Rabu, 24 Juli 2019

Meresapkan Pakoban 8 Hari Pertama

Saya pertama kali mengenal Pak Oban, alias Pasar Komik Bandung, tahun lalu. Pada waktu itu, acara tersebut juga diselenggarakan di Braga City Walk, dan sepertinya bukan pada akhir pekan. Begitu memasuki Braga City Walk dari Jalan Braga, ada beberapa deretan meja yang menjajakan produk-produk komik dan merchandise. Saya tidak memerhatikan Pakoban tahun lalu diselenggarakan berapa hari, dan pada hari apa saja. Pada kedatangan saya yang pertama kali itu, suasana cukup sepi. Adapun pada tahun ini Pakoban diselenggarakan selama dua hari pada akhir pekan, alias pada Sabtu dan Minggu. Saya mendatanginya pada Sabtu (13 Juli 2019) dan suasananya cukup ramai, kemungkinan karena sorenya, sehabis asar, ada acara jumpa para pemain film Gundala, yang akan tayang pada 20 Agustus 2019.

Terus terang, sudah lama saya enggak peduli soal komik. Sewaktu SMP, saya masih bisa berangan-angan muluk ingin ke Jepang untuk jadi mangaka (?!?!?!). Sewaktu SMA, sepertinya saya masih membeli Nakayoshi. Tetapi, sepertinya sejak saat itu hingga seterusnya saya semakin berfokus pada kepengarangan atau tulis-menulis alias media kata--whatever you name it lah--meski sesekali masih membaca komik. Dunia gegambaran semakin saya tinggalkan, meski kadang masih ada sedikit napasnya bak titik-titik merah pada bara yang hendak padam (apaan sih!?). Jejaknya bisa dilihat di blog ini, dalam label "ngegambar".

Kalaupun dua tahun belakangan saya mendatangi Pakoban seolah-olah peduli pada geliat komik Indonesia, sesungguhnya itu sekadar untuk mengikuti ajakan teman. Toh di sana pun saya cuma melihat-lihat tanpa sungguh-sungguh tertarik, jangankan untuk membeli. Saya lebih mementingkan pertemuan dengan teman, syukur-syukur nantinya ada sesi obrolan panjang nan mendalam #eaaa.

Anyway, sesungguhnya pada kunjungan ke Pakoban kali ini ada yang berbeda. Sebabnya, kali ini ada tokoh komikus yang hidup lagi dalam kepala saya. Tokoh komikus ini sebenarnya sudah muncul sejak saya SMA, seakan-akan sebagai perwujudan aspirasi saya dalam dunia gegambaran yang terkalahkan oleh hasrat kepengarangan. Tetapi, sama halnya dengan potensi gegambaran saya yang enggak berkembang, si tokoh ini pun enggak berkembang dalam kepala saya. Kalaupun dia mendapat tempat dalam garapan saya, perannya relatif minor. Baru belakangan, saya merasa telah menemukan tempat bagi dia untuk berkembang. Bukan berarti saya kembali suka menggambar. Hanya saja, karakter dia klik dengan karakter tokoh lain yang sedang berkembang dalam pikiran. Pada awalnya, peran dia masih sekadar pendukung, tetapi, kini saya berpikiran untuk memberi dia ruang yang leluasa untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Ngomong apa sih?

Saya berasumsi bahwa saya bisa lebih mengaitkan diri dengan acara yang saya datangi bila saya punya tokoh dalam kepala yang berada dalam dunia itu. Misalnya, ketika mendatangi Pakoban, saya sambil menghidupkan si tokoh komikus dalam kepala sehingga, harapannya, acara ini dapat lebih berkesan dan berguna bagi saya atau saya dapat lebih menghayatinya (???) melalui kacamata si tokoh. Misalnya lagi, ketika mengikuti acara pelatihan pemasaran digital Google, saya sambil membawa-bawa tokoh wirausahawan dalam kepala. Apakah cara ini memang efektif dalam membikin saya lebih nyambung sama acara? Kayaknya enggak juga sih. Tetapi, senang saja bila ada perasaan si tokoh jadi hidup. Entah kenapa.

Berikut adalah jadwal Pakoban tahun ini sebagaimana yang dikirimkan oleh teman saya.


Sabtu siang saya tiba terlambat, ketika acara bincang-bincang bersama komikus Ngawangkong Lieur sudah dimulai. Tanpa pernah mengetahui semacam apakah Komik Lieur ini, acara tersebut cukup menghibur sebab komikusnya benar-benar humoris.

Seusai bincang-bincang yang pertama, saya dan teman-teman beredar melihat-lihat produk komik dan merchandise yang dijajakan di deretan-deretan meja. Ada beberapa produk yang saya kenali seperti re:ON Comics serta Garudaboi. Adik saya pernah membeli satu nomor re:ON sementara Garudaboi merupakan komik yang saya gemari semasa kuliah, dan bukan cuma sekadar hasil menumpang baca di Gramedia, tetapi saya memang membeli satu atau dua (--lupa!--) nomornya. 

Betapapun komik Indonesia kemungkinan punya peran penting tertentu dan masyarakat seyogianya mendukungnya, sayang sekali, sebagai manusia yang bukan lagi pelajar atau mahasiswa--yang biasanya lebih ringan dalam mengeluarkan duit sebab belum tahu kesulitan mencarinya--saya mesti pandai-pandai menjaga isi dompet, huhuhu.

Setelah cukup beredar, saya kembali ke barisan tempat duduk di hadapan panggung, menemani teman lain yang baru datang. Saat itu sedang diadakan bincang-bincang bersama Gula Comic dan Iqomic. Gula Comic dengan karyanya yang berupa Wonder Sweet serupa Minky Momo yang diindonesianisasi, kayaknya sih. Maaf, saya enggak mengikuti dari awal dan cuma menangkap soal Minky Momo, magical girls, dan bahwa penciptanya pernah kuliah di Korea Selatan. Adapun Iqomic itu semacam komunitas komikus islami. Karena teman saya gemar bertanya, ia mendapatkan satu eksemplar buku kumpulan komik islami dari Iqomic. Hore!

Bincang-bincang berikutnya bersama Own Games dengan karyanya yang berjudul Innaria ternyata sangat menarik. Komikusnya menerangkan konsep Innaria yang relevan banget dengan fenomena kekinian, yaitu soal mental issue. Komik ini berusaha untuk memvisualisasikan kehidupan batin manusia yang katanya memakan porsi 90% sementara yang tampak di permukaan hanya 10%. Di sini ada semacam kampanye agar kita peka terhadap mental issue, bahwa kita tidak bisa menganggap remeh persoalan seseorang. Buruknya perilaku seorang manusia pasti ada sebabnya atau merupakan akibat dari luka batin yang enggak terobati. Pokoknya, penjelasan si komikus akan latar belakang Innaria menakjubkan banget deh dan sangat memancing untuk membaca langsung komiknya, yang alhamdulillah, bisa diakses secara cuma-cuma di: http://own-games.com/

Tetapi, seperti yang komikusnya bilang, penjelasan mengenai Innaria merupakan privilege bagi pemirsa yang hadir saat bincang-bincang. Ketika saya membaca langsung komiknya, sepintas ini seperti komik mecha versi lokal namun enggak sampai mengupas sedalam yang diungkap komikusnya. Meski begitu, toh saya masih bisa menikmatinya sampai tertawa-tawa.

Bagi saya pribadi, bincang-bincang tentang konsep Innaria masih lebih menarik daripada acara berikutnya, yaitu jumpa pemain Gundala, hahaha. Kami yang sudah nyaman mendapat kursi diusir karena tempat duduk tersebut akan ditata dan diperuntukkan bagi, entahlah, mungkin media. Karena saya memang enggak seberminat itu melihat artis, dengan sukarela saya bangkit dan menjauh, hahaha. Tetapi, tentu saja teman-teman saya mau menonton dan jadinya kami mendapat pemandangan yang leluasa dari lantai dua.

Menjelang magrib, acara meet and greet itu tuntas. Sementara teman saya menunggu jam tayang Super Receh Wars, kami mengobrol sambil memandangi barisan penggemar yang mengular demi bisa berfoto bareng para bintang film. Begitu Super Receh Wars dimulai, setelah teman saya mendapat teman lain untuk menemaninya, saya menikmati bersepeda di jalanan seputar pusat Kota Bandung menjelang isya.

Berbarengan dengan momen Pakoban dan kembali-hidup-serta-berkembangnya si tokoh komikus, saya menumpuk komik lama yang hampir semua merupakan produk Jepang, berpikiran untuk membacanya ulang serta mengulasnya. 

Sementara segini dulu. Yang jumlahnya
paling banyak sendiri itu komik apa, ayo?

Tentu pandangan saya sekarang sudah lain dengan sewaktu saya pertama kali membaca komik itu, ketika usia saya baru separuh--bahkan kurang--dari usia saya sekarang. Memang, baru sedikit komik terjemahan itu yang saya baca, saya sudah menemukan konten fan service yang cukup "aduhai". Ratna Sari Dewi dalam suatu wawancara bersama Desi Anwar mengatakan bahwa Jepang memiliki mentalitas yang berbeda dengan Indonesia, khususnya dalam soal pengeksposan anggota tubuh. Dalam komik Doraemon edisi Jepang, Shizuka boleh telanjang, tetapi tidak demikian dalam komik Doraemon versi Indonesia. Dulu saya enggak mengerti kenapa Shizuka di komik Doraemon mandi pakai semacam baju renang begitu, tetapi berangsur-angsur saya mengerti bahwa itu hasil sensor. Karena itu, komik Indonesia--betapapun sangat dipengaruhi oleh gaya Jepang--punya potensi sebagai media visual alternatif yang lebih sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku umum di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain