Minggu, 26 Januari 2020

Sehari bagi Bumi: (Sesi 1) Serba-serbi Eco Enzyme Bersama Dr. Joean Oon

Pada 18 Januari 2020, saya berkesempatan mengikuti acara bertajuk "For Earthsake: Achieving Individual Health and Social Well-Being" di Ruang Limasan Wisma Joglo Hotel, Bandung.

Acara ini terdiri dari tiga sesi:
Sesi 1. For Earthshake: Eco Enzyme for household cleaning, environment, and farming (with Eco Enzyme Making Demo)
Sesi 2. Developing Organic Business
Sesi 3. Achieve individual health & social well-being: IPMT, Kolisko, & Anthroposophy Initiatives in Malaysia

Sesi 1 dan 3 dibawakan oleh Dr. Joean Oon, seorang dokter naturopati dan aktivis eco enzyme, sedangkan Sesi 2 oleh Callie Tai, pendiri toko organik Justlife di Malaysia.

Ketika hendak mendaftar, rupanya kuota untuk Sesi 1 dan Sesi 2 sudah penuh sehingga kami hanya bisa mengikuti Sesi 3. Sehari sebelum acara, para pendaftar dimasukkan ke grup WhatsApp. Kemudian muncul pemberitahuan bahwa yang tidak kebagian tempat di sesi lain bisa saja datang hanya saja kemungkinan kursi sudah penuh sehingga mesti berdiri. Di samping itu, satu per satu, beberapa peserta mengundurkan diri karena mendadak berhalangan hadir. Saya pun optimistis menyambut tawaran teman saya--yang sepertinya begitu bersemangat--untuk datang sedari Sesi 1. Benar saja: tidak hanya pada Sesi 3, kami juga kebagian kursi pada kedua sesi sebelumnya.

Suasana ketika kami baru tiba.
Foto oleh @aktivasi_anis.
Sabtu pagi itu, kami tiba agak telat. Di depan sudah ada seorang ibu berjilbab yang sedang memberikan pengantar tentang penyembuhan holistik atau semacam itu. Katakanlah, untuk menyembuhkan kanker secara alami tidak hanya dengan menggunakan green juice, tapi penderita juga perlu meminta maaf dan memaafkan. Disebutkan pula kata-kata kunci yang akan kerap muncul dalam sesi-sesi ke depan, yaitu pendidikan Waldorf dan antroposofi.

Nantinya, kedua pembicara menyampaikan materi dalam bahasa Inggris didampingi juru bahasa. Caranya, mereka mengucapkan satu sampai beberapa kalimat dalam bahasa Inggris, lalu menunggu juru bahasa menyampaikannya ulang dalam bahasa Indonesia, sebelum melanjutkan. Bahasa Inggris yang digunakan cukup sederhana. Meski begitu, peran juru bahasa sangat berguna. Pengulangan dalam bahasa ibu membuat informasi jadi lebih menempel.

Saya menduga kedua pembicara sudah berusia paruh baya, tapi kelihatan segar dan awet muda. Selain itu, mereka mengenakan baju terusan berpotongan sederhana yang berwarna polos tanpa corak. Hm, mungkinkah ini ada hubungannya dengan semangat organik? 

SESI 1

Dr. Joean membuka dengan cerita tentang asal mula beliau menemukan eco enzyme. Dimulai pada 2001, ketika suaminya menderita kanker hati stadium akhir dan mereka sudah kehabisan uang untuk merawatnya. Dr. Joean memutuskan untuk merawat sendiri suaminya. Beliau pun mencari berbagai cara yang terjangkau. Setelah tiga bulan, ada kemajuan. Suaminya bisa kembali beraktivitas. Caranya: 1) Menjadi vegetarian; 2) Berbahagia, bahkan untuk menyambut kematian. Suaminya pun dapat terus hidup. Dari situ, timbul pemikiran Dr. Joean untuk mencari cara yang mudah dan murah dalam menyembuhkan orang miskin yang sakit. Dalam pencariannya itu, beliau bertemu dengan Dr. Rosukon dari Thailand.

Di tempat Dr. Rosukon, Dr Joean melihat ada peta dunia yang diberi pin-pin berwarna merah. Salah satunya menandai negara Dr Joean, Malaysia. Dr. Rosukon menerangkan bahwa pin merah itu menandakan negara-negara yang akan tenggelam akibat pemanasan global. Dr. Joean pun menyadari bahwa tidak hanya kesehatan diri sendiri yang perlu dijaga, tapi juga bumi.

Dr. Joean pun menjelaskan tentang pemanasan global dan efek rumah kaca, disertai dengan foto dan animasi yang bikin bergidik ngeri. Beberapa foto menampakkan para korban tsunami di Bangladesh yang sudah membusuk. Adapun salah satu animasi menunjukkan berkurangnya es di Kutub Utara dari waktu ke waktu. Menurut Dr. Joean, persoalan lingkungan tersebut dapat diatasi dengan membuat eco enzyme.

Kalau pernah googling tentang eco enzyme, nama Dr. Rosukon otomatis terkait, yaitu sebagai penemunya.

Bagaimana eco enzyme dapat mengatasi pemanasan global? Penjelasan yang sederhana kurang lebih begini: Salah satu cara mengatasi pemanasan global adalah dengan mengurangi sampah. Eco enzyme merupakan salah satu cara untuk mengurangi sampah tipe organik, khususnya buah, sayur, dan semacamnya yang tidak ikut dimakan/dimasak. Kalau dibiarkan, sampah tipe ini dapat mengeluarkan gas metana yang merupakan salah satu gas penyebab efek rumah kaca Dengan membuat eco enzyme, gas metana dapat dikurangi. Di samping itu, katanya 1 kilogram sampah itu sama dengan 2,06 kilogram emisi karbon!

Eco enzyme memiliki banyak kegunaan. Cairan ini dapat mengatasi pencemaran baik di air maupun udara. Sebagai contoh, Dr. Joean menampilkan foto-foto segerombolan orang yang sedang beramai-ramai menuangkan botol berisikan cairan ini ke danau, kolam, atau sungai. Dalam beberapa waktu, tampaklah perubahan. Air mulai jernih. Busa menghilang. Cairan ini juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Kalau dipakai untuk mencuci dan merendam buah dan sayuran, pestisida akan berkurang drastis di samping rasanya menjadi lebih enak. Kalau dipakai untuk merendam pakaian dalam waktu lama sampai berhari-hari, airnya tidak akan berbau seperti yang terjadi bila menggunakan deterjen biasa. Kalau dipakai untuk mengepel, hama seperti serangga dan tikus akan menyingkir. Air bekas pel dapat digunakan ulang untuk toilet, dan hasilnya pun lebih bersih serta tidak berbau. Belum lagi untuk mengatasi kaporit, membersihkan minyak, mandi, keramas, dan sebagainya. Cairan ini bahkan bisa digunakan untuk mengobati luka parah, seperti tergores kaca, bedsore, terbakar, dan tersetrum. Apalagi untuk penggunaan ringan seperti obat kumur-kumur, jerawat, infeksi kulit, serta perendam kaki.

Saking banyaknya, sampai-sampai timbul pendapat bahwa it's a magic, miracle!

Meski begitu, penting untuk diperhatikan: ECO ENZYME BUKAN UNTUK DIMINUM.

Memang pembuatan dan pemakaian eco enzyme cukup tricky. Untuk setiap keperluan, ada takaran yang harus ditaati supaya hasilnya efektif. Kalau tidak, bisa-bisa hasilnya bau atau lengket. Misalnya saja, untuk menghilangkan minyak serta mencuci piring/pakaian, rasio yang digunakan adalah eco enzyme : sabun : air = 1 : 1 : 5-10. Untuk batuk atau obat kumur-kumur, 1 tutup botol eco enzyme : 1 gelas. Untuk penyemprotan media tanaman 1 : 1000, sedangkan untuk penyiraman 1 : 500. Tidak usah dianggap ribet lah, ya!

Kalau berhasil membuat eco enzyme, tentu menyenangkan bila kita bisa membereskan berbagai macam urusan dengan satu jenis cairan saja. Apalagi untuk pemakaian apa pun, cairan yang diperlukan sedikit saja untuk diencerkan dengan air. Dalam bentuk konsentrat malah tidak efektif! Bahannya pun bisa kita peroleh secara cuma-cuma, entahkah dari sampah sendiri maupun yang ditinggalkan begitu saja di pasar: di samping baik untuk lingkungan, baik juga untuk "kocek"! Di samping itu, eco enzyme tidak mengenal kedaluwarsa. Justru, semakin lama disimpan, kualitasnya semakin baik.

Dr. Joean sangat meyakini kebaikan eco enzyme sampai-sampai beliau telah menyebarluaskannya ke berbagai negara tanpa meminta bayaran. Meski begitu, pada awalnya, beliau tidak bisa menunjukkan bukti-bukti ilmiah sehingga tidak bisa meyakinkan pihak yang berkepentingan, sebutlah pemerintah. Baru belakangan Dr. Joan dapat menampilkan bukti berupa hasil-hasil penelitian terhadap eco enzyme.

Yang menarik, katanya satu tong eco enzyme sama dengan sepuluh pohon dan dapat menghalangi sinyal wi fi. Rupanya wi fi memancarkan radiasi yang tidak baik. Misalnya saja, wi fi yang menyala dapat mengurangi kualitas tidur sehingga akibatnya bangun dalam keadaan capek alih-alih segar. So, wi fi is actually bad! Runtuhkan peradaban!

Untuk menunjukkan bahwa cairan ini perlu dipertimbangkan sebagai alternatif, dilakukan demonstrasi fluoresen. Dituangkan bubuk deterjen dari merek yang bisa saya pakai (#ehem!) ke sebaskom air. Lalu disorotkan senter khusus fluoresen. Tampak air tersebut berpendar biru. Jejak tersebut juga ada pada pakaian kita yang dicuci menggunakan deterjen semacam itu. Padahal fluoresen dapat mengancam nyawa bila meresap ke kulit. Malah, sebaiknya pelembut, pemutih, yang semacam itu, tidak usah digunakan. Supaya harga lebih ekonomis, produsen barang kebutuhan sehari-hari menggunakan bahan kimia yang boleh jadi berbahaya. Waduh! Sebagai pemburu label kuning di ****mart yang notabene penadah produk-produk tidak-habis-pakai-sayang-kalau-dibuang, saya merasa terguncang.

Terakhir, Dr. Joean menunjukkan cara membuat eco enzyme. Pada dasarnya, kita hanya membutuhkan gula merah (black sugar), sampah organik mentah (fermentasi akan terhambat bila mengandung garam dan minyak), serta air dengan perbandingan 1:3:10. Semuanya dicampur dan didiamkan selama tiga bulan. Labeli wadah yang menandakan tanggal pembuatannya, supaya tidak lupa. Kemungkinan akan muncul ulat, yang sebetulnya tidak apa-apa karena dapat menjadi ekstra protein. Kalau tidak suka ulat, tambahkan satu rasio gula. Kalau tidak mau tambah gula, wadah mesti benar-benar tertutup rapat. Buka penutupnya sesekali untuk mengeluarkan gas.

Jamur yang membentuk lapisan atas merupakan pitera seperti yang terkandung dalam produk kecantikan yang terkenal itu, lo. Lapisan ini bisa dioleskan pada kulit supaya lembut. Tapi, yang berkulit tipis atau sensitif mesti berhati-hati supaya tidak terjadi iritasi: setelah pakai, langsung bilas. Bagi yang berkulit tebal, it's okay. Untuk percobaan, bisa terlebih dahulu diterapkan pada salah satu tangan, lalu bandingkan hasilnya dengan tangan yang tidak diberi.

Setelah eco enzyme berhasil dibuat, residunya dapat dikeringkan untuk dijadikan pupuk.



(Karena tulisan ini sudah cukup panjang, Sesi 2 dan Sesi 3 saya lanjutkan pada entri berikutnya.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain