Minggu, 02 Oktober 2011

Cerita di Balik Pengalaman Siaran di KLCBS

Sebagian orang mungkin menganggap ini biasa saja. Namun bagi saya yang kerap menghindari berbagai hal yang bisa menimbulkan kecemasan, ini merupakan suatu lompatan besar. Terima kasih kepada Eneng Siti Saidah yang telah memberi saya kesempatan ini. Tanpa ia sadari, ia telah memaksa saya untuk belajar bagai hendak menghadapi ujian pendadaran pada malam pergantian bulan itu. Dan membuat saya menyadari bahwa apa yang tadinya hendak saya teliti sebagai skripsi memang tidak memiliki permasalahan berarti.

Padahal saya belum pernah ujian pendadaran—bahkan menghadiri teman sekalipun. Hanya saja “ujian pendadaran” kali ini yang menguji bukan sekadar dosen, melainkan siapapun yang menyimak. Bisa siapa saja. Bisa berapa saja. Sungguh samar.

Maka saya membuka berbagai buku, dokumen pemerintah, sampai artikel mengenai hutan kota—di Kota Bandung khususnya, dengan tekad. Saya harus menguasai ini. Solusi saya acap berujung pada menulis. Lalu saya pun membuat tulisan mengenai apa yang akan saya sampaikan sebagai pemateri dalam kajian mengenai keberlanjutan hutan kota di Bandung secara live di KLCBS 100.4 FM Bandung pada 1 Oktober 2011, pukul 10.00 – 11.00 WIB. Bisa dilihat di sini.

Bagaimanapun juga, ini agak terasa seperti mimpi yang jadi nyata. Pertama, waktu SMP saya dan teman-teman dekat suka mengangankan diri kami jadi penyiar radio. Kedua, KLCBS termasuk radio favorit saya—selain RRI dan Ardia Jogja untuk masa sekarang ini. Jazz, Islam, dan penyiar wanita bersuara khas adalah keunikan dari KLCBS yang menjadikan radio ini sebagai radio yang paling ingin saya dengarkan saat saya pulang ke Bandung. Ketiga, saya diminta jadi pemateri tentang hutan kota yang memang jadi minat utama saya selama kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Saya merasa dianggap bagai seorang ahli saja—meski mungkin sebenarnya tidak ada yang menganggap demikian. Dan memang saya pernah mengangankan diri saya menjadi ahli perhutanan kota.

***

Kajian on air di KLCBS mengenai berbagai masalah perkotaan di Kota Bandung merupakan program turun-temurun di Himpunan Mahasiswa Teknik Planologi Pangripta Loka ITB. Program ini sudah dimulai sejak tahun 2006—atau angkatan 2006?—dan Eneng sebagai ketua pelaksana adalah sang pewaris tanggung jawab.

Pagi itu kami bertemu di depan gedung SAPPK ITB. Sembari menunggu waktu yang dijanjikan, 9.15, saya mengamati beberapa orang yang hendak memotong dahan salah satu pohon di taman depan gedung. Ini merupakan salah satu bentuk pemeliharaan pohon di ruang terbuka hijau. Hanya karena ini berkaitan dengan apa yang hendak jadi bahan studi saya selama hari-hari ke depan, ini menjadi suatu hal yang menarik.

Berbagai alat, mulai dari parang, tali rafia yang disambungkan ke tongkat panjang, sampai gergaji, didatangkan untuk dapat memotong dahan mati yang berdiameter cukup besar itu—mungkin belasan cm. Pemotongan bagian yang mati dari pohon diperlukan antara lain untuk menghindari patahnya bagian tersebut sewaktu-waktu yang dapat membahayakan apapun-siapapun di bawahnya. Selain itu bagian tersebut masih menyedot energi meski sudah tidak produktif. Jadi ketimbang begitu, lebih baik apabila energi tersebut dilimpahkan untuk bagian-bagian lainnya saja agar tumbuh semakin bagus.

Saat saya dan Eneng meninggalkan area tersebut, mereka belum berhasil menjatuhkan sang dahan.

Di halaman depan ITB yang berseberangan dengan Taman Ganesha, saya bertemu dengan Sandra (Planologi ITB ’08) dan Rahman (Teknik Geologi ITB ’09). Mereka bertiga ternyata alumni SMAN 3 Bandung juga—sama seperti saya dan Eneng—namun saya tidak ingat mereka sama sekali… (:-/) Menyusul kemudian adalah Zilla (Planologi ITB ’09). Saya, Rahman, dan Zilla adalah pemateri untuk kajian kali ini. Eneng memberitahukan bahwa nanti ada tambahan narasumber. Tidak hanya dari Bandung Creative City Forum (BCCF) yang akan menyertai kami siaran, tapi juga dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung. Setelah Fidik, atau Vidik, atau Fidiq, atau Vidique?—seorang lagi teman Eneng dari Planologi ITB ’08—datang dengan mobilnya, para cewek memasuki mobil tersebut sementara Rahman mengiringi dengan motornya.

Sepanjang perjalanan menuju Karang Layung, hampir tidak terasa kecanggungan karena saya baru mengenal mereka—semua, kecuali Eneng. Sebenarnya bergaul dengan orang yang baru dikenal bukan kesukaran berarti bagi saya setelah saya benar-benar menghadapinya. Yang acap saya cemaskan adalah bayangan sebelum hal itu terjadi. Hari ini juga di kaca bagian belakang sebuah angkot saya membaca tulisan besar “ANGAN TAKUT BAYANGAN”. Maksudnya, “ANGAN” tuh “JANGAN” kali ya. Saya langsung kepikiran sebuah ide cerpen.

Saat ditanya mengenai apa yang saya pelajari di kampus saya, saya masih oke. Saat Fidik menyinggung artikel mengenai hutan bambu yang dibacanya di KOMPAS beberapa waktu silam—setidaknya saya tahu mengenai artikel tersebut meski tidak baca, saya mulai rada gelagapan. Secara umum, para mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM tidak mempelajari bambu. Kami mempelajari jati. Mengapa sih di jurusan saya tidak ada mata kuliah yang khusus mengenalkan jenis-jenis konservasionis macam bambu?

Kantor KLCBS terletak di kawasan Bandung utara. Di kawasan ini, kamu bisa menemukan semacam “perumahan terbuka”. Saya istilahkan demikian karena saya merasa kawasan ini seperti perumahan padahal jalanan yang membelahnya adalah jalan raya. Ukuran jalannya tidak terlalu besar—dua mobil cukup—namun mulus. Pedestrian aman dan nyaman berjalan di sini berkat pepohonan rindang yang menumbuhi pinggiran trotoar disertai pemandangan rumah-rumah bagus yang memanjakan mata. Kantor KLCBS termasuk di antaranya.

Fidik memarkir mobil di tepi jalan. Kami memasuki halaman sebuah rumah untuk dapat memasuki halaman rumah yang ada di sebelahnya. Rumah yang satu itulah kantor KLCBS. Ada kandang besar di halaman rumah tersebut yang harus kami lewati untuk dapat mencapai pintu masuk. Kandang tersebut berisi anjing-anjing kecil yang aktif meloncat-loncat dan menggonggongi kami. Selama melewati mereka, saya acungkan tanda “V” dengan tangan kanan. Keberadaan para anjing hiperaktif ini sangat mengherankan kami yang selama ini menyangka bahwa KLCBS adalah radio muslim. Pendirinya saja yang merancang masjid Salman ITB. Ya, bahkan Eneng yang sudah sering ke mari pun masih menyatakan keheranan serupa.

Di ruangan depan, kami disambut oleh Pak Arif Prasetya dari Dinas Pemakaman dan Pertamanan serta Mbak Priyansi. Ada kawan Zilla juga yang sudah menanti di sana, Gina. Pak Arif tampak resmi dan membawa sebuah map. Mbak Priyansi bukan sekadar front-woman ternyata, waha. Beliau yang berjilbab dan berblus biru muda adalah penyiar yang akan mendampingi kami selama sejam ke depan. Kami yang baru datang lalu duduk dan mengobrol sebentar—sekadar perkenalan diri singkat.

Kursi yang kami duduki empuk dan berwarna hitam. Saya duduk dekat pintu—bersama Pak Arif mengapit Rahman. Di samping Pak Arif adalah jalan menuju musola. Kami membelakangi kaca depan. Di seberang kanan saya ada semacam meja informasi. Memang banyak brosur informasi di atas sana—berbagai pihak yang mensponsori KLCBS. Menempel pada dinding, ada sebuah rak kaca. Di dalamnya saya melihat Al-Quran dan mungkin berbagai kitab lainnya. Ada juga sesuatu dari Walini—nama teh yang lagi populer di Bandung.

Mbak Priyansi lalu menyuruh kami langsung masuk ke ruang siaran agar acara nanti bisa dimulai tepat waktu. Saat itu tinggal Mas Fiki dari BCCF yang belum datang. Pada saat yang bersamaan memang sedang diadakan sebuah acara penanaman pohon di Babakan Siliwangi. Acara ini merupakan bagian dari konferensi internasional anak dan pemuda mengenai lingkungan hidup, Tunza, di mana BCCF sebagai inisiator diresmikannya Babakan Siliwangi jadi hutan kota turut terlibat.

Yang memasuki ruang siaran rupanya hanya kami yang akan bicara. Di balik kaca ruang siaran, tampak Sandra, Eneng, dan Fidik duduk menunggui kami. Saya amati dinding kedap suara yang seperti gabus ditusuk-tusuk, juga seantereo bagian ruangan lainnya. Ingin saya rekam dan simpan dalam ingatan tanpa ingin kehilangan. Saya kira saya sudah pernah memasuki ruang siaran sebelumnya. Waktu itu saya masih SD dan sedang mengikuti lomba aritmatika di radio Maestro 92.5 FM Bandung. Aneh ya, lomba kok disiarkan? Namun waktu itu kan saya belum bermimpi jadi penyiar radio.

Ruang siaran yang sesungguhnya tampak berbentuk trapesium tapi seginya ada lima. Mbak Priyansi duduk menghadap kami—para pemateri dan narasumber—yang duduk berjejer. Zilla duduk paling ujung, lalu Rahman, saya, dan Pak Arif. Jumlah mic pas untuk kami berlima—nantinya mic saya yang diambil saat Mas Fiki datang. Ternyata hanya Mbak Priyansi yang menggunakan headphone.

Selain mic, di meja terdapat beberapa gelas air mineral untuk kami, plus sedotan, lalu dua kotak kayu yang entah apa fungsinya, sebuah benda hitam dengan tombol-tombol bernomor seperti telepon namun terdapat tombol berwarna merah juga, serta sebuah komputer berlayar datar dan cukup besar. Tampilan huruf, warna, dan sebagainya pada layar tampak biasa sekaligus zadul. Namun tentu saja yang ditampilkan di situ adalah suatu program khusus. Pada layar tersebut kita bisa membaca sms yang masuk. Secara otomatis, tiga digit dari deretan nomor yang masuk berubah jadi huruf “x”. Di sudut ruangan terdapat speaker kotak hitam. Kami bisa melihat ruangan sebelah karena setiap ruangan dibatasi oleh dinding kaca dari bagian tengah ke atas. Suhu ruangan adem dan wangi dan kalau ada yang kentut pasti tercium sekali.

Pukul 10. Semula saya tak mengira Mbak Priyansi ini penyiar KLCBS yang biasa. Suaranya tidak terdengar khas sebagaimana para penyiar wanita KLCBS yang biasa saya dengar. Namun ketika ia mulai bicara pada pendengar radio, suaranya jadi terdengar sewajarnya. Wow.

Setelah memberi pengantar, saya menjadi pemateri yang diberi kesempatan pertama untuk bicara. Sesuai yang telah dibicarakan di awal, kajian ini dimulai dari definisi mengenai hutan kota. Saya tak hapal persis redaksi definisi hutan kota menurut Society of American Forester (SAF), PP no. 63 tahun 2002, Fandeli, hingga Dahlan, namun saya tahu intinya. Saya bilang bahwa banyak definisi tentang hutan kota. Saya katakan bahwa definisi milik SAF dan pemerintah itu ribet karena menyertakan kriteria luas. Pada intinya, suatu hutan kota itu dapat menciptakan iklim mikro. Mbak Priyansi meminta penjelasan lebih lanjut tentang iklim mikro. Saya hanya katakan kalau pada intinya iklim mikro itu adalah suasana yang berbeda yang kita rasakan saat berada di dalam hutan—penjelasan lebih rinci bisa panjang! Dan saya menjelaskan ini semua dengan cepat dan susunan kata belibet, tentu saja. Gugup, iya. Sesungguhnya kurang paham, mungkin juga. Namun pada intinya, saya menyukai pengertian yang sederhana.

Setelah saya, adalah giliran Zilla menjelaskan tentang bentuk-bentuk hutan kota. Saya tidak terlalu mendengarkannya. Saya kira setelah Zilla adalah giliran Rahman dulu baru kembali ke saya. Rahman mengemukakan hal yang cukup kontroversial. Babakan Siliwangi ternyata bukan daerah resapan air—melainkan luapan—karena jenis tanahnya lempung. Persepsi masyarakat selama ini bahwa Babakan Siliwangi adalah daerah resapan air harus diluruskan. Namun memang ada mata air di sana.

Sebetulnya saya kurang begitu paham apa yang Rahman sampaikan. Saya kagum karena ia mampu bicara dengan tenang. Bahasanya tertata. Terdengar amat menguasai pengetahuannya sementara saya sendiri acap tidak yakin pada apa yang saya lontarkan. Zilla sendiri saya lihat agak gemetar tangannya saat bicara. Rahman bahkan sama sekali tidak membawa berkas materi apapun. Zilla bawa print-out sementara saya bawa buletin FSC tentang hutan kota (yang memang saya sendiri yang bikin) serta notes hijau plus pulpen. Pak Arif sendiri bawa satu map. Buletin  yang saya bawa ternyata tidak begitu berguna karena saat bicara saya berusaha untuk tidak mengintip ke situ. Satu lagi, Rahman tidak mendekatkan mulutnya ke mic. Wah, hebat.

Berkat seorang pejabat dinas duduk tepat di samping saya, sesekali saya membuka notes untuk membaca berbagai hasil penelusuran saya terkait RTH di Kota Bandung selama ini. Seharusnya kesempatan ini saya manfaatkan untuk bertanya—barangkali bisa jadi bahan untuk skripsi saya. Ada sih yang ingin saya tanyakan pada Pak Arif, namun sampai akhir perjumpaan ini saya tidak punya kesempatan untuk itu. Mungkin karena saya kurang siap juga.

Saya kembali ditanya oleh Mbak Priyansi mengenai bagaimana aspek konservasi dari hutan kota dan apakah ada hutan kota di Indonesia yang bisa dijadikan contoh sebagai hutan kota ideal. Untung benar saya sudah membuat tulisan mengenai ini malam-lanjut-pagi sebelumnya. Dengan, sekali lagi, cepat dan susunan kata belibet saya katakan bahwa sesungguhnya semakin banyak intervensi manusia maka akan semakin berkurang fungsi konservasi dari kawasan tersebut. Dengan kita membuat jalan setapak saja, ada fragmentasi habitat yang terjadi bagi satwa tertentu. Namun, pikiran saya amat acak dan saya berusaha mengingat kata-kata yang telah saya torehkan di Word, kita tidak harus seketat itu. Bagaimanapun hutan kota adalah milik publik. Publik harus bisa memanfaatkannya. Maka kita boleh mengintervensi asal terbatas.

Mengenai contoh hutan kota ideal di Indonesia, saya sebenarnya kurang begitu mengetahui. Secara langsung, saya hanya mengamati yang saya temukan di dua kota tempat tinggal saya saja: Bandung dan Jogja. Maka saya ceritakan saja mengenai hutan kampus saya yang dibiarkan seadanya. Masyarakat pun tak akan tertarik berkunjung ke sana. Menurut saya, taman kota di Bandung sudah bagus dengan adanya fasilitas seperti bangku dan pelabelan pohon untuk fungsi edukatif. Kita bisa beraktivitas di sana.

Beberapa kali perbincangan dijeda oleh iklan atau lagu atau apa. Pada momen jeda itu, Mbak Apriyansi tetap aktif menggali informasi dari kami. Saya lupa kapan Mas Fiki datang. Kehadirannya membuat apa yang dibicarakan jadi makin seru. Beberapa kali ia bertanya atau mengkonfirmasi sesuatu hal terkait permasalahan ini pada Pak Arif. Hal-hal yang diperbincangkan secara off air ini tidak kalah menarik dari apa yang disiarkan on air. Sayangnya saya lupa untuk membawa ponsel Mama masuk ruang siaran—yang sengaja Mama pinjamkan sama saya agar ini semua dapat direkam. Kami memang hanya membawa barang seperlunya saja ke dalam ruang siaran. Tas kami tinggal di ruang depan.

Sampai giliran Pak Arif. Beliau membenarkan beberapa pernyataan saya. Saya merasa tersentuh karena ia dapat menangkap kata-kata saya yang kacau itu. Beliau membuka mapnya. Ada print-out Perda Kota Bandung no. 25 tahun 2009 di sana. Beliau membacakan lokasi-lokasi yang jadi kewenangan dinasnya untuk mengelola. Saya sudah mengetahuinya tentu saja, waha. Namun saya baru tahu kalau Gasibu termasuk lokasi yang hendak dijadikan salah satunya—seperti Babakan Siliwangi, tinggal menunggu kebijakan dari atas saja. Jadi dinas hanya sekadar pelaksana. Ke mana aspirasi dapat diajukan kalau begitu? Dengan demikian status Babakan Siliwangi saat ini masih ruang terbuka hijau (RTH), belum hutan kota.

Saya mengucap “urban forest” tanpa suara pada Zilla ketika Pak Arif menyebut “city forest”. Hal peristilahan ini sudah saya ungkapkan pada anak-anak Planologi itu di mobil dalam perjalanan pergi.

Sampai giliran Mas Fiki. Ia ditanya mengenai kesibukannya terkait acara di Babakan Siliwangi dan konferensi Tunza sendiri. Konferensi Tunza akan berakhir pada malam itu dengan dibacakannya Deklarasi Bandung. Deklarasi ini juga nantinya akan diangkat dalam konferensi lingkungan hidup yang lebih besar di Rio. Selain itu, Indonesia Berkebun juga hendak membuat jaringan internasional berkaitan dengan momen ini.

Menurut Mas Fiki, banyak orang kreatif di Bandung tapi 80%-nya miskin. Ini adalah masalah. Saat bertemu menteri, ia sudah menyampaikan bahwa cara yang lebih baik untuk mendukung industri kreatif adalah dengan mengembalikan kebanggaan masyarakat akan produk dalam negeri. Buatlah iklan untuk itu. Nah, bagaimana keberadaan Babakan Siliwangi sendiri dapat memecahkan permasalahan ini? Ruang publik satu ini diharapkan dapat menunjang kreativitas warga Bandung.

Mas Fiki, yang juga berjualan baju ini, mengharapkan Babakan Siliwangi bisa jadi semacam central park-nya Kota Bandung. Jadi ketika masuk ke dalamnya, kita akan merasakan suasana yang berbeda—tidak seperti di Kota Bandung! Meski kalau jalan sedikit kita bisa lihat orang berenang di kolam—maklum, bersebelahan pisan dengan SORGA. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mendekatkan masyarakat dengan hutan kotanya.

Mas Fiki mencontohkan, kita bisa membuat hutan kota jadi caang (Sunda: terang) di malam hari dengan menggelar pertunjukan musik di bawahnya. Acara apapun bisa diadakan sebetulnya. Tidak mesti berbau lingkungan hidup, namun kita bisa lihat bagaimana suasana yang dihasilkan acara tersebut dapat menyatu dengan suasana di dalam hutan.

Kita bisa saja memindahkan acara-acara yang biasa dihelat di dalam bangunan ke dalam hutan. Lalu siapapun diharapkan lama-kelamaan sadar bahwa tempat yang mereka kunjungi itu harus dijaga. Inti permasalahannya adalah: bagaimana menerjemahkan hutan kota agar masyarakat mau mengenal dan menyayanginya.

Pemilihan desain jembatan sebagai juara pertama sayembara desain Babakan Siliwangi pun dikarenakan jembatan tersebut dapat memudahkan interaksi antara masyarakat dengan hutan kotanya. Ada juga yang membuat desain berupa cermin agar hutan tampak lebih luas, namun bisa-bisa cermin-cermin tersebut dicuri orang padahal belum lama dipajang.

Jumlah sms yang masuk ke dalam komputer bertambah. Awalnya hanya ada satu, sms request lagu, di layar biru itu. Seseorang bernama Daud melaporkan sudah ada yang menawarkan pijat refleksi di jembatan. Ia juga khawatir besi-besi tempat parkir sepeda jadi rusak kalau ada yang menjadikannya tempat duduk. Lalu ada sms lagi dari seseorang yang tak menyebutkan namanya. Ia meragukan Babakan Siliwangi sebagai central park-nya Kota Bandung dan protes mengapa jembatannya pendek. Kata Mas Fiki, itu dikarenakan terbatasnya dana dan waktu. Lalu kami di ruang siaran jadi membayangkan bagaimana kalau jembatan itu jadi semakin dipenuhi orang, mulai dari yang jualan hingga pacaran. “Bisa-bisa jembatannya runtuh,” kata saya—tanpa bermaksud meragukan kekuatan jembatan. Sewaktu ke sana pun saya agak kaget ketika menemukan jembatannya sudah berakhir. Saya harap jembatan tersebut bisa dibuat lebih panjang lagi, mengelilingi seluruh kawasan hutan kota, dengan lika-liku yang lebih rumit, waha.

Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) adalah permasalahan yang cukup sukar diakhiri. Tidak hanya di Gasibu, Pak Arif menyinggung sukarnya menyingkirkan PKL di Taman Lansia. Meski mereka berjualan di luar taman, namun makan-makannya tetap di dalam taman. Jangan sampai hal serupa jadi perkara di Babakan Siliwangi juga. Tidak mungkin juga memindahkan PKL ke area car free day, apalagi kalau areanya dekat pemukiman seperti di Buah Batu. Bisa-bisa rusuh antara pemukim dengan PKL.

Sulit juga membersihkan sampah yang terlanjur mengotori Babakan Siliwangi. “Susahnya setengah mati,” kata Pak Arif yang tampak disetujui Mas Fiki. Padahal baru tanggal 18 September kemarin kawasan tersebut dibersihkan ramai-ramai untuk persiapan penanaman pohon dalam rangka konferensi Tunza. Namun saat dua belas hari setelah tanggal itu saya ke sana, masih banyak sampah yang saya temukan.

Saat-saat terakhir, pembicaraan didominasi oleh Mas Fiki, Pak Arif, dan Mbak Priyansi. Kami, pemateri yang notabene masih mahasiswa, hanya mendengarkan sembari sesekali mengeluarkan gumam pendek. Namun kami diberi kesempatan berbicara sekali lagi sebagai penutup, yaitu mengenai harapan kami untuk Babakan Siliwangi. Saya sih mengharapkan adanya penambahan fasilitas agar masyarakat lebih nyaman beraktivitas di sana, misalnya dengan mempertegas jalan setapak yang ada dengan bebatuan. Lagipula pertumbuhan vegetasi di sana tidak begitu lebat—tidak begitu mengganggu, dibanding hutan-hutan yang biasa saya masuki. “Tentu dengan intervensi yang tidak merusak,” tambah Mbak Priyansi.

Sekarang saya baru kepikiran kalau keramaian yang mungkin kelak bakal meriuhi Babakan Siliwangi, misalnya pergelaran musik, bisa-bisa mengusik para satwa liar yang berdiam di sana. Pepohonan mungkin selamat, tapi apakah para satwa liar itu akan betah? Bagaimanapun, ini tergantung juga pada bagaimana Babakan Siliwangi akan ditata nanti. Kan tidak mungkin juga kita memaksakan sebanyak mungkin orang agar dapat memasuki hutan yang tidak begitu luas itu. Kepentingan konservasi memang acap bertentangan dengan kepentingan manusia.

Pukul 11 pun lewat. Kami ke luar dari ruang siaran satu per satu. Di ruang depan, kami disambut Eneng cs dengan sertifikat sebagai tanda terima kasih. Setelah itu kami berfoto bersama menghadap musola lalu bersalam-salaman. Tahu-tahu saja Pak Arif dan Mas Fiki sudah menghilang. Mereka benar-benar orang sibuk. Eneng cs mengobrol sebentar dengan Mbak Priyansi. Banyak teman Eneng cs yang mengirim sms namun tidak terbaca di komputer (saya kok jadi bersyukur ya, selain karena memang waktunya hanya sedikit). Mungkin jaringannya bermasalah, kata Mbak Priyansi. Tidak seperti TV, kita tidak bisa mengetahui berapa banyak penyimak kita di radio.

Kembali kami melewati anjing-anjing berloncatan itu. Berada di dalam mobil lagi, saya bilang pada Eneng kalau semula saya mengira Ridwan Kamil yang akan jadi narasumber dari BCCF. Eneng bilang Ridwan Kamil suka tidak bisa dihubungi secara langsung, namun benar beliau adalah dosen Arsitektur ITB yang konon hendak jadi calon walikota.

Kami diturunkan Fidik di depan gerbang parkir ITB. Semua langsung berpencar menuju urusan masing-masing. Padahal saya menanti kesempatan mengobrol banyak dengan Eneng sudah sejak lama. Kini saya menanti itu lagi beserta segala rekaman siaran mengenai Babakan Siliwangi (bukan hanya yang hari ini, tapi juga yang sebelum-sebelumnya meski tidak merujuk pada hutan kota) dan foto-foto dokumentasi siaran tadi, waha.

Entah mengapa tidak terasa kelegaan dan kebanggaan besar setelah ini berakhir. Mungkin karena dengan bertemu orang dinas dan wakil komunitas secara langsung tadi saya jadi lebih teryakinkan akan tidak adanya permasalahan berarti dari apa yang tadinya hendak saya  jadikan skripsi. Tapi saya belum benar-benar melakukan studi tentang hutan kota dan keterlibatan masyarakat Kota Bandung terkait ini di kotanya. Selain itu, Eneng menawarkan link yang ia miliki pada saya.

Siang itu saya merasa lelah, tidak hanya secara mental karena cemas berhari-hari, tapi juga fisik karena kurang tidur dan panas begitu malah jalan kaki menyusuri jalanan samping Boromeus, bertemu Monumen Pancasila, lanjut ke Dipatiukur, Jalan Suci, hingga Jalan Supratman padahal lagi dalam upaya menahan hawa nafsu.

Siaran ini adalah dan hanya sebuah awal.


01-021011


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain