Minggu, 25 Agustus 2019

Guruku Manis Sekali (Lupus Kecil #9)

Gambar dari Goodreads.
Setelah membaca dua
Lupus Kecil terbitan sebelumnya, saya merasa buku berikutnya semakin "dewasa". Mungkin karena cerita utama (yang notabene menjadi judul buku) menyiratkan tentang fenomena kecil-kecil udah genit (kepada orang dewasa pula!), lengkap dengan tips & trick menarik perhatian guru yang dapat menjurus pada aksi gratifikasi. Di buku ini juga Lupus sudah punya love interest teman kencan ke Mal Ciputra bernama Winur. Cara bicara maupun keterlibatan dia dengan orang dewasa mulai mengingatkan saya pada Lisa The Simpsons. Biarpun begitu, saya maklum bahwa sebagai tokoh yang mesti dibikin semanusiawi mungkin sekaligus sangat populer, Lupus mengemban tanggung jawab menyampaikan pesan layanan masyarakat.

Dari buku ke buku juga saya memperhatikan bahwa isinya semakin gaul saja, atau kekinian pada masanya. Mestilah karena tuntutan pasar zaman. Seandainya Lupus Kecil masih diproduksi sekarang, jangan-jangan dia bakal jadi seperti kids jaman now yang panggil "Papa-Mama" dengan love interest-nya, dan hanya mau dicukur di barber shop kekinian alih-alih oleh tukang cukur di bawah pohon asam.

Selain itu, agaknya keluarga Lupus telah mengalami peningkatan ekonomi. Sebelumnya ada gambaran tentang kepelitan Papi, makan pun dijatah, dan sebagainya. Tapi, dalam buku ini, diceritakan Mami punya koleksi palem botol sampai ratusan pot yang ditaruh di halaman rumah dan Papi punya tanah seluas empat ratus meter di Cisalak yang dibiarkan menganggur sebagai tempat untuk memindahkannya. Setelah googling untuk mengetahui ukuran palem botol, kira-kira seluas apakah halaman rumah mereka sehingga dapat menampung ratusan pot berisi tanaman tersebut?

Tampaknya saya perlu menonaktifkan radar kritik saya dalam menanggapi buku ini. Toh sejatinya buku ini hanya untuk hiburan anak-anak (berikut orang dewasa yang ingin mengenang masa anak-anak), yang dapat ditamatkan dalam kurang lebih satu jam sahaja.

Sama seperti yang sebelumnya (khususnya Terserang Si Ehem, buku ini merupakan kumpulan joke, cerita-cerita dengan perilaku yang mungkin kurang teladan namun realistis dan tetap dapat diambil pesan moralnya, serta dokumentasi budaya pop era '90-an.

Ada joke-joke absurd macam menyisir rambut separuh ke depan separuh ke belakang (halaman 10); ayam yang pucat mukanya karena disuruh mematuk daun jendela alih-alih daun tanaman (WTF!?) (halaman 46).

Ada Kuis Pamoria di TPI (halaman 23); uang kertas bergambar orang lompat batu (halaman 33); majalah (apa) yang memberi tips oke merebut perhatian guru baru kece untuk murid SD(?!) (halaman 12); dan sesekali tersembul isu yang lagi hit pada masa itu seperti "reformasi", "krismon", dan sebagainya.

Saya rasakan pesan moral dalam buku ini tidak sekental dalam buku-buku sebelumnya, terutama yang awal (dalam pembacaan saya: Sunatan Massal). Meski begitu, tetap ada yang dapat ditarik dari tiap-tiap cerita.

Cerita 1 & Cerita 2 "Guruku Maniiis Sekali": Bersikap baiklah kepada guru, apalagi kalau gurunya kece. Mudah-mudahan guru juga bersikap baik pada kita, misalnya dengan tidak memberikan banyak PR atau bermurah hati dalam menerangkan pelajaran. Selain itu, jadi cowok juga harus peka terhadap penampilan diri, apalagi dalam menarik perhatian wanita cantik sekalipun usianya jauh lebih tua.

Cerita 3 "Jambul": Gagasan untuk bikin usaha rumahan dalam situasi ekonomi sulit; mencerminkan kreativitas, kemandirian, dan ketahanan keluarga.

Cerita 4 "Gelang Emas dalam Pot": Mencintai tanaman agar lebih mencintai makhluk lain. Membantu polisi mengatasi tindakan kriminal.

Cerita 5 "Terkenang-kenang, Eh, Terkejut Juga": Menyambung silaturahmi dengan teman lama.

Cerita 6 "Tetangga yang Ada-ada Aja": Kampanye apotek hidup.

Cerita 7 "Rahasia Sebuah Bisul": Jadi cowok harus jaga gengsi, termasuk ketika lagi bisulan!

Tiap-tiap cerita dilengkapi dengan tips-tips ngocol dalam gambar, yang gayanya tampaknya disesuaikan pula dengan segmentasi pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain