Sabtu, 12 Mei 2012

Gadis yang Terakhir

Sejak dulu begitu. Mata kuasa menatap, tapi mulut hanya membisu. Jika kudekati dia, aku malah tergugu. Setiap gadis yang menghempaskan badai di hatiku, hanya bisa kubikin termangu.

Sekali aku coba nyatakan, cukup buat nyaliku ciut. Harga diriku mengerang, meski ia menolakku dengan lembut.

Pada gadis yang kedua, tak ada usaha selangkah pun untuk menggapai hatinya. Ia selalu milik seseorang, dan aku terlalu pengecut untuk mengambil haluan.

Gadis ketiga unik sekaligus semrawut, acap jadi olokan kawananku. Berbagai upaya kukerahkan untuk menyangkal rasa itu. Sempat aku gembira saat kami lama tak bertemu, saat di mana rasa itu tertidur.

Aku telah cukup percaya diri untuk menggoda gadis keempat, tapi ia setia pada kekasihnya. Dan aku juga cukup tahu diri untuk tak mengusik mereka.

Jiwaku kering asmara, tak lagi berhasrat untuk mengembara demi bungkam dahaga, yang tak ada. Mungkin aku sejenis manusia yang tahan hidup tanpa romansa. Aku tak mengapa, hidupku semata perjuangan mencari berita dan cerita agar manusia ingat tujuan penciptaannya.

Tapi ketentuan-Nya mempertemukanku kembali dengannya, gadis terakhirku. Tak lagi kusangkal rasa itu. Kesamaan di antara kami seolah isyarat untuk bersatu.

Padanya kulepas segala malu. Masa demi masa kuraba gelombang yang barangkali akan menggebu-gebu, atau sudahkah habis pada masa yang lalu? Padanya kumulai lagi, pelan-pelan, menghimpun pesonanya di mataku. Kesenduannya yang tak terkatakan, hanya kesenangannya yang tertumpahkan, baktinya yang kudapatkan.

Pada akhirnya momen itu terwujud, lagi. Kala aku memandang dia. Dalam pelukannya seorang manusia mungil dengan mata terpejam, bibir merekah. Jerih payah di malam-malam peluh yang berbuah, yang mencurahkan sayang hingga meruah.

Kali ini tak akan kubiarkan diriku hanya tertegun, sedang ia biarkanku dalam kaku. Ia yang sejati milikku, tak ada yang akan menghajarku kalau aku coba-coba menyentuhnya, tapi akan kuhantam siapapun yang berani mengoyak ketenteramannya. Dan rasa itu akan selalu terjaga. Oaseku.

Akan kudekati ia, tak perlu lagi ragu. Akan aku sampaikan, aku bahkan tak perlu lagi nyali, apalagi harga diri.

“Ma, mau Papa bikinin teh?”

Perempuanku untuk selamanya.

Kamis, 03 Mei 2012

PerNoWriMo: Raka (2) -- 4 dari 4

Raka (2)
Aku bersimpuh di depan pintu. Aku turunkan kepalaku hingga nyaris menempel ke ubin merah hati. Aku dekatkan penciumanku ke celah di bawah pintu lalu mengendus-endus. Bau itu semakin kuat di sini. Aku bangkit. Aku segera menarik-narik gagang pintu. Sepertinya dikunci juga. Aku berdecak. Aku tendangi pintu itu, barangkali bakal terbuka dengan sendirinya, tapi ternyata tidak. Kacanya saja yang bergetar.
Apa aku harus menunggu sampai pacar Ratu datang, memarkir mobilnya di depan rumah ini sebagaimana biasa, lalu menyulut rokok sembari menunggu Ratu keluar rumah, dan meledakkan rumah ini beserta dirinya sekalian mobilnya?
Aku harap itu terjadi.
Kalaupun tidak, kebocoran gas tetap bahaya.
Aku diam sebentar.
          Aku susuri jendela-jendela terdekat. Semuanya tertutup rapat. Barangkali saja ada yang bisa aku tarik keluar. Aku perhatikan lagi jendela-jendela itu dengan saksama. Semuanya diselot. Aku dekatkan muka pada jendela. Aku mendapati perabotan dan kesunyian.
          Aku edarkan pandanganku ke sisi lain pintu. Ada jendela-jendela yang lebih kecil, jendela berupa kisi-kisi maupun jendela persegi yang letaknya jauh melebihi tinggi badanku yang hanya 170 cm.
Ada dinding tinggi juga di ujung carport, dilapisi dengan batu hias hitam keemasan, yang melatari taman kecil. Di sampingnya ada pintu merah yang sepertinya terbuat dari besi.
Aku mendesah. Aku tidak sudi jalan ke sana.
Jadi aku balut tangan kananku dengan singlet Ratu. Aku mengambil jarak sekitar 1 meter dari pintu itu. Aku tarik sikut kananku jauh-jauh sebelum menghunjamkan tinju sekuat mungkin ke kaca pintu itu. Bunyinya tidak mengenakkan. Sontak aku berjongkok seraya memeluk buntalan kain di ujung lengan kananku. Kaca sialan itu tebal juga.
Aku buka buntalan kain itu. Aku tatap tanganku dengan nelangsa. Aku goyang-goyangkan sebelum membalutnya lagi. Aku atur nafas seraya memusatkan kekuatan pada tinju kananku. Kali aku menggunakan waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Barulah aku menghasilkan bunyi itu lagi, BUK, BUK, dan BUK, aku meringis, sekali lagi, CRAK.
Retak sedikit. Aku buka balutan itu lagi. Tangan kananku sangat merah.
Kini giliran tangan kiriku bekerja, meski aku agak sulit mengarahkannya. Aku hantam lagi retakan itu. Aku arahkan juga pada bagian lain yang belum retak. Retakan membesar. Sebagian runtuh.
Aku menunduk. Nafasku yang tersengal-sengal terdengar sangat jelas. Aku puas. Puas sekali. Sekilas terpikir untuk menghancurkan seluruh kaca di rumah ini. Lalu seperti ada yang menjalar di bagian dalam tubuhku. Di tengah sengal, ujung bibirku tertarik ke atas. Aku sempat gamang sesaat. Tapi karena aku tidak ingat apa sebabnya, aku kembali menikmati kesenangan yang tiba-tiba ini. Ini cara yang jauh lebih menyenangkan ketimbang menelepon Bapak Anthony dan mengatakan kalau rumahnya bisa meledak sewaktu-waktu.
Pukulan selanjutnya aku hentakkan dengan semangat yang lebih besar. Lebih besar lagi pada pukulan-pukulan seterusnya. Minta maaf dan ganti rugi adalah perkara gampang, biar orangtuaku yang melakukannya, aku tinggal mengunci diri dalam kamar.
Tahu-tahu saja aku sudah berhenti. Aku cabuti potongan kaca yang tersisa di bagian bawah kosen. Setelah itu aku memastikan sisa potongan kaca di bagian samping kiri, kanan, dan atas tidak akan melukaiku begitu aku melewatinya untuk masuk ke dalam rumah.
Begitu turun dari kosen, aku berada di sebuah ruangan yang besar. Bau gas semakin menyengat. Aku sampirkan singlet Ratu ke bahu. Aku tutup hidungku dengan kerah kaos. Nafasku jadi pendek-pendek. Mataku nyalang mencari di mana letak elpiji bangsat itu. Intuisiku mengarahkan aku ke kanan.
Aku melalui sebuah lorong pendek dengan pintu di kanan-kiri dan bertemu dapur yang sedikit lebih luas dari dapur rumahku.
Ada berbagai kemasan makanan dan minuman pada meja besar di tengah ruangan itu. Sebagian berada dalam plastik. Tidak ada yang terbuka. Aku meraih salah satu bungkus snack, menilik tanggal kedaluwarsa, menyobeknya, lalu mencicipi beberapa batang. Enak.
Ada galon dan dispenser juga, air dalam galon itu tampak penuh, indikator heater pada dispenser menyala. Aku curiga jangan-jangan kulkas di ujung pantri itu hidup, bisa jalan-jalan, bisa makan, ah bukan, colokannya tersambung dengan arus listrik, maksudku.
Aku bingung. Jadi rumah ini sebetulnya masih dihuni ya?
Aku tutupi lagi hidung dengan kerah kaos. Aku dekati tabung elpiji di bawah kompor gas. Tidak terdengar desis. Kuputar kenop pada kompor. Rupanya dari tadi kompor ini menyala tanpa api.
Siapapun yang menghuni rumah ini, dia tolol.
Aku sibak tirai yang menutupi jendela dapur. Kuangkat selot, kubuka jendela lebar-lebar. Aku coba buka pintu-pintu, tapi sepertinya semua dikunci.
Aku kembali ke ruangan besar itu. Ketika melewati kosen yang bolong, aku ingat untuk tidak coba memecahkan kaca lagi. Aku bakal cari jendela sebanyak mungkin saja di rumah yang sumpek ini.
Tirai-tirai aku seret ke tepi, selot-selot aku tarik ke atas. Di balik dinding kaca aku berhenti. Aku menggeser tirai yang menghalangi pandanganku menuju rumah bertingkat dua di seberang rumah ini.
Halaman sebelah kiri rumah itu diteduhi pohon cengkeh dan pohon mangga.
Di bawahnya, ada bangku di mana Ratu dan Rara biasa mencurahkan kotoran di hati mereka pada satu sama lain, sembari merumuskan tindakan semena-mena berikutnya untuknya.
Sementara itu, aku di halaman tengah mengurusi tanaman hias sekaligus tanaman bumbu dapur, berlagak tidak mendengar apapun yang mereka pergunjingkan.
Halaman sebelah kanan adalah garasi untuk dua mobil, dengan satu motor menyempil, sedangkan mobil baru Ratu kebagian di carport.
Di atas garasi, ada bagian dari bangunan lantai dua yang menjorok agak jauh ke dalam, itu area babu.
Selebihnya sejajar dengan bangunan di bawahnya. Berturut-turut adalah kamarku, beranda, dan kamar Ratu.
Kuamati agak lama jendela kamarku yang tidak terlampau lebar. Aku malas membuka jendelaku, tapi aku selalu buka tirai sebelah dalam selama jam kerja matahari. Masih ada tirai satunya, yang putih berenda dan memuakkan, yang menyelubungi jendelaku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengintip aktivitasku di dalam kamar, aku tersenyum.
Kamar Ratu dan kamar Rara ada di seberang kamarku, dipisahkan oleh ruangan cukup luas yang bersambung dengan beranda serta tangga. Jadi kalau aku mau ke lantai bawah dari kamarku, atau ke kamarku dari lantai bawah, aku pasti melewati area mereka, dan itu adalah momen-tidak-menenteramkan yang aku alami setiap hari sejak tinggal di rumah itu.
Tidak ada yang menarik.
Aku teruskan menggeser tirai itu hingga tepi. Cahaya matahari yang loyo akhirnya menggapai ruangan suram ini. Aku ikat bagian tengah tirai dengan tali yang aku temukan pada kosen.  
Aku hendak mencari jendela di ruangan lain. Bau menyebalkan ini tidak gampang surut. Maka aku berbalik, dan serta-merta tersentak.
Bukan Bibi, tapi aku tetap sulit meneguk ludah. Dan jantungku sudah kadung berdebar kencang, sialan! Bolor benar aku, sedari tadi keliaran tapi tidak lihat orang itu duduk di situ.
Dan ia cuman duduk. Kedua sikutnya bertumpu pada tangan sofa besar itu. Kepalanya teleng ke kanan, ditopang oleh jemarinya yang besar.
Laki-laki itu berbadan besar, tapi tidak gendut. Mungkin ia juga tinggi, kalau berdiri.
Sebagian badannya disiram cahaya matahari,  rambutnya yang lurus menjuntai sampai bahu terlihat agak kecokelatan.
Sepertinya ia berumur jauh lebih tua dariku, tapi ia tidak seperti om-om, atau bapak-bapak, mungkin 30-an, aku tidak bisa memastikan, aku bahkan tidak bisa berpikir, mendadak ada udara dingin yang membelai-belai.
Tiga puluh dua detik kami saling tatap, ekspresinya tidak berubah. Salah satu ujung bibirnya tertarik ke atas. Matanya terang sebelah, aku tahu itu karena cahaya matahari, tapi sorot keduanya sangat lembut.
Sangat lembut.
Akhirnya aku bisa meneguk ludah. Nafasku agak megap-megap, tapi aku masih cukup sadar untuk mengambil tindakan.
Aku berjalan menyamping, aku hendak menuju kosen yang bolong, tapi aku tidak bakal melepaskan mataku darinya, aku tidak bakal membiarkanku ia mendekatiku, me…
…matanya terus mengikutiku… bergerak perlahan.
Waktu aku makin mendekati kosen… semestinya aku sudah tidak berada dalam jangkauan pandangnya lagi jika posisinya tetap seperti itu… pantas tadi aku tidak bisa melihat keberadaannya yang terhalang sandaran sofa… sandaran sofa yang tinggi… tapi tiba-tiba badannya tegak… aku bisa melihat puncak kepalanya… dari balik sandaran sofa ia mengintip… mengintip dengan matanya yang terang… aku bisa melihat hasrat menyala di sana… sebelah tangannya mencengkeram tepi sandaran sofa… waktu tangannya menggapai… aku sudah melompati kosen.


...sampai jumpa kapan-kapan! :)




____________________






Rabu, 02 Mei 2012

PerNoWriMo: Raka (1) -- 3 dari 4

Raka (1)
Namaku Raka. Raka Pamungkas. Raka tapi pamungkas, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti yang terakhir, yang menimbulkan kematian.
Waktu aku kecil, aku gemetaran hebat ketika Bibi datang dalam wujud kematiannya.
Matanya seperti mau mencolot. Lengannya menggantung, nyaris putus. Tungkai kakinya tertekuk—bukan pada dengkul—sedang kakinya menghadap ke belakang. Sementara ia menyeret setengah badannya mendekatiku, satu per satu organnya jatuh.
Orang-orang mendapati wajahku pucat, suhu tubuhku naik—padahal aku merasa dikeram dalam kulkas, dan nafasku tidak teratur. Ludah menggumpal di pangkal kerongkonganku, tapi aku sulit meneguknya.
Sosok Bibi baru hilang setelah aku menjerit histeris, atau diam saja tapi ada yang memberiku kontak fisik.
Bahkan meski itu Ratu yang mencubit lenganku dengan keras, setelahnya aku bakal sangat lega.
Kadang aku sudah sangat lemas, tidak kunjung ada orang yang menepuk bahuku, tapi aku belum pernah pingsan.
Tapi Bibi juga muncul dalam sosok yang bersih. Kepalanya utuh, bagian tubuhnya yang lain juga. Ia pakai kebaya dan kain terbaiknya. Ia tersenyum padaku. Setiap kali melihat sosoknya yang seperti itu, aku ingin menangis, atau betul-betul menangis. Aku rindu.
Waktu aku kecil, kemunculannya adalah sesuatu yang tidak terduga.
Satu kejadian bikin orang-orang sibuk menenangkanku. Setelah itu aku pikir Bibi tidak akan muncul lagi. Aku melupakannya.
Lalu ia datang dalam wujudnya yang tidak berbentuk. Begitu seterusnya.
Sekali Bibi datang dalam wujudnya yang aku rindukan, aku terkecoh. Aku kira Bibi sudah memaafkan aku.
Tapi ketika ia datang lagi dengan darah menetes-netes dari tubuhnya, aku pikir Ratu dan Rara benar.
Aku mulai paham kalau Bibi bakal selalu datang, sewaktu-waktu. Aku tidak bisa menebak ia bakal muncul dalam wujud seperti apa. Ia bahkan menghampiri aku dalam mimpi.
Waktu aku lebih besar, aku mulai sadar. Kemunculan Bibi mungkin ada penyebabnya.
Meski pertemuan dengannya sering jadi pengalaman mengagetkan sekaligus mengerikan, pelan-pelan aku mengingat waktu kemunculannya, bagaimana wujudnya, sedang apa aku waktu itu, dan sebagainya.
Aku ingin bisa menemukan suatu pola. Aku ingin dalam keadaan siap sewaktu-waktu ia terlihat, sehingga aku bisa lebih mengendalikan diri.
Toh aku bukan orang yang dikaruniai kemampuan melihat makhluk gaib. Aku hanya melihat Bibi.
Ibu gagal bikin aku ketemu psikolog secara kontinyu, Ratu dan Rara makin jarang mengkaitkan aku dengan kematian Bibi, sampai tidak pernah sama sekali.
Kami pindah ke kota satu, lalu ke kota berikut, lalu kota di mana kami tinggal lagi sama Bapak. Bapak mengajar di universitas negeri setempat.
Tapi Bibi masih suka mengamati aku dari pojok ruangan.
Aku suka ketika aku bangun lalu mendapatinya tersenyum padaku. Seperti saat ini, saat di mana matahari jadi pecundang di hadapan mendung, rautnya yang penuh kerut bersinar karena indah.
Entah mengapa aku malu. Aku makin membenamkan sebagian mukaku ke bantal, tapi sebelah mataku tetap padanya.
Aku tidak pernah benar-benar memerhatikan wajah Bibi.
Ketika aku mendapati segurat kuyu di sana, mungkin ia sedih karena bocah ciliknya tidak lagi gembil. Ia tidak bisa lagi mencubit kenyal di bagian bawah wajahku, tidak saja karena fisiknya yang tidak ada, tapi karena aku sudah punya dagu.
Sejenak mataku teralih ke lain arah. Kesadaranku sudah benar-benar pulih. Tapi pikiranku belum terisi dengan apa yang harus aku lakukan habis ini.
Mataku terarah ke pojok lagi. Bibi sudah tidak ada. Bertahun-tahun lalu aku masih bisa merasa kehilangan. Kini entah mengapa perasaanku sedatar papan. Mungkin karena aku tahu. Nanti ia akan muncul lagi, entah kapan.
Mungkin barusan ia datang untuk mengingatkan kalau aku belum makan siang. Sebetulnya aku ingat, berkat Rara menggedor pintu kamarku, lalu Ibu meneriakkan namaku, tapi aku sengaja tidak bangkit.
Hiruk pikuk penawaran dan kesepakatan transaksi campur baur dengan kesegaran sayur gunung, anyir darah, tengik keringat. Sebaiknya tubuhmu lentur, atau kamu akan memecahkan rekor tubrukan terbanyak. Otot pada lengan dan kakimu juga perlu dilatih, ada beban seberat 7,3 kg yang kamu harus angkat, dan total 5.255 langkah yang kamu harus tempuh. Keseimbangan juga tidak kalah penting, kamu harus menjaga motor yang digantungi plastik-plastik belanjaan—belum penumpang di belakangmu dengan plastik belanjaan paling besar—agar tidak goyah sepanjang 1,2 km perjalanan. Lima jam setelahnya, pengorbanan untuk Minggu pagi tanpa Doraemon terbayar dengan sajian khas Tio Ciu di meja makan.
Ibu selalu ingin membawa aku setiap kali ia belanja. Aku kalkulatornya. Tugasku lainnya, yang bermula dari iseng saja, adalah mencermati setiap angka yang dilontarkan pedagang. Ayam, 28.000, daun seledri, 2000, daun bawang, 2000, cabai, 10.000, jamur, 20.000, penyedap masakan 3.500… dan sebelum pedagang angkat kalkulator, aku sudah harus mengucapkan, “65.500,” pada Ibu. Ibu bilang ini adalah kemampuan paling dasar yang dimiliki setiap lelaki dari keluarga Bapak, yang menurutku setiap anak SD juga punya.
Aku lebih suka makan sendiri, tanpa tatapan pedas dari para kakak, atau pinta Bapak untuk memoles koleksi barang-barang kuningannya, atau Ibu yang ingin aku bicara lebih banyak. Aku lebih suka makan sendiri, dengan Ibu melintas di belakang, Bapak yang tidak mengacuhkan dunia sementara TV bersamanya, tapi si kakak tetap paling resek sejagat raya.
“Deeek… Mana bajuku?”
Aku merasakan kehadiran Ratu di sampingku. Berkacak pinggang, pasti. Aku tidak menoleh dan tetap asyik menggigiti tulang ayam. “Di beranda…”
Ia menjewerku. “Kan aku udah bilang, jangan dijemur di beranda!”
Panas dan perih di telinga, aku memandang marah pada Ratu sampai ia menaiki tangga. Aku ingin melemparkan tulang di tanganku ini padanya.
Si kuda binal itu kembali. Ekornya yang panjang terlihat bergoyang-goyang melalui celah antara lekuk pinggang dengan lengannya. Alisnya bertaut sedang bibirnya mengerut.
“Tank top-ku enggak ada!” serunya gusar.
“Baguslah…”
Ia menyabetku dengan blus wol di tangannya. Seperti dilecut dengan ijuk. Aku balas ia dengan tulang. Aku tidak peduli nanti malam Bibi akan mendatangiku dalam wujud apa. Ratu mencengkeram kepalaku dengan kedua tangannya yang berjari panjang-panjang. Ia mengacak-acak rambutku. Aku harap Bibi mendatangi Ratu juga.
“Makanya, cuci baju sendiri!” sentakku.
“Ini kan gara-gara kamu ngegores mobilku!” Ratu semakin gemas. Seketika ia mengangkat tangannya dari kepalaku, mungkin karena Bapak menoleh.
“Cepet cari! Jam empat nanti aku pergi, bajunya mau aku pake!”
Aku tahu aku kalah. Tapi aku tetap mengerahkan pandangan yang mengecam kepadanya.
Tidak lama setelah ia berlalu, aku menghabiskan makananku.
Aku menuju ke beranda dan memang tidak mendapati singlet Ratu di sana. Angin menghampiri aku dengan kasar. Mungkin ia biangnya. Pandanganku melayang dari awan gelap yang bergolak lalu menyisir genteng dan halaman rumah-rumah di bawah.
Ratu sudah berkali-kali memintaku membersihkan noda di bajunya. Ia mahasiswa S2 sekaligus asisten dosen di almamaternya, tapi kebiasaannya seperti anak kecil. Entah kapan ia akan berhenti menorehkan pulpen ke blus wol atau singletnya.
Aku sudah kasih tahu dia di mana aku menyimpan gliserin dan garam sitrun untuk menghilangkan noda-noda semacam itu, tapi ia sering sok sibuk.
Ia mencari-cari kesalahanku padanya atau kebaikannya padaku, ia pikir ia bisa bikin aku tidak berkutik dengan itu.
Aku lebih suka membencinya sebagaimana ia membenciku, ketimbang berbuat baik padanya sebagaimana ia pernah berbuat baik padaku.
Jadi aku jemur baju-bajunya itu di beranda, biar orang yang lewat depan rumah tahu kalau Ratu suka pamer baju.
Dan Ratu itu tidak bisa melihat, meski matanya gede, tapi ia kuda. Apa tadi ia tidak lihat singletnya terkapar di halaman rumah depan?
Aku pilih langsung ke sana saja ketimbang koar-koar di depan kamarnya.
Tapi aku tidak mangkel, apalagi menyerapah, ketika aku menuruni tangga, terus sampai ke pintu depan.
Aku seret kaki. Sandal jepit yang aku pakai bergesek dengan lantai semen, lalu aspal.
Aku baru menyadari model rumah itu serupa dengan model rumah yang muncul di film-filmnya Rano Karno waktu masih seumuran aku, plus lumut, tapi sudah dikikis. Hamparan rumput tempat singlet Ratu jatuh juga sepertinya belum lama dipangkas. Ada tumpukan daun kering di sisi halaman, lengkap dengan sapu lidi milik Gaban, tapi ada daun kering yang juga berceceran. Sepertinya rumah ini dibersihkan setiap kurun waktu tertentu.
Dulu Ratu dan Rara sempat berteman sama mbak-mbak yang tinggal di rumah ini, tapi tahu-tahu saja mbak-mbak itu beserta keluarganya pergi, rumah itu tidak dihuni lagi, tapi aku tidak ingat itu sejak kapan, karena aku tidak peduli.
Papan dengan tulisan cetak “DISEWAKAN” bersambung nomor ponsel Bapak Anthony digantung pada pagar besi dengan karat di sana-sini. Papan itu bergoyang-goyang ketika aku menaiki pagar yang setinggi mataku. Digembok sih. Kedua tanganku menggapai bagian atas pagar tersebut yang datar.  Dengan itu aku mendapat topangan untuk menghela badanku naik. Aku pijak kedua kakiku pada sela-sela pagar, pada besi yang melintang di sana. Lalu satu demi satu kakiku pindah ke sisi pagar sebelah dalam, menginjak besi melintang lagi, baru melompat ke lantai semen.
Serta-merta hidungku bergerak-gerak. Aku mencium bau menusuk yang menimbulkan perasaan tidak nyaman.
Aku ambil singlet Ratu sebelum langkahku makin menjauhi pagar, makin menerobos hawa lembap di bawah carport yang beratap.
Pintu masuknya terletak di samping, dan di ujung carport, sementara bagian depan berupa dinding cokelat pudar, dinding berlapis batu hias dengan cokelat yang lebih tua, disambung dinding kaca yang besar dengan tirai cokelat menutupinya. 
Aku mendapati debu pada permukaan jendela, dengan besi-besi melingkar dan tirai putih berlubang-lubang di baliknya, tidak dibersihkan dengan cukup niat. Tapi aku hanya lihat sekilas. Tidak ada satupun yang terbuka.


...bersambung ke besok: Raka (2)


Selasa, 01 Mei 2012

PerNoWriMo: Bibi (2) -- 2 dari 4

Bibi (2)
Seorang tetangga mendatangi rumah pada suatu sore. Salah satu lubang hidung anaknya disumbat tisu. Memar mewarnai pelipis dan sekitar mata kiri sang bocah. Ibunya mencak-mencak di depan Bibi. Kali ini Sari tak mau ikut. Ia diam saja di dapur dan menyibukkan diri sementara Bibi dimaki-maki.
“Kurang ajar! Masak anak saya dilempar pakai truk? Memangnya anak saya ini apaan?! Ya Gusti…”
Pandangan Bibi yang nanar menyapu lantai. Mulutnya melantunkan permohonan maaf dengan amat lirih. “Ya… Ya… Bu… Nanti saya kasih tahu anaknya…”
“Jangan cuman kasih tahu anaknya, kasih tahu juga ibunya! Punya anak kok ya enggak bisa ngedidik…”
Jantung Bibi serasa diperas. Adalah tanggung jawabnya untuk membesarkan anak-anak sementara ibu mereka berkutat nyaris sehari penuh di kantor. Sekuat mungkin ia menahan agar tubuhnya tidak gemetar.
Wanita tersebut mengumpat seraya menyeret anaknya pergi dari halaman.
Selepas kepergian mereka, Bibi mencari-cari selopnya. Rara yang sedari mula mengintip kejadian tersebut keluar dari balik pintu depan. “Mau ke mana Bi?” tanya gadis cilik itu pelan. Ia tak kalah gentar dari Bibi.
“Mau cari Adek…” kata Bibi. “Sudah Mbak Rara di rumah saja ya…”
Rara memang tidak berminat untuk ikut mencari Raka. Kegalauan Bibi masih bisa Rara rasakan hingga sosok nenek itu menghilang di belokan jalan. Garis-garis lembayung membayang di langit. Rara menutup pintu lalu berlari mencari tempat yang terang di dalam rumah.
Bibi mengangkat kain hingga sebagian betisnya tersingkap. Tapak selopnya beradu dengan aspal berbatu. Ia tidak terpikir apapun mengenai di mana kira-kira keberadaan Raka. Hanya nyalang matanya pada apapun di sekitarnya. Bibirnya komat-kamit mengucurkan doa agar petunjuk dari Yang Maha Tahu mengarahkan langkahnya.
Wajahnya mengernyit tepat ketika ia mendapati lapangan kosong-melompong. Ia mengelus-elus dada. Terasa ada sesuatu yang dipelintir di dalam sana. Ia memelankan langkah. “Dek… Dek Raka…” Kepala beberapa ekor gagak menengok ketika suara parau itu mengudara.
          Dari balik pagar rumah yang tengah dilewati, seorang wanita muda menegurnya. Wanita itu menunjuk arah menuju sawah. Ia melihat Raka berjalan ke sana.
Ketenangan membercak di atas nyeri Bibi. Ia mengucapkan terima kasih pada wanita itu. Langkah Bibi menjadi lebih wajar meski masih diliputi ketidakpastian. Barulah ia berucap syukur ketika melihat sosok itu di atas hamparan rumput.
Kepala bocah itu tengadah ke angkasa dengan mulut menganga. Ia begitu terkesima ketika beberapa ekor merpati mendarat di pundak pria di sebelahnya.
“Dek… Dek Raka…” Bocah itu menoleh. “Ayo pulang yuk…”
Cengiran yang diulas bocah itu memamerkan barisan gigi yang kecil-kecil lagi putih. Matanya lebur menjadi garis. Semburat jingga runtuh di atas kepalanya.
Bibi kira bocah itu akan berlari ke arahnya, menyeruduk ke dalam pelukannya. Tapi Raka malah terus melewatinya. Kepalanya teleng. Ekspresi pada wajahnya meneriakkan kata-kata, “Ayo kejar aku Bi!” Kecemasan Bibi kian jadi. Ia mengangkat kainnya lagi. “Oalaaah…” desahnya panjang. “Bibimu ini udah enggak kuat lari, Dek…” Tapi kemudian ia tetap tergopoh-gopoh.
Bocah itu lari cepat sekali bagaikan ahli. Dalam pelarian ia merasakan sensasi mendebarkan. Akankah Bibi berhasil menangkapnya? Selama ini ia membayangkan jarit Bibi, yang biasa dipakai untuk menggendongnya, juga berfungsi sebagai selendang terbang. Bibi akan menyibakkan kedua ujung jarit tersebut lalu melesat ke atas. Raka mendongak. Ia berharap melihat sosok Bibi dilatari kelamnya awan. Meski tidak menemukan apapun selain formasi kawanan burung yang hendak pulang ke sarang, dayanya untuk melanjutkan pelarian tetap ada.
Sebentar lagi Raka akan melewati jalan menuju rumah. Tapi ia tidak ingin pelariannya usai begitu saja. Ia tidak menoleh ke belakang sama sekali. Ia tahu Bibi akan selalu mengejarnya. Ia bisa merasakannya. Ia ingin Bibi menangkapnya lalu bersama-sama mereka pulang.
Jalan raya menghadang. Tidak ada kendaraan yang berlalu dengan kecepatan pelan. Ini adalah jalan penghubung kabupaten dengan kotamadya. Bibi selalu menggenggam tangan Raka dengan erat jika mereka hendak menyeberang. Ada bakso yang lezat di sisi jalan satunya. Mereka cukup sering membeli ke sana. Dan menyeberang adalah hal yang mudah. Tengok kanan. Kendaraan masih menyerbu. Tunggu sampai arusnya mereda. Sudah? Kendaraan seperti tidak kunjung berhenti. Raka bingung. Ia menoleh ke belakang dengan gelisah. Bisa-bisa Bibi keburu sampai. Saat itulah mata sipit sang bocah menangkap sepasang orang yang hendak menyeberang juga. Dengan gesit langkah-langkah kecilnya menjejeri mereka. Ternyata pembatas jalan ini tinggi juga. Raka merasa lebih mudah menaikinya ketika ada tangan Bibi menarik sebelah tangannya, atau sekalian mengangkat badannya yang subur itu. Tapi Raka bisa melakukannya sendiri! Bocah itu menyimpan sorakannya untuk ia tunjukkan nanti, saat Bibi sudah sampai di tepi jalan. Sementara itu ia menanti sambil bersandar pada tiang lampu. Ia memantulkan-mantulkan punggungnya pada tiang tersebut seraya sesekali pandangannya teralih ke tepi jalan. Itu Bibi!
Raka mengangkat kedua lengannya setinggi mungkin seraya melambai lalu melonjak-lonjak. Terpancar sekilas kelegaan di wajah panik Bibi sebelum kembali mengawasi laju kendaraan. Bibi ingin lekas menyeberang. Raka tidak memerhatikan kerut-kerut yang tidak biasa di wajah Bibi. Ia terus melonjak-lonjak. “Bibi! Aku bisa nyeberang lo! Bibiii!” teriaknya sekencang mungkin untuk menyemangati.
Orang-orang di samping Bibi bergerak dengan langkah cepat. Bibi menyusul dengan tertatih-tatih. Mendadak ia tercekat. Tepat ketika orang-orang di sampingnya tadi telah mencapai pembatas jalan, sebuah bis menyalip sedan lantas menerobos ruang yang ada. Sopir bis tidak memperhitungkan adanya wanita tua yang gagal melanjutkan langkah. Benturan keras antara tubuh manusia dengan dinding depan bis berkecepatan tinggi serta-merta memalingkan banyak wajah. Seluruh ban di bagian kanan bis itu melindas tubuh Bibi, disusul ban dari mobil-mobil lain yang tak sempat menghindar. Jeritan dan seruan membumbung bersama polusi di udara.
Raka tak memerhatikan bagaimana ada kendaraan yang seketika berhenti dan tetap melaju. Ia tidak melihat orang-orang yang berlarian searah dengan ceceran darah, meski ia mengikuti mereka. Getaran merambati setiap langkahnya. Setiap langkahnya berpijak ke paving block, seketika itu kakinya terasa goyah. “Bibi… Bibi… Bibi…” gumamnya tanpa henti dengan tatapan nanar sekaligus setengah sadar. Aliran udara menyetrum pelan sekujur lehernya, telinganya, lantas merembet ke tepian lengannya… Dengan gontai kakinya menuruni pembatas jalan, “awas!”, dan dua buah kendaraan berdesing bagai peluru di belakangnya. Ia menyentuh orang-orang yang ia lalui tanpa melihat mereka. Ia hanya ingin memegang sesuatu.
Seseorang berjengit ketika  merasa ada sesuatu yang mencengkeram pergelangan tangannya. Seorang anak kecil. Tatapan bocah itu terpaku pada sosok yang terkapar dalam genangan darah di aspal. Sosok dengan posisi tubuh yang ganjil. Lengan dan kaki tidak mengarah ke semestinya. Rambut kelabu terburai menutupi sebagian wajah. Mulut terbuka setengah. Mata membeliak ke arah berlawanan. Salah satu bola mata yang nyaris mencuat dari rongganya mengarah tepat ke sang bocah. Cengkeraman di pergelangan tangan mengencang.


...bersambung ke besok: Raka (1) 




Senin, 30 April 2012

PerNoWriMo: Bibi (1) -- 1 dari 4


Sukses dengan NaNoWriMo 2011, tahun 2012 saya sempet kepikiran buat bikin novel tiap bulan yang jumlah harinya 30. Tapi ini bukan NaNoWriMo, yang berarti National Novel Writing Month, yang berarti itu dilakukan bersama-sama secara nasional--meski sebenarnya nasional--di bulan November aja, maka saya namain proyek ini PerNoWriMo alias Personal Novel Writing Month karena dilakukan secara personal. Aturan mainnya sama kayak NaNoWrimo, yaitu dalam 30 hari saya harus menghasilkan novel sebanyak 50.000 kata alias sehari setidaknya 1.666 kata. Saya pun memulai proyek ini di bulan April. 

Selama 7 hari berturut-turut, saya berhasil memenuhi ketentuan tersebut sampai saya, bahasa Sundanya mah, stuck.  Biarpun saya udah punya konsep, awal- akhirnya gimana, tengahnya mau diisi apa aja, tapi pada akhirnya saya menyadari kalau saya belum siap buat garap cerita ini. Karakter-karakter dan plotnya cukup kompleks. Dan saya ga tahan buat nulis asal-asalan, apalagi sebetulnya saya punya kewajiban dan proyek utama yang seharusnya diseriusin. Daripada makin bikin ricuh pikiran, akhirnya saya berhenti deh. Kewalahan sendiri malahan hihihi.  

Yang udah tertulis itu mungkin bakal saya tulis ulang bertahun-tahun kemudian, ga tahu kapan. Jadi saya pikir lebih baik yang ga jadi ini saya bagikan aja biar bisa dinikmati khalayak, sekadar ngasih tahu kalau perkembangan menulis fiksi saya udah sampai sini. :D 

Yang saya bagikan ini adalah dua dari sembilan karakter yang membentuk cerita. Sebetulnya saya udah nulis sampai empat, tapi pas masuk ke yang keempat saya udah kehabisan kata-kata. Terus penggarapan karakter yang ketiga menurut saya belum tepat, masih butuh pengembangan lagi supaya bisa lebih wajar. Ceritanya sendiri sebetulnya menyangkut isu yang sensitif, yang akan terberitahukan kalau cerita ini udah jadi. :P 

Dari dua karakter itu, ada 23 halaman A5 yang ingin saya bagi. Saya akan mem-posting-nya selama empat hari berturut-turut. Selamat menikmati! :)







____________________


Bibi (1)
Bibi adalah wanita yang bekerja untuk suatu keluarga di sebuah rumah. Semburat putih tampak pada rambutnya yang selalu digelung. Selalu pula, peyot tubuhnya diselubungi kebaya lusuh dipadu jarik batik. Kini kulitnya sewarna karton, dulu pernah kuning. Tak satupun majikan Bibi memperbolehkan wanita itu mengunyah pinang atau tembakau.
          Sejak masih gadis, Bibi telah bekerja dari satu majikan ke majikan lain, dari satu kota ke kota lain, bahkan ke negara lain. Semua majikannya sedarah. Ia sempat berhenti bekerja untuk keluarga itu selama beberapa belas tahun. Ia pulang ke kampung, menikah, lalu mengurus keturunannya sampai ia dimohon-mohon untuk kembali. Seolah ada kepercayaan tertanam dalam keluarga itu, Bibi adalah pengasuh anak terbaik yang mereka ketahui.
          Wanita yang menjadi majikan terakhir adalah anak keempat dari majikan pertama Bibi. Ia telah tumbuh dan berkembang, dari seorang gadis kecil yang gemar merengek menjadi pegawai BUMN yang jabatannya terus naik. Bibi mulai bekerja khusus untuknya sejak wanita itu hamil untuk pertama kali. Sementara sang suami melanjutkan studi di luar negeri, wanita tersebut dipindahkan dari satu kota ke kota lain. Di manapun wanita itu tinggal dalam waktu yang cukup lama, Bibi selalu serta. Bibi merawat anak demi anak wanita tersebut sejak mereka masih dalam kandungan. Bibi mengasuh ketiganya dengan telaten sebagaimana ia mengasuh ibu mereka dulu. Itulah pekerjaan utamanya. Meski pekerjaan rumah  lainnya diserahkan pada fisik yang lebih muda, kadang Bibi urun tenaga. Pembantu pendamping Bibi jarang berganti.
          Bibi paling menikmati saat di mana ia menggendong anak majikannya dalam jarik. Bibi akan membuai. Menimang-nimang. Menyanyikan tembang-tembang Jawa yang selalu fasih ia lantunkan sejak ia masih bocah. Jika langit diterangi matahari dengan bersahabat, Bibi membawa si kecil keluar rumah. Sering kali Bibi bertemu dengan ibu, ayah, atau simbok lain dengan batita dalam jarik yang terikat di pundak. Satu sama lain saling menyapa lalu berbincang sekadarnya namun hangat.
          Tapi momen yang paling Bibi senangi adalah menyapih batitanya di tepi hamparan rumput yang luas. Hamparan tersebut membentuk teras-teras. Setiap teras menyajikan daratan yang cukup lapang bagi penduduk kampung untuk menggembalakan kerbau. Ia menemukan tempat semacam itu ketika majikannya ditugaskan di Lawang. Dari daratan yang biasa dipijak, Bibi bisa mengedarkan pandang sejauh mungkin dan mendapati barisan pepohonan yang rimbun. Sesekali tegur-menegur yang ramah terjadi antara ia dan petani yang melewati jalan setapak di belakangnya. Setelah mengusap pipi si bungsu yang berlepotan bubur sumsum, ia mengarahkan bocah tersebut agar melihat pada kerbau-kerbau yang merumput. “Lembune lahap tho…” ucap Bibi dengan lembut. Satu sendok lagi dikecap oleh mulut mungil itu. Kedua belah pipinya berguncang-guncang.
          Momen itu selalu terasa seperti kemarin. Tahu-tahu si bungsu sekaligus satu-satunya putra itu telah mampu berlari. Tubuhnya tak kalah gembil dari pipinya. Sepasang matanya yang mungil seolah terbenam pada permukaan wajah yang kuning langsat. Bibi tak lagi kuat mengangkat, selain karena bobot tubuh bocah itu, juga karena perilakunya yang tak bisa diam.
Bibi pun tak mampu mengejar. Nyeri di dada ketika Bibi berusaha menyusul Raka yang langsung tancap begitu bersua teman-teman sepermainannya. Hampir tumpah piring berisi makanan Raka sore itu. Wajah Bibi kian keriput akibat kerut-kerut menahan nyut-nyut, namun tetap terarah pada si bocah. Ia mendesah, “…Gusti Rabbi…” ketika Raka menendangi temannya. Di lain kesempatan Raka tidak saja menendang, tapi juga memukul, menghantam, atau membanting. Kadang Bibi kehabisan kata untuk dilisankan dengan lirih. Ketika cengkeraman di dadanya mengendur, Bibi mendekat dengan langkah terseok-seok.
Di rumah, Bibi tetap sibuk mengubah tikai menjadi damai. Ratu tidak mau berhenti mendorong dada Raka—jika tempelengannya tak mengena. Raka juga tidak mau berhenti meludahi kakaknya. Di belakang Ratu, Rara cemberut saking jijik dengan lendir berbusa yang mengalir di sepanjang lengannya. Situasi akan lebih baik apabila ibunya anak-anak berada di rumah. Dalam dekapan wanita itu, si bungsu menjadi lebih dapat diarahkan. Kalau tidak, Ratu akan berang karena Bibi lebih memilih untuk tidur bersama Raka ketimbang menemaninya dan Rara seperti biasa.
Bibi menghadapi ini setiap hari.
          Ketika pada suatu malam Bibi tidak kelihatan menemani anak-anak, sang majikan langsung merasa ada sesuatu yang janggal. Ratu mengatakan bahwa Bibi sakit. Bibi mendekam di kamar sepulang dari lapangan untuk memberi makan sore pada Raka. Wanita itu pun mendatangi Bibi. Setelahnya, tugas mendampingi Raka diserahkan pada pembantu satu lagi.
          Tapi Sari tidak seperti Bibi. Tabiat para majikan yang seenaknya dan selalu ingin dilayani memang masih bisa ia toleransi, tapi tidak dengan perilaku si bungsu yang suka menodai barang-barang—kalau bukan menghancurkannya. Entah dengan pulpen, lipstik ibunya, atau kecap dan sambal, ia akan menghiasi perabotan dengan ragam pewarna yang ia temukan. Sang nyonya tak sampai hati untuk memarahi bungsunya, jadi kekesalannya diluapkan pada orang yang ia suruh untuk membersihkan barang-barang itu. Sari tidak tahu bagaimana melenyapkan noda itu hingga benar-benar tak berbekas, jadi gerutu nyonya tetap mengiang-ngiang di telinga. Sembari memangku Raka, Bibi mengarahkan anak itu agar mewarnai kertas saja. Lalu pulpen di genggaman Raka meninggalkan noda yang tak pernah hilang di kebaya Bibi.  
Setelah beberapa kali badannya kena cakar dan gigitan Raka, Sari berusaha untuk menyelesaikan tugas sorenya dengan cepat. Setelah menjejali mulut badung itu dengan bersendok-sendok makanan dari piring, entah nanti akan dikunyah atau malah dilepeh, perempuan itu meninggalkan Raka di mana pun bocah itu ingin tinggal. Toh Raka tidak pernah jauh dari lapangan. Raka sudah semakin besar. Raka tahu ke mana harus pulang setelah menjelajah hingga ke berbagai titik di sekitar komplek perumahan.
Maka setiap menjelang senja Bibi memandang jam dalam resah, sembari tangannya membelai-belai rambut Ratu. Dokter berpesan agar aktivitas Bibi tidak terlalu melelahkan. Fisik Bibi sudah tak sekuat dulu, apalagi jantungnya. “Bibi mau cari Dek Raka dulu ya Mbak,” begitu kata Bibi di puncak kegelisahannya.
Ratu memegang erat lengan Bibi. “Enggak usah Bi. Paling entar lagi juga pulang!” seru gadis cilik yang tengah beranjak remaja itu. Meski bau Bibi aneh, tapi entah mengapa Ratu selalu merasa nyaman untuk meletakkan kepalanya di pangkuan Bibi.
Kekhawatiran Bibi tidak pernah berarti. Pakaian dan tubuh Raka yang tak tertutup memang coreng-moreng dengan tanah dan darah, tapi bocah tambun itu selalu kembali ke rumah dalam keadaan utuh.
Sesekali Raka pulang diantar omelan dari tetangga yang tak terima anaknya dihajar. Baik Bibi maupun Sari sama-sama menunduk dan membiarkan telinga mereka menadahi muntahan komplain. Sehabis itu Sari tak tahan untuk tak menjewer Raka meski nyonyanya mungkin akan balas memarahinya kalau si bungsu sampai mengadu. Sebelum itu terjadi, Bibi mengambil alih Raka.
Dengan sayang ia menanggalkan helai demi helai pakaian dari tubuh anak itu. “Kalau berteman itu yang baik tho, Le,” ucap Bibi lembut. “Bukannya diantemi… Temennya entar pada takut…”
Entah anak itu mendengar atau tidak. “Aku kan jagoan!” serunya sementara Bibi mulai membasuh tubuhnya dengan air hangat. Satu tangannya berpegang pada pundak Bibi. “Enggak boleh ada yang ngalahin aku!” Raka terus berceloteh mengenai betapa hebat dirinya. Bibi tersenyum. Sesungguhnya ia rindu untuk melihat kehebatan anak itu lagi, yang larinya begitu kencang hingga wanita tua ini kewalahan, yang energinya seakan tak habis-habis, yang gembul pipinya begitu menggemaskan, yang suka mendekap dengan amat erat hingga Bibi kegelian…
“…eeh… Basah tho…”
Raka tak peduli. Ia membenamkan mukanya semakin dalam ke perut Bibi. Lingkaran tangannya pada pinggang Bibi mengencang. Dengan handuk besar dan tebal, Bibi menyelubungi tubuh anak itu dan rasanya ingin sekali memeluk keseluruhannya. Tapi anak itu semakin tinggi saja.
“Siapa yang jagoan, siapa?” Bibi menggoncang-goncangkan tubuh Raka dengan gemas. Anak itu tergelak-gelak. Seketika Bibi melupakan perkara yang telah anak itu timbulkan. Tidakkah orang-orang melihat kepolosan anak ini? Ia sama sekali tidak berbahaya. 


...bersambung ke besok: Bibi (2)


Selasa, 24 April 2012

elegi pedestrian




oleh pengendara motor zebra cross dijajah 


oleh PKL trotoar dijarah 


tak ada leluasa bagi pedestrian tuk melangkah


o... rupanya pedestrian telah terbiasa tuk mengalah...


[foto pertama dan foto ketiga diambil di jalan ir. h. juanda bandung, 22/4/12, sedangkan foto kedua diambil di jalan di selatan bunderan ugm jogja, 13/4/11]

Senin, 23 April 2012

Cihampelas Nan Nahas


Jika kamu bukan orang Bandung, dan mengikuti wisata berombongan ke Bandung, kiranya Cihampelas merupakan lokasi wajib kunjung. Di sini bismu berhenti, lalu kamu dan kawan-kawanmu berburu kaos yang memuat huruf B, A, N, D, U, dan G untuk oleh-oleh.

Cihampelas bagi saya adalah kawasan di mana banyak toko pakaian, terutama jeans, berjajar. Patung berukuran besar menjadi ikon bagi tiap toko, entah itu gorila, spiderman, atau sopirman. SMAN 2 Bandung terselip di antara makhluk-makhluk itu. Angkot jurusan Cicaheum – Ledeng melintasi kawasan ini. Cihampelas tidak kalah ramai dari Dago—letak kedua kawasan ini berdampingan—bahkan agaknya lebih mengakomodasi kelas menengah ke bawah.

Dulu ada mal bernama Sultan Plaza di Cihampelas. Di lantai tiga Sultan Plaza terdapat food court dan arena bermain anak yang sangat mengasyikkan. Arena tersebut berupa bangunan yang cukup besar, di dalamnya terdapat berbagai ruangan dan lorong yang memenuhi hasrat menjelajah anak-anak: perosotan, mandi bola, ruang kaca, jaring-jaring, lorong dengan samsak di mana-mana, dan masih banyak lagi. Beruntung, saya sempat mencicipi wahana seru itu beberapa kali. Mal tersebut kini tinggal bangunan tanpa fungsi jelas. Pun surga bagi anak-anak dekade 1990-an itu, tinggal kenangan.

Tercengang ketika tahu kalau Sultan Plaza sudah begini keadaannya :0

Sebetulnya Cihampelas bukan kawasan yang kerap saya sambangi. Di masa ini, paling-paling saya lewati kawasan tersebut kalau saya habis dari UPI. Tahu-tahu Cihampelas Walk a. k. a. Ciwalk berdiri. Kunjungan saya ke mal berkonsep unik itu bisa dihitung dengan jari. Tahu-tahu pula Aston Tropicana menjulang di tepi, bikin saya tercengang tak henti. Konon keberadaan hotel tersebut tak ramah bagi pemukiman di sekitarnya, air tanah dan cahaya matahari hanya sampai untuk kepentingan sendiri.

Pada Minggu (22/4/2012), bersama komunitas Aleut saya berkesempatan untuk meninjau bagian dalam Cihampelas. Kawasan ini identik dengan Sungai Cikapundung, yang membelahnya. Sungai Cikapundung konon merupakan sungai terpanjang di dunia, karena melintasi Asia Afrika (yang sebetulnya nama jalan di Kota Bandung :P). Kapundung sendiri berarti nama tumbuhan, seperti Menteng, demikian kata koordinator Aleut.

Dari Jalan Siliwangi kami menuruni jalan di tepi Sungai Cikapundung yang berada di balik Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Saya belum pernah melihat Sungai Cikapundung bagian sini, biasanya bagian yang berada di sekitar Jalan Asia Afrika dan Stasiun Bandung saja.

Bandung menuju metropolitan. Dengan berjubelnya rumah-rumah, sudah mirip Jakarta kan?

Salah satu ikon Kota Bandung ini sering jadi objek acara bertemakan lingkungan hidup. Pembersihan sungai ini sering dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat maupun instansi, namun sampah tetap terlihat di banyak titik. Warna airnya serupa bajigur, namun selera sama sekali tidak terundang. Rumah-rumah dari seng maupun susunan bata yang tidak dicat berjejalan di sepanjang sungai, entah didirikan atas izin pemerintah atau tidak. Ban-ban untuk kukuyaan[1] bertumpuk di beberapa titik, heran jika ada yang berminat, tubuhnya mesti kebal dari gatal-gatal.

Itu tumpukan bannya di dekat jembatan

Melihat sekilas saja, saya agak ngeri membayangkan hidup di bantaran sungai penuh cemaran begini. Apalagi jika air sungai tersebut, sebagai sumber air terdekat, dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, entah mencuci, mandi, apalagi memasak! Apalagi jika limbah rumah tangga dibuang pula di sini. Ada yang bilang kalau masih ada orang yang memfungsikan Cikapundung sebagai kloset. Begitu dekat mereka hidup dengan biang penyakit.

Konon baik-buruknya pengelolaan sebuah kota dilihat dari keadaan sungainya. Jelaslah bagaimana pengelolaan Kota Bandung jika dilihat dari rupa Sungai Cikapundung. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang di hulunya terdapat peternakan?

Selain itu, Sungai Cikapundung dengan seabrek polutannya bermuara di Sungai Citarum. Sungai Citarum sendiri telah menjadi isu global. Limbah dari sekian pabrik multi nasional berbaur dalam alirannya, yang berhulu di Gunung Wayang dan bermuara di Laut Jawa. Menurut Kang Jana, pegiat Aleut yang bekerja untuk Greenpeace, sungai di negara semacam China, Thailand, dan sekitarnya juga mengalami nasib serupa. Apa kabar samudra dunia?

Lorong-lorong pemukiman padat nan sempit, berkelok-kelok, serupa jalan tikus. Anak-anak sini harus pandai mencari ruang bermain alternatif. Pada sebuah saluran air mengalir dengan amat deras, bagai salah satu wahana di tempat rekreasi air macam Waterboom atau Waterbyur. Ada yang bercerita kalau seorang anak pernah hanyut di saluran tersebut, saat hujan turun dan air meluap.

Kami berhenti sejenak di Masjid Mungsolkanas. Letaknya di sebuah gang yang jalan masuknya tidak jauh dari jalan raya. Masjid yang dulunya hanya sebuah tajug alias musala ini telah berada di lahan tersebut sejak tahun 1869. Dalam sebuah kotak kaca di lantai dua tersimpan sebuah Alquran yang ditulis dengan tangan.

Mungsolkanas itu ternyata singkatan!

Sayangnya tidak ada informasi mengenai Alquran ini

Bentuk asli masjid ini agaknya sudah tidak tampak. Renovasi terbaru yang dilakukan beberapa tahun lalu menghabiskan dana hingga sekitar dua puluh enam juta rupiah. Atap masjid dilapisi semacam karpet tahan air yang diperkeras. Kami berkesempatan naik ke sana.

Calon apartemen yang memakan lahan begitu luas pun menjadi panorama utama di lantai tiga. Keberadaannya kontras dengan sekitarnya, mengingatkan saya akan Hotel Ibis di Jalan Gatot Subroto. Keberadaannya menambah kegeraman pada penguasa kota, yang mengizinkan perombakan cagar budaya demi cagar budaya demi bangunan komersial. Anak-anak sekolahan kehilangan Centrum, BJ Habibie menangisi peruntuhan SMAK Dago.

Pembangunan apartemen di seberang masjid itu pun mengorbankan sebuah kolam renang yang pernah jadi tujuan pelesir pada zaman pendudukan Belanda. Kolam tersebut didirikan oleh istri pemilik Hotel Savoy Homann. Tamu hotel yang ingin berenang di sana akan diantarkan dengan kereta kuda. Air kolam langsung dialirkan dari mata air. Patung Neptunus di tepi kolam menjadi ikon.

Sejak pembangunan di Cihampelas kian merajalela, aliran dari mata air ke kolam jadi seret. Pengisian kolam jadi makan waktu lebih dari sehari, konon akibat disabotase Ciwalk. Mungkin pula didukung berbagai faktor lain, kolam renang tersebut akhirnya direlakan pemiliknya.

Dari tepi Cihampelas: campur aduk bangunan komersial, pemukiman, dan hutan kota 

Cihampelas yang memelas menjatuhkan iba, sekaligus menuai kemuakan pada yang berwenang. Cihampelas bukan sekadar kawasan wisata, di balik kulitnya yang wah ada sepenggal wajah bumi yang bermuram durja. Berkelanalah di belantara Cihampelas, barangkali tafakurmu akan lebih bermakna. Tata kota yang semrawut, lingkungan yang mengenaskan, masyarakat yang termarjinalkan sekaligus memiriskan, wahai pecinta Kota Bandung, apa yang bisa kita lakukan setelah menyaksikan itu semua secara langsung? ***


padahal selama di jalan aku netral saja, entah mengapa dalam menulis aku jadi terdorong untuk memberi kesan memihak begini


[1] Kukuyaan, menurut interpretasi saya atas penjelasan beberapa orang, adalah semacam rafting individual. Kita bermain di sungai dengan tubuh kita diapungkan oleh ban, atau menyusuri sungai beriak—sesuai arah arusnya—dengan cara itu.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain