Jumat, 09 Agustus 2019

Environmental Politics in Japan, Germany, and the United States

Gambar dari Goodreads.
Kita mengenal Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman sebagai negara maju yang notabene menjadi acuan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kerap kali terdengar orang kita memuji kebaikan di negara-negara itu. Kerap kali pula negara kita menerima bantuan atau sumbangan dari negara-negara itu untuk pembangunan atau penghijauan. Rumput tetangga memang selalu terlihat hijau.

Tapi, sepertinya kurang diekspos betapa di balik kemajuan itu terdapat kerusakan lingkungan hidup yang bukan main. Kerusakan tersebut memicu lahirnya organisasi-organisasi masyarakat, terutama yang terdampak. Di samping organisasi masyarakat dalam negeri, juga terdapat organisasi-organisasi internasional yang memengaruhi pemerintah agar membuat kebijakan yang dapat mengurangi dampak buruk itu. Negara-negara maju harus memberi contoh kepada negara-negara berkembang agar pembangunan ekonomi seiring dengan perlindungan lingkungan hidup.

Buku ini memaparkan lika-liku dan sepak terjang para aktor (: pemerintah, politikus, LSM, ilmuwan, industrialis, dan seterusnya) di ketiga negara tersebut dalam mengatasi isu-isu lingkungan hidup, berikut peranan mereka di dunia internasional. Ketiganya memiliki sikap yang berbeda. Secara umum saya menangkap bahwa Jerman merupakan yang terdepan. Amerika Serikat dikenal tidak mau berkompromi dan malah menyangkal--lebih mengedepankan ekonomi daripada ekologi terlepas dari banyaknya gerakan pro lingkungan di negara itu. Adapun Jepang bergerak lebih karena tekanan dunia internasional dan perlu menjaga citra, namun di sisi lain segan kepada Amerika Serikat yang telah berperan banyak dalam pembangunannya.

Buku ini tidak meluputkan pandangan lain--yang mengatakan bahwa perubahan iklim hanya hoaks atau semacam itu. Betapapun kerasnya pihak penentang, serta banyaknya pihak yang tidak peduli sama sekali, toh orang-orang yang peduli pada persoalan lingkungan hidup terus menggemakan suaranya. Saya sendiri cenderung memercayai bahwa manusia sebaiknya berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan buangannya; penduduk negara berkembang seperti Indonesia sebaiknya melek terhadap persoalan ini. Sudah saatnya kita berhenti silau terhadap kemajuan negara-negara "atas" dan belajar untuk melihat dalam kegelapan.
If inhabitants in developing countries were all to live as well as individuals in these societies (Japan, Germany, the US) do, then it is highly questionable that the planet could survive the stress placed on its resources and the environmental damage it would cause. (halaman 2)
It assumes that countries in the developing world look to the advanced industrialized countries as their own models of development. The South seeks the wealth of the North. Yet, the study suggests that if the countries of the developing world all strive to live the same resource-intense life styles as Germany, and by implication other advanced industrialized countries, do now, then the planet will be overburdened. (halaman 228)
Kalau buku ini terlalu sulit (karena berbahasa Inggris dan membahas topik yang pada umumnya kurang menarik), buku-buku berbahasa Indonesia terbitan Kompas berikut ini bisa menjadi alternatif.

Etika Lingkungan - A. Sonny Keraf
Protokol Kyoto-Implikasinya Bagi Negara Berkembang - Daniel Murdiyarso

Mungkin kita hanya orang awam, alias bukan penentu kebijakan. Tapi bukan berarti kita tidak punya peranan. Kita bisa mengurangi ketergantungan kita pada produk industri, mempelajari keterampilan swadaya, dan mensosialisasikannya entahkah lewat obrolan atau tulisan. Walaupun kecil, kalau dilakukan bersama-sama oleh banyak orang lain, mungkin hasilnya dapat signifikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain