Kamis, 19 Januari 2012

Setelah sebulan lebih saya tidak renang…

Akhirnya “pembiasaan” itu bisa dilanjutkan di Bandung, hari ini, tepatnya di kolam milik ITB. Bukan, bukan kolam yang ada di Taman Ganesha. Bukan pula kolam yang ada Kepulauan Indonesia di dasarnya. Ini kolam yang ada di kompleks Sasana Olahraga Ganesha a.k.a. SORGA atawa SAROGA. Satu kompleks juga sama Sasana Budaya Ganesha alias SABUGA—nah, kalau yang ini hanya ada satu singkatan. Satu kompleks juga sama hutan kota yang sempat jadi perkara selama belasan tahun, Babakan Siliwangi, dan komunitas seni yang berkepentingan di sekitarnya, Sanggar Olah Seni. Aduh, kok jadi menyerempet skripsi…

Saya datang ke sana sekitar pukul dua siang bersama adik saya, Ira. Menyesal dia karena tidak bawa KTM. Sebagai umum, sejak 1 Januari 2012 saya dikenakan biaya 12K rupiah (mulanya 8K rupiah saja) agar boleh mencebur ke kolam renang. Sejatinya, sebagai mahasiswa ITB Ira boleh membayar hanya 3K rupiah—hari apapun, Senin s/d Minggu. Sayang sekali, dia tidak menemukan dompetnya hingga kami berangkat dari rumah.

Kolam renang ini dipergunakan khusus perempuan hanya pada Kamis, pukul 13-17. Minggu, kolam renang untuk klub. Rabu sepertinya adalah hari di mana kolam renang dibersihkan. Selebihnya, umum. Maaf, saya tidak mencermati keterangan lain lebih lengkap.

Dari pinggir jalan, dipisahkan hutan Babakan Siliwangi, kolam renang terlihat berada di bawah. Setelah sampai di SAROGA, ternyata kolam renang letaknya di atas.

Setelah melewati penjaga karcis yang bertugas menyobek lantas mencobloskan si karcis jambon, kami langsung memasuki ruang ganti putri. Lepaskan alas kaki sebelum memasuki pintu, sebab ada kolam kecil kan menyambut.

Setelah melewati tantangan pertama, tantangan selanjutnya adalah mengambil keranjang kosong untuk menyimpan bawaan. Keranjang-keranjang, baik yang menumpuk maupun tersebar, bisa ditemukan hampir di sepanjang jalan menuju bilik-bilik. Kita akan diakrabkan dengan keramik persegi panjang putih dalam ruangan berlantai basah ini.

Deretan wastafel, lengkap dengan cermin masing-masing, menyambut kemudian. Belok sedikit.

Sisi kanan merupakan bilik-bilik yang dilengkapi dengan jamban, ember, keran, gayung, cantelan, dan pintu. Sekiranya hanya tiga bilik yang bisa digunakan. Dua di antaranya, jamban di dalamnya sudah tidak begitu utuh. Bilik-bilik lain tampak gelap. Bahkan ada yang pintunya lepas.

salah satu ruang bilas dan keranjang
Sedang barisan bilik di sisi kiri berisi shower, tempat sabun/shampo/apapun asal muat, dan tirai. Shower di beberapa bilik tak berfungsi (tidak ada shower-nya sebetulnya, rusak begitu sepertinya). Ada dua macam shower. Shower pertama menempel di dinding. Shower yang lain ada kabelnya (eh, apa ya istilah yang tepat), digantung begitu, sehingga kita bisa mengatur ketinggian shower (da dipegang tangan) dan membawanya ke mana-mana selama masih dalam bilik. Tapi tidak ada cantelan khusus di sini. Tas bisa digantung di keran shower sedang pakaian bisa digantung di atas tirai.

Dari arah tangga menuju kolam renang, turun dua cewek berbikini. Buset. Setelah mereka melewati kami, rupanya mereka bule. Oh. Bisa dimaklumi.

Kami menaiki tangga menuju kolam renang sambil membawa keranjang berisi alas kaki dan tas kami. Selamat datang ruang terbuka! Sebetulnya ada tempat penitipan barang di sini. Namun pengunjung lebih suka menaruh keranjang mereka di bangku—bangkunya panjang. Bisa dimaklumi karena untuk menitipkan barang saja kami harus bayar 1K rupiah.

lapangan dan sabuga tampak jauh
Berada di antara hutan dan lapangan sepak bola yang tengah ramai, ruang terbuka ini memungkinkan bagi kami—pengguna kolam renang—untuk terlihat oleh siapapun dari dua tempat itu. Kalau dari lapangan, mungkin hanya kepala saja yang terlihat—itu  juga kalau berdiri di luar kolam dan berada dekat dinding pembatas. Kalau dari hutan, nah, ketika saya sedang di jembatan dalam hutan tersebut, saya bisa lihat orang-orang yang renang di sini meski tidak jelas. 

yang di ujung kolam renang dangkal
Ada tiga macam kolam renang di sini. Kolam pertama berkedalaman 0,5 – 1,2 m. Kolam kedua, namanya Olympic, berkedalaman 2 m. Kolam ketiga, dilengkapi tangga dan papan loncat, berkedalaman 5 m. Konon kolam ini dipergunakan untuk latihan diving.

Saya dan Ira menggunakan kolam renang yang tengah, yang paling besar, yang ada garis-garis birunya, yang ada pijakan buat mereka yang mau lomba renang. Menelusuri panjang kolam renang ini, dengan jumawa saya pikir saya bisa renang dari ujung ke ujung. Tapi sepertinya jauh juga.

ini kolam renang olympic
Jadi saya coba melintasi bagian lebarnya dulu. Olala, belum juga sampai ujung satunya, saya sudah ngos-ngosan. Lebar kolam ini jauh lebih panjang dari lebar kolam renang Salsabila di Jogja, mungkin ada 1 ½ kalinya. Saya tidak tahu persisnya berapa lebar dan panjang kolam ini dalam m. Jadi untuk melintasi bagian panjang kolam ini, hm, nanti dulu deh he he.

Seperti biasa, renang bagi saya berarti renang gaya katak bolak-balik bagian lebar kolam. Biasanya saya melakukan ini selama sekitar sejam. Kalau di kolam renang Salsabila, saya ambil jeda alias leyeh-leyeh di pinggir kolam sesekali saja. Tapi kalau di sini, hampir tiap satu lintasan saya berhenti dulu.

kolam renang diving di ujung sana

Renang adalah olahraga favorit saya selain jalan kaki ketimbang lari. Saat melakukan olahraga ini, kita seolah tidak berkeringat. Tidak terasa panas. Dan berada dalam air, mengambang, membuat saya merasa lepas saja, meski sejenak.

Lama-lama saya sudah tidak ngos-ngosan. Ketika leyeh-leyeh di pinggir kolam, atau mengambil nafas saat renang, saya bisa melihat langit dengan warna kelam yang bervariasi. Pun hutan, warna tajuknya pun bervariasi. Mendung menaungi hutan, sedang sisi lain langit masih cerah. Tidak ada kekhawatiran untuk renang sambil hujan-hujanan, malah penasaran.

menitipkan barang kok bayar... :(
Sesekali saya tanya jam sama Ira. Ada jam dinding tergantung di tempat penitipan barang. Mata Ira normal, mata saya minus tinggi dengan silindris. Setengah tiga, tiga…

Sekitar pukul tiga, saya kedinginan. Mungkin angin. Mungkin hawa sejuk nan kering ala Bandung. Mungkin ruang terbuka. Mungkin pakaian saya yang relatif pendek. Mungkin mau hujan. Gerimis.

Saya terpacu untuk renang lagi. Tiap berhenti sejenak di pinggir kolam, saya merasa kedinginan lagi dan enggan untuk renang lagi. Niat semula hendak sampai ashar, apa daya, kian tak betah. Serbuan titik-titik hujan kian gencar pula.

“Udahan yuk,” kata saya pada Ira.

“Ya udah bolak-balik sekali lagi habis itu udahan,” kata dia. Tak hanya gaya katak, Ira juga mahir gaya bebas—sedang menurut saya gaya bebas itu menguras energi. Dia bisa renang lebih cepat dari saya. Dia juga bisa gaya punggung jarak pendek. Saya juga bisa, tapi sejak telinga saya jadi sakit saat melakukannya, saya enggak mencoba lagi.

Sayang sebetulnya 12K rupiah untuk waktu yang tak persis sejam. Saya merindukan kolam renang macam Salsabila, mata air surga, milik perguruan Budi Mulia di Jogja. Dengan 6K saja (belum tahu apakah ganti tahun ganti harga juga), untuk mahasiswa manapun, saya bisa mengarungi kolam renang indoor (biarpun tidak lebih lebar) dengan toilet atau kamar mandi(?), ruang bilas, dan ruang ganti yang lebih bersih, serta tempat penitipan barang yang tidak harus bayar.

menuju musola
Dari ruang bilas, hujan terdengar makin deras. Kami tidak bawa payung. Namun setelah kami ke luar dari ruang ganti, pemandangan di luar sudah tidak dihiasi desingan peluru air lagi (lah, bahasanya…). Karena uang di dompet saya tidak mencukupi untuk ongkos pulang, selepas solat ashar di musola SAROGA kami mencari ATM Mandiri.

gerobak merah penjual donat
Meski demikian, masih cukup uang untuk kami berdua mencicipi Donat Polandia. Kata Ira, donat ini produksi anak SBM (Sekolah Banyak Mobil) ITB yang dititipkan pada orang lain untuk dijualin. Biasanya gerobak donat ini mejeng pas di seberang gerbang belakang ITB—yang berseberangan dengan SABUGA. Namun petang ini, posisi gerobak bergeser jadi persis di jalan menuju SABUGA.

donat polandia isi cokelat
Dengan harga 2K rupiah, yang kita dapatkan adalah sebuah donat yang tidak berlubang di tengahnya. “Ini mah kayak dorayaki,” kata saya. Bentuk donat ini seperti dua kubah cokelat yang ditangkupkan hingga mengapit pasta cokelat yang rasanya mirip Coki-Coki. Selain cokelat, tersedia pula blueberry, strawberry, dan original alias tidak donatnya hungkul. “Tapi mending beli yang ada isinya aja, da harganya sama,” kata Ira.

Konon donat ini ber-crispy, “enak banget”, setidaknya begitu yang Ira bilang saat pertama kali menceritakan donat ini pada saya. Tapi saat saya memakannya, ternyata tidak juga tuh. Kata Ira, crispy-nya kerasa kalau donat masih panas, sementara donat di tangan kami sudah agak dingin. Kata dia lagi, donat ini enak banget. “Dua ribu aja udah kenyang.”

“Lebih enak lagi kalau harganya cuman seribu.”

“Iya sih.”

Saya penasaran apakah donat ini benar-benar berasal dari Polandia. Ternyata begini lo, Jeng, katanya, dan begini juga... Ih ternyata ya ternyata...

Untung juga kami meninggalkan kolam renang lebih cepat. Sudah sekitar pukul setengah lima saat kami sampai di KFC Dago. Lewat pukul lima, lewat pula kesempatan kami untuk bisa beli paket Attack. Zaman sekarang, harganya sudah ceban. Zaman saya SMA, saya biasa menghabiskan Jumat siang dan goceng di KFC Jalan Merdeka untuk paket ini—belum termasuk es kon untuk dimasukkan dalam minuman bersoda, pura-puranya es flot.

Namun kami bisa mendapatkan makanan seharga dua kali ceban itu dengan gratis. Sebenarnya nombok 5,5K rupiah untuk sup tapi itu sekalian ngerecehin uang. Sebelum kami berangkat dari rumah, Papa memberi kami beberapa lembar voucher seharga ceban dari KFC. Setelah lama ngidam ayam ala KFC atau McD, akhirnya tersampaikan juga… Alhamdulillah. Dan untuk sementara waktu saya tidak mau makan itu lagi. Belum habis saja, saya sudah eneg.

Jadi ingat, dulu saya pernah ditraktir makan serupa di McD Malioboro oleh mbak-mbak baru dikenal yang ternyata SMA-nya sama dengan saya. Namun saya tidak menghabiskannya karena alasan yang sama.

Pulanglah kami ke rumah dengan menaiki Kalapa – Dago. Sejak siang hingga petang, jalanan di Kota Bandung, sebut saja Jalan Aceh, Jalan Belitung (depan mantan sekolah), hingga Jalan Ir. H. Juanda a.k.a. Dago, nyaris penuh dijejali mobil.

Saya baca di dinding YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi), seseorang bilang kalau rasio angkutan publik dengan kendaraan pribadi itu harusnya 40%:60% (mestinya dibalik nih), sedang kenyataannya di kota ini adalah 20%:80%. Di kota manapun, saya termasuk yang 20%.

Ketika saya tidak bisa membantu orang lain karena keterbatasan saya dalam mengendalikan kendaraan bermotor—boro-boro kendaraan pribadi, pas ada saja saya lepas—saya merasa egois. Namun dalam situasi ini, dalam kenyataan bahwa semakin sedikit udara bersih yang bisa kita hirup, saya merasa bangga—saya altruis! Tapi ini tidak usah dibahas lebih lanjut karena sebetulnya bukan hanya itu faktor saya belum bisa mengendarai motor atawa mobil hingga kini. Pis! (=_=)V

Meski demikian, adik saya berpikir kalau bisa mengendarai mobil itu penting supaya bisa mengantar Mama dan Papa… Itu sebabnya kami mampir ke BUANA BARU (nama kursus mobil di Bandung) di Jalan Gumuruh sebelum menuju SAROGA tadi siang. 50K rupiah/jam. Wew.

Sampai di Jalan Tamblong, dengan asumsi kalau lanjut naik ST. Hall – Gede Bage di sekitar sini kami bakal ketemu gelombang mobil di Jalan Naripan, Jalan Veteran, dan seterusnya, kami laju terus sampai daerah Kalapa. Di Jalan Pungkur, kami menaiki Caheum – Kalapa. Jadi itulah rute-rute angkot menuju rumah saya, teman-teman.
@kucinggggalau
pelangi pelangi alangkah indahmu
Jabrik, si kucing galau, menyambut kami di teras. Setelah mondar-mandir sejenak di dalam rumah, kami menyadari betapa oranyenya langit di luar sana. Keindahan yang konon biasa muncul di musim hujan, kata Bude saya (dalam bahasa saya). Tidak hanya itu, adik saya juga menyadari adanya pelangi. Pelangi yang ramah tapi pemalu. Setelah kami potret, dia menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain