Selasa, 06 Agustus 2019

Mati Listrik sebagai Titik Balik

Minggu, 4 Agustus 2019, terjadi mati listrik sejak sekitar waktu zuhur. Saya kira ini mati listrik biasa, yang akan pulih dalam beberapa jam dan hanya terjadi di daerah sekitar rumah.


Pada awalnya, mati listrik ini terasa menguntungkan. Kalau biasanya sesekali saya mengecek ponsel, sekadar untuk melihat apakah ada pesan yang masuk, dan lalu berakhir dengan menonton satu-dua video Youtube--atau lebih, maka kali itu, karena enggak bisa, mau enggak mau saya melakukan pekerjaan lainnya: menyapu dan mengepel.

Setelah itu, kalau biasanya saya beristirahat dengan menonton barang beberapa video Youtube, karena listrik masih belum mengalir lagi, sehingga wifi juga tidak ada, maka, mau enggak mau, saya melanjutkan dengan aktivitas lain. Saya berjalan-jalan ke luar rumah dan mendapati bahwa Alfamart terdekat pun sampai tutup akibat mati listrik itu.

Setelah kembali ke rumah, lampu masih belum dapat menyala, saya melanjutkan pekerjaan mencuci dan menggunting sampah plastik untuk ecobrick. Yang enggak lama kemudian jadi membosankan sementara langit semakin gelap. Karena enggak menemukan persediaan lilin yang cukup sekiranya mati listrik berlanjut sampai malam, menjelang magrib itu, saya kembali keluar rumah untuk membeli lilin.

Gambar dari artikel "Tak Ada Lilin, Kulit Jeruk Pun Bisa Jadi Penerang".
Di samping itu, saya mempertimbangkan untuk membeli pulsa. Terbiasa mengecek ponsel tiap sebentar dan kini enggak ada akses ke dunia maya menimbulkan kegelisahan tersendiri--mungkin persis seperti orang sakau. Apakah saya telah mengalami ketergantungan pada akses internet? Akses internet enggak memungkinkan apabila enggak ada wifi. Alternatifnya: data seluler. Tapi, untuk mengecek sisa pulsa maupun kuota di ponsel saja tidak bisa. Agaknya jaringan seluler terganggu juga. Saya pun mengurungkan niat untuk membeli pulsa.

Alfamart telah kembali buka dan menyala berkat genset. Saya melaju ke warung di dekatnya, yang telah gelap, namun ramai oleh orang-orang yang membeli lilin. Dalam situasi itu, saya menjadi khawatir bakal enggak kebagian. Saya sampai kesandung dan hampir menjatuhkan barang-barang. Untunglah saya berhasil mendapatkan satu pak lilin seharga sepuluh ribu rupiah.

Situasi mulai terasa menakutkan. Biasanya mati listrik hanya mencakup deretan rumah atau jalan tertentu di sekitar rumah saya. Tapi, kali ini, agaknya menjangkau kawasan yang lebih luas. Bahkan deretan rumah yang biasanya tidak ikut kena mati listrik pun kali ini kena.

Selain itu, tidak ada azan. Zuhur, asar, masuk dengan hening. Kalau tinggal di luar negeri yang bukan negara nonmuslim, situasi ini mungkin biasa. Tapi, tidak di sini. Saya terbiasa mendengar ramai suara azan, berdatangan dari banyak masjid di semua penjuru bila sudah waktunya seakan-akan mengepung dan memaksa saya untuk mengingat Tuhan. Maka, keheningan yang aneh ini entah kenapa justru menimbulkan perasaan tidak nyaman. Baru ketika magrib kembali terdengar suara azan, tapi dari kejauhan alih-alih masjid-masjid di kawasan sekitar rumah saya.

Setelah magrib, ibu saya menyalakan radio bertenaga baterai yang menyiarkan berita: rupanya ada masalah dengan jaringan listrik PLN dan pemadaman ini mencakup kawasan yang sangat luas--seluruh Jawa dan Bali. Ini hampir-hampir suatu ... bencana nasional ...?

Intensitas kengerian meningkat--kalau boleh lebay.

Bukan gelap benar yang saya takutkan, tapi ....

Saya memikirkan aktivitas saya selama ini yang didominasi oleh media elektronik, katakanlah, menulis di laptop dan mempublikasikannya di blog yang untuk mengaksesnya membutuhkan listrik. Kalau mati listrik ini terus berlanjut hingga waktu yang tidak ditentukan, maka segala upaya saya selama ini untuk menghasilkan bacaan--dengan segenap pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan emosi--jadi terasa sia-sia.

Ketika hendak makan malam dan melihat jumlah piring bersih yang tersedia di meja makan tinggal sedikit, saya berpikir, kalau mati listrik ini terus berlanjut hingga waktu yang tidak ditentukan, bagaimana saya akan mencuci piring? Bagaimana saya akan makan kalau enggak ada piring bersih? Sementara untuk bisa mencuci, saya membutuhkan air. Untuk mengalirkan air, saya harus menyalakan pompa, yang menggunakan listrik.

Bukan hanya untuk cuci piring, bagaimana saya akan membersihkan anggota tubuh yang pastinya sewaktu-waktu harus?

Terpikir juga oleh saya betapa banyak orang lainnya yang enggak kalah membutuhkan listrik daripada saya, apalagi sekarang ini banyak layanan yang hanya bisa diakses melalui perangkat elektronik. Katakanlah: Bagaimana memasuki jalan tol tanpa e-toll? Bagaimana menarik uang dari bank ketika jam tutup kalau bukan lewat mesin ATM? Bagaimana berjual beli di online shop kalau ponsel mati dan tidak ada listrik atau powerbank untuk mengisi ulang daya baterainya? Hal-hal seperti itulah.

Maka, bagaimana jika mati listrik ini terjadi untuk seterusnya hingga waktu yang tidak ditentukan? Kekacauan akan terjadi, apalagi di kota padat penduduk seperti Bandung ini. Orang-orang akan berebut demi air, apalagi saat musim tanpa hujan begini. Bisnis-bisnis online yang kini mendominasi akan tutup. Orang-orang akan kehilangan sumber nafkah. Peradaban akan runtuh. Baru terasa pentingnya mempertahankan sumur di rumah, yang untuk mengambil air dari dalamnya tinggal timba tanpa pompa yang menyedot listrik. Baru terasa pentingnya skill menghasilkan api secara manual atau bikin lilin sendiri, apabila kehabisan di warung. Saya jadi teringat sama The Preppers: orang-orang di negara maju yang telah menyiapkan diri untuk skenario semacam ini. Mereka telah berpikir sampai jauh ke depan sekali, sementara, entahlah apakah ada orang-orang Indonesia yang sudah seperti mereka. (Yang mana sebetulnya bukan berarti kita mesti serbameniru negara maju, melainkan tinggal mundur beberapa langkah, kembali pada cara hidup kita dahulu ketika petromaks masih trendi)

Ditambah bencana-bencana yang telah terjadi sebelumnya: gempa di Banten dan sekitarnya yang terasa sampai ke Bandung hingga monyet-monyet yang turun dari Gunung Tangkuban Perahu--kalau mental lemah, bisa-bisa jadi paranoid.

Tapi, saya tidur dengan tenang malam itu tanpa penerangan apa pun sama sekali.

Rasanya hampir seperti dalam cerpen "The Last Night of the World" Ray Bradbury.

Saya terbangun sekitar pukul dua pagi. Lampu telah menyala. Listrik telah mengalir. Enggak lama setelah bangun, saya menyalakan pompa dan mengisikan air dalam ember-ember besar sampai penuh.

Di Kompas pada keesokan harinya itu, berita tentang jaringan listrik yang terganggu ini terpampang besar di halaman depan. Tepatnya, ada beberapa berita yang membicarakan masalah ini dan memvalidasi pikiran-pikiran saya semalam. Tentang kekacauan yang merugikan orang-orang. Tentang betapa bergantungnya kita pada listrik. Tentang betapa kita enggak menangkap esensi lain dari film Sexy Killers, bahwa tambang-tambang batu bara yang telah menzalimi segenap spesies itu terus dibuka demi menyuplai kebutuhan listrik kita. (Eh, yang terakhir ini enggak sih.)

Apakah kita akan belajar dari kejadian ini? Katakanlah, dengan beralih pada membuat karya yang enggak mesti diakses lewat perangkat elektronik atau belajar skill-skill baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa sedemikian bergantung pada listrik. Atau, setelah listrik kembali mengalir dan keadaan pulih seperti sedia kala seolah-olah enggak pernah terjadi apa-apa, terus saja melanjutkan kebiasaan atau porsi ketergantungan kita?

Jumat, 02 Agustus 2019

Ngebun Seru Yuk! di Microlibrary Kiaracondong

Teman saya telah berkali-kali menginformasikan tentang acara Komunitas 1000 Kebun. Namun hati saya belum terpanggil(?) hingga baru-baru ini, tepatnya pada 28 Juli 2019. Komunitas tersebut mengadakan NGERUK atau NGEBUN SERU YUK! bertempat di Microlibrary Kiaracondong pukul delapan sampai sepuluh pagi Waktu Indonesia Barat.


Maka, Minggu pagi itu saya bersepeda ke kawasan Kiaracondong. Jalan masuknya berada di samping Toserba Griya, tidak jauh dari stasiun Kiaracondong. Meninjau Google Map dan menanyakan kepada teman yang bertempat tinggal di kawasan itu, lokasi yang saya tuju mestinya berada di sekitar kantor kecamatan: Jalan Kantor nomor 1. Setiba di tempat yang kiranya kantor kecamatan, saya tidak menemukan tanda "Jalan Kantor". Dua orang yang saya tanyai pun tidak tahu-menahu.

Saat itu saya berada di samping sebuah sekolah. Dipisahkan oleh jalan, ada semacam lapangan dengan bangunan yang sepertinya baru jadi atau agak terbengkalai. Hanya ada satu orang sedang duduk di situ ketika saya datang. Enggak lama setelah menghubungi teman saya, yang katanya akan menghadiri acara itu juga, ada beberapa orang lain yang datang. Saya pun mendekati salah seorang dari mereka, yang ternyata memang berasal dari Komunitas 1000 Kebun.

Setelah berkenalan dengan orang-orang, tanpa menunggu lama lagi, saya membantu mereka mengeluarkan barang-barang yang diperlukan. Di dalam bangunan itu, di samping rak-rak yang tidak banyak berisi buku, terdapat bertumpuk-tumpuk karung, bibit-bibit tanaman--baik dalam baki maupun polybag, serta papan-papan yang sedianya untuk dirakit menjadi bed.

Setelah semua barang yang diperlukan dikeluarkan, terkumpul sekitar belasan orang. Kami berbagi tiga tugas: 1) Mencampur media tanam; 2) Merakit papan, serta; 3) Mencangkul di atap Microlibray. Para perempuan yang notabene peserta baru mendapat tugas pertama, sedangkan yang kedua dan yang ketiga ditangani oleh para lelaki yang sebagian merupakan anggota karang taruna setempat.

Di lapangan telah dibentangkan spanduk yang cukup lebar. Media tanam yang dicampur berupa arang sekam, coco peat, pupuk kandang, dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1:1:1 atau masing-masing satu karung. Setelah keempatnya tercampur, kami memasukkannya kembali ke karung-karung untuk nantinya dibawa ke atap. Setelah spanduk cukup bersih dari campuran media tanam sebelumnya, kami menumpahkan isi karung-karung baru dan memulai lagi.

Dari satu tugas ini saja, saya mendapat pelajaran penting: tanah kurang cocok sebagai media tanam. Sebabnya, tanah mudah mengeras. Kalau sudah begitu, tanah perlu dicacah-cacah(?) supaya gembur.

Saya pun termenung. Selama ini, dalam upaya-berkebun saya yang penuh kebodohan, saya biasanya hanya menggunakan tanah, pupuk, dan arang sekam. Memang persoalan tanah keras itu saya alami, apalagi di musim kering begini. Padahal saya sudah telanjur membeli berkarung-karung tanah yang sebagian belum saya manfaatkan. Saya mendapat masukan bahwa tanah tetap bisa digunakan tapi porsinya setengah saja. Lain kali, ketika hendak mencoba berkebun lagi dan membeli bahan-bahannya, sepatutnya saya mencari coco peat saja.

Sayangnya, dalam kesempatan ini saya enggak begitu memerhatikan informasi dan pengetahuan yang berseliweran. Perhatian saya lebih tercurah pada kerja fisik bersama-sama ini, yang sudah lama tidak saya lakukan, sehingga kali ini rasanya sungguh menyenangkan lagi menyegarkan. Saya menyentuh berbagai media tanam langsung dengan kulit, tanpa dihalangi sarung tangan biarpun akibatnya timbul rasa sakit. Sebelum pergi ke acara ini, saya memotong kuku dan rupanya ada yang kependekan. Selain itu, arang sekam bisa cukup tajam untuk menggores kulit. Tapi, saya tidak peduli. Saya merasa begitu asyik, energetik. Meski setelah beberapa waktu, energi saya turun juga dan sudah tidak sabar rasanya ingin rebahan, hahaha.

Berangsur-angsur peserta bertambah dan tidak lagi didominasi oleh perempuan. Muncul bocah-bocah SD yang membantu mencampur media tanam serta mengangkut karung ke atas. Ada juga bapak-bapak petugas sekitar yang menunjukkan cara mencampur media tanam secara cepat. Dibutuhkan jangkauan kedua lengan yang lebar untuk membolak-balikkan media tanam dari bawah ke atas.

Pencampuran media tanam disudahi karena waktu sudah melewati pukul sepuluh, padahal masih banyak karung yang belum digarap. Kami pun dipanggil ke atap untuk demonstrasi menanam. Baki-baki berisi semai ikut dibawa ke atas.

Beberapa bed telah siap. Anak-anak, mbak-mbak, dan ibu-ibu bersama-sama mengisi sisi-sisi bed dan memasukkan semai ke lubang-lubang yang telah diatur jaraknya, yaitu sepuluh sentimeter antarsatu sama lain. Adapun semai terdiri dari dua jenis: pek chay dan selada romaine. Sepintas keduanya terlihat mirip, namun ternyata salah satunya punya bulu-bulu halus. Semai ditumbuhkan dalam wadah yang terbuat dari lembaran gedebog pisang (?) yang direkat dengan staples.

Sebelum ditanami, media tanam dibasahi lebih dulu.
Mari menanam semai beramai-ramai!
Setelah ditanam, semai diberi air sekalian mencuci tangan 
Matahari semakin luas menyinari, panasnya semakin terik menyengat, semai-semai semakin layu untuk dimasukkan, badan saya semakin merengek minta diistirahatkan. Kini saya mengerti sebabnya "topi" menjadi salah satu barang yang sebaiknya dibawa, khususnya yang bentuknya melebar di sekeliling. 

Setelah berfoto bersama di atap sambil mendongak ke arah drone padahal langit sudah terlalu menyilaukan, kami pun turun. Saya dan teman menyerahkan bibit/biji yang kami bawa dari rumah--barang lain yang diharapkan agar dibawa.

Berangsur peserta pada pulang, hingga giliran saya dan teman yang pamit. Beberapa orang dari komunitas dan karang taruna lanjut mencampur media tanam dan saya salut pada mereka sebab suasana kian siang kian enggak kondusif. Betapa kerennya mereka!

Sepulang dari acara ini, saya capek tapi senang. Inilah refreshing yang saya butuhkan! Inilah pelajaran yang semestinya saya ikuti! Sejak menyadari pentingnya berkebun, saya memulainya serbasendiri, mulai dari mencari informasi hingga memraktikkannya di halaman rumah. Tapi, rupanya cara itu kurang efektif bagi saya. Semangat saya pasang surut dan tanaman-tanaman saya berakhir menyedihkan. Berkali-kali saya kapok, meski berkali-kali pula saya kembali penasaran.

Hanya karena saya sudah "tua", bukan berarti saya sudah tidak butuh cara belajar yang sama seperti untuk anak kecil. Saya pun butuh participatory learning, dalam artian dimulai dengan praktik sederhana di bawah bimbingan orang yang ahli dalam suasana santai lagi menyenangkan, seperti NGERUK ini.

Saya jadi menyesal karena melewatkan acara-acara Komunitas 1000 Kebun sebelumnya, yang telah diinformasikan teman saya dengan begitu baik hatinya itu. Mudah-mudahan saya masih punya banyak kesempatan untuk belajar dari mereka, khususnya dalam bentuk praktik seperti ini. Mudah-mudahan dengan begitu kelak saya dapat mengoptimalkan ruang di sekitar rumah saya untuk dijadikan kebun pangan yang berkelanjutan. Aamin ya robbal alamin.




Gambar dan foto dari Anis Wardhani.

Senin, 29 Juli 2019

Belajar Humor dari Pak Boim Lebon

Minggu, 21 Juli 2019, di perpustakaan Bandung Creative Hub dari pukul 9-12 WIB ada acara Diskusi dan Bedah Buku Pahlawan tanpa Tanda Tangan. Buku ini merupakan buku kumpulan cerpen humor yang dikarang oleh Pak Boim Lebon dan para anggota FLP. Membaca kata pengantarnya, gagasan mengenai buku ini terbit pada waktu Musyawarah Nasional FLP di Bandung beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut, ada workshop menulis cerita humor bersama Pak Boim. Nah, buku ini merupakan hasil dari workshop tersebut. Harganya Rp 45.000 saja.

Di samping Pak Boim, ada dua pembicara lain, yaitu Felian Auliya dan Aini Sarah Nurul atau Sarah Astro. Keduanya tercatat sebagai anggota FLP Sumedang dan menyumbang cerpen dalam buku ini. 


Ketiga pembicara berbagi kiat-kiat dalam menulis cerita humor. Khusus untuk Pak Boim, kita tahu beliau adalah penulis yang prolific. Di samping duet bersama Hilman Hariwijaya dalam Lupus Kecil dan Lupus ABG yang sangat kesohor itu, ada banyak lagi bukunya yang lain yang secara umum bergaya humor. Nama Boim Lebon seolah-olah identik dengan cerita humor. Berikut ini adalah beberapa poin yang saya tangkap dari mereka. Sebagian besarnya dari Pak Boim, selebihnya oleh Sarah dan Felian.
  • Penulis cerita humor memiliki gen humor atau sensitivitas yang tinggi terhadap humor.
  • Sangat banyak hal yang bisa ditertawakan dari kehidupan sehari-hari. Penulis yang terlatih akan mencatatnya dengan rajin.
  • Di antara sekian hal yang bisa ditertawakan dari kehidupan sehari-hari itu adalah kelakuan orang di sekitar kita. Bisa jadi kita mengenal orang-orang yang punya karakter unik dan komikal sehingga bisa dijadikan bahan tertawaan. (Lo, kok kesannya kejam, ya? Hihi.) Pak Boim mencontohkan teman-temannya semasa SMA, keluarganya, bahkan dirinya sendiri sebagai sumber inspirasi dalam menulis yang lucu.
  • Humor tidak mesti menggunakan diksi kasar, sebagaimana dicontohkan acara lucu-lucuan di televisi yang kerap mengatai orang dengan sebutan-sebutan tertentu. Humor juga tidak mesti bersifat slapstick ala Srimulat. Acara stand-up comedy bisa dijadikan alternatif untuk mempelajari permainan diksi sehingga menghasilkan efek humor.
  • Baca juga karya-karya yang humoris seperti ... Raditya Dika ...? Apa enggak ada yang lain? (*keplak) Raditya Dika juga penulis yang identik dengan gaya humor, dan salah satu yang paling terkenal di Indonesia. Kalau mau mengeksplorasi, sesungguhnya ada banyak penulis humoris lain--baik dalam negeri maupun mancanegara--yang juga layak untuk diperhatikan.
  • Untuk menguji apakah joke yang kita punya memang lucu atau enggak, kita bisa menceritakannya dulu kepada orang lain dan melihat reaksi mereka.
Sebagai penyuka yang lucu-lucu, sharing dari ketiga penulis ini--utamanya Pak Boim--beresonansi (idih, berat diksinya!) dengan pengalaman saya sendiri. Saya juga beraspirasi ingin lihai membawakan gaya bahasa humoris dalam tulisan saya. Karena saya pada dasarnya bukan orang yang senang ngomong atau segan kalau sengaja melucu pada orang (takut malah krik krik), saya hanya bisa menguji kelucuan pada diri saya sendiri. Kalau itu membuat saya tertawa, saya pikir sudah memadai lah. 

Tetapi, toh, membawakan humor ada seninya sendiri. Seperti kata Mark Twain--Bapak Humor Amerika Serikat--adakalanya kelucuan terasa ketika si pencerita enggak menyadari bahwa yang dikatakannya itu lucu. Kadang saya menemukan bacaan yang mengaku humor, tetapi maksa alias enggak bikin saya ketawa. Jadi, kalau itu lucu bagi kita, tetapi belum tentu bagi orang lain, sementara kita malas mengujikannya kepada orang lain, paling enggak, kita enggak perlu memaksakan kepada pembaca bahwa itu memang lucu. Sajikan saja dengan dingin dan apa adanya, seakan-akan kita sendiri enggak menganggapnya lucu tetapi begitulah yang kita pikirkan dan selebihnya biarkan pembaca sendiri yang menilainya. Pembaca dengan sensitivitas humor yang berbeda dari kita mungkin enggak bakal bereaksi, tetapi pembaca yang seselera dengan kita boleh jadi kena.

Secara keseluruhan, semesta dalam karya-karya Pak Boim itu sendiri juga terasa beresonansi (???) dengan saya.

Buku-buku beliau pada umumnya diperuntukkan bagi anak dan remaja. Boleh jadi itu karena anak dan remaja merupakan pasar pembaca yang besar (orang dewasa sudah enggak punya waktu buat baca!), meski Pak Boim bilang sekarang ini terjadi krisis bacaan anak. Adapun pasar remaja penting karena pada masa tersebut orang mulai ingin diperhatikan lawan jenis dan sangat melit--hal-hal yang dapat menentukan arah hidup. 

Kalau diingat-ingat, memang, bacaan saya semasa remaja menentukan apa yang saya ingin tulis sampai dewasa ini. Pada masa itu, saya terpengaruh paling enggak oleh tiga macam bacaan: fiksi islami ala FLP, teenlit Barat terbitan GPU, serta novel serius berdebu di perpustakaan sekolah. Ketiganya pada umumnya berupa karya realis, dalam artian bukan genre tertentu seperti horor, fantasi, detektif, dan sebagainya, melainkan berkutat dengan masalah kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur tersebut--islami, pop, tetapi juga serius, dan realis--menguasai dunia imajinasi saya dan terus-menerus saya ramu agar dapat berpadu dalam karya yang paling enggak mesti bisa memuaskan diri saya sendiri. Itu, dan bungkusnya sebisa mungkin humoris. Humor penting karena dengan bangunan dunia yang sedemikian relatable, yang bisa jadi penuh dengan hal-hal enggak mengenakkan, saya pengin belajar cara memandangnya secara ringan, di antaranya, dengan menertawakannya.

Mendengar Pak Boim mengenang masa SMA beliau yang sepertinya sangat mengesankan, karena banyak teman sekolahnya yang berkarakter unik--termasuk dirinya sendiri, wkwk--saya teringat akan proyek (idih, serasa mau bangun gedung) saya sendiri yang sampai sekarang belum menemukan "tempat"-nya. Betapa saya juga terjebak dalam masa itu dan entah kapan akan selesai.

Akhir kata, Pak Boim berpesan agar kita menulis saja yang kita suka dan kita biasa. Kita enggak perlu takut kalau ide kita enggak menarik, karena menarik atau enggak itu tergantung pada cara mengemasnya, yang salah satunya mungkin dengan humor. Buku-buku Pak Boim bisa dijadikan bahan pelajaran.

Kebetulan, sebelum mengetahui tentang acara ini, saya menumpuk beberapa buku Lupus Kecil dan Lupus ABG yang saya miliki. Tadinya, maksud saya membaca ulang buku-buku itu karena saya lagi menggarap cerita dengan karakter bocah tengil sehingga saya butuh referensi untuk penjiwaan(???). Setelah menghadiri acara temu langsung dengan salah satu pengarangnya ini, saya mendapatkan wawasan baru dalam pembacaan saya dan bisa mengaitkan beberapa hal. Baru dua buku Lupus Kecil yang saya tamatkan sampai saya mengetik entri ini. Pembacaannya saya taruh di Goodreads. Berikut tautannya.


Adapun tentang novelet dengan karakter bocah tengil yang mengambil Lupus sebagai salah satu referensinya itu, draf pertamanya sudah selesai dituliskan. Saya enggak yakin dia benar-benar menyerupai Lupus sih. Soalnya, biarpun bandel, Lupus lebih berteladan dan enggak sampai mengangkat kenakalan remaja semacam berjualan video porno #eh #spoileralert. Dalam acara ini, sesungguhnya Pak Boim memberi dua tugas. Yang pertama adalah menuliskan karakter orang yang kita kenal dalam keseharian kita, yang kita anggap unik. Yang kedua adalah menuliskan ide cerita. Karena kepala saya lagi penuh sama novelet ini, maka saya memakainya untuk memenuhi tugas itu--yang enggak saya kumpulkan karena malu. Hihihi. Kalau penasaran, novelet itu bisa dibaca di sini dengan pertanyaan apakah usiamu sudah 17+. Tetapi, percayalah, isinya enggak selucah kesan yang tersurat.

Sabtu, 22 Juni 2019

Karya Fiksi Enggak Bisa Bohong

Ia menangis ketika mamanya pergi bekerja. Ia menangis ketika Mama dan Papa bertengkar. Ia menangis ketika memasuki kamar Simbok. Ia terus menangis sembari ditepuk-tepuki Simbok sampai ketiduran.

Dengan teman-temannya pun ia tidak dapat bergaul dengan luwes. Ia lebih suka menyingkir daripada membalas atau sekadar menahan perkataan mereka tentang dirinya.

Ia malu menjadi anak laki-laki yang sensitif. Ia ingin menjadi seperti robot: besar, kuat, dingin, tidak berperasaan. Ia menjadi terobsesi pada robot. Ia suka menonton kartun robot di televisi. Ia mulai menggambar robot. Lama-lama gambarnya berkembang menjadi komik.

Dalam komiknya, ia malah membuat karakter robot yang punya hati dan bisa menangis.[]

June 21, 2019

https://kemudian.com/node/279613

Jumat, 21 Juni 2019

Kita Butuh Angkot ... demi Menyelamatkan Beruang Kutub

Beberapa hari yang lalu, saya keluar rumah untuk menghadiri suatu acara. Saya naik angkot 01 dari dekat rumah lalu berhenti di depan Universitas Langlangbuana. Di situ saya menunggu angkot jurusan Kalapa-Dago. Sekitar sepuluh menit, angkot tersebut tidak juga muncul. Saya mulai gelisah. Saya takut terlambat ke acara yang dituju.

Saya pun mulai berjalan memasuki Jalan Karapitan, sembari sesekali menengok ke belakang. Sesekali muncul beberapa angkot, tetapi enggak satu pun yang jurusan Kalapa-Dago.

Saya memutuskan untuk naik angkot jurusan lain saja sampai perempatan menuju Jalan Ir. H. Juanda (Dago). Lalu dari perempatan itu mungkin akan ada angkot yang dapat membawa saya ke tempat acara.

Saya pun naik angkot Kalapa-Ledeng. Di Jalan Sunda yang sangat padat oleh kendaraan--dibandingkan sewaktu di sekitar Jalan Buah Batu tadi--saya melihat penampakan angkot Kalapa-Dago agak jauh di belakang. Sempat saya berpikir untuk turun dan pindah ke angkot itu. Tetapi angkot tersebut malah berbelok ke jalan di sebelah kirinya.

Saya pun tetap di angkot Kalapa-Ledeng. Di perempatan sekitar Jalan Riau-Jalan Merdeka-Jalan Ir. H. Juanda, saya melihat ada satu angkot Kalapa-Dago yang tertahan oleh lampu merah. Begitu angkot Kalapa-Ledeng yang saya naiki belok ke Jalan Merdeka, saya minta turun. Lalu saya cepat-cepat pindah ke angkot Kalapa-Dago tersebut sebelum jalan karena lampu sudah menjadi hijau.

Jalan Ir. H. Juanda pada siang akhir pekan itu penuh oleh kendaraan, khususnya setelah melewati Jembatan Pasopati. Untunglah saya enggak terlambat sampai ke acara.

Acara yang bertempat di Jalan Ir. H. Juanda itu selesai sekitar magrib. Saya dan teman menumpang salat magrib lebih dulu di tempat lain yang tidak jauh dari situ, dan tertahan di sana sampai isya karena tahu-tahu turun hujan deras. Begitu isya, hujan sudah selesai, kami pun melanjutkan obrolan di pinggir jalan.

Saat itu saya sudah khawatir jangan-jangan enggak bakal ada angkot Kalapa-Dago lagi yang lewat. Dari Jalan Ir. H. Juanda, untuk pulang saya cuma bisa naik angkot Kalapa-Dago. Bisa saja sih saya naik angkot St. Hall-Dago, tetapi itu artinya perjalanan pulang saya bakal semakin panjang dan lama begitu pula ongkosnya jadi berlipat-lipat. Tetapi, bahkan angkot St. Hall-Dago saja enggak kelihatan. Sekalinya ada angkot Kalapa-Dago yang lewat, mereka menolak tumpangan karena sedang membawa barang.

Ini bukan sekalinya saya menunggu di tepi Jalan Ir. H. Juanda dan lama mendapatkan angkot Kalapa-Dago. Saya pernah mengalaminya bahkan ketika hari belum gelap--saat itu masih sore dan langit cukup cerah.

Rencana cadangan saya: Kalau angkot Kalapa-Dago enggak kunjung lewat, saya mau menumpang aplikasi ojek daring milik teman. Ponsel saya sendiri enggak compatible untuk aplikasi yang baru in beberapa tahun belakangan ini.

Teman saya optimistis bahwa angkot Kalapa-Dago akan lewat, dan dia benar.

Saya pun naik ke angkot yang cuma diisi pak sopir itu. Baru ada beberapa penumpang lagi setelah angkot melewati Bandung Indah Plaza.

Saya berhenti di perempatan Jalan Pungkur. Di situ saya menunggu angkot 01.

Jalan Pungkur relatif sepi baik siang maupun malam. Di belakang tempat saya berdiri menunggu ada Alfamart yang terang-benderang, serta seorang tukang parkir. Saat itu sekitar jam setengah delapan malam. Saya pikir: Kalau sampai jam delapan angkot 01 enggak lewat, saya bakal masuk ke Alfamart, beli pulsa, dan menghubungi teman yang bermukim di sekitar situ untuk menginap barang semalam.

Tetapi, beberapa menit kemudian angkot 01 tiba. Yang mengisi cuma sopir dan di sampingnya perempuan yang sepertinya istrinya. Mereka cukup muda, paling enggak si sopir mengemudi sambil menyetel dan menyanyikan lagu Sheila on 7 keras-keras. Sopir sempat menanyakan kepada saya soal lampu di bagian dalam angkot yang sengaja enggak dinyalakan. Saya fine-fine saja soal itu. Yang penting saya sudah dapat tumpangan untuk pulang.

Di Jalan Buah-Batu, angkot disetop oleh seorang bapak-bapak berkumis, berjaket, yang agak kurus. Bapak itu dengan ramah menanyakan, "Supratman?" Sopir angkot menolaknya karena sudah mau pulang. Bapak itu terlihat legawa-legawa saja dengan keputusan si sopir, entah apakah sebenarnya hatinya ketar-ketir juga seperti saya sebelumnya. Sementara angkot berbelok, saya melihat pada si bapak yang ditinggalkan itu melalui kaca belakang. Saya merasa kasihan: Pada malam gelap di jalan yang sepi begini, entah berapa lama lagi ia mesti menunggu angkot yang akan membawanya ke Supratman ....

Tetapi, memasuki Jalan Martanegara, angkot berhenti untuk seorang mbak-mbak muda berjilbab syar'i dan si sopir menanyakan tujuannya. "Binong," kata si mbak muda. Lalu si sopir membiarkan ia masuk.

Apa mungkin karena dia mbak-mbak berpenampilan lumayan yang tujuannya cuma Binong sementara yang sebelumnya bapak-bapak yang tujuannya sampai Supratman? Supratman lebih jauh daripada Binong, memang.

Sementara meresapi itu, saya mengenang masa ketika masih bisa mendapatkan angkot St. Hall-Gedebage malam-malam--bahkan jam setengah sepuluh malam. Saat itu saya masih murid SMA. Tahun-tahun belakangan, menjelang magrib saja angkot St. Hall-Gedebage bisa dibilang sudah enggak ada yang lewat. (Atau saya enggak mau mengambil risiko menunggu sampai lama untuk memastikan bahwa sesungguhnya angkot tersebut masih lewat pada waktu begitu.)

Dalam hati, sejak menunggu angkot Kalapa-Dago di depan UNLA siang sebelumnya, saya ingin berteriak: "KAMI MASIH BUTUH ANGKOT!" atau lebih tepatnya, "KITA BUTUH ANGKOT!" Bukan hanya untuk orang-orang tua yang gaptek, atau anak-anak muda yang enggak mampu/berminat membeli gawai yang compatible buat install aplikasi ojol, tetapi juga untuk mengurangi macet, panas, serta zat-zat polutan berbahaya yang katanya bisa menumpulkan otak.

Tetapi, kebanyakan orang hanya memikirkan dirinya sendiri (kayak diri sendiri enggak aja). Mereka ingin cepat, ingin gaya. Mereka ingin lebih banyak waktu buat dirinya sendiri (saya juga sih), atau buat siapalah yang lagi ingin mereka temui. Mereka enggak bisa menikmati berdempetan dengan orang lain sembari melamun--melayangkan pikiran ke sana kemari (nah, kalau yang ini sih saya lain dari mereka).

Lah, kok jadi menyalahkan orang lain, ya? Katanya yang bijak itu bercermin dulu. Baiklah, mungkin ini salah saya:

1. Yang lagi malas bersepeda, apalagi kalau berangkatnya mesti siang bolong ketika cuaca panas terik matahari.

2. Yang enggak mau meneruskan belajar dan membiasakan naik motor dan atau mobil. But, but, but I don't see any point of being able to drive while living in a big, crowded highly polluted city. I deeply enjoy walking, riding bike (kalau cuaca lagi enggak panas atau hujan dan jalannya menurun) and taking public transportation!

3. Yang belum dapat lungsuran gawai yang compatible buat install aplikasi ojol.

4. Yang keluar rumah sampai malam untuk bertemu teman dan mengikuti pelatihan, padahal mah diam bae di rumah jadi manusia gua untuk selama-lamanya.

5. Yang gagal paham kenapa sih mesti mengikuti arus zaman supaya semakin bergantung kepada teknologi yang untuk menjalankannya membutuhkan banyak listrik dan bahan bakar fosil yang mengakibatkan perubahan iklim yang dampaknya membikin seekor beruang kutub luntang-lantung di jalan raya seperti dalam potongan koran berikut ini.

Sumber: Kompas, 20 Juni 2019
6. Yang setelah melihat berita di atas lantas googling 'how to save polar bear' dan menemukan justifikasi:
We can all contribute to reducing climate change, and therefore help polar bears and other endangered species. A significant cause of climate change is the emission of polluting gases from burning fossil fuels, such as coal and oil. Fossil fuels are burned when we use electricity or drive our cars, among other things. (Baca selengkapnya di artikel ini.)
7. Yang sebetulnya enggak serius-serius amat dalam menanggapi isu perubahan iklim, cuma sebal aja enggak ada angkot pas lagi butuh. Huh! Saya kan cuma manusia biasa yang bisanya cuma memikirkan kepentingan diri sendiri, dan kepentingan saya adalah: Saya butuh angkot ketika lagi enggak bersepeda! Kebetulan saja beruang kutub juga butuh sebanyak-banyaknya orang beralih ke angkot ... secara enggak langsung.

Kayaknya Bandung juga.
(Sumber: Kompas, 20 Juni 2019
"Angkutan Umum Perlu Diperluas")

Sabtu, 15 Juni 2019

Matinya Seekor Anak Kucing (2)

Sebenarnya bukan hanya seekor, tetapi sekian.

Sejak "Matinya Seekor Anak Kucing" yang saya publikasikan di blog ini pada 2014, selama beberapa tahun ini, telah ada sekian ekor anak kucing yang mati di sekitar rumah kami.

Salah satu anak kucing yang akhirnya mati
secara menyedihkan akibat sakit.
Ada anak-anak kucing yang enggak sengaja kami pelihara, karena induknya yang entah datang dari mana kami beri makan, kemudian ikut tinggal, dikawini entah kucing mana saja, hamil, melahirkan, dan seterusnya, sampai ketika mereka sudah agak besar kami pindahkan ke garasi karena kalau di dalam bikin rujit, lalu pada sakit, dan mati satu per satu.

Ada anak-anak kucing yang sepertinya sengaja dibuang di depan rumah kami, seolah-olah yang membuang tahu bahwa kami suka memberi makan kucing. Ibu saya pernah sampai pasang karton di pos satpam samping rumah. Isinya mengimbau siapa pun itu supaya enggak buang kucing di sekitar situ.

(Sebenarnya, banyak juga anak kucing yang setelah agak besar kami buang karena keterbatasan kami dalam mengurus banyak kucing. Tetapi, biasanya kami menunggu sampai kucing-kucing itu agak besar dan sudah disapih oleh induknya, bukannya yang masih menetek.)

Kucing pungut yang berhasil bertahan
sampai besar dan relatif tidak menyusahkan.
Kecuali sekarang ia jadi berisik
karena mulai pengin kawin.
Ada anak-anak kucing yang sengaja kami pelihara, atau lebih tepatnya, dipungut ibu saya dari jalan karena kasihan, sampai mereka besar. Salah satunya mati pada Ramadan yang baru lalu, katanya karena ditabrak, yang kemudian dikuburkan oleh satpam komplek di tanah kosong dekat rumah. Sayang, padahal kucingnya cantik dengan bulu hitam-cokelat halus dan megar.

Baru-baru ini ibu saya memungut seekor anak kucing lagi, namun sudah terlambat.

Berulang-ulang ibu saya bercerita, bahwa dua hari lalu anak kucing itu masih baik-baik saja. Malah sebenarnya anak kucing itu terlihat seperti ingin dibawa.

Tetapi, biasanya saya menjadi pemeran pendukung antagonis dalam drama ini. Tiap kali ibu saya membawa seekor anak kucing ke rumah, saya bertanya-tanya: "Jangan-jangan masih ada ibunya? Jangan-jangan ibunya cuma lagi cari makan? Jangan-jangan ada yang punya? Jangan-jangan ..." dan seterusnya. Kalaupun ibu saya keukeuh ingin mengurusnya, sebetulnya saya enggak ada masalah. Tugas saya paling-paling cuma kasih makan ketika ibu saya pergi.

Tetapi, anak kucing yang kali ini, ketika dibiarkan saja di jalan, tetap saja sendirian di jalan.

Ibu saya bilang, dua hari lalu anak kucing itu masih baik-baik saja. Tetapi, kemarin, anak kucing itu sudah lemas. Pantatnya basah, rusak karena diare. Diberi makan, enggak mau. Maunya berlemas-lemas saja di luar pagar, sembari berjemur. Tiap kali dibawa ke bagian dalam garasi, dia pasti ke luar lagi.

Kami memutuskan untuk membawanya ke dokter hewan sore itu.

Sementara pengunjung lain membawa anjing atau kucing yang bagus-bagus, dengan keranjang piknik atau kandang betulan, kami membawa anak kucing yang kelihatannya sudah mau mati tetapi masih bisa mencret dalam kardus Ades kecil. Perutnya toh masih kembang kempis. Sepertinya dia terus-terusan mengeluarkan tahi, sebab ibu saya terus-terusan menjejalkan tisu ke dasar kardus. Semestinya kami mengalasi kardus dengan berlapis-lapis kertas koran alih-alih selembar kaus bekas.

Giliran kami tiba. Nomor 68. Kami dibawa ke ruangan paling ujung oleh dokter cantik dan ramah, dengan bulu mata lentik dan wajah mulus, yang meragukan kami punya kulkas di rumah (serius, se-humble itu penampilan kami).

Anak kucing yang kami bawa masih hidup. Ia diberi infus, disuntik vitamin. Ia masih bisa berdiri, mau mencicip secuil kornet. Ia ditimbang dan beratnya 0,4 kg. Dokter memberi sebotol kecil air hangat supaya dia enggak kedinginan. Selain itu, ada obat cair yang mesti ditembakkan ke mulutnya sebanyak 0,5 ml dua kali sehari. Total biaya enam puluh ribu rupiah.

Begitu tiba di rumah, saya membersihkan lantai kamar mandi belakang di lantai dua. Kamar mandi itu bisa dibilang enggak pernah digunakan, sehingga sesekali kami fungsikan sebagai tempat karantina kucing sakit atau telantar. Setelah agak bersih, saya mengalasi lantai dengan lembaran-lembaran kertas koran. Kemudian ibu saya memasukkan anak kucing itu beserta segala perlengkapannya: tempat tidur, makanan, toilet ....

Kira-kira setelah isya, ketika saya ke lantai bawah untuk gosok gigi, saya mendengar ada suara aneh seperti menggeram. Saya mengira ada kucing bertengkar di luar. Saya tengok ke garasi. Enggak ada apa-apa. Suara itu terdengar berkali-kali lagi. Ibu saya muncul dan bilang bahwa itu suara si anak kucing. Anak kucing itu tidur tetapi sambil mengeluarkan suara. Ibu saya bilang sepertinya anak kucing itu mau mati.

Saya menyetujui dalam hati. Diam-diam saya merasa ngeri. Saya membayangkan ada Malaikat Izrail di atas sana, sedang menarik nyawa anak kucing itu perlahan-lahan. Anak kucing itu sebegitu kecilnya, dan dia bukan manusia. Usianya mungkin baru 1-2 bulan? Dosa apa yang mungkin diperbuatnya? Tetapi, kenapa suara sekaratnya sangat menyeramkan? Itu baru anak kucing kecil yang kita ragukan apakah memiliki dosa. Bagaimana dengan suara sekarat manusia dewasa yang jelas-jelas pasti telah berbuat banyak dosa sepanjang hidupnya, dengan akal dan hatinya?

Malam itu saya agak sulit tidur padahal sejak magrib merasa capek. Antara riweuh dengan persoalan-persoalan pribadi yang enggak penting, dan penderitaan si anak kucing. Saya tidur di spring bed dengan selimut tebal yang nyaman dan kegelapan nyaris total, sementara si anak kucing tidur cuma beralaskan kardus, koran, dan plastik, tanpa selimut, di kamar mandi pengap berpenerangan lampu oranye. Saya menyetel musik sampai kajian untuk meredam suara yang kemungkinan berasal dari si anak kucing. Akhirnya saya tertidur juga.

Subuh ini saya dan Mama sama-sama sudah bangun. Bukannya salat subuh dulu, ibu saya malah mengecek anak kucing itu. Lalu ibu saya turun lagi dan bilang anak kucing itu sudah kaku.

Sekarang, persoalannya, di mana hendak menguburkan anak kucing itu. Sebelum-sebelumnya kami menguburkan kucing mati di halaman rumah sendiri. Karena spot-spot strategis sudah terisi, belakangan kami merambah ke tanah kosong di dekat rumah. Tetapi, suatu kejadian bikin saya semakin malas membuang bangkai kucing ke sana. Saat itu, tetangga yang tinggal tepat di seberang tanah kosong itu memprotes kami. Dia enggak mau sampai tercium bau bangkai ke rumahnya. Setelah cekcok sebentar, kami berhasil meyakinkan dia bahwa kami bakal menggali tanah yang dalam untuk mengubur bangkai itu. Tetap saja, ada perasaan enggak enak karena sudah bertikai dengan salah satu pihak yang tampaknya enggak rela.

Saya berharap nanti bukan saya yang mesti membawa bangkai itu ke sana lagi. Kalaupun terpaksa, untuk menemani, saya berharap ibu-ibu itu enggak memergoki kami.

Ada yang mau mengobati kucing ini?
"Matinya Seekor Anak Kucing" merupakan tulisan ketiga paling populer di blog ini yang memancing cukup banyak komentar. (Yah, cukup banyak dibandingkan dengan ratusan tulisan lain di beberapa blog saya yang sama sekali enggak menimbulkan komentar, waha. Bukannya saya tanggap dalam membalas komentar juga sih.) Saya menduga kepopuleran tulisan itu menunjukkan banyaknya orang yang sesungguhnya peduli pada isu perkucingan.

Kuping kanannya sudah mau habis.
Memang manusia saja masih banyak yang telantar di jalan. Bagi sebagian orang yang segan-segan dalam hubungan antarmanusia, kucing bisa menjadi alternatif dalam belajar menjadi pengasih dan penyayang. Saya sendiri masih jauh dari tahapan menjadi seperti ibu saya, apalagi untuk menjadi seperti mereka yang sampai menampung ratusan kucing dan peduli untuk mengebirinya.

Seandainya kita ogah menyentuh kucing tetapi dikaruniai rezeki yang lumayan, minimal kita bisa mulai dengan membeli makanan kucing kiloan (yang kering itu lo supaya praktis) dan menyedekahkannya pada kucing liar yang kita temui di jalan. Seandainya kita miliarder, di samping menyumbang ke Daarut Tauhid atau lembaga kemanusiaan lainnya, mungkin kita bisa mendonasikan sebagian kelebihan itu pada lembaga penyelamat kucing, salah satunya adalah The Whiskers' Syndicate di Bandung.

Jangan ada anak kucing mati lagi di antara kita. Kematian, pada makhluk hidup sekecil apa pun termasuk tumbuhan, tetap saja bikin sedih. Kecuali pada kutu rambut, tentunya.

Pembaruan:

Anak kucing itu jadinya dikubur di tanah kosong dekat rumah. Saya enggak ikut menguburkannya. Beberapa jam kemudian, ibu saya menemukan dua anak kucing yang masih sangat kecil--belum dua bulan--di dasar got depan rumah. Curiga ada yang sengaja membuangnya di situ, lagi. Kami membawa mereka ke dokter hewan juga. Salah satu anak kucing belekan parah, yang kata dokter bisa-bisa sampai buta. Mereka juga kena flu.

Selain itu, kami baru ingat bahwa dokter juga menyuruh untuk memberikan kuning telur mentah pada si anak kucing yang sekarat. Seandainya malam itu, sebelum meninggalkannya sendirian, kami mencekokkan kuning telur mentah dulu ke mulutnya, apakah dia bakal masih bertahan?

Yah, takdir.

Literally hilang satu, dua terbilang dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain