Rabu, 27 Februari 2013

Manfaat Literer


Membanjir sudah anjuran agar baca-tulis jadi kebiasaan. Sementara bagi saya baca-tulis bukan lagi kebaikan. Alih-alih bersosialisasi, saya lebih memilih untuk menyendiri—untuk membaca lalu menulis. Saya kurang acuh sama pendidikan formal yang saya tempuh, padahal seyogianya pengetahuan tidak cukup diperoleh hanya dari buku. Saya lebih suka mengulas masalah yang saya alami dalam sebentuk novel, alih-alih memecahkannya. Antusiasme saya pada budaya (baca: literer) yang dijunjung tinggi ini bukannya bikin hidup saya jadi lancar. Seperti ungkapan khas raja dangdut kita: TER-LA-LU!

Memang, minat saya pada kepengarangan tumbuh. Memang, kemampuan verbal saya lumayan ketimbang beberapa orang. Memang, saya bisa menghasilkan tulisan yang dimuat media. Tapi. Apa yang saya baca tidak membentuk saya jadi pribadi yang luhur. Apa yang saya tulis tidak menghindarkan saya dari depresi.  Saya tetap makhluk apatis tiada berguna. Percuma banyak membaca dan menulis.

Tapi pemikiran itu sudah berlalu. Saya mendapati bahwa orang yang gila baca-tulis tidak melulu yang notabene tidak bisa gaul. You are NOT JUST what you read. Kepribadian dibentuk bukan hanya oleh bacaan. Maka saya tidak lagi menyalahkan buku, sekarang saya menyalahkan orangtua[1]. Bacaan sebagus apapun tidaklah bermanfaat apabila kebaikan di dalamnya tidak diamalkan. Pengarang sehebat apapun bukanlah pahlawan apabila pesan yang ia sampaikan tidak diamalkan. Perlu kerja sama antara pengarang dengan pembaca untuk menoreh rahmat di semesta alam.

Saya tidak ingin cuman jadi pemikir, tapi juga eksekutor!

Kerisauan saya pun berganti. Cemburu banget sama orang yang tidak serius sama kepengarangannya, tapi karyanya bagus—dan laris! Seolah ia tidak perlu banyak upaya. Padahal ada yang sebagian besar waktunya telah dihabiskan untuk membaca lalu menulis, tapi hasilnya dikasih gratis pun orang tak mau mengapresiasi. Sia-sialah hidup. Karena konon sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi sekitarnya, dan saya gelisah apakah saya sudah demikian. Memikirkannya bikin saya ingin menangis. Menulis ternyata tidak sekadar menulis, tapi juga marketing!

Tapi pemikiran itu pun sudah berlalu. Kemajuan teknologi sudah menguntungkan, kenapa risau? Ingin terpublikasikan—lempar saja ke blog kek, Kekom kek. Ingin menulis ya menulis saja, terus!, walau yang baca cuman hantu![2]

Maka sekarang saya tengok lagi manfaat dari mempelajari literature dengan ringan. Jika boleh, saya kutip saja langsung dari The Heath Guide to Literature (Bergman dan Epstein, 1987, DC Heath and Company).

…stories tell the child that life has its difficulties which can be met and overcome. …fairy tales are not “escape” reading—stories read to avoid reality—rather they “confront the child squarely with the basic human predicaments.”  …by showing how things might be, could be, or ought to be, writers indicate the consequences of actions. …authors can also show us examples of an ideal world. … Stories are a helpful and enjoyable way to learn lessons in proper behavior. The moral tale instructs us how to be better people, and the political story can convey a potent message. Literature can also show us how the mind works.

Kiranya saya memang harus percaya bahwa apa yang saya upayakan insya Allah bermanfaat. Barangkali bukan manfaat yang praktis, karena yang saya kerjakan adalah kehalusan[3]. Dan saya tidak perlu menghitung seberapa manfaat yang telah saya beri, toh sudah ada yang melakukannya[4].




[1] hey, I’m joking!, but seriously
[2] thanks to mas dhodotes for the statement :)
[3] Q.S. Thaahaa: 44
[4] Wahai Tuhanku Yang Maha Mengetahui, bener gitu enggak ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain