sama Ibu,” pikirnya.

Jadi Cakrawala pulang ke rumah hanya ketika ia butuh uang. Kadang ia sekadar menumpang tidur, ganti baju, atau menukar barang. Lalu ia akan pergi lagi dengan ransel lapangan, jaket, handuk, peralatan mandi, notes kecil, dan tas selempang kecil. Ia akan menaruh barang-barangnya itu di kosan teman—siapapun itu, selalu berganti-ganti—dan setelahnya pergi ke manapun sekehendak hatinya. Handuk dan notes kecil merupakan barang yang wajib ia bawa dalam tas selempangnya. Ia akan pulang ke rumah lagi ketika uangnya habis, pakaian yang melekat di badannya butuh dicuci, atau membutuhkan sesuatu yang harus ia bawa tapi ditaruhnya di rumah. Kadang Ibu melepas kepergiannya sampai pintu depan. Ia berusaha untuk tidak menangkap pandangan sang ibu yang seakan meratapi rambutnya yang tiada pernah dapat perawatan khusus. Ia keramas dan menyisir rambutnya hanya kalau ingat.

Sampai suatu ketika Cakrawala harus praktek lapangan ke provinsi lain. Cuaca di sana sangat gerah sampai-sampai mandi pun rasanya percuma. Saat Cakrawala melewati sebuah rumah penduduk, anak-anak di pelataran ramai-ramai meneriakinya, “Awas ada Sule, prikitiw!”

Teman perempuan yang memboncengnya (sewaktu mereka harus mengambil data di kantor petugas yang berwenang) sesekali mengeluh, “Cak, rambutmu masuk-masuk ke mulutku…” Terasa olehnya tangan gadis itu berusaha membenahi rambutnya agar tidak menggelora ke mana-mana.

Hampir dua minggu telah berlalu. Suatu senja Cakrawala pergi ke luar komplek tempat mereka menginap bersama seorang teman laki-lakinya. Tidak ada teman-temannya yang lain mengira kalau mereka menuju ke suatu tempat yang sebenarnya ingin Cakrawala kunjungi sejak mula mereka di sana. Cakrawala ingat kalau sebaiknya ia membawa oleh-oleh untuk ibunya. Ia telah sampai di tempat tujuannya dan duduk di kursi yang disediakan. Pria di belakangnya berkata, “Wah, ini kayak motong rambut tiga orang!”

“Tapi bayarnya tetep seorang kan, Pak?” Cakrawala menengadah. Tukang cukur di belakangnya mengukur panjang rambut Cakrawala dengan jengkalnya. Dapat tiga. Tidak lupa Cakrawala bilang pada pria itu supaya rambutnya jangan langsung disapu habis.

Dua hari kemudian Cakrawala pulang ke rumahnya dengan menggendong carrier besar dan kumal. Sang Ibu menyambut putranya yang baru pulang dari praktek di ujung barat Pulau Jawa itu. Ia sudah tidak sabar melihat sang putra menggerai rambutnya yang selalu diikat bulat ke belakang.

Setelah menurunkan carrier-nya, Cakrawala mengeluarkan sebuah bungkusan. “Oleh-oleh, Bu,” katanya. Ibu membuka bungkusan itu seiring Cakrawala yang membuka ikatan rambutnya hingga mengembang rambut sepanjang bagian bawah telinga. Ibu terbelalak lantas jatuh lemas.

 

3 Juli 2011, disadur dari kisah teman

Sabtu, 02 Juli 2011

(akhir kegalauan)

Kemarin hari ulang tahunnya yang ke separuh abad. Aku sudah mengirimkan ucapan selamat dan doa ke surelnya. Ia adalah seseorang yang pernah kuanggap sebagai ayahku sendiri sebagaimana ia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Ia adik kelas orangtuaku waktu SMA.

Pagi ini aku membuka surel balasan darinya. Bibe sayang, katanya. Sapaan hangatnya selalu mengukir senyum di wajahku. Aku senang sekali dengan kirimanmu kemarin. Semoga Tuhan mengabulkan doamu untukku dan untukmu juga.

Cuaca masih terasa panas di sini. Mungkin kedatangan musim gugur akan bergeser lagi. Namun kehadiran Jas selalu dapat menyejukkanku. Ia seperti embun yang tahu-tahu menetes ke pucuk hidungmu di terik siang. Senyumnya adalah kado pertama yang aku dapatkan di hari ulang tahunku yang ke-50. 50 tahun, Bibe, bayangkan! Kamu tahu aku pernah mengalami masa di mana sepertinya usia ini tidak akan pernah aku hampiri. Namun Tuhan memberikanku energi kehidupan melalui bidadari kecilku yang setenang Situ Patengan.

Bibe sayang,

Ketika aku membuka mata pada hari itu, aku melihatnya dalam gaun putih berenda. Gaun cantik yang sudah aku belikan sejak lama namun ia tidak pernah mau memakainya. Kamu tahu aku tidak pernah bisa memaksanya. Dan kali ini ia mengenakannya atas kesadarannya sendiri! Aku bertanya padanya sudah berapa lama ia duduk bersimpuh di tepi tempat tidurku. Ia hanya menjawabku dengan senyumnya. Ia menyentuh lenganku dan memberiku kecupan selamat pagi yang masih terasa manis hingga sekarang. Dan bahasa dari kalbunya yang mengingatkanku bahwa aku kian tumbuh. Dia juga, gadis kecilku.

Mataku meloncat dari paragraf satu ke paragraf lain seiring turunnya halaman. Surel ini alamak panjangnya! Decak kagum meloncat dari mulutku. Padahal dulu ia tidak bisa diharapkan menulis apapun sepanjang lebih dari enam kalimat. Untung aku punya kesempatan untuk memaksanya belajar. Aku terkesan ia mau menurutiku. Sejak kami tidak lagi tinggal di negara yang sama, ia mengirimiku surel sesekali. Aku selalu membalas dengan jumlah paragraf yang lebih banyak untuk memancingnya agar ia menulis lebih banyak di kali berikut. Aku berhasil kali ini.

Dan, tahu apa saja isi surelnya? Tidak pernah tidak soal putrinya itu. Pengalamannya menjadi seorang ayah kandung—akhinya. Tentang mata Jas yang sebening embun. Tentang rambut megar Jas yang bercahaya selayaknya mentari. Tentang ketidakmampuan Jas dalam mempelajari sesuatu secara cepat selain piano. Tentang betapa sensitif dan manjanya Jas. Tentang Jas yang selalu menghentak-hentakkan jemarinya pada tuts-tuts piano kalau marah. Tentang ketakutan Jas pada dokter gigi dan salon. Tentang bahasa isyarat Jas yang semakin lama semakin dapat ia pahami. Tentang setiap harapan, kecemasan, impian, dan kekhawatiran seorang ayah pada putrinya. Selama bertahun-tahun, tentang Jas yang tidak kunjung bicara.

Aku masih ingat ketika ia pertama kali bertemu dengan Jas. Seperti kejatuhan bidadari dari langit saja. Waktu itu Jas masih berusia 10 tahun. Om Yan masih kuat mengangkatnya tinggi-tinggi. Gadis kecil itu tergelak riang dengan aku dan bibinya memandang penuh keharuan. Bibinya itulah yang nekat membawa Jas kabur dari rumah kakek-neneknya untuk menemui sang ayah biologis—yang tidak pernah sebelumnya memikirkan nasib benih yang telah ia sumbangkan pada bank sperma.

Masih saja aku dibuat tercenung setiap kali teringat akan hal ini.

Mendiang ibu Jas sebetulnya tidak ingin ada yang memberitahu Jas kenyataan tentang ayahnya—entah bagaimana caranya. Maka Om Yan sangat mensyukuri kenekatan Judy. Kalau saja Judy bukan penggemar berat Om Yan… Hahaha…

Tidak hanya memainkan simfoni kesukaanku, dia juga berjanji akan menuruti setiap permintaanku khusus pada hari itu saja.

Jariku bergeser. Menuntunku pada paragraf-paragraf selanjutnya yang semakin jauh semakin hanya mampu aku baca sepenggal-sepenggal.

Aku mengganti gaunnya dengan gaun yang lebih indah dan berwarna pastel sebagaimana warna kesukaan ibuku. Dia juga tidak boleh merengek ketika aku membawanya ke salon agar rambut keriting memukaunya itu bisa dibuat mengikal halus seperti rambut ibuku. Aku suruh ia tersenyum terus, yang lembut, tapi ia malah meringis—kamu harus melihatnya, Bibe, ia menggemaskan sekali!

Kadang-kadang jariku berhenti sampai aku ingat untuk menggerakkannya lagi.

Hari itu aku seperti berjalan-jalan dengan versi muda ibuku. Seseorang yang sangat aku nantikan di masa remajaku. Aku seolah tidak sadar kalau aku hanya seorang pria tua ringkih.

Di luar kesadaranku, aku meloncati paragraf-paragraf setelahnya. Sebetulnya ingin aku tekan tanda silang di pojok kanan atas namun kalah cepat dengan gerakan mataku yang sudah terlanjur memaku perhatianku pada penghujung surel.

Aku masih membaca ucapan-ucapan selamat yang masuk seharian itu ketika ia naik ke atas tempat tidurku. Tubuhnya bersandar nyaman di atas tumpukan bantal. Posisi yang mengingatkanku bahwa sudah tiba waktuku untuk mendongeng. Saat kudekati dia aku menyadari bahwa putriku telah berusia 15 tahun. Mendiang ibuku dalam foto itu juga berusia sama. Aku sadari juga kalau foto itu sudah berpuluh tahun tersimpan dalam dompetku—meski sudah jutaan kali aku berganti dompet. Aku belum menyingkirkannya.

Sesaat aku berpikir demikian, aku ingat untuk menunaikan permintaan putriku. Malam itu aku ceritakan ia dongeng tentang seorang pemuda yang mencintai ibunya sendiri—Sangkuriang. Seperti biasa ia mendengarkanku dengan penuh minat. Matanya menatapku dalam-dalam. Aku terbius dan tidak bisa berhenti bercerita. Bahkan wajahnya saat tertidur pun tetap memesonaku. Ia begitu mirip ibuku.

Ketika mengingatnya dadaku kembali berdebar kencang. Rasanya seperti de javu. Aku ingat akan malam itu. Malam yang mengubah hidupku. Malam ketika aku memandangi punggung ibuku dan aku tidak dapat menahan keinginan itu...

Minimize. Uh. Dadaku juga jadi ikut berdebar kencang. “Cuman perempuan itu yang paling dia cinta,” kalimat Tante Ri yang terucap belasan tahun silam mampir lagi dalam kepalaku. Ada lagi ingatan yang lain. Hari pemakaman ibunya. Hanya ia yang memberi kecupan terakhir untuk ibunya di bibir. Dan aku ingat pula penggalan-penggalan percakapan kami. Selalu ada ibunya, ibunya, ibunya… “Dia selalu mencari sosok yang mirip dengan Ibu,” bahkan saudaranya sendiri pernah mengatakan demikian padaku. Aku mendesah. Berpikir untuk meneruskan membaca surel ini atau tidak.

Ah. Kan nanti aku akan membacanya lagi… Tapi tanganku malah bergerak dan kutekan tanda itu lagi.

Sejenak aku mengira aku akan melakukan sesuatu di luar kesadaranku lagi, seperti yang terjadi pada malam aku melihat punggung Ibu. Aku menunggu dengan perasaan tidak menentu.

Namun yang aku ingat, selanjutnya aku hanya menyibak rambut yang menutupi dahinya. Kukecup pualam itu dan tidak bisa lebih dari itu. Tidak ada keinginan sama sekali. Yang ada hanya perasaan kuat untuk melindunginya selalu, bahkan kalau perlu melindunginya dari diriku sendiri. Aku tidak ingin ia mengulangi dosa yang ayahnya lakukan dulu. Aku ingin bisa terus mengawasinya hingga ia semakin dewasa hingga seseorang datang menjemputnya—seperti apakah pria yang akan mendampinginya kelak?

Aku menghembuskan nafas lega. Mataku terpejam. Punggungku merosot dari sandaran. Langit-langit gelap saja kusenyumi. Inikah akhir dari kegundahanmu, Om? Segera aku membaca kelanjutannya lagi.

Tadi pagi aku mengajaknya jalan-jalan lagi. Kami berhenti di tengah jembatan. Ia suka mengamati itik-itik, aku sudah pernah bilang padamu kan? Pada saat itulah aku ingat untuk memberikannya foto ibuku. Ekspresinya polos sekali saat menyatakan kalau ia tidak ingat pernah difoto seperti itu. Aku menantinya sampai ia mengamat-amati foto itu lagi dan menyadari bahwa foto itu kelihatannya seperti foto lama. Ia bertanya, “Siapa ini?” Aku coba menjawabnya dengan bahasa isyarat juga, “Kemarin malam aku jalan-jalan ke dalam mimpimu, lalu aku memotretmu.” Balasnya, “Aku enggak ingat mimpi apapun.” Aku bilang lagi, “Kamu terlihat sangat bahagia dalam mimpi itu sampai-sampai ketika kamu bangun kamu enggak ingat apapun.”

Aku tersenyum. Sepertinya doaku terkabul.                      

 

26 Juni-2 Juli 2011

Jumat, 24 Juni 2011

Menyongsong Ramalan Tahun 2012 dengan Potensi Diri

Judul : The Joshua Files: Invisible City--Kota yang Hilang
Pengarang : M. G. Harris
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009

Sudah lewat jauh dari masa SD-SMP, di mana saya cukup doyan baca buku macam begini. ketika Mas Ashif merekomendasikan buku ini dan saya jadi tergugah untuk meminjamnya dari perpustakaan kota (lagi!). Katanya, ini adalah cerita fantasi yang ada blognya (?).

Novel ini bukan sekadar cerita fantasi yang ada blognya, bagaimanapun juga. Ketimbang fantasi, saya lebih menganggapnya sebagai cerita petualangan ala Spy Kids atau FTV-FTV Disney. Tapi ternyata tidak juga...

Bermula dari berita meninggalnya sang ayah, Josh Garcia mulai menyelidiki misteri di balik peristiwa tersebut. Dia melacak email-email sang ayah, mendapat mimpi aneh, melakukan penelusuran di perpustakaan, mengalami perampokan, dan lain-lainnya... Namun berkat melaporkan pemikiran dan hasil penyelidikannya itu di bloglah sebuah petualangan seru akhirnya melanda. Wow. Makanya ngeblog! Coba kalau dia hanya menuliskannya di atas kertas dan menyimpannya untuk dirinya sendiri, dia mungkin enggak bakal ketemu sama orang-orang yang bakal membantunya kelak. Meski akibat dari publikasi melalui blog itu pulalah, dirinya jadi incaran.

Bersama teman capoeiranya, Tyler, dan seorang cewek kece yang baru dikenal, Ollie, ia pergi ke Meksiko--lokasi di mana ayahnya ditemukan tewas. Sampai bertemu dengan Camilla, saya masih merasa ini sebuah cerita petualangan biasa. Sampai adegan menyentuh antara kakak-adik-ketemu-gede, ketertarikan saya kian terpancing. Sampai sang kakak malah tewas juga padahal mereka belum banyak menciptakan momen bersama, wow, sepertinya ini enggak main-main.

Hati-hati, spoiler.

Pengarang--yang ternyata seorang perempuan--terus menggiring Josh ke dalam situasi-situasi berbahaya yang bikin saya berpikir, "Aduh... Setelah ini apa?" Jika saya yang berada dalam situasi demikian, mungkin saya akan lekas mencari penyelesaian yang paling aman meski sepertinya kepanikan besar bakal lebih menelan saya. Josh juga mengalami kepanikan, namun dia terus jalan. Dan secara tidak dinyana, ada saja yang akhirnya menyelamatkannya--dan membawanya ke situasi yang lebih rawan lagi!

Bayangkanlah rimba kala gulita di mana berbagai jenis satwa liar mematikan mungkin sedang mengintipmu di balik pepohonan. Bajumu basah kuyup, kotor, dan jiwamu masih shock akibat peristiwa sebelumnya yang memacu adrenalin. Belum beban mental karena kamu belum lama ditinggal orang-orang yang kamu sayang. Maka tanpa sadar matamu mengucurkan air meskipun kamu tidak ingin. Lalu pergelangan kakimu dipatuk ular berbisa atau kamu sudah terlalu lelah untuk bertahan di tengah gelombang sementara kemungkinan ada hiu sedang berputar-putar di bawah tubuhmu. Rasanya begitu dekat dengan kematian.

Enggak nanggung-nanggung.

Semula saya berprasangka kalau sang ayah dan Camilla mungkin sebenarnya masih hidup--ada saja yang menyelamatkan mereka sebagaimana ada saja yang menyelamatkan Josh. Namun sampai akhir novel, hm, sepertinya saya harus baca sekuelnya. Kehadiran Ollie juga sebenarnya masih merupakan misteri...

Seperti pakem cerita fantasi pada umumnya, sebut saja Star Wars, Harry Potter, Hunter X Hunter, sampai Naruto, ayah tokoh utama memegang peran penting yang kemudian menentukan nasib tokoh utama. Kalau dalam novel ini, sang ayah ternyata keturunan Bakab, semacam orang penting dalam kebudayaan Maya begitu, yang tidak berhasil menuntaskan misi sehingga misi itu diwariskan pada anaknya.

Dan sang anak tentu saja mewarisi potensi besar yang memungkinkannya untuk dapat mengatasi segala bahaya yang menghadang. Keberanian adalah prasyarat mutlak. Selebihnya adalah "sesuatu" yang membawa tokoh utama meniti jalan yang benar hingga menemukan apa yang ia cari. Meski pada akhirnya apa yang ia cari itu harus ia lepaskan lagi, namun suatu perubahan telah terjadi dalam dirinya. Ia menjadi seseorang yang lebih kuat, tentu saja.

Saya pernah terpikir untuk menganalogikan alur cerita semacam ini dengan sesuatu yang lebih realistis: pengembangan potensi diri. Setiap tokoh utama dalam cerita semacam ini dibekali oleh potensi khas yang membawanya pada nasib tertentu. Potensi yang seringkali tidak disadari pada mulanya atau malah diingkari dan butuh proses untuk dapat menerimanya. Berbagai rintangan menghadang dan seringkali justru dengan potensinya itulah ia bisa menghadapi bahaya terbesar dalam hidupnya. Alur cerita semacam ini adalah perjalanan menemukan jati diri dalam kemasan kreatif. Mungkin saja kita di dunia nyata ini sebetulnya mengalami alur semacam itu juga dalam pencarian jati diri kita?

Seperti kata Vigores dalam halaman 267, "Ingatlah apa yang dikatakan para penyair: setiap kehidupan dibentuk dari satu momen: momen ketika seseorang mengetahui, sekali dan untuk selamanya, siapa dirinya sesungguhnya. Kau beruntung sekali karena bisa mengetahui hal itu sejak dini."

Lanjutnya lagi yang mungkin bisa jadi motivasi, "Percayalah pada dirimu seperti kami percaya padamu, Josh. Rangkullah petualanganmu. Karena yang akan terjadi nanti, di atas segalanya, memang akan menjadi petualangan."

Saya kira setiap orang memiliki alur "cerita fantasi"nya masing-masing. Ular berbisa yang menjerat bisa diibaratkan tugas-tugas akademis yang mengikat. Kamu bisa berharap tahu-tahu ada pawang datang membawa penawar bisa atau kemurahan hati dosen untuk enggak membantaimu saat melakukan kesalahan.

Ayahmu mungkin bukan seorang hokage, hunter, penyihir yang bermasalah dengan tokoh antagonis dalam hidupmu kelak, maupun Darth Vader. Tapi tanpa dia, kamu pun enggak bakal ada di dunia. Dan ya, kamu enggak bisa memungkiri kalau kamu juga mewarisi sifat-sifatnya. Mungkin kamu dan ayahmu sama humoris, cerdas, tapi perhitungan dan tidak bisa lihat makanan mubazir.

Terlepas dari berbagai unsur cerita yang bisa saja dianalisis kelemahan-kelemahannya maupun maksud tersembunyi di baliknya namun saya enggak ingin memusingkannya, pengarang berhasil menyuguhkan suspensi dengan gaya bahasa yang lugas. Josh menceritakan apa yang ia alami dengan bahasa yang lempeng saja padahal kalau diresapi apalagi dialami betulan mungkin bakal bikin jantung enggak bisa berhenti deg-degan. Membuat saya terinspirasi bahwa sebetulnya saya bisa membikin cerita semacam berdasarkan latar belakang saya di kehutanan--misteri perburuan harta karun di Taman Nasional Ujung Kulon, mungkin?

Juga menyuntikkan ketakutan dalam benak saya akan bahaya badai matahari 2012 yang berpotensi menuai perang dunia ketiga di muka bumi... Naudzubillah. Ya, plot novel ini berangkat dari ramalan bangsa Maya akan berakhirnya kehidupan pada tahun 2012. Kiamat yang terjadi mungkin bukan semacam semua gunung mendadak meletus, semua samudra tahu-tahu mengamuk, hingga semua manusia bagai anai-anai yang bertebaran. Tidak. Bencana tersebut hanya akan menyebabkan matinya sistem komputerisasi yang telah sedemikian membangun peradaban kita. Dikatakan bahwa peradaban kita akan mundur dua abad dengan populasi tetap seperti sekarang, membeludak. Apa yang akan terjadi? Survival of the fittest mungkin ya. Oh, semoga ini semua hanya hoax belaka. Amin.

Kalau dalam cerita ini sih, Josh akhirnya berhasil mendapatkan codex yang konon berisi rahasia bagaimana menyelamatkan ingatan dunia saat bencana itu terjadi. Tentu saja kisah ini fiksi. Untuk solusi nyata, kita tetap harus memikirkannya sendiri. Novel ini menyampaikan pesan tersirat pada kita semua agar memikirkan apa yang bisa kita persiapkan dalam menyongsong ancaman badai matahari.

Apa yang akan terjadi setelah 20 Desember 2012 masih jadi misteri. Saya harap enggak bakal separah yang diungkapkan dalam novel ini dampak dari peristiwa itu bakal terjadi--suatu peristiwa yang di luar kekuasaan kita. Bagaimanapun juga, seburuk apapun jadinya nanti, hanya kepada Allah SWT-lah kita kembali.

Semoga cukup kuat jadi pengingat saya untuk enggak lagi terus-terusan subuh kesiangan, enggak memikirkan macam-macam pas solat, dan enggak melalaikan solat malam kalau kebetulan terbangun di dini hari... Hehe... :p

sumber gambar

Senin, 20 Juni 2011

Mengapa Perempuan dan Laki-laki Dibedakan

Judul : Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir
Penyusun : Korrie Layun Rampan
Penerbit : Bukupop, Jakarta, 2009

Setelah dua mingguan terdampar ke dunia lain (Ujung Kulon), tengah minggu kemarin saya merengkuh lagi dunia saya semula dengan meminjam buku ini dari perpustakaan kota. Ada 36 cerpen dalam buku ini yang terbagi jadi dua. Bagian pertama untuk cerpenis laki-laki (17 cerpen) sedang bagian kedua untuk cerpenis perempuan (19 cerpen). Sebenarnya saya agak kurang sreg dengan pembagian berdasar gender ini. Namun secara keseluruhan, memang ada perbedaan di antara keduanya.

Pada bagian cerpenis laki-laki, kebanyakan cerpen pernah dimuat di KOMPAS. Dibandingkan dengan cerpen-cerpen para cerpenis perempuan, eksplorasi tema para cerpenis laki-laki lebih luas. Tidak semata soal keluarga, tapi ada juga yang menyentuh etnis tertentu, banyak yang berupa kritik sosial, mengangkat kaum marginal (saya jadi kenal istilah baru terkait ini: cerpen naturalis!), fiksi ilmiah, mistik, pewayangan, sampai kaum berorientasi seksual menyimpang.

Lingkup tema cerpen para cerpenis perempuan yang ditampilkan dalam buku ini lebih sempit. Kebanyakan cerpen (yang kebanyakannya pula dimuat di majalah Sarinah) bertemakan keluarga. Meski demikian, sebagai seorang perempuan ini tidak menjadi masalah bagi saya. Justru beberapa cerpen saya rasakan amat menyentuh sisi keibuan yang mulai muncul dalam diri saya, ho ho ho...

Sebut saja "While There's Still Time", karya A. Rahartati Bambang. Tokoh utama dalam cerpen ini mengartikan judul tersebut dengan "senyampang ada waktu" sedang cerpen ini sendiri menceritakan tentang kasih seorang ibu pada anaknya.
Senyampang ada waktu akan kubuka lebar mataku untuk melihat pertumbuhannya... Senyampang ada waktu akan kudengarkan dan kunikmati "gangguan" pertanyaannya... Senyampang ada waktu akan kuhayati setiap detik masa kanak-kanaknya... Senyampang ada waktu akan kuresapi setiap detik keibuanku... (hal. 204)

Aduh... Rasanya sudah tidak sabar jadi seorang ibu... :')

Cerpen bertema serupa yang cukup menyentuh adalah "Anak" karya Nina Pane dan "Setelah Kelahiran" karya Ryke L. Cerpen pertama adalah tentang seorang perempuan yang menyesal telah menggugurkan kandungannya di masa lalu namun bakal anaknya itu ternyata tetap hidup dan terus tumbuh dalam jiwanya (weitz... spoiler!). Cerpen kedua menceritakan konflik batin yang dialami seorang perempuan pasca melahirkan anak untuk pertama kalinya.

Selain cerpen-cerpen bertema semacam ini, saya rasakan pada umumnya cerpen karya cerpenis perempuan memang lebih menyentuh perasaan ketimbang cerpen karya cerpenis laki-laki. Mungkin karena perempuan yang menjadi tokoh utamanya sedang saya sendiri seorang perempuan.

Beberapa cerpen meski disajikan dengan biasa saja, seperti "Thea Giman" oleh Rani Rachmani Moediarta, namun entah mengapa tetap menghadirkan kekuatannya sendiri yang dapat menyentuh. Cerpen ini menceritakan tentang seorang putri pengusaha yang menyelundup ke perusahaan ayahnya untuk meneliti konsumerisme di negara berkembang. Objek pengamatannya adalah kaum perempuan yang notabene para anak buah ayahnya sendiri. Sementara para perempuan tersebut saling pamer belanjaan impor, ia sendiri berani tampil apa adanya dengan blus katun dan rok batik atau sebaliknya, blus batik dan rok katun.

Perkataannya, yang tercantum dalam halaman 292 buku ini, "Aku ingin mengetahui, pada dasarnya, secara psikologis, apa sih yang mendorong orang-orang kita bangga pada merek dan produksi luar negeri. Setelah tiga bulan di sini, aku dapat masukan bahwa semua itu ada kaitannya dengan rendahnya apresiasi kita terhadap apa-apa yang sudah ada pada diri kita." (hal. 292)

Satu lagi yang inspiratif, beberapa di antara 19 cerpenis perempuan yang karyanya dimasukkan dalam buku ini adalah wartawati seperti Anna M. Massie, Apri Swan Awanti, Dorothea Rosa Herliany, Martha Hadimulyanto, Nani Mulyani, dan Yatie Asfan Lubis. Sebagian sisanya ada yang bekerja di majalah atau semacamnya tapi tidak disebutkan sebagai wartawati. Latar belakang cerpenis yang juga wartawati ini rupanya mempengaruhi karya yang dihasilkan. Sebut saja "Suatu Malam" karya Anna M. Massie dan "Kenangan Pesta" karya Martha Hadimulyanto yang menurut penyusun buku ini merupakan laporan pandangan mata alias fiksi jurnalistik.

Cerpen yang relatif unik dari deretan cerpen para cerpenis perempuan dalam buku ini adalah "Nasib Sanggul Bu Colon" karya Etik Minarti. Tidak seperti cerpen-cerpen lainnya yang relatif menyentuh perasaan keperempuanan, nuansa cerpen satu ini malah menjurus pada kekocakkan. Bayangkanlah orang-orang suatu perumahan mengejar sebuah sanggul besar yang bisa loncat-loncat sendiri. Agak absurd. Mengetahui cerpenisnya pernah juga membuat cerpen parodi berjudul "Aku, Olenka, Rafilus, dan Pengarangnya", ketertarikan saya jadi timbul.

Lho, kok saya malah menyoroti cerpen-cerpen para cerpenis perempuan saja? Bukannya tidak ada cerpen menarik dari bagian cerpenis laki-laki. Namun tidak seperti cerpen-cerpen dari bagian satunya, hanya satu cerpen dalam bagian ini yang menarik minat saya untuk memfotokopinya demi koleksi pribadi (hak cipta? hm...). Sebuah cerpen eksperimental karya Sony Karsono, "Insomnia". Ceritanya sendiri tidak jelas, namun saya suka pada gaya bahasanya yang sejak awal sudah begitu memikat.
Empat puluh tahun lalu dalam etalase butik kulihat boneka cantik dari plastik. Ia mengenakan gaun putih pengantin salju. Ia berseru, "Hei! Menikahlah denganku!" Kala itu aku sudah punya ijazah, kerja dan rumah. "Mungkin," pikirku, "aku perlu istri". Maka boneka itu kubeli dan kubawa pulang naik taksi. Kami menikah dan punya tiga anak. Karena istriku bijaksana, aku lupa bahwa ia hanya boneka dan bahwa anak-anak kami adalah makhluk separuh boneka separuh manusia. (hal. 143)

Namun sebenarnya, dengan pembagian berdasar gender yang awalnya saya pikir tidak penting ini, saya justru jadi merasakan kalau perempuan dan laki-laki memang tidak bisa begitu saja disamakan. Perempuan memiliki sensitivitasnya sendiri dan karena itulah potensi ini perlu juga diwadahi, diwakili, dalam sebentuk, katakanlah, cerpen. "Karena wanita hanya ingin dimengerti", waha.

Maka tidak menjadi masalah jika keluarga menjadi tema yang paling banyak dieksplorasi cerpenis perempuan. Ini tidak berarti kreativitas perempuan terbatas, saya kira. Justru perempuan harus kreatif dalam menyikapi ragam permasalahan keluarga. Sebagaimana saya kutip dari penghujung analisis penyusun terhadap cerpen "While There's Still Time" di halaman 206, "Bukankah kuatnya keluarga berarti kuatnya masyarakat? Dan, kuatnya masyarakat berarti kuatnya negara?!" Tapi mengapa hanya perempuan?

Sewaktu menarik buku ini dari rak, sebenarnya ada harapan untuk mendapatkan pengetahuan semacam yang saya dapatkan dari buku-bukunya Maman S. Mahayana, atau malah Budi Darma (ingat "Harmonium"). Setiap bagian dalam buku ini diberi pengantar. Setiap cerpen yang disajikan disertai analisis sesudahnya. Analisis cerpen dalam buku ini rupanya lebih pada pemaknaan akan cerpen bersangkutan, yang kerap bikin saya berpikir, "Eh, emang ini gitu yang tadi diomongin cerpennya?" Tidak ada kalimat-kalimat yang memancing minat saya untuk mengutip--kalimat-kalimat yang memberitahu saya bagaimana caranya menghasilkan suatu karya yang seperti apa.

Hitung-hitung membaca kompilasi cerpen lah ya... Haha...

Selain itu, kendati diterbitkan tahun 2009 dan ditambahi "mutakhir" pada judulnya, cerpen-cerpen yang ditampilkan dalam buku ini malah memberi pembaca wawasan kehidupan tahun 90-an. Betul, hampir semua cerpen yang ada dalam buku ini telah dimuat sebelumnya di media massa mulai awal hingga pertengahan tahun 90-an. Kedaluwarsa memang. Seharusnya buku ini dijuduli "Apresiasi Cerpen Indonesia Tahun 90-an". Namun jika mengingat bahwa masih ada nilai-nilai dari dalam cerpen-cerpen tersebut yang relevan dengan masa kini, ini menjadi masalah yang tidak lagi begitu berarti.

Sabtu, 18 Juni 2011

BERBEDA

Sudah berapa menit yang aku lewatkan di depan cermin? Biusnya sudah habis. Kepalaku tegak lagi. Sesaat. Aku kembali termangu akan pemandangan sama yang kulihat setiap hari.

Warna bajuku selalu membuat matahari merasa tiada berguna. Paduannya itu-itu saja. Sepatuku tidak pernah ganti.

Tidak bisakah aku tampil berbeda?

Beranikah aku tampil berbeda?

Ini adalah keputusan yang harus kuambil dalam waktu singkat—setengah jam lagi kuliah dimulai dan aku masih berada di kamar yang jaraknya dua puluh menit jalan kaki dari kampus!      

Baiklah. Aku menghembuskan nafas. Berpikir bahwa menjadi “berbeda” adalah sesuatu yang positif. Setidaknya itu akan menggusah kebosanan dalam hidupku.

Beranikah aku…?

Tidak ada yang bisa kuharapkan dari lemari bajuku. Aku melaju ke kamar terdekat. Ku buka pintunya. Sang pemilik tercengang mendengar pintaku.

Sepuluh menit kemudian, aku telah menjadi seseorang dengan penampilan baru. Hari ini aku akan tahu bagaimana rasanya menjadi berbeda dari biasanya, akhirnya… ha ha ha…

Lihatlah, teman-temanku terpana melihat aku. Selepas kuliah dua sks yang memuakkan, aku berpuas diri melenggang di lobi gedung kampus.

“Wah… Kamu keliatan beda deh..”

“Tumben…”

Berpasang mata tertuju padaku. Jelas saja aku jadi pusat perhatian, aku berbeda!

Aku tersenyum menikmati keterpukauan mereka. Beginikah rasanya menjadi berbeda?

“Weh, penampilanmu…”

Pandang sobatku menyapu penampilanku dari atas sampai bawah.

“Sekali-kali boleh dong aku keliatan beda,” ujarku percaya diri.

“Iya sih…” Matanya masih saja memerhatikanku. “Kamu beda dari biasanya.” Ia menggeleng-geleng, seakan tak habis pikir, “Tapi kamu jadi keliatan sama kayak orang lain.”

Aku terdiam.

Rautku menunjukkan ekspresi terganggu. Aku coba nafikan decakan yang disusul komentar yang belum juga habis.

“Ke mana sepatu pantofelmu? Rok megarmu yang warnanya selalu gelap itu? Atasan suram yang nggak pernah rapih? Tasmu yang kayak mau naik gunung itu?”

Di bangku terdekat aku duduk. Ganti mataku yang menyapu sekujur penampilan baruku. Kardigan, kaos, kalung gede, tas cangklong, jins ketat… Bukankah ini paduan yang biasa para perempuan seumuranku pakai?

Kamu tahu bagaimana rasanya menjadi berbeda setiap hari? Sekali-kali aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi serupa dengan orang lain.

Banyak Dibuka