Jumat, 12 November 2010

Weekend with Teenlit (bagian 1 dari 3)

Catatan ini bertanggal 15 Maret 2010, agak kadaluarsa memang. Merupakan perpaduan antara curhat dan review buku, ini adalah sepenggal usaha yang saya tempuh sebelum akhirnya saya berhasil menyelesaikan penggarapan tiga buah novel pada tahun ini.

Pinjem teenlit apa nggak ya? Sejak beberapa hari itu pertanyaan ini selalu menghantui. Antara tuntutan untuk berhemat dengan kebutuhan mendapatkan motivasi untuk menggarap proyek teenlit pribadi. Dengan membaca teenlit-teenlit yang katanya “cerdas” (saya sudah browsing di internet dan menemukan beberapa judul yang saya ingin baca dan membuktikan se”cerdas” apa sih teenlit tersebut), saya berharap bisa mendapatkan motivasi itu kembali. 

Sebuah proyek teenlit dalam kepala, yang hasrat-minta-digarapnya selalu timbul tenggelam dalam kepala sejak bertahun-tahun lamanya. Wajar kalau saya ingin bisa menghasilkan yang terbaik. Dan waktu yang paling baik untuk menggarap adalah saat kita memang lagi merasakan feel-nya. Masalahnya, saya suka menunda-nunda. Feel-nya sudah dapat, tapi selalu saja ada hal lain yang kemudian dikerjakan. Nggak ketempuh-ketempuh deh. Feel pun menyurut. Di saat merasa ada waktu untuk menggarapnya, feel itu sudah tak terasa lagi. Sebetulnya, saya kira, hanya dengan memikirkannya saja feel itu sudah dapat ditumbuhkan lagi. 

Mungkin emang saya juga butuh hiburan. Buku-buku yang saya pinjam dari perpustakan pusat kayaknya buku-buku berat semua (“Wartawan dan Penulisan Sains”, “Sejarah Hidup Muhammad”, “ Gay Teen”). Mungkin saya butuh selipan juga. Setetes penghiburan berupa bacaan ringan dan ngepop. Tapi, untuk bisa mendapatkan itu, saya harus mengeluarkan sejumlah uang. Saya harus merentalnya dari taman bacaan. Dan itu bisa jadi tidak sedikit. 

Sudah lama sekali saya tidak ke (baca: menghindari) taman bacaan. Saya ingat, saya pernah pinjam sampai sepuluh ribuan lebih hanya untuk waktu pinjam beberapa hari (sementara di perpustakaan pusat, meminjam buku itu gratis dan waktu pinjamnya dua minggu). Karena besoknya sudah harus dikembalikan lagi dan selama seharian sebelumnya saya malah main ke tempat saudara jauh, malam itu saya maraton menamatkan semua buku yang saya pinjam itu. Setelah sebelumnya tertawa-tawa terhibur, saya menghabiskan sisa malam hingga—saya tidak ingat—mungkin  dini atau pagi hari untuk menggarap laporan praktikum.

Hari itu Sabtu. Saya diajak untuk membantu di acara training-nya rohis kampus. Sebuah ajakan yang sudah saya iyakan. Ini berarti saya menghabiskan sore itu, lalu malamnya, hingga keesokan siang bahkan sorenya, bersama orang-orang lain. Kalau saya jadi pinjam teenlit, kapan sempat membacanya? Saya ingat saya pernah membawa teenlit ke acara semacam itu lalu saya diperingatkan oleh seorang kakak angkatan untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan sampai kelihatan oleh “adek-adek”-nya, katanya. Oh ya, tentu saja. Teenlit penuh godaan duniawi.

Pagi itu, saya smsan dengan teman saya. Iseng bertanya Cendekia—taman bacaan dekat kampus yang memang saya sudah punya nomor pinjamnya—bukanya jam berapa sampai jam berapa. Setiap hari, dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, jawabnya. Wow. Dia bertanya saya mau pinjam apa ke Cendekia. Sambil jalan berniat cari sarapan, saya bertanya apakah dia mau ke Cendekia? Dia bilang mau. Saya belok kiri menuju ke kosannya. Jadilah, kala itu kami pergi ke Cendekia. Tertunaikanlah niat saya meminjam teenlit. Dan nggak hanya satu. Plus komik pula! Saya bilang saya mau pinjam sampai Kamis. Dua belas ribu harus saya bayarkan. Adudududuh.... Ah, sudahlah.

Teman saya balik ke kosannya karena sudah ada yang menunggunya sementara saya lanjut ke warung makan untuk sarapan. Sambil makan, saya mulai membaca salah satu buku yang baru saya pinjam itu. Dari yang ringan dululah. Komik.

Judul : Genius Family Company vol. 1
Pengarang : Tomoko Ninomiya
Penerbit : Level Comics, Jakarta, 2009
Harga : Rp 28.000,-

Dewasa.

Karena tokoh utamanya masih anak SMA, begitupun sebagian tokoh-tokoh lainnya, maka buku ini bisa dikategorikan teenlit juga kali ya? Meskipun labelnya dewasa?

Membolak-balik sekilas halaman-halamannya, saya kira yang membuat komik ini adalah orang yang sama dengan orang yang membuat komik “Nodame Cantabile”. Kayaknya kocak. Ceritanya juga kayaknya bagus. Cuman ada satu jilid ini saja. Tanpa pikir panjang saya mengambilnya. Dan beneran, kocak. Menghibur. Nggak nyesel ambil buku ini.

Seperti inilah sinopsis di sampul belakangnya:
Katsuyuki Natsuki, remaja jenius yang saat ini menjalani kehidupan yang lancar dan indah. Dia membantu ibunya merancang produk, memperhatikan perekonomian Jepang, dan mulai akrab dengan cewek teman sekelasnya. Namun, bersamaan dengan perayaan promosi ibunya, hidupnya menjadi kacau. Sang ibu mengumumkan rencana pernikahannya dengan novelis nyentrik yang nggak laku. Apa-lagi, putra novelis itu sekelas dengan Katsuyuki. Sejak saat itu, kehidupan elit yang diimpikan Katsuyuki bagai terisap ke dalam lubang hitam!
Saya membanding-bandingkan komik ini dengan “Nodame Cantabile”. Persamaannya, tokoh sentralnya adalah pemuda yang nyaris sempurna, dengan kejeniusan yang menonjol (ingat tokoh Chiaki di “Nodame Cantabile”) dan fisik menunjang, sampai-sampai dia menuntut lingkungan sekitarnya serba sempurna juga. Tokoh “sempurna” ini pun jadi terkesan menyebalkan, apalagi setelah dipertemukan dengan orang lain yang ternyata nggak kalah jeniusnya, tapi jauh lebih humble. Di “Nodame Cantabile” ada Noda Megumi sedangkan di komik ini ada Tanaka Haru. Kalau Noda Megumi mempunyai bakat audio yang mengagumkan hingga mampu memainkan kembali not-not piano tanpa melihat partitur, Haru Tanaka—saudara tiri Natsuki—memiliki bakat alam yang luar biasa. Benar-benar bakat yang berhubungan dengan alam. Cowok 17 tahun ini suka bolos sekolah hanya untuk menjelajahi tempat-tempat terbuka di sekitar sekolah, menuruni tebing untuk mencabuti tetumbuhan liar, dan semacam itu. Dia tahu nama segala macam tumbuhan liar dengan potensinya masing-masing, baik sebagai obat maupun sebagai racun.

Kestresan si tokoh “sempurna” makin berlipat-lipat karena selalu ada saja orang-orang aneh di sekitarnya yang mendukung keeksentrikan si humble jenius. Semua tokoh tidak ada yang benar-benar sempurna. Mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang, emang sih, terasa lebay.

Nagasawa Kyoko, cewek yang diam-diam disukai Natsuki di sekolah, misalnya. Pada awalnya di mata Natsuki cewek itu begitu mengagumkan. Dia manis, ceria, dan populer. Natsuki yang narsis merasa cewek itu cocok dengannya sampai suatu ketika cewek itu ngotot memintanya menjadi model telanjang. Saking ngototnya, dia sampai membuka paksa pakaian Natsuki. Natsuki yang kontan menyelamatkan diri membuat Kyoko hanya bisa menjerit-jerit memanggilnya sampai menangis. Esoknya, isu bahwa Natsuki telah melakukan pelecehan seksual terhadap Kyoko merebak ke seantereo sekolah.

Atau Tanaka Sosuke. Ayah Haru ini kerjanya hanya di rumah, memasak, dan bersahabat dengan tetangga. Di mata Natsuki, Sosuke begitu tidak berguna. Tidak berpenghasilan. Miskin. Siapa sangka, dalam suatu insiden yang menyebabkan Natsuki “mematikan” Sosuke yang ternyata dapat diselamatkan, kawan-kawan Sosuke dari seluruh penjuru dunia berdatangan ke rumah untuk melayatnya. Mulai dari Amerika sampai Indonesia, Rusia sampai Arab, Jerman sampai suku terasing dari entah pulau mana, mereka memenuhi halaman rumah Natsuki (yang sudah ditinggali Sosuke dan Haru). Berbelasungkawa atas kematian sahabat mereka sampai-sampai mengadakan upacara untuk menghidupkannya kembali. Tahu-tahu Sosuke dan Haru datang dari berjalan-jalan. Mengetahui bahwa Sosuke masih hidup (atau hidup kembali?), mereka kontan bersuka cita dan merayakannnya dengan pesta besar-besaran yang mengacaukan seluruh isi rumah.

Biarpun katanya novelis nggak laku, tapi kalau kawan baiknya sampai sebanyak itu—dari seluruh penjuru dunia pula—saya jadi pingin kayak ayahnya Haru deh...

Sebetulnya kalau dari segi cerita, saya nggak terlalu memikirkannya. Memang penasaran juga sih, apakah nanti akan ada cinta segitiga di antara Natsuki-Kyoko-Haru? Siapakah gadis kecil, yang ternyata seumuran dengan mereka, yang muncul di akhir cerita? Apa pengaruh kehadirannya terhadap kehidupan Natsuki nanti? Kenapa dia harus muncul sementara cinta segitiga di antara Natsuki-Kyoko-Haru belum juga dijadikan konflik yang serius? Saya lebih menantikan kekocakan-kekocakan yang pasti bakal terus bermunculan sambil berharap semoga cerita ini jadinya nggak terlalu mirip “Nodame Cantabile”.

Dari segi art-nya sendiri, beberapa teman mengakui kalau mereka nggak suka komik dengan gambar realis—di mana orang digambarkan bertubuh proposional seperti pada kenyataannya, dengan mata kecil, dan sebagainya—seperti komik ini. Kalau saya sendiri sih, tidak terlalu memusingkan hal itu. Bagi saya, cerita yang bagus adalah yang terpenting, biarpun art-nya nggak ngejreng-ngejreng amat. Sebutlah “20th Century Boys”, “dr. Koto”, hingga “Say Hello to Black Jack”, biarpun art-nya mungkin kurang menarik, tapi ceritanya canggih! Tidak habis-habis kekaguman saya terhadap komik-komik Jepang yang banyak memberikan wawasan dan menampilkan para tokoh yang manusiawi (okelah, lebay dikit nggak papa, kayak komik ini). Saya berharap bisa membuat novel yang secanggih komik-komik Jepang yang saya senangi ceritanya.

Meskipun saya curiga juga, komik “Genius Family Company” ini ceritanya bakal jadi berlarut-larut seperti “Nodame Cantabile”. Dari judulnya, saya memperkirakan, keluarga yang terdiri dari para jenius—terutama anak-anak mereka—ini suatu saat bisa bersatu dan kompak dalam mendayagunakan kejeniusan mereka. Belum tahu komik tebal ini sampai jilid berapa. Semoga saja ada dorama live action-nya, amin! 


sumber gambar

Bagian 2 
Bagian 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain