Kesan saya terhadap buku kedua dari seri The Mechanical Sky ini, bisa dibilang, anjlok: mulai dari kover sampai halaman terakhir.
Gambar dari Goodreads.
Wah, apa-apaan nih, iman saja enggak cukup? Meskipun, nantinya, setelah saya sampai ke tengah buku, dan menemukan bagian ketika si tokoh utama--Hamid-Jones--terjepit dalam situasi pelik yang enggak dimengertinya, saya mulai mafhum. Hamid-Jones hanya mengerti ilmu bioengineering sementara orang-orang di sekitarnya--yang terlibat dalam suatu rencana berbahaya yang hendak ia gagalkan dan sedikit-banyak ada hubungannya dengan keagamaan--pada membicarakan tentang astrofisika. Di situ tebersit bahwa untuk menyelamatkan dunia, iman saja tidak cukup, tetapi juga dibutuhkan ilmu! Kaitan antara iman dan ilmu memang banyak yang membahas sih.
Tetapi, antipati ini tidak jadi batal bangkit, apalagi ketika saya menemukan bahwa si tokoh utama--yang dikatakan sebagai muslim yang baik--melakukan hal-hal berikut:
- zina
- minum minuman beralkohol
- menikahi wanita nonmuslim dan membiarkan anak-anaknya dibesarkan secara non-Islam.
Padahal, di buku pertama, saya sudah bersimpati dengan si tokoh utama. Lain dengan cerita-cerita berlabel "Spiritual" yang ada di platform-platform penulis amatir di mana tokoh-tokohnya sering kali begitu "sempurna" dan kalaupun disebutkan kekurangannya rasanya hampa, karakter Hamid-Jones dalam buku ini saya rasakan cukup manusiawi. Paling tidak, secara fisik, ia yang lahir di Bumi termasuk manlet, atau enggak setinggi rekan-rekannya yang lahir di Mars. Ia juga mengalami kemalangan-kemalangan, yang antara lain, sepertinya, disebabkan oleh karakternya sendiri yang naif (seolah-olah usia yang belum tiga puluh tahun dapat menjadi pembenaran).
Tetapi, di buku kedua ini, saya mendapati ke"manusiawi"an Hamid-Jones kebablasan, paling enggak, menurut standar keislaman yang saya punya. Dalam standar masyarakat Barat yang liberal boleh jadi perbuatan-perbuatan Hamid Jones tersebut merupakan penyesuaian yang diterima: zina enggak apa-apa, asal enggak ketahuan; minum miras enggak apa-apa, asal enggak mabuk; menikahi nonmuslim dan membiarkan anak-anak dibesarkan secara non-Islam, enggak apa-apa, itu Hak Asasi Manusia, dan lagi pula, bukankah semua agama itu baik? Di Indonesia pun, ada saja yang berpandangan demikian. Tetapi, saya sendiri orang Indonesia dalam lingkungan pergaulan yang enggak liberal amat. Saya enggak memungkiri bahwa dalam dunia imaji saya sendiri, ada saja karakter rekaan saya yang demikian. Tetapi, jika boleh menjarakkan diri antara khayalan dan kenyataan, sesungguhnya saya tidak begitu menerima hal-hal itu dan terus memproses cara menyikapinya.
Bukannya saya hendak mengharamkan buku ini. Sejujurnya saya termasuk orang yang berpandangan: "baca boleh, tapi kalau melakukan, yaa, jangan". Saya cuman hendak melabeli buku ini dengan rambu-rambu kuning macam lampu lalu lintas yang berisyarat: "Hati-hati" atau kebijaksanaan pembaca diperlukan. Bagi pembaca yang belum cukup dewasa pemikirannya, adanya bagian-bagian itu seolah-olah memberikan pesan subtil bahwa it's okay bagi muslim yang baik untuk melakukan hal-hal yang dilakukan Hamid-Jones tersebut.
Selebihnya, buku ini tetap menjadi bacaan tricky dalam hal penjelasan astrofisika yang tersebar di mana-mana, apalagi bagi pembaca dengan pemahaman bahasa Inggris yang kurang seperti saya. Sudah mah bahasa Inggris, kontennya menjelimet pula. Hanya dedikasi untuk menamatkan buku yang sudah telanjur dibaca dari awal yang dapat membuat seseorang bertahan, hahaha.
Belum lagi, pikir-pikir soal perjalanan antariksa itu ternyata dapat memendekkan umur, dan ini berhubungan dengan drama romansa di antara para tokoh. Ini sepertinya merupakan unsur penting yang bikin cerita ini jadi terasa mungkin sekaligus menghibur. Tetapi, tetap saja, bagi saya itu menjadi unsur lain yang jika dipikirkan betul bakal tambah memusingkan.
Terlepas dari masalah-masalah tersebut, bagaimanapun aspek fantasi futuristik yang disajikan dalam buku ini tetaplah menakjubkan. Khususnya, membayangkan kemungkinan dalam sekian ratus tahun ke depan manusia telah dapat menjelajahi alam semesta, menemukan cara-cara hidup dan beradaptasi dengan aneka lingkungan di luar angkasa. Akibatnya, saya jadi teringat pada tayangan semacam Where Wild Men Are, di mana orang-orang yang umumnya kaukasoid melakukan hal demikian namun masih di Bumi.
Dalam beberapa hal memang terasa spirit kaukasoid dalam buku ini yang seolah-olah tidak mau takluk begitu saja dalam hegemoni Islam yang cenderung kearab-araban. Apalagi si tokoh utama sendiri--Hamid-Jones--merupakan campuran Arab-kaukasoid seperti terlihat dari namanya. Hal ini bisa dimaklumi mengingat latar belakang penulis yang orang Amerika Serikat.
Selain itu, saya masih mendapatkan pesan yang sama: walaupun sebagian besar dunia manusia telah dikuasai Islam, apa pun agamanya, manusia tetaplah manusia, yang akan terus mengadakan perselisihan terhadap sesamanya, melanggar aturan-aturan, dan menuntut satu sama lain untuk bertoleransi yang secara sadar-atau-tidak-sadar bisa saja sampai menarik ke luar batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar