LAINNYA

Selasa, 15 November 2011

Menuai Konflik dengan Cokelat

Judul : Chocolat
Pengarang : Joanne Haris
Penerbit : Penerbit Bentang, Yogyakarta, 2007

Kata “konflik” berasal dari bahasa Latin “configere” yang berarti “saling memukul”. Dalam pengertian sosialogis, konflik dapat dipahami sebagai suatu “proses sosial” di mana dua orang atau dua kelompok orang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Lebih lanjut lagi menurut Sugeng (tanpa tahun), fokus perhatian masing-masing pihak terarah pada dua hal yaitu adanya lawan yang menghalangi serta adanya nilai lain yang hendak dicapai.

Para teoretisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan. “Nilai-nilai bersama” yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai suatu ikatan pemersatu tidaklah benar-benar suatu konsensus yang benar; sebaliknya konsensus tersebut adalah ciptaan kelompok atau kelas yang dominan untuk memaksakan nilai-nilai serta peraturan mereka terhadap semua orang (Horton dan Hunt, 1987).

Konflik dapat bersifat fungsional secara positif maupun negatif menurut Coser (Sugeng, tanpa tahun). Fungsional secara positif apabila konflik tersebut berdampak memperkuat kelompok, bersifat negatif apabila bergerak melawan struktur. Dalam kaitannya dengan sistem nilai yang ada dalam masyarakat, konflik bersifat fungsional negatif apabila menyerang suatu nilai inti.

Dalam novel "Chocolat", kita dapat menyaksikan bagaimana warga Lansquenet-sous-Tannes terbagi menjadi dua kelompok yang bertentangan sejak kedatangan Vianne Rocher dan anak perempuannya, Anouk. Duduk perkaranya ialah Vianne Rocher mendirikan toko cokelat sekitar 1,5 bulan menjelang Minggu Paskah. Dengan keramahan dan gaya simpatiknya, Vianne Rocher berhasil memikat para pelanggan setia sejak mula. Ia juga suka memberikan cokelat gratis.

La Celeste Praline menjadi tempat yang nyaman bagi Guillaume Duplessis (pria tua kesepian), Narcisse (ahli kebun perengut), Armande Voizin (nenek dengan tingkah “agak” liar yang melarikan diri dari anaknya), Josephine Muscat (istri yang tidak bahagia), Luc (anak laki-laki gagap yang ditekan ibunya), hingga orang-orang gipsi nantinya, namun merupakan ancaman bagi Francis Reynaud (pastor paroki setempat) dan para pengikutnya yang berasal dari kalangan lebih mapan seperti Paul-Marie Muscat (pemilik kafe yang lebih dulu ada), Caroline Clairmont (anggota Dewan Masyarakat), dan Joline Drou (guru sekolah judes).

Tidak sekadar menggelitik iman warga, Vianne Rocher juga tidak ke gereja, memercayai takhayul serta ramalan, dan entah siapa ayah dari putrinya. Ia tidak mengindahkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Ia hanya mengurus dirinya sendiri.

“Kurasa masyarakat seharusnya mengurusi urusan mereka sendiri,” kataku dengan masam. “Bukan hakku—atau orang lain—untuk memutuskan bagaimana orang-orang harus menjalani hidup mereka.” (halaman 108)

Pembaca dari umat Katolik mungkin bisa lebih memahami konteks yang diangkat novel ini, tapi saya—sebagai pembaca muslim—tidak. Yang saya tangkap, umat Katolik semestinya berpuasa sekitar sebulan menjelang Minggu Paskah. Puasa yang dilakukan tidak seperti yang disyariatkan dalam Islam. Mereka tidak mengenal sahur apalagi waktu berbuka saat Maghrib. Sepertinya puasa yang dilakukan adalah puasa terhadap makanan dan minuman yang disukai. Minggu Paskah mungkin bisa diibaratkan sebagai Idul Fitri, di mana anjuran puasa sudah tuntas.

Dan siapa sih yang bisa menghindari cokelat? Bahkan Armande Voizin yang mengidap diabetes pun tidak.

Melalui khotbahnya tiap Minggu, Francis Reynaud terus menghimbau warga agar tidak mendatangi toko cokelat Vianne Rocher. Ada yang patuh, ada juga yang tidak peduli. Francis Reynaud memang tak selalu berhati mulia. Ia tidak setuju Guillame memelihara anjing. Ia acap mengeluhkan tabiat orang-orang yang melakukan pengakuan dosa padanya. Semakin hari semakin ia menahan diri, berlawanan dengan sikap warga yang semakin terbuka terhadap kenikmatan cokelat yang ditawarkan Vianne Rocher.

Pertentangan terus terjadi. Sementara sebagian warga tidak menyukai kedatangan kaum gipsi, Vianne Rocher malah menerima mereka dengan tangan terbuka. Buntutnya, perahu salah seorang dari kaum gipsi, Michel Roux, dibakar oknum yang hanya Reynaud dan Muscat ketahui. Dari yang mulanya diam-diam, perwakilan warga semakin menentang Vianne Rocher dengan mengedarkan selebaran agar memboikot perayaan cokelat yang akan Vianne Rocher cs selenggarakan pada Minggu Paskah.

Akankah Francis Reynaud berhasil menahan godaan hingga Minggu Paskah tiba? Akankah perayaan cokelat yang sudah dipersiapkan sungguh-sungguh oleh Vianne Rocher cs berlangsung sukses? Akankah Vianne Rocher menjadi pahlawan PAD bagi Lansquenet-sous-Tannes?

Dari lima cara yang lazim dipakai dalam penyelesaian konflik—konsiliasi, mediasi, arbitrasi, koersi, dan détente—cara yang digunakan dalam novel ini tampaknya adalah koersi. Pertikaian diakhiri dengan paksaan psikologis. Pihak satu merangsang pihak lain dengan berbagai produk cokelat yang menggiurkan secara terus-menerus. Eh, ini analisis, bukan spoiler.

Saya mengerti mengapa The Scotsman—dari halaman endorsement—menyebut novel ini “nakal”. Sebuah perlawanan halus terhadap tradisi agama. Baca saja akhir cerita ini dan dapati siapa yang kalah. Mengapa toko cokelat nan menggoda ini harus dihadapkan dengan gereja— mengapa tidak dengan sekumpulan penduduk obesitas dan diabetes saja?

Gaya bertutur dalam novel ini menghadirkan nuansa gelap dalam benak. Segelap cokelat, namun tersusun oleh berbagai deskripsi cantik. Ada dua penutur dalam novel ini yaitu Vianne Rocher dan Francis Reynaud. Silih berganti, namun porsi Vianne lebih banyak, satu sama lain membawakan cerita dengan karakter khas masing-masing. Setiap bab dijuduli oleh nama hari dan tanggal tapi tanpa tahun, mulai dari “11 Februari, Selasa Sebelum Rabu Abuhingga “Senin, 31 Maret, Senin Paskah”.Hanya dalam rentang waktu demikian, serangkaian kejadian dapat membentuk alur nan padu.  

Font enak dibaca dengan ukuran pas. Agar pembaca non Katolik dapat lebih memahami konteks cerita, penjelasan mengenai tradisi Paskah sebaiknya diberikan. Selain itu, saya penasaran bagaimana membaca “Lansquenet-sous-Tannes”. Dalam novel “Snow” karya Orhan Pamuk yang diterbitkan Serambi (saya tidak memerhatikan tahun terbitnya), pada halaman depan terdapat petunjuk dalam melafalkan istilah berbahasa Turki.

Disebut-sebut sebagai “novel sastra yang mewah dan memanjakan” oleh Mirror—sekali lagi dari halaman endorsement—keindahan novel ini kiranya terletak pada kesubtilannya dalam menyampaikan gagasan yang menyinggung salah satu huruf dalam “SARA”. Hati-hati ya. 

sumber bacaan: 
1. Sugeng, B. Tanpa tahun. Penanganan Konflik Sosial. (diunduh melalui Google, 8/11/11, tapi enggak merhatiin situsnya hehe)
2. -Untuk sumber dari Horton dan Hunt, nanti saya cek lagi. Yang jelas, 1987. Sosiologi jilid 1. Erlangga.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar