Sebagaimana yang terekam di blog ini, sejak pandemi, sudah tidak menonton bioskop sendiri lagi. Juga ada kesadaran mengalokasikan uang untuk suatu kepentingan. Tapi kalau ada teman yang mengajak, hayuk saja, filmnya pun menurut pilihan dia. Ada satu film yang kami tonton begitu pandemi reda. Film itu katanya diadaptasi dari cerita di suatu platform kepenulisan, tokoh utamanya diperankan oleh aktor kesukaan dia tapi saya lebih suka sama pemeran antagonisnya(?). Film itu saya tidak ingat amat judulnya, bikin saya ketawa-ketawa sendiri di ruang bioskop--maksudnya, itu bukan film komedi tapi teen romance action atau apalah istilahnya yang karena beberapa hal saya jadi literally ketawa sendiri--dan malas mencatat pengalaman itu di blog ini sesudahnya.
Teman itu baru-baru ini memilihkan film lain yang saya lagi-lagi ikut saja. Tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak berdaya juga ketika kami dapat bangku di baris kedua dari depan. Memang itu hari pertama film tersebut ditayangkan di bioskop. Cukup banyak yang mengantre. Sebanyak inikah orang yang gabut pada Kamis siang? Akan jadi apa negara ini??
Kali ini si teman memilihkan film yang tepat buat saya. Di samping bikin tidak mengeluh karena mesti mendongak menontonnya, juga sekarang saya ketawa-ketawa tidak sendirian lagi tapi serempak bareng banyak penonton lain. Ketawa tulus karena terhibur oleh joke-joke yang mulus, bukan karena jiwa yang sok mau jadi snob. Film itu adalah Gampang Cuan, yang setelahnya saya berpikiran ini layak ditonton berkali-kali untuk ditelaah sembari mencari landasannya di buku-buku teori komedi. Memang dari segi komedi menurut saya film ini pol pisan somehow, tidak asal lucu.
Salah satu adegan mengibuli orang tua. Gambar dari KUY!
Ini juga film keluarga dengan pesan moral yang sangat kuat. Sedikitnya ada dua poin yang saya tangkap yaitu konsekuensi dari berbohong kepada orang tua sekalipun untuk berbakti, di sisi lain posisi tokoh utama sebagai kepala keluarga yang ingin menjaga ketenteraman keluarga menjadi motifnya untuk berbuat demikian. Secara personal, ini kena bagi saya--mengingatkan pada kepala di keluarga saya sendiri yang kadang-kadang bikin saya menitikkan air mata diam-diam mengingat perbuatan-perbuatannya yang bercampur antara baik dan buruk, kasih sayangnya kepada keluarga yang kadang-kadang membuatnya seperti tidak ada rasa bersalah untuk begini-begitu, yah, sebagaimana si kepala keluarga dalam film ini lah. Film ini mestilah membuat kita mesti lebih mengapresiasi kepala di keluarga masing-masing, terutama jika ia sungguh-sungguh menyatakan tanggung jawabnya, dan tentu saja, kebersamaan dalam keluarga itu sendiri, yang mana nilai-nilai ini kian hari kian luntur; banyak manusia yang sudah tidak paham lagi pentingnya membangun keluarga, akibat tuntutan yang entah dari mana asal-muasalnya agar mementingkan diri sendiri dan mengurus segalanya sendiri-sendiri tidak perlu lagi saling berbagi.
Di samping komedi keluarga, ini juga film edukasi saham--atau pada pokoknya mengenai cara meraih dan mengelola cuan. Dasarnya, saya tidak ada ketertarikan pada permainan ini. Namun sepanjang perjalanan hidup saya sejauh ini (yang padahal belum juga paruh baya--sedikit lagi :p), ada beberapa referensi tentang dunia itu yang mampir. Yang langsung teringat yaitu:
1. Buku tentang kehidupan jurnalis pasar modal, yang sudah saya ulas di blog ini (tautan tersemat), dan;
2. Video Jaya Setiabudi.
Preferensi saya pribadi dalam hal ini masih lebih ke cara spiritual-tradisional seperti menabung emas (walaupun lama sekali baru bisa terkumpul hanya untuk membeli batang terkecil produk Antam wakakaka), bersedekah dan semacam itulah--yang tampak lebih "simpel" sekaligus berorientasi jangka paling panjang (sampai ke akhirat).
Harus pakai kostum bagus untuk mengikuti permainan orang kaya. Gambar dari TEMPO.co.
Begitulah maka dari film ini pun siratan yang tertangkap oleh saya: pada akhirnya dari main saham keluarga kelas bawah ini tidak mendapatkan untung apa-apa, selain mendalami arti keutuhan keluarga dan menghargai peran kepala keluarga. Keluarga adalah benteng pertahanan, menegaskan ungkapan klise tapi nyata menjadi ujian banyak orang untuk dibuktikan: "harta yang paling berharga". Dari dialog tokoh Robert Winoto, terkesan bahwa saham itu permainan orang kaya yang sudah kebanyakan duit dan ingin mencapai tujuan-tujuan finansial yang lebih tinggi alih-alih cara cepat cari cuan bagi yang kepepet. Pun, sebagaimana dinyatakan lewat tokoh Evan, main saham tanpa hitung-hitungan menjelimet ("anal-isis", dia bilang, ini karakter memang ass-hole) alias cuma tebak-tebakan itu sama saja kayak judi. Dan, kita tahu, menurut sang kesatria bergitar ....
Setelah menyajikan suatu gambaran akan jatuh-bangunnya pontang-pantingnya pergulatannya orang bawah menuruti permainan orang atas, film ini menyerahkan pilihan kepada pemirsa. Pilihannya pun bukan cuma saham, melainkan ada pula reksadana, deposito, surat utang negara, dan seterusnya, yang dijelaskan sesederhana mungkin menggunakan perumpamaan ternak ayam. Tapi, jangan lupa, investasi yang paling berharga mungkin ada pada kualitas hubungan dengan keluarga khususnya dalam masa terpuruk.
Sekilas info: Parkiran BIP diskriminatif karena tidak menampung sepeda di basement, lain dengan BEC dan Kings yang menyediakan palang parkir sepeda searea dengan motor di dalam gedung. Parkirlah di GGM; selain orang-orangnya ramah, saya mendapat fasilitas valet parking segala--gratis! Tersedia keran juga dekat situ buat cuci tangan habis pegang setang sepeda yang masih ada bekas oli dari bengkel.
Buku ini isinya pengenalan pohon-pohon yang dikemas dalam bentuk sajak anak-anak. Semuanya ada 20 pohon, yaitu: jengkol, meranti rambai, mara, jabon, mindi, kayu bapa, kedawung, petai, binong, kayu raden, kayu raja, akasia, cempaka, simpur, kenanga, turi, tengkawang kijang, kedondong, bintaro, dan tusam.
Tiap sajak umumnya mengandung informasi sebagai berikut:
fungsi, manfaat,
ciri atau karakteristik fiksi yang menonjol atau terkenal,
tempat tumbuh/penyebaran,
dan pastinya nama pohon, yang diulang-ulang seakan-akan yang baca kemungkinan pelupa :v
Sebagai contoh, saya salinkan satu puisi yang judulnya sama dengan nama daerah di dekat tempat tinggal saya.
BINONG
kalian ingin membuat perahu?
ambillah pohonku
batangku bulat dan lurus amat bagus
namaku?
panggil saja: Binong
kayuku bisa juga
untuk peti
dan batang korek api
aku ada di Sri Lanka
Muangthai dan India
Malaysia, Sumatra
dan Irian Jaya
aku suka hidup
di tanah liat
atau tanah berpasir
lihatlah diriku berdiri terpaku
di tanah datar
di pinggir sungai
daunku gugur
bila datang musim kemarau
bungaku tumbuh
bila datang musim hujan
aku sendiri hidup senang
biar datang kemarau panjang
Satu lagi deh, jenis yang konon katanya sangat digemari masyarakat Sunda.
JENGKOL
aku tanaman asli Indonesia
lalu tersebar ke Malaysia
Muangthai, Birma
Laos dan Filipina
jauh juga perjalananku
tapi aku gembira selalu
di tepi hutan aku disenangi
di tepi sungai aku disukai
di ladang aku disayangi
di kampung aku dicintai
buahku enak dimakan
tapi, wow
baunya sangat tajam
kalian berketombe?
bersihkan pelan-pelan
dengan kulit polongku
kalian belum lupa kan?
Jengkol namaku
Menurut saya, buku ini baik dimiliki orang tua untuk anak berlatih membaca sekalian berkenalan dengan jenis-jenis pohon. Sebagai sajak anak-anak, tentu saja bahasanya sederhana. Halamannya penuh warna-warni, sudah begitu ada ilustrasinya walaupun sayangnya tidak untuk setiap pohon. Bagus lagi apabila membaca sajak sambil mengunjungi tempat pohon yang diterangkannya berada sehingga bisa berkenalan secara langsung, entahkah itu di halaman, pinggir jalan, taman, atau hutan terdekat, sambil meraba-raba permukaan batangnya, mengamati bentuk daun dan bunganya, memunguti buahnya kalau ada, membandingkannya dengan yang tertulis dalam sajak, sembari menghayati kegunaannya--suatu pendidikan literasi alam.
Bagi saya sendiri, terus terang, banyak pohon dalam buku ini yang masih asing atau cuma tahu nama tapi tidak kenal bentuk-rupanya. Memang saya tumbuh di kota besar dalam lingkungan yang lebih mengakrabkan saya dengan produk-produk rekayasa manusia ketimbang yang langsung dari Sang Maha Pencipta. Memang manusia itu sendiri produk langsung Sang Maha Pencipta, begitu pula kucing-kucing yang berkeliaran di jalanan serta tanaman-tanaman ala kadarnya di halaman. Namun, itu saja tidak cukup, mengerti, kan? Sering kali semua itu sekadar latar. Implikasinya, saya termasuk golongan yang masih lebih tertarik "dicuci-otak" konten-konten digital yang di baliknya ada pembakaran batu bara pencemar udara, ketimbang berusaha mengenali dan memanfaatkan tetumbuhan di sekitar yang dengan itu secara langsung memuji dan mensyukuri kebesaran Yang Maha Kuasa.
Hidup di kota besar bukan berarti tidak ada alam sama sekali. Bisa dimulai dari halaman rumah: taruh ponselmu, keluarlah, dan pegang daun-daun, amati serangga, dan seterusnya, kehidupan yang biasanya seakan-akan tak kasatmata. Saya yakin bukan saya seorang yang perlu begini, dan buku ini pun hanya satu dari sekian banyak buku untuk menginsafkan kita agar menjadi khalifah yang adil di muka bumi, rahmat bagi segenap alam bukan hanya bagi golongannya sendiri.
Di dalam buku ini ada 17 tulisan yang hampir semuanya semula pernah diterbitkan di media cetak (surat kabar, majalah) atau merupakan makalah yang dipersiapkan penulisnya sebagai pembicara. Semuanya bertalian dengan bahasa, jelasnya bahasa daerah, bahasa nasional, dan bahasa asing yang dalam pemakaiannya sehari-hari oleh masyarakat di negara kita terdapat banyak problem. Dalam pengantar untuk edisi yang diperbaharui, sudah dipermaklumkan bahwa dalam tulisan-tulisan ini akan ada pengulangan-pengulangan karena dibuat dalam waktu berlainan untuk keperluan dan publik berlainan. Memang setelah membaca beberapa buku (almarhum) Pak Ajip, banyak ditemukan pengulangan. Tidak apa-apa, Pak, biar tercamkan dalam-dalam di sanubari.
Setelah membaca sebagian besar tulisan, saya menangkap benang merah atau garis besarnya adalah anjuran pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sekalian kritik terhadap pencampuradukkannya dengan bahasa asing serta lunturnya kebanggaan penggunaan bahasa nasional dan terutama bahasa daerah. Persoalan ini kita alami sehari-sehari.
Dalam pengalaman saya sendiri, acap kali saya heran bila menemukan terbitan berbahasa Inggris yang padahal dibuat orang Indonesia untuk orang Indonesia. Terbitan tersebut misalnya konten Instagram, ada pula novel (biasanya yang pop) yang judulnya doang berbahasa Inggris tapi isinya umumnya berbahasa Indonesia--seakan-akan kalau judulnya berbahasa Indonesia tidak akan menarik pembaca. Di sisi lain, saya sendiri termasuk pelaku yang doyan mencampuradukkan berbagai bahasa baik dalam berbicara maupun menulis wkwkwk. Indonesia, Inggris, Sunda adalah komposisi bahasa saya sehari-hari. Saya duga ini problem bagi siapa saja yang sehari-harinya terpapar oleh lebih dari satu bahasa, sehingga timbul kekacauan dalam pikirannya dan ketika mesti mengeluarkan pendapat secara spontan maka terjadilah pencampuradukkan itu. Walau demikian, bagi Pak Ajip tampaknya itu tidak boleh jadi pembenaran. Dalam tulisan "Berbanggalah dengan Bahasa Indonesia", beliau mencontohkan sosok founding father Bung Hatta yang walaupun menguasai berbagai bahasa asing, tetapi dapat mengendalikan kemampuan itu menyesuaikan dengan tempat dan audiensnya; tahu kapan bisa sepenuhnya berbicara dalam bahasa Belanda, tahu kapan mesti sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, tanpa mesti mencampuradukkannya. Pengendalian diri macam itulah yang beliau sarankan. Nasihatnya di halaman 129, "... jangan dibiasakan berpikir dalam bahasa asing kalau sedang berbicara dalam bahasa Idonesia, sehingga tidak memperhatikan aturan kalimat bahasa Indonesia."
Saya menduga Pak Ajip menghendaki prioritas penguasaan bahasa sebagai berikut:
bahasa daerah,
bahasa nasional (Indonesia),
bahasa asing (di antaranya Inggris, yang paling mendominasi).
Sedangkan di masyarakat kenyataannya berbolak-balik. Bahasa daerah ditinggalkan, bahasa nasional masih acak-acakan sudah keburu dicampuri bahasa asing. Buat saya sendiri, bahasa Indonesia yang pertama, bahasa Inggris kedua, sedang bahasa daerah bagai pengisi latar atau aksen saja (^^;)v Bukannya tidak ada kesadaran untuk mengapresiasi dan mendalami kedaerahan. Cuma, lagi-lagi, kenyataan menunjukkan bahwa penguasaan bahasa daerah tidaklah menjadi keharusan dalam pergaulan sehari-hari apalagi di kota besar tempat saya telah menghabiskan sebagian besar umur.
Membaca buku ini memantik saya untuk merenungkan lagi pemakaian bahasa saya sendiri. Namun, betapapun penguasaan ketiga macam bahasa di atas tampak merupakan gagasan yang ideal, kenyataannya waktu mulai terasa sempit, tenaga makin terbatas, dan situasi sehari-hari yang sedang dialami pun tidak menjadikan hal tersebut sebagai tuntutan. Apalagi untuk bahasa daerah, sebagaimana yang sudah dimaklumi sendiri oleh Pak Ajip di halaman 46, "... penguasaan bahasa daerah dengan baik tidak mempunyai nilai sosial." Nah! Kecuali kalau kelak di Duolingo ada bahasa Sunda dan/atau bahasa Jawa, tentu dengan senang hati saya akan memainkannya mempelajarinya di sana 😂
Yang saya herankan, sepanjang buku ini, tidak sekali pun saya temukan Pak Ajip mengungkit bahasa Arab. Padahal bahasa Arab kiranya boleh dikatakan termasuk bahasa asing yang mulai menggeser kosakata bahasa nasional, sebagai contoh mas/mbak jadi akh/ukh, pria/wanita jadi ikhwan/akhwat, maaf jadi afwan, terima kasih jadi jazakumullah khairan katsira, berprasangka buruk jadi suuzan, menggunjing jadi gibah, dan masih banyak lagi. Memang sepertinya kosakata bahasa Arab itu baru mulai umum belakangan khususnya di komunitas tertentu, sementara tulisan-tulisan dalam buku ini dibuat sudah belasan tahun lalu bahkan lebih lama lagi sedang kini Pak Ajip sudah tiada. Saya pun jadi bertanya-tanya, seandainya masih hidup dan aktif menulis, bagaimanakah kira-kira sikap Pak Ajip terhadap fenomena ini. Saya pikir, sebagai muslim yang taat, mestilah beliau memaklumi bahwa penguasaan bahasa Arab boleh dianggap penting untuk menunjang ibadah. Namun di sisi lain, sebagaimana terhadap bahasa Inggris, beliau tampak tidak suka bila bahasa daerah/nasional makin terkikis oleh bahasa asing.
Gambar di-screenshot dari Instagram.
Buku ini dibahas dalam Klub Buku Laswi (bertempat di belakang Toko Buku Bandung yang sekaligus di depan Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut 2, Bandung) pada Rabu, 18 Oktober 2023 kemarin. Di ujung pembahasan ini, Kang Wanggi Hoed memberikan tanggapan menarik yang mengingatkan saya pada ungkapan "bahasa menunjukkan budaya". Kang Wanggi menangkap kekhawatiran Pak Ajip akan fenomena beringgris-ria ini, yang di balik itu sesungguhnya ada suatu kepentingan. Simpelnya: dengan maraknya penginggrisan, tanpa disadari masyarakat pun mengalami pembaratan--jelasnya, mengadopsi nilai-nilai barat yang individualistis, materialistis, dan seterusnya, sehingga menyisihkan nilai-nilai kedaerahan yang mengutamakan gotong-royong, menghargai lingkungan hidup, dan seterusnya, sebagaimana bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tampak memberikan efek psikologis tertentu pada audiensnya, yang entah bagaimana mempersepsikan bahwa kalau dalam bahasa asing itu lebih menarik sedang dalam bahasa sendiri (nasional/daerah) itu inferior. Sayangnya, dampak budaya ini tidak dikupas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan Pak Ajip di buku ini. Oke, kita harus melestarikan bahasa daerah, memperbaiki bahasa Indonesia, dan bijaksana dalam mempergunakan bahasa Inggris. Tapi, mengapa harus demikian? Mengapa itu penting? Apa dampaknya dari melakukan atau tidak melakukan? Bagaimana meyakinkan masyarakat akan dampak-dampak yang terluputkan itu? Bagaimana pemahaman itu dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani? Dan, apakah dengan menuliskannya saja cukup? Siapakah yang mau membacanya belum lagi mengamalkannya dalam skala luas? Bukankah Pak Ajip pun sudah banyak menulis tentang hal ini tapi kenyataan makin jauh panggang dari api? Barangkali ini PR bagi penerus Pak Ajip untuk menjawabnya.
(Buku ini ada di Goodreads tapi cuma 1 edisi dan tanpa kover sebagaimana yang saya baca di Ipusnas. Maka saya mengulasnya di blog ini dengan menyertakan kover dari Ipusnas. Namun kopi yang saya baca di Ipusnas ini ada satu halaman yang tidak ada, yaitu halaman 89.)
(Posting ini untuk penyimpanan sementara supaya mudah ditemukan, kapan-kapan mungkin dipindahkan ke blog lain.)
Tak Usah Kau Takut
Oleh Ny Widya Suwarna
Bobo No. 47/XXIX/02
Marta bergegas pulang ke
rumahnya. Ia baru saja belajar bersama di rumah Sisi. “Apakah hari ini lemet
buatan Mama laku terjual?” pikir Marta gelisah. Rumah Marta adalah sebuah
penginapan kecil. Namun akhir-akhir ini jarang ada tamu menginap. Padahal
penghasilan Mama berasal dari tamu-tamu itu. Ayah Marta sudah meninggal. Hari
ini Mama baru akan mencoba menjual lemet atau ketimus. Makanan kecil ini
terbuat dari singkong, diberi gula merah dan kelapa, dibungkus daun pisang dan kemudian
dikukus.
Ketika Marta masuk ke rumah,
tampak Mama dan Mbak Eni sedang duduk di kursi meja makan. Mama bertopang dagu,
sementara Mbak Eni duduk membisu. Di atas nampan di meja masih ada tumpukan
lemet.
“Halo, Ma, Marta sudah
pulang. Lo, kok lemetnya masih banyak?” tanya Marta, lalu duduk di sisi Mama.
Mbak Eni menghela napas.
“Tadi Mbak bawa 50 bungkus.
Mbak sudah keliling kompleks, tapi hanya laku 25 buah. Masih ada 25 buah lagi.
Banyak orang tak mampu beli kue. Mungkin mereka bikin sendiri!” kata Mbak Eni.
“Yaaa, baru jualan satu hari,
kok hasilnya payah!” seru Marta kecewa.
Mama tersenyum dan berkata, “Sudah,
tak usah kecewa. Kita mengucap syukur pada Tuhan karena sudah 25 buah lemet
laku. Mbak Eni pergi ke warung saja dan beli beras 1 kg. Nanti kalau ada tukang
sayur kita beli bayam dan jagung. Besok kita masak bubur!”
Kemudian Mama menyanyi
pelan-pelan, “Tak usah kau takut, Tuhan menjagamu ….”
Marta ikut menyanyi. Ada
perasaan hangat mengalir di hatinya. Tuhan selalu menolong kalau Marta, Mbak
Eni, dan Mama menghadapi kesulitan.
Selesai menyanyi, Marta dan
Mama saling berpandangan dan tersenyum. Mama bangkit dan mengambil lemet serta
memisah-misahkannya di meja.
“Marta, tolong antarkan 5
buah pada Ibu Sakri. Dan 5 buah lagi untuk Tante Ina. Yang 5 buah terserah kamu
mau berikan pada siapa. Yang 10 buah akan kita makan sendiri!” kata Mama. Marta
pergi ke dapur, mengambil kantung-kantung plastik dan memasukkan lemet-lemet
tadi.
Marta berjalan ke luar rumah
sambil berpikir-pikir. Mula-mula lemet yang 5 buah akan diberikannya pada
kawannya, Evi, yang tinggal di ujung jalan. Tapi, kemudian diurungkan niatnya.
Belum tentu Evi suka singkong. Mungkin lebih baik ia berikan pada tukang-tukang
ojek yang mangkal di ujung kompleks. Tapi ah, siapa tahu ada orang lain yang
lebih cocok untuk menerima lemet itu.
Marta menyelesaikan tugasnya
mengantar lemet pada Bu Sakri dan Tante Ina. Marta terharu ketika anak-anak Bu
Sakri menyambutnya gembira. Mereka berseru, “Horeee, ada kueee!” lalu mereka
segera memakan lemet bawaannya.
Tante Ina lain lagi. Ia
berkata, “Wah, lagi krismon bagi-bagi kue! Ini bukan untuk dijual?”
“Maunya sih dijual, tapi cuma
laku sebagian!” kata Marta. Kemudian Tante Ina memberikan 5 bungkus mi instant.
Ketika berjalan pulang Marta
masih bingung. Lemet yang 5 buah itu mau diberikan pada siapa? Ah, akhirnya
Marta ingat tukang tambal ban, Pak Amin. Ia pun belok ke kanan. Di bawah pohon
besar di ujung jalan, di sanalah tempat Pak Amin mangkal.
“Hei, nona kecil, sini dulu!”
tiba-tiba terdengar suara dari arah kanan. Oom Martin yang gemuk pendek
melambai-lambaikan tangan. Marta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja hatinya
tergerak untuk memberikan lemet itu pada Oom Martin.
“Ini untuk Oom!” katanya
sambil memberikan bungkusan berisi lemet.
“Terima kasih, terima kasih.
Kamu tahu saja Oom lagi lapar. Beta baru pulang memancing dan Tante belum
pulang dari kantor!” kata Oom Martin.
“Duduklah dulu. Oom mau makan
kue ini!” kata Oom Martin. Marta duduk di teras dan Oom Martin segera melahap
lemetnya. Satu buah, dua buah, tiga buah … dan Marta berseru,
“Sisakan untuk Tante, Oom!”
Oom Martin tertawa
terkekeh-kekeh. “Beta sedang lapar. Tuhan baik kirim nona kecil bawa lemet.
Bilang sama mamamu, besok Oom pesan 20 lemet untuk Tante. He he he, biar dia tidak
marah. Marta, tolong ambilkan Oom minum. Ambil sebotol air kulkas dan gelasnya!”
kata Oom Martin dengan riang. Marta menurut. Dalam hati ia merasa geli. Oom
Martin ini lucu.
Sesudah Oom Martin kenyang
makan dan minum ia berkata, “Tadinya Oom panggil kamu mau suruh masak supermi.
Tapi, sekarang Oom sudah kenyang. Terima kasih, ya. Tunggu sebentar, Oom mau
ambil ikan untuk mamamu!”
Oom Martin masuk ke dalam.
Kemudian ia keluar membawa seekor ikan tenggiri yang diikat dengan tali rafia.
“Terima kasih, Oom, Mama pasti
senang!” kata Marta sambil menerima ikan itu. Marta lalu pamitan. Namun saat
Marta berjalan keluar halaman. “Marta! Hei nona kecil … sini dulu!” panggil Oom
Martin. Marta yang sudah di jalan kembali lagi. Ada apa, pikir Marta.
“Ini uang untuk bayar lemet
20 buah. Kirim besok siang, ya!” Oom Martin memberikan uang Rp 10.000.
“Kembalinya besok, ya Oom!”
kata Marta.
“Ah, kembalinya untukmu
sajalah. Oom tahu kamu anak Mama yang baik!” kata Oom Martin. Marta mengucapkan
terima kasih.
Di jalan menuju rumah, tak
putus-putus Marta bersyukur pada Tuhan. Siapa sangka ia bertemu Oom Martin yang
baru pulang mancing ikan. Siapa sangka Oom Martin pesan lemet dan Tante Ina
memberikan mi instant. Siapa sangka anak-anak Bu Sakri menyambut pemberian
sederhana itu dengan riang. Sungguh Tuhan amat baik. Dalam hati Marta kembali
menyanyi dengan riang,
“Tak usah kau takut, Tuhan
menjagamu ….”
BONUS: BAHASA JAKSEL KID 2000-AN
(Dari majalah yang sama, sebelum sampai pada cerpen di atas, ada artikel menarik.)
Sabtu (30/9/2023) kemarin, saya menghadiri acara bertajuk "Stop Insecure Yuk Bersyukur" yang diselenggarakan di Nutrihub, Jalan Raden Patah 36 Bandung, oleh Forum Indonesia Muda dan Yayasan Cintai Diri Indonesia, dengan pematerinya Kadek Pramitha, M.Psi., seorang psikolog. Ada dua puluhan peserta yang hadir, umumnya anak muda: pelajar SMA, mahasiswa, juga yang sudah bekerja.
Memasuki ruang acara, di tengah sudah terhampar banyak kartu yang disusun membentuk lingkaran berlapis-lapis. Sebagian besar kartu bertulisan "POINTS OF YOU" di atasnya. Sebagian lagi di lapisan terluar berupa gambar dengan quote. Ada pula yang berupa lingkaran-lingkaran kecil, entah apa yang ada di baliknya. Dua yang belakangan ini tampak digunakan sebagai cadangan, ketika ada yang tidak kebagian kartu utama.
Sebelum menggunakan kartu-kartu tersebut, selazimnya acara, pembukaan diisi dengan sambutan dari perwakilan tiap-tiap penyelenggara: Nutrihub, Forum Indonesia Muda, dan Yayasan Cintai Diri Indonesia.
Tampil Mbak Mitha, yang rupanya sehari-hari bekerja di Jakarta. Beliau membuka materi dengan menerangkan tentang "insecurity", definisi dan gejalanya. Insecurity terkait dengan hierarki kebutuhan menurut Maslow. Tiap-tiap kebutuhan apabila belum terpenuhi dapat memunculkan rasa insecure. Bahkan kelaparan pun termasuk, yaitu insecure akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok.
Peserta diminta membuat definisi "insecure"menurut diri sendiri berikut daftar hal-hal yang menyebabkan perasaan demikian, kemudian beberapa diminta untuk membagikannya.
Definisi saya sendiri--yang secara spontan terpikirkan--adalah perasaan tidak aman dalam situasi tertentu, khususnya dalam relasi dengan orang lain; perasaan rendah diri. Sesaat saya menarik kesimpulan bahwa rasa insecure umumnya berkaitan dengan pencapaian duniawi yang tidak terpenuhi, terlebih kala terpicu oleh pencapaian orang lain sehingga otomatis membanding-bandingkan. Kalau dipikirkan lagi secara luas, misalnya dalam perspektif Maslow, tentu penyebab insecure bukan itu saja.
Sembari memikirkan daftar saya sendiri, yang cenderung abstrak alias tidak spesifik, terlintas lebih jauh: kenapa pula saya harus mencapai hal-hal itu? Ada apa di balik hal-hal itu? Kebutuhan untuk survival? Self-esteem? Bagaimana jika kenyataannya saya masih bisa survive tanpa perlu mencapai apa yang dilalui orang lain? Bagaimana jika self-esteem dapat saya peroleh dengan cara yang unik, alih-alih dengan cara yang sama seperti yang diraih orang lain? Saya duga mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih jauh seperti itu, why and how, dan berusaha menemukan jawabannya bisa meredam rasa insecure yang timbul.
Dari daftar penyebab insecure itu, Mbak Mitha memberikan petunjuk untuk memilih satu yang mau diproses diiringi niat untuk tidak akan memaksakan.
Mbak Mitha.
Dilanjutkan dengan sesi "duduk hening" selama lima menit. Dalam sesi itu, kami diminta memejamkan mata. Ada suara yang mengiringi. Terus terang saya tidak begitu mengindahkan suara yang disetel, saya lebih berfokus pada kesempatan untuk merelakskan diri setelah bersepeda selama setengah jam lebih (mungkin mendekati satu jam) ke lokasi yang pagi itu begitu terik cerahnya. Mbak Mitha bilang, sesi ini bukanlah meditasi. Saya duga ini merupakan mindfulness practice. Saya sendiri lagi berusaha menerapkan ini di sela-sela aktivitas, rebahan dan do nothing walau seringnya malah mindlessly scrolling HP :p
Barulah dimulai sesi utama dengan kartu Points of You. Kartu ini mungkin mengingatkan pada tarot, sebagaimana diungkit sendiri oleh Mbak Mitha. Metodenya: kita mengambil kartu secara acak kemudian menginterpretasikan hasil yang diperoleh, mengaitkannya dengan persoalan yang sedang dialami. Namun, saya pikir, alih-alih untuk meramalkan nasib, Points of You merupakan alat bantu untuk memantik self-awareness dan berfokus pada satu permasalahan.
Lingkaran kartu sebelum dijamah peserta.
Kartu pertama yang diambil adalah yang berada di lapisan-lapisan dalam, bentuknya hampir kotak dan berbintik-bintik. Di balik kartu itu ada gambar disertai tulisan. Mbak Mitha menanyakan mana yang kami tangkap terlebih dahulu, gambar atau tulisan? Manapun, kami diminta mengembangkan narasi terkait persoalan diri dari situ.
Pada kartu yang saya ambil, yang pertama-tama tertangkap oleh penglihatan saya adalah gambar kepala kucing oren yang rupanya lagi berusaha minum dari keran yang mengucurkan sedikit air. Kucing oren itu tampak tak terurus, di mata dan hidungnya ada kotoran. Tulisan yang tertera di bawahnya adalah "Solutions" lengkap dengan terjemahannya, "Solusi". Seketika saya pikir mendapat kartu yang bagus, positif--optimistis. Seketika saya dapat mengaitkan diri. Saya suka jika bisa menjadi solusi. Saya orang yang banyak ide. Saya bahkan bisa mengaitkan diri dengan si kucing oren yang tak terurus itu, apalagi rumah saya sendiri literally rumah singgah bagi kucing-kucing buangan kurang perawatan. Seketika baris-baris puisi Chairil Anwar melintas di benak saya, "Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang," memerikan alur hidup saya yang memang "liar"(?). Mungkin pula dari segi akhlak masih rada barbar, ya persis si kucing oren dalam gambar. Yang tak kalah mengena adalah aliran air yang sedikit saja keluar dari keran itu. Si kucing sedang berusaha menyambung nyawa dengan air yang mengucur kecil. Lagi-lagi persis! Saya pun sedang belajar untuk mensyukuri yang sedikit, yang dapat saya peroleh dengan segenap keterbatasan saya. Dengan apapun itu yang telah tersedia di sekitar saya, saya mesti berusaha untuk menyambung hidup sampai ajal tiba. That dirty orange cat striving for a little water from the rusty tap is my new spirit animal!
Ciluk ...
Merasa dapat kartu bagus, saya lirik kanan-kiri dan membaca kartu milik orang lain. Ada yang dapat "Guilt"/"Bersalah", ada juga yang "Self-pity"/Mengasihani diri sendiri. Ah, bagi saya mah itu sudah lewat. Saya sudah punya "Solusi"!
Setelah sesaat menginterpretasikan perolehan masing-masing, kami diminta mengambil kartu lain yang berada di lapisan setelah kartu yang pertama itu. Kartu yang ini berbentuk persegi panjang tanpa bintik-bintik. Setelah membalik kartu tersebut, saya menghadapi satu kata yang bikin saya tidak merasa begitu "bagus" lagi, yaitu "Penilaian". Ya, tentu saja. Setelah menemukan "Solusi" dan menjalankannya, kita akan berhadapan dengan "Penilaian". Apakah "Solusi" tersebut memang layak untuk dijalankan? Apakah "Solusi" tersebut benar-benar mengatasi permasalahan? Bagaimanakah "Penilaian" orang lain terhadap "Solusi" yang kita jalankan itu? Bagaimanakah "Penilaian" kita terhadap diri sendiri setelah beberapa lama menjalankan "Solusi" tersebut? Apakah ada perubahan? Atau sama saja? Akankah kita terus menjalankan "Solusi" itu setelah mendapat "Penilaian" dari mana-mana? Ini PR yang mesti dipikirkan dengan serius tentu saja, untuk memutuskan apakah hendak bertahan atau meninggalkan dan cari "Solusi" lain.
... baaa!!!
Kartu berikutnya berada di lapisan lebih luar lagi, bentuknya sama persegi panjang tetapi kembali berbintik-bintik. Kartu ini berisi pertanyaan. Saya mendapat: "Apa yang membuatku sempurna?" Seketika saya menjawab dalam hati: "Tentu saja tidak akan bisa mencapai kesempurnaan!" Hanya kalau berhubungan dengan orang lain saja, khususnya dalam berjual beli, kita dituntut untuk "sempurna". Produk atau layanan yang tidak sempurna akan bikin pembeli kecewa malah enggan membeli lagi. Namun di balik kesempurnaan yang dijualkan itu, apakah memang sempurna? Kita memiliki smartphone yang dibuat dengan sempurna, misalnya. Tidak ada cacat, semua fiturnya berfungsi baik, melancarkan segala kebutuhan digital kita, dan seterusnya. Namun, apakah masih sempurna setelah mengetahui bahwa untuk mengisi dayanya kita menggunakan listrik yang berasal dari batu bara yang untuk membuka tambangnya, pabriknya, dan segala-galanya, mesti dengan merusakkan kesempurnaan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna? So, to hell with "Penilaian?" Di sisi lain, ada baiknya juga untuk bersikap seperti laron yang mengejar bintang alih-alih menabrak lampu langsung mati. Sebagaimana pernyataan yang saya temukan dalam buku The ACT Workbook or Depression and Shame, "You can never reach or achieve a value; rather these are qualities that a person might strive for." Sebagaimana kata mutiara yang konon katanya dari Bung Karno, "Bermimpilah setinggi langit, kalau gagal setidaknya kau jatuh di antara bintang-bintang dan tersedot ke dalam supermassive black hole." Maksudnya, kesempurnaan tetap perlu untuk didefinisikan dan diupayakan sekalipun kita tahu tak akan mencapainya.
Dari urutan kartu yang saya dapatkan, saya menyimpulkan bahwa ini mengenai optimisme, hambatan, dan solusinya. Ya, bahkan "Solusi" pun masih perlu diatasi dengan solusi lain. Seperti yang nanti dikutipkan oleh Mbak Mitha di penghujung acara, "Belajarlah untuk menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan." Lengkapnya, "Belajarlah untuk siap dalam ketidaksiapan."
Setelah merenungkan makna dari kartu-kartu saya sendiri, saya lirik kanan-kiri lagi dan tentunya menyimak peserta-peserta lain yang membagikan interpretasi terhadap kartu-kartu mereka. Sebagai sampel, peserta lain mendapatkan kombinasi kartu berikut.
Guilt/Bersalah - Kegagalan - Apa yang membuat aku bergairah?
Self-pity/Mengasihani diri sendiri - Permulaan - Apa yang membuatku tertawa?
Calling/Panggilan - Terhenti - Apa yang aku hindari?
Now/Sekarang - Cinta - Di area mana aku pernah sukses?
Selain itu, ternyata ada yang mendapat kartu berisi sama misalnya "Kematian" dan "Cinta". Sebelumnya saya kira semua kartu tersebut isinya berbeda.
Apa yang menentukan kita mendapatkan kombinasi kartu tertentu, sedang orang lain memperoleh kombinasi lainnya? Kebetulan? Takdir? Atau kartu ini memang dirancang untuk memuat persoalan-persoalan pribadi yang pokok dan umum, sehingga mau mendapat kombinasi yang manapun, setiap orang pasti bisa mengaitkan diri dan mengembangkan narasi pribadinya? Melihat kombinasi kartu yang didapatkan orang lain, saya pikir saya bisa mengembangkan narasi pribadi juga dari situ. Ada yang tampaknya sebagai persoalan yang sudah berlalu, tapi jangan-jangan cuma terkubur saja oleh persoalan lain padahal belum benar-benar teratasi. Malah, kita bisa saja "memainkan" kartu ini setiap bulan, misalkan, untuk "mengundi" permasalahan mana yang akan jadi fokus kita selama sebulan ke depan.
Karena kebetulan dalam kesempatan ini saya mendapatkan Solusi - Penilaian - Apa yang membuatku sempurna?, maka saya bisa berfokus pada hal itu untuk sementara waktu. Misalnya, saya pikir telah mendapatkan "Solusi" atas persoalan "insecurity" saya, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menemukan makna dari berbagai penyebab rasa itu; ditambah dengan melakukan pendalaman spiritual untuk menyadarkan diri akan apa yang sejatinya perlu dicapai dalam kehidupan ini. Mengingat mati jadi satu cara untuk tenang. Bukan berarti saya merasa percaya diri telah menyiapkan cukup bekal akhirat, melainkan lebih berupa kelegaan karena serasa dibantu mengerucutkan tujuan sehingga menyingkirkan sekian persoalan lain yang rupanya tidak begitu esensial.
Jadi saya pikir telah menemukannya, meski masih sering teralihkan. Saya hendak menjalani kehidupan dengan jawaban itu, tapi bagaimanakah saya akan menyikapi penilaian dari mana-mana yang akan menyambut dalam perjalanan ini? Penilaian yang munculnya bukan hanya dari orang lain, melainkan juga diri sendiri. Toh penilaian dari diri sendiri bisa saja tidak kalah sadis daripada orang lain. Mungkin penilaian-penilaian itu bukannya untuk ditolak sama sekali, mungkin ada baiknya dipertimbangkan dengan tenang. Manakah yang boleh ditolak dan yang perlu diterima? Saya perlu terus belajar untuk menjadi bijaksana, dapat membedakan mana yang dapat ditoleransi mana yang tidak dan sebatas apa menoleransinya.
The reason we struggle with insecurity is because we compare our behind-the-scenes with everyone else's highlight reel.
- Steven Furtick
Mbak Mitha menanggapi setiap peserta yang telah berbagi seperti memberikan konseling singkat, yaitu dengan mengajukan pertanyaan dan memberikan masukan. Di slide beliau menampilkan types of insecurity, 50 questions to know your deepest insecurities, serta cara-cara untuk coping atau penyelesaian konflik yang saya catat sebagai berikut:
1. Kenali alasan, kenapa dan bagaimana bisa terjadi (mengajukan pertanyaan-pertanyaan),
2. Efeknya pada diri (mengenali jenis-jenis emosi),
3. Ketahui berapa lama telah terjadi,
4. Apa yang perlu dikelola, bagaimana caranya?
Pada akhirnya, kita perlu menentukan tindakan dan melaksanakannya. Tindakan itu dirumuskan secara berkala: apa yang akan dilakukan dalam sehari ke depan, seminggu, sebulan? Contoh yang diberikan di antaranya afirmasi diri dan duduk hening. Cara-cara ini merupakan latihan mental agar tidak terpuruk ketika jatuh lagi.
Kembali pada perumpamaan laron yang mengejar bintang dikombinasikan dengan masukan dari The ACT Workbook for Depression and Shame, setelah menentukan "bintang" (value) yang hendak dicapai, you need to set goals that are in line with them. Value berarti arah yang hendak dituju berdasarkan apa yang dianggap penting, cahaya pemandu untuk mencapai kebermaknaan. Meski begitu, value bersifat abstrak: hanya arahan, bukan instruksi mendetail untuk mencapainya. Detailnya ditetapkan berupa goal yang diiringi intention, yaitu cara untuk mewujudkan value jadi tindakan pada waktu dan tempat tertentu.
Terima kasih untuk Nutrihub, Forum Indonesia Muda, Yayasan Cintai Diri Indonesia, Mbak Kadek Pramitha, dan terutama teman saya (dan temannya) yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti acara ini :)
Jawa yang dimaksud dalam buku ini adalah Pulau Jawa secara keseluruhan, tidak hanya mencakup suku Jawa yang umumnya menempati Jawa Tengah dan Jawa Timur tetapi juga suku Sunda di Jawa Barat dan Banten. Kedua suku itu dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan wilayah dan kulturnya. Suku Betawi, misalnya, ternyata merupakan sub-suku Sunda. Di antara yang termasuk ke dalam suku Jawa ada yang memiliki kebudayaan khas seperti Samin, Tengger, dan Osing. (halaman 55).
Kita tahu bahwa Jawa merupakan kawasan terpadat di Indonesia (malah mungkin termasuk salah satu yang terpadat di seluruh dunia). Jumlah penduduk terus bertambah, lahan makin berkurang lagi menurun kualitasnya. Air tercemar, bahkan di tempat tertentu udara tak lagi layak hirup. Harimau jawa telah punah, badak jawa terpojok di Taman Nasional Ujung Kulon; tekanan terhadap keanekaragaman hayati sangatlah besar.
Namun di sela-sela kepadatan itu masih terdapat upaya-upaya pelestarian lingkungan oleh pemerintah dan masyarakat. Pemerintah berperan dalam menetapkan dan mengelola kawasan konservasi, adapun masyarakat melalui kearifan lokal mempertahankan cara hidup tradisional yang tidak merusak lingkungan.
Bagi saya, keturunan Jawa yang tumbuh tinggal dalam gaya hidup kota besar selama bergenerasi-generasi (sejak kakek-nenek dan hampir-hampir tidak mengenal lebih daripada itu), membaca buku ini seperti menemukan akar budaya yang telah tercerabut begitu lama hingga tak berjejak, khususnya dalam interaksi dengan alam sekitar.
Saya tak mengakrabi falsafah hidup orang Jawa yang ternyata ada begitu banyaknya, apalagi yang sampai meliputi produk alam seperti jamu. Ya, kalau ada "filosofi kopi" kenapa tidak dengan "filosofi jamu" (mungkin bisa dikembangkan jadi novel lainnya? :v)? Malah kedelapan macam jamu itu rupanya melambangkan perjalanan manusia sejak baru lahir sampai akhir hidupnya (halaman 71-72).
Selain itu, ada pula mengenai jati (halaman 74-77). Dari pemaparan mengenai tipe-tipe tanaman jati berikut peruntukannya, ditarik kesimpulan bahwa orang tak boleh sembarangan dalam menebang dan menggunakan pohon. Ada cara tertentu dalam menebang jati, misalkan didahului dengan upacara dan ditentukan arah mata anginnya. Buku ini kemudian menjabarkan kepercayaan bagaimana jati tertentu (terutama berdasarkan pada tipe percabangan, tempat tumbuh, dan kondisi hidup) dapat menimbulkan energi positif atau negatif dalam pemanfaatannya. Sebagai contoh: jati bercabang 5 disebut pendawa, dipercaya kuat dan dapat mendatangkan kemakmuran sehingga disarankan untuk dijadikan bahan bangunan kantor pemerintahan; ada pula gandongan yaitu jati yang tumbuh dari cabang kayu dan kalau digunakan untuk rumah akan membawa penghuninya mudah memiliki niat yang tidak baik. Semuanya ada dari a sampai z. Saya jadi bertanya-tanya, apa berbagai keburukan yang terjadi di kehidupan ini di antaranya dikarenakan orang memakai jati (ataupun jenis pohon lainnya yang juga terdapat kepercayaan semacam ini) dari sumber yang salah untuk keperluan rumahnya? Entah apa sebetulnya ada penjelasan rasional di balik kepercayaan ini, misal agar tidak membabat habis semua jati tetapi menyisakan sebagian yang memiliki kriteria tertentu demi kepentingan ekosistem. Kalau ada hasil penelitian ilmiah yang membuktikan kenapa boleh begini kenapa tidak boleh begitu tentu bakal lebih meyakinkan, tetapi juga bakal makan waktu sangat lama sementara laju pengrusakan begitu cepatnya. Menuruti saja kepercayaan yang ada bisa jadi merupakan langkah efisien, ketimbang trial sendiri malahan banyak error. Proporsional saja.
Ada sejumlah tumbuhan lain yang digunakan masyarakat Jawa untuk membuat bangunan, di antaranya bambu. Disertakan tahapan pemanenan dan pengawetan kayu atau bambu (halaman 78).
Dalam buku ini tentunya diangkat pula mengenai praktik-praktik ritual yang bertalian dengan konservasi lingkungan, meskipun tidak dibenarkan menurut ajaran tertentu. Kalau caranya tidak boleh seperti itu, apakah alternatifnya supaya esensi konservasi lingkungan itu tetap terwujudkan? Saya berharap ajaran yang kontra terhadap cara semacam itu bisa menawarkan solusinya secara lebih gencar, karena sudah jelas perintah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sudah jelas pula menyangkut tujuan hidup manusia sebagai khalifah fil ardh dan rahmatan lil alamin. Tanpa gaya hidup yang mendukung konservasi lingkungan, apakah bisa selamat baik di dunia maupun di akhirat. Yang menarik, halaman 85 buku ini menyatakan bahwa pandangan filosofis, terhadap hewan misalnya, tidak cukup berdampak dalam upaya konservasinya. Kiranya ini sejalan dengan realitas bahwa ilmu tidak serta-merta mengubah akhlak.
Cara hidup masyarakat Baduy di Banten serta Tengger di Jawa Timur mendapat sorotan tersendiri di akhir buku. Saya pikir mereka--Baduy khususnya--adalah contoh sebagaimana yang dimaksudkan dalam buku The Moneyless Manifesto Mark Boyle, mengenai cara hidup yang langsung berhubungan dengan alam tanpa perantaraan uang. Cara hidup yang layak dipelajari dan diteladani sebisa-bisanya.
Cetakan ke-1, Menembus Belantara Ujung Kulon, 1985
Cetakan ke-2, 2007
Edisi Kiblat Buku Utama Cetakan ke-1, Oktober 2018
ISBN 978-979-8004-20-9
Buku ini ditulis pada zaman PELITA III, mula-mula terbit pada 1985 dan meraih penghargaan Yayasan Buku Utama tahun itu juga. Isinya merupakan kombinasi antara pelajaran IPA dan catatan perjalanan yang dikemas secara naratif (dengan tokoh-tokoh dan serangkaian peristiwa walaupun "cerita" baru benar-benar terjadi di dua bab terakhir). Sebagai bacaan untuk anak muda (hanya 97 halaman), buku ini dilengkapi dengan banyak amanat yang kadang-kadang religius serta bumbu romance yang tipis-tipis saja.
Dalam buku ini, penulis menjadi dirinya sendiri yang ceritanya sedang mengantar sekelompok remaja menjelajahi Taman Nasional Ujung Kulon (selanjutnya TNUK) dalam liburan sekolah. Para remaja itu adalah Nesi, Deti, Giri, dan Andri (yang disebut juga sebagai Pak Kopral Adun,); mereka memanggil penulis sebagai Kang Bach. Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama serbatahu, karena ia bisa mengetahui juga apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh remajanya.
Setiba di TNUK, mereka ditemani oleh Pak Wawan insinyur lulusan Fakultas Kehutanan IPB (mulai bab 1 dst). Kemudian ada Pak Karman (bab 2), lalu Pak Usup (mulai bab 3 dst).
Tiap bab diakhiri dengan rencana perjalanan selanjutnya. Bahkan di ujung bab terakhir pun ada rencana untuk kembali ke TNUK tahun depannya.
1. MENUJU UJUNG KULON
Mereka memasuki TNUK melalui jalur laut, menggunakan perahu selama 6 jam dari Labuan (letak kantor Sub-Balai Kawasan Pelestarian Alam Ujung Kulon tempat mengurus izin dsb) ke Pulau Handeuleum kemudian menginap semalam di sana sebelum memulai perjalanan.
2. MENYUSURI CI GENTER
Sebelum memulai perjalanan menyusuri Sungai Cigenter, Pak Wawan menjelaskan sejarah Taman Nasional Ujung Kulon (halaman 22). Perjalanan susur sungai dilakukan dengan perahu dari dermaga Pulau Handeuleum; Pak Karman turut sebagai jurumudinya. Saat menyusuri sungai melalui hutan bakau (halaman 26), sempat terjadi ketegangan karena bertemu buaya (halaman 28). Mereka berhenti di sebuah padang penggembalaan atau tegalan yang ada menara pengintai. Dari menara itu, mereka dapat meneropong babi hutan yang rupanya memiliki peran penting dalam ekosistem (halaman 30). Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang.melewati Teluk Selamat Datang dan Tanjung Alang-alang.
3. PESONA LAUT DANGKAL PULAU PEUCANG
Di Pulau Peucang, mereka dapat menyelam dengan scuba (scuba diving) dan menikmati keindahan dan kekayaan panorama bawah laut (halaman 37).
4. MENEMBUS BELANTARA UJUNG KULON
Di pesanggrahan, mereka bertemu dan berkenalan dengan rombongan Pecinta Alam dari Jurusan Geografi IKIP Bandung yaitu JANTERA. (Nantinya mereka muncul lagi di belakang). Mereka lalu kembali menaiki perahu ke Ujung Kulon, tepatnya hutan Cikuya. Memasuki hutan Ujung Kulon, ada etiketnya. Orang tidak boleh berbicara sembarangan, dan mesti dengan suara pelan (halaman 48). Selain itu, ada tip umum dalam melakukan perjalanan di alam yaitu membungkus barang-barang dengan plastik agar tidak kebasahan kalau-kalau nanti tercebur ke sungai (halaman 51).
Bab ini adalah yang paling panjang karena di dalam hutan ada banyak hal yang ditemui dan dengan begitu memantik untuk menjelaskan banyak hal pula. Mereka bertemu jejak ajag dan badak (halaman 53 dan halaman 54), kotoran macan tutul (halaman 56), kera-kera, kura-kura (halaman 61), pemburu sarang burung walet (halaman 64), melewati pandan dan kelapa yang merupakan vegetasi khas pantai selatan Ujung Kulon, dan seterusnya.
Di Pantai Cibunar mereka bermalam dengan membuat bivak dari dahan dan ranting. Giri dan Andri mendapat giliran berjaga pertama dan terpengaruh oleh cerita-cerita horor yang banyak beredar di kawasan Ujung Kulon. Terdengar suara aneh yang merupakan foreshadowing bagi peristiwa yang akan terjadi di bab berikutnya.
5. PARA PENCURI PENYU HIJAU
Setelah bab-bab sebelumnya sarat oleh perjalanan dan pelajaran, baru di bab inilah "cerita" benar-benar terjadi. Bab ini termasuk paling panjang, walau tidak sepanjang bab sebelumnya.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pantai dari Cibunar ke Ciramea yang merupakan area penyu bertelur. Mereka melewati Sang Hyang Sirah yang berhawa mistis. Namun, setiba di Ciramea, Giri menyadari teropongnya tertinggal di Cibunar sehingga ingin balik ke sana dan Andri memutuskan untuk menemaninya.
(SPOILER.) Sepeninggal keduanya, Pak Usup mendapat giliran berjaga pertama. Ia memergoki pencuri telur penyu, diculik oleh mereka, dan disekap di gua Sang Hyang Sirah. Giri dan Kopral yang memutuskan untuk kembali segera--setelah mengambil teropong di Cibunar--melewati tempat itu dan menemukan Pak Usup. Mereka tergesa-gesa kembali ke Ciramea untuk melapor kepada Kang Bach dan Pak Wawan. Kang Bach dan Pak Wawan pun ke Sang Hyang Sirah untuk menyelamatkan Pak Usup, tetapi malah ikut disekap setelah pencuri telur penyu kembali dengan membawa lebih banyak orang. Giri cs yang berjaga di Ciramea lalu kedatangan rombongan JANTERA. Mendengar peristiwa itu, mereka bersama-sama ke Sang Hyang Sirah (khususnya yang laki-laki, sedang yang perempuan tetap di Ciramea) untuk meringkus para pencuri. Suara aneh yang terdengar di bab sebelumnya ternyata suara perahu para pencuri. Dengan perahu itu, para pencuri yang telah ditaklukkan dibawa ke Taman Jaya.
6. PERJALANAN PULANG YANG MENYENANGKAN
Setelah terjadinya huru-hara di bab sebelumnya, mereka pulang ke arah barat dan mendapat reward berupa perjumpaan dengan badak. Mereka mengamati dari atas pohon supaya tidak mengganggu si badak. Selain itu, karena telah membantu meringkus penjahat, mereka mendapat undangan untuk datang lagi ke TNUK tahun depan--gratis!
Dengan adanya peristiwa di bab 5 itu, timbul kesan bahwa pada masa itu TNUK masih kekurangan tenaga patroli dan fasilitasnya belum memadai (di antaranya belum dibangun pos ronda dan shelter di Cibunar dan Ciramea, halaman 94). Entah sekarang.
.
Sepanjang perjalanan menjelajahi TNUK ini, banyak pengetahuan dan amanat terkait hal-hal yang ditemui para tokohnya. Pengetahuan itu berdasarkan pada buku, majalah, dan surat kabar (halaman 95, "DAFTAR PUSTAKA"). Banyak pengetahuan yang berupa teori tetapi ada juga yang praktis, misalnya ditunjukkan caranya melakukan penelitian dengan mengukur suhu air laut dan membuat dokumentasi (halaman 37), menyensus badak di antaranya dengan mengukur panjang jejaknya (halaman 54), serta mencari tahu pakan macan tutul dengan mengambil kotorannya kemudian mencucinya sehingga tertinggal sisa-sisa hewan yang dimakannya (halaman 56). Sekalian disisipkan kritik akan kurangnya praktik, khususnya dalam pelajaran biologi, sehingga yang banyak meneliti sumber daya alam Indonesia justru pihak asing bukannya bangsa sendiri.
Karena buku ini mula-mula terbit pada 1985, saya jadi membayangkan Deti diperankan oleh Desy Ratnasari (yang tenyata baru lh. 1973 sehingga pada waktu itu usianya kurang lebih masih 12 tahun, wkwk) sedang Nesi oleh Paramitha Rusady (lh. 1966 berarti kurang lebih 19 tahun, cocok lah).
Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan
-
Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk
meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan
berle...