Selasa, 11 Juni 2019

Whatever

Gambar dari Goodreads.
Biasanya saya menyukai buku yang bisa bikin mengaitkan diri, tetapi novel ini adalah pengecualian. Bahasanya (atau lebih tepatnya, terjemahan Inggrisnya) enggak enak; berat--enggak mudah dimengerti. Seenggaknya dalam pembacaan pertama ketika tujuan saya sekadar untuk mengetahui jalan cerita dan cenderung melaju saja tanpa berhati-hati. Akibatnya, banyak hal yang terlewatkan.


Sepintas, novel ini seperti slice of life: kumpulan peristiwa sehari-hari yang kecil saja tetapi jadi pemikiran panjang buat si narator. Pandangan dunianya yang kefilosofi-filosofian bikin saya makin keder soalnya kalau sudah berbau-bau filsafat otak saya terlalu kecil.

Alurnya baru terasa ketika si narator didiagnosis depresi, tetapi selanjutnya kabur. Jadi kurang lebih alurnya begini (spoiler alert!):

> Si narator mengalami gejala-gejala depresi, tetapi enggak menyadarinya. Dia malah cenderung sinis sama praktik-praktik kejiwaan begitulah.
> Dia menghabiskan waktu bersama rekan kerja yang enggak kalah depresif.
> Rekan kerjanya mati.
> Akibatnya, dia menjadi terdampak. Dia pergi ke klinik. Dia positif mengalami gangguan mental.
> Saya sudah enggak peduli lagi dia mau apa.

Saya merasa aneh karena meskipun dalam beberapa hal saya bisa relate, tetapi cerita ini enggak mengena buat saya. Kalaupun ada humornya, enggak tertangkap oleh saya. Saking enggak enaknya pembacaan pertama, saya sampai menyangka bahwa versi Inggris novel ini sengaja dijuduli "Whatever" (padahal aslinya dalam bahasa Perancis rada panjang) karena isinya yang enggak jelas. Semacam, si penerjemah baca buku ini terus berpikir, "Naon seh, meni rudet. Whatever!"

Kalaupun ada manfaat yang bisa diambil, sepertinya novel ini bisa dijadikan cermin atau indikator depresi. Saya pernah mengalami depresi, dan rasa-rasanya penuh dengan sikap dan kebiasaan negatif seperti si narator meskipun wawasan saya enggak se-sophisticated itu. Sekarang, ketika membacanya, saya merasa berjarak dari si narator. Saya bisa mengenali subjektivitasnya dan enggak serta-merta bersimpati padanya. Apakah itu tandanya saya sudah sehat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain