Selasa, 23 Juli 2019

Tinjauan Psikologis Larangan Mendekati Zina dalam Al Qur'an

Gambar dari Goodreads.
Zina merupakan permasalahan kemanusiaan yang tidak pernah terselesaikan, sejak zaman Firaun hingga dewasa ini. Kalangan yang permisif menganggap perzinaan sebagai hal yang manusiawi. Sementara karya sastra atau media mengglorifikasikan perzinaan, Islam justru memberikan hukuman teramat keras terhadap pelakunya serta peraturan ketat untuk mencegah terjadinya. Sebabnya, hampir semua aktivitas keseharian kita memungkinkan terjadinya perzinaan.


Buku ini memaklumkan bahwa nafsu seksual merupakan sesuatu yang wajar, bahkan diperlukan untuk melangsungkan eksistensi manusia dan bila tidak terpenuhi dapat berakibat fatal. Malah Freud mengatakan bahwa seks merupakan satu-satunya motivasi yang melandasi perbuatan manusia. Orang taat agama pun bisa dikuasai oleh motivasi seksual.

Kalau hanya memikirkan diri sendiri, sepintas perzinaan bukan masalah asal suka sama suka. Tetapi, jika individu dipandang sebagai bagian dari masyarakat, perbuatan tersebut merupakan keropos-keropos yang dapat meruntuhkan tonggak. Dalam Bab IV buku ini diulas bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan dari perbuatan zina, yaitu:

1. Patologi sosial
2. Sumber kejahatan dan korupsi
3. Penghancur moral bangsa
4. Perusak keturunan
5. Penghambat pembentukan keluarga bahagia

Menurut penulis, yang dapat mengendalikan nafsu seksual adalah norma yang dijunjung tinggi oleh pribadi. Pengendali paling ampuh adalah Alquran sebagai sumber hukum pokok. Buku ini menekankan pada pendidikan Alquran dalam keluarga, dan peranannya dalam mencegah perzinaan dibahas dalam Bab V. Para ahli psikologi bersepakat bahwa kehidupan pada masa kanak-kanak berpengaruh besar terhadap masa depan setelah dewasa, dan bukan hanya dalam soal pangan, sandang, dan papan--materi--tetapi juga yang yang bersifat psikologis. Karena itu, pendidikan Alquran penting untuk diberikan kepada anak sejak dini.

Penanaman nilai moral yang kuat memang penting mengingat pada zaman sekarang, dengan arus informasi yang sangat deras dan media hampir selalu terpampang di depan mata kita, konten-konten yang mendekatkan pada zina enggak terhindarkan--sangat mudah diakses. Anak yang telah terbentengi secara kokoh oleh pendidikan moral, kemungkinan secara otomatis akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat mendekatkan pada zina.

Tetapi, banyak juga anak dengan nilai moral yang longgar dan sudah telanjur terpengaruhi oleh konten berisiko. Bagi anak dalam kategori kedua ini, boleh jadi pendidikan seks tetap diperlukan untuk mengiringi pendidikan moral. Pendidikan seks menjadi semacam penceburan: tanggung sudah kepalang basah, tenggelamkan saja sekalian agar tahu dan sadar akan berbagai dampak dari perbuatan tersebut.

Meskipun buku ini terbitan 1982 dan sudah hampir empat puluh tahun berlalu, esensinya tetap bisa diamalkan karena, sekali lagi, zina merupakan permasalahan kemanusiaan yang tak lekang oleh zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain