Sabtu, 15 Juni 2013

Pertemuanku dengan Harvey Pekar (2 dari 2)

http://www.johnadouglas.com/wp-content/uploads/2009/08/HarveyPekar1.jpg

Crumb menyukai konsep Harvey, dan mau mengerjakan ilustrasinya—Harvey sebetulnya tidak bisa menggambar. Dan demikianlah kisah lahirnya komik serial American Splendor. Selanjutnya Harvey bekerja sama dengan sejumlah ilustrator lain dalam mengerjakan komik mengenai dirinya itu, bukan hanya dengan Crumb. Orang-orang di sekitarnya senang melihat diri mereka menjadi bagian dari komik tersebut. American Splendor semakin dikenal. Dipentaskan di teater. Dikumpulkan dan diterbitkan oleh penerbit ternama. Penulisnya diundang berkali-kali ke acara Late Show with David Letteman (yang kalau di Indonesia mungkin semacam Bukan Empat Mata atau Hitam Putih).

Namun Harvey tetaplah Harvey, apapun yang telah American Splendor hantarkan untuknya. Ia masih petugas berkas. Ia masih mencemaskan segala sesuatu. Dalam wawancara di film, Joyce mengatakan bahwa sebetulnya ada saja hal-hal membahagiakan dalam hidup mereka, tapi Harvey tidak memasukkan itu. Harvey pikir kebahagiaan tidak akan membuat karyanya laku.

I’m just the gloomy guy. It’s my perspective: gloom and doom.

Tampak bahwa Harvey memang menyukai penderitaan, menerimanya sebagai bagian dari hidupnya, selamanya. Karena penderitaannya, American splendor-nya, sikap negatifnya pada dunia itulah yang mencetuskan kreativitasnya untuk membuat komik yang terbilang “baru” pada zamannya, lalu dari komik itu ia mendapatkan penghasilan tambahan, ketenaran, bahkan Joyce pun pada awalnya mengenal Harvey dari American Splendor. Misery loves company, Harvey bilang.

Bertahun-tahun setelah American Splendor dan The Quitter, tepatnya pada tahun 2010, Joyce menemukan Harvey meninggal. Yang menurutku tragis adalah karena kematian Harvey bukan disebabkan oleh kanker yang pernah diidapnya (fase ini muncul di penghujung film), melainkan akibat obat antidepresan.


Individualisme

Yang aku dapatkan dari kisah Harvey Pekar adalah lebih dari sekadar soal mencari pekerjaan, tetapi mengenai kehidupan secara keseluruhan. Aku bukan jagoan jalanan. Aku tidak memiliki pengalaman kerja, maupun pasangan yang pas seperti Joyce pada Harvey. Aku tidak terhubung dengan orang yang benar-benar dapat melancarkan karier menulisku. Dan sejumlah perbedaan lain… tapi ada pula sejumlah persamaan antara aku dengan Mbah Pekar yang membuatku merasa teridentifikasi: 1) Kami suka mudah. Ketika suatu hal terasa sulit bagi kami, kami akan meninggalkannya. 2) Kami pribadi insecure. Apapun hal baik yang terjadi pada kami, kami akan selalu merasa khawatir, gelisah, cemas, dan sebagainya. 3) Kami hanya tertarik dengan diri sendiri. Kami menginginkan cerita yang serealistis mungkin. Kalau perlu kami bikin sendiri cerita yang benar-benar mewakili diri kami. Simak saja pengantar Harvey dalam film ini.

So if yer lookin’ for romance or escapism or some fantasy figure to save the day, guess what? Ya got the wrong movie.

Ada adegan dalam film di mana Toby merasa teridentifikasi dengan film Revenge of the Nerds, tapi Harvey dengan keras menyanggahnya. Karena nerd dalam film itu tidak mencerminkan Toby dengan sesungguhnya. Kehidupan mereka lebih baik dari kehidupan Toby. Ini persis dengan ketika aku mengomentari teman-temanku (cewek) yang doyan komedi romantis dari negara-negara Asia Timur, padahal mereka tidak pernah punya pacar. Jelas-jelas eskapisme. 4) Harvey mengoleksi piringan hitam, aku suka membeli buku. Rasanya seperti kecanduan. 5) Kadang kami terlalu serius dalam menanggapi suatu hal.

Novel grafisnya maupun filmnya benar-benar menyentilku, man! (ikutan cara bicara Paul Giamatti di film). Terutama saat menonton filmnya, aku ingin ketawa-ketawa sendiri. It makes you feel good to know there’s other people afflicted like you, menurut kutipan dari Harvey Pekar yang aku temukan di Goodreads. Lalu ketakutan sesudahnya. Aku menemukan diriku sendiri, dan apakah aku akan berakhir seperti Harvey? Minus ketenaran. Minus pekerjaan. Minus pasangan. Minus apapun yang ia miliki tapi tidak kumiliki saat ini dan tidak yakin akan memilikinya sampai kapanpun.

Aku juga tidak lantas tertarik untuk mulai menulis kisah tentang diriku sendiri. (Walau sebenarnya aku sudah melakukannya, ngomong-ngomong). Apalagi aku hidup pada zaman di mana semua orang menulis kisah tentang dirinya sendiri, di blog, di Facebook, di Twitter, di novel-novel inspiratif. Tina Fey dengan kehidupannya sebagai kepala penulis acara TV dalam serial 30 Rock. Raditya Dika sebagai representasi anak muda perkotaan dari kalangan menengah (ke atas?) dengan kegalauan berasmara mendominasi hidupnya dalam Kambing Jantan dan sekuel-sekuelnya. Kalau menurut klasifikasi Andrea Ford dan Eric Dodds di TIMES edisi 20 Mei 2013 halaman 32-33, aku (dan siapapun yang lahir antara tahun 1980-2000) adalah The Milennials—The ME ME ME Generation—dengan tingkat kemalasan dan kenarsisan yang menjulang jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Setiap orang ingin menunjukkan keunikannya, dan aku hanya akan tenggelam ditelan keunikan milyaran orang lain.

Kalau aku pernah mengenyam pendidikan filsafat, aku mungkin akan meninjau bacaan dan tontonan mengenai Harvey Pekar ini dari aspek eksistensialisme. Atau realisme, kalau aku mahasiswi Sastra. Tapi aku tidak paham soal itu. Sebagaimana ketika habis membaca novel Ranah Tiga Warna aku jadi terdorong untuk merantau, ketika berhasil menamatkan The Quitter aku malah tersungkur. Menceritakan diri sendiri. Sebagaimana Harvey Pekar. Dengan sejujur-jujurnya. Kami hanya ingin menjadi diri kami sendiri, seburuk apapun itu. Dan kami tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki diri ini! Sementara orang lain mungkin lebih suka melarikan diri pada omong-kosong dan lamunan, dan mimpi. Kukira Harvey Pekar tidak pernah menyinggung soal mimpi baik dalam The Quitter maupun American Splendor—ia malah terkesan menjauhinya. Agaknya ia tidak bisa mempercayai apapun yang tidak pasti, tidak tampak, dan barangkali itu sebabnya ia selalu merasa cemas. Ia bahkan tidak mengerti kenapa Toby mau menghabiskan waktu untuk berdoa—memohon untuk sesuatu yang tidak pasti pada sesuatu yang tidak tampak. Adegan itupun dipungkas Toby dengan,

Well, Harvey, I like the ritual. And I’m very spiritual person. You know, you should try believing in something bigger than yourself. It might cheer you up.

[]


potongan dialog dalam film diambil dari sini

                                          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain