Jumat, 28 Juni 2013

Mari Bicara tentang Kebahagiaan


Pendiri Summerhill School, Alexander Sutherland Neill berpandangan bahwa anak-anak yang dididik dengan kebebasan akan menjadi orang yang bahagia. Pembacaan berlanjut ke The Geography of Bliss, yang memang fokus membahas kebahagiaan. Kali ini ada Eric Weiner, jurnalis dari Amerika Serikat yang mengaku penggerutu. Ia tidak pernah merasa bahagia. Ia mencari kebahagiaan melalui buku-buku, tapi tidak ketemu. Maka ia mencoba untuk mencari kebahagiaan dengan lain cara: Ia datangi langsung tempat-tempat yang konon penduduknya berbahagia (dan yang tidak). Tidak tanggung-tanggung, konteks tempat-tempat yang dimaksud adalah negara. Sejak dulu Eric memang ingin melihat dunia, tapi dengan dana dari pihak lain. Eric pun menjadi jurnalis.

Langsung saja. Siapa tidak senang “diajak jalan-jalan” hingga ke sepuluh negara? Puluhan halaman untuk setiap negara. Belanda, Swiss, Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika dalam 460 halaman—total 512 halaman[1]. Hari-hari yang dilalui Eric dengan menemui orang-orang, menanyakan pandangan mereka tentang kebahagiaan, lalu memprosesnya dalam pikiran—memberikan pengalaman-tidak-langsung yang cukup intens. Dan tentu saja, humor.

Jelas, beberapa kata bisa menimbulkan kebahagiaan instan. Kata-kata seperti “Aku mencintaimu” dan “kamu sudah menjadi pemenang”. Namun, kata lain—“audit” dan “pemeriksaan prostat”—memiliki efek yang sebaliknya. –halaman 249

Hanya saja, sesekali saya merasa ada hasil terjemahan yang kurang enak. Semisal, apakah yang dimaksud dengan buku “aktivitas mandiri” adalah buku “self-help”? Istilah ini cukup sering muncul, bagi saya rada janggal. Apa ya kira-kira padanan yang lebih tepat? Bagaimanapun secara keseluruhan buku ini mengasyikkan.

Seperti sudah diduga, kebahagiaan tidak sama bagi setiap orang. Seorang wanita di Qatar mengiyakan bahwa kebahagiaan adalah uang. Bagi penduduk Swiss kebahagiaan bisa berarti stabilitas. Orang Thailand bahagia karena tidak berpikir. Di Bhutan kebahagiaan dituai dari spiritualitas. Kebahagiaan juga bisa diperoleh dari penerimaan atas kegagalan, menurut warga Islandia. Masyarakat papa di India tetap bahagia karena ikatan sosial yang kuat—keluarga, teman. Tapi bagaimana jika ada kausalitas terbalik?

…orang sehat lebih bahagia daripada orang tidak sehat; atau bahwa apakah orang bahagia cenderung lebih sehat? Orang yang menikah bahagia; atau mungkin orang yang bahagia lebih mungkin untuk menikah? –halaman 36

Mengikuti Eric yang terus mempertanyakan kebahagiaan, saya pun jadi bertanya-tanya: apakah saya bahagia?, pandangan yang mana tentang kebahagiaan yang sesuai dengan saya? Tujuh halaman terakhir buku ini berupa daftar pertanyaan untuk didiskusikan, saya kira baik untuk memperdalam pembacaan alih-alih terlewatkan begitu saja. Karena belum ada kesempatan diskusi, saya coba jawab beberapa pertanyaan dengan perspektif saya sendiri. Barangkali pengantar di tiap-tiap pertanyaan bisa cukup memberi gambaran mengenai beberapa hal yang menjadi isi buku ini.

Di awal buku, Eric mengaku bahwa dia adalah penggerutu, orang yang tidak puas. Mengapa dia begitu, mengingat kesehatannya yang bagus dan dia cukup sukses? Sejauh mana sifat suka menggerutu ini merupakan ciri khas Eric?

Saya juga tidak mengerti. Sering saya menyadari bahwa saya berada dalam kondisi yang cukup nyaman, tapi malah sering bersedih. Saya tetap memiliki kenangan-kenangan dan pikiran-pikiran buruk. Barangkali sikap mental terhadap hal-hal buruk tersebut yang menghalangi kebahagiaan. Menurut saya ini hasil pendidikan. (Lihat lagi kalimat pembuka ocehan ini.)

Mendefinisikan kebahagiaan itu sulit. Eric menyukai definisi Noah Webster: “Perasaan menyenangkan yang berasal dari kenikmatan rasa senang.” Bagaimana Anda mendefinisikan kebahagiaan?

Menurut saya kebahagiaan bukan tujuan, bukan untuk dicari. Kalau sekarang kita merasakan kebahagiaan, maka itu adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan sejati adalah tergantung Allah menentukan bagaimana kita di akhirat.

Di akhir buku ini, Eric bertanya-tanya apakah kebahagiaan itu mungkin dinilai terlalu tinggi. Apakah hal itu benar? Apakah ada sesuatu dalam hidup ini yang lebih berharga daripada kebahagiaan?

Mungkin memang kebahagiaan tidaklah sepenting itu. Lagi saya kira, yang lebih penting bukan kita bahagia atau tidak, dan apa yang bikin kita bahagia, tapi bagaimana kita sebanyak-banyaknya kita melakukan kebaikan, dan menghindari keburukan (yang mana susah sekali).

Ilmuwan sosial mengklaim bahwa mereka dapat mengukur kebahagiaan cukup dengan bertanya kepada orang seberapa bahagia mereka. Apakah Anda memercayai penemuan ini? Apakah memang kita ini hakim yang dapat dipercaya untuk menilai kebahagiaan kita sendiri?

Saya tidak percaya. Bisa saja detik ini saya bilang saya bahagia, detik berikutnya saya mengalami peristiwa buruk hingga sedih berhari-hari dan tidak tahu bagaimana bisa senang lagi. Sebagian manusia berjiwa labil. Kadang hal buruk atau baik bisa datang secara tidak terduga-duga dan mengubah persepsi kita pada kehidupan selama-lamanya, tergantung bagaimana ketahanan mental kita.

Eric menunjukkan bahwa keterkaitan antara demokrasi dan kebahagiaan adalah tidak jelas. Apakah menurut Anda bahwa orang yang hidup dalam negara demokratis benar-benar lebih bahagia daripada mereka yang hidup di bawah bentuk pemerintahan lainnya? Apakah ada sesuatu dalam negara yang terlalu demokratis?

Ada kutipan bagus dari novel The White Tiger[2]

“Masalahnya, dia mungkin pernah… katakanlah dua, tiga tahun bersekolah. Dia bisa membaca dan menulis, tapi tidak memahami apa yang dibacanya. Dia setengah matang. Negara kita penuh orang sepertinya. Sedangkan kita memercayakan demokrasi parlementer kita,”—Mr. Ashok menunjuk saya—“kepada orang-orang seperti ini. …” –halaman 11
  
Eric berargumen bahwa buku aktivitas-mandiri tersebut keliru—bahwa kebahagiaan terdapat tidak di dalam diri kita, tetapi di luar sana? Apakah yang dia maksudkan dengan hal ini dan apakah Anda setuju?

Mungkin yang dimaksud dengan kebahagiaan-di-dalam-diri adalah ketika kira menggali apa yang ada pada diri kita yang dapat membuat kita bahagia. Mungkin semacam penerimaan-diri. Kesadaran bahwa kita tidak memiliki banyak hal, tapi toh ada banyak hal lain yang kita miliki. Mungkin semacam sikap mental untuk terus optimis. Sedang yang dimaksud dengan kebahagiaan-di-luar adalah bahwa ada hal-hal di luar diri kita yang dapat membuat kita (lebih) bahagia. Semisal kita tidak bahagia saat di Kota A, tapi kita merasa sebaliknya di Kota B. Semisal juga berkenalan dengan orang baru akan membuat kita (lebih) bahagia, sama dengan ketika kita bisa membantu orang lain akan menimbulkan kesenangan ketimbang memikirkan diri sendiri melulu. Jadi menurut saya kebahagiaan itu ada di dalam dan di luar, di mana-mana.[]




[1] Edisi Indonesia diterbitkan oleh Qanita, Bandung, cet. 3, 2012
[2] Edisi Indonesia diterbitkan oleh Sheila, imprint Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain