Rabu, 05 Juni 2019

History of Top Management in Japan: Managerial Enterprises and Family Enterprises

Gambar dari Goodreads.
Walaupun judulnya terkesan spesifik--menjurus pada keilmuan tertentu, sebagai orang awam dalam bidang manajemen, saya merasa dapat menikmati dan memperoleh banyak hal menarik dari buku ini. Di dalamnya banyak cerita mengenai jatuh-bangunnya perusahaan-perusahaan keluarga di Jepang, terutama perusahaan-perusahaan besar yang tujuannya mengeruk profit alih-alih sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Malah saya merasa dari situ bisa diambil pelajaran mengenai cara membesarkan anak, walaupun kita bukan orang bisnis atau memiliki perusahaan keluarga. Bahasa Inggrisnya pun cukup mudah, mungkin karena terjemahan dari bahasa Jepang.


Konon perusahaan keluarga sulit berumur panjang karena ada penurunan kualitas dari generasi ke generasi. Buku ini seolah-olah hendak membenarkan hal tersebut. Kalau ingin bertahan dan maju, perusahaan keluarga mesti menggaji orang-orang yang kompeten--khususnya di jajaran manajemen atas--alih-alih mengangkat anggota keluarga yang tidak cakap. Malah ada ungkapan: "In some cases, blood is NOT thicker than water, especially if money and power and involved." Buku ini memberikan contoh-contoh mengenai perusahaan Jepang yang jatuh akibat pimpinannya berasal dari anggota keluarga yang kurang berpengalaman. Bahkan usia akhir tiga puluhan dianggap masih terlalu muda untuk menjabat sebagai pimpinan. Hal ini membuat saya teringat pada fiksi-fiksi populer dengan karakter CEO yang sudah mah cowok ganteng baru berusia dua puluhan pula. Membaca buku ini, fiksi-fiksi populer jadi sangat terasa kefiksiannya.

Memang adakalanya terdapat pengecualian. Ada saja anggota keluarga yang punya kemampuan menandingi pendahulunya, tetapi penulis buku ini mengatakan bahwa hal tersebut langka. Kebanyakan yang terjadi adalah penerus perusahaan keluarga tidak mewarisi ketangguhan pendahulunya. Pendiri perusahaan biasanya merupakan pribadi luar biasa. Dengan perusahaannya mengeruk keuntungan besar, ia menjadi kaya dan bisa memberikan kehidupan enak bagi keluarganya. Kehidupan enak ini menjadikan keturunannya "lembek", tidak memiliki spirit yang diperlukan dalam berbisnis, dan boleh jadi malah lebih berminat pada kesenian. Rupanya ini telah menjadi fenomena yang dinamakan Buddenbrook effect. Dalam keadaan begitu, kendali perusahaan keluarga diserahkan kepada orang-orang mumpuni yang bukan keluarga atau bisa juga melalui adopsi atau pernikahan dijadikan keluarga. Ada banyak variasi yang diceritakan dalam buku ini.

Setelah membaca seluruh isi buku (kecuali daftar pustaka dan indeks), saya mendapat kesan bahwa penulis hendak memperingati supaya jangan keenakan dalam keadaan berkecukupan, sebab kita dapat menjadi lemah dalam menghadapi ancaman tak terduga yang bisa datang dari mana saja. Fenomena ini disebut juga "fat cat syndrome". Penulis melihat bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di dunia perusahaan, tetapi juga di seluruh masyarakat. Serta-merta saya jadi teringat pada cerpen Ryu Murakami, "Whenever I Sit at a Bar Drinking Like This, I Always Think What a Sacred Profession Bartending Is" (Words without Borders, Agustus 2004; terjemahan Indonesia tautan tersemat). Dalam cerpen itu Ryu Murakami mengatakan bahwa masyarakat Jepang itu kaya lagi manja tetapi tidak lebih bahagia daripada masyarakat di kawasan kumuh India. Kembali lagi pada penulis buku ini, saya menangkap kesan bahwa ia menghendaki agar perusahaan memberikan program-program pelatihan yang keras pada karyawan baru dan melakukan sendiri pekerjaan-pekerjaan dalam kategori 3D: dirty, dangerous, or demanding.
To accomodate new employees, companies became soft, forgoing formerly rigorous training programs and farming out any jobs considered "dirty, dangerous, or demanding". (halaman 207)
Yang membikin saya takjub karena dari hasil penelusuran saya terhadap Jepang belakangan ini saya mendapat kesan bahwa masyarakat Jepang justru bekerja terlalu keras, sehingga ada fenomena semacam karoshi, hikikomori, dan seterusnya. Pengangguran juga bukannya nol persen sama sekali. Dengan kesan yang tertangkap dari penulis ini, saya menjadi heran: Mau bekerja sekeras apa lagi? Memang di sisi lain tampak bahwa tipe-tipe pekerjaan yang 3D itu diserahkan kepada pekerja-pekerja asing dari negara berkembang, Indonesia misalnya, seolah-olah memang masyarakat Jepang enggan dengan pekerjaan begituan.

Saya belum menemukan keterangan mengenai penulis buku ini. Hanya ketika mengetikkan namanya di Google, saya mendapati tahun kelahirannya yaitu 1930. Saya jadi membayangkan ia seperti stereotipe orang tua Jepang yang memaksa anaknya belajar sampai larut malam supaya bisa meneruskan ke sekolah terbaik, universitas terbaik, dan pada akhirnya mendapatkan pekerjaan terbaik, yang kemudian anaknya stres dan jadi hikikomori.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain