![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Misalnya lagi, di Lupus SMA, Lupus ditampilkan sebagai selonong boy yang masuk ke rumah tanpa mengucap salam dan langsung saja cari makan di kulkas. Ia juga suka mengunyah permen karet yang oleh pengarangnya tadinya dimaksudkan sebagai kampanye antirokok. Tetapi, gara-gara kebiasaan Lupus menempelkan permen karet sembarangan ditiru oleh para pembaca, melayanglah banyak surat protes ke Gramedia.
Ini Pak Boim sendiri yang bilang: Lupus Kecil dan Lupus ABG semacam kesadaran penulisnya untuk menjadikan Lupus bacaan yang lebih aman bagi anak di bawah umur. Sebagai bacaan yang sangat populer--malah mungkin sudah bisa dianggap legendaris--agaknya Lupus memikul tanggung jawab besar untuk tidak menyesatkan massa pembacanya. Yah, kurang lebih begitu. Maaf, saya enggak ingat persis kata-katanya, Pak, hehehe.
Sudah bertahun-tahun sejak saya membaca Lupus SMA sehingga saya enggak ingat sama kenakalan-kenakalannya. Yang saya ingat justru Lupus cukup teladan, karena sedari SMA sudah bisa cari uang sendiri. Terlepas dari itu, di seri Lupus Kecil yang baru saya tamatkan ini memang ada banyak teladan. Malah, saya merasa Lupus usia tujuh tahun ini lebih dewasa daripada sewajarnya. Coba saja simak pernyataan di halaman 63 ini.
Kata Lupus, biar kita anak kecil, tapi kita harus bersikap dewasa. Orang dewasa saja banyak yang bersikap seperti anak kecil.Sepertinya, pertama dan terakhir kalinya saya membaca buku ini adalah ketika SD. Jujur saja, yang saya ingat dari buku ini hanya banyolannya. Misalkan saja, bahwa Lupus punya tetangga bernama Ibu Ketut Teblu yang sering diledek oleh ibu-ibu lain jadi Ibu Kentut Melulu. Saya juga ingat bahwa Papi Lupus menyarankan bahwa anak-anak yang hendak ikutan sunatan massal direndam dulu, ibarat kita mau masak daging: biar lembek ketika dipotong, wkwk.
Ketika membaca ulang buku ini dari kacamata orang (yang semestinya sudah) dewasa, baru saya mengenali pesan-pesan tersiratnya. Karena itulah, saya ragu anak seusia Lupus dan Lulu dalam buku ini (tujuh dan enam tahun) dapat menangkap atau mengingatnya, karena saya sendiri sewaktu SD saja enggak, hahaha.
Misalnya saja, sindiran sosial tentang banjir bikinan dalam cerita ketujuh, "Orang Baru-baru". Misalnya lagi, polah orang tua Lupus, khususnya si Papi yang pelit, yang malah bikin saya sekarang jadi miris. Anak seusia Lupus dan Lulu pada umumnya mungkin menganggap kepelitan Papi sebagai karakternya yang hakiki, dan dalam buku ini dijadikan lucu-lucuan, tetapi kalau sudah tahu susahnya cari duit, sifatnya itu bukan tanpa alasan.
Intinya, buku ini, bagaimanapun dikemas untuk anak-anak, sesungguhnya menyajikan potret sosial secara apa adanya lagi jenaka. Apalagi di cerita terakhir, "Menanti Hujan Turun", yang berfokus pada Iko Iko--teman Lupus dari kalangan bawah--saya hampir saja dibikin menangis oleh kemalangan nasib keluarganya, tetapi, masih bisa-bisanya Iko Iko bercanda!
Bagaimanapun usaha duo penulis dalam memasukkan teladan, toh perilaku iseng dan bandel merupakan ciri khas mereka dan justru itulah yang disukai orang karena memang lucu. Sepertinya, dalam komedi memang enggak terhindarkan unsur "tertawa di atas penderitaan orang lain". Contohnya saja, dalam cerita kedelapan, "Belajar Membagi Waktu", ketika Mami menyuruh Lupus untuk membuat jadwal dan menaatinya. Sorenya, Papi pulang kerja dalam keadaan lapar dan capek. Enggak ada makanan karena sudah dihabiskan oleh anak-anaknya. Sembari menunggu Mami selesai masak, Papi meminta Lupus memijatnya. Tetapi, Lupus menolak karena itu enggak ada dalam jadwalnya. Kocak! Tetapi, kasihan sebetulnya si papi.
Saya merasa ini bacaan yang tepat dibacakan oleh orang tua kepada anaknya (biarpun kalau si anak sudah segede Lupus dalam buku ini sepertinya dia sudah bisa membacanya sendiri). Sementara si anak terhibur oleh kelucuan-kelucuan yang gamblang, orang tuanya diam-diam dibantu menertawakan kegetiran hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar