Saya membaca buku ini karena disodori teman. "Kayaknya bagus," katanya. Jadi saya membacanya supaya ketika kami bertemu lagi dan dia menanyakan tentang buku ini, saya punya jawaban yang mengapresiasi rekomendasinya :v
Gambar dari Goodreads.
Jadi ini buku terjemahan yang dalam bahasa aslinya diterbitkan pada 2009, sedangkan di Indonesia cetakan pertamanya pada 2012 atau 2013 (jadi yang mana?). Terjemahan yang kurang baik bikin pembacaan bermasalah. Anggaplah terjemahan buku ini sudah baik, berarti memang narasi aslinya yang bermasalah.
Saya merasakan narasinya berbunga-bunga, bertele-tele. Sebagian orang mungkin suka penggambaran dunia batin yang demikian, tetapi itu bukan cangkir teh saya.
Dalam pembacaan ini, saya cenderung mengacu kepada The Story of Muhammad dari Lesley Hazleton. Terlepas dari berbagai kekurangan buku tersebut, saya lebih suka membaca kisah seputar kenabian dalam model begitu: biografi ilmiah--nonfiktif--dengan mengupayakan aspek kemanusiaan dari seorang tokoh suci secara simpatik. Buku tentang Khadijah ini pun sepertinya ditujukan untuk mengangkat aspek kemanusiaan itu, agar kita yang orang awam dapat merasa lebih dekat dengan beliau, akan tetapi dalam bentuk yang cenderung difiksikan begini takarannya kebablasan.
Tetap ada hal positif yang saya dapatkan dari buku ini.
Saya mendapatkan sedikit gambaran mengenai kehidupan di sana pada masa itu, melalui detail tertentu.
Saya juga memperhatikan bagaimana penulis cenderung mengeksplorasi detail suasana batin (sampai taraf berlebihan) daripada peristiwa. Misalnya, tahu-tahu saja Khadijah berpisah dari suami keduanya; tahu-tahu saja Khadijah meninggal dunia. Tetapi hal-hal seperti itu disebut sepintas lalu saja, tidak ada eksekusi aksi atau semacamnya yang membangkitkan gereget untuk terus membaca. Mungkin hal itu riskan jika dilakukan, mengingat keterbatasan riwayat atau karena ini menyangkut tokoh suci yang notabene faktual. Kisah ini tidak boleh sembarangan ditulis, lebih daripada setiap buku lain yang melalui penerbit kredibel. Tetapi dalam bentuk yang seperti ini pun, buku ini cenderung fiktif daripada bukan, enggak sih? Dalam fiksi, pengarang agaknya berhak untuk menambahkan apa pun. Malah, bukankah tokoh Berenis itu sendiri fiktif?
Jadi, seolah-olah penulis berfokus pada detail yang mudah yaitu yang fiktif, ketimbang yang sulit yaitu yang berlandaskan fakta sehingga membutuhkan riset lebih lanjut dan sebagainya.
Walaupun, mungkin juga, kalau untuk eksposisi kejadian, sebagian pembaca yang memilih untuk membaca buku ini mungkin saja telah membaca sirah nabawiyah yang pasti lengkap dan akurat sehingga itu tidaklah perlu diungkit lagi.
Mungkin juga, buku ini memang bertujuan untuk memasukkan pembaca ke alam batin Khadijah, agar menghayati perjuangannya, sehingga bagian itulah yang banyak dieksplorasi. Kalau demikian, itu enggak berhasil buat saya. Mudah-mudahan bukan karena saya orang tanpa perasaan, heuheuheu. Soalnya, saya tertarik sampai mencari buku The Story of Muhammad Lesley Hazleton sejak menyimak ceramahnya di TED Talk justru karena ia dapat menggambarkan peristiwa turunnya wahyu pertama sedemikian sehingga saya merasa dapat menghayati beratnya beban Rasulullah SAW ketika itu terjadi.
Ada yang lucu di halaman 224:
... penderitaan yang dialami keluarga itu telah mengubah sebuah pisau bermata runcing menjadi busur panah yang tajam.
Kalimat ini mengingatkan pada lagu Dewa. Itu lo, yang "Tatap matamu bagai busur panah." Padahal arti "busur" yang berhubungan dengan panah menurut KBBI Daring adalah:
n bilah kayu, bambu, dan sebagainya yang direntangkan dengan tali untuk melepaskan anak panah
Jadi, "busur" atau "anak" panahnya yang tajam?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar