Selasa, 25 Agustus 2020

Mau Jadi SJW? Tonton Dulu Film Ini!

Sepintas saya melihat cuplikan thumbnail film ini di layar HP. Biasanya saya abaikan saja rekomendasi dari YouTube itu. Tapi, kemudian sebuah pesan datang dari teman chat saya di AS. Dia berbagi sebuah link, yang dia peroleh dari teman chat-nya yang lain dari Indonesia. Teman chat-nya itu tinggal di Wonogiri dan bilang bahwa film itu menggambarkan kehidupan di tempatnya, khususnya budaya menjenguk orang yang sakit.

Teman chat saya membocorkan bahwa film ini dimulai dengan pergosipan, suatu topik yang pernah kami bicarakan dan dia ingat bahwa saya tidak menyukainya. Untuk menghargai teman chat saya itu, saya pun mengeklik link tersebut dan terbukalah film ini di YouTube.  Wow, tak kusangka rupanya berjodoh dengan yang tadinya cuma terlihat sambil lalu dan tertepikan. Malah, akhirnya saya membagikan link film ini ke beberapa teman lain.


Film ini menjadi istimewa buat saya karena beberapa hal berikut:

Latarnya di Jogja, sehingga nostalgia

Dialog yang hampir semuanya berbahasa Jawa, plat truk yang ternyata AB, pelang yang menunjukkan bahwa mereka baru keluar dari Bantul, dan detail lainnya, membangkitkan suasana yang pernah familier buat saya. Maklum saja, dulu saya kuliah di Jogja.

Sudah begitu, tampang tokoh-tokoh utamanya sendiri entah kenapa kok mirip dengan beberapa orang yang saya kenal di kampus. Akting mereka pun terasa natural, meyakinkan.

Genrenya yang komedi satire, kesukaan saya

Sepanjang cerita, ada saja hal yang bikin saya ketawa. Seiring dengan bergulirnya dialog, saya merasakan bahwa film ini bukan sekadar hiburan melainkan potret perilaku manusia. Kemasannya sih sederhana. Peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak begitu luar biasa, malah mungkin sangat akrab bagi masyarakat dari latar tertentu. Dialog yang lebih banyak bermain dengan tajamnya, membungkus konflik yang sesungguhnya pelik.

Rumusnya: Lucu, tapi menyentil. Sederhana, tapi pelik. 

Apanya yang menyentil sekaligus pelik?

Seperti yang telah dibocorkan teman chat saya, film ini dibuka dengan pergosipan. Sekelompok ibu-ibu berjilbab sedang dalam perjalanan di atas truk untuk menengok Bu Lurah yang dirawat di rumah sakit. Dalam situasi itu, si tokoh "jahat", sebut saja Bu Tejo karena memang demikian nama perannya, mengisi waktu dengan menggosipkan Dian--kembang di kampung mereka. Seorang ibu-ibu lain, Yu Ning, tampak gerah mendengarnya. Berkali-kali Yu Ning menimpali agar Bu Tejo tidak asal membicarakan orang, karena bisa saja itu fitnah.

Jilbab termasuk ucapan-ucapan religius yang menyelip di percakapan mereka menunjukkan bahwa mereka umat Islam. Seorang muslim yang cukup belajar agama tentu tahu bahwa gibah dan fitnah merupakan dosa. Maka sikap Yu Ning terhadap Bu Tejo bisa dianggap merupakan amar ma'ruf nahi munkar (: menyuruh kepada kebaikan, dan mengajak menjauhi keburukan).

Tapi kemudian terkupas bahwa tiap-tiap karakter itu mungkin punya motif tersembunyi. 

AWAS SPOILER!!!

Suami Bu Tejo rupanya hendak mengajukan diri sebagai lurah. Mungkin dia menjelek-jelekkan Dian--yang notabene punya hubungan dengan Bu Lurah--untuk menyingkirkan pesaing.

Yu Ning sendiri rupanya masih bersaudara jauh dengan Dian. Jadi, apakah dia murni ber-amar ma'ruf nahi munkar atau sekadar menyelamatkan muka keluarganya?

Truk yang mereka tumpangi pun akhirnya tiba di pelataran rumah sakit. Mereka disambut oleh Dian, yang dari tadi jadi bahan gosip itu. Selain itu, ada Fikri--anak Bu Lurah. 

Dian dan Fikri lalu menjelaskan bahwa Ibu Lurah belum bisa dijenguk karena masih dirawat di ruang ICU.

Ibu-ibu pun pada kecewa.

Yu Ning merasa bersalah karena dia lah yang mengusulkan untuk menjenguk Bu Lurah.

Untuk mengobati kekecewaan ibu-ibu, Bu Tejo mengajak agar mereka sekalian jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Ibu-ibu pun pergi. Namun cerita belum berakhir. Film ditutup dengan adegan singkat yang menunjukkan bahwa ... Dian memang seperti yang digosipkan oleh Bu Tejo itu.

Akhir yang menghentak, menurut saya. Seketika, timbul di pikiran saya, jangan-jangan film ini beramanat agar:

JANGAN JADI SJW.

SJW atau Social Justice Warrior adalah istilah yang kerap saya temukan di internet belakangan ini. Istilah ini merujuk pada orang-orang yang doyan "membela kebenaran dan keadilan", eh, maksudnya, mendesakkan standar moral mereka kepada orang lain. Dalam film ini, tokoh Yu Ning bertindak sebagai SJW dengan berkali-kali menegur Bu Tejo yang demikian asyik bergosip. Belum cukup, setelah truk mereka sempat mogok, Yu Ning menyinggung Bu Tejo yang tidak ikut mendorong kendaraan bersama ibu-ibu lain. Bagi yang memahami kacamata Yu Ning, tentu mudah mengklaim Bu Tejo sebagai tokoh antagonis yang kerap didentikkan dengan sifat jahat. 

Namun cerita malah diakhiri dengan memberikan kemenangan kepada Bu Tejo, baik yang disadari maupun tidak. 

Yang disadari adalah ketika ternyata Yu Ning juga termasuk pemberi kabar yang "enggak jelas", seperti menjilat ludah sendiri. Maksudnya, tidak jelas apakah Bu Lurah yang sakit itu sudah bisa dijenguk atau belum. Semestinya Yu Ning mengonfirmasikan terlebih dahulu bahwa Bu Lurah memang sudah siap untuk dijenguk. Tapi, yah, HP-nya juga kehabisan baterai dalam perjalanan. Apes. Kemenangan itu ditegaskan Bu Tejo dengan memanfaatkan situasi, mengambil hati ibu-ibu lewat usul jalan-jalan ke Pasar Beringharjo.

Yang tidak disadari, yaitu bahwa Dian memang berkencan dengan laki-laki yang jauh lebih tua. Seandainya Bu Tejo tahu, tentu dia jauh lebih senang lagi--merasakan kemenangan ganda.

Kaitan dengan bacaan

23 Agustus tampaknya hari adab amar ma'ruf nahi munkar sedunia. Paginya, saya membaca tafsir Quran Surat Al-Baqarah ayat 44. Siangnya, saya membaca The Daily Stoic: 366 Meditations on Wisdom, Perseverance, and the Art of Living (Ryan Holiday dan Stephen Hanselman, Portfolio, 2016) entri 23 Agustus. Malamnya, saya menonton film ini. Semuanya ternyata berkaitan.

Al-Baqarah ayat 44 berbunyi sebagai berikut:
"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?"
Saya membaca tafsirnya di aplikasi yang memuat versi Kemenag RI dan Ibnu Katsir. Tafsir tersebut menjelaskan latar belakang turunnya ayat ini, yaitu mengecam perilaku beberapa orang Yahudi yang menasihati keluarga dan kerabatnya agar tetap memeluk agama Islam, namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Dengan begitu mereka telah merugikan diri sendiri. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa mereka seolah-olah tidak berakal. Sebab, masakkah orang berakal tidak mengamalkan ilmu pengetahuannya? Ayat ini agar menjadi pelajaran bagi setiap bangsa, bukan hanya Bani Israil yang pembaca Taurat.

Lebih jauh, tafsir Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan perintah amar ma'ruf nahi munkar. Menyuruh kepada kebaikan dan mengajak menjauhi keburukan merupakan kewajiban bagi setiap orang yang berilmu, tapi lebih wajib lagi bagi dia untuk mengamalkannya.

Selanjutnya, seperti biasa, pembacaan tafsir jadi membingungkan karena ditampilkan berbagai pendapat ulama, di antaranya:
Malik ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sa'id ibnu Jubair berkata, "Seandainya seseorang tidak melakukan amar ma'ruf, tidak nahi munkar karena diharuskan baginya bersih dari hal tersebut, niscaya tidak seorang pun yang melakukan amar ma'ruf, tidak pula nahi munkar." Malik berkata, "Dan memang benar, siapakah orangnya yang bersih dari kesalahan?"
Masuk akal memang.

Tapi sepertinya itu menunjukkan kealiman yang belum paripurna. Namanya orang berilmu, mestinya dia mengetahui akibat dari meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan. Orang cerdas mana yang mau merugikan diri sendiri? Tafsir ini secara keseluruhan cenderung pada pendapat bahwa amar ma'ruf nahi munkar wajib dilakukan dengan juga mengamalkannya secara pribadi.

Selanjutnya ditambahkan hadis-hadis yang menggambarkan kejamnya siksaan di akhirat terhadap para tukang ceramah di dunia yang tidak mengamalkan seruannya sendiri, padahal mereka membaca Quran!

Lewat Quran, Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca dan berpikir--menyempurnakan akal. Dengan begitu, manusia dapat memperoleh ilmu yang dapat menghindarkan dirinya dari kerugian. The Daily Stoic seperti motivasi harian untuk menjalankan ibadah itu, khususnya untuk entri 23 Agustus yang seperti perpanjangan dari Al-Baqarah ayat 44.

Entri ini berjudul "IT'S IN YOUR SELF-INTEREST", yang kalau boleh saya terjemahkan secara bebas, berarti "DEMI KEPENTINGANMU SENDIRI". Entri ini mengilhamkan bahwa dalam melakukan "amar ma'ruf nahi munkar" (tentu saja mereka tidak menggunakan istilah itu), daripada menceramahi atau mengkhotbahi atau menguliahi atau menggurui (meski ada juga sih orang-orang yang senang mendengarkannya), mengatakan bahwa "itu dosa" atau "buruk", berkoar-koar soal moral ... lebih baik jelaskan akibat, dampak, konsekuensi dari perbuatan tersebut, bagaimana itu akan merugikan kepentingan mereka sendiri pada akhirnya.
And what happens when you apply this way of thinking to your own behavior?
Nah, pada akhirnya, kembali pada diri sendiri terlebih dahulu. Keburukan-keburukan apakah yang masih kita lakukan? Apakah akibat, dampak, konsekuensinya di kemudian hari? Bacalah, pikirkanlah, jadilah orang berilmu yang dapat menghindarkan diri dari akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan itu, dan sampaikanlah dengan cara yang "aman". Rumusnya:
  1. Amalkan sendiri terlebih dahulu selama beberapa waktu.
  2. Amati, resapi, dan renungkan yang dialami.
  3. Bagikan pengalaman tersebut kepada orang lain, dengan nada bercerita dan reflektif alih-alih menasihati. Kita tidak menyeru dia agar harus begini atau jangan begitu, tidak. Kita hanya "curhat", atau menceritakan pengalaman seseorang yang sebut saja namanya Mawar supaya tidak dikira membongkar aib sendiri. Biar orang itu sendiri yang menarik pelajaran tersirat. Biarkan dia sendiri yang memberdayakan akalnya. Itu tanggung jawabnya sebagai manusia.
Kembali kepada Yu Ning

Film ini tidak menunjukkan apakah Yu Ning pernah menghadiri pengajian yang membahas tafsir Al-Baqarah ayat 44, juga tidak ada adegan dirinya membaca The Daily Stoic entri 23 Agustus. Malah, kita tidak bisa yakin apakah Yu Ning memang amar ma'ruf nahi munkar dengan menghardik orang bergibah, karena terungkap bahwa dia ternyata masih saudara jauh Dian.

Bagaimanapun juga, seandainya Yu Ning memang punya niat tulus, murni, ikhlas, sekadar hendak amar ma'ruf nahi munkar, film ini menunjukkan contoh pengamalannya yang tidak efektif.

Ketidakefektifan ini bukan murni kesalahan Yu Ning. Bukan karena dia tidak membaca The Daily Stoic, melainkan ada faktor-faktor lainnya seperti latar sosial (oke, bagaimana sekelompok ibu-ibu yang ditunjukkan "ndeso" itu bisa menalar akibat, dampak, konsekuensi yang merugikan dari bergibah?) dan faktor X--keXilafan (ih, maksa).

Kata peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga.

Bagaimanapun kita berusaha untuk menjadi SJW yang efektif, akan ada kemungkinan suatu saat baterai HP kita mati di perjalanan sehingga tidak bisa dihubungi untuk mengklarifikasi kabar.

Di samping Stoikisme, sepertinya Absurdisme menarik juga untuk ditilik.

Selasa, 18 Agustus 2020

TKI: Hilang Uang, Hilang Kerja

Dua perusahaan pengerah jasa TKI dicabut izin usahanya gara-gara menelantarkan calon TKI.

Ingin memperoleh pekerjaan, justru duit sendiri yang hilang. Itulah nasib yang dialami ratusan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Puluhan calon TKI yang dijanjikan akan dikirim ke Malaysia itu disekap di Tanjung Pinang, Riau, pertengahan Januari lalu. Tak beberapa lama kasus serupa mencuat di Cianjur, Jawa Barat. Ratusan TKI yang akan dikirim ke Korea telantar, tak jelas kapan diberangkatkan.

Semula 40 orang calon TKI, percaya begitu saja pada PT Aula Mahkota Pratama (AMP) di Tanjung Pinang, Riau. Mereka yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dijanjikan pekerjaan di Malaysia. Untuk sementara para pencari kerja itu ditampung di sebuah rumah di Desa Dompak, Tanjung Pinang.

Tapi, sampai pada hari yang dijanjikan, ternyata hanya 17 orang yang bisa diberangkatkan. Itu pun tanpa izin kerja. Mereka masuk ke Malaysia hanya dengan paspor, visa kunjungan, dan membayar fiskal biasa. Sisanya, harus mendekam di tempat penampungan tak tentu entah kapan berangkat ke negeri jiran tersebut.

Merasa ditelantarkan, Iwan, salah seorang dari calon TKI itu, melarikan diri dan mengadukan nasibnya ke orangtuanya di Cianjur, Jawa Barat. Tak jelas, akibat laporan Iwan atau apa, akhirnya pihak Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) mencium juga gelagat buruk PT AMP. Depnaker lantas mengirim tim untuk menyelamatkan mereka. "Sebanyak 5 orang melarikan diri, dan sisanya 18 orang berhasil diselamatkan," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Departemen Tenaga Kerja, Fachri Thaharuddin.

Rupanya pengiriman TKI oleh PT AMP itu tidak melalui prosedur yang digariskan. "PT AMP tidak mempunyai perjanjian kerja. Tidak ada job order. Juga tidak ada permohonan pengajuan visa untuk bekerja," ujar Fachri menyebutkan kesalahan perusahaan itu.

TKI YANG DIBERANGKATKAN:
Ada juga yang ditelantarkan.

Tak heran, jika kini Depnaker memasukkan PT AMP, yang izin usahanya habis pada Februari ini, ke dalam daftar hitam. Artinya, Menteri Tenaga Kerja menolak perpanjangan izinnya.

Lain lagi yang terjadi di Cianjur. Bermula dari rekrutmen 2.262 TKI laki-laki dan 646 TKI perempuan oleh PT Binawan Praduta (PT BP) sejak Mei-Desember 1994. Mereka yang rata-rata berusia 20-30 tahun itu, tergiur bekerja ke Korea karena dijanjikan gaji sekitar 500 sampai 1.000 dollar Amerika bersih per bulan.

Untuk persiapan, mereka dididik dulu di balai latihan kerja PT BP di Cianjur. Untuk biaya pengurusan dan latihan tersebut, masing-masing TKI dipungut Rp 1 juta sampai Rp 1.250.000. Tapi yang terjadi jauh dari impian. Yang berhasil diberangkatkan hanya 847 TKI laki-laki dan 252 TKI perempuan. Sisanya masih telantar.

Buntutnya, pertengahan Januari lalu, sekitar 60 orang mewakili TKI yang telantar itu mengadu ke DPRD Cianjur. Tak hanya itu, mereka pun menuntut PT BP melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cianjur. "Setelah satu bulan mengikuti latihan di Cianjur, dua minggu kemudian akan diberangkatkan langsung ke Korea Selatan," ujar Ari, calon TKI yang juga seorang sarjana.

Hingga kini mereka yang belum berangkat ke Korea masih bertahan di Cianjur meskipun sudah tidak diberi fasilitas oleh Binawan. "Kami sekarang terpaksa menginap di rumah penduduk tanpa biaya memadai. Kami terpaksa bekerja apa saja di sini untuk makan," ujar seorang calon TKI sambil menangis.

Toh, Direktur PT Binawan Praduta, Saleh Alwaini, tetap membantah perusahaannya menelantarkan calon TKI itu. "Ini semata-mata karena bertepatan dengan liburan akhir tahun. Jadi ada kelambatan soal proses visa di Kedubes Korea," ujar Saleh.

Menurut Saleh, pihak Binawan pun telah menawarkan beberapa pilihan bagi calon TKI yang ragu-ragu berangkat. Mereka, kata Saleh, bisa meninggalkan program pelatihan dan uangnya akan dikembalikan secara penuh. "Walaupun uang itu telah digunakan untuk pelatihan, medical check-up, psikotes, dan pengurusan paspor," ujarnya.

Pihak Binawan boleh berkilah. Tapi yang jelas, kini seluruh rekrutmen baru yang akan dilaksanakan PT Binawan terpaksa dihentikan. Soalnya, pihak Depnaker telah memutuskan hanya 14 perusahaan yang diberikan izin mengirim TKI, 18 Januari lalu. Dan, surat keputusan yang berlaku efektif awal Februari itu tidak mencantumkan nama PT Binawan.

Iskandar Siregar, Teguh A., Asikin HS. (Bandung), dan Wahyudi El Panggabean (Riau)


Sumber: Forum Keadilan Nomor 22, Tahun III, 16 Februari 1995

Selasa, 04 Agustus 2020

PERKELAHIAN: Bentrok Pencuri dan Penadah

Sekitar 200 warga desa Beringin berkelahi melawan karyawan PT Arara Abadi. Pasalnya, perusahaan itu menolak membeli kayu curian penduduk.

Nasib perusahaan penadah kayu curian boleh dibilang bak tersudut menghadapi dua lawan berkelahi. Bila menampung kayu curian, aparat keamanan pasti menindaknya. Tapi kalau tak mau menadahnya, penduduklah yang memusuhi mereka.

Paling tidak, itulah yang dihadapi PT Arara Abadi di Riau yang dikenal suka membeli kayu chip (kayu potongan pendek) curian dari penduduk untuk kemudian dipasok ke pabrik kertas dan pulp PT Indah Kiat. Warga Beringin, Kabupaten Bengkalis, Riau, menaruh dendam karena kayu curiannya tak ditampung PT Arara.

Padahal, sebelumnya, sejak hadir di dekat desa ini delapan tahun lalu, PT Arara selalu membeli chip dari penduduk desa ini. Rata-rata, Rp 25 juta per bulan duit perusahaan itu mengalir ke sana. Tapi, entah kenapa, sejak Desember lalu, puluhan ton kayu curian penduduk desa Beringin ditolak PT Arara.

Maka penduduk pun marah. Jalan utama yang biasa dilewati armada PT Arara diblokir dengan truk. Akibatnya, jumlah chip yang masuk ke pabrik (biasanya 100 truk per hari) berkurang.

Maka, malam itu juga (19 Desember), karyawan PT Arara melakukan pembalasan. Lebih dari 100 karyawan, dengan menggunakan sebuah traktor, menyerang desa Beringin. Pos ronda yang pertama mereka serang.

Para pemuda yang sedang berkumpul di pos itu langsung ngacir begitu melihat adanya serangan mendadak. Nahas, Firdaus, 27 tahun, tak sempat lari. Ia dihajar para karyawan itu dengan batu dan parang. "Waktu itu, saya kira Firdaus mati," kata seorang rekannya. Karena penduduk melarikan diri, rumah-rumah mereka pun menjadi sasaran lemparan batu.

Menurut seorang warga yang menyaksikan, "komandan" penyerangan itu adalah Tigor, manajer PT Arara yang selalu mengawasi penimbangan kayu, dan Rustam--kepala desa mereka sendiri. "Buktinya, ketika penyerangan itu terjadi, saya melihat Rustam turun dari sebuah mobil milik PT Arara dan tidak berbuat apa-apa untuk meredakan amarah penyerbu," katanya.

Sumber ini menduga, ada kerjasama antara Rustam dan Tigor. Pasalnya, begitu diangkat menjadi kepala desa awal 1994, ia langsung terjun di bisnis chip. Namun Rustam hanya mau membeli chip penduduk dengan harga Rp 5.000 per ton. Sedangkan penadah lain, misalnya Abu dari desa lain, berani membayar Rp 7.000.

Meski tak membeli kayu potongan dari desa Beringin, ternyata PT Arara menerima pula chip dari desa lain untuk memenuhi suplai bahan baku ke PT Indah Kiat. "Hingga kini PT Arara tetap melakukan pembelian dari penduduk desa lain," katanya.

Karena berbagai pembicu itu, meletuslah perkelahian antara penduduk Beringin dan karyawan PT Arara itu. Tapi Polsek Mnadau, yang membawahi desa ini, tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, ketika polisi diturunkan ke tempat kejadian, konon, masalahnya sudah diselesaikan secara kekeluargaan. "Itu hanya kesalah-fahaman," kata Lettu Afriyanto BR, Kepala Polsek Mandau. "Dan soal PT Arara tak mau membeli kayu dari penduduk, itu bukan wewenang saya."

Akan halnya manajemen PT Arara. Ketika dihubungi FORUM mereka tak bersedia memberi komentar. Baik Darwis Husein di PT Arara di Riau, maupun Haji Purnama yang menjadi Humas kantor pusatnya di Jakarta.

Kecuali tak mau menadah kayu curian warga Beringin, sebenarnya penduduk juga sudah lama menaruh dendam ke perusahaan milik konglomerat Eka Tjipta Widjaya. Ada 55 hektare tanah mereka yang diambil perusahaan ini untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Sudah begitu, ganti rugi yang ditetapkan bupati Rp 100 per meter cuma dibayar seperempatnya.

Ditambah lagi, ketika menggarap lahan HTI, ratusan pohon sialang (tempat bersarang lebah madu yang menjadi penghasilan tambahan penduduk Beringin) dibabat tanpa ganti rugi. Jadi, "Dari dulu kami memang sudah ditindas PT Arara," kata Syarif, seorang tokoh Desa Beringin.

BK dan Wahyudi El Panggabean (Riau)



Sumber: Forum Keadilan: Nomor 22, Tahun III, 16 Februari 1995

Kamis, 23 Juli 2020

Melepas Kebergantungan pada Lampu Meja/Remang-remang

Di blog ini, saya merekam kesan tertentu yang ditimbulkan beberapa benda terhadap diri saya, mulai dari laptop Axioo, kue D'asse, seblak Umi Keriting, sampai scanner Canon. Benda-benda itu hanya cuilan remah dari semesta nikmat dunia yang tidak dapat saya peroleh lagi, entah karena sudah tidak berfungsi, jarang dijual, atau apa. Sepertinya ini menunjukkan kelekatan saya terhadap materi, di samping yang berupa kebutuhan pokok--pastinya. Maksudnya, benda-benda yang saya sebut itu sepertinya tergolong pada kebutuhan sekunder, malah mungkin tersier? Yang tanpa itu, saya masih dapat bertahan hidup serta menemukan alternatif, entahkah dalam bentuk barang lagi atau aktivitas lain.

Baru-baru ini, saya kehilangan nikmat atas satu barang lagi, yaitu lampu meja atau lampu remang-remang. Maksudnya adalah lampu yang ditaruh di meja dan dapat menyalakan cahaya remang-remang. Lampu ini berguna saat malam. Misalnya, apabila lampu yang ada di langit-langit dirasakan terlalu terang untuk beraktivitas dan setelahnya mengakibatkan sulit tidur. Misalnya lagi, saat entah kenapa rasanya takut tidur dalam kegelapan total. Misalnya lagi, sebagai peralihan dari lampu langit-langit ke gelap total atau sebaliknya; sebab tanpa peralihan itu, mata bakal kaget dari terang banget ke gelap sekali atau sebaliknya.

Lampu meja yang saya gunakan bukan saya sendiri yang membeli. Ayah saya membelinya untuk ditaruh di setiap meja yang ada di setiap kamar di rumah. Namun, lampu-lampu itu kemudian jarang difungsikan dan hanya menjadi penadah debu.

Saya ingat mulai bergantung pada lampu meja saat kuliah. Saat itu saya menumpang tinggal di rumah bulik. Di kamar yang disediakan buat saya, terdapat lampu yang dipasang di atas meja. Lampu itu saya nyalakan untuk menemani tidur. Sebab entah kenapa saya merasa takut tidur dalam kegelapan total di kamar itu.

Kebiasaan ini berlangsung hingga saya pindah tinggal di kos. Saya minta dibawakan salah satu lampu meja yang ada di rumah. Sejak itu, rasa-rasanya saya selalu tidur dengan lampu meja menyala. Sepertinya, kebiasaan takut tidur dalam kegelapan total terbawa sampai ke kamar kos itu.

Kemudian, saya pindah tinggal lagi ke rumah bude. Nah, pada waktu ini, saya meninggalkan kebergantungan pada lampu meja. Kondisi rumah bude membuat saya tidak merasa takut tidur tanpa lampu meja. Malah, saya selalu tidur dengan pintu kamar terbuka lebar. Yah, begitulah.

Setelah menyelesaikan kuliah, saya kembali tinggal di rumah bersama orang tua. Saya mulai menggunakan lampu meja lagi, tapi kali ini seperlunya saja. Saya mulai berani tidur dalam kegelapan total, padahal kamar saya letaknya di sudut--lantai dua pula. Malah, cahaya sedikit saja rasanya mengganggu. Lampu meja saya nyalakan hanya ketika tidak bisa tidur saat malam dan ingin menulis sejenak sebelum mencoba tidur kembali.

Di samping itu, ada pikiran untuk menghemat energi. Tidur dalam kegelapan total sepertinya lebih baik daripada dalam keremangan. Selain diri dapat beristirahat total, juga tidak keluar biaya listrik alias hemat energi. Kan.

Beberapa tahun ini, lampu meja sangat saya andalkan untuk mengatasi susah tidur saat malam. Adakalanya saya terus beraktivitas saat malam diterangi lampu langit-langit yang sangat terang itu. Dugaan saya, lampu yang sangat terang itu bikin diri ini terkondisikan untuk terus aktif. Akibatnya, saya terus terjaga sepanjang malam sampai lelah dan baru tidur saat pagi. Itu pola hidup yang tidak saya kehendaki. Untuk mengubah pola itu, begitu hari gelap, saya nyalakan saja lampu remang-remang. Aktivitas pun biasanya sekadar membaca dan menulis diterangi lampu itu.

Belakangan, ketika entah kenapa saya mulai kembali tidak nyaman tidur dalam kegelapan total, lampu remang-remang itu terus saya nyalakan sepanjang malam. Baru hari-hari ini saya mematikannya lagi saat hendak tidur karena terpikir soal listrik.

Nah, pada subuh kemarin, ketika saya baru bangun dan hendak menyalakan lampu itu, tiba-tiba saja seperti ada yang meledak(?). Lampu menyala cuma sekejap, setelah itu ngejepret (saya enggak tahu bagaimana mengatakannya secara baku, wkwk) dan aliran listrik di rumah pun padam total. Saat itu juga ayah saya baru bangun dan menyalakan kembali pusat listrik(?) (ah, enggak tahu lagi apa istilahnya!) di rumah sehingga kembali ada cahaya tapi tidak dengan lampu saya. Saya mencoba mencolokkannya berkali-kali ke lubang listrik, tapi tidak ada hasil. Jangan-jangan bohlamnya sudah isdet? Saya menggantinya dengan yang baru; hasilnya sama saja.

Pagi ini, saya mencari lampu meja lainnya di rumah. Mudah-mudahan masih ada yang berfungsi. Tapi, dari beberapa yang ada, tidak satu pun yang dalam kondisi baik. Ada yang kabelnya sudah putus. Ada yang dudukan bohlamnya entah ke mana.

Saya menemukan satu yang tampaknya masih baik, walaupun ukurannya jauh lebih besar daripada yang ada di meja kamar saya. Saya pun mencobanya, dan, ... lagi-lagi ngejepret. Saya mencoba menyalakannya beberapa kali lagi dengan menggonta-ganti lampu, tanpa sadar bahwa aliran listrik di rumah sudah kembali padam total .... Saya baru menyadarinya ketika ibu saya mengeluh mati lampu.

Saya curiga, setelah ngejepret itu, kejadian lampu ini sama dengan lampu di kamar saya, yaitu sudah tidak bisa dinyalakan lagi. Ada sesuatu yang salah di dalamnya, yang tidak saya mengerti. Mungkin lampu ini sudah mencapai batas masa pakainya, seperti yang terjadi dengan scanner Cannon waktu itu. Saya ingin memeriksakannya ke tempat servis barang elektronik terdekat, tapi belum ada biaya. Haha.

Maka, saya berpikir bahwa sebetulnya ini bukanlah urusan yang urgen. Untuk membaca sebelum tidur, saya bisa menggunakan lampu yang ada saja--yaitu lampu langit-langit. Memang rasanya terlalu terang, tapi toh sebetulnya membaca dalam penerangan remang-remang itu, apalagi kalau berupa majalah lawas yang huruf-hurufnya kecil padat, adakalanya bikin sakit mata. Cuma saya berharap penggunaan lampu langit-langit ini tidak akan menggeser pola tidur saya lagi.

Yang jadi persoalan adalah apabila saya mau yoga dulu sebelum tidur. Gerakan-gerakan yoga sebelum tidur itu banyak rebahannya, sehingga mata terarah pada lampu langit-langit yang menyilaukan itu. Enggak rileks dong, malah mengingkari tujuan dari melakukan yoga itu sendiri. Maka semalam saya coba melakukannya dalam kegelapan total saja. Tapi, saya melakukan yoga dengan panduan video YouTube. Walaupun tingkat kecerahan tablet sudah saya turunkan sampai mentok, tetap saja cahayanya menyengat mata.

Yah, begitulah. Saya menyadari bahwa ini keluhan yang teramat sepele (kayak enggak ada masalah yang lebih berat aja dalam hidup lu), yang sekaligus menunjukkan kebergantungan saya pada suatu benda materi nonesensial. Kalau ingat pada tren minimalisme yang lagi hip belakangan, bolehlah dengan tidak berfungsinya lampu meja ini menjadi kesempatan bagi saya untuk melepaskan kelekatan pada suatu benda atau istilah kerennya: decluttering. Seorang minimalis (tingkat advance) tentunya tidak akan memandang lampu meja sebagai kebutuhan yang hakiki, bukan? Dan ia akan fine-fine saja yoga dalam kegelapan total.

Eh, tapi kalau suatu saat ada rezeki, tetap saja saya penasaran membawa lampu meja ini ke tempat servis barang elektronik terdekat.

Sabtu, 18 Juli 2020

Mengajar Matematika kepada Balita

Mengajarkan matematika kepada anak balita sebenarnya mudah, bahkan para ibu telah melakukannya, seperti melalui pertanyaan, "Ada berapa telingamu?", yang dijawab kemudian, "Dua, Bu!" Hanya saja banyak ibu yang kurang atau tidak mengetahui manfaatnya terhadap perkembangan balita setelah masuk sekolah, hingga dilakukan secara sambilan atau asal ada waktu saja.

Para psikolog sependapat, substansi matematika yang dikuasai balita dapat mempengaruhi kemampuannya menghadapi mata pelajaran matematika setelah masuk sekolah. Ini harus diyakini, agar para ibu terangsang untuk mengajarinya sedini mungkin.

Caranya beragam. Jika tidak mampu menemukannya, dapat menanyai ahli pendidikan balita. Bahannya juga banyak serta dapat dicari yang sesuai dengan perkembangan usianya. Sebagai pembuka cakrawala, berikut ini disajikan 5 buah contohnya secara berangkai:

1. Usia 1 tahun

Menyebut deretan angka secara bertahap di hadapannya sambil melakukan gerakan badan, seperti menari-nari. Dalam 3 bulan kesatu menyebut "1 s/d 5", 3 bulan kedua menyebut "1 s/d 10", hingga 3 bulan keempat menyebut "1 s/d 20". Anak tidak perlu disuruh mengulanginya. Asal sudah terdengar dengan jelas, sudah cukup. Ini dilakukan secara berulang, tapi dengan selisih waktu yang tidak terlalu dekat. Misalkan pukul 08.00, 10.00, 12.00, dst. Sedangkan jarak waktu antara angka, cukup 2 detik saja. Gunanya, agar anak dapat menangkap makna tiap angka yang disebutkan.

2. Usia 2 tahun

Menyuruh anak menyebut angka secara bertahap. Tiap tahap cukup 2 angka saja hingga dalam 1 tahun sudah dapat menyebut "1 s/d 20". Ini akan lebih berhasil jika dilakukan dalam suasana gembira dan pikiran segar, seperti setelah mandi dan makan. Dapat juga dengan menjanjikan hadiah setelah anak dapat menyebut angka hingga tertentu. Misalkan, "Tono kini sudah dapat menyebut 1 s/d 3". Tapi jika Tono dapat menyebut 1 s/d 6, Tono akan diberi hadiah".

3. Usia 3 tahun

Anak sudah banyak mengenal anggota tubuhnya. Saat itu dapat ditanyakan jumlahnya masing-masing di mana dia akan menjawab setelah anggota tubuhnya yang bersangkutan dirabanya sambil dihitungnya. Misalkan Ny. Ida bertanya, "Ada berapa jari tanganmu?", kemudian dijawab oleh Eddy, "Sepuluh, Bu."

Tentu saja diawali dengan menanyakan anggota tubuh yang diperkirakan telah diketahuinya secara jelas. Menanyakan jumlah bahu kepadanya biasanya lebih sulit dijawab daripada menanyakan jumlah kaki, karena popularitas kaki di kalangan balita lebih tinggi daripada popularitas bahu.

4. Usia 4 tahun

Menyuruh anak menghitung benda yang ada di sekitar rumah. Misalkan, "Coba hitung, ada berapa pintu di rumah ini?" Nanti akan berkeliling rumah sambil menghitung pintu.

Tentu saja ini diawali dengan benda yang jumlahnya sedikit. Kemudian berlanjut dengan jumlah yang lebih banyak.

Ini akan lebih berhasil jika ditunggangi oleh kebutuhan ibu. Artinya, menyuruh anak menghitung bantal, misalnya, juga ditunggangi oleh keingintahuannya akan jumlah bantal yang ada.

5. Usia 5 tahun

Anak umumnya sudah dapat berbelanja. Secara psikologis, anak cenderung melakukan pengawasan, dalam arti, menghindari sedapat mungkin dari keadaan yang merugikannya, seperti kesalahan pengembalian uang belanja. Karena itu, mengapa anak setelah menerima pengembalian uang dari pedagang selalu ingin menghitung kembali.

Ini dapat dijadikan kesempatan untuk mengajarkan matematika dengan cara menanyakan sisa uang belanja. Misalkan, "Dody, ini, ibu memberi uang sebanyak 150 rupiah. Tapi hanya boleh dijajankan sebanyak 100 rupiah saja. Sisanya ditabungkan, ya?"

Dody akan menghitung, "Oh, berarti uang yang harus ditabung sebanyak 50 rupiah."

Para ibu tidak terlalu terikat dengan urutan contoh di atas jika anak memang mempunyai kecerdasan yang melampaui rekan-rekannya sebaya. Untuk mengajarkan matematika kepadanya dapat menggunakan bahan yang lebih rumit. Misalkan, meloncat dari point 1) ke point 3), meskipun usianya masih 2 tahun. (Nasrullah)



Sumber: Suara Karya, 10 Oktober 1991

Jumat, 10 Juli 2020

Risky dan Gambar Wanita tanpa Baju

Dari belakang, Risky terlihat sibuk: lengannya bergerak-gerak, seperti yang sedang mengotret soal. Kalau ditelongok, rupanya memang dia sedang menggambar bangun-bangun geometri.  Tapi, ia bukannya sedang berkutat dengan matematika, alih-alih ia mencoba membuat sketsa secara proporsional. Berhati-hati sekali ia menarik garis-garis sehingga membentuk lekukan-lekukan tegas tapi halus. Bersyukur tangannya masih tahu caranya sejak terakhir kali menggambar beginian sewaktu SMA. Belakangan paling-paling yang ia buat hanya robot, kesatria baja hitam, atau Power Ranger untuk menyenangkan adiknya.

Set-set-set—uwah! Risky mematut-matut hasil karyanya, mengerutkan kening dan mencibir. Memang ia tidak pernah hendak mengklaim diri sebagai seniman. Yang penting … cukuplah!

Ia memisahkan lembar A3 itu dari buku gambar secara berhati-hati, lalu menempelkannya di atas kepala tempat tidur. Dengan begini, begitu Mama membuka pintu kamarnya nanti pagi—tinggal beberapa jam lagi—akan langsung terpampang gambar itu. Risky menyeringai.

.

Hobinya bermula di SMA. Dilanda bosan sementara guru berceloteh di depan kelas, Risky mencoret-coret bagian belakang buku tulis. Awalnya tidak ada bayangan, tapi lamat-lamat ia tahu yang dapat membangkitkan gairahnya. Berkelebat cuplikan-cuplikan gambar dari majalah kepunyaan Shigeo. Orang itu kawannya semasa tinggal di Jepang. Usianya sekitar 3,5 lebih tua daripada Risky, dan kerap mengajak dia bermain ke rumah. Waktu itu Risky masih siswa SMP, sedangkan Shigeo sudah SMA. Masih segar di ingatan Risky kala Shigeo mengangkat kasurnya lantas tampaklah majalah berserakan. Risky mengambil asal saja, melongo hanya dengan melihat kovernya—apalagi dalamnya. Dari membaca cerita-cerita pendek di koleksi itulah, penguasaan bahasa Jepang Risky tambah lumayan. Sejak itu, dunianya tidak pernah sama lagi.

Risky ingin beli sendiri yang begituan di toko dekat rumah, tapi takut ketahuan orang tua. Sepulangnya ke Indonesia seusai tugas belajar Papa di Jepang, mendapatkan yang begituan tambah susah. Kalaupun ada, modelnya masih pada berpenutup barang sehelai-dua helai—dan tetap Risky merasa riskan membawanya pulang. Padahal, Risky baru saja menemukan potensinya, hendak mengeksplorasi sensitivitas artistiknya. Karena itu, ia membutuhkan berbagai contoh gambar untuk bahan belajar. Jadilah, Risky mengandalkan ingatannya saja.

Gambarnya jadi, disusul gambar yang lain. Inginnya sih setiap pose yang masih melekat jelas di ingatannya itu—yang kadang malah sampai bergerak-gerak—bisa ia pindahkan ke kertas. Susah memang, apalagi tanpa menguasai dasar-dasar anatomi. Satu gambar saja membuat meja penuh kotoran penghapus. Garis-garisnya pun tampak kaku sebab ia lebih sering bikin robot. Tapi, Risky tak memusingkan aneka hambatannya itu. Sembari berusaha menghidupkannya di kertas, sekalian menghidupkan gambar itu di dalam kepalanya.

Anak-anak yang duduk di sekitarnya mulai melirik.

“Bisaan gambarnya,” puji mereka.

“Bikinin dong,” ada yang meminta.

Risky menyerahkan gambarnya yang sudah jadi, tanpa keberatan untuk mengulang kesusahan dan kepayahan membikin yang baru, membeli penghapus baru.

Hari-hari di SMA pun menjadi tertahankan, sementara harem meramaikan buku tulisnya.

“Bikinin yang wajahnya mirip si ini dong,” pinta temannya.

Risky pun tersadarkan bahwa semua wanita di haremnya berwajah serupa. Berlatih anatomi itu satu soal, dan mengarang wajah itu soal lain.

Omong-omong soal wajah cewek, sesungguhnya ada satu yang seketika terbayang di benak Risky. Bukan “si ini” yang disebutkan temannya itu, melainkan sebut saja sebagai “si anu”. Memang ide bagus memasangkan wajah si anu dengan salah satu pose favoritnya.

Baru saja Risky bereksperimen dengan wajah si anu, terjadi kehebohan di sekolah. Anak-anak mengerubungi mading. Sebelum datang guru mengamankan barang bukti penyebab keriuhan, masih sempat Risky melihatnya: gambar buatannya.

Anak-anak bubar dan begitu bersitatap dengan dia: cewek-cewek berpaling jijik, cowok-cowok menyengir geli. Setiap cewek yang melewati dia menjaga jarak seraya menyelamatkan muka, seakan-akan kalau berdekatan sedikit saja mereka akan dijadikan objek berikutnya.

Di antara cewek-cewek itu ialah si anu. Sebenarnya, cuma si anu yang Risky lihat, yang seolah-olah mewakili semua cewek yang ada di dunia.

Tidak mengherankan bila kemudian Risky dipanggil ke ruang guru. Pertama, karena gambar yang telah diperlengkapi dengan nama dan kelasnya—yang mestilah diperbuat oleh salah satu anak yang duduk di sekitar bangkunya. Kedua, karena menonjoki anak-anak yang duduk di sekitar bangkunya.

Guru yang menangani dia ada dua orang. Guru yang wanita bersikap keras sekali. Setelah merasa cukup memberikan peringatan, ditinggalkannya Risky bersama guru yang pria.

Beberapa saat lalu, seakan-akan menunggu keadaan lebih kondusif. Guru yang pria bersikap pengertian. “Kalau suka gambar cewek, setidaknya pakaikan baju.”

Risky yang selama itu diam saja perlahan-lahan menatap pak guru; padangannya takjub seakan-akan itu gagasan yang tidak pernah terpikirkan oleh dia.

“Enggak bisa gambar baju, Pak,” sahut Risky pelan.

“Ya, belajar.”

Risky menunduk dan membisu, lalu, “Tapi,” diam lagi.

“Tapi?” dorong pak guru, yang berangsur-angsur jadi desak.

“Tapi,” Risky ragu, “saya enggak cita-cita jadi modiste, Pak.”

“Memangnya cita-cita kamu apa?”

Cita-citaku … apa …?

.

Sejak itu, Risky tidak hendak kembali ke sekolah. Pergi dari rumah saat pagi, ia pakai baju seragam sekolah menuju tempat umum yang ada kamar kecilnya. Di situ ia berganti pakaian bebas, lalu keluyuran ke toko buku, toko mainan, menonton bioskop, bermain dingdong, ke mana saja sampai uangnya bersisa sedikit atau habis sama sekali. Kalau masih belum waktunya pulang sekolah, ia mencari tempat yang nyaman seperti masjid, perpustakaan, atau restoran untuk duduk membaca atau menggambar.

Begitu terus sampai akibat yang tidak terelakkan: ganti orang tuanya dipanggil guru.

Dimarahi saja tidak mengubah sikap Risky. Terpaksa orang tuanya memindahkan dia ke SMA lain, yang mau tidak mau reputasinya kurang. Paling tidak, Risky mau kembali bersekolah.

Tapi, tidak banyak murid sekolah itu yang hendak (atau lebih tepatnya: mampu dalam berbagai hal) melanjutkan ke perguruan tinggi negeri, sedangkan orang tua Risky berharap si anak dapat menuruti jejak mereka.

Sayang, Risky baru insaf setelah menggagalkan UMPTN.

Untung UMPTN bisa diulang. Risky tidak hendak menyia-nyiakannya lagi. Karena itu, ia mesti menebus waktu belajar yang dulu malah dipakainya untuk “proyek seni” dan membolos. Ia memutuskan untuk belajar sepenuh waktu demi menembus UMPTN selanjutnya.

Semestinya orang tuanya mendukung dia. Tapi, sedikit-sedikit,

“IKIII …!”

Mama membuka pintu kamarnya.

Dan, tanpa tahu bahwa Risky baru saja hendak beristirahat setelah semalaman mempertanyakan apa itu “gradien”, apa itu “absis”, apa maksudnya “gradien garis singgung grafik fungsi y = f(x) adalah y’ = f’ (x) sama dengan dua kali absis P (x, y)”—yang tidak kunjung berujung pemahaman … “Tidur melulu! Katanya mau belajar?!” atau,

“Belajar terus, apa enggak jenuh? Main dulu sana sama Adek,” yang maksudnya adalah menyuapi makan bocah itu, atau,

“Cuci piring dulu gih, biar seger,” atau,

“Mau jajan enggak? Mama sekalian titip bawang merah, bawang putih, tempe, tahu, bayam, garam, cabe ….”

Risky menghitung-hitung: dalam sehari lebih banyak kekerapan Mama masuk ke kamarnya ketimbang jumlah soal yang berhasil dia pecahkan tanpa mengintip pembahasan sama sekali.

Pengalaman telah mengajarkan Risky cara menjauhkan diri dari wanita. Ini saatnya Risky kembali mengasah sensitivitas artistiknya.

“RISKY! APA-APAAN SIH KAMU?!”

Kepala Risky berputar malas, ke arah Mama yang menunjuk-nunjuk gambar di atas kepala tempat tidur. Ia sendiri sedang duduk di meja belajar, berlagak mengerjakan soal padahal sedang merenungkan suramnya nasib. Kepalanya berputar lagi ke depan. Pendengarannya menangkap langkah-langkah Mama; kertas yang direnggut, digumalkan, dan entah.

.

Selagi menggambar yang baru, Risky berpikir-pikir apakah sebaiknya ia memilih jurusan seni  ketimbang teknik. Tapi ia tidak merasa begitu nyeniman. Ia hanya suka mencoba-coba menyatakan yang ada di benaknya dengan cara yang ia bisa—yang menurutnya tak cukup memadai untuk dianggap sebagai bakat—sembari mengkhayalkan kehangatan meruap dari permukaan kertas yang pura-puranya kulit tak berlapis barang sehelai benang pun itu.

Setelah jadi, gambar itu dipasangnya di tempat yang sama. Gambar yang sebelumnya itu hanya pemanasan, masih malu-malu. Gambar yang kali ini tentu saja mulai menantang, sudah menampakkan sedikit bulu.

Cabut saja terus gambarnya, hahaha, dan semakin besar pertimbangan Risky untuk melayap ke jurusan seni sebab teknik sepertinya tak akan tergapai.

Memang Mama tambah panas. Setelah beberapa gambar yang semakin berasap saja, yang cuma ditanggapi Risky dengan mengedikkan bahu seraya mengguratkan angka-angka acak di kertas biar terlihat seperti yang sedang mengerjakan soal, ganti Papa yang masuk ke kamar.

Papa diam saja memandangi sosok dalam gambar itu, yang kini sudah mengangkang selebar-lebarnya. Sisi baiknya, untuk menggambar bagian itu secara mendetail, Risky mau tak mau sekalian membuka buku pelajaran Biologi bab reproduksi. Sisi buruknya, Risky rikuh sendiri karena lamanya Papa mematung dengan mata terpancang pada gambar itu, selayaknya guru Biologi yang sedang mengoreksi kertas jawaban ulangan.

Lalu, kata Papa, “Si Adek suka masuk kamar.”

Memang betul kata Papa. Sekarang pun si Adek, yang tadinya lagi berguling-guling di karpet kamar Risky sembari memainkan robot, ikut-ikutan tegak di samping Papa dengan raut bertanya-tanya.

Cuma itu yang Papa katakan. Tinggal Adek yang memandangi gambar itu, seakan-akan tidak sadar bahwa Papa telah keluar dari kamar.

“Kakak, kenapa itu enggak pake baju?” kata adiknya.

“Biarin,” sahut Risky yang sudah kembali menghadap meja belajar, kali ini telah menemukan soal yang sepertinya cukup mudah.

“Enggak dingin?”

“Enggak.”

“Nanti masuk angin?”

“Enggak,” tukas Risky agak menggeram.

Lalu diabaikannya si Adek. Sebab, soal-soal berikutnya lumayan juga. Kalau sudah larut begitu, soal-soal sulit yang biasanya jadi penghambat pun ia loncat saja sampai menemukan soal mudah berikutnya. Sampai-sampai tidak terdengar suara-suara di belakangnya: si Adek disuruh sikat gigi, tidur ….

Konsentrasi Risky baru terpecah oleh aroma hangat yang dia akrabi, yang biasa terhirup olehnya pada waktu-waktu si Adek selesai mandi. Risky menoleh, dan mendapati adiknya menurunkan kaki dari tumpukan bantal di kepala tempat tidur. Botol minyak telon di tangan.

Serta-merta mata Risky berlari pada gambar di atasnya.

BUSET.

Gambar yang sudah menghabiskan setengah penghapus baru yang dia garap demi menjengkelkan Mama itu … kini ….

Risky mencabut gambar itu dari dinding, merenyukkannya sampai jadi bola, lalu menimpukkannya ke kepala si Adek.

Kamis, 28 Mei 2020

Kenapa Mendengarkan Lagu-lagu Nike Ardilla Itu Berbahaya

Kita tahu, she's a legend. Ia memiliki banyak fans setia, yang terus mendoakannya walaupun sudah seperempat abad meninggalkan dunia. Tapi apakah kita pernah benar-benar mendengarkan lagunya?

Saya tidak benar-benar tahu lagu-lagu Nike Ardilla sampai belakangan ini. Ada begitu banyak lagu yang dapat kita dengarkan di mana-mana, kenapa harus dia? Lagi pula, dengan begitu banyak fans yang masih mengelu-elukannya sampai sekarang, she sounds so mainstream, mr8?

Tapi sekarang ini saya lagi mengeksplorasi dunia '90-an. Mulai dari membaca majalah-majalah sampai menemukan lagu-lagu hip-hop yang hip pada masa itu. Pikiran untuk meninjau Nike Ardilla baru muncul belakangan. Pada awalnya saya agak malas, menunda-nunda.

Sampai tiba juga dorongan itu. Saya memutarnya di YouTube. Ada beberapa album kompilasi lagunya--ciptaan penggemarnya, sepertinya.

Lagu demi lagunya masuk ke telinga. Ada beberapa yang saya merasa familier. Saya teringat pada seorang mbak yang pernah bekerja di rumah saya, dari saya SD sampai SMA. Sepertinya mbak itu penggemar Nike Ardilla juga dan pernah menyanyikan lagu-lagunya ...?

Lagu-lagunya, kalau boleh saya nilai (padahal tahu apa saya soal musik!?), sebenarnya sederhana dan kemelayu-melayuan. Dari segi instrumen tidak istimewa, dibandingkan dengan musik Italia era '60-'70-an yang saya suka dengarkan (njir, berasa snob padahal enggak seorang pun tahu musik yang saya maksud). Dari segi lirik, begitu-begitu saja: semacam curhat cecintaan yang sama sekali tidak relatable buat saya, malah cenderung memelas dan cengeng.

Contohnya saja dalam lagu "Mama, Aku Ingin Pulang". Lagu ini tampaknya bercerita tentang seorang gadis belia lagi naif yang dijebak pacarnya agar mau kawin lari. Mamanya sudah memperingati dia, tapi apa daya bujuk rayu lelaki itu lebih membuai. Akhirnya, benarlah, disia-siakanlah dia. Simak saja liriknya:

Cincin emas melingkar, ia berikan dulu
Untuk apa, kalau ia tak cinta ....
("Mama, Aku Ingin Pulang")


Untuk apa? Ya, untuk mengisap madumu, Neng. Sudah begitu, habis manis sepah dibuang. Begitulah laki-laki, bak udang di balik batu, pasti ada maunya *eh kok kayak curcol.

Ketika saya tanyakan kepada teman yang lahir pada 1975 (alias sebaya dengan almarhumah), dia bukan penggemar NA tapi tahu bahwa lagu-lagunya kerap mengandung kata "sinar", "kehidupan", semacam itu. Saya tambahkan lagi, "iman".

Anyway.

Entah dalam sekali atau beberapa kali dengar saja (pokoknya enggak sampai banyak), beberapa lagunya sudah terngiang-ngiang di kepala saya sampai tahu-tahu saja saya menyanyikannya sepenggal-sepenggal--khususnya bagian-bagian yang catchy banget.

Malam-malam aku sendiri, 
tanpa cintamu lagi ... ooo ....
("Bintang Kehidupan")


Aku bagai nelayan ...
Yang kehilangan arah ....
("Tinggallah Ku Sendiri")


Tidak cukup, timbul hasrat untuk mengajak teman ke tempat karaoke sehingga saya bisa berteriak-teriak sepuasnya membawakan lagu-lagu itu. Tapi, entah suara saya akan sampai atau enggak dan pastinya mereka bakal takjub. Entahkah ada di antara mereka yang akrab dengan lagu-lagunya atau enggak.

Lagian, sementara ini masih dalam pandemi. Hasrat karaoke mau tidak mau dipenuhi dengan memutar lagu-lagu Teh Nike yang cantik jelita di Spotify atau YouTube saja, yang subhanallah dilengkapi dengan lirik berjalan! Hanya saja, sambil lirih-lirih karena malu kalau kedengaran sama orang rumah apalagi tetangga 

Meski telah lama tiada, bagi penggemarnya, ia terus hidup melalui lagu-lagunya. Bahkan sekarang ia hidup juga di dalam kepala saya, sampai kadang-kadang sulit sekali menyuruhnya berhenti menjerit-jerit. Memang tidak semua lagunya enak, dan sebenarnya belum semuanya pula saya dengarkan. Tapi, untuk beberapa lagu, betapa mudahnya menempel dan kuatnya melekat bak tumbuhan liar yang tak dikehendaki tapi muncul lagi muncul lagi.

Betapa sayang ia telah pergi dalam usia sebelia itu. Semoga hidupnya tenang di alam sana. Aamin.

Dan serta-merta, timbul ide cerita tentang seorang pemuda penggemar Nike Ardilla yang tanpa sadar lalu menjadi cowok seperti yang diceritakan dalam lagu-lagu Nike Ardilla bagi ceweknya, sehingga ceweknya itu membatin,

Ku tak akan bersuara,
walau dirimu kekurangan,
hanya setiamu itu kuharapkan ....
("Ku Tak Akan Bersuara") 



sampai,

Bosan, mungkin itu sifatmu!
Benci, bila ingat dirimu!
("Sandiwara Cinta")


Rabu, 20 Mei 2020

Jurnal Ngebun: Buletin Pak Tani Digital Edisi 10 - Bercocok Tanam dari Rumah di Tengah Pandemi (1)

Di Instagram, saya mengikuti akun @paktanidigital sehingga mengetahui adanya buletin ini. Edisi 10 ini yang pertama saya lihat, dan judulnya pun pas dengan situasi sekarang. Seketika saja saya langsung tertarik untuk mengunduhnya, bahkan membagikan informasi ini kepada teman-teman di Instagram.


Edisi 10 ini yang paling baru (pada saat saya baru mengetahui tentang adanya buletin ini). Dari 9 edisi sebelumnya, hanya 2 yang saya unduh juga. Soalnya, dari judulnya, yang lain-lainnya itu tampaknya mencakup skala yang sepertinya masih terlalu besar buat saya.

Dari 5 judul yang ditampilkan di kover edisi 10, 4 di antaranya menarik buat saya. Cuma satu yang saya tidak begitu tertarik, yaitu "Cara Menanam Basella di Pekarangan Rumah"--lebih karena saya belum mengetahui basella itu jenis tanaman yang bagaimana.

Dalam edisi setebal (tipis kok!) 66 halaman ini terdapat 12 artikel. Delapan di antaranya tampak menarik untuk langsung dipraktikkan. Sedangkan yang lain-lain, karena sebagian menyangkut tanaman buah yang berukuran cukup besar, sepertinya nanti dulu deh.

Kedua belas artikel tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Budidaya bawang merah dalam pot
  2. Menanam jeruk dalam pot
  3. Menanam kangkung di pot atau polybag
  4. Budidaya alpukat di dalam pot
  5. Menanam jahe di dalam pot
  6. Budidaya bawang putih di pekarangan rumah
  7. Budidaya buah naga di dalam pot
  8. Menanam basella di pekarangan
  9. Budidaya caisim di pekarangan rumah
  10. Budidaya jambu kristal di dalam pot
  11. Menanam sayur di rumah dengan urban gardening
  12. 10 tanaman cepat panen

Tiap artikel hanya 3-4 halaman. Isinya berupa deskripsi tanaman (misalnya berupa kandungan nutrisinya) serta petunjuk teknis penanaman, perawatan, dan seterusnya.

Petunjuk teknis yang terperinci sesungguhnya penting agar tanaman tumbuh optimal (yah, percaya saja deh this is based on science.) Hanya saja, bagi pekebun pemula yang notabene pemalas seperti saya, bisa-bisa instruksi yang demikian menjelimet itu bikin keder duluan  Rasanya ingin asal tanam saja, tanpa mesti begitu ribet soal komposisi media tanam dan sebagainya. Siapa tahu saja bisa tetap tumbuh--terlepas dari optimal atau enggaknya, ya.

Tapi beberapa informasi teknis saya dapati benar-benar berguna, apalagi menyangkut tanaman yang sudah saya miliki atau kebetulan saya baru beli bijinya.

Misalnya, caisim harus disemai dulu sampai muncul 3-4 daun baru kemudian dipindahkan ke wadah dengan ruang 10 x 15 cm. Memanennya pun harus dengan mencabutnya sampai akar.

Selada bisa ditumbuhkan kembali dari bonggolnya, yang bisa kita beli dari warung, pasar, supermarket, atau whichever you like lah. Ketinggian wadah tanamnya mesti 20 cm, dan pengetahuan ini pun seketika menyingkirkan sebagian wadah yang kemarin sudah saya kumpulkan dan maksudkan untuk jenis ini, hahahaha. Selada bisa tumbuh di tempat teduh, sehingga balkon bisa dimanfaatkan untuk itu.

Cabai butuh wadah berketinggian 45 cm.

Kaleng bekas bisa digunakan untuk menanam sayuran. Sebelumnya saya khawatir apakah wadah jenis kaleng aman digunakan untuk tanaman pangan, sebab nanti akan muncul karat. Memang tidak ada penjelasan soal pengaruh karat pada kandungan tanaman, tapi dengan sebaris pernyataan itu saja seolah-olah sudah mengonfirmasikan bahwa kaleng itu aman. Entah kenapa.

Khususnya untuk jeruk, ada beberapa petunjuk yang selama ini bisa dibilang hampir-hampir tidak pernah saya amalkan.

  • Bibit yang bagus adalah hasil okulasi, sedangkan saya sekadar coba-coba menumbuhkan dari biji sisa buah yang dimakan.
  • Ada waktu-waktu untuk memupuk, sedangkan saya kapan pun merasa kasihan pada tanaman itu.
  • Ada waktu-waktu penyiraman, sedangkan saya baru melakukannya kapan pun merasa perlu-- terutama ketika melihat permukaan tanah di pot tampak kering.
  • Tumbuhan liar perlu dicabuti, sedangkan saya cenderung membiarkannya sampai baru-baru ini.
  • Untuk mencegah hama, infus dengan Teramycin--yang setelah saya cari tahu di internet, rupanya ... obat mata yang selama ini saya pakai untuk kucing?!?! Sayangnya, dari hasil pemindaian sekilas, saya belum menemukan cara menginfuskannya.
  • Rajin memangkas daun dan ranting, yang baru saya lakukan kemarin-kemarin.

Pantas saja tanaman jeruk saya tidak kunjung berbuah padahal sudah bertahun-tahun, sedangkan artikel ini mengatakan bahwa semestinya dalam 8 bulan sudah bisa panen!

Artikel yang tidak kalah berguna tentu saja daftar tanaman untuk urban gardening lagi cepat panen. Berikut jenis-jenis tersebut.

  1. Buncis
  2. Tomat, terutama yang cherry
  3. Selada
  4. Mentimun
  5. Cabai
  6. Bayam
  7. Kecambah (dari kacang hijau)
  8. Kangkung
  9. Sawi hijau
  10. Daun bawang
  11. Kacang polong
  12. Bit
  13. Arugula
  14. Okra

Beberapa jenis di atas sudah ada di rumah saya (walaupun sebagian di antaranya masih berupa biji yang belum diapa-apakan dan sebagian lagi dalam bentuk bahan masakan di kulkas :v). Yang belum ada ingin saya coba, setelah semua biji yang ada sekarang sudah habis ditanam (dan uang sudah turun lagi dari langit).

Betapapun terperincinya petunjuk teknis dalam artikel-artikel ini, rupanya tidak mesti lengkap. Contohnya dalam petunjuk tentang alpukat. Saya pernah mencoba menumbuhkan alpukat dari biji dengan menggunakan tusuk gigi dan toples kaca kecil--mengikuti yang saya lihat di Pinterest. Tapi pada waktu itu saya tidak menambahkan gula pasir ke dalam air, tidak seperti petunjuk dalam artikel buletin ini. Biji itu memang menumbuhkan akar dan daun, dan saya girang. Saya lalu memindahkannya ke tanah dalam suatu wadah, dan menaruhnya di halaman. Beberapa waktu kemudian, tanaman itu saya tamatkan riwayatnya sejak memunculkan ulat-ulat bulu kecil yang meng-geuleuh-kan. Padahal alpukat terkenal karena ulat-ulatnya itu. Karena itulah, cara mengatasinya tentu penting untuk dikemukakan. Tapi kenapa artikel ini tidak mengungkitnya sama sekali?

Contoh lainnya yaitu petunjuk tentang jahe. Disebutkan bahwa media tanamnya menggunakan campuran abu gosok dengan sekam, tapi tidak diperinci sampai perbandingannya.

Betapapun dapat memuyengkan dan kurang lengkap, secara keseluruhan buletin ini layak dibaca dan dapat menambah pengetahuan. Misalnya untuk mengatasi hama ulat kubus yang juga kerap melanda caisim, ada sejenis tawon bernama Diadegma semicalusum. Untuk mencegah jamur pada media tanam, kita bisa menggunakan kapur dolomit.

Saya merasa pekebun atau petani--apalagi yang multijenis--itu menyerupai dokter. Mereka sama-sama harus dapat men-"diagnosis" penanganan yang tepat terhadap tiap-tiap individu. Kalau dokter menangani manusia, pekebun atau petani pada tanaman. Sebagaimana dokter yang mesti hafal gejala tiap-tiap penyakit dan cara mengobatinya, pekebun atau petani juga perlu "hafal" syarat tumbuh dan pemeliharaan yang tepat untuk tiap-tiap jenis tanaman.

Rabu, 06 Mei 2020

Hendra Gunawan: Profesor Macan Tutul Jawa

Ichwan Susanto

Hendra Gunawan tercatat menjadi satu-satunya ilmuwan di Indonesia yang menyandang gelar kehormatan profesor riset bidang konservasi macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Pada pundak peneliti ahli utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut, terpanggul tanggung jawab menyelamatkan macan tutul jawa, predator satu-satunya tersisa di Pulau Jawa, dari kepunahan.

Prof Hendra, demikian ia kini mencoba membiasakan diri untuk disapa oleh kolega dan sesama peneliti. Capaian tertinggi bagi peneliti utama tersebut didapatnya pada 22 Juli 2019 setelah dikukuhkan Majelis Pengukuhan Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Hal ini tak didapatkannya dengan mudah. "Rumah saya ke SMP berjarak 14 kilometer, jalanan masih berlumpur. Kalau sudah dekat kota, sepeda saya cuci dulu biar tidak diejek anak kota," kenang Hendra Gunawan akan masa kecilnya. Ditemui Selasa (30/7/2019), ia ditemani peneliti Kebun Raya Bogor LIPI, Sugiarti, seusai mengikuti rapat di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta.

Hendra lahir dari keluarga petani penggarap miskin yang mengerjakan lahan di pinggir sungai dan permakaman. Di lahan tersebut, bapaknya menanam singkong dan ubi jalar di bagian-bagian lahan kuburan yang kosong.

Kemudian, bapaknya bersama warga di kampung ramai-ramai menggarap kawasan hutan yang dikelola Jawatan Perhutani atau Perhutani.

Dengan capaian sebagai profesor riset yang menempati "kasta" tertinggi dalam jenjang fungsional keilmuan, ia merasa bangga bisa membanggakan ayahnya. Meski berasal dari keluarga miskin-sederhana, Hendra mengatakan, bapaknya sangat total mendukungnya dalam bersekolah. Buku pelajaran yang saat itu sangat mahal dibeli oleh bapaknya.

Dia mengatakan sangat bangga bisa mewariskan sejumlah buku pengetahuan terkait konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan hutan. Satu buku, Fragmentasi Hutan (2015) yang ditulisnya bersama LB Prasetyo laris diunduh hingga puluhan ribu kali.

"Buku jangan hanya dibaca sesama peneliti, tetapi pengambil kebijakan dan masyarakat harus tahu," ucapnya.

Pendidikan

Hendra Gunawan sejak sekolah sangat tertarik dengan dunia alam belantara. Hal itu berkat sosialisasi mobil keliling WWF Indonesia dan Yayasan Indonesia Hijau yang memutarkan film terkait hutan dan faunanya di sekolah.

Bersekolah di SMA 1 Cirebon, Jawa Barat, ia mulai memupuk ketertarikannya pada dunia kehutanan tersebut. Ini didukung tradisi sekolah tersebut saat itu yang mempunyai kegiatan mendaki Gunung Ciremai setiap kenaikan kelas.

Motivasinya untuk terjun di dunia kehutanan tersebut kemudian disalurkannya dengan memilih kuliah di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tak seperti sekarang, jurusan konservasi ketika itu bukan favorit.

Dibandingkan dengan jurusan lain di Fakultas Kehutanan, yaitu Manajemen Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, jurusan konservasi yang dipilihnya sepi peminat. Hal itu dimaklumi karena di tahun 1980-an sedang pada masa kejayaan izin hak pengelolaan hutan (HPH) atau saat ini izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu-hutan alam. "Saya berpikir futuristik karena yang tersisa saat hutan habis nanti, ya, pasti konservasi. Saya merasa di jalan yang benar meski peminat sedikit," katanya.

Setelah lulus, Hendra sempat menjajal kerja di perusahaan HPH di Aceh Barat selama dua tahun. Namun, dia memutuskan berhenti karena hal yang dilihatnya sehari-hari tak sesuai hati nurani. "Karena saya dasarnya konservasi, lihat pohon ditebang, lihat gajah dan harimau terusir itu bagaimana begitu. Hati konservasi saya enggak happy, enggak nikmat," katanya.

Pada 1992, ia dinyatakan lolos diterima sebagai pegawai negeri sipil dengan penugasan pertama sebagai peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Makassar, Sulawesi Selatan. Di situ, ia meneliti kehidupan burung maleo beserta ekologinya yang mengantarkannya lulus mengambil S-2 di IPB pada 2000.

Pada 2003, ia ditarik ke markas Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (kini Badan Litbang dan Inovasi) di Bogor. Kembali ke Pulau Jawa ini, ia menekuni lagi soal macan tutul jawa yang di tahun 1989 mengantarkannya menjadi sarjana.

Hendra Gunawan tertarik memfokuskan diri pada penelitian macan tutul jawa (Panthera pardus melas) karena fauna ini satu-satunya spesies kucing besar di belantara Jawa, termasuk di Pulau Nusakambangan. Kerabat dekatnya, harimau jawa (Panthera tigris sondaica), dinyatakan punah di awal tahun 1980-an.

"Macan tutul jawa sekarang menjadi satu-satunya top predator di hutan-hutan di Jawa. Karena itu, keberadaannya sangat penting bagi ekosistem," katanya.

Hal itu terbukti, seiring macan tutul jawa yang habitatnya terus tertekan oleh pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan, dan fragmentasi, sejumlah konflik pun terjadi.

Hendra mempelajari karakteristik macan tutul di tipe hutan pegunungan (Gunung Slamet dan Merapi), hutan dataran rendah (Nusakambangan), hutan jati (Kendal), hutan pinus (Banjarnegara bagian utara di Sigaluh), dan vegetasi karst (Gunung Kidul). Untuk desertasinya, didapatkan dari penelitian di Gunung Ciremai yang juga menghasilkan lima jurnal ilmiah.

Saat ini, ia pun menjadi anggota kelompok peneliti kucing besar di Badan Konservasi Dunia (IUCN) sejak tahun 2013 dan Ketua Forum Macan Tutul Jawa sejak 2015. Forum tersebut menghasilkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Macan Tutul Jawa yang ditandatangani Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar pada 2016. Sejak terangkatnya isu macan tutul, sejumlah organisasi tertarik mendedikasikan dana dan memberi perhatian pada satu-satunya kucing besar di Jawa yang tersisa. Ia pun berharap upaya penyelamatan macan tutul jawa dari kepunahan belum terlambat dilakukan. 

Di Jawa, 50 persen macan tutul tinggal di hutan produksi (areal Perhutani) dan di Jawa Tengah sekitar 80 persen macan tutul tinggal di luar kawasan hutan berfungsi lindung (hutan lindung dan hutan konservasi). Areal-areal di luar kawasan hutan ini diharapkannya bisa menjadi kawasan ekosistem esensial yang dilindungi pemerintah daerah.

Selain itu, Hendra pun bermimpi fragmentasi habitat akibat kantong-kantong populasi harimau yang terpisah oleh lahan pertanian, jalan, dan kebun bisa terbangun koridor. Ini untuk menambah ruang lalu lalang macan tutul jawa agar tak terjadi perkawinan sedarah yang bisa membawanya pada kecacatan lalu kepunahan.



Hendra Gunawan
Lahir: Banjarnegara, 3 April 1964
Istri: Retno Widianingsih
Anak:
- Priyahita Adhika Putera Rendra
- Pradnya Paramarta Raditya
- Sistha Anindita Pinastika Heningtyas
Pekerjaan: Peneliti Ahli Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Bidang kepakaran: Konservasi Keanekaragaman Hayati
Pendidikan:
- SD Negeri 1 Kaliwungu, Banjarnegara, Jawa Tengah (1976)
- SMP Negeri 1 Purwareja Klampok, Banjarnegara (1980)
- SMA Negeri 1 Cirebon, Jawa Barat (1983)
- S-1 IPB Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan (1988)
- S-2 IPB Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (2000)
- S-3 IPB Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan (2010)



Sumber: Kompas, 9 Agustus 2019

Senin, 13 April 2020

Pergumulan yang Tak Pernah Tuntas

Jazz sudah lama dikenal di Indonesia. Namun, perkembangannya lamban, karena keterbatasan sarana dan fasilitas, termasuk juga maesenas. Demikian ditulis Deded ER Moerad, wartawan MATRA, dalam bukunya Jazz: 100 Tahun New Orleans-Jakarta yang bakal diluncurkan oleh Majalah MATRA bekerja sama dengan PT Matra Multi Media awal Februari 1995. Berikut nukilan buku tersebut.

SUATU HARI PADA AWAL TAHUN 1980-AN, SEBUAH PERTUNJUKAN MUSIK JAZZ disuguhkan di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta. Malam itu Ireng Maulana dan kawan-kawan tampil. Setelah memainkan beberapa instrumentalia yang disambut dingin oleh penonton, tibalah giliran menampilkan Ermy Kullit.

Saat sang penyanyi muncul di atas pentas, penonton pun berteriak mencemooh: "wadam, wadam turun ...." Ejekan itu kemudian disambut tawa riuh penonton lainnya. "Dangdut, dangdut saja," teriak yang lain menimpali.

Teriakan itu tentu amat menyakitkan, terutama bagi Ermy Kullit, Ireng Maulana, dan rekan-rekannya. Penonton yang datang ke Ancol, khusus untuk menkmati jazz, tentu ikut pula merasakan kepedihan yang dialami para artis jazz di panggung itu.

Untung tidak terjadi huru-hara. Misalnya, pelemparan batu, botol, dan benda-benda keras lainnya ke atas panggung. Ermy dan Ireng cepat membaca situasi hingga langsung mengalunkan irama "Bosanova". Musik Latin Jazz itu agak akrab dengan telinga penonton. Ditambah syair lagu dalam bahasa Indonesia.

Ternyata kiat Ireng dan Ermy cukup ampuh. Setelah tiga lagu, keadaan pun berbalik. Penonton mulai menunjukkan simpatinya. Tepuk tangan meriah diberikan khusus buat Ermy Kullit yang memang memiliki suara yang enak untuk didengarkan.

Para "jazz lover" pasti trenyuh jika menyaksikan pianis kondang seperti Bubi Chen atau Hendra Wijaya bermain hanya sebagai penggembira dalam suatu pesta perkawinan. Atau, seorang Abda Soesman bersama kelompoknya memainkan musik populer di klub-klub malam dan panggung-panggung pertunjukan. Bahkan, seorang Maryono, saxophonis piawai itu, pernah bergabung dengan sandirawa lawak Srimulat.

Untuk memenuhi keinginan produser dan pasar, Ireng Maulana terpaksa membuat rekaman dalam irama "Bosanova" bersama Ermy Kullit dan beberapa penyanyi lain--tanpa berani memasang label jazz. Merekam irama yang populer dan komersial memang mendatangkan uang. Produser sendiri mengaku lebih mudah memasarkan musik yang berirama sedikit populer, ketimbang membuat rekaman murni jazz. 

Lalu, adakah musik jazz Indonesia? Jawabannya ada. Buktinya, siapa yang menyangkal kehadiran Nick Mamahit, Mus Mualim, Tjok Sinsoe, dan Jack Lesmana. Belum lagi sederetan musisi muda seperti Indra Lesmana, Idang Rasjidi, Gilang Ramadhan, Cendy Randus Luntungan yang masih setia berkiprah sampai hari ini.

Adakah penonton atau penikmat jazz? Tentu saja banyak. Namun, apakah mereka memang apresiatif terhadap jazz, itulah persoalannya. Kalau melihat suatu pentas musik jazz, jumlah penontonnya memang datang berduyun-duyun. Bahkan kerap kali ada yang tidak kebagian karcis. Apalagi bila yang tampil musisi ternama seperti Bob James dan Lee Ritenour. Meski ada pula satu-dua orang yang datang masih hanya sebatas ingin tahu.

Pesta jazz sering diselenggarakan, memang. Banyak musisi dan penyanyi jazz kaliber dunia rutin naik ke panggung-panggung pertunjukan di Indonesia. Acara apresiasi jazz sering diadakan di kampus-kampus. Misalnya, Kampus Universitas Indonesia, Universitas Trisakti, dan Universitas Gadjah Mada. Napas jazz, rasanya ada di mana-mana.

Memang, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, secara bergantian musisi jazz senior dan junior ikut serta dalam festival kelas dunia di North Sea Jazz Festival di Belanda. Memang, bahwa Ireng Maulana sudah empat kali menyelenggarakan festival internasional, dengan judul: Jakarta Jazz Festival--yang kemudian lebih dikenal Jak-Jazz.

Namun, fakta itu belum menunjukkan kehidupan jazz di Indonesia sudah cerah dan menggembirakan. Masih banyak musisi jazz yang memainkan musik populer atau bergabung dengan kelompok pengisi rekaman musik pop. Nick Mamahit yang bermain piano tunggal di sebuah hotel berbintang di Jakarta, mau tak mau harus melantunkan lagu-lagu populer. Meski ia toh memberikan sedikit napas jazz. Ada pula musisi jazz yang terjun ke dalam bisnis entertainment seperti Sadikin Zuhra. Sedangkan Chandra Darusman, saat buku ini disusun, sedang sibuk mengurus ke lembaga hak cipta penulis lagu ketimbang memainkan pianonya. Margie Segers, sang juara jazz vokal pada 1970-an, bagaikan lenyap ditelan bumi. Inilah tragedi musik jazz Indonesia.

TAK DIRAGUKAN LAGI BAHWA JACK LESMANA adalah seorang musisi jazz yang idealis. Dia pernah mengumpulkan sejumlah anak muda hanya untuk bermain jazz. "Jazz saja," tuturnya suatu ketika.

Dua kata itu pula yang kemudian menjadi judul sebuah pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tahun 1970-an. Jack yang sempat mendirikan sekolah musik, mendapat dukungan dari bekas murid-muridnya. Antara lain, Abadi Soesman, Benny Likumahua, Chandra Darusman, dan anaknya sendiri Indra Lesmana.

Jack Lesmana pernah merasa tidak dihargai sebagai musisi jazz di negerinya sendiri. Berbagai upaya yang dilakukan sia-sia. Seperti "patah arang", ia lalu menjual rumahnya dan keluarganya ke Australia, menyusul Indra yang sedang mendalami musik di sebuah konservatori di sana.

Selama lima tahun mereka menetap di Negeri Kangguru, Jack belajar sambil bekerja. Untuk mengasapi dapur rumah tangga, ia keluar masuk bar dan restoran. Di sana, Jack sempat pula menggalang pergaulan dengan para musisi jazz setempat, sambil asah terampil.

Bak pepatah Melayu, sejauh-jauh bangau terbang, balik ke kubangan jua. Ia pun kembali ke Indonesia, setelah Indra tamat belajar musik. Karena tak punya rumah, ia tinggal beberapa bulan di Hotel Sahid Jaya. Sementara, untuk membayar sewa kamar hotel, ia melakukan semacam barter dengan memainkan musik jazz di bar hotel tersebut.

Kini Jack Lesmana telah tiada. Sementara di Indonesia, jazz sudah berkembang dan semakin marak. Klub-klub jazz bermunculan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sejak tahun 1985, sejumlah musisi jazz Indonesia silih berganti berangkat mengikuti festival internasional di Belanda. Setiap minggu, musisi jazz dari mancanegara tampil di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Jack tak sempat merasakan bahwa kini orang sudah bisa bergembira-ria menikmati permainan jazz. Pertanyaannya adalah apakah jazz seperti itukah yang dicita-citakan oleh Jack Lesmana?

Namun, apa pun yang terjadi hari ini, para seniman, pejuang, para idealis, dan pencinta jazz mengakui banyak jejak yang ditinggalkan Jack dalam perkembangan jazz di Indonesia. Bahkan, lebih dari itu, kita semua sepakat bahwa Jack Lesmana adalah salah satu tonggak yang mendukung perjalanan musik jazz modern di Indonesia.

Berbagai peristiwa musik jazz bersifat apresiatif pernah diselenggarakan Jack. Baik di panggung pertunjukan, layar televisi, rekaman, dan acara musik. Jack juga membuka sebuah sekolah pendidikan musik jazz.

Menyebut nama Jack dan Bill bukan untuk mengecilkan musisi jazz lain.
Namun, karena mereka cukup fenomena sebagai orang terdepan jazz di Indonesia.

Unik dan penuh tantangan melihat seorang otodidak seperti Jack menyelenggarakan pendidikan musik. Bahkan Jack pernah dengan bangga mengatakan: teori yang diajarkan adalah metode yang diciptakannya sendiri.

Jack bertangan dingin, memang. Dari dia lahir banyak musisi jazz berbakat dan punya masa depan cerah. Misalnya, Benny Likumahua, Abadi Soesman, Chandra Darusman, Jeffry Tahalele, tak malu-malu menyebut diri mereka sebagai murid Jack.

Tokoh jazz lainnya adalah Amir "Bill" Saragih. Setelah kepergian Jack, putra Batak yang semula ingin menjadi seorang ahli hukum kini merupakan satu dari sekian musisi jazz paling depan di Indonesia. Seperti halnya Jack, Bill saat ini identik dengan jazz. Dia begitu terampil memainkan sejumlah alat musik. Antara lain, flute, saxophone, trompet, vibra phone, dan piano.

Bill juga seorang entertainer profesional, seorang penghibur yang handal. Penampilannya memikat, guyonan dan joke yang dilontarkan selalu segar. Bill bisa memukau penonton di tempat duduk hingga pertunjukannya usai.

Seorang musisi juga dituntut menguasai teknologi. Ia harus terus menimba ilmu. "Bila tidak, suatu saat kita akan kepentok. Dan kita tidak tahu lagi apa yang akan kita perbuat," ujar Bill Saragih dalam sebuah percakapan.

Kesadaran akan pentingnya intelektualitas dalam diri seorang seniman sudah merasyuk dalam diri Amir Saragih sejak muda belia. Karena itu, jangan heran bila Bill pergi "membuang" diri, pergi melanglangbuana. Dia mengunjungi berbagai negeri yang memiliki tradisi jazz. Juga ke beberapa negara tetangga dan akhirnya ke Australia.

Di negeri orang, Bill menimba ilmu. Tak hanya musik, tapi juga kebudayaan setempat. Dia berguru pada siapa saja sepanjang pengembaraannya itu. Selama itu pula ia keluar masuk tempat-tempat hiburan dan main jazz.

Dia "ngamen" di panggung-panggung klub malam, bar, dan restoran. Di Bangkok, Manila, Hongkong, Saigon, sampai ke Jerman. Bill juga berkenalan dengan musisi-musisi jazz dunia. Dia sempat bermain bersama Lionel Hampton, vibrafonis jazz ternama AS, ketika singgah di Bangkok.

Padahal, ketika berangkat meninggalkan kampung halamannya di Simelungun ke Jakarta, cita-citanya adalah menjadi seorang sarjana hukum. Bill malah sempat masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Rupanya panggilan dunia seni lebih besar, sehingga bangku kuliah ditinggalkannya.

Para "jazz lover" pasti trenyuh jika menyaksikan musisi jazz kondang
bermain hanya sebagai penggembira dalam suatu pesta perkawinan.

Akhirnya, Bill berlabuh di Australia. Tinggal di sana bersama istrinya, seorang wanita asal Inggris, dan anak-anaknya. Dia secara tetap main jazz di berbagai klub malam ternama di situ. "Orang bule sempat tak percaya kalau awak ini yang kulitnya berwarna memiliki kemampuan main musik," tutur Bill suatu ketika.

Namun, sebagai orang Batak yang "tebal muka", Bill terus menunjukkan dirinya. Hingga orang mulai melirik dan mengakui keberadaannya. "Kiat lain, jangan pula gampang tersinggung, lalu berhenti main musik, hanya gara-gara disepelekan orang," katanya terbahak.

Dengan modal keterampilan itu sebuah klub jazz di sana bersedia menerimanya. Meski harus bekerja tujuh hari seminggu, Bill tak menyia-nyiakan lowongan kerja itu. "Soalnya awak kan butuh makan," katanya. Di situ Bill bekerja selama tujuh tahun. Namanya mulai dikenal. Sehingga akhirnya ia termasuk dalam kategori musisi jazz yang diperhitungkan di Australia.

Akhir 1980-an, Bill pun pulang kampung. Mulailah ia menapak dari awal. Keluar masuk bar dan restoran. Main dari satu kota ke kota lain. Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dijajaki ketika itu. Turun naik panggung bagai tak kenal lelah. "Menghibur sambil memberikan apresiasi musik jazz adalah amal," katanya dengan raut muka bangga.

Menurut Bill, banyak sudah anak muda suka memainkan musik jazz. "Ini harus dipertahankan dan dipupuk terus," ujarnya. Di Jakarta, Bill mendirikan sebuah kelompok. Dengan modal itulah, ia bermain di pub, restoran, dan hotel-hotel di berbagai kota. Selain itu ia juga mengisi acara khusus jazz di televisi dan radio-radio swasta. Niatnya kini adalah mendirikan sebuah sekolah musik.

Ilustrasi di atas adalah sebuah potret perjalanan jazz di Indonesia. Sebuah gambaran pahit getirnya perjuangan para musisi jazz yang idealis, baik secara individual maupun secara berkelompok. Menyebut nama Jack dan Bill bukan bermaksud mengecilkan musisi jazz lainnya yang tak kalah gigih berjuang.

Pilihan kedua tokoh ini tak lain karena mereka cukup fenomenal. Jack memainkan jazz sejak muda usia, jauh hari sebelum Indonesia merdeka. Dia berangkat dari Jember, sebuah kota kecil di Jawa Timur, lalu menjadi orang terdepan dan terus berkecimpung di jazz hingga akhir hayatnya.

Perbuatan dan kesadaran ini juga berlaku pada Bill Saragih. Padahal, kita semua tahu, di satu sisi musisi jazz dituntut mengembangkan dirinya, sementara di sisi lain ia dituntut pada soal ekonomi untuk menghidupi keluarga.

Karena itu, bukan sesuatu yang mengherankan jika seorang musisi jazz, sering tampil bermain musik pop di panggung atau dalam rekaman. Ini memang untuk memenuhi selera pasar, dan berbarengan dengan itu untuk menghidupi diri si-musisi sendiri.

Barangkali lantaran bercabang dan beragam kegiatan individu para musisi jazz itulah, jazz sulit berkembang. Jazz seolah-olah sulit digali secara intens, tuntas, dan mendalam. Tak ada waktu untuk mencari ilmu dan jurus-jurus baru. Atau, setidaknya, menggali potensi diri sendiri. Itu jugalah yang membuat kita kehilangan kesempatan untuk menangkap suatu yang paling esensial yang oleh para jazz lover disebut sebagai "roh" jazz.

M



Sumber: Matra Nomor 102, Januari 1995

Banyak Dibuka

Pembaruan Blog Lain