Senin, 22 Juli 2019

Secret Diary of Adrian Mole Aged 13 3/4

Gambar dari Goodreads.
Saya pertama kali mengetahui tentang Adrian Mole dari ulasan singkat di sebuah majalah ibu kota, entah
Gadis atau Kawanku. Saat itu saya masih anak SMP yang baru semangat-semangatnya membaca dan menulis, kurang lebih seusia dengan Adrian (13 3/4 tahun). Bacaan dengan tokoh remaja seperti ini tentu menarik saya. Ketika enggak lama kemudian mendapat kesempatan untuk ke Palasari, saya pun menanyakannya kepada bapak-bapak penjaga lapak tempat saya biasa membeli novel. Tetapi, buku itu enggak ada.

Sejak itu, saya ragu apakah buku ini memang ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia karena saya enggak ingat pernah melihatnya di toko buku. Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan untuk membaca buku ini dalam bahasa aslinya--bahasa Inggris. Dan, meskipun saya menikmatinya, dibikin tertawa berkali-kali olehnya, tetapi, saya enggak yakin bahwa ini memang buku yang layak untuk audiens remaja Indonesia.

Ketimbang teenlit, saya menganggap buku ini lebih sebagai komedi satire. Bukan hanya karena di dunia Barat orang lebih blak-blakan soal seks, tetapi juga buku ini sarat akan muatan politis, feminis, dan sebagainya. Kontennya sangat dewasa, menurut saya. Entahkah remaja di Inggris sana memang pada melek soal-soal begituan. Di Indonesia, sampai sebelum internet merajalela, saya kira wacana para remajanya secara umum enggak sampai setaraf itu. Kalaupun saya membuka buku harian saya sewaktu SMP dan ternyata wawasan saya lumayan juga, sepertinya itu karena pengaruh dari teenlit Barat dan lirik-lirik lagu U2.

Kacamata ABG dalam buku ini boleh jadi sekadar kemasan komedi, sebab kepolosan bisa menimbulkan efek lucu. Tetapi, toh, cerita Adrian Mole rupanya terus berkembang. Setelah buku harian ketika usianya 13 3/4 sampai 15 tahunan ini, diterbitkan buku-buku hariannya yang berikut sampai ia berusia menjelang paruh baya. Dia bukan seperti The Simpsons yang usia para tokohnya enggak maju-maju biarpun ceritanya sudah berlangsung sekitar tiga dekade.

Hidup Adrian sebenarnya menyedihkan: keluarganya miskin, kedua orang tuanya perokok berat dan terancam cerai, badannya pendek, jerawatan, kena bully, sahabatnya lebih berpunya dan berpacaran dengan cewek yang disukainya (meskipun nantinya cewek tersebut memacarinya), anjingnya kerap diperlakukannya secara tidak semena-mena, dan seterusnya, dan sebagainya--pokoknya enggak ideal. Wajarlah bila kadang-kadang Adrian merasa down, mengalami angst, dan ingin lari dari rumah: kondisi yang sangat realistis bagi remaja. Memang, ketidakidealan realita hidup justru dapat menjadi sumber kelucuan itu sendiri, atau istilahnya tragicomic. Cara narator menceritakan kehidupannya yang malang secara jenaka itulah yang biasanya menjadi kriteria karya favorit saya. Hidup enggak bisa ideal dan kita butuh belajar cara untuk menertawakannya agar dapat meringankan suasana jiwa.

Di balik Adrian adalah seorang emak-emak: Sue Townsend. Menurut yang saya baca di Wikipedia, ide tentang Adrian muncul ketika Sue mendengar putra remajanya sendiri mengeluh karena enggak pernah dibawa liburan ke kebun binatang seperti keluarga normal. Saya curiga keperempuanan si penulis membuat rentang perhatian Adrian cenderung pada urusan domestik. Sering kali Adrian mengeluh tentang keadaan rumahnya yang jorok, ibunya yang malah cari kerja alih-alih mengurus dia, dan semacamnya. Bukan berarti urusan domestik cuma ranah perempuan--selalu ada pengecualian, hanya saja saya merasa secara umum atau pada dasarnya demikian.

Menariknya, saya merasa penulis perempuan ini seperti yang menyadari bahwa feminisme itu problematik. Disebutkan bahwa ibu Adrian mulai membaca buku-buku feminis, mengikuti semacam kursus untuk menjadi asertif, dan semacamnya. Tetapi, Adrian enggak peduli semua itu. Sering kali yang Adrian inginkan adalah ibunya memperhatikan dia, kecukupan gizinya, kondisi rumah yang tertata, dan sebagainya. Tetapi, ibunya malah cari kerja dan kabur bersama pria tetangga.

Sue Townsend sendiri pernah menjadi orang tua tunggal, hidup miskin sementara mengurus beberapa anak sendirian. Bisa dibayangkan betapa enggak idealnya kondisi itu. Saya jadi bertanya-tanya apakah tuntutan-tuntutan Adrian merupakan wujud dari kesadaran penulisnya sendiri akan perannya sebagai perempuan yang serba ditarik ke sana-sini. Tentu ia penuh kecamuk pikiran dan perasaan yang dituangkannya lewat Adrian Mole, sehingga dunia remaja ini begitu kaya merangkum kehidupan di sekitarnya.

Kalau memang buku ini merupakan potret realita kehidupan di Inggris pada masanya, saya takjub bahwa masih ada spirit tolong-menolong antarwarga. Di sini ada tokoh bernama Bert Baxter, berusia sekitar 90 tahun, yang meskipun menyebalkan, tetapi masih mendapat pertolongan dari orang-orang di sekitarnya, katakanlah melalui program Good Samaritans, sehingga ia kenal Adrian, lalu Adrian menarik Pandora (pacarnya), ayahnya, ayah Pandora, dan lain-lain agar turut membantu lansia ini. Ayah Adrian sendiri acap kali dimintai tolong oleh tetangga untuk mengantar atau sesuatunya. Dari contoh-contoh tersebut, terkesan bahwa masyarakat Barat enggak seindividualistis yang dikira, atau, bisa jadi, karena latar cerita ini tahun delapan puluhan awal (empat puluhan tahun lalu), ketika orang di sana pun masih punya semangat tolong-menolong.

Secara keseluruhan, buku ini sangat sesuai dengan selera saya. Gaya seperti inilah yang ingin saya terapkan dalam karya saya sendiri. Saya masih perlu banyak belajar, di antaranya karena saya belum mampu mereka dunia yang semendetail dan semenyeluruh dunia Adrian Mole.

Lagian, Adrian Mole berformat buku harian sehingga memang tuntutannya untuk mendetail dan menyeluruh agar setiap hari dapat terisi. Adapun saya belum pernah mencoba menulis dalam format buku harian. Saya membayangkan seorang karakter masih secara garis besar, hanya mencatat momen-momen penting dalam kehidupannya yang bisa menjadi plot dan itu bisa jadi mencakup rentang waktu yang cukup panjang.

Saya memperhatikan bahwa format buku harian ini pun dapat menimbulkan efek komedi. Misalkan, hari ini Adrian mendapat keberuntungan, tetapi, esoknya segera terungkap bahwa itu keberuntungan palsu, yang malah berbalik menjadi kesialan. Jika itu terjadi berkali-kali, terbentuk pola yang mengesankan kesimpulan atau bahkan pelajaran untuk tidak menjadi naif dalam hidup. Kurang lebih begitu.

Dalam format buku harian ini pun, saya enggak yakin ada struktur dramatiknya. Life just goes on. Cerita berakhir mungkin karena halaman buku hariannya sudah habis saja. Entahlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain