Minggu, 14 November 2010

tiga

Tak bisa dipungkiri, pemandangan VW kodok berwarna cerah di carport rumah memang cukup menyegarkan mata. VW kodok, wow, Zia senang melihatnya. Bertanya-tanya ia dalam hati apakah Mas Imin mau mengajarinya menyetir lagi. O, tentu saja Mas Imin mau kalau ada waktu. Kendalanya adalah pada Zia sendiri. Ia masih menyimpan trauma. Dalam suatu keisengan belajar menyetir, Zia menabrakkan si Bambang—mobil Mas Imin—ke pagar rumah tetangganya Kakek. Zia tidak tahu bagaimana Kakek mengurusi masalah itu kemudian—ia terlalu pengecut untuk menyaksikan. Sampai sekarang Zia memilih untuk melalui jalan lain—menghindari TKP—jika hendak ke rumah Kakek.

Akhirnya Zaha memiliki keterampilan lain selain menggambar. Zia mengucapkan selamat pada Zaha dengan nada sinis dalam khayalannya. Ia terlalu malas untuk mewujudkan khayalan itu jadi nyata. Zaha pasti akan merinding mendengarnya, apalagi kalau nada sinisnya dihilangkan.

Zia melabuhkan diri di seberang Zaha. Ranselnya masih menempel di punggung. Ademnya lantai menembus ke balik seragam sekolah. Tubuhnya masih terasa letih selepas mengikuti penghitungan suara untuk menentukan siapa ketua OSIS terbaru. Ia tidak bisa berhenti teriak dan loncat-loncat tadi, saking terbawa suasana. Ega yang makin grogi akibat tingkah Zia itu tidak bisa berhenti mendesis, “Tong norak ah, Zia!” Kini keharuan seorang ibu yang baru pertama kali mengantar putranya bersekolah menyelimutinya. Kegembiraan yang sama pernah ia rasakan kala mendapati lengan dan betis Ega akhirnya ditumbuhi rambut.

Zaha menengok sebentar lantas terperanjat. “Eh, masuk rumah tuh dibuka sepatunya!”

“Ih, sepatuku bersih kok… Nggak kotor ini…” Tubuh Zia berguling hingga telungkup. Matanya melirik pada kedua ujung tungkai kakinya yang menyilang ke atas.

“Tapi tetep aja ada debu dari luar! Joroknya kebangetan ih! Lepas, lepas, lepas!”

“Hah, iya, baweeel…”

“Naruh di rak sepatunya jangan asal! Baru aku beresin tadi!”

“Iyaaaaaaaa…!” Zia tidak habis pikir. Seharusnya Papa tidak usah menggaji pembantu lagi. Satu orang Zaha saja sudah cukup untuk membuat isi rumah terlihat bersih dan rapi. Setelah memastikan Zia mengerjakan titahnya, Zaha kembali mendaratkan pandangan ke layar TV. Sebundel kertas HVS di pangkuannya. Zia mendaratkan tubuhnya lagi di seberang Zaha sembari melirik benda tersebut. Pasti komik karangan terbaru Zaha. “Enak yah, yang nggak usah belajar…”

“Aku belajar kok. Baru aja gurunya pulang.”

Zia masih menebak-nebak apakah guru homeschooling Zaha adalah seorang pria muda menawan idealis yang menentang lembaga akademis formal. Kalau datang kesempatannya bertemu pria tersebut, Zia akan mengungkap bahwa mereka sepikiran. Lalu ia dan si keren akan membangun lembaga akademis informal yang fokus programnya adalah pada pengembangan potensi sejati anak. Yadda yadda yadda… Zia belum ingin mengklarifikasi kebenaran langsung pada Zaha. Bisa runtuh khayalan indahnya.

Mendapati Zaha tampak lengah, Zia menarik bundelan kertas HVS dari pangkuan Zaha dengan gerakan cepat. Zaha memekik. Ia berusaha meraih miliknya kembali namun Zia lekas berlari ke ruang depan. “Yee ye ye ye, ye…” Zia melampiaskan kemenangannya. Zaha mendesah kesal namun terlalu malas untuk mengejar. Ia berbaring miring dengan kepala tetap mendongak pada layar TV.

Zia menghempaskan tubuh ke atas sofa. Mengambil posisi enak untuk menikmati draft terbaru Zaha. Baru halaman pertama, matanya sudah lengket saja. Zia tidak habis pikir akan orang-orang yang memiliki bakat menggambar sejati. Bagaimana bisa garis sehalus ini tertoreh? Bagaimana menentukan arsiran apa yang tepat untuk bagian ini, sementara bagian itu harus diberi arsiran begitu? Mengapa bisa sampai kepikiran memberi detil-detil seperti ini? Mengapa gambar ini tampak ‘bernyawa’? Zia ngeri. Halaman demi halaman dibukanya.Ya ampun… Makin jadi aja nih anak… Perasaan iri menyambar-nyambar batin Zia. Ke luar dalam bentuk decakan yang tak terdefinisi—entah kagum atau cemooh. Begitu sampai di halaman terakhir, Zia kecewa.

Zaha mengomel ketika Zia mengembalikan draft komiknya dengan cara dilempar. Sebetulnya Zia tidak bermaksud demikian. Entah mengapa tangannya terasa licin, begitu pun mulutnya. “Bikin cerita tuh yang koheren. Awalan harus nyambung ma yang akhir. Sebenernya apa sih yang dicari tokoh utama kamu tuh? GJ banget tau nggak?”

“Ya emang ceritanya belum selesai kali!”

Zia tidak peduli. Kenikmatan tersendiri baginya menyemprot Zaha tiada henti. “Trus adegan-adegan nggak pentingnya diilangin ajalah. Itu maksudnya apa sih yang dia ngais-ngais tong sampah cuman buat nyari peniti? Trus kenapa si… siapa itu temennya tokoh utama… di akhir-akhir wajahnya jadi kayak Nobita?”

“…sengaja…” jawab Zaha malas.

“Makanya jangan baca komik terus dong ah. Novel juga dijamah kek!”

“Lah, ngebacot aja. Mana novel bikinan kamu? Sini aku liat!”

Zia terhenyak. Ternyata Zaha masih ingat! “Entar, lagi aku matengin dulu…” Zia menaiki tangga, meninggalkan sindiran-sindiran Zaha yang telak mengena. Memang sudah ratusan buku yang sudah Zia baca. Zia merasa tahu cerita yang bagus itu seperti apa. Namun itu tidak menjamin bahwa ia tahu bagaimana cara membuatnya. Ia belum bisa membuktikan bahwa tahu-seperti-apa secara signifikan menyokong tahu-bagaimana.

Zia sudah lama tidak membuka lagi draft novelnya—yang jadinya sangat kacangan itu. Padahal ia sudah berusaha berhenti mengonsumsi teenlit, tapi ide cerita yang muncul dalam kepalanya tidak pernah jauh-jauh dari itu. Sekolah pun jadi kambing hitam. Zia mengganggap tuntutan akademis begitu menekannya sehingga pikirannya ingin lari pada penghiburan semata. Bisa tambah amburadul nanti pikirannya kalau dipaksa untuk mencari-cari ide “wah”.

Lain halnya dengan Zaha, tema ceritanya kerap merambah ke ranah-ranah yang tidak pernah Zia kepikiran. Seperti waktu Zaha menjadi juara harapan untuk sayembara komik korupsi—tidak pernah Zia kepikiran sama sekali untuk membuat cerita dari sudut pandang seekor tikus. Begitu pun waktu Zaha mendapatkan uang dan sertifikat dari sayembara komik kependudukan. Ia menampilkan konflik antara seorang petugas sensus penduduk dengan seorang berkepribadian terbelah. Si kepribadian terbelah bersikeras mencantumkan identitas beberapa manusia yang selama ini ia anggap tinggal bersama dalam rumahnya—padahal tanpa disadarinya mereka semua hanya satu tubuh.

Zia menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Sebelah tangannya menggapai-gapai remot mini compo. Dapat. Ia nyalakan salah satu sumber penghiburan hatinya itu. On. Function. Radio. Channel 1. Ringo FM adalah saluran favorit kawanannya semasa SMP. Zia masih ingat saat-saat di mana mereka saling pamer setelah sms mereka dibacakan penyiar radio. Setelah SMA, ia jadi tidak begitu antusias mendengarkan radio lagi. Mungkin karena ia tidak satu sekolah lagi dengan para kawan maniak radionya.

Setelah beberapa kali jingle iklan, pikiran Zia berhenti jalan-jalan. Indra pendengarannya menangkap sebuah suara yang ia kenal. Bukan, itu bukan suara penyiar Ringo yang ia akrabi sejak SMP. Itu adalah suara seseorang yang Zia lupa namanya. Zia bersimpuh. Ia memacu pikirannya untuk mengingat-ingat. Siapa… siapa… siapa... Ia sempat mengakrabi cewek tersebut pasca audisi penyiar pelajar Ringo FM beberapa bulan lalu. Zia ganti menggenggam remot dengan ponsel. Dicarinya nama salah satu kawan maniak radionya di buku telepon.

“Ul, dengerin Ringo nggak?” ucap Zia begitu nada sambung terputus suara manusia di ujung saluran.

“Eh, iyaaa! Itu si… si… Handoce yah, yang siaran?”

Ah, iya, Handoce! Tapi tentu saja itu bukan nama aslinya. “Eh, berarti pengumumannya udah dong…”

“Iya yah. Kayaknya aku mah nggak keterima da…”

“Eh, emang pengumumannya gimana sih?”

“Nggak tau. Udah lama da nggak main ke sana.”

Lantunan lagu menggantikan suara cewek yang ditengarai sebagai Handoce. “Eh, eh, nama aslinya si Handoce itu siapa sih...?”

“Aduuuuh… lupa! Bukannya kamu yang waktu itu teh deket sama dia?”

“Justru itu saya mau nanya! Udah ya, Ul!” Zia jadi tak sabaran hendak menelpon Handoce langsung. “Tanya Tata atau Regi aja!” jawab Zia sebelum memutus hubungan. Tadi Aulia menanyakan apakah mereka jadi reuni SMP atau tidak dalam waktu dekat. Sejenak kebingungan melanda Zia. Ia belum berhasil mengingat nama asli Handoce, bagaimana ia dapat menemukan nomornya di buku telepon? Iseng ia mengetik “Handoce”. Ternyata ada.

Nama belakang Handoce sama dengan nama belakang kecengan Zia waktu SMP, yaitu Handoko. Hampir mirip pula wajah mereka. Untuk membedakan, maka kawanan Zia sepakat memanggil yang cewek dengan Handoce, atau Handoko cewek, dan kecengan Zia dengan Handoco, atau Handoko cowok.

“Hei, masih inget aku nggak? Ini Zia!” teriak Zia begitu menangkap suara-suara di ujung saluran. Setelah berkali-kali melakukan panggilan, akhirnya diangkat juga!

“Eh, Zia! Masih inget atuh…” Zia merasa lucu dengan lawan bicaranya. Bisa-bisanya menerima telepon saat siaran. Tahu deh kalau sampai kena apa. Sudah begitu masih ingat pada Zia pula, padahal Zia sebaliknya. “Gimana kabarnya?”

Zia kerap heran mengapa orang masih mempertahankan kalimat basa-basi demikian. Dan sepertinya tidak layak untuk memberi jawaban selain “Alhamdulillah, baik.“ Memangnya orang yang bertanya sungguh-sungguh mau mendengarkan kabar yang ditanya? Kadang hidup terlalu pelik untuk dijabarkan dan orang-orang tentu hanya ingin hal-hal baik yang masuk ke lubang telinga mereka.

“Eh, aku barusan dengerin kamu siaran lo… Selamat yah, Han… eee…”

Untung Handoce keburu tersipu-sipu. “Iya, makasih ya, Zia… Dengerin terus ya, Zia. Aku siaran tiap Rabu. Temen-temen kamu disuruh dengerin Ringo juga dong…”

“Oke, oke… Eh, kamu mulai kapan sih siarannya?”

“Mmm… Udah dari minggu kemarin, Zia.”

“Emang kapan pengumumannya?”

“Udah rada lama sih.”

“Itu, kamu dateng langsung ke Ringonya atau dikasih tau lewat mana gitu…”

“Ditelpon, Zia. Eh, kamu nggak?”

“He…” Ngapain sih pake tanya lagi? Seharusnya kamu udah tau dari awal kan, orang-orang yang sama beruntungnya dengan kamu itu siapa aja?!

“Eh, Zia, maaf ya, aku harus balik ke studio lagi nih…”

“Mangga, mangga…”

“Kamu nge-req ke acara aku dong. Entar aku pasti bacain deh!”

Zia terpikir untuk me-request tembang “The Winner Takes It All” dari ABBA atau “Maybe This Time” yang jadi soundtrack Glee. Tapi itu malah akan makin mengukuhkan kekalahannya dari Handoce. Oh, ya, siapa nama asli Handoce tadi? Sambungan sudah keburu diputus.

Beberapa lama, Zia terpekur. Ia menghembuskan nafas. Setelah mengambil sebuah buku dengan kawat melingkar di tepi dari dalam laci meja belajar, ia telungkup di atas kasur. Halaman demi halaman buku tersebut ia buka hingga sampailah ia pada daftar hal-hal yang ingin ia lakukan. Ia mencoret beberapa poin.

Sabtu, 13 November 2010

dua

(i keep looking for a place to fit it, where i can speak my mind/ i’ve been trying hard to find the people, that i won’t leave behind/ they say i got brain/ but they ain’t doin’ me no good/ i wish they could/ each time things start to happen again/ i think i got something good goin’ for myself, but what goes wrong?/

every time i get the inspiration, to go change things around/ no one wants to help me look for places, where new things might be found/ beach boys – i just wasn’t made for these times)

.

Jati diri sang cowok kelas X akhirnya terkuak juga. Sebetulnya sejak awal Zia sudah menduganya. Bisa dipastikan cowok tersebut adalah saudara kembar Arderaz—cowok kelas X yang sedang jadi pujaan anak-anak seangkatan Zia dan juga angkatan atas—meski keidentikan rupa keduanya tidak kentara. Zia bertemu lagi dengannya pada suatu malam di ruang tengah lantai dua rumah Kakek. Saat itu ia dan Mas Imin baru pulang dari berburu bandros. Dean kawan sekelompok tugas Zahra rupanya. Sebagai sesama korban peraturan sekolah pasal penertiban rambut, Zia langsung merasa ada kedekatan emosional antara ia dan Dean. Dengan potongan rambut yang sudah dibereskan, cowok tersebut ternyata lebih enak dilihat.

Setelah pertemuan kembali tersebut dan beberapa kali bertukar sapa kala berpapasan di sekolah, Zia merasa mereka bisa gila bersama. Dean tidak menolak diajak berkaraoke ria. Betapa asyiknya anak ini, tidak ada sungkan-sungkannya dengan kakak kelas! Agar lebih ramai, Dean berinisiatif mengajak kawan-kawan sekelompok tugasnya. Zia tidak tahu kalau kawan-kawan Dean tersebut termasuk tipe penggembira. Memang pada tempo malam silam Zia baru bertemu dua di antaranya: si anak Jawa yang merasa dirinya berbakat menyanyi (seketika antusiasme Mas Imin tersulut) dan Zahra. Yang Zia khawatirkan sebetulnya adalah suasana hati Zahra yang berisiko mengubah keramaian jadi kecanggungan berjamaah. Namun lagak santai Dean mengatakan bahwa semua bisa diatur.

Yang terjadi kemudian adalah Zia larut sendiri dalam aksi unjuk suaranya. Zia maklum saja Zahra hanya mau duduk diam dengan mulut terkatup rapat. Suara Dean ternyata kontras dengan tampangnya dan memang bakatnya hanya sebagai penggembira. Dua anak lain, Acil dan Rani, sepertinya tidak hafal banyak lagu selain yang berhubungan dengan alam dan hidupan liar macam “Naik-naik ke Puncak Gunung”, “Burung dalam Sangkar”, “Mars Rimbawan”, “Gelatik”, “The Lion Sleeps Tonight”-nya Paul Simon, jingle-jingle Pramuka, dan lagu-lagu dari albumnya The Safari. Yang benar-benar niat mengekspresikan vokal dan menemaninya lepas kontrol hanya si anak Jawa. Kini Zia hapal namanya adalah Salman.

Ternyata kepiawaian Salman bernyanyi bukan sekedar kepercayaan diri buta yang Zia kira lumrah menjangkiti kaum cowok. Padahal Salman mengaku tidak pernah mengikuti les, lomba, atau apapun yang berkaitan dengan kegiatan asah vokal—selain menyanyi di kamar mandi. Bakatnya muncul begitu saja saat ujian praktek SMP. Ia mendapat nilai tertinggi di antara kawan-kawan seangkatannya untuk itu. Sejak itu Salman memikirkan kemungkinan untuk mempertahankan dan mengembangkan bakatnya tersebut.

Sejenak Zia tenggelam dalam bengong kala mendengar Salman menyanyi untuk pertama kali. Tak hanya mampu mengubah jazz jadi seriosa, ke-medhok-annya pun tak lagi teridentifikasi. SMANSON kini memiliki Pavarotti! Mas Imin pasti bakal turut terpesona seandainya ia juga ada di ruangan ini. Dengan tidak memberi Salman pujian, Zia merasa masih punya kepercayaan diri untuk mendampingi Salman menyanyi. Mas Imin bilang, nyanyian Zia hanya enak didengar saat Zia baru bangun tidur—di kamar mandi, dengan air mengalir deras dari keran. Padahal Zia ingin jadi vokalis seandainya ia punya band sungguhan.

Sebagai senior, Zia punya kuasa lebih untuk menentukan lagu-lagu. Lagipula memang sepertinya baru kali ini Salman menginjak karpet ruang karaokean. Salman mengamati Zia meniti daftar lagu dengan mouse. Sesekali ditunjuknya lagu yang ia inginkan. Kendati hidup di jaman yang sama dengan Zia, selera musik Salman ternyata satu jaman dengan Kakek. “Beatles, Elvis Presley, Julio Iglesias, Bee Gees, sama ABBA, Teh!” jawab Salman mantap waktu ditanya apa favoritnya.

Untung saja Zia cukup bergaul dengan Kakek, jadi ia punya beberapa lagu favorit juga dari siapa-siapa yang disebut Salman tadi. Jawaban Salman belum tuntas rupanya. Ia melanjutkan, “Rolling Stones, Deep Purple, The Cats, Michael Jackson…” Untung Zia tumbuh dengan rutinitas Papa memutar kaset para band dan penyanyi favoritnya keras-keras pada akhir minggu

“Kalau Belle & Sebastian atau Temper Trap gitu suka nggak?” sambung Zia. Melihat air muka Salman, Zia memutuskan untuk kembali mundur dua sampai empat dekade. Wawasan Salman akan band-band kontemporer ternyata tidak sebaik kualitas vokalnya. Setelah memilih beberapa lagu, Zia mengangkat mic tinggi-tinggi. “Ayo kita nyanyi lagi!”

Sembari menyusul Zia bangkit, berkatalah Salman dengan hati-hati. “Oh ya, Teh, maaf, Teh, entar pas bagian nada tinggi biar aku aja ya, Teh. Telingaku agak pekak e pas Teteh… Sori, ya, Teh!”

Zia mengangguk-angguk dengan mimik sok ikhlas. Dean yang tengah tiduran di sofa berteriak, “Bahasa gaulnya budeg, Salman!”

Jumat, 12 November 2010

Weekend with Teenlit (bagian 1 dari 3)

Catatan ini bertanggal 15 Maret 2010, agak kadaluarsa memang. Merupakan perpaduan antara curhat dan review buku, ini adalah sepenggal usaha yang saya tempuh sebelum akhirnya saya berhasil menyelesaikan penggarapan tiga buah novel pada tahun ini.

Pinjem teenlit apa nggak ya? Sejak beberapa hari itu pertanyaan ini selalu menghantui. Antara tuntutan untuk berhemat dengan kebutuhan mendapatkan motivasi untuk menggarap proyek teenlit pribadi. Dengan membaca teenlit-teenlit yang katanya “cerdas” (saya sudah browsing di internet dan menemukan beberapa judul yang saya ingin baca dan membuktikan se”cerdas” apa sih teenlit tersebut), saya berharap bisa mendapatkan motivasi itu kembali. 

Sebuah proyek teenlit dalam kepala, yang hasrat-minta-digarapnya selalu timbul tenggelam dalam kepala sejak bertahun-tahun lamanya. Wajar kalau saya ingin bisa menghasilkan yang terbaik. Dan waktu yang paling baik untuk menggarap adalah saat kita memang lagi merasakan feel-nya. Masalahnya, saya suka menunda-nunda. Feel-nya sudah dapat, tapi selalu saja ada hal lain yang kemudian dikerjakan. Nggak ketempuh-ketempuh deh. Feel pun menyurut. Di saat merasa ada waktu untuk menggarapnya, feel itu sudah tak terasa lagi. Sebetulnya, saya kira, hanya dengan memikirkannya saja feel itu sudah dapat ditumbuhkan lagi. 

Mungkin emang saya juga butuh hiburan. Buku-buku yang saya pinjam dari perpustakan pusat kayaknya buku-buku berat semua (“Wartawan dan Penulisan Sains”, “Sejarah Hidup Muhammad”, “ Gay Teen”). Mungkin saya butuh selipan juga. Setetes penghiburan berupa bacaan ringan dan ngepop. Tapi, untuk bisa mendapatkan itu, saya harus mengeluarkan sejumlah uang. Saya harus merentalnya dari taman bacaan. Dan itu bisa jadi tidak sedikit. 

Sudah lama sekali saya tidak ke (baca: menghindari) taman bacaan. Saya ingat, saya pernah pinjam sampai sepuluh ribuan lebih hanya untuk waktu pinjam beberapa hari (sementara di perpustakaan pusat, meminjam buku itu gratis dan waktu pinjamnya dua minggu). Karena besoknya sudah harus dikembalikan lagi dan selama seharian sebelumnya saya malah main ke tempat saudara jauh, malam itu saya maraton menamatkan semua buku yang saya pinjam itu. Setelah sebelumnya tertawa-tawa terhibur, saya menghabiskan sisa malam hingga—saya tidak ingat—mungkin  dini atau pagi hari untuk menggarap laporan praktikum.

Hari itu Sabtu. Saya diajak untuk membantu di acara training-nya rohis kampus. Sebuah ajakan yang sudah saya iyakan. Ini berarti saya menghabiskan sore itu, lalu malamnya, hingga keesokan siang bahkan sorenya, bersama orang-orang lain. Kalau saya jadi pinjam teenlit, kapan sempat membacanya? Saya ingat saya pernah membawa teenlit ke acara semacam itu lalu saya diperingatkan oleh seorang kakak angkatan untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan sampai kelihatan oleh “adek-adek”-nya, katanya. Oh ya, tentu saja. Teenlit penuh godaan duniawi.

Pagi itu, saya smsan dengan teman saya. Iseng bertanya Cendekia—taman bacaan dekat kampus yang memang saya sudah punya nomor pinjamnya—bukanya jam berapa sampai jam berapa. Setiap hari, dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, jawabnya. Wow. Dia bertanya saya mau pinjam apa ke Cendekia. Sambil jalan berniat cari sarapan, saya bertanya apakah dia mau ke Cendekia? Dia bilang mau. Saya belok kiri menuju ke kosannya. Jadilah, kala itu kami pergi ke Cendekia. Tertunaikanlah niat saya meminjam teenlit. Dan nggak hanya satu. Plus komik pula! Saya bilang saya mau pinjam sampai Kamis. Dua belas ribu harus saya bayarkan. Adudududuh.... Ah, sudahlah.

Teman saya balik ke kosannya karena sudah ada yang menunggunya sementara saya lanjut ke warung makan untuk sarapan. Sambil makan, saya mulai membaca salah satu buku yang baru saya pinjam itu. Dari yang ringan dululah. Komik.

Judul : Genius Family Company vol. 1
Pengarang : Tomoko Ninomiya
Penerbit : Level Comics, Jakarta, 2009
Harga : Rp 28.000,-

Dewasa.

Karena tokoh utamanya masih anak SMA, begitupun sebagian tokoh-tokoh lainnya, maka buku ini bisa dikategorikan teenlit juga kali ya? Meskipun labelnya dewasa?

Membolak-balik sekilas halaman-halamannya, saya kira yang membuat komik ini adalah orang yang sama dengan orang yang membuat komik “Nodame Cantabile”. Kayaknya kocak. Ceritanya juga kayaknya bagus. Cuman ada satu jilid ini saja. Tanpa pikir panjang saya mengambilnya. Dan beneran, kocak. Menghibur. Nggak nyesel ambil buku ini.

Seperti inilah sinopsis di sampul belakangnya:
Katsuyuki Natsuki, remaja jenius yang saat ini menjalani kehidupan yang lancar dan indah. Dia membantu ibunya merancang produk, memperhatikan perekonomian Jepang, dan mulai akrab dengan cewek teman sekelasnya. Namun, bersamaan dengan perayaan promosi ibunya, hidupnya menjadi kacau. Sang ibu mengumumkan rencana pernikahannya dengan novelis nyentrik yang nggak laku. Apa-lagi, putra novelis itu sekelas dengan Katsuyuki. Sejak saat itu, kehidupan elit yang diimpikan Katsuyuki bagai terisap ke dalam lubang hitam!
Saya membanding-bandingkan komik ini dengan “Nodame Cantabile”. Persamaannya, tokoh sentralnya adalah pemuda yang nyaris sempurna, dengan kejeniusan yang menonjol (ingat tokoh Chiaki di “Nodame Cantabile”) dan fisik menunjang, sampai-sampai dia menuntut lingkungan sekitarnya serba sempurna juga. Tokoh “sempurna” ini pun jadi terkesan menyebalkan, apalagi setelah dipertemukan dengan orang lain yang ternyata nggak kalah jeniusnya, tapi jauh lebih humble. Di “Nodame Cantabile” ada Noda Megumi sedangkan di komik ini ada Tanaka Haru. Kalau Noda Megumi mempunyai bakat audio yang mengagumkan hingga mampu memainkan kembali not-not piano tanpa melihat partitur, Haru Tanaka—saudara tiri Natsuki—memiliki bakat alam yang luar biasa. Benar-benar bakat yang berhubungan dengan alam. Cowok 17 tahun ini suka bolos sekolah hanya untuk menjelajahi tempat-tempat terbuka di sekitar sekolah, menuruni tebing untuk mencabuti tetumbuhan liar, dan semacam itu. Dia tahu nama segala macam tumbuhan liar dengan potensinya masing-masing, baik sebagai obat maupun sebagai racun.

Kestresan si tokoh “sempurna” makin berlipat-lipat karena selalu ada saja orang-orang aneh di sekitarnya yang mendukung keeksentrikan si humble jenius. Semua tokoh tidak ada yang benar-benar sempurna. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang, emang sih, terasa lebay.

Nagasawa Kyoko, cewek yang diam-diam disukai Natsuki di sekolah, misalnya. Pada awalnya di mata Natsuki cewek itu begitu mengagumkan. Dia manis, ceria, dan populer. Natsuki yang narsis merasa cewek itu cocok dengannya sampai suatu ketika cewek itu ngotot memintanya menjadi model telanjang. Saking ngototnya, dia sampai membuka paksa pakaian Natsuki. Natsuki yang kontan menyelamatkan diri membuat Kyoko hanya bisa menjerit-jerit memanggilnya sampai menangis. Esoknya, isu bahwa Natsuki telah melakukan pelecehan seksual terhadap Kyoko merebak ke seantereo sekolah.

Atau Tanaka Sosuke. Ayah Haru ini kerjanya hanya di rumah, memasak, dan bersahabat dengan tetangga. Di mata Natsuki, Sosuke begitu tidak berguna. Tidak berpenghasilan. Miskin. Siapa sangka, dalam suatu insiden yang menyebabkan Natsuki “mematikan” Sosuke yang ternyata dapat diselamatkan, kawan-kawan Sosuke dari seluruh penjuru dunia berdatangan ke rumah untuk melayatnya. Mulai dari Amerika sampai Indonesia, Rusia sampai Arab, Jerman sampai suku terasing dari entah pulau mana, mereka memenuhi halaman rumah Natsuki (yang sudah ditinggali Sosuke dan Haru). Berbelasungkawa atas kematian sahabat mereka sampai-sampai mengadakan upacara untuk menghidupkannya kembali. Tahu-tahu Sosuke dan Haru datang dari berjalan-jalan. Mengetahui bahwa Sosuke masih hidup (atau hidup kembali?), mereka kontan bersuka cita dan merayakannnya dengan pesta besar-besaran yang mengacaukan seluruh isi rumah.

Biarpun katanya novelis nggak laku, tapi kalau kawan baiknya sampai sebanyak itu—dari seluruh penjuru dunia pula—saya jadi pingin kayak ayahnya Haru deh...

Sebetulnya kalau dari segi cerita, saya nggak terlalu memikirkannya. Memang penasaran juga sih, apakah nanti akan ada cinta segitiga di antara Natsuki-Kyoko-Haru? Siapakah gadis kecil, yang ternyata seumuran dengan mereka, yang muncul di akhir cerita? Apa pengaruh kehadirannya terhadap kehidupan Natsuki nanti? Kenapa dia harus muncul sementara cinta segitiga di antara Natsuki-Kyoko-Haru belum juga dijadikan konflik yang serius? Saya lebih menantikan kekocakan-kekocakan yang pasti bakal terus bermunculan sambil berharap semoga cerita ini jadinya nggak terlalu mirip “Nodame Cantabile”.

Dari segi art-nya sendiri, beberapa teman mengakui kalau mereka nggak suka komik dengan gambar realis—di mana orang digambarkan bertubuh proposional seperti pada kenyataannya, dengan mata kecil, dan sebagainya—seperti komik ini. Kalau saya sendiri sih, tidak terlalu memusingkan hal itu. Bagi saya, cerita yang bagus adalah yang terpenting, biarpun art-nya nggak ngejreng-ngejreng amat. Sebutlah “20th Century Boys”, “dr. Koto”, hingga “Say Hello to Black Jack”, biarpun art-nya mungkin kurang menarik, tapi ceritanya canggih! Tidak habis-habis kekaguman saya terhadap komik-komik Jepang yang banyak memberikan wawasan dan menampilkan para tokoh yang manusiawi (okelah, lebay dikit nggak papa, kayak komik ini). Saya berharap bisa membuat novel yang secanggih komik-komik Jepang yang saya senangi ceritanya.

Meskipun saya curiga juga, komik “Genius Family Company” ini ceritanya bakal jadi berlarut-larut seperti “Nodame Cantabile”. Dari judulnya, saya memperkirakan, keluarga yang terdiri dari para jenius—terutama anak-anak mereka—ini suatu saat bisa bersatu dan kompak dalam mendayagunakan kejeniusan mereka. Belum tahu komik tebal ini sampai jilid berapa. Semoga saja ada dorama live action-nya, amin! 


sumber gambar

Bagian 2 
Bagian 3

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain