![]() |
| Gambar dari Goodreads. |
Latar '90-an
Cerita 1 dalam buku ini, "Ini Telepon Baru, Ini Baru Telepon!", sangat menyuarakan zamannya. Papi memasang telepon baru khusus untuk keperluan bisnis, tapi Mami, Lupus, dan Lulu malah membiarkan tetangga, teman, dan sebagai-bagainya untuk menumpang menelepon. Akibatnya, tagihan telepon membengkak. Hal ini tidak mungkin terjadi pada jaman now ketika setiap orang dituntut untuk punya perangkat komunikasi masing-masing berikut kuotanya, atau, boleh dong menumpang wi fi tetangga?
Selain itu, ada Es Mony (halaman 31), dingdong (halaman 85), iklan Pemilu di televisi yang inga-inga badaftar rame-rame! (halaman 86), penculikan aktivis mahasiswa (wah, ada unsur satirenya juga!--halaman 88), Coca-cola, Fanta, dan Sprite lagi hit-hitnya (ingat bonus joke receh di balik tutup botol?--halaman 92), "tukar guling" (satire lagi?--halaman 94), dan rasa-rasanya isu krismon sering sekali disebut!
Demikian membaca Lupus dapat berguna bila kita mau bikin cerita dengan latar '90-an (atau paling enggak sekadar untuk bernostalgia)!
Ilustrasi
Buku kumpulan cerita ini dilengkapi dengan komik serta kumpulan tebakan berilustrasi. Gaya gambarnya yang simpel seolah-olah mendorong untuk mencoba menggambar juga, bagaimanapun hasilnya, yang penting lucu (dalam artian cute) dan bisa dinikmati!
Logika cerita
Ada yang bikin saya heran di awal Cerita 6, "Pesta Mengusir Sepi". Ceritanya, Lupus dan teman-temannya pergi berkemah. Lulu dan Uwi menyusul mereka untuk mengantarkan tenda. (Nah, ini saja sudah mengherankan: berkemah kok enggak bawa tenda!?) Sampai di sana, Lulu dan Uwi malah disuruh ikut tinggal selama seminggu untuk menjadi juru masak, biarpun keduanya bilang cuma bisa masak Indomie. Yang saya pertanyakan: 1) Apakah saat menyusul Lupus dkk itu Lulu dan Uwi sudah sekalian membawa peralatan menginap pribadi? Kan diajaknya juga dadakan. Masak pakai celana dalam yang sama selama seminggu?! 2) Masak makan Indomie terus selama seminggu?! Ini juga sudah jelas-jelas dipertanyakan dalam narasi sih, tapi langsung teralihkan ke inti cerita.
Selain itu, kan di perkenalan pada halaman depan disebutkan bahwa Lupus kelas 4 SD sedangkan Lulu kelas 3, tapi di Cerita 7, "Lulu Ilang", Papi bilang Lulu kelas 1 .... Jadi ...? Saya juga enggak mengerti kenapa orang-orang dalam cerita ini sampai mengerubungi Lulu yang telah diumumkan sebagai anak hilang, dan langsung bubar begitu Papi datang. Saya pikir orang tidak akan sepeduli itu!
Pesan moral
Cerita 1 "Ini Telepon Baru, Ini Baru Telepon!": Pengorbanan pribadi demi kepentingan umum? Persis seperti dalam cerita "Gelang Emas dalam Pot" (dalam Lupus Kecil: Guruku Maniiis Sekali ), yaitu membantu polisi menjaga "ketertiban umum".
Cerita 2 "Kucing Asuh Bernama Mulan": Cerita paling menyentuh karena menyuarakan tentang kepedulian pada anak kucing liar, yang juga menjadi concern bagi orang-orang atau komunitas-komunitas tertentu belakangan ini.
Cerita 3 "Akal-akal Bulus": Pesannya mungkin persis seperti dalam cerita "Kisah Lucu di Malam Tahun Baru" (dalam Lupus Kecil: Terserang Si Ehem ), yaitu kebersamaan keluarga.
Cerita 4 "Ayam Jago Keramat": Situasi ekonomi yang sulit (dalam konteks cerita ini krismon) jangan sampai membuat kita percaya sama hal yang bisa-bisa jatuhnya malah jadi syirik. Keterkaitan Papi sama si ayam jago keramat mengingatkan pada Mami ketika lagi gandrung-gandrungnya pada tanaman dalam cerita "Gelang Emas dalam Pot" (dalam Lupus Kecil: Guruku Maniiis Sekali ).
Cerita 5 "Penari Meooong ...": Hampir di tiap buku Lupus Kecil yang sudah saya baca tampaknya ada cerita yang mengangkat sifat suka-tampil Happy. Happy ini mungkin persis seperti Fifi Alone dalam Lupus SMA, sebagaimana halnya ciri-ciri fisik Pepno mengingatkan pada Boim. Eh, lalu apa pesan moralnya?
Cerita 6 "Pesta Mengusir Sepi": Idem dengan Cerita 3.
Cerita 7 "Lulu Ilang": Pesannya hampir sama seperti dalam cerita "Terserang Si Ehem" (dalam Lupus Kecil: Terserang Si Ehem ). Papi mau mengirit, akhirnya malah pailit.
Cerita 8 "Nyontekin Contekan": Realita miris tentang perilaku anak sekolahan, mengingatkan pada cerita "Aksi Waktu Pembagian Rapor" (dalam Lupus Kecil: Terserang Si Ehem ).
Perlunya parental guidance
Kadang saking realistisnya unsur dalam cerita-cerita Lupus Kecil ini--yang notabene ditujukan untuk anak SD pada masanya--hingga, seandainya saya punya anak yang membacanya, ada hal-hal yang ingin saya beri tahukan agar jangan ditiru.
Contohnya seperti dalam Cerita 2, "Kucing Asuh Bernama Mulan", halaman 27-28, disebutkan "menindih buntut si kucing pake kamus Inggris-Indonesia karangan John M. Echols sampe si kucing mengeong-ngeong kesakitan, atau menaburi lem di ikan asin sehingga di kucing mulutnya rapet", yang bikin saya berpikir, Lupus Kecil ini kok kayak Tom & Jerry, ya? Produk buat anak-anak tapi kok mencontohkan perilaku sadis pada kucing? Maksudnya mungkin untuk bercanda, tapi saya enggak mau sampai ada anak yang menganggap bahwa tindakan-tindakan tersebut boleh saja dipraktikkan.
Contoh lainnya dalam Cerita 3, "Akal-akal Bulus", ketika Lulu--atas petunjuk Lupus--mengakali Mami supaya mewujudkan keinginannya berenang. Di satu sisi, anak yang cerdas begini sehingga dapat mengakali orang tuanya itu mengagumkan. Saya pun sebagai anak menganggap itu sebagai kemampuan yang menguntungkan, toh orang tua memang kadang suka memaksakan kehendaknya sendiri #eh. Di sisi lain, mengakali orang tua yang sudah dandan sampai basah kuyup itu ... apakah suatu akhlak terpuji? Papi dan Mami mending karena woles. Toh ada orang tua yang enggak bisa diajak bercanda begitu, dan mungkin menghajar anaknya kalau sadar dirinya telah diakali.
Di Cerita 5, "Penari Meooong", juga tersirat tingkah Lupus yang sudah seperti preman, yaitu menarik bayaran dari mengantar temannya membeli ikan maskoki. Itu ide bisnis, tapi, temen masa gitu?!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar