Kamis, 10 Desember 2015

#9 Janjiku kepadamu

Pagi itu Dean membulatkan tekad. Begitu sampai di kelas, dia meletakkan ransel di bangku sebelah Zahra yang kosong.

Jelas Zahra terkejut tiba-tiba Dean akan menjadi teman sebangkunya. Tapi ia memilih untuk tetap mendiamkan anak itu. Bahkan ketika Dean menegurnya, sambil menuding ke arah kolong mejanya yang berisi tas oleh-oleh dari luar negeri itu, “Masih belum mau diambil juga?” Zahra diam saja seolah-olah anak itu tidak ada.

Yang menegur Dean malah para guru. Mereka heran karena tumben-tumbenan Dean mau duduk di bangku paling depan—tepat di hadapan meja guru pula. “Kamu datangnya kesiangan? Enggak kebagian tempat duduk yang biasanya?” begitu rata-rata komentar mereka. Dean cuma menjawab sambil cengengesan, “Lagi pengin ganti suasana.”

Ada juga yang menegur, “Kamu udah minta izin sama yang duduk di belakang kamu? Badan kamu kan jangkung. Enggak ngalangin?”

Dean langsung menoleh pada anak-anak yang duduk di barisan tepat di belakang punggungnya.

“Ngalangin enggak?” tanyanya.

“Enggak,” jawab mereka serempak.

Guru itu cuma mencandainya.

“Jadi enggak bisa main game lagi dong,” kata Pak Bagod saat pelajaran Biologi. Ternyata diam-diam ia tahu kelakuan Dean.

Dean cuma menanggapinya dengan tawa renyah, sambil menyahut, “Ah, Bapak mah gitu banget ih.”

Sementara itu kata Bu Diana saat pelajaran Fisika, “Nanti kamu jadi enggak bebas kalau mau ngobrol.”

“Enggak apa-apa, Bu. Kan sekarang mah saya mau merhatiin Ibu aja,” ucap Dean seakan memang maksudnya mau mengambil hati.

“Kalau gitu, sekarang kita ulangan elektromagnetik. Udah pada ngerti bahasan yang kemarin, kan?”

Anak-anak langsung pada menjerit. “Belum, Bu, belum!”

“Ardian aja udah siap sampai pindah duduk ke depan,” sahut Bu Diana dengan cuek. “Ayo, kertasnya dikeluarin!”

Dean menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya yang masih pada menggerutu sambil menyobek kertas dari buku tulis masing-masing. Dia mengangkat kedua jari tangan kanannya—jari telunjuk dan jari tengah. Entahkah ada yang melihatnya atau tidak. Peace!

Bu Diana menulis beberapa soal di papan tulis. Tidak banyak. Ia cuma ingin mengetes pemahaman siswa pada pertemuan yang lalu.

Dean menyalin soal dari papan tulis ke kertas dengan tenang, lalu merasa dirinya berhenti berkeringat dan perutnya mulai mulas. Dia menoleh pada Zahra, yang mengerjakan soal dengan posisi menyamping memunggunginya. Dia menoleh ke sisi kanan, terus sampai ke belakang, dan sadar bahwa dirinya dikepung sekumpulan anak yang tidak pernah tergabung dalam Pasukan Sarang Semut. Sementara itu teman-teman yang biasa membantunya, entahkah dengan memberi kode atau menggeser kertasnya agar terlihat oleh Dean, terasa amat sangat jauhnya di belakang.

“Ngeliatin apa, Ardian?” terdengar suara Bu Diana dari arah belakang. Rupanya guru itu sedari tadi berdiri di ujung barisan bangkunya.

Dean kembali menatap kertas di mejanya. Dia berusaha mengingat-ingat apa saja yang dikatakan Bu Diana pada pertemuan yang lalu, lalu menulis saja seadanya. Dean sadar bahwa apa yang dia tulis kemungkinan besar tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan dalam soal, atau dia kesulitan menghubungkannya. Dean cuma bisa berharap Bu Diana maklum bahwa sedikitnya ada yang dia tangkap pada pertemuan itu. Setelah menulis beberapa kalimat dan rumus, Dean merasa buntu. Dia bahkan tidak tahu yang sudah ditulisnya itu jawaban untuk soal nomor 1, 2, atau 3. Suara ketukan sepatu Bu Diana di lantai mulai menimbulkan kedutan di keningnya. Dia meletakkan pulpen di meja, menangkupkan kedua belah tangannya di depan mulut, menatap langit-langit, dan mulai memikirkan lagu untuk Rieka sampai Bu Diana menyuruh anak-anak mengumpulkan kertas jawabannya.

Dean tidak tahu bahwa diam-diam Zahra memerhatikannya, terutama pada kertas ulangannya yang ketika dikumpulkan nyaris kosong. Tapi Zahra tetap diam, begitu juga tiap kali Dean memberinya teguran sepanjang hari itu.

“Ke kantin enggak, Zahra?”

“Kamu enggak jajan apa-apa?”

“Mau ke WC, ikut enggak?”

“Tadi barusan Bu Elly ngomong apa, ya?”

Hari yang cukup berat bagi Dean. Tidak biasanya dia sebangku dengan orang yang setidak-responsif itu, tidak bisa diajak mengobrol soal apa pun. Kalaupun bisa, posisi tempat duduk tersebut memungkinkan obrolan cuma bisa dilakukan pada pergantian pelajaran, pelajaran kosong, jam istirahat, dan jam pulang sekolah. Ketika jam pulang sekolah itulah, Dean langsung saja mengutarakannya pada Zahra. Zahra duduk di bangku dekat dinding, sehingga ketika mau keluar ia mesti melewati Dean. Tapi Dean menghalangi jalannya.

“Saya pengin belajar lagi sama kamu,” kata Dean. “Kali ini mah beneran.”

Zahra masih tidak mau melihat padanya, tapi ia menjawab, “Ngapain belajar? Pas ulangan kan tinggal nyontek, atau kerja sama.”

“Jangan suuzan dulu atuh. Siapa tahu kali ini mah saya bener-bener beneran.”

“Kenapa?” Nada Zahra menyelidik.

“Biar kamu mau nerima pemberian ibu saya.”

Muka Zahra makin merengut saja. “Minggir,” katanya.

“Iya enggak? Iya dulu atuh.”

“Minggir ah!”

“Saya serius! Kamu mah jangan gitu banget atuh jadi orang teh. Coba kamu ngasih sesuatu ke orang lain. Maksud kamu baik. Tapi orang itu malah nolak pemberian kamu. Perasaan kamu gimana, sok?”

“Tapi enggak gitu caranya,” Zahra senewen.

“Makanya itu, Zahra, sekarang saya ikutin lah cara kamu. Kamu maunya gimana.”

“Kamu keukeuh banget ih.”

“Kamu juga gitu ke saya.”

Entah kapan Zahra akan berhenti manyun dan mau memandang Dean.

Kata Dean lagi, “Jadi kamu mau apa enggak?”

Zahra masih saja diam.

Lagi-lagi Dean angkat suara, “Kamu kan maunya saya ngerjain sendiri PR sama ulangan. Hayuk. Tapi belajarnya kan saya kan enggak bisa sendirian. Kamu yang bantuin.”

“Ya udah,” kata Zahra.

“Jadi oke, ini teh?”

“Enggak tahu ah!”

“Kok gitu?”

“Minggir atuh!”

Zahra berdiri dan berusaha lewat melalui celah di antara Dean dan meja. Mau tidak mau Dean menyingkir.

Dean lalu buru-buru menggendong ranselnya, tidak lupa mengambil pemberian Bunda dari kolong meja Zahra, dan mengejar cewek itu. Dia mengiringi langkah Zahra sampai ke depan rumahnya. Sepanjang jalan Zahra melangkah cepat-cepat dan tidak menjawab teguran Dean sedikit pun.

Ketika Zahra akan memasuki rumahnya, Dean bertanya lagi, “Kamu mau kan bantuin saya lagi?”

Tapi cewek itu tetap tidak menjawab. Melirik saja tidak. Zahra masuk saja dan menutup pintu depan rumahnya, meninggalkan Dean berdiri di balik pagar sambil menenteng tas karton berisi oleh-oleh ibunya.

Cuaca sangat terik siang itu. Dean tidak betah berdiri lebih lama. Dia melalui pintu pagar rumah Zahra sambil berkata, “Punten,” yang artinya “Permisi” dalam bahasa Sunda. Setelah mencopot sepatu, dia duduk di bangku teras rumah itu dan meletakkan semua bawaannya, termasuk jumper yang semula membungkus badannya.

Lama Dean termangu saja sambil memandangi deretan pot berisi suplir di ujung kakinya. Dia lalu memutuskan untuk mampir ke paviliun Kakek. Kakek mengira Dean akan main-main seperti biasanya. Tapi rupanya Dean cuma mau menitipkan barang. Dia mencari-cari celah yang tersembunyi di ruang depan paviliun Kakek, dan menaruh barang itu di situ.

“Itu apa?” tanya Kakek.

“Tas.”

“Tas siapa?”

“Buat Zahra.

“Enggak dikasihkan langsung aja ke Zahra?”

“Buat kejutan,” kata Dean. Lagaknya mengajak Kakek main rahasia-rahasiaan.

Setelah itu Dean pamit pulang. Kakek heran, tapi membiarkannya saja. Ia tidak tahu bahwa Dean sudah bisa kembali main piano di rumahnya sendiri.

Sesampainya di rumah, Dean memang memainkan pianonya itu. Rumah sedang sepi dan Bik Odah baru saja pulang. Tapi baru sebentar saja bermain, Dean merasa jari-jarinya semakin berat. Bukan cuma karena tuts piano lebih berat daripada tuts kibor, bukan. Ada sesuatu yang lain yang membuat dirinya merasa berat. Lalu dia teringat akan perkataan Bunda, Boleh main sebentar kalau udah belajarnya.

Setelah berusaha bertahan beberapa lama lagi, Dean akhirnya menyerah. Dia lalu melihat-lihat buku pelajarannya, mencari-cari mana yang kira-kira paling gampang. Sosiologi? Dia pun mulai membuka-buka buku itu sambil tiduran di sofa.

.

Pada hari-hari berikutnya Dean terus duduk di samping Zahra, dan Zahra terus mengabaikan Dean. Dean bersikap seolah-seolah Zahra akan memerhatikan kalau dia menegur, sehingga kadang dia terlihat seperti yang bicara sendiri atau pada tembok. Sementara itu Zahra bersikap seolah-olah ia tetap duduk sendiri dan di sampingnya itu cuma angin lalu.

Para guru makin terbiasa dengan kehadiran Dean tepat di muka mereka, dan tidak ragu-ragu memanfaatkannya. Barangkali karena tampang Dean yang peramah seakan selalu siap diajak kerja sama. Tiap kali mereka mau memeragakan sesuatu selagi menerangkan, atau ingin agar siswa mengerjakan soal di papan tulis, atau sekadar menanyakan suatu hal entahkah itu ada sangkut-pautnya dengan pelajaran, biasanya Dean kena. Ada juga guru yang tiap kali menerangkan seakan bicara sendiri sambil duduk saja di balik mejanya, sementara para siswa asyik mengobrol dengan sesamanya. Karena sekarang Dean duduk di depannya, dan (bersikap seolah-olah) memerhatikannya, guru itu merasa akhirnya punya lawan bicara.

Teman-teman Dean sesama gembel alias gerombolan anak belakang tentu saja heran kenapa anak itu mau-maunya duduk di bangku paling depan, tepat di hadapan meja guru pula. Mereka menganggap tindakan Dean itu lebih nekat daripada menjalankan taktik Sarang Semut diawasi guru paling ketat di Smanson, seperti memasukkan kepala ke mulut macan. Apalagi Dean cuma duduk di bangku “keramat” itu ketika ada guru. Pada jam-jam tidak ada pelajaran dia menghampiri teman-teman sebangsanya dulu dan bergabung saja seperti biasanya.

“Kamu lagi pedekate sama Zahra?” ada yang bertanya begitu.

“Enggak,” sahut Dean.

“Mata kamu udah enggak jelas kalau ngelihat papan tulis di belakang?”

“Biasanya juga si Dean mah jarang ngelihat papan tulis!”

“Pakai kacamata atuh.”

“Enggak,” Dean menggeleng juga.

“Kamu lagi ada misi khusus sama guru?”

“Enggak.”

Teman-teman Dean pun tidak mempersoalkannya lagi. Toh Dean saja tidak mempersoalkannya, padahal iya. Diam-diam dia menahan perasaan bosan dan merana sepanjang waktu, hari demi hari. Dia ingin mengobrol dengan teman sebangkunya. Dia ingin mengeluarkan ponselnya dan membuka game. Dia ingin teman sebangkunya membawa tabloid yang bisa dintip sama-sama sementara pelajaran. Dia ingin memejamkan mata dan mimpi seru tiap kali mengantuk tanpa langsung terlihat oleh guru. Dia ingin mengerjakan ulangan di dekat teman-teman yang selalu siap sedia mengulurkan jawaban padanya.

Yang jadi penghiburannya selama jam-jam penuh penderitaan itu hanyalah meredam suara guru yang masuk ke pendengarannya dengan suara lain yang meluap dari hatinya. Suara musik yang ingin dia perdengarkan suatu hari nanti pada Rieka. Atau, kalaupun itu bukan musik yang ingin didengar Rieka, setidaknya dengan mengkhayalkannya saja sudah membuat Dean merasa tenteram sejenak.

Kadang Dean berpikir-pikir untuk kembali duduk bersama anak-anak gembel, mengalami masa SMA yang indah dengan jalan sembunyi-sembunyi. Kadang Dean bertanya-tanya demi apa dia melakukan ini….

Sampai suatu hari, pada pergantian pelajaran, tahu-tahu Zahra bertanya padanya, “Kamu masih perlu dibantuin belajarnya?” Suaranya kecil dan tidak jelas sehingga Dean mesti minta supaya pertanyaan itu diulang. Hampir saja Zahra batal bicara sama sekali.

“Kamu mau?” Dean balas bertanya.

“Belajarnya kan enggak mesti sama saya. Banyak yang lebih pinter dari saya di kelas ini mah.”

“Iya sih. Tapi kamu mau kan?”

“Ya udah.”

“Bener?”

“Iya.”

Senyum Dean makin cerah. “Makasih, Zahra! Hari ini? Boleh?”

Zahra mengangguk.

“Kenapa kamu tahu-tahu jadi mau?”

“Kasihan kamu. Tiap kali ulangan nyerahinnya kertas kosong melulu.”

Dean tertawa saja.

.

Hari belajar bersama Zahra dimulai lagi. Ketika tidak ada PR dan ulangan untuk besoknya, Dean ikut saja apa yang sedang Zahra ingin pelajari. Dean berusaha memusatkan pandangan pada buku pelajaran, biarpun pikirannya tetap saja lari ke sana kemari. Kadang dia tidak tahan untuk bergulingan di karpet sambil mengerang, atau tangannya gatal ingin mencabut ponsel dari saku. Tapi begitu melihat tatapan Zahra, Dean cepat-cepat memperbaiki posisi duduknya dan bersikap kalem.

Ketika terdengar azan asar, biasanya Dean akan menegur Zahra soal pekerjaan rumahnya yang lain. Begitu juga kali ini. “Kamu mau nyapu-nyapu atau nyiram-nyiram dulu?” Tapi Dean tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera kabur ke paviliun Kakek. Dean duduk tegak dan nada pertanyaannya itu seakan dia mengharapkan Zahra untuk cepat kembali.

Zahra pun membuka-buka halaman buku pelajarannya dan menunjuk pada suatu latihan. “Gimana kalau kamu kerjain dulu soal-soal ini?”

Dean melirik halaman itu lalu memandang Zahra. “Cita-cita kamu jadi guru, ya?”

“Kenapa gitu?” Zahra mulai merengut.

“Sukanya ngasih soal.”

“Ya udah kalau enggak mau!”

“Iya, Zahraaa, iya iya iya…!” sahut Dean sambil menyiapkan kertas untuk mencorat-coret soal.

Selepas kepergian Zahra dan coretan sepanjang beberapa baris, Dean merebahkan badan di karpet, mengeluarkan ponsel dari saku, dan membuka game. Akhirnya! Tidak heran ketika Zahra kembali dan melihat hasil pekerjaan Dean, wajahnya langsung cemberut. Dean cengengesan saja dan berkata seakan tidak ada yang salah, “Kerjain bareng, yuk!”

Pada hari-hari setelahnya tetap tidak gampang meninggalkan Dean supaya belajar sendiri tanpa pengawasan. Tapi setidaknya Dean tidak lari ke paviliun Kakek setelah azan asar. Dia cuma tiduran sambil mengutak-atik ponselnya, sementara Zahra menyelesaikan tugas-tugas lainnya dulu. Lalu mereka kembali belajar bersama sampai terdengar azan isya.

Malah jadi Kakek yang mengunjungi ruang tengah lantai dua. Awalnya tidak sengaja. Ia cuma mau mengambil sesuatu di kamar Kang Lutung dan melewati mereka.

“Kamu di sini?” tegur Kakek ketika melihat Dean. “Katanya mau belajar buat UAS.”

“Ini juga lagi belajar, Kek,” Zahra menegaskan.

Kakek pun pergi setelah mendapatkan barang yang ia cari. Tapi beberapa lama kemudian ia kembali dan menegur. “Udah belajarnya?”

“Belum!” seru Zahra.

Dean tergelak saja.

.

Tapi tentu saja Dean kangen pada paviliun Kakek, pada kibor cantik yang makin lama saja tidak kena belaian jarinya, pada koleksi album Kakek yang tidak habis-habis dia dengar, juga pada suara parau Kakek saat menceritakan segala kenangannya yang kadang diselingi dengan nasihat. Maka pada suatu sore, ketika Zahra kembali dari sapu-sapu dan siram-siram—siap meladeni temannya yang bebal itu lagi, Dean bukannya meraih bukunya untuk melanjutkan belajar seperti biasanya. Dia bangkit dari tidurannya, meregangkan badannya, dan malah mengajak Zahra ke paviliun Kakek. “Jangan terlalu diforsir ah,” katanya.

“Ya udah kalau kamu enggak mau belajar lagi,” kata Zahra tanpa bermaksud merajuk.

Lama-lama Zahra bisa juga memaklumi Dean, yang katanya jarang sekali belajar. Belakangan ini hampir tiap hari anak itu ke rumahnya, berkutat dengan pelajaran dari sepulang sekolah sampai menjelang malam. Apalagi UAS makin dekat saja. Zahra sendiri sudah lama tidak menonton drama di TV demi menemani Dean.

“Kamu aja yang ke sana.”

“Kamu ikut juga. Lagian kamu jarang kan ke paviliun kakek kamu. Hayuk…!”

Dean merangkul Zahra, bermaksud menggiringnya. Tapi Zahra langsung melepaskan lengan Dean.

“Iya! Tapi enggak usah pegang-pegang!”

“Hihihi….”

Sesampainya di paviliun, Dean langsung menyapa Kakek. Kakek sedang menonton sinetron seperti biasanya, ketika tidak ada Dean.

“Boleh dengerin album, Kek?” Dean minta izin lebih dulu.

“Boleh atuh.”

Kakek pun mengecilkan volume TV sementara Dean memilih-milih album dan memasangnya di gramofon.

“Udah, kamu duduk di aja di sofa,” kata Dean pada Zahra.

Tampaknya Zahra masih bingung buat apa ia mesti ikut mampir ke tempat Kakek. Ia pun duduk di sofa sambil memandang TV yang suaranya tinggal sayup-sayup, tertimpa alunan lagu dari gramofon yang volumenya lebih kencang.

Sementara itu Dean duduk di depan kibor dan menyalakan alat itu. Jari-jarinya langsung bergerak dengan lincah di atas papan tuts, mengiringi musik kesukaannya. Kepalanya bergerak-gerak. Dia berpaling pada Zahra yang melihatnya dengan raut datar, lalu cuek saja meneruskan permainannya.

“Zahra mah dari kecilnya juga diem aja kalau ada lagu. Lain sama Zia. Ada irama dikit aja, joget dia,” kata Kakek yang baru kembali dari mengambil minuman—untuk dirinya sendiri saja.

Zahra seakan tidak mendengar perkataan kakeknya itu. Bibirnya tetap mengatup rapat. Meski kelihatannya seperti yang cemberut, sebetulnya tidak.

Ketika lagu yang diiringinya habis, Dean beralih memainkan irama lain yang lebih riang. Dia sempat berpaling lagi pada Zahra dan cewek itu masih saja diam, malah memerhatikan entah apa di meja. Dia pun kembali menikmati permainannya. Kakek juga, sesekali mengiringi dengan gerakan kepala dan senandung.

Setelah beberapa lagu lagi yang semakin cepat saja ritmenya, Dean menyudahi permainannya dan bersama Zahra pamit pada Kakek.

Di luar langit sudah gelap sekali. Jelaslah mereka tidak akan melanjutkan pelajaran lagi hari itu. Maka Dean mengiringi Zahra kembali ke rumah cuma untuk mengambil barang-barangnya.

“Kamu mah ada musik teh malah diem ih,” kata Dean.

“Kamu mainnya kayak lagi kesambet,” sahut Zahra.

Dean mesem saja.

.

UAS semakin dekat saja. Pertanyaan Zahra pada suatu sore mengingatkan Dean. “Kamu belajar kayak gini, emangnya mau ngerjain sendiri pas UAS?”

Dean terdiam dulu, lalu, “Enggak tahu. Sebenernya mau belajar atau mau nyontek, saya mah sama-sama males.” Dean mengabaikan muka Zahra yang langsung mengernyit. Lanjutnya, “Kalau temen-temen mah kayaknya ngebet banget dapet jawaban bener sebanyak-banyaknya teh. Padahal mereka di rumahnya belajar. Saya mah biasa aja. Kalau lagi pengin, hayuk. Kalau lagi males mah, ya udah.”

“Kamu sebenernya pengin jadi apa sih?” tanya Zahra tanpa bermaksud apa-apa. Ia cuma takjub karena Dean bisa setidak acuh itu pada urusan sekolah.

“Nanyanya salah,” sahut Dean. “Bukan saya pengin jadi apa, tapi saya pengin ngapain.”

“Kamu pengin ngapain gitu?”

“Pengin bikin lagu buat Rika.”

“Rika?”

Dean memandang Zahra dengan tidak percaya. “Enggak kenal? Anak X-5.” Zahra tampaknya masih belum terbayang. Kata Dean lagi, “Kalau kamu pas MOS segugus sama Deraz, berarti kamu segugus juga sama dia.”

Zahra meng-“oh”-kan saja.

“Pacar…” tambah Dean, “mulai tahun depan.”

Zahra mengerutkan dahi.

Dean tiba-tiba mesem. Dia lalu bercerita pada Zahra bahwa pernah ketika ulangan, ada temannya yang diminta memberikan jawaban. Temannya itu buru-buru menuliskan jawaban di atas secuil kertas, lalu memberikannya pada yang meminta. Ketika gumpalan kertas itu dibuka, isinya nyaris kosong. Rupanya tinta pulpen temannya itu habis. Jadilah, supaya jawaban itu kelihatan, permukaan kertas mesti diarsir dulu. Seperti relief.

Zahra tidak ikut geli, tapi ia menimpali, “Sebenernya, saya juga pernah mau bikin contekan.” Lagi-lagi Dean memandang Zahra dengan tidak percaya. “Waktu itu rasanya enggak pede aja. Hafalannya banyak sih. Terus saya coba salin rangkumannya ke kertas kecil-kecil. Udah saya umpetin di saku. Enggak tahunya, pas ulangan, saya masih inget sama isi contekannya. Enggak jadi dikeluarin deh.”

Dean terbahak-bahak. “Kamu mah kepinteran!”

Zahra menunduk saja, supaya tidak kelihatan bahwa ia tersipu-sipu. Lalu ia terpikir untuk menambahkan, “Mungkin kamu bisa coba. Bikin rangkuman, terus disalin berkali-kali sampai itu nempel di kepala kamu.”

“Mending, kamu mah tulisannya rapi, jelas kebaca. Saya mah kadang enggak bisa baca tulisan saya sendiri.”

“Enggak apa-apa enggak kebaca juga. Yang penting, pas nyalinnya, kamu sambil nginget-nginget.”

“Saya mah mending dengerin kamu jelasin aja deh.”

Zahra mendengus. “Ya udah.” Ia malas berdebat lama-lama.

“Eh, gini-gini saya juga pernah lo ngasih contekan,” kata Dean dengan nada sombong. Ganti Zahra yang memandang Dean dengan ragu. “Dulu kan Deraz sempet tinggalnya di Jerman, terus pas dia pindah ke sini, bahasa Indonesianya jelek banget. Susah ngomong ke dia pakai bahasa Indonesia mah. Pas ada ulangan juga dia enggak bisa ngerjain. Kan saya kasihan. Saya bilang aja ke dia, Lihat jawaban aku aja. Yah, dia nurut. Tapi pas hasilnya dibagiin, kayaknya dia jadi kapok nyontek ke saya lagi. Habis itu dia maunya belajar sendiri aja.”

Zahra terkikih sambil buru-buru menutup mulutnya.

“Kalau mau ketawa, ketawa aja. Enggak usah jaim,” kata Dean. Baru sekali itu dia melihat Zahra kegelian. Biasanya cewek itu cemberut melulu.

Zahra pun menurunkan tangannya dari mulut. Senyumnya masih ada, tapi ia menunduk saja.

Senyum Dean jadi tambah lebar. Zahra sebetulnya manis. Kalau saja cewek itu mau lebih banyak tersenyum.

Ketika Dean pamit dari rumah Zahra hari itu, petang sudah semakin gelap. Tapi itu termasuk cepat untuk hari-hari belakangan ini. Sering kali Dean baru keluar dari sana pukul delapan malam.

Dean mampir dulu ke kios di dekat rumah Zahra. Dia membeli sebatang rokok, dan mengisapnya sambil melanjutkan berjalan ke tempat mencegat angkot. Rasanya seperti melumuri mulut dengan cuka campur keluak. Dia sudah lama tidak merokok, sudah lama juga tidak mampir ke pelataran Tenis Net—tergantikan oleh kunjungan ke paviliun Kakek atau rumah Zahra yang semakin intens. Dia memikirkan Zahra, dan Bunda, dan Rieka—yang tadi pagi turun dari Honda CBR milik pacarnya di pelataran sekolah. Pikirannya itu tidak berujung ke mana-mana selain ke angkasa melalui asap yang membubung dari mulutnya.

Ketika sampai di rumah dan disambut Bunda dengan pertanyaan yang itu-itu saja, Dean langsung menjawabnya dengan, “Udah, sama Zahra,” dan tidak ada tambahan apa-apa lagi di dalam hati, seperti yang biasanya dia perbuat. Udah, (main kibor) sama (Kakek, di paviliun sebelah rumahnya) Zahra.

Setelah itu Dean langsung bersiap-siap tidur. Kepalanya sudah terasa begitu berat, lebih berat daripada bola boling.

.

Untuk menghadapi UAS, kelas Dean melakukan rapat lagi dengan kelas-kelas lainnya, terutama kelas yang akan menjadi partner mereka kali itu—kelas XI IPA 4. Dean ikut kumpul-kumpul. Tapi itu lebih karena dia merindukan keramaian ketimbang ikut membahas rencana. Toh rapatnya cuma sebentar. Setelah itu mereka makan-makan di warung tenda di dekat sekolah.

Ada teman Dean yang bertanya, “Kamu udah jadian sama Zahra?”

Akibatnya teman-teman yang lain jadi ikut menggoda Dean. Dean cuma mesem sambil menyangkal dengan malas, yang malah bikin teman-temannya itu makin asyik meledekinya.

Setelah makan-makan, kebanyakan temannya mau langsung pulang. Toh langit sudah benar-benar gelap. Dean juga, tadinya. Tapi dia teringat bahwa setelah hari itu, dia tidak akan bertemu Zahra lagi sampai hari UAS dimulai. Maka mendadak dia beralih jalan. Teman-temannya heran karena mengira Dean akan segera naik angkot yang sama dengan mereka. Ketika ada yang bilang bahwa Dean mengarah ke rumah Zahra, keyakinan mereka bertambah kuat bahwa memang ada sesuatu di antara keduanya.

Tapi tentu saja itu bukan urusan mereka. Itu urusan Dean untuk mampir dulu ke paviliun Kakek dan mengambil oleh-oleh dari Bunda yang dia titipkan di sana. Barang itu sudah agak berdebu sehingga Dean mengusap-usapnya lebih dulu supaya tidak kotor amat. Setelah minta restu pada Kakek supaya dapat menjalani UAS dengan selamat, barulah Dean beranjak ke rumah Zahra.

Sudah terlalu gelap untuk minta bimbingan belajar. Dean pun tidak berniat untuk masuk ke rumah. Ketika Zahra muncul di hadapannya, Dean berdiri saja di ambang pintu depan dan mengulurkan pemberian Bunda. “Sekarang, kamu udah enggak ada alasan buat nolak, kan?”

Zahra menatap barang itu tapi tangannya malah tertarik ke belakang.

“Ayolah…. Kamu tahu sendiri kan, ulangan saya yang kemarin-kemarin hasilnya enggak parah amat sejak diajarin sama kamu.”

“Tapi…” ujar Zahra dengan ragu.

Dean terus menyodorkannya dan menatap Zahra dengan yakin. “Biar kamu ikhlas juga bantuin sayanya, tapi kamu tetep berhak nerima ini.”

Zahra pun meraih barang itu perlahan-lahan. “Makasih,” ucapnya dengan suara nyaris mencicit. Tapi tampaknya ia masih ingin bicara. Dean tidak jadi segera pamit. Dia menunggu Zahra menyelesaikan kata-katanya. Akhirnya Zahra bersuara, “Kamu mau janji?”

“Janji apa?”

“Janji kalau pas UAS kamu juga ngerjain sendiri,” sahut Zahra dengan susah payah. “Kalau enggak… saya ngerasa yang kemarin itu semuanya sia-sia.”

Dean tersengal dan tersenyum sampai matanya menyipit. “Enggaklah,” ujarnya. “Enggak bakal sia-sia.”

Senin, 07 Desember 2015

Untuk Adik

#noktahmerahmasakecil

Cerita untuk anak-anak (yang merasa terjebak dalam tubuh orang dewasa)

Disclaimer: Tulisan ini dibuat karena terinspirasi dari cerita “Uang dari Paman” karangan Ganda Rudolf yang termuat dalam suplemen Klasika Kompas, 6 Desember 2015. Mari kita kembali membudayakan kegiatan mendongeng secara masif pada setiap keluarga di seluruh Tanah Air, guna menyebarkan nilai-nilai karakter unggul bangsa melalui dongeng. Yuk, kembali mendongeng! FB: Nusantara Bertutur | Twitter: NBertutur | Website: www.nusantarabertutur.com |

 

Hari itu aku membantu Mamang membereskan dagangan di rumahnya. Sesudah itu, aku diberi tiga lembar uang dua puluh ribu.

“Ini masing-masing satu, ya, buat kamu sama adik-adik kamu!” begitu kata Mamang.

“Makasih, Mang,” kataku.

Aku masukkan uang itu ke kantong celana. Lalu aku berjalan pulang dengan riang. Uang dua puluh ribu ini mending kubelikan apa, ya?

Aku langsung membayangkan sebuah ensiklopedia. Aku melihatnya di kios buku di samping kios milik Mamang. Ensiklopedia itu sangat besar. Kertasnya mengilap dan tebal. Gambarnya banyak dan semuanya berwarna. Tulisannya juga banyak. Aduh, aku sangat ingin memilikinya! Ensiklopedia itu juga kelihatan masih baru. Padahal aku tahu kios itu cuma menjual buku bekas.

Beberapa hari yang lalu, saat ikut Mamang berjualan di kiosnya, aku melihat ada orang yang menanyakan harga buku itu. Pemilik kios itu mengatakan seratus ribu. Tetapi orang itu menawar terus. Ia ingin membeli ensiklopedia itu seharga empat puluh ribu. Pemilik kios itu lalu bilang, “Enam puluh ribu. Enggak bisa kurang lagi.” Ensiklopedia itu pun tidak jadi dibeli.

Tiga kali dua puluh ribu … sama dengan enam puluh ribu!

Mudah-mudah ensiklopedia itu masih ada. Aku ingin cepat-cepat ke sana. Aku tahu mesti naik angkot jurusan mana. Tetapi sebaiknya aku makan siang dan ganti baju dulu.

Aku pun sampai di rumah. Bersamaan dengan itu, terdengar suara “dong dong dong”. Itu tandanya ada penjual es kado. Es berbentuk kotak yang dibungkus plastik. Mungkin karena bentuknya kotak, es itu disebut begitu. Rasanya, ya, tentu saja dingin dan manis.

Mendengar suara itu, adik-adikku berebutan keluar dari dalam rumah. Tetapi, sampai di dekat pintu, mereka malah diam. Penjual es kado itu mendorong gerobaknya melewati jalan di depan rumah kami.

“Kenapa?” tegurku.

“Pengin es kado ….” Fathim melihatku. Dia menunjuk penjual es kado yang mulai jauh.

“Aku juga,” Aziz ikut-ikutan

“Bikin aja sendiri. Air sirup dimasukin ke wadah es batu,” kataku.

Ada suara anak-anak menghentikan penjual es kado itu. Fathim dan Aziz berlari ke pagar. Di situ mereka cuma berdiri. Mereka mengawasi penjual es kado melayani pembeli.

Aku meraba uang di saku celanaku. Uang ini akan lebih bermanfaat jika dibelikan ensiklopedia itu. Es kado dimakan sebentar juga habis. Ensiklopedia lebih awet dan bisa dibaca bersama-sama. Jadi ini untuk Fathim dan Aziz juga, supaya mereka pintar. Nanti mereka pasti akan berterima kasih padaku.

Maka aku pun makan siang, ganti baju, dan pergi ke kios buku.

Untunglah, ensiklopedia itu masih ada! Pemilik kios itu berbaik hati menyampulkannya untukku. Aku pun pulang menenteng plastik berisi ensiklopedia itu dengan gembira.

Ketika aku pulang, Ibu sudah ada di rumah. Ibu menanyakan buku yang kubawa. Aku katakan pada Ibu bahwa aku membelinya dari uang pemberian Mamang. Aku katakan juga bahwa ensiklopedia itu bagus buat kami bertiga. Untunglah Ibu tidak bertanya-tanya lagi. Beliau sedang sibuk menyiapkan lauk untuk makan malam.

Lalu aku menghampiri Fathim dan Aziz. Mereka tampak cemberut.

“Kenapa?” tegurku.

“Pengin cuanki,” kata Fathim.

“Aku juga,” Aziz ikut-ikutan.

“Ini kan sudah ada tahu sama tempe!” sahut Ibu dari dapur.

Fathim dan Aziz terus merengek. Aku perlihatkan ensiklopedia itu pada mereka. Mereka jadi diam. Lalu mereka mulai membuka-buka buku itu. Tetapi mereka cuma melihat gambar-gambarnya. Aziz belum bisa membaca. Fathim sudah bisa membaca, tetapi dia tidak suka. Setelah sampai di halaman terakhir, mereka merengek-rengek ingin Jet-Z lagi.

Dasar adik-adik tidak tahu bersyukur. Mereka tidak boleh ingin jajan ini-itu melulu. Mereka tidak tahu uang Ibu cuma sedikit. Apalagi Bapak sudah tidak ada. Ibu yang mengatakan itu padaku. Kata Ibu, kalau uangnya banyak, beliau pasti akan sering-sering membelikanku buku baru.

Aku katakan pada Fathim dan Aziz, “Daripada jajan mending baca buku. Buku ini Abang belikan buat kalian, supaya kalian pintar! Biar ranking satu terus di kelas. Kalian mau enggak jadi ranking satu?”

“Mau,” kata Fathim.

“Mau,” Aziz ikut-ikutan padahal dia belum sekolah.

“Kalau gitu, bukunya boleh aku kasih nama aku juga, Bang?” tanya Fathim.

“Tulis nama Abang juga,” kataku.

Lalu Fathim menuliskan namaku, namanya, dan nama Aziz di halaman depan ensiklopedia itu. Dia baru belajar menulis, jadi tulisannya besar-besar dan jelek. Tetapi tidak apa-apalah.

Kami melihat-lihat isi buku itu lagi sambil aku menjelaskannya sebisaku.

Lalu terdengar suara siulan, tanda ada penjual putu sedang lewat. Fathim dan Aziz berseru pada Ibu, “Bu, putu, Bu!”

Aku membawa ensiklopedia itu ke kamar. Aku membacanya sampai ketiduran.

Keesokan harinya, di sekolah, aku tidak sabar ingin cepat pulang. Aku ingin membuka-buka ensiklopedia itu lagi. Aku ingin kembali melihat gambar Christopher Columbus, bola dunia, baju zirah, matahari, dan membaca semua tentang itu. Selain itu, ketika membacanya semalam, aku baru tahu bahwa ensiklopedia itu ternyata ada beberapa jilid. Kapan, ya, aku punya uang lagi untuk membeli jilid lainnya?

Sayangnya, hari itu aku tidak bisa cepat-cepat pulang. Ada ekskul pencak silat. Kalau aku pulang cepat, dan ada Ibu di rumah, aku pasti ditanya-tanya. Jadi aku tetap mengikutinya dengan kurang bersemangat.

Akhirnya aku sampai di rumah lagi. Di ruang tengah aku melihat Fathim dan Aziz sedang mengerjakan sesuatu. Majalah-majalah lama berserakan di sekitar mereka. Rupanya mereka sedang membuat gambar tempel. Fathim yang menggunting gambar dari majalah. Aziz yang menempelkannya ke kertas buku gambar. Aku pun duduk di samping mereka.

“Bagus enggak, Bang?” tanya Fathim. Dia belum mengganti seragamnya. Padahal dia pasti sudah pulang dari siang tadi.

“Bagus,” kataku.

Fathim jadi girang. “Aku bisa ranking satu enggak?”

“Bisa.”

“Ini cerita lo, Bang!”

Aziz merebut buku gambar itu dari Fathim, dan membukanya dari halaman pertama. Rupanya mereka telah membuat gambar tempel sampai berlembar-lembar. Hebat juga. Ini pasti karena aku membeli ensiklopedia itu. Dalam semalam mereka langsung jadi pintar! Lalu dengan bersemangat Aziz bercerita padaku sambil menunjuk-nunjuk gambar.

“Ini ada matahari. Mataharinya panas. Tank bajanya nembak matahari. Jeder! Arrgh. Mataharinya sakit.”

Dia membalik halaman berikutnya.

“Ada pahlawan datang. Kamu tidak boleh nembak matahari! Siapa kamu?! Aku jagoan Neon! Tanknya nembak jagoan Neon juga. Jedor! Jedor! Jedor! Darahnya banyak banget. Mataharinya kena darah.”

Aku memerhatikan gambar-gambar yang ditunjuk Aziz. Beberapa gambar kelihatan mengilap karena cahaya lampu.

Mendadak jantungku berdebar kencang. Lalu aku tidak sengaja melihat sesuatu di balik tumpukan majalah. Aku menariknya. Buku itu disampul plastik. Kertasnya tebal dan mengilap. Halamannya sudah diguntingi. Jantungku berdebar semakin kencang.

Kutempeleng mereka satu-satu pakai buku itu.[]

 

Hikmah Cerita

Korupsi adalah perbuatan yang tercela karena memperkaya diri sendiri dengan merugikan pihak lain. Mari kita beli dagangan mamang penjual es kado, cuanki, atau putu yang lewat setiap hari di dekat rumah kita. Mereka juga perlu uang.

Jumat, 20 November 2015

#8 UTS Genap (Sesudah)

Seperti yang diperkirakan, diharapkan, dan diajarkan dalam buku pelajaran Kewarganegaraan, gotong royong itu membawa kemaslahatan bersama. UTS berlangsung dengan relatif gemilang, setidaknya bagi kelas X-7 dan partnernya—kelas XI IPA 7. Kakak dan adik kelas bahu-membahu membantu sama lain mendapatkan jawaban yang sebenar-benarnya dengan cara apa pun.

Tidak terkecuali Dean. Dia mendapat tugas khusus menyemumi pengawas untuk mengalihkan perhatian. Apalagi kalau pengawas itu memang sudah dia akrabi sebelumnya dan mudah diajak bercanda. Kalau perlu, dengan senyumnya itu dia menggiring pengawas ke dekat bangkunya yang terletak di pojok lalu menahan mereka dengan tegur-teguran singkat dan pastinya lirih—supaya tidak menganggu siswa lain. Tentu saja pengawas tidak mungkin berada di dekatnya sepanjang waktu UTS. Ketika pengawas tidak berada di dekatnya itulah Dean mendapatkan bagiannya.

Memang kadang distribusi jawaban tidak lancar. Misalnya, ketatnya pengawasan tidak memungkinkan jawaban itu untuk dioper dan tahu-tahu waktu mengerjakan soal sudah habis. Atau soal yang diberikan terlalu sulit untuk dipecahkan bahkan oleh kaisar semut sekalipun.

Meski akibatnya remedial membayang di depan mata, tapi semut-semut itu tidak khawatir sedikit pun. Sebabnya, ketika remedial, pengawasan biasanya lebih longgar karena cuma dilakukan oleh guru pelajaran yang bersangkutan. Kadang guru itu cuma membagikan soal lalu meninggalkan mereka begitu saja sampai waktu mengerjakan habis. Gotong-royong jadi lebih mudah dilakukan, bahkan secara terang-terangan.

Maka setelah rapor UTS dibagikan, Dean bisa melihat Bunda tersenyum padanya, dan bukannya cemberut seperti sebelum-sebelumnya.

“Lumayan,” kata Bunda. Meski masih ada beberapa nilai Dean yang besarnya di bawah rata-rata kelas, tapi semuanya memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Setidaknya ada sedikit peningkatan.

Kebahagiaan Bunda menular pada Dean, sampai dia lupa menanyakan Baby. Bunda sudah keburu dinas berhari-hari ke Korea Selatan, tidak lama setelah hari pembagian rapor UTS.

Lagian, kan sudah ada si kibor cantik dari paviliun Kakek!

Bunda pulang dari negeri ginseng dengan membawa banyak oleh-oleh. Bukan cuma untuk keluarga dan koleganya, tapi teman Dean juga kebagian. Oleh-oleh yang telah Bunda siapkan itu berupa tas dengan motif yang khas dan aksesori tambahan, pantas sekali untuk dibawa jalan-jalan ke mal. Dean saja kagum, dan berpikir kalau dia cewek dia mungkin bakal memohon pada Bunda supaya tas itu buat dirinya saja. Bunda mewadahi tas itu dengan tas karton yang cantik dan menitipkannya pada Dean untuk diberikan pada Zahra.

“Zahra?”

Padahal Dean sudah berharap tas itu akan diberikan pada Tante Ice—mamanya Rieka. Jadi dia punya alasan untuk mendekati Rieka, yaitu dengan menitipkan tas dari Bunda untuk mama cewek itu.

“Zahra kan namanya? Itu… yang kapan telepon-teleponan sama Bunda. Yang katanya Dean mau bimbel sama dia aja.”

“Oh….”

“Sama tolong bilangin terima kasih, ya, dari Bunda, udah bantuin Dean belajar.”

“Oke.” Dean manggut-manggut sambil menerima pemberian itu. “Tante Ice enggak, Bun?”

“Tante Ice?” Bunda mengerutkan dahi.

“Mamanya Rika… yang kemarin ulang tahun di kafe itu, yang Bunda nganterin, temen Dean dari SD.”

“Duh, ya, enggak kepikiran. Bunda kan udah lama enggak kontak sama mamanya Rika.”

“Oleh-olehnya enggak ada lagi, Bun?” Dean melongok ke arah belanjaan Bunda selama dinas yang sudah ditata rapi di dekat meja rias.

“Ini udah dipas-pasin buat yang lain. Buat Dean bukannya udah ada, tadi? Masih kurang?”

Dean menyengir.

.

Dean memutuskan untuk menyerahkan oleh-oleh dari Bunda itu di rumah Zahra, sekalian ke paviliun Kakek untuk nge-jam seperti biasanya. Maka sepulang sekolah hari itu Dean menyusul Zahra ke rumahnya.

Zahra terheran-heran ketika Dean menyodorkan benda itu.

“Ini ambil aja, Zahrooo…” Dean mengulangi perkataannya. “Ibu saya baru pulang dari Korsel. Ini oleh-oleh buat kamu.”

Dengan ragu Zahra menerima pemberian itu. “Makasih.”

“Sama kata ibu saya, makasih.”

“Kok ibu kamu yang makasih?”

“Iya, katanya, makasih udah bantuin Dean belajar,” lanjut Dean sambil memamerkan lesung pipinya. “Hihi, ibu saya seneng gitu rapor UTS saya jadi bagus.”

Zahra terdiam, lalu ujarnya sambil merengut, “Belajar apa?”

“Belajar macem-macemlah. Kan kamu suka bantuin saya ngerjain PR, belajar buat ulangan….”

“Enggak.”

“Iya, tahu. Kita bukannya suka belajar bareng di sini?”

“Awal-awalnya doang gitu. Terus kan kamu ngacir aja ke tempat Kakek.”

“Yaa….” Dean malas berdebat lebih lanjut. “Ya udah.”

“Kamu juga belajarnya enggak bener-bener. Tetep aja kamu mah ujung-ujungnya nyalin PR saya. Cuma enggak pas pagi-pagi di sekolah kayak biasanya, tapi pas hari sebelumnya di rumah saya.”

“Tapi kan saya sambil lihat cara ngerjainnya, jadi ngertilah dikit-dikit mah….”

“Boro-boro UTS. Saya kan enggak bantuin kamu sama sekali. Rapor kamu bisa bagus gitu mungkin gara-gara dibantuin sama temen-temen lain pas ulangan?”

Zahra bukannya tidak tahu bahwa sebagian teman sekelasnya suka bekerja sama, bukan cuma ketika UTS tapi juga pada ulangan-ulangan biasa. Ia tidak sekadar mendengar itu dari bisik-bisik beberapa orang teman sekelas, tapi juga menyaksikannya sendiri. Ketika UTS, Zahra kebagian tempat duduk di pojok belakang sehingga bisa melihat ulah teman-temannya dengan leluasa. Kadang Zahra merasa gemas karena ada pengawas yang sepertinya membiarkan mereka, tapi ia bingung mesti berbuat apa. Meski keduanya tidak sekelas sewaktu UTS, Zahra yakin bahwa Dean termasuk anak-anak yang seperti itu—mengingat kelakuannya selama ini.

Zahra menyodorkan kembali pemberian Dean. “Ibu kamu ngasih ini ke saya karena ibu kamu pikir saya bantuin kamu belajar, padahal enggak.”

“Ya udah, terima aja atuh,” kata Dean. “Anggap aja oleh-oleh biasa.”

Zahra menggeleng. Ia terus mengulurkan tangannnya, yang memegang tali pada tas karton cantik itu. Tapi Dean mendorongnya lagi. Setelah beberapa kali saling mendorong, Zahra meletakkan benda itu begitu saja di lantai, di antara kaki mereka.

“Eh, Zahra, jangan gitu atuh!” tegur Dean. “Kamu kan bukannya enggak pernah bantuin saya sama sekali.”

“Tapi kamu suka nyalin PR saya! Saya enggak mau bantuin orang caranya kayak gitu!” Zahra hampir berteriak, sampai-sampai Dean kehabisan kata-kata. “Kalau gitu, temen-temen kamu yang bantuin kamu pas ulangan yang lebih berhak dapet hadiah.”

Dean terperangah. Mana mungkin! Mereka ada banyak sedangkan oleh-oleh itu cuma satu—bagus pula! Kenapa Zahra tidak mau menerimanya cuma karena soal itu?

Tahu-tahu Zahra membalikkan badan dan turun ke lantai bawah. Dean langsung mengambil wadah tas itu dan menyusul Zahra. Hampir saja ia ikut masuk ke kamar Zahra, tapi cewek itu keburu membanting pintu dan menguncinya.

“Zahra, jangan ngambek atuh…” pinta Dean dari balik pintu. “Ibu saya aja enggak pernah banting-banting pintu pas lagi marah. Kasihan pintunya, entar rusak….”

Tidak ada jawaban.

“Zahra…” panggil Dean lagi, berkali-kali, dengan intonasi yang berbeda-beda.

Dean menyandar pasrah pada pintu kamar Zahra. Punggungnya melorot. Dia berjongkok sambil mendendangkan lagu yang sering dinyanyikan Ayah. “My body lies over the ocean… My body lies over the sea…. So bring back, my body to me….[1]” Dean lalu berdiri lagi dan mengetuk pintu kamar Zahra dengan hati-hati. “Zahra, jangan bobo kalau sore-sore. Entar bangun-bangun jadi bego, lo.”

Masih tidak ada jawaban.

Dean memanggil-manggil Zahra terus sampai tahu-tahu muncul mama cewek itu di belakangnya. Mama Zahra baru pulang kerja, masih berseragam safari dan berjilbab. Dean langsung menyalami Mama Zahra dengan salah tingkah. “Udah pulang, Tante….”

“Kenapa Zahra?” tanya Mama Zahra.

“Enggak tahu, Tante. Tahu-tahu masuk kamar, enggak mau keluar,” ujar Dean.

“Zahra, ada temennya nyariin, kok malah ngumpet di kamar sih? Zahra, buka pintunya….” Ganti Mama Zahra yang terus mengetuki pintu kamar anaknya.

Dean jadi merasa tidak enak. Dia lalu menyerahkan pemberian Bunda pada Mama Zahra. “Tante, kalau boleh, saya mau nitip oleh-oleh dari ibu saya buat Zahra. Kata ibu saya, terima kasih buat Zahra karena udah mau bantuin saya belajar.”

“Oh….” Mama Zahra menerima pemberian itu dan mengintip ke dalam wadah. “Makasih atuh, ya.” Mama Zahra jadi ikut-ikutan merasa tidak enak. “Nanti kalau udah keluar kamar, Tante kasihin.”

Dean mengangguk. “Iya, Tante, makasih. Itu aja, kayaknya. Saya sekalian mau pamit.”

“Oh…. Mau ke tempat Kakek?”

“Iya.” Dean menyengir.

.

Keesokan harinya, ketika kembali dari kantin pada jam istirahat, Dean mendapati oleh-oleh dari Bunda di sisi bagian dalam bangkunya, lengkap dengan tas karton cantik yang jadi wadahnya itu. Dean memandang Zahra yang sedang duduk memunggunginya, sendirian di bangku paling ujung kiri di deretan depan. Dia membawa oleh-oleh itu bersamanya menghampiri Zahra, dan meletakkannya di meja cewek itu. Zahra mengangkat muka dari buku pelajaran yang sedang ia baca.

“Kenapa dibalikin?” tanya Dean.

Zahra tidak menjawab. Ia menunduk lagi memandangi buku pelajarannya.

“Kalau ditanya teh, jawab atuh….” Dean berusaha bicara dengan sehalus mungkin, berharap Zahra akhirnya mau memerhatikannya. Tapi cewek itu tetap tidak acuh. Lanjut Dean, masih dengan nada bersabar, “Kalau barang udah dikasihin teh, enggak baik dibalikin lagi.”

“Saya kan udah bilang saya enggak mau,” kata Zahra tanpa mengangkat wajah.

“Kenapa? Kamu enggak suka modelnya, atau warnanya? Kalau kamu enggak mau, siapa tahu aja mama kamu suka.”

“Bukan itu…!” sergah Zahra.

“Kenapa atuh?”

Dari dengusan napasnya, Zahra tampaknya mulai tidak sabar. Ia bahkan memalingkan tatapannya ke samping, supaya bayangan Dean tidak tertangkap oleh matanya.

“Kasih aja buat temen kamu yang lain,” ujar Zahra.

“Ibu saya pengin ngasihnya ke kamu. Masih inget sama kamu juga, nama kamu.”

“Ibu kamu tahu kalau jadinya kamu enggak bener-bener belajar sama saya?”

Dean duduk di bangku sebelah Zahra yang kosong. Cewek itu masih tidak mau menengok ke arahnya. Dean mendekatkan mulutnya ke kuping Zahra. Suaranya memelan. “Enggak usah dipikirin atuh itu mah. Da ibu saya juga ikhlas ini buat kamu. Enggak nuntut apa-apa ke kamu. Kamu enggak usah ngerasa kebebanin gitu, harus bantuin saya dulu baru boleh dapet apalah. Anggap aja ini mah cuma antara kamu sama ibu saya, buat nyambungin silaturahmi, enggak ada hubungannya sama urusan saya, saya mah cuma perantara.” Zahra masih saja diam. Lanjut Dean, “Lagian, apa susahnya sih nerima? Kamu enggak ngehargain niat baik ibu saya?”

Zahra menoleh pada Dean. Matanya menatap dengan tajam. “Kamu yang enggak ngerhargain ibu kamu.”

Dean terdiam, lalu, “Kenapa kamu ngomong gitu?”

“Kamu mah enggak berusaha sendiri di kelas. Kalau kamu bisa dapet nilai bagus buat PR atau ulangan, itu karena kerja keras orang lain, kamunya tinggal nadah aja. Ibu kamu tahu enggak, kamu kayak gitu? Ibu kamu seneng kalau nilai kamu bagus dari hasil kayak gitu? Atau jangan-jangan ibu kamu ketipu?”

“Apa? Kamu dendam sama saya gara-gara saya suka nyalin PR kamu?” Dean merasa agak geli sekaligus mulai kesal.

Zahra membuang muka.

“Enggak usah terlalu alim lah. Kalau kamu enggak sepelit itu ngasih contekan ke anak-anak, kamu enggak bakal duduk sendirian terus di depan, enggak ada temennya. Kamu bakal punya lebih banyak temen… pacar, malahan,” ujar Dean sambil menatap papan tulis yang terasa terlalu dekat dengan matanya. Dia juga sebetulnya malas menatap Zahra terus-terusan. Mending kalau cewek itu secantik Rieka. Tapi ketika dia melihat Zahra lagi, mata cewek itu mulai meluapkan air mata. Bibirnya makin melesak ke dalam.

Zahra tahu-tahu mendorong Dean supaya diberi jalan keluar dari bangkunya. Cewek itu melesat ke pintu kelas, dan menghilang. Padahal tidak lama kemudian terdengar bel tanda jam istirahat berakhir.

Dean cuma bisa tertegun melihat kepergian cewek itu. Dia lalu menaruh oleh-oleh dari Bunda di kolong meja Zahra dan kembali ke bangkunya sendiri.

Rupanya beberapa temannya juga menyaksikan itu dan bertanya-tanya pada Dean.

“Habis ngapain lu sama si Zahra?”

“Nangis dia?”

Malah ada yang menegurnya dengan sadis, padahal tidak tahu apa persoalannya.

“Cowok macem apa lu, bikin cewek nangis di bangkunya sendiri?”

Dean berdecak. “Gandeng!” serunya dalam bahasa Sunda, yang artinya, “Berisik!”

.

Zahra benar-benar tidak mau menyentuh pemberian Bunda. Hari demi hari tas itu dibiarkan saja di kolong bangkunya, seakan-akan tidak ada. Zahra juga tidak memanfaatkan kolong bangkunya itu untuk menaruh benda lain. Ia mengeluarkan barang seperlunya saja di atas meja, sementara selebihnya di dalam ransel.

Dari bangku favoritnya di deretan belakang, Dean bisa mengamati Zahra. Dia sama sekali tidak mengerti akan sikap cewek itu. Dia juga bingung. Masak pemberian Bunda mau terus dibiarkan saja? Apa sebaiknya dia mengambilnya lagi dan memberikannya pada orang lain, atau mengembalikannya pada Bunda dan mengutarakan alasan Zahra menolaknya? Ah, mana mungkin!

Dean juga sudah tidak pernah menegur Zahra lagi. Apalagi Zahra padanya. Bukan tiga hari lagi, tapi sudah hampir berminggu-minggu.

Untuk PR, Dean memang sudah lama tidak minta pada Zahra. Dia beralih pada teman-teman lainnya yang tidak kalah pintar dan lebih bisa diajak kerja sama.

Ketika ada kerja kelompok yang mesti berbarengan dengan cewek itu, Dean kembali mangkir dengan beribu alasan sampai teman-teman sekelompoknya itu maklum. Dean udah balik ke habitat asalnya.

Selain itu, Dean mulai merasa tidak enak ketika main di paviliun Kakek. Apalagi ketika mendengar suara-suara dari luar, misalnya suara orang menyapu halaman atau menyiram tanaman. Dean tahu bahwa orang itu Zahra. Bagaimanapun dia berusaha untuk cuek saja, tapi masih ada perasaan tidak nyaman. Tidak leluasa.

Barangkali memang sudah saatnya Dean menagih Baby pada Bunda. Dia akan menggunakan hasil rapor UTS kemarin sebagai kuncinya.

Tapi rupanya Dean terlambat. Dia tidak perlu lagi melakukan itu. Ketika pada suatu siang Dean pulang cepat dari sekolah, dia mendapati Bunda—dibantu Bik Odah—sedang menggotong Baby ke ruang keluarga. Dean buru-buru membantu mereka mengembalikan piano itu ke tempatnya semula.

Bunda lalu merangkul Dean. “Tadinya, pianonya mau Bunda simpen sampai selesai UAS. Tapi, kayaknya Dean sekarang udah semangat, ya, belajarnya. Lagian Bunda belum sempat kasih hadiah juga buat yang rapor UTS kemarin. Jadi, ini dulu aja deh. Biar Dean tambah semangat. Biar hasilnya besok lebih baik lagi. Boleh main sebentar kalau udah belajarnya.”

Dean merasa tangan Bunda di bahunya itu bagaikan paku yang menghunjamnya ke lantai. Dia menatap Baby lekat-lekat. Piano putih yang telah menjadi temannya sejak kecil itu tidak pernah tampak sekusam itu.

“Kalau sama Zahra itu masih, kan, ya?” tanya Bunda.

“Iya, Bun,” kata Dean. “Masih.”



[1] Diplesetkan dari “My Bonnie Lies over the Ocean”, lagu rakyat Skotlandia yang populer di Barat

Jumat, 06 November 2015

#7 UTS Genap (Sebelum)

Dean bukannya tidak ingat pada Baby dan Marimar. Kadang, ketika pintu kamar kedua orangtuanya terbuka, dia melihat ke dalam, ke arah kedua alat musiknya itu. Muncul rasa bersalah dalam dirinya, terutama pada Baby, karena telah menduakan piano itu dengan alat lain yang serupa tapi tak sama: kibor. Kibor yang penampilannya lebih sophisticated, bisa menghasilkan lebih banyak bebunyian sampai-sampai Dean keranjingan bereksperimen. Kibor yang menjadi partner Dean ketika dia ingin menciptakan lagu untuk Rieka, padahal sebelumnya Babylah yang selalu menjadi tempat curhatnya soal cewek itu. Dean bahkan sudah tidak pernah bingung lagi soal pedal. Padahal sewaktu awal-awal bermain kibor, Dean kadang mengentak-entakkan kakinya untuk memainkan bunyi, lalu sadar bahwa alat itu tidak ada pedalnya—lain dengan piano.

Rasa bersalah itu menjadi-jadi ketika timbul keinginan yang sangat kuat dalam diri Dean untuk memberi nama pada kibor di paviliun Kakek. Dengan memberi nama berarti telah terjalin rasa keterikatan antara dirinya dan kibor itu, semakin mengukuhkan pengkhianatannya pada Baby….

Dean juga bukannya tidak ingat untuk memperbaiki nilai-nilainya. Bukan cuma demi Baby dan Marimar, tapi juga ketenteraman jiwa Bunda. Memang belakangan ini Bunda jadi jarang menegur Dean soal pelajarannya di sekolah. Pekerjaan Bunda sedang banyak-banyaknya, dan ia sangat sibuk. Tapi, suatu saat, ketika sudah tidak sibuk, Bunda pasti akan bertanya-tanya lagi pada Dean. Maka, ketika ulangan, mau tidak mau Dean mempraktikkan keterampilan yang tidak begitu sering dia gunakan—meski tampaknya dia cukup berbakat karena tidak pernah ketahuan. Keterampilan itu dalam dunia biologi disebut: Mata Rajawali dan Sarang Semut.

Sebetulnya mata Dean lebih mirip mata tarsius ketimbang mata rajawali. Teman-temannya sering meledek bahwa matanya itu terlalu besar untuk wajahnya yang tirus, hidungnya yang mungil, dan bibirnya yang tipis. Meski begitu, ketika ulangan, tampaknya mata itu sanggup menjangkau pandangan yang lebih luas ketimbang mata biasa. Setelah itu, barulah “mata rajawali”-nya bekerja, yaitu dengan memindai dan membidik jawaban yang dicari-cari.

Adapun sarang semut terdiri dari ruang-ruang tersembunyi yang saling berhubungan, membentuk jaringan yang rumit. Barangkali cuma semut-semut itu yang tahu caranya masuk ke ruang yang satu dan keluar lewat ruang yang lain tanpa kesasar ke sarang musuh. Ruang-ruang itu diibaratkan sebagai anak-anak yang sedang mengerjakan ulangan, sedangkan semut-semutnya berupa jawaban yang bergerak dari satu “ruang” ke “ruang” lainnya. Lagi pula bukankah semut itu teladan dalam bergotong-royong?

Dean mulai mengembangkan keterampilannya itu ketika SMP, belajar dari teman-teman sekelasnya. Apalagi untuk membangun “sarang semut” dibutuhkan kekompakan banyak anak—mana mungkin Dean ketinggalan? Cara-cara lama, yang pernah dia gunakan sewaktu SD pun terlupakan.

Sewaktu Dean SD, sempat ada tren mengunyah permen karet ketika sedang belajar di kelas. Katanya, kalau kita mengemut permen karet yang sama ketika mengerjakan ulangan, kita akan lebih gampang mengingat pelajaran. Kepercayaan lainnya yaitu kalau kita membuat bangau dari kertas hasil ulangan dan mengumpulkannya sampai seribu biji, maka permintaan kita akan terkabul. Apalagi kalau yang diminta adalah hasil ulangan yang lebih bagus lagi. Tapi tidak ada satu pun dari cara-cara itu yang berhasil. Mereka malah dimarahi guru. Guru yang satu bilang tidak boleh makan di kelas kecuali pada jam istirahat dan pulang sekolah. Guru yang lain bilang meminta itu hanya kepada Allah, sedangkan kepada yang lain-lainnya—apalagi burung-burungan kertas—itu dosa besar.

Bagaimanapun juga, di samping Mata Rajawali dan Sarang Semut, sebetulnya ada teknik-teknik lainnya. Misalnya saja: Otak Gajah, artinya menyalin sari-sari pelajaran di kertas kecil, menyelipkannya di tempat yang strategis, dan membukanya ketika dibutuhkan pada waktu ulangan; Tato Pohon, artinya juga menyalin sari-sari pelajaran tapi di meja dan risiko ketahuannya lebih kecil; dan masih banyak lagi.

Tapi, Dean sadar akan keterbatasannya dalam jurus-jurus lainnya itu. Pertama, mencatat PR saja dia malas, apalagi sengaja membaca buku pelajaran demi menulis ulang sari-sarinya di tempat lain. Mending baca Bobo daripada buka buku pelajaran, begitu pikir Dean, yang sering kali dia buktikan dengan mendatangi kios koran dan majalah terdekat pada Kamis sepulang sekolah. Kedua, pernah, ketika sedang menghadapi ulangan Matematika yang sangat sulit, dia menemukan coret-coretan di mejanya. Coret-coretan itu ternyata berupa rumus yang sesuai dengan materi ulangannya. Tapi, setelah dicoba, ternyata dia tidak tahu cara menggunakannya.

Kalau saja Dean mau menggunakan keterampilannya itu lebih dini dan lebih sering—dan kalau perlu, mempelajari cara-cara yang lain juga—maka hasil ulangannya yang kemarin-kemarin itu tidak akan sebegitu memprihatinkan. Tapi, tampaknya, keterampilannya itu memang baru keluar ketika keadaan sudah mendesak. Pada ujian kenaikan kelas atau ujian kelulusan, misalnya, khususnya pada waktu dia sadar untuk setop berleha-leha dan mulai membuat perubahan.

.

Menjelang UTS, kelas Dean melakukan rapat. Tapi rapat ini rapat khusus. Tidak semua anak mengikutnya. Ada yang tidak mau ikut sejak awal, seperti Zahra. Ada juga yang setelah tahu apa yang dibicarakan lantas mengundurkan diri. Bahkan, Salman sempat misuh. Meski ia sudah menjauh, disusul Acil, suaranya masih terdengar, “Kalau gitu sih mending aku pakai joki sekalian pas SPMB. Enggak keren dong masuk ITB enggak pakai usaha sendiri….” Tapi anak-anak di kelas tidak acuh dan terus saja melanjutkan rapat.

Dalam rapat itu, mereka membahas siapa saja yang akan menjadi kaisar semut, semut penjaga, dan selebihnya adalah semut pekerja. Kaisar semut adalah anak-anak yang dianggap menguasai pelajaran tertentu. Mereka bertugas menyediakan jawaban untuk soal pelajaran yang diujiankan. Semut penjaga adalah anak-anak yang duduk di sekitar kaisar semut. Mereka bertugas menerima jawaban dari kaisar semut dan menyalurkannya ke semut pekerja. Semut pekerja adalah anak-anak lain yang bergabung dengan jaringan tersebut dan membutuhkan jawaban. Mereka bertugas mengoper jawaban ke satu sama lain. Peta persebarannya cuma mereka yang tahu. Yang jelas, sebisa mungkin itu tidak melibatkan anak-anak di luar jaringan mereka.

Selain itu, yang lebih penting lagi adalah penguasaan diri. Sebab di mana pun lipatan atau gumpalan kertas berisi jawaban itu berada, anak yang sedang memegangnya harus menjaganya supaya tidak ketahuan. Ia harus bersikap sewajar mungkin seakan dirinya bukan satu dari sekian semut dalam jaringan.

Sebetulnya, banyak di antara anak-anak yang tidak mau ikut rapat itu yang potensial sekali sebagai kaisar. Tapi kepelitan mereka dalam memberi jawaban lebih-lebih lagi. Demi menjaga hubungan baik, tidak usahlah menyinggung mereka lama-lama.

“Tapi ada yang bilang tempat duduknya bakal dicampur lagi pas UTS besok,” kata Icang, salah satu peserta rapat.

Itu berarti selama UTS mereka bakal sebangku dengan anak kelas lain, yang biasanya kakak kelas. Karena kapasitas kelas yang terbatas, maka itu juga berarti kelas mereka akan dipecah. Anak dari nomor urut satu sampai dua puluh sekian akan ditempatkan di satu kelas, dan anak dari nomor urut selebihnya di kelas sebelahnya. Itu akan semakin menyulitkan persebaran jawaban. Tapi biasanya kakak kelas juga menerapkan sistem jaringan yang serupa. Untuk itu diperlukan kerja sama yang kompak antar kelas. Itulah yang mau Icang bicarakan.

“Entar sore anak-anak pada mau ngumpul. Kita bisa atur strategi sama mereka.”

Diputuskan bahwa kelas X-7 akan mengirim perwakilan ke pertemuan itu. Ada Icang selaku pengagas dan penghubung kelas, ada Rio yang penanggung jawab jaringan, dan Dean.

Dean ikut saja karena yang menginisasi pertemuan itu rata-rata anak Bastard. Dia sudah lama tidak bersilaturahmi ke tongkrongan mereka, akibat kesibukannya nge-jam sama Kakek, dan akhir-akhir ini, mengarang lagu untuk Rieka. Kesibukan yang entah kapan akan berakhir karena Dean tidak tahu Rieka sebenarnya suka lagu yang bagaimana. Memang Dean belum sempat mencari tahu. Melihat sosok Rieka dari jauh saja sudah bikin dia lupa segalanya.

.

Pertemuan itu diadakan di kelas paling terpencil di bangunan paling terpencil di komplek sekolah. Bahkan dulu ada rumor bahwa itu adalah kelas yang terkutuk. Banyak anak yang jatuh sakit setelah beberapa lama mendiami kelas itu. Tapi sejak rumput liar di lokasi itu rutin dibersihkan dan disemprot dengan asap pengusir nyamuk demam berdarah, rumor itu reda dengan sendirinya.

Ketika Dean dan anak-anak perwakilan kelasnya sampai, pintu kelas itu dijaga dua anak kelas XI bermuka Bastard. Keduanya membukakan pintu untuk mereka dan tampaklah bahwa ruangan itu sudah ramai. Saking ramainya, sampai-sampai ada yang berdiri dan ada yang duduk di meja atau lantai karena tidak kebagian kursi. Semuanya anak kelas XI dan X. Sebagian muka sudah diakrabi Dean di pelataran Tenis Net sebagai muka-muka Bastard. Sebagian lagi mungkin sekadar perwakilan dari kelas masing-masing. Banyak juga di antaranya yang cewek. Dean dan teman-teman sekelasnya pun mencari ruang yang agak leluasa untuk mereka tempati.

Ada yang mengetok-ngetok papan tulis dengan keras. Anak-anak yang tadinya asyik mengobrol dengan satu sama lain mengarahkan perhatian mereka pada sumber suara. Seorang kakak kelas cewek menulis nama-nama kelas berpasang-pasangan di papan tulis, sementara Kang Abuy—yang tadi mengetok-ngetok—membuka pertemuan.

“Kita udah dapet informasi dari Tata Usaha. Pembagian kelas buat UTS besok kira-kira gini,” katanya sambil mengarahkan tangan ke papan tulis. “Boleh dicek kalau besok absennya udah ditempel. Sementara kita pegang dulu yang ini. Selebihnya, tinggal konsolidasi antar anak-anak kelas aja.”

Sementara Kang Abuy menjawab pertanyaan yang mulai bermunculan dari para peserta pertemuan, perhatian Dean teralih pada Kang Haqi. Dean menangkap obrolan orang itu dengan temannya.

“Kamu udah lama enggak ke Tenis Net.”

“Iya nih. Si Rika enggak suka kalau saya nangkring-nangkring di situ. Enggak tahu kenapa.”

“Jangan bilang-bilang atuh.”

“Tetep aja keliatan mah. Sopirnya kan suka parkir deket-deket situ.”

Pertemuan itu lalu kembali berjalan sendiri-sendiri. Kang Abuy bergabung lagi dengan kelompoknya, tampak membicarakan sesuatu dengan tampang serius. Icang dan Rio pun mencari anak-anak kelas XI IPA 7 yang akan menjadi partner kelas mereka pada UTS. Sambil mengikuti keduanya, Dean mengamati tampang-tampang lainnya di kelas itu, baik yang dia kenal maupun tidak. Sesekali masuk ke telinganya sepotong-sepotong ucapan mereka.

“Aku mah asa lebih bangga kalau dapet nilai bagus dari nyontek daripada belajar. Nyontek mah asa lebih menantang.”

“Da hidup mah awalnya juga dari nyontek ke orang tua kita. Cara makan. Cara ngomong. Cara boker….”

“Kemarin si pak anu, yang ngajar Ekonomi, bilang di kelas saya, nyontek teh salah satu bentuk usaha, jadi boleh-boleh aja kalau enggak ketahuan mah.”

“Enggak afdal kalau ulangan enggak pakai nyontek….”

“Nyontek itu seni!”

Mereka bertemu anak-anak kelas XI IPA 7 dan mengobrol-obrol sampai Kang Abuy maju lagi ke muka kelas. Dia menutup pertemuan itu dengan, “Demi orang tua dan nama baik sekolah!” Anak-anak menyambutnya dengan sorakan riuh.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain