Kamis, 19 Oktober 2023

Bahasa Indonesia, Bahasa Kita: Akan Diganti dengan Bahasa Inggris? -- Sekumpulan Pandangan dan Pendapat

Gambar di-screeshot
dari Ipusnas.
Edisi yang Diperbaharui
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Bandung
Cetakan pertama, November 2001
Cetakan kelima, Desember 2015
Edisi elektronik, 2018
ISBN 978-979-419-545-1 (PDF), 978-979-419-368-6

Di dalam buku ini ada 17 tulisan yang hampir semuanya semula pernah diterbitkan di media cetak (surat kabar, majalah) atau merupakan makalah yang dipersiapkan penulisnya sebagai pembicara. Semuanya bertalian dengan bahasa, jelasnya bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing yang dalam pemakaiannya sehari-hari oleh masyarakat di negara kita terdapat banyak problem. Dalam pengantar untuk edisi yang diperbaharui, sudah dipermaklumkan bahwa dalam tulisan-tulisan ini akan ada pengulangan-pengulangan karena dibuat dalam waktu berlainan untuk keperluan dan publik berlainan. Memang setelah membaca beberapa buku (almarhum) Pak Ajip, banyak ditemukan pengulangan. Tidak apa-apa, Pak, biar tercamkan dalam-dalam di sanubari.

Setelah membaca sebagian besar tulisan, saya menangkap benang merah atau garis besarnya adalah anjuran pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalian kritik terhadap pencampuradukkannya dengan bahasa asing serta lunturnya kebanggaan penggunaan bahasa nasional dan terutama bahasa daerah. Persoalan ini kita alami sehari-sehari.

Dalam pengalaman saya sendiri, acap kali saya heran bila menemukan terbitan berbahasa Inggris yang padahal dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia. Terbitan tersebut misalnya konten Instagram, ada pula novel (biasanya yang pop) yang judulnya doang berbahasa Inggris tapi isinya umumnya berbahasa Indonesia--seakan-akan kalau judulnya berbahasa Indonesia tidak akan menarik pembaca. Di sisi lain, saya sendiri termasuk pelaku yang doyan mencampuradukkan berbagai bahasa baik dalam berbicara maupun menulis wkwkwk. Indonesia, Inggris, Sunda adalah komposisi bahasa saya sehari-hari. Saya duga ini problem bagi siapa saja yang sehari-harinya terpapar oleh lebih dari satu bahasa, sehingga timbul kekacauan dalam pikirannya dan ketika mesti mengeluarkan pendapat secara spontan maka terjadilah pencampuradukkan itu. Walau demikian, bagi Pak Ajip tampaknya itu tidak boleh jadi pembenaran. Dalam tulisan "Berbanggalah dengan Bahasa Indonesia", beliau mencontohkan sosok founding father Bung Hatta yang walaupun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi dapat mengendalikan kemampuan itu menyesuaikan dengan tempat dan audiensnya; tahu kapan bisa sepenuhnya berbicara dalam bahasa Belanda, tahu kapan mesti sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, tanpa mesti mencampuradukkannya. Pengendalian diri macam itulah yang beliau sarankan. Nasihatnya di halaman 129, "... jangan dibiasakan berpikir dalam bahasa asing kalau sedang berbicara dalam bahasa Idonesia, sehingga tidak memperhatikan aturan kalimat bahasa Indonesia."

Saya menduga Pak Ajip menghendaki prioritas penguasaan bahasa sebagai berikut:
  1. bahasa daerah,
  2. bahasa nasional (Indonesia),
  3. bahasa asing (di antaranya Inggris, yang paling mendominasi). 
Sedangkan di masyarakat kenyataannya berbolak-balik. Bahasa daerah ditinggalkan, bahasa nasional masih acak-acakan sudah keburu dicampuri bahasa asing. Buat saya sendiri, bahasa Indonesia yang pertama, bahasa Inggris kedua, sedang bahasa daerah bagai pengisi latar atau aksen saja (^^;)v Bukannya tidak ada kesadaran untuk mengapresiasi dan mendalami kedaerahan. Cuma, lagi-lagi, kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan bahasa daerah tidaklah menjadi keharusan dalam pergaulan sehari-hari apalagi di kota besar tempat saya telah menghabiskan sebagian besar umur. 

Membaca buku ini memantik saya untuk merenungkan lagi pemakaian bahasa saya sendiri. Namun, betapapun penguasaan ketiga macam bahasa di atas tampak merupakan gagasan yang ideal, kenyataannya waktu mulai terasa sempit, tenaga makin terbatas, dan situasi sehari-hari yang sedang dialami pun tidak menjadikan hal tersebut sebagai tuntutan. Apalagi untuk bahasa daerah, sebagaimana yang sudah dimaklumi sendiri oleh Pak Ajip di halaman 46, "... penguasaan bahasa daerah dengan baik tidak mempunyai nilai sosial." Nah! Kecuali kalau kelak di Duolingo ada bahasa Sunda dan/atau bahasa Jawa, tentu dengan senang hati saya akan memainkannya mempelajarinya di sana 😂

Yang saya herankan, sepanjang buku ini, tidak sekali pun saya temukan Pak Ajip mengungkit bahasa Arab. Padahal bahasa Arab kiranya boleh dikatakan termasuk bahasa asing yang mulai menggeser kosakata bahasa nasional, sebagai contoh mas/mbak jadi akh/ukh, pria/wanita jadi ikhwan/akhwat, maaf jadi afwan, terima kasih jadi jazakumullah khairan katsira, berprasangka buruk jadi suuzan, menggunjing jadi gibah, dan masih banyak lagi. Memang sepertinya kosakata bahasa Arab itu baru mulai umum belakangan khususnya di komunitas tertentu, sementara tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat sudah belasan tahun lalu bahkan lebih lama lagi sedang kini Pak Ajip sudah tiada. Saya pun jadi bertanya-tanya, seandainya masih hidup dan aktif menulis, bagaimanakah kira-kira sikap Pak Ajip terhadap fenomena ini. Saya pikir, sebagai muslim yang taat, mestilah beliau memaklumi bahwa penguasaan bahasa Arab boleh dianggap penting untuk menunjang ibadah. Namun di sisi lain, sebagaimana terhadap bahasa Inggris, beliau tampak tidak suka bila bahasa daerah/nasional makin terkikis oleh bahasa asing.

Gambar di-screenshot
dari Instagram.
Buku ini dibahas dalam Klub Buku Laswi (bertempat di belakang Toko Buku Bandung yang sekaligus di depan Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut 2, Bandung) pada Rabu, 18 Oktober 2023 kemarin. Di ujung pembahasan ini, Kang Wanggi Hoed memberikan tanggapan menarik yang mengingatkan saya pada ungkapan "bahasa menunjukkan budaya". Kang Wanggi menangkap kekhawatiran Pak Ajip akan fenomena beringgris-ria ini, yang di balik itu sesungguhnya ada suatu kepentingan. Simpelnya: dengan maraknya penginggrisan, tanpa disadari masyarakat pun mengalami pembaratan--jelasnya, mengadopsi nilai-nilai barat yang individualistis, materialistis, dan seterusnya, sehingga menyisihkan nilai-nilai kedaerahan yang mengutamakan gotong-royong, menghargai lingkungan hidup, dan seterusnya, sebagaimana bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tampak memberikan efek psikologis tertentu pada audiensnya, yang entah bagaimana mempersepsikan bahwa kalau dalam bahasa asing itu lebih menarik sedang dalam bahasa sendiri (nasional/daerah) itu inferior. Sayangnya, dampak budaya ini tidak dikupas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan Pak Ajip di buku ini. Oke, kita harus melestarikan bahasa daerah, memperbaiki bahasa Indonesia, dan bijaksana dalam mempergunakan bahasa Inggris. Tapi, mengapa harus demikian? Mengapa itu penting? Apa dampaknya dari melakukan atau tidak melakukan? Bagaimana meyakinkan masyarakat akan dampak-dampak yang terluputkan itu? Bagaimana pemahaman itu dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani? Dan, apakah dengan menuliskannya saja cukup? Siapakah yang mau membacanya belum lagi mengamalkannya dalam skala luas? Bukankah Pak Ajip pun sudah banyak menulis tentang hal ini tapi kenyataan makin jauh panggang dari api? Barangkali ini PR bagi penerus Pak Ajip untuk menjawabnya.

(Buku ini ada di Goodreads tapi cuma 1 edisi dan tanpa kover sebagaimana yang saya baca di Ipusnas. Maka saya mengulasnya di blog ini dengan menyertakan kover dari Ipusnas. Namun kopi yang saya baca di Ipusnas ini ada satu halaman yang tidak ada, yaitu halaman 89.)

Kamis, 05 Oktober 2023

Contoh The Gift Economy dalam Cerpen Anak

(Posting ini untuk penyimpanan sementara supaya mudah ditemukan, kapan-kapan mungkin dipindahkan ke blog lain.)


Tak Usah Kau Takut

Oleh Ny Widya Suwarna

Bobo No. 47/XXIX/02

 

Marta bergegas pulang ke rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian dikukus.

Ketika Marta masuk ke rumah, tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu, sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan lemet.

“Halo, Ma, Marta sudah pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama. Mbak Eni menghela napas.

“Tadi Mbak bawa 50 bungkus. Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi. Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.

“Yaaa, baru jualan satu hari, kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.

Mama tersenyum dan berkata, “Sudah, tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”

Kemudian Mama menyanyi pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”

Marta ikut menyanyi. Ada perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.

Selesai menyanyi, Marta dan Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta memisah-misahkannya di meja.

“Marta, tolong antarkan 5 buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet tadi.

Marta berjalan ke luar rumah sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya. Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang lebih cocok untuk menerima lemet itu.

Marta menyelesaikan tugasnya mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka segera memakan lemet bawaannya.

Tante Ina lain lagi. Ia berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”

“Maunya sih dijual, tapi cuma laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.

Ketika berjalan pulang Marta masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.

“Hei, nona kecil, sini dulu!” tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.

“Ini untuk Oom!” katanya sambil memberikan bungkusan berisi lemet.

“Terima kasih, terima kasih. Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum pulang dari kantor!” kata Oom Martin.

“Duduklah dulu. Oom mau makan kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,

“Sisakan untuk Tante, Oom!”

Oom Martin tertawa terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet. Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!” kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom Martin ini lucu.

Sesudah Oom Martin kenyang makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi. Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau ambil ikan untuk mamamu!”

Oom Martin masuk ke dalam. Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.

“Terima kasih, Oom, Mama pasti senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.

“Ini uang untuk bayar lemet 20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.

“Kembalinya besok, ya Oom!” kata Marta.

“Ah, kembalinya untukmu sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan terima kasih.

Di jalan menuju rumah, tak putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali menyanyi dengan riang,

“Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”




BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN

(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)

Minggu, 01 Oktober 2023

Mengatasi Insecure dengan Points of You

Sabtu (30/9/2023) kemarin, saya menghadiri acara bertajuk "Stop Insecure Yuk Bersyukur" yang diselenggarakan di Nutrihub, Jalan Raden Patah 36 Bandung, oleh Forum Indonesia Muda dan Yayasan Cintai Diri Indonesia, dengan pematerinya Kadek Pramitha, M.Psi., seorang psikolog. Ada dua puluhan peserta yang hadir, umumnya anak muda: pelajar SMA, mahasiswa, juga yang sudah bekerja.

Memasuki ruang acara, di tengah sudah terhampar banyak kartu yang disusun membentuk lingkaran berlapis-lapis. Sebagian besar kartu bertulisan "POINTS OF YOU" di atasnya. Sebagian lagi di lapisan terluar berupa gambar dengan quote. Ada pula yang berupa lingkaran-lingkaran kecil, entah apa yang ada di baliknya. Dua yang belakangan ini tampak digunakan sebagai cadangan, ketika ada yang tidak kebagian kartu utama. 

Sebelum menggunakan kartu-kartu tersebut, selazimnya acara, pembukaan diisi dengan sambutan dari perwakilan tiap-tiap penyelenggara: Nutrihub, Forum Indonesia Muda, dan Yayasan Cintai Diri Indonesia.  


Tampil Mbak Mitha, yang rupanya sehari-hari bekerja di Jakarta. Beliau membuka materi dengan menerangkan tentang "insecurity", definisi dan gejalanya. Insecurity terkait dengan hierarki kebutuhan menurut Maslow. Tiap-tiap kebutuhan apabila belum terpenuhi dapat memunculkan rasa insecure. Bahkan kelaparan pun termasuk, yaitu insecure akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok.

Gambar dari Simply Psychology.

Peserta diminta membuat definisi "insecure" menurut diri sendiri berikut daftar hal-hal yang menyebabkan perasaan demikian, kemudian beberapa diminta untuk membagikannya.

Definisi saya sendiri--yang secara spontan terpikirkan--adalah perasaan tidak aman dalam situasi tertentu, khususnya dalam relasi dengan orang lain; perasaan rendah diri. Sesaat saya menarik kesimpulan bahwa rasa insecure umumnya berkaitan dengan pencapaian duniawi yang tidak terpenuhi, terlebih kala terpicu oleh pencapaian orang lain sehingga otomatis membanding-bandingkan. Kalau dipikirkan lagi secara luas, misalnya dalam perspektif Maslow, tentu penyebab insecure bukan itu saja.

Sembari memikirkan daftar saya sendiri, yang cenderung abstrak alias tidak spesifik, terlintas lebih jauh: kenapa pula saya harus mencapai hal-hal itu? Ada apa di balik hal-hal itu? Kebutuhan untuk survival? Self-esteem? Bagaimana jika kenyataannya saya masih bisa survive tanpa perlu mencapai apa yang dilalui orang lain? Bagaimana jika self-esteem dapat saya peroleh dengan cara yang unik, alih-alih dengan cara yang sama seperti yang diraih orang lain? Saya duga mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih jauh seperti itu, why and how, dan berusaha menemukan jawabannya bisa meredam rasa insecure yang timbul. 

Dari daftar penyebab insecure itu, Mbak Mitha memberikan petunjuk untuk memilih satu yang mau diproses diiringi niat untuk tidak akan memaksakan.

Mbak Mitha.

Dilanjutkan dengan sesi "duduk hening" selama lima menit. Dalam sesi itu, kami diminta memejamkan mata. Ada suara yang mengiringi. Terus terang saya tidak begitu mengindahkan suara yang disetel, saya lebih berfokus pada kesempatan untuk merelakskan diri setelah bersepeda selama setengah jam lebih (mungkin mendekati satu jam) ke lokasi yang pagi itu begitu terik cerahnya. Mbak Mitha bilang, sesi ini bukanlah meditasi. Saya duga ini merupakan mindfulness practice. Saya sendiri lagi berusaha menerapkan ini di sela-sela aktivitas, rebahan dan do nothing walau seringnya malah mindlessly scrolling HP :p

Barulah dimulai sesi utama dengan kartu Points of You. Kartu ini mungkin mengingatkan pada tarot, sebagaimana diungkit sendiri oleh Mbak Mitha. Metodenya: kita mengambil kartu secara acak kemudian menginterpretasikan hasil yang diperoleh, mengaitkannya dengan persoalan yang sedang dialami. Namun, saya pikir, alih-alih untuk meramalkan nasib, Points of You merupakan alat bantu untuk memantik self-awareness dan berfokus pada satu permasalahan.

Lingkaran kartu sebelum dijamah peserta.

Kartu pertama yang diambil adalah yang berada di lapisan-lapisan dalam, bentuknya hampir kotak dan berbintik-bintik. Di balik kartu itu ada gambar disertai tulisan. Mbak Mitha menanyakan mana yang kami tangkap terlebih dahulu, gambar atau tulisan? Manapun, kami diminta mengembangkan narasi terkait persoalan diri dari situ.

Pada kartu yang saya ambil, yang pertama-tama tertangkap oleh penglihatan saya adalah gambar kepala kucing oren yang rupanya lagi berusaha minum dari keran yang mengucurkan sedikit air. Kucing oren itu tampak tak terurus, di mata dan hidungnya ada kotoran. Tulisan yang tertera di bawahnya adalah "Solutions" lengkap dengan terjemahannya, "Solusi". Seketika saya pikir mendapat kartu yang bagus, positif--optimistis. Seketika saya dapat mengaitkan diri. Saya suka jika bisa menjadi solusi. Saya orang yang banyak ide. Saya bahkan bisa mengaitkan diri dengan si kucing oren yang tak terurus itu, apalagi rumah saya sendiri literally rumah singgah bagi kucing-kucing buangan kurang perawatan. Seketika baris-baris puisi Chairil Anwar melintas di benak saya, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang," memerikan alur hidup saya yang memang "liar"(?). Mungkin pula dari segi akhlak masih rada barbar, ya persis si kucing oren dalam gambar. Yang tak kalah mengena adalah aliran air yang sedikit saja keluar dari keran itu. Si kucing sedang berusaha menyambung nyawa dengan air yang mengucur kecil. Lagi-lagi persis! Saya pun sedang belajar untuk mensyukuri yang sedikit, yang dapat saya peroleh dengan segenap keterbatasan saya. Dengan apapun itu yang telah tersedia di sekitar saya, saya mesti berusaha untuk menyambung hidup sampai ajal tiba. That dirty orange cat striving for a little water from the rusty tap is my new spirit animal

Ciluk ...
Merasa dapat kartu bagus, saya lirik kanan-kiri dan membaca kartu milik orang lain. Ada yang dapat "Guilt"/"Bersalah", ada juga yang "Self-pity"/Mengasihani diri sendiri. Ah, bagi saya mah itu sudah lewat. Saya sudah punya "Solusi"!

Setelah sesaat menginterpretasikan perolehan masing-masing, kami diminta mengambil kartu lain yang berada di lapisan setelah kartu yang pertama itu. Kartu yang ini berbentuk persegi panjang tanpa bintik-bintik. Setelah membalik kartu tersebut, saya menghadapi satu kata yang bikin saya tidak merasa begitu "bagus" lagi, yaitu "Penilaian". Ya, tentu saja. Setelah menemukan "Solusi" dan menjalankannya, kita akan berhadapan dengan "Penilaian". Apakah "Solusi" tersebut memang layak untuk dijalankan? Apakah "Solusi" tersebut benar-benar mengatasi permasalahan? Bagaimanakah "Penilaian" orang lain terhadap "Solusi" yang kita jalankan itu? Bagaimanakah "Penilaian" kita terhadap diri sendiri setelah beberapa lama menjalankan "Solusi" tersebut? Apakah ada perubahan? Atau sama saja? Akankah kita terus menjalankan "Solusi" itu setelah mendapat "Penilaian" dari mana-mana? Ini PR yang mesti dipikirkan dengan serius tentu saja, untuk memutuskan apakah hendak bertahan atau meninggalkan dan cari "Solusi" lain.

... baaa!!!
Kartu berikutnya berada di lapisan lebih luar lagi, bentuknya sama persegi panjang tetapi kembali berbintik-bintik. Kartu ini berisi pertanyaan. Saya mendapat: "Apa yang membuatku sempurna?" Seketika saya menjawab dalam hati: "Tentu saja tidak akan bisa mencapai kesempurnaan!" Hanya kalau berhubungan dengan orang lain saja, khususnya dalam berjual beli, kita dituntut untuk "sempurna". Produk atau layanan yang tidak sempurna akan bikin pembeli kecewa malah enggan membeli lagi. Namun di balik kesempurnaan yang dijualkan itu, apakah memang sempurna? Kita memiliki smartphone yang dibuat dengan sempurna, misalnya. Tidak ada cacat, semua fiturnya berfungsi baik, melancarkan segala kebutuhan digital kita, dan seterusnya. Namun, apakah masih sempurna setelah mengetahui bahwa untuk mengisi dayanya kita menggunakan listrik yang berasal dari batu bara yang untuk membuka tambangnya, pabriknya, dan segala-galanya, mesti dengan merusakkan kesempurnaan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna? So, to hell with "Penilaian?" Di sisi lain, ada baiknya juga untuk bersikap seperti laron yang mengejar bintang alih-alih menabrak lampu langsung mati. Sebagaimana pernyataan yang saya temukan dalam buku The ACT Workbook or Depression and Shame, "You can never reach or achieve a value; rather these are qualities that a person might strive for." Sebagaimana kata mutiara yang konon katanya dari Bung Karno, "Bermimpilah setinggi langit, kalau gagal setidaknya kau jatuh di antara bintang-bintang dan tersedot ke dalam supermassive black hole." Maksudnya, kesempurnaan tetap perlu untuk didefinisikan dan diupayakan sekalipun kita tahu tak akan mencapainya.

Dari urutan kartu yang saya dapatkan, saya menyimpulkan bahwa ini mengenai optimisme, hambatan, dan solusinya. Ya, bahkan "Solusi" pun masih perlu diatasi dengan solusi lain. Seperti yang nanti dikutipkan oleh Mbak Mitha di penghujung acara, "Belajarlah untuk menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan." Lengkapnya, "Belajarlah untuk siap dalam ketidaksiapan."

Setelah merenungkan makna dari kartu-kartu saya sendiri, saya lirik kanan-kiri lagi dan tentunya menyimak peserta-peserta lain yang membagikan interpretasi terhadap kartu-kartu mereka. Sebagai sampel, peserta lain mendapatkan kombinasi kartu berikut.

Guilt/Bersalah - Kegagalan - Apa yang membuat aku bergairah?

Self-pity/Mengasihani diri sendiri - Permulaan - Apa yang membuatku tertawa?

Calling/Panggilan - Terhenti - Apa yang aku hindari?

Now/Sekarang - Cinta - Di area mana aku pernah sukses?

Selain itu, ternyata ada yang mendapat kartu berisi sama misalnya "Kematian" dan "Cinta". Sebelumnya saya kira semua kartu tersebut isinya berbeda.

Apa yang menentukan kita mendapatkan kombinasi kartu tertentu, sedang orang lain memperoleh kombinasi lainnya? Kebetulan? Takdir? Atau kartu ini memang dirancang untuk memuat persoalan-persoalan pribadi yang pokok dan umum, sehingga mau mendapat kombinasi yang manapun, setiap orang pasti bisa mengaitkan diri dan mengembangkan narasi pribadinya? Melihat kombinasi kartu yang didapatkan orang lain, saya pikir saya bisa mengembangkan narasi pribadi juga dari situ. Ada yang tampaknya sebagai persoalan yang sudah berlalu, tapi jangan-jangan cuma terkubur saja oleh persoalan lain padahal belum benar-benar teratasi. Malah, kita bisa saja "memainkan" kartu ini setiap bulan, misalkan, untuk "mengundi" permasalahan mana yang akan jadi fokus kita selama sebulan ke depan. 

Karena kebetulan dalam kesempatan ini saya mendapatkan Solusi - Penilaian - Apa yang membuatku sempurna?, maka saya bisa berfokus pada hal itu untuk sementara waktu. Misalnya, saya pikir telah mendapatkan "Solusi" atas persoalan "insecurity" saya, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan makna dari berbagai penyebab rasa itu; ditambah dengan melakukan pendalaman spiritual untuk menyadarkan diri akan apa yang sejatinya perlu dicapai dalam kehidupan ini. Mengingat mati jadi satu cara untuk tenang. Bukan berarti saya merasa percaya diri telah menyiapkan cukup bekal akhirat, melainkan lebih berupa kelegaan karena serasa dibantu mengerucutkan tujuan sehingga menyingkirkan sekian persoalan lain yang rupanya tidak begitu esensial.

Jadi saya pikir telah menemukannya, meski masih sering teralihkan. Saya hendak menjalani kehidupan dengan jawaban itu, tapi bagaimanakah saya akan menyikapi penilaian dari mana-mana yang akan menyambut dalam perjalanan ini? Penilaian yang munculnya bukan hanya dari orang lain, melainkan juga diri sendiri. Toh penilaian dari diri sendiri bisa saja tidak kalah sadis daripada orang lain. Mungkin penilaian-penilaian itu bukannya untuk ditolak sama sekali, mungkin ada baiknya dipertimbangkan dengan tenang. Manakah yang boleh ditolak dan yang perlu diterima? Saya perlu terus belajar untuk menjadi bijaksana, dapat membedakan mana yang dapat ditoleransi mana yang tidak dan sebatas apa menoleransinya.
The reason we struggle with insecurity is because we compare our behind-the-scenes with everyone else's highlight reel.
- Steven Furtick
Mbak Mitha menanggapi setiap peserta yang telah berbagi seperti memberikan konseling singkat, yaitu dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan. Di slide beliau menampilkan types of insecurity, 50 questions to know your deepest insecurities, serta cara-cara untuk coping atau penyelesaian konflik yang saya catat sebagai berikut:

1. Kenali alasan, kenapa dan bagaimana bisa terjadi (mengajukan pertanyaan-pertanyaan),
2. Efeknya pada diri (mengenali jenis-jenis emosi),
3. Ketahui berapa lama telah terjadi,
4. Apa yang perlu dikelola, bagaimana caranya?

Pada akhirnya, kita perlu menentukan tindakan dan melaksanakannya. Tindakan itu dirumuskan secara berkala: apa yang akan dilakukan dalam sehari ke depan, seminggu, sebulan? Contoh yang diberikan di antaranya afirmasi diri dan duduk hening. Cara-cara ini merupakan latihan mental agar tidak terpuruk ketika jatuh lagi. 

Kembali pada perumpamaan laron yang mengejar bintang dikombinasikan dengan masukan dari The ACT Workbook for Depression and Shame, setelah menentukan "bintang" (value) yang hendak dicapai, you need to set goals that are in line with them. Value berarti arah yang hendak dituju berdasarkan apa yang dianggap penting, cahaya pemandu untuk mencapai kebermaknaan. Meski begitu, value bersifat abstrak: hanya arahan, bukan instruksi mendetail untuk mencapainya. Detailnya ditetapkan berupa goal yang diiringi intention, yaitu cara untuk mewujudkan value jadi tindakan pada waktu dan tempat tertentu. 

Terima kasih untuk Nutrihub, Forum Indonesia Muda, Yayasan Cintai Diri Indonesia, Mbak Kadek Pramitha, dan terutama teman saya (dan temannya) yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti acara ini :)

Sabtu, 16 September 2023

Praktik-praktik Konservasi Lingkungan Secara Tradisional di Jawa

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Purnomo, S. Si.
Penerbit : Universitas Brawijaya Press (UB Press)
Cetakan : pertama, Juni 2015
ISBN : 978-602-203-751-4

Jawa yang dimaksud dalam buku ini adalah Pulau Jawa secara keseluruhan, tidak hanya mencakup suku Jawa yang umumnya menempati Jawa Tengah dan Jawa Timur tetapi juga suku Sunda di Jawa Barat dan Banten. Kedua suku itu dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan wilayah dan kulturnya. Suku Betawi, misalnya, ternyata merupakan sub-suku Sunda. Di antara yang termasuk ke dalam suku Jawa ada yang memiliki kebudayaan khas seperti Samin, Tengger, dan Osing. (halaman 55).

Kita tahu bahwa Jawa merupakan kawasan terpadat di Indonesia (malah mungkin termasuk salah satu yang terpadat di seluruh dunia). Jumlah penduduk terus bertambah, lahan makin berkurang lagi menurun kualitasnya. Air tercemar, bahkan di tempat tertentu udara tak lagi layak hirup. Harimau jawa telah punah, badak jawa terpojok di Taman Nasional Ujung Kulon; tekanan terhadap keanekaragaman hayati sangatlah besar. 

Namun di sela-sela kepadatan itu masih terdapat upaya-upaya pelestarian lingkungan oleh pemerintah dan masyarakat. Pemerintah berperan dalam menetapkan dan mengelola kawasan konservasi, adapun masyarakat melalui kearifan lokal mempertahankan cara hidup tradisional yang tidak merusak lingkungan.

Bagi saya, keturunan Jawa yang tumbuh tinggal dalam gaya hidup kota besar selama bergenerasi-generasi (sejak kakek-nenek dan hampir-hampir tidak mengenal lebih daripada itu), membaca buku ini seperti menemukan akar budaya yang telah tercerabut begitu lama hingga tak berjejak, khususnya dalam interaksi dengan alam sekitar. 

Saya tak mengakrabi falsafah hidup orang Jawa yang ternyata ada begitu banyaknya, apalagi yang sampai meliputi produk alam seperti jamu. Ya, kalau ada "filosofi kopi" kenapa tidak dengan "filosofi jamu" (mungkin bisa dikembangkan jadi novel lainnya? :v)? Malah kedelapan macam jamu itu rupanya melambangkan perjalanan manusia sejak baru lahir sampai akhir hidupnya (halaman 71-72). 

Selain itu, ada pula mengenai jati (halaman 74-77). Dari pemaparan mengenai tipe-tipe tanaman jati berikut peruntukannya, ditarik kesimpulan bahwa orang tak boleh sembarangan dalam menebang dan menggunakan pohon. Ada cara tertentu dalam menebang jati, misalkan didahului dengan upacara dan ditentukan arah mata anginnya. Buku ini kemudian menjabarkan kepercayaan bagaimana jati tertentu (terutama berdasarkan pada tipe percabangan, tempat tumbuh, dan kondisi hidup) dapat menimbulkan energi positif atau negatif dalam pemanfaatannya. Sebagai contoh: jati bercabang 5 disebut pendawa, dipercaya kuat dan dapat mendatangkan kemakmuran sehingga disarankan untuk dijadikan bahan bangunan kantor pemerintahan; ada pula gandongan yaitu jati yang tumbuh dari cabang kayu dan kalau digunakan untuk rumah akan membawa penghuninya mudah memiliki niat yang tidak baik. Semuanya ada dari a sampai z. Saya jadi bertanya-tanya, apa berbagai keburukan yang terjadi di kehidupan ini di antaranya dikarenakan orang memakai jati (ataupun jenis pohon lainnya yang juga terdapat kepercayaan semacam ini) dari sumber yang salah untuk keperluan rumahnya? Entah apa sebetulnya ada penjelasan rasional di balik kepercayaan ini, misal agar tidak membabat habis semua jati tetapi menyisakan sebagian yang memiliki kriteria tertentu demi kepentingan ekosistem. Kalau ada hasil penelitian ilmiah yang membuktikan kenapa boleh begini kenapa tidak boleh begitu tentu bakal lebih meyakinkan, tetapi juga bakal makan waktu sangat lama sementara laju pengrusakan begitu cepatnya. Menuruti saja kepercayaan yang ada bisa jadi merupakan langkah efisien, ketimbang trial sendiri malahan banyak error. Proporsional saja.

Ada sejumlah tumbuhan lain yang digunakan masyarakat Jawa untuk membuat bangunan, di antaranya bambu. Disertakan tahapan pemanenan dan pengawetan kayu atau bambu (halaman 78). 

Dalam buku ini tentunya diangkat pula mengenai praktik-praktik ritual yang bertalian dengan konservasi lingkungan, meskipun tidak dibenarkan menurut ajaran tertentu. Kalau caranya tidak boleh seperti itu, apakah alternatifnya supaya esensi konservasi lingkungan itu tetap terwujudkan? Saya berharap ajaran yang kontra terhadap cara semacam itu bisa menawarkan solusinya secara lebih gencar, karena sudah jelas perintah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sudah jelas pula menyangkut tujuan hidup manusia sebagai khalifah fil ardh dan rahmatan lil alamin. Tanpa gaya hidup yang mendukung konservasi lingkungan, apakah bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat. Yang menarik, halaman 85 buku ini menyatakan bahwa pandangan filosofis, terhadap hewan misalnya, tidak cukup berdampak dalam upaya konservasinya. Kiranya ini sejalan dengan realitas bahwa ilmu tidak serta-merta mengubah akhlak.

Cara hidup masyarakat Baduy di Banten serta Tengger di Jawa Timur mendapat sorotan tersendiri di akhir buku. Saya pikir mereka--Baduy khususnya--adalah contoh sebagaimana yang dimaksudkan dalam buku The Moneyless Manifesto Mark Boyle, mengenai cara hidup yang langsung berhubungan dengan alam tanpa perantaraan uang. Cara hidup yang layak dipelajari dan diteladani sebisa-bisanya.

Kamis, 24 Agustus 2023

Menjelajah Taman Nasional Ujung Kulon

Penulis : T. Bachtiar
Penerbit : PT Kiblat Buku Utama, Bandung
Cetakan ke-1, Menembus Belantara Ujung Kulon, 1985
Cetakan ke-2, 2007
Edisi Kiblat Buku Utama Cetakan ke-1, Oktober 2018
ISBN 978-979-8004-20-9

Buku ini ditulis pada zaman PELITA III, mula-mula terbit pada 1985 dan meraih penghargaan Yayasan Buku Utama tahun itu juga. Isinya merupakan kombinasi antara pelajaran IPA dan catatan perjalanan yang dikemas secara naratif (dengan tokoh-tokoh dan serangkaian peristiwa walaupun "cerita" baru benar-benar terjadi di dua bab terakhir). Sebagai bacaan untuk anak muda (hanya 97 halaman), buku ini dilengkapi dengan banyak amanat yang kadang-kadang religius serta bumbu romance yang tipis-tipis saja. 

Dalam buku ini, penulis menjadi dirinya sendiri yang ceritanya sedang mengantar sekelompok remaja menjelajahi Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya TNUK) dalam liburan sekolah. Para remaja itu adalah Nesi, Deti, Giri, dan Andri (yang disebut juga sebagai Pak Kopral Adun,); mereka memanggil penulis sebagai Kang Bach. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama serbatahu, karena ia bisa mengetahui juga apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh remajanya.

Setiba di TNUK, mereka ditemani oleh Pak Wawan insinyur lulusan Fakultas Kehutanan IPB (mulai bab 1 dst). Kemudian ada Pak Karman (bab 2), lalu Pak Usup (mulai bab 3 dst). 

Tiap bab diakhiri dengan rencana perjalanan selanjutnya. Bahkan di ujung bab terakhir pun ada rencana untuk kembali ke TNUK tahun depannya.

1. MENUJU UJUNG KULON
Mereka memasuki TNUK melalui jalur laut, menggunakan perahu selama 6 jam dari Labuan (letak kantor Sub-Balai Kawasan Pelestarian Alam Ujung Kulon tempat mengurus izin dsb) ke Pulau Handeuleum kemudian menginap semalam di sana sebelum memulai perjalanan. 

2. MENYUSURI CI GENTER
Sebelum memulai perjalanan menyusuri Sungai Cigenter, Pak Wawan menjelaskan sejarah Taman Nasional Ujung Kulon (halaman 22). Perjalanan susur sungai dilakukan dengan perahu dari dermaga Pulau Handeuleum; Pak Karman turut sebagai jurumudinya. Saat menyusuri sungai melalui hutan bakau (halaman 26), sempat terjadi ketegangan karena bertemu buaya (halaman 28). Mereka berhenti di sebuah padang penggembalaan atau tegalan yang ada menara pengintai. Dari menara itu, mereka dapat meneropong babi hutan yang rupanya memiliki peran penting dalam ekosistem (halaman 30). Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang.melewati Teluk Selamat Datang dan Tanjung Alang-alang.

3. PESONA LAUT DANGKAL PULAU PEUCANG
Di Pulau Peucang, mereka dapat menyelam dengan scuba (scuba diving) dan menikmati keindahan dan kekayaan panorama bawah laut (halaman 37).

4. MENEMBUS BELANTARA UJUNG KULON
Di pesanggrahan, mereka bertemu dan berkenalan dengan rombongan Pecinta Alam dari Jurusan Geografi IKIP Bandung yaitu JANTERA. (Nantinya mereka muncul lagi di belakang). Mereka lalu kembali menaiki perahu ke Ujung Kulon, tepatnya hutan Cikuya. Memasuki hutan Ujung Kulon, ada etiketnya. Orang tidak boleh berbicara sembarangan, dan mesti dengan suara pelan (halaman 48). Selain itu, ada tip umum dalam melakukan perjalanan di alam yaitu membungkus barang-barang dengan plastik agar tidak kebasahan kalau-kalau nanti tercebur ke sungai (halaman 51). 

Bab ini adalah yang paling panjang karena di dalam hutan ada banyak hal yang ditemui dan dengan begitu memantik untuk menjelaskan banyak hal pula. Mereka bertemu jejak ajag dan badak (halaman 53 dan halaman 54), kotoran macan tutul (halaman 56), kera-kera, kura-kura (halaman 61), pemburu sarang burung walet (halaman 64), melewati pandan dan kelapa yang merupakan vegetasi khas pantai selatan Ujung Kulon, dan seterusnya. 

Di Pantai Cibunar mereka bermalam dengan membuat bivak dari dahan dan ranting. Giri dan Andri mendapat giliran berjaga pertama dan terpengaruh oleh cerita-cerita horor yang banyak beredar di kawasan Ujung Kulon. Terdengar suara aneh yang merupakan foreshadowing bagi peristiwa yang akan terjadi di bab berikutnya.

5. PARA PENCURI PENYU HIJAU
Setelah bab-bab sebelumnya sarat oleh perjalanan dan pelajaran, baru di bab inilah "cerita" benar-benar terjadi. Bab ini termasuk paling panjang, walau tidak sepanjang bab sebelumnya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai dari Cibunar ke Ciramea yang merupakan area penyu bertelur. Mereka melewati Sang Hyang Sirah yang berhawa mistis. Namun, setiba di Ciramea, Giri menyadari teropongnya tertinggal di Cibunar sehingga ingin balik ke sana dan Andri memutuskan untuk menemaninya. 

(SPOILER.) Sepeninggal keduanya, Pak Usup mendapat giliran berjaga pertama. Ia memergoki pencuri telur penyu, diculik oleh mereka, dan disekap di gua Sang Hyang Sirah. Giri dan Kopral yang memutuskan untuk kembali segera--setelah mengambil teropong di Cibunar--melewati tempat itu dan menemukan Pak Usup. Mereka tergesa-gesa kembali ke Ciramea untuk melapor kepada Kang Bach dan Pak Wawan. Kang Bach dan Pak Wawan pun ke Sang Hyang Sirah untuk menyelamatkan Pak Usup, tetapi malah ikut disekap setelah pencuri telur penyu kembali dengan membawa lebih banyak orang. Giri cs yang berjaga di Ciramea lalu kedatangan rombongan JANTERA. Mendengar peristiwa itu, mereka bersama-sama ke Sang Hyang Sirah (khususnya yang laki-laki, sedang yang perempuan tetap di Ciramea) untuk meringkus para pencuri. Suara aneh yang terdengar di bab sebelumnya ternyata suara perahu para pencuri. Dengan perahu itu, para pencuri yang telah ditaklukkan dibawa ke Taman Jaya.

6. PERJALANAN PULANG YANG MENYENANGKAN
Setelah terjadinya huru-hara di bab sebelumnya, mereka pulang ke arah barat dan mendapat reward berupa perjumpaan dengan badak. Mereka mengamati dari atas pohon supaya tidak mengganggu si badak. Selain itu, karena telah membantu meringkus penjahat, mereka mendapat undangan untuk datang lagi ke TNUK tahun depan--gratis!

Dengan adanya peristiwa di bab 5 itu, timbul kesan bahwa pada masa itu TNUK masih kekurangan tenaga patroli dan fasilitasnya belum memadai (di antaranya belum dibangun pos ronda dan shelter di Cibunar dan Ciramea, halaman 94). Entah sekarang.

.

Sepanjang perjalanan menjelajahi TNUK ini, banyak pengetahuan dan amanat terkait hal-hal yang ditemui para tokohnya. Pengetahuan itu berdasarkan pada buku, majalah, dan surat kabar (halaman 95, "DAFTAR PUSTAKA"). Banyak pengetahuan yang berupa teori tetapi ada juga yang praktis, misalnya ditunjukkan caranya melakukan penelitian dengan mengukur suhu air laut dan membuat dokumentasi (halaman 37), menyensus badak di antaranya dengan mengukur panjang jejaknya (halaman 54), serta mencari tahu pakan macan tutul dengan mengambil kotorannya kemudian mencucinya sehingga tertinggal sisa-sisa hewan yang dimakannya (halaman 56). Sekalian disisipkan kritik akan kurangnya praktik, khususnya dalam pelajaran biologi, sehingga yang banyak meneliti sumber daya alam Indonesia justru pihak asing bukannya bangsa sendiri. 

Karena buku ini mula-mula terbit pada 1985, saya jadi membayangkan Deti diperankan oleh Desy Ratnasari (yang tenyata baru lh. 1973 sehingga pada waktu itu usianya kurang lebih masih 12 tahun, wkwk) sedang Nesi oleh Paramitha Rusady (lh. 1966 berarti kurang lebih 19 tahun, cocok lah).

Jumat, 28 Juli 2023

Perjumpaan dan Percakapan: Sepilihan Esai-esai Sastra

Gambar di-screenshot
dari Ipusnas.
Penulis : Achmad Sultoni

ISBN : 978-623-5287-83-6

E-ISBN : 978-623-5422-63-3

Edisi I, Digital 2022

Cetakan Pertama, Mei 2022

Penerbit : Jejak Pustaka, Yogyakarta


Timbul dorongan untuk mencoba Ray Bradybury Challenge, yaitu membaca 1 puisi, 1 esai, dan 1 cerpen setiap hari. Sebetulnya tantangan itu juga mencakup menulis 1 cerpen setiap minggu, tetapi betapapun sudah meluangkan waktu dan memaksakan diri, tampaknya saya mesti terima sudah tidak lagi memiliki daya batin untuk mengarang kreatif (hiks). Maka saya mencari kumpulan esai di Ipusnas (tanpa ingat bahwa kalau dicari di lemari-lemari rumah sebetulnya sudah tersedia banyak yang belum dibaca) dan buku inilah yang pertama-tama menarik minat saya. Walaupun dalam menjalaninya ada hari-hari yang bolong, akhirnya saya menyelesaikan ke-20 esai dalam buku ini selama hampir 4 minggu :v

Esai-esai dalam buku ini sebelumnya sudah diterbitkan di berbagai media, di antaranya Minggu Pagi, Radar Banyumas, dan Harian Rakyat Sultra dalam rentang 2013-22. Dalam pengantarnya, penulis mengatakan bahwa biasanya ia terpantik untuk menulis esai setelah membaca suatu teks sastra. 

Esai-esai yang ditaruh di awal umumnya merupakan apresiasi buku kumpulan puisi. Di antara buku kumpulan puisi itu sepertinya adalah karya rekan-rekan penulis sendiri, atau yang masih sedaerah. Dengan begitu, penulis tampak sekalian mempromosikan sastrawan lokal dari daerah Banyumasan dan sekitarnya. Di tengah ada beberapa esai mengenai prosa. Esai-esai yang belakangan mengenai pengajaran literasi di masyarakat, mencakup sekolah dan keluarga. Sastra anak mendapat sorotan penting karena pada usia dini anak-anak masih mudah ditanami pengaruh agar meminati sesuatu.

Esai-esai dalam buku ini menunjukkan kepada saya bahwa ulasan buku yang selama ini saya suka buat bisa saja ditulis dalam bentuk esai, dalam arti lebih terstruktur, rapi, fokus, ditunjang referensi secukupnya (misal membandingkan dengan karya lain yang lebih terkenal).  Esai-esai dalam buku ini pun rata-rata pendek saja mungkin cuma beberapa ratus kata, biasanya diakhiri dengan harapan besar penulis agar masyarakat lebih bergairah dalam kegiatan literasi. Esai tidak mesti mengandung gagasan wah, tetapi bisa saja sekadar ungkapan apresiasi yang tulus lagi sederhana untuk membesarkan penulis dan karya yang menjadi perhatian.

Berikut saya ringkaskan esai-esai dalam buku ini disertai komentar kalau ada.

1. Petak Umpet Puisi Terselubung

Puisi seperti permainan petak umpet. Ada penyair yang menyembunyikan maksudnya sedalam-dalamnya supaya tidak mudah ditemukan, tetapi ada juga yang play easy biar lekas dimengerti.

2. Tidak Gaduh dengan Puisi

Esai ini mengomentari peristiwa terkini (atau pada saat ditulisnya, sekitar 2018) yaitu: 1) Denny JA dengan gagasan "puisi esai" yang kontroversial, menganggap puisi bagian dari marketing; 2) Sukmawati yang membacakan puisi yang dianggap melecehkan syariat Islam; 3) Ganjar Pranowo yang kurang lebih berbuat hal sama, tetapi puisinya itu ternyata karangan orang lain (A. Mustofa Bisri, 1984). Dalam era media sosial sekarang pun, puisi dapat kembali memasyarakat karena siapa saja dapat membuatnya karena bentuknya yang singkat dan to the point. Puisi kembali populer di ruang publik tetapi dengan cara yang tampaknya disalahgunakan, sehingga penulis esai ini tak menghendakinya.

3. Puisi dan Pesan Alam

Esai ini mengangkat istilah "sastra hijau", yang contohnya adalah karya-karya Ahmad Tohari. Penulis menyebut referensi lain (yang bikin saya tertarik untuk mencarinya) seperti buku Lingkungan Hidup dalam Sastra serta Air Mata Manggar (kumpulan puisi Arif Hidayat, Basabasi, 2018). Pada intinya, esai ini mengapresiasi puisi-puisi Arif Hidayat dalam buku yang diterbitkan oleh Basabasi itu, khususnya yang bertemakan alam dan menyandingkannya dengan penggalan karya pendahulu seperti Ahmad Tohari dalam novel Orang-orang Proyek. Keduanya sama-sama mengangkat tentang alam dan pencemaran, tetapi ada kontras. Kalau Ahmad Tohari mengenai kedekatan manusia dengan alam, Arif Hidayat tentang keberjarakan. Arif Hidayat menggunakan ungkapan-ungkapan seperti "sawah-sawah yang ditumbuhi rumah" serta "cahaya bintang memaafkan jalan di perkampungan". Apakah puisi atau sastra secara umum memang efektif untuk menyadarkan pembaca akan kondisi alamnya? 

4. Potret Desa dalam Puisi

Esai ini masih membahas puisi-puisi Arif Hidayat dalam Air Mata Manggar dan mengaitkannya dengan Ahmad Tohari (kali ini dengan mengambil penggalan dari Di Kaki Bukit Cibalak). Namun di sini yang disorot adalah tema pedesaan ketimbang alam. Walau masih beririsan, desa mencakup aspek sosial budaya. Yang menarik buat saya dari esai ini adalah ketika membandingkan pola kerja di kota yang katanya dituntut serba cepat atau diatur waktu sementara di desa bisa santai. Padahal saya mengira pekerjaan di desa seperti menanam bukankah perlu menyesuaikan dengan waktu (iklim dsb) juga? Mungkin karena kehidupan di kota terkungkung oleh bangunan sehingga terputus dari alam dan bisa sampai lupa waktu (overwork), sementara di desa mengikuti ritme alam?

5. Menapaki Jalan Batin Puisi

Esai ini membahas kumpulan puisi Sartika Sari, Elegi Titi Gantung (Pustaka Senja, 2016). Penulis mengonfirmasi pendapat orang lain yang ada di buku tersebut, yaitu bahwa kumpulan ini banyak mengangkat tema kerinduan, sejarah, dan kritik sosial. Puisi adalah fragmen perjalanan batin penyair, katanya.

6. Estetika Perenungan Puisi Dharmadi

Esai ini membahas kumpulan puisi Dharmadi, Larik-larik Kata (Kosa Kata Kita, 2016), yang suka mengangkat tema spiritualitas Jawa (kejawen) dan kematian, dibandingkan dengan buku kumpulan puisi yang sebelumnya dari sang penyair (terbit 2012). Menurut sang penyair, puisi adalah hasil dari kegiatan membaca teks, alam, kehidupan dan diri; puisi merupakan sarana meng-"abadi"-kan diri melalui meditasi dan perenungan. Dalam esai ini dikutip kata-kata dari Sapardi Djoko Damono (puisi memerlukan kemampuan bermain-main dengan bahasa) dan Made Sunjaya (perbedaan antara spiritualis dan religius adalah spiritualis mengenai hubungan ketuhanan tanpa terikat oleh agama sedangkan religius berpanutan pada agama).

7. Babad Tulah: Cara Teguh Trianton Merawat Ingatan

Esai ini membahas buku kumpulan puisi terbaru Trianton, Babad Tulah (Tidar Media, 2020). Ada protes sosial dan warna budaya Banyumas, dibandingkan dengan buku kumpulan puisi yang sebelumnya dari sang penyair, yaitu Ulang Tahun Hujan. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis dalam rentang 2013-19, berkaitan dengan membaca masa lalu berulang-ulang. 

8. Suluk

Esai ini diawali dengan menjelaskan pengertian suluk dalam dunia tarekat dan bagaimana para wali menggunakannya untuk mendakwahkan Islam di Jawa. Yang masih rajin menggunakan suluk di antaranya adalah Emha Ainun Nadjib. Selanjutnya esai ini membahas buku kumpulan puisi Dimas Indiana Senja, Suluk Senja (Pustaka Senja, 2015) yang puisi-puisinya menyerupakan suluk dan mengangkat tema hubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk.

9. Takwil Perempuan Puisi Yanwi Mudrikah

Esai ini dibuka dengan memperkenalkan kepenyairan Yanwi Mudrikah, perempuan Banyumas kelahiran 1989 yang produktif menerbitkan puisi di media massa serta buku kumpulan puisi. Esai ini membahas buku kumpulan puisinya yang terbaru, yang isinya menyoal isu-isu keperempuanan dengan diksi-diksi yang sangat perempuan.

10. Pengalaman Puitik Para Pemburu Ilmu

Esai ini membahas buku kumpulan puisi Sajak-sajak Pemburu Ilmu (Kekata Publisher, 2018), karya para siswa Kejar Paket B & C Rumah Kreatif Wadas Kelir, Puwokerto. Buku ini menyajikan momen puitis dalam keseharian para penulisnya. Temanya beragam. Dalam esai ini, penulis kembali mengaitkan dengan puisi sebagai kendaraan politik. 

11. Pelajaran Mengingat Para Penyair "Kelahiran Kedua"

Esai ini membahas buku kumpulan puisi Kelahiran Kedua, yang para kontributornya berasal dari Komunitas Penyair Institute. Buku ini merupakan buku kedua mereka, yang pertama berjudul Historiografi. Tiap kontributor dalam buku ini mendapat porsi kritik.

12. Sastra dan Literasi Ekologis

Esai ini dibuka dengan menjabarkan persoalan lingkungan hidup, khususnya dalam bentuk iklim yang tidak menentu sehingga berakibat pada kacaunya musim tanam. Penulis memberikan contoh tulisan yang menyoal lingkungan hidup (sastra hijau atau ecocriticism/ecoliterature) seperti Silent Spring Rachel Carson, sedang dari Indonesia adalah novel Lemah Tanjung Ratna Indraswari Ibrahim serta buku kumpulan puisi Tanggulendut F. Azis Manna. Cerita rakyat nusantara juga termasuk yang mengandung amanat ekologis.

13. Sastra dan Orang-orang Sakit

Esai ini mengapresiasi kepengarangan Ahmad Tohari dan menyeru pembaca agar meneladaninya, khususnya kepada para penulis agar seperti beliau yang ketimbang menulis karya surealis/absurdis lebih baik realis supaya dapat mengetuk kepedulian sosial terhadap sekitar, mau di desa atau di kota, para orang kecil. 

14. Tokoh-tokoh "Pinggiran" Arif Hidayat

Esai ini membahas kumpulan cerpen Arif Hidayat, Yang Menunggu di Halte Menjelang Oktober. Kembali penulis membandingkannya dengan Ahmad Tohari, karena sama-sama mengangkat realitas sosial rakyat kecil. Dibandingkan pula kehidupan prihatin petani dengan PNS yang terus terang menjadi sentilan buat saya yang kadang termakan oleh gambaran romantis gaya hidup sederhana ala petani. Dari segi spiritual-ekologis, gaya hidup ini mungkin baik. Namun, dari segi materialistis, kenyamanan hidup indrawi-duniawi, realitasnya mungkin mengenaskan jika tidak lapang jiwa. Esai ini cenderung mengkritisi buku tersebut, walau terselip juga apresiasi yang membesarkan hati.

15. Dongeng dan Nyala Asa Budaya Literasi

Esai ini memuat pernyataan meragukan tentang standar UNESCO bahwa waktu membaca adalah 4-6 jam/hari, di negara-negara maju 6-8 jam/hari sementara di Indonesia 2-4 jam/hari (halaman 108)--walaupun saya tidak hendak repot-repot menelusuri kebenarannya. Padahal buat saya yang tergolong kutu buku, mempertahankan 1-2 jam/hari saja sudah ngos-ngosan atau bikin merasa bersalah karena akibatnya jadi kurang waktu atau tenaga untuk melakukan kegiatan lain yang mungkin saja tak kalah bermanfaat. Di negara maju tertentu pun kenyataannya orang terlalu sibuk bekerja sampai-sampai bikin anak saja tidak sempat. Saya sendiri beranggapan bahwa membaca buku adalah leisure activity, dengan banyak alternatifnya yang lebih menarik. 

Esai ini sebetulnya tentang upaya menumbuhkan budaya literasi (minat baca, tradisi menulis, dsb) melalui festival di Bandung dan rumah baca di Purwokerto. 

16. Mendongeng di Musim Wabah

Esai ini menguraikan pentingnya mendongengi anak sebagai bentuk pendidikan karakter dan budi pekerti, juga bermanfaat untuk mempersiapkan anak dalam menanggapi tantangan zaman seperti isu global warming dsb.

17. Bagaimana Kalau Kita Menulis Sastra Anak Berbahasa Penginyongan

Pada waktu membaca esai ini, kebetulan saya baru menamatkan autobiografi Ajip Rosidi. Esai ini mengangkat isu yang relevan dengan yang kerap diungkit-ungkit Pak Ajip yaitu ancaman terhadap bahasa daerah, dalam hal ini adalah bahasa penginyongan alias jawa ngapak, karena orang-orangnya sendiri kurang tertarik membudayakannya. Persoalan ini diatasi dengan geliat para sastrawan ngapak yang menghasilkan karya dalam bahasa tersebut, yang paling terkenal adalah Ahmad Tohari. Upaya yang bisa dilakukan masyarakat, khususnya orang tua, untuk meregenerasi penutur bahasa daerah adalah dengan mendongengkan cerita-cerita dalam bahasa itu kepada anak.

18. Sastra dan Pembaca yang Malas

Dalam esai ini, penulis membagikan pengamatan dan pengalaman sebagai guru mengenai perilaku siswa dalam berliterasi. Ada siswa yang tampak punya "jalan" ke sana, maksudnya yang dengan inisiatifnya sendiri mampu mendongengkan cerita lokal kepada teman-teman sekelas lalu menuliskannya. Selain itu, ada kebijakan pemerintah agar sebelum pelajaran dimulai, siswa membaca buku selama 1 jam. Tugas menyuruh siswa membaca dan memberikan laporannya lambat laut menampakkan hasil. 

19. Meneroka Sastra di Sekolah

Esai ini mengajukan masalah-masalah berikut usul-usul dalam pengajaran sastra di sekolah, misalnya dengan mendatangkan sastrawan.

20. Sastra Anak dan Milenium Ketiga

Esai ini menyoal sastra anak yang terancam oleh teknologi dalam berbagai bentuk (televisi, game, dsb), apalagi didukung oleh para ibu. Padahal sastra anak lebih berkualitas dalam menanamkan nilai moral dibandingkan dengan gawai-gawai elektronik itu. Orang tua sesungguhnya dapat mengambil peran dalam memperkenalkan sastra anak dengan mendongeng.

Kamis, 27 Juli 2023

Persoalan-persoalan dalam Belajar Bahasa Sunda dari Sudut Pandang Orang Bandung yang Bukan Asli Sunda

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa itu ada benarnya. Jika kita pindah mukim ke suatu wilayah, untuk dapat berbaur baik-baik dengan warga setempat, kita perlu mempelajari bahasa dan budaya mereka serta mempraktikkannya dalam kesempatan bersama mereka. Namun, apakah hal itu berlaku di Kota Bandung yang aslinya merupakan wilayah berbahasa Sunda? Nyatanya, selama hidup di Kota Bandung, mulai dari lahir, TK, SD, SMP, SMA, sampai setelah lulus dari kuliah, saya dapat bergaul tanpa perlu menguasai bahasa Sunda. 

Saya bukan orang Sunda. Kakek-nenek saya dari pihak ibu berasal dari Jawa Timur, sedangkan bapak dari Jawa Tengah. Di lingkungan keluarga di Bandung, bahasa Indonesia yang digunakan. Dalam pergaulan dengan teman-teman, mulai dari di sekitar rumah sampai di sekolah, bahasa Indonesia pula yang digunakan. Baru ketika saya SMP, ada seorang teman yang cukup nyunda, tetapi dia sendiri yang kemudian repot harus menjelaskan arti kata-kata yang dia gunakan, sebab dalam kelompok pergaulannya di kelas tidak ada yang mengerti; kebanyakan dari kami keturunan Jawa dan ada pula yang Sumatra. Di SMA malah saya tidak mendapatkan pelajaran Bahasa Sunda sama sekali. Tetap bahasa Indonesia yang digunakan dalam pergaulan. Kawan-kawan sekelas saya lebih majemuk lagi, berasal dari berbagai daerah dan pulau demi bersekolah di SMA itu. 

Kemudian saya kuliah di Jogja. Untuk mengatasi rasa kangen terhadap "kampung halaman", saya mendengarkan lagu-lagu Sunda dan Cangehgar. Aneh kan. Saya menganggap Bandung sebagai "kampung halaman" semata-mata karena saya lahir dan besar di sana. Orang tua saya pun masih tinggal di sana, ke mana pada akhirnya saya akan berpulang. Padahal, dari segi keturunan, saya sudah berada di kampung halaman yang sebenarnya, yaitu wilayah berbahasa Jawa dan memang banyak dari keluarga besar saya yang tinggal di Jogja dan kota-kota sekitarnya.

Baru lama kemudian, kesadaran akan bahasa daerah kembali mengemuka ketika saya mengikuti Klub Buku Laswi. Dalam beberapa bulan ke belakang, klub ini mengadakan pertemuan yang membahas buku fiksi berbahasa Sunda. Dengan sendirinya, terangkat masalah-masalah yang menyangkut pemakaian bahasa Sunda di masyarakat dewasa ini.

Dalam pertemuan kemarin (Rabu, 26 Juli 2023), ada kurang lebih sembilan orang yang duduk. Sebagian yang hadir adalah orang Sunda asli. Yang saya kenal merupakan keturunan Jawa hanya dua orang, itu pun cuma saya yang berdarah murni (saya tidak tahu jika ternyata saya ada campuran). Di antara mereka yang memang orang Sunda, terungkap persoalan-persoalan di kalangan mereka sendiri sehingga bahasa Sunda yang baik dan benar kurang memasyarakat.

Pertemuan Klub Buku Laswi yang 
saya hadiri kemarin. Informasi 
mengenai klub ini bisa dilihat di 
Instagram biblioforum atau 
lawangbuku. Catatan pembacaan saya 
mengenai buku yang dibahas dalam 
pertemuan ini bisa dilihat di 
Yang pertama, orang tua tidak membesarkan anak-anaknya dalam bahasa Sunda. Bahkan kepada pasangan yang sesama orang Sunda pun mereka belum tentu berbahasa Sunda. Akibatnya, anak menganggap dirinya lebih sebagai orang Bandung ketimbang orang Sunda. Seakan-akan Bandung tidaklah identik dengan Sunda.* Anak-anak pun belajar bahasa Sunda melalui pergaulan dengan anak-anak sekitarnya, tanpa mengindahkan mana kata-kata yang baik diucapkan dan mana yang tidak.

Yang kedua, bahasa Sunda memiliki banyak variasi. Beda wilayah, beda lagi kata yang digunakan untuk merujuk satu hal yang sama. Bahasa Sunda yang digunakan orang Bandung dan sekitarnya lain dengan bahasa Sunda orang Sukabumi, Purwakarta, Banten, apalagi Cirebon. Hal ini bisa jadi membingungkan bahkan di antara sesama pemakai bahasa Sunda sendiri.

Yang ketiga, dari kalangan pemuda Sunda kurang ada kesadaran untuk mempelajari bahasanya lebih lanjut. Ada di antara peserta klub kemarin yang mengatakan bahwa walaupun ia asli Sunda, ketika membaca cerpen berbahasa Sunda, ternyata menemukan kata-kata yang ia sendiri tidak paham.

Yang keempat, orang Sunda sendiri kadang kesulitan ketika menjelaskan pengertian suatu kata. Kalau sudah begini, saya pikir, baru dengan hidup cukup lama atau bergaul intens di lingkungan yang kental berbahasa Sunda, orang dapat benar-benar memahami bahasa Sunda sampai merasuk di kalbunya tanpa perlu pengertian lewat kata-kata. 

Ketika kemarin saya mengajukan usul agar dibuat buku dwibahasa Sunda-Indonesia untuk mempermudah pembelajaran bahasa Sunda, ada yang mengatakan bahwa teks dalam bahasa Sunda tidak bisa diterjemahkan per kata paling-paling seperti menyadur. Saya sendiri sebetulnya ada pikiran untuk belajar bahasa Sunda dengan cara menerjemahkan cerita, sebagaimana yang selama ini saya lakukan dengan bahasa Inggris. Namun, ketika membaca buku fiksi berbahasa Sunda, setiap kali tidak mengerti suatu kata, mencarinya di kamus atau di internet tapi tidak menemukannya, saya jadi mengurungkan ide tersebut. Belum lagi struktur kalimatnya yang ketika saya coba menerjemahkan ke struktur kalimat bahasa Indonesia dalam pikiran malah bikin pusing sendiri. 

Tampak bahasa Inggris masih lebih mudah dipelajari--mudah ditemukan artinya baik di kamus maupun di internet, mudah diterjemahkan ke struktur kalimat bahasa Indonesia, mudah dipraktikkan juga dalam pergaulan sehari-hari melalui aplikasi chatting dengan orang asing. Sekiranya orang Sunda merasa penting agar sesamanya begitu pula orang luar yang tinggal di wilayahnya turut melestarikan bahasa mereka, bisakah sarana-sarana pembelajarannya dibuat sepraktis atau seatraktif belajar bahasa Inggris?



*) Kenyataannya memang sudah demikian banyak pendatang sebagaimana yang saya temukan sendiri selama puluhan tahun hidup di Bandung. Kebanyakan kawan saya adalah keturunan dari suku lain sebagaimana saya sendiri, dan hanya beberapa di antaranya yang orang Sunda asli. Ada pakde saya alias kakak dari bapak yang aslinya orang Jawa tetapi dapat berbahasa Sunda tanpa kedengaran masih ada aksen Jawa. Beliau menikah dengan orang Garut dan bermukim di sana sepanjang sisa hidupnya. Sementara ini saya hanya dapat menduga bahwa di Garut masyarakatnya tidak semajemuk di Bandung kota, sehingga pakde saya bisa fasih berbahasa Sunda.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain