Sabtu, 16 Februari 2019

Masih Mau Jadi Orang Kaya?

Saya mendengar tentang film ini pertama kali dari teman saya. Setelah melihat trailernya di Youtube, saya merasa agak tertarik. Tetapi ketertarikan saya menonton film ini tidak sebesar pada Terlalu Tampan. Setidaknya tidak sampai membikin saya rela pergi sendirian ke bioskop--Terlalu Tampan itu yang pertama.

Sebulan lebih berlalu. Saya kembali bertemu dengan teman saya itu dan film Orang Kaya Baru masih ada di bioskop. Dia ternyata belum menonton film itu. Saya mau menemani dia.
 
sumber
Maka, pada hari Valentine, kami sebagai pasangan teman, pergi ke Festival Citylink untuk menonton pemutaran pada pukul 16.55 WIB dengan HTM Rp 30.000,00.

Ruangan terisi tidak sampai setengahnya, tetapi jumlah penontonnya masih lebih banyak daripada sewaktu saya menonton Terlalu Tampan beberapa waktu lalu--yang padahal premiernya belakangan.

Singkat cerita, saya mengakak lebih banyak saat menonton film ini ketimbang Terlalu Tampan. Tetapi, karena beberapa faktor yang bersifat pribadi, saya merasakan euforia yang berbeda. Terlalu Tampan dikemas secara keremaja-remajaan, tentu saja, yang lebih sesuai dengan jiwa saya dan karena itu lebih menarik secara visual. Untuk Orang Kaya Baru, ketimbang menyoroti aspek komedinya, saya merasa lebih berat pada pesan moralnya ...

... yang sepertinya agak rumit untuk disimpulkan. 

Film ini mungkin meledek para OKB, tetapi mungkin juga hendak memperingati orang-orang yang hendak menjadi kaya bahwa kaya mendadak itu bisa mengakibatkan berbagai efek negatif. 

Entah juga apa bedanya antara kaya mendadak dan kaya bertahap sih.

Untuk mengatasi efek-efek negatif itu, orang mesti memiliki sikap mental tertentu dalam menghadapi dan mengelola kekayaannya. Maka, sudah siapkah Anda menjadi kaya? Kalau sampai sekarang Anda belum kaya, ya mungkin karena memang Anda belum siap untuk kaya. Maksudnya, kalau Anda tiba-tiba kaya, mudaratnya mungkin lebih besar daripada hidup Anda yang sekarang. Mungkin.

Seperti Terlalu Tampan yang menunjukkan bahwa memiliki ketampanan berlebih(an) dari sananya itu tidak selalu menyenangkan, menjadi kaya dari lahir juga belum tentu enak, kali, ya?

Tiap-tiap keadaan itu, tampan atau jelek, kaya atau miskin, sudah sepaket dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. Ujung-ujungnya, apa pun keadaan kita, yang bisa kita lakukan hanya mensyukurinya and make the best of it untuk menggapai rida Allah.

Oke, entri kali ini lebih random daripada biasanya.

Dalam film ini, saya cenderung merasa relate pada Duta, yang karena merasa kaya, lantas menjadi yakin untuk menggapai mimpinya. Tetapi ternyata kekayaannya itu rekayasa belaka (kalau bukan ilusi), sehingga dalam keadaan kepepet mau tidak mau ia mengorbankan idealismenya.

Selebihnya, saya gagal relate. Boleh jadi impian menjadi kaya baru muncul ketika saya sudah merasakan kekurangan yang teramat sangat, seperti orang yang sudah berhari-hari tidak makan lalu menjadi kalap ketika disodori makanan. Biarpun ke mana-mana naik sepeda, jarang beli pakaian baru, hanya punya kurang dari setengah juta per bulan untuk bersenang-senang, tidak punya rekening di bank jangankan asuransi, dan pernikahan sakinah mawadah tampak di luar jangkauan, saya masih dapat merasa nyaman berkecukupan. Saya belum berpikiran untuk menjadi kaya, enggak tahu kalau nanti ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain